Seperti biasanya, Mukidi dengan shohibnya, Kaspo dan Rapinter, cangkruk di warkop langganannya sambil ngobrol ngalor ngidul tanpa topik namun kadang muncul polemik, karena pemahaman yang picik.
Sambil menunggu pesanan berupa kopi hitam panas pahit, Rapinter membuka obrolan tentang kebencanaan dan kerelawanan. Menurut pemahaman dan pengalamannya, program pengurangan risiko bencana dengan berbagai bentuknya, seperti destana dan spab, itu ternyata harus ada cuannya agar dapat berjalan. Tanpa cuan akan berhenti di persimpangan jalan.
“ada sebuah guyonan ngawur yang mengatakan, ada cuan program disayang, tak ada cuan program ditendang. Bagaimana merurut sampiyan Cak Di,”
“Lho … lho …gak bahaya ta ?. guyonan sampiyan ini dapat menimbulkan kegaduhan. Sebaiknya postingan semacam ini sampiyan hapus saja dari memori otak sampiyan,” Kata Mukidi sedikit khawatir dengan pertanyaan nakal Rapinter di alam demokrasi otoriter ini.
“Jika menyimaknya dengan hati yang cerdas tanpa emosi, harusnya tidak bahaya kok. Karena sesungguhnya praktek program berbasis proyek itu lumrah. Hampir semua kementerian pasti mengalami dan memahami, yang penting daya serap anggaran lancar dan laporannya tidak sekedar membuat sehingga enak dibaca,” Jawab Rapinter sambil nyakot rondo royal kesukaannya.
Kaspo, yang sedari tadi diam saja menyimak percakapan Rapinter dengan Mukidi, hanya cengar cengir mencoba menganalisa guyonan Rapinter tentang relawan, program dan cuan.
Dalam hati, Kaspo mengakui pernah mendengar “bisik-bisik” yang beredar, bahwa kebanyakan program itu pelaksanaannya hanya sekali sentuh tidak ada tindak lanjutnya. Keberlanjutannya sangat tergantung kepada penyusun anggaran tahun berikutnya.
Apakah perlu ada tindak lanjutnya dalam bentuk program penguatan kelompok, program pemandirian kelompok, dan program pembinaan kelompok, atau cukup mengulangi program yang lalu dengan sasaran yang berbeda. Semua tergantung kebijakan.
Sehingga wajar jika para proyektor (orang yang melaksanakan proyek) senang mengatakan bahwa komunitas/lembaga ini telah resmi mendapat label tangguh setelah mendapat program yang hanya sekali sentuh. Padahal kenyataannya tidak begitu, dan semua sudah tahu.
“Pantesan program destana dan spab yang pernah saya pegang dulu, sekarang entah gimana kelanjutannya, karena yang tinggal hanya dokumen dan foto kegiatan yang tersompan di Balai Desa dan Sekolah, menunggu dimakan rayap,” Kata Kaspo
“Hahahaha, Kaspo mulai bersuara. Rupanya nalarnya mulai konek dengan pembicaraan yang menggelitik ini,” Seloroh Mukidi sambil tertawa ngakak, terlihat giginya yang mulai jarang karena sudah tergolong manusia tuwek.
“Woalah, ternyata sampiyan juga pemain to ?. tapi kan enak to?. Sing penting daya serap anggaran lancar dan laporan diterima tanpa revisi. Ya rekayasa sikit-sikit ga papa lah, tapi ya usahana merata. Hindari minum keringat anggotanya,” Seloroh Rapinter sambil tertawa, namun tidak sampai ngakak karena usianya belum begitu tuwek.
Dari obrolan tiga serangkai di atas, dapat ditarik simpulan bahwa semua kegiatan yang dilakukan relawan dalam upaya edukasi dan sosialisasi pengurangan bencana itu, seyagyanya memang harus didukung anggaran yang signifikan. Tanpa itu gerakannya hanya seporadis. Hangat-hangat tahi asu.
Pelajaran yang dapat dipetik dari obrolan di warkop embongan yang tidak cerdas sama sekali jika ditinjau dari kacamata akademisi, adalah komunitas relawan harus dapat menggandeng “pihak beruang” dengan baik dan benar agar segala program yang akan dilaksanakan dapat memberdayakan para penerima manfaat, tanpa mengganggu dompet pribadi.
Abaikan saja jika ada yang bilang, relawan kok minta upah. Ya, memang benar relawan tidak minta upah, namun sesungguhnyalah relawan itu berhak menerima upah dan tidak berdosa untuk mencari upah. Apalagi kegiatannya berskala besar dan ada anggarannya).
“Ya, kenyataannya memang begitu lho. Tapi kadang malu mengungkapkan, namun nyatane rebutan, melupakan jargon saling menguatkan tanpa meninggalkan,” Kata Mukidi yang sering tersakiti saat melaksanakan aksi, haknya sering dikurangi.
Mukidi pun juga bilang kepada Kaspo dan Rapinter, bahwa masih ada komunitas relawan yang kegiatannya tidak harus menungguh kebaikan donatur. Cukup saweran seikhlasnya untuk membuat sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi semua pihak. Ya itu jenis kegiatan berskala kecil yang tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Yang jelas, diakui atau tidak semua kegiatan relawan itu memang perlu cuan. Salam Waras [eBas/RabuPon-14082024]

berbahagialah relawan yang sering dilibatkan dalam menjalankan proyek yang ada cuannya tapi janganlah sampai rebutan saling sikut untuk selalu mengangkangi sendiri. ingatlah jargon tentang kebersamaan, seduluran sak lawase, saling menguatkan tanpa meninggalkan, dan jargon lainnya yang indah dan idealis, namun termehek mehek ketika mata silau oleh cuan banyak.
BalasHapusHindarilah kebiasaan nyunat hak milik teman seperjuangan dengan berbagai dalih pembenar. itu tidak baik. itu perbuatan culas yang di dalam ajaran agama pasti akan mendapat dosa.
jangan kau gadaikan idealismu sebagai relawan kemanusiaan dengan lembaran cuan