Sabtu, 17 Januari 2026

ADA APA DENGAN BENCANA SUMATRA

 Bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh Sumut dan Sumbar sangat menyita banyak pihak. Termasuk keterlibatan influencer yang berhasil menggalang dana tidak sedikit untuk membantu pemerintah meringankan penderitaan para penyintas kurang cepat tertangani karena kondisi lapangan yang luluh lantak, dan terisolir sulit ditembus.

 Lucunya, kehadiran influencer ini sempat menimbulkan penilaian kontra produktif dari pejabat negara. Seharusnyalah mereka yang bukan relawan ini dirangkul dalam sebuah kolaborasi yang asik. Percayalah tanpa kehadiran influencer dan lembaga kemanusiaan, pemerintah pasti akan “termehek mehek” menangani bencana akibat perusakan hutan yang dilegalkan.

 Ditengah kesibukan komunitas relawan dari berbagai daerah membantu menangani penyintas serta membersihkan lokasi pengungsian, dan fasilitas sosial, muncul isue penyelewengan dana bantuan untuk korban bencana, serta upaya penimbunan (menahan) barang batuan di gudang oleh oknum. Termasuk adanya pejabat yang memberikan pernyataan tentang kejadian bencana yang tidak sesuai data, sehingga menimbulkan berbagai cemooh.

 Sementara kiprah BNPB dan BPBD dalam penanggulangan bencana ini, kurang tampak. Kalah pemberitaan dengan komunitas relawan dan para influencer yang memposting kegiatannya, serta melaporkan kondisi nyata di lapangan. Hal ini menimbulkan berbagai komentar. Termasuk komentar perlunya status bencana nasional.

 Yeka kusumajaya, arek malang yang berpengalaman dalam bidang kebencanaan, memposting keprihatinannya. Dia bilang, kita sudah punya BNPB hampir 18 tahun, kalau diumpamakan anak, dia sudah masuk  masa remaja (Akil baligh). Tapi, menangani bencana Aceh dan Sumatera, mereka kembali seperti balita, yang gak mengerti, tidak tahu atau tidak bisa apa-apa.

Kita mudur sedikit melihat alur cerita bencana Aceh dan Sumatera yang terjadi pada tanggal 25 - 30 November 2025, bahkan sampai sekarang. Dimana Keputusan RI 1 menetapkan Kordinatornya Menko PMK. Tetiba dokumen R3P (rencana rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana) sudah siap, lalu saya bertanya tanya, mana dokumen JITUPASNAnya (kajian kebutuhan pasca bencana),” Kata pria berputra dua ini.

 Masih kata pria berputera dua ini, bahwa katanya menunggu Rendu BAPPENAS, sementara BAPPENAS sendiri menunggu Data dari BRIN sebagai Wali Data yang tidak dibuat sampai saat ini.

 Nah ini mulai aneh. Data aja belum terkumpul, apa lagi mau bicara validasi, woow, semakin sulit dipercaya. Kalau datanya masih muter-muter berarti JITUPASNA belum ada dong. Jika pun Jitupasnanya ada, basis penyusunan dokumennya pakek data apa ?. Lalu gimana akurasi dan istimasi  anggaran di dokumen R3P nya ?,” Katanya lagi.

 Ini semua belum terjawab, masih kata Yeka, muncul lagi berita tentang Ketua Satgas Penanganan Bencana diberikan ke MENDAGRI. Lho Permainan seperti apa lagi nih. Model dari planet mana nih yang dipakek sebagai rujukan manusia di planet Bumi Indonesia kita ini.

 Lalu nongol dan rame lagi, klu gak bisa dibilang viral  tentang sumur bor yang dikerjakan oleh TNI dangan anggaran 150 juta per sumur. Harusnya itu urusan kementerian PUPR atau ESDM, bukan proyeknya TNI. Kok bisa ya ?. ya bisa jalah atas nama kebijakan. 

 Diakhir postingannya, alumni Unisma ini bertanya, Kemana peran dan fungsi BNPB, dan apa Kompetensi PMK dan KEMENDAGRI dalam penanganan bencana ?.

Apa yang diposting Yeka banyak mengudang komentar. Salah satunya bilang, disenyumin saja Sam, senyum kecut. Ingat, mereka kalau ke daerah merasa paling hebat. Minta dilayani, dan minta dijemput. Bikin dokumen harus asistensi mereka. Tapi dalam menangani bencana carut marut, kenyataan bicara lain. Akhirnya ya kembali Rakjat Bantoe Rakjat (RBR), yang bergerak.

 “Sayangnya RBR ini dianggap jadi saingan dan musuh oleh sebagian mereka yang tidak paham tentang penanggulangan bencana namun punya kuasa dalam penyusunan kebijakan tentang penanggulangan bencana,” Katanya.

 Sungguh “keprihatinan” seorang Yeka Kusumajaya, kiranya perlu dijadikan bahan pembelajaran bagi kita yang pernah mengikuti pelatihan kebencanaan yang menjadi programnya BNPB dan BPBD. Baik itu manajemen bencana, PRBBK, SPAB, Destana dan sejenisnya yang ‘diperebutkan’ oleh banyak pihak. Agar penanggulangan bencana dapat berjalan sesuai pakemnya.

 Tidak seperti penanggulangan bencana Aceh dan Sumatra saat ini yang banyak menyimpang dari pakem, terlepas itu atas nama kebijakan untuk melindungi sekaligus menyelamatkan pihak tertentu.

 Jika keberadaan BPBD dan BNPB (termasuk forum dan relawan bentukannya) kalah pamor dengan komunitas relawan dari lembaga swasta dan para influencer dalam menangani warga terdampak, kiranya perlu dipertimbangkan usulan anggota dewan tentang perlunya membentuk Kementerian Bencana, dimana didalam strukturnya nanti ada dirjen banjir, dirjen longsor, dirjen erupsi, dirjen tsunami dan lainnya termasuk dirjen perencanaan, pengadaan dan pembiayaan bencana. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Sabtu-17012026]

 

 

 

Minggu, 04 Januari 2026

KOMUNITAS LAKUKAN PENGHIJAUAN DAN TANTANGANNYA

 Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap komunitas sosial kemanusiaan yang sering berkegiatan di alam bebas, sering melakukan kegiatan penanaman pohon di lereng gunung, bukit, dan hutan yang sering menjadi tempat kegiatan mereka, dalam rangka penghijauan kembali (reboisasi).

 Kata para aktivis lingkungan, bahwa menanam pohon adalah tindakan sederhana yang mampu memberikan dampak besar bagi lingkungan. Pohon berperan penting dalam menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, serta menjaga keseimbangan ekosistem, dan membantu mencegah terjadinya bencana alam.

 Kadang kegiatan ini juga dilakukan di daerah bantaran sungai dan pesisir pantai. Tentunya pohon yang akan ditanam disesuaikan dengan daerahnya, tidak asal tanam (kecuali untuk sekedar seremonial dari sebuah proyek tertentu demi sebuah pencitraan).

 Kegiatan ini biasanya dilakukan rame-rame sebagai sebuah gerakan bersama lintas komunitas, dan pohon yang akan ditanam pun biasanya beragam. Seperti Trembesi, Mahoni, Jati, Akasia, Sengon, Lamtoro, Cemara, Beringin, dan Angsana. Jenis pohon ini cepat tumbuh, akarnya kuat, rindang, menyerap polusi, dan tahan terhadap kondisi lingkungan.

 Namun juga ada kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh komunitas tertentu, yang dilakukan dalam acara ulang tahun komunitas. Biasanya pohon yang ditaman adalah tanaman buah yang pohonnya besar dan akarnya kuat. Diantaranya seperti pohon Sukun, Alpokat, Klengkeng, Durian, Mangga, Kedondong, Rambutan, Jamblang, Sirsak, Kersen, dan Nangka.

 Sedangkan pohon yang cocok ditaman di daerah pantai, diantaranya Kelapa, Ketapang, Mahoni, Beringin, Cemara Laut, Waru Laut, Pandan Laut, dan tentu saja berbagai jenis pohon Bakau.

 Sungguh, jika gerakan penanaman pohon yang melibatkan berbagai komunitas dengan mengajak serta masyarakat sekitar lokasi, akan memberi dampak yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Inilah bentuk nyata kepedulian komunitas dan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan alam.

 Masalahnya kemudian, apakah setelah dilakukan kegiatan penanaman, juga akan diikuti dengan kegiatan perawatan secara berkala untuk menjamin tanaman tumbuh dan berkembang sesuai harapan ?. Termasuk kesiapan masyarakat sekitar untuk membantu merawat dan mengawasinya. Inilah tantangan dari sebuah program penananam.

 Apalagi, saat ini penyalahgunaan lahan tak terbendung, terkesan adanya pembiaran karena alasan kepentingan tertentu, sehingga menyebabkan laju deforestasi yang begitu cepat, dan dampaknyapun sudah terasakan, seperti bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. 

 Jika demikian adanya, pertanyaannya kemudian adalah apakah aksi kecil yang dilakukan komunitas yang menggandeng masyarakat akan dapat menghasilkan perbaikan lingkungan alam, sebagai upaya mengembangkan keanekaragaman flora dan fauna, yang akan dinikmati oleh anak cucu generasi mendatang. Bukan sekedar dongeng pengantar tidur siang sambil telentang ?. Wallahu a’lam bishowab [eBas/Senin-05012026]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 01 Januari 2026

KALENDER BJC 2026 LIMITED EDITION

 Sebuah langkah cerdas diambil oleh pengurus Basecamp Juanda Coffee (BJC) untuk membuat kalender tahun 2026. Harganya relatif murah, cukup dua puluh lima ribu saja sudah mendapat kalender mbois yang menampilkan berbagai foto kegiatan BJC

 Menariknya lagi, seluruh penjualan kalender ini tidak dinikmati oleh pengurus, namun semua akan dimanfaatkan untuk mendukung program BJC tahun 2026, yang konon akan dibahas di dalam rapat awal tahun yang bershio kuda api.

 Tentunya, di dalam rapat nanti setiap anggota dapat memberikan catatan kegiatan tahun 2025, serta masukan dan gagasan program yang akan menjadi agenda tahun 2026. Misalnya, perlu ada agenda rapat rutin, pelatihan peningkatan kapasitas, memperluas jejaring kemitraan dengan pihak yang bergerak dibidang sosial kemanusiaan dan kebencanaan, mencari peluang kerjasama yang saling menguntungkan dan sebagainya.    

 Ya, Kalender yang sengaja dicetak “Limited Edition” ini merupakan gagasan spontan yang baru kali ini dapat direalisasikan. Tentunya diharapkan tahun depan dapat dicetak lebih banyak lagi agar semua anggota berkesempatan memiliki.

 Pak Miskan, sebagai sesepuh BJC mengatakan bahwa kehadiran kalender BJC yang mbois ini secara tidak langsung menjadi media promosi akan keberadaan BJC dengan segala kiprahnya.

 “Kalender ini layak dipajang di ruang tamu yang mudah dilihat orang. Jika tertarik pasti akan bertanya,” Katanya saat wedangan bareng di Warkop langganan, Rabu (31/12/2025) Sore.

 Apa yang disampaikan oleh pria paruh baya berkaca mata itu diamini oleh Masyudi, ketua BJC. Pria berambut gondrong ini juga berharap, dengan terbitnya kalender ini dapat memotivasi anggota lain untuk turut ambil peran dalam kegiatan BJC sehingga kehadirannya akan tampak di dalam foto kegiatan yang akan menghiasi kalender tahun depan.

 Hari ini, Kamis pon tanggal 01 januari 2026, kalender BJC resmi menjadi penanggalan yang berlaku selama satu tahun ke depan. Bangga rasanya menatapnya. Apalagi fotonya juga menggambarkan sebuah keguyuban dalam menjalankan program secara bersama sama sesuai jargon ojo leren dadi wong apik. [eBas/Kamis-01012026]

 

 

 

   

Rabu, 31 Desember 2025

INFLUENCER MENJADI RELAWAN

 Kalau tidak salah, baru kali ini terjadi bencana banjir bandang dan longsor melanda tiga provinsi secara bersamaan. Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, secara berjamaah diterjang banjir yang membawa material lumpur dan kayu gelondongan hasil penebangan. Bahkan ada yang bilang banjir ini akibat dari pembukaan hutan untuk pertambangan dan “sawitisasi” yang ugal-ugalan dalam memperkosa lingkungan alam demi cuan.

 Ya, tanggal 26 November 2025, awal petaka yang langsung memakan korban jiwa di hari pertama ini sangat mengerikan. Namun juga sangat disayangkan karena banyak pejabat mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Terkesan asal bunyi tanpa rasa empati. Sungguh sulit dimengerti, seakan ada yang wajib ditutupi.

 Netizen pun melalui media sosial langsung “merujak” para pejabat yang komentarnya tidak seperti orang pintar dan berpangkat, sambil memposting video tentang derita korban bencana dan kerusakan yang mencekam, tanpa editan.

 Yeka Kusumajaya, salah satu netizen dari Kota Malang, yang paham tentang manajemen bencana, dalam komentarnya di Facebook bilang bahwa,  baru di rezim pemerintahan ini saya merasa terhibur setiap baca berita, dimana statement pejabatnya lucu-lucu kayak pelawak semua. Akhirnya saya sadar dan cukup terhibur, seperti D'Javu jamannya Srimulat…

 Selain berbagai hujatan dari netizen dalam dan luar negeri, akan lambatnya penanganan bencana oleh negara, serta kesombongan negara menolak bantuan asing,  tampak influencer, yaitu orang yang punya pengaruh besar di media sosial (seperti Instagram, TikTok, YouTube) karena punya banyak pengikut, dan dapat memengaruhi keputusan atau perilaku pengikutnya, aktif melibatkan diri dalam upaya membantu korban bencana.

 Sungguh baru kali ini mereka yang tidak pernah mengikuti pelatihan tentang kebencanaan seperti yang sering diikuti oleh relawan, turun langsung sebagai relawan kemanusiaan. Baik beraksi sendiri dengan kelompoknya, atau pun bergabung dengan lembaga kemanusiaan yang sudah beraksi di lokasi.

 Mereka, dengan kemampuannya berhasil menggalang dana yang besar dari berbagai pihak untuk disumbangkan kepada korban bencana untuk memenuhi kebutuhannya, yang belum didapat dari pemerintah karena berbagai kendala di lapangan (dan kebijakan).

 Mereka juga berkolaborasi dengan berbagai relawan, berhasil menembus daerah yang terisolasi karena rusaknya jalan dan jembatan yang diterjang ratusan kayu gelondongan berukuran besar. bergotong royong membersihkan lingkungan, mengadaan air bersih, mendirikan dapur umum sekaligus mendidtribusikannya, serta kegiatan lain yang dikerjakan secara keroyokan antar pihak.

 Sungguh, apa yang dilakukan oleh “relawan dadakan” ini, sangat membantu dan meringankan beban pemerintah dalam hal memenuhi kebutuhan para penyintas. Seperti sembako, makanan siap saji, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya yang sangat diperlukan. Bahkan ada yang menyumbang genset, starlink dan panel surya.

 Sayangnya keberhasilan mereka menggalang donasi malah ditanggapi “kurang asik” oleh pejabatnya. Seperti bantuan sudah tidak utuh lagi karena dirusak dan diambil oleh oknum nakal. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pengumpulan donasi harus ijin dan membuat laporan.

 Harusnya inisiatif masyarakat menolong sesamanya itu dibantu dan difasilitasi terkait dengan transportasinya. Bukan malah dijadikan peluang oleh oknum nakal untuk dijarah dan disunat dalam rangka memenuhi kepentingan pribadinya. Sungguh tidak tahu malu.

 Terimakasih kepada para influencer yang telah berkenan membantu pemerintah memenuhi kebutuhan para penyintas. Sungguh, keberanianmu membantu sekaligus menyuarakan situasi dan kondisi di lokasi bencana seperti yang dilakukan para jurnalis sangatlah membantu penyebaran informasi, yang dapat menginspirasi lahirnya rasa peduli untuk beraksi membantu penyintas yang hidupnya setengah mati.

 Kata netizen, mereka adalah sekumpulan orang baik, yang didatangkan oleh Tuhan, di tempat bencana. Mereka bukan malaikat, juga bukan Nabi. Tapi mereka adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan.

 Teruslah berbuat baik walaupun mulai ada bermacam intimidasi. Selamat tahun baru 2026, semoga para influencer yang menjadi relawan tetap semangat, sehat dan sukses dalam menjalankan kerja-kerja kemanusiaan. Wallahu a’lam Bishowab. [eBas/Kamis-01012026]

Selasa, 16 Desember 2025

SEANDAINYA TANPA KEHADIRAN RELAWAN

 Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatara Utara, dan Sumataera Barat di akhir tahun 2025 ini sungguh dahsyat. Lebih dari seribu nyawa melayang, dan harta benda pun melayang.

 Hal ini tentulah menyebabkan derita masyarakat terdampak akan berkepanjangan, mengingat parahnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk pemulihannya.

 Tentu, untuk menangani bencana yang serentak melanda tiga provinsi ini, diperlukan gerak cepat dari pemerintah untuk mengevakuasi korban. Diperlukan personil yang mumpuni dan dana yang tidak sedikit, serta sarana prasarana pendukung yang sesuai.

 Masyarakat pun serentak turun mengulurkan bantuan. Mereka yang terdiri dari organisasi kemanusiaan, lembaga swadaya masyarakat, komunitas relawan dan perorangan membantu sesuai kemampuannya, agar korban tidak bertambah.

 Dengan caranya sendiri, masyarakat mengumpulkan berbagai bantuan untuk dikirimkan ke lokasi bencana sebagai upaya meringankan derita para penyintas. Sungguh donasi yag berhasil dikumpulkan itu tidak dapat disepelekan. Sangat banyak dan beragam untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak yang kondisinya mengenaskan. Merka juga sibuk membuka dapur umum yang sangat diperlukan oleh masyarakat, petugas dan relawan agar tetap sehat dan bersemangat.

 Sayangnya, masih ada oknum yang nakal, berusaha mengambil bantuan kemanusiaan dari masyarakat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tentu saja hal seperti ini dapat mengendorkan semangat relawan dalam memberikan pertolongan dan bantuan kepada korban bencana.

 Untungnya, para relawan yang terjun di lokasi bencana itu semangatnya tidak pernah kendor, dan punya nyali besar membantu sesamanya. Khususnya di daerah yang masih terisolasi, belum terjangkau banyak bantuan. Terbukti, dengan caranya sendiri mereka mulai berhasil. Makanya jangan disepelekan keberadaan relawan yang ikhlas menolong.

 Sungguh, seandainya semua relawan kemanusiaan kompak mengundurkan diri sejenak untuk tidak membantu di lokasi bencana, dapat dipastikan pemerintah akan kelimpungan termehek mehek kewalahan mengatasi banyaknya korban bencana, kewalahan melakukan evakuasi dan drooping logistik. Bahkan tidak menutup kemungkinan jumlah korban MD akan bertambah banyak.

 Untuk itulah perlunya pemerintah (dalam hal ini BPBD setempat) melakukan koordinasi dan komunikasi kepada komunitas relawan melalui kegiatan peningkatan kapasitas dibidang kebencanaan, sehingga akan memudahkan mobilisasi ketika terjadi bencana. Termasuk dalam hal informasi awal terjadinya bencana.

 Apalagi, seperti diketahui, BNPB punya banyak teman relawan di daerah, seperti diantaranya, Forum PRB, baik tingkat provinsi, dan Kabupaten/Kota, bahkan sampai tingkat Kecamatan dan Kelurahan. Juga ada Agen Bencana, Fasilitator Kebencanaan, dan Tim Reaksi Cepat.

 Merekalah yang seharusnya dijadikan rujukan pertama oleh BPBD dan BNPB terkait dengan informasi terjadinya bencana di daerah, seperti yang sering dijadikan bahasan dalam berbagai pelatihan, dan rapat kebencanaan sebagai salah satu upaya membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Jika keberadaan mereka ini tidak “dilibatkan”, maka dapat berakibat terjadinya bias informasi.  

 Ini penting dilakukan untuk menghindari kesalahan informasi yang memalukan dan berujung minta maaf. Sungguh, tampaknya baru kali ini BNPB “dihujat” banyak pihak karena “kebijakannya” yang kurang pas dengan berbagai dokumen kebencanaan dan aneka Perka BNPB yang disusun dengan anggaran yang tidak sedikit.

 Katanya bencana itu urusan bersama, maka peran serta relawan dan masyarakat hendaknya diapreasiasi dan difasilitasi oleh pemerintah. Bukan dimanfaatkan untuk membangun citra diri seperti yang banyak dilakukan oleh oknum. (seperti yang sering terlihat di media sosial). wallahu a’lam bishowab. [ebas/Rabu-17122025]  

 

 

 

 

Minggu, 09 November 2025

INISIATIF PAK YOGI

 “Monggo, jika tidak sibuk, hadir di BPBD Provinsi Jawa Timur, hari minggu (09/11/2025) saya mengadakan pelatihan pengenalan peralatan water rescue, yang diikuti 30 relawan dari berbagai komunitas,” Kata Pak Yogi melalui Whatsaap.

 Sebuah ajakan yang menarik. Mengingat saya sudah lama tidak dolan ke BPBD Jatim karena harus tahu diri untuk undur diri, dari pada diundurkan secara diam-diam. Namun terpaksa ajakan Pak Yogi saya tolak karena pada waktu yang sama ada kegiatan yang harus saya ikuti.

 Kegiatan yang diinisiasi oleh Pak Yogi, koordinator Posko Bersama Relawan Surabaya itu diselenggarakan di  lokasi Tenpina (tenda pendidikan bencana), yaitu sebuah ruang edukasi yang menyediakan berbagai peraga kebencanaan seperti, layar interaktif, diorama, simulator Early Warning System (EWS), serta poster-poster informasi kebencanaan.

 Kegiataan ini dipandu oleh fasilitator yang mumpuni di bidangnya. Mereka adalah, Sukatno (OBI), Zaenal dan Prasetyo. Keduanya dari TRC BPBD jatim. Adapun pesertanya sejumlah 30 relawan dari berbagai komunitas.

 “Adapun target yang ingin dicapai adalah agar relawan punya kemampuan dan keahlian di bidang water rescue, agar tidak menjadi relawan pasif,” Kata pria berkulit hitam manis dan murah senyum.

 Dikatakan pula bahwa kegiatan ini juga diikuti oleh komunitas yang tergolong baru, diantaranya Komunitas Sungai Watch, Gempa adventure, R-BES, Magana unusa, Camp Sehat Ponorogo, Gesit, dan Cv Trubus.

 Tentu kehadiran komunitas baru ini sangat menggembirakan. Pertanda telah muncul komunitas baru yang peduli terhadap masalah bencana, yang semakin hari semakin sering terjadi dengan segala dampaknya. Untuk itulah kehadiran mereka perlu diberi semangat agar tidak muntaber (mundur tanpa berita).

 Tentu, semua ini berkat inisiatif Pak Yogi yang mengadakan pelatihan dengan dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur. Harapannya, kedepan Pak Yogi dapat merangkul berbagai komunitas untuk membuat agenda berkala sebagai media temu muka saling silaturahmi lintas komunitas untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas di bidang kebencanaan.

 Untuk kesempatan pertama ini, yang dibahas adalah tentang pengenalan Perahu Karet LCR beserta kelengkapan pendukungnya, seperti helm, Live jaket, Dayung, dan Mopelnya.

 “Untuk awal kegiatan, materi yang diberikan berupa pengenalan alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan water rescue beserta fungsi dan cara penggunaannya. Nanti, tanggal 30 November 2025 diadakan uji praktek untuk setiap peserta. Sedangkan Praktek basah direncanakan pada bulan Desember 2025,” Katanya.

 Apa yang dilakukan oleh Pak Yogi ini merupakan bentuk nyata dari peran aktif masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana, dan menyiapkan tenaga terlatih yang siap membantu pemerintah dalam pencarian dan pertolongan korban bencana. Mungkin akan lebih indah jika inisiatif Pak Yogi ini dapat dikolaborasikan dengan programnya BPBD. Tetap Semangat Pak, Doa kami di nadimu. [eBas]

 

 

GRRM PERLU ALAT VITAL BARU

 Sesungguhnyalah kegiatan kawan-kawan dalam GRRM sangat tergantung dari lengkap tidaknya peralatan penunjang. Semakin lengkap peralatannya, maka proses pembersihan Masjid akan semakin cepat dan ringan serta menjangkau banyak area yang sulit digapai tanpa bantuan alat.

 Beberapa peralatan vital yang diharapkan dimiliki untuk mendukung kelancaran kegiatan diantaranya, vacuum cleaner, hand blower, jet cleaner, tangga lipat, cairan pembersih dan lainnya. Semakin banyak semakin menyemangati para relawan pecinta kebersihan Masjid.

 Sebenarnya tanpa peralatan vital pun dapat dilakukan secara manual, akan tetapi tentu pengerjaannya butuh waktu lama dan banyak personil. Apalagi jika pihak takmir (marbot) tidak mau membantu sama sekali.

 Dalam literatur yang ditemukan, peralatan vital adalah peralatan, sistem, atau perangkat yang sangat penting dan krusial untuk menjalankan fungsi tertentu.

 Istilah ini bisa merujuk pada bagian mesin atau perangkat yang sangat penting untuk suatu tujuan (dalam hal ini tujuan bersih-bersih masjid).

 Tentunya peralatan vital ini harganya tidak murah dan membutuhkan penanganan ekstra agar awet tidak cepat rusak. Untuk itulah perlu kehati hatian dalam penggunaannya, tidak sembrono dan penuh tanggung jawab.

 Dalam perkembangannya, GRRM selalu berusaha menambah bermacam peralatan vital yang diperlukan untuk mendukung kegiatannya yang semakin padat.

 Begitu juga antar pengurus GRRM, selalu aktif berkomunikasi mencari informasi dan tukar pengalaman terkait dengan upaya penambahan peralatan yang sangat vital untuk mempermudah pergerakan. Termasuk "pengadaan" mobil operasional beserta perawatannya, serta pengadaan genset portable untuk "njagani' listrik masjid yang terbatas wattnya.

 Semua dilakukan dengan swadaya semampunya tanpa membebani anggotanya. Bicara masalah dana untuk pengadaan, penambahan dan perawatan peralatan vital itu diperlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan fitnah.

 Termasuk dalam hal mencari donatur maupun saweran antar anggota. Semua perlu dibahas bersama sambil ngopi bareng secara face to face, bukan lewat pertukaran komentar di grup WhatsApp, yang sering menimbulkan salah tafsir tentang perlunya alat vital baru yang lebih canggih untuk mendukung Gerakan Resik-Resik Masjid. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Minggu-09112025]