Minggu, 15 Februari 2026

TEMAN MUKIDI TIDAK KE LOKASI BENCANA SUMATRA

 Hari minggu, 15 Februari 2026, Mukidi mengikuti kegiatan Aksi Clean Up Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026, yang di selenggarakan oleh word cleanup day (WCD) Jawa Timur, bertempat di Taman Bungkul Surabaya, berbarengan dengan acara Car Free Day sehingga warga Kota Surabaya tahu dan diajak berkolaborasi untuk Indonesia Bersih

 Di dalam undangan, ada ajakan yang berbunyi, “Halo Sobat WCD Jatim !, Yuk jadi bagian dari perubahan  dengan mengikuti kegiatan Plogging spesial Hari Peduli Sampah Nasional 2026. Mari luangkan satu hari untuk dunia dengan langkah kecil menuju Jawa Timur bersih bebas sampah,”.

 Sebuah ajakan untuk menyadari bahwa sampah merupakan masalah yang harus dicarikan solusi bersama agar tidak berserakan kemana-mana yang dapat mengganggu kebersihan, kenyamanan, dan kesehatan warga Surabaya. Bahkan tidak jarang akibat sampah yang dibuang sembarangan dapat melahirkan bencana banjir yang sangat merugikan.

 Dengan penuh semangat Mukidi berangkat ke Taman Bungkul memenuhi ajakan WCD Jatim, sekalian bertemu dengan kawan-kawan relawan sosial kemanusiaan dari berbagai komunitas untuk saling bersilaturahmi bertukar informasi.

 Waktu masih pagi, panitia dan peserta baru datang beberapa, termasuk Ratrimo, sahabat Mukidi yang datang dengan mengenakan kaos komunitasnya yang warnanya menyala. Begitu juga tumblernya.

 “Selamat pagi Cak Di, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarnya dan apa kegiatannya sekarang ?,” Kata Ratrimo saat berjumpa di parkiran dekat warkop, depan Rumah Sakit.

 “Alhamdulillah sehat. Dengan-dengar sampiyan ikut ke lokasi bencana Sumatra ya ?. gimana kondisinya sekarang, apakah semua sudah baik-baik saja seperti yang diucapkan beberapa pejabat di media sosial ?,” Kata Mukidi sedikit kaget melihat sahabatnya yang semakin sukses.

 “Hehe, sebagai relawan sebenarnya pengen ke sana untuk membantu BNPB dan BPBD di fase tanggap darurat. Tapi tidak ada yang mengajak ke sana. Sementara biaya transportasinya mahal dan tidak mungkin terjangkau oleh relawan seperti saya ini,” Kata Ratrimo pelan.

 Saking senangnya ketemu sabahat lama, Mukidi mengajak ngopi di warkop. Dia lebih memilih ngobrol dengan Ratrimo daripada ikut agenda WCD Jatim.

 Menurut Mukidi, Ratrimo ini merupakan relawan yang memiliki kapasitas yang lumayan dibidang kebencanaan. Dia sudah sering ikut berbagai pelatihan yang diselenggarakan BNPB, BPBD dan pihak lain. Mulai dari manajemen bencana, Manajemen dapur umum, Pelatihan keposkoan, Pelatihan fasilitator destana, spab dan lainnya.

 Setahu Mukidi, Ratrimo itu sering mengikuti kegiatan sarasehan, rapat koordinasi, jambore tentang kebencanaan di berbagai tempat yang diselenggarakan oleh berbagai pihak. Bahkan pernah juga menjadi fasilitator pelatihan serta nara sumber podcast dan seminar pengurangan risiko bencana.

 “Seharusnya, dengan kapasitas yang mumpuni itu, BNPB dan BPBD memfasilitasi sampiyan ke lokasi untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalaman dalam rangka membantu upaya penanggulangan bencana di sana. Apalagi sampiyan juga memiliki sertifikat dari LSP-PB yang diakui BNSP,” Katanya sambil nyruput kopi hitam pait panas sebagai upaya mengurangi gula.

 Ratrimo hanya meringis getir. Dia bilang bahwa relawan yang ingin ke lokasi itu haruslah memiliki uang sendiri atau dapat sponsor dari ‘instansi’ yang memiliki anggaran untuk membiayai relawan. Dia juga bilang bahwa di lokasi, semua relawan dibawah bendera lembaga kemanusiaan dan para influenser yang tidak pernah ikut pelatihan kerelawanan namun punya banyak anggaran untuk membantu korban.

 “Perlu sampiyan ketahui bahwa sekarang negara sedang melakukan efisiensi anggaran. Sehingga relawan harus berusaha sendiri mencari dana untuk melampiaskan nafsunya membantu para penyintas agar tidak tewas karena pemerintah kewalahan menanggulangi bencana Sumatra yang sangat berbeda penanganannya dengan bencana di daerah lain, dan perlu diketahui bahwa sertifikat dari LSP-PB yang saya miliki itu tidak ada artinya sama sekali,” Kata Ratrimo.

 Saking asiknya ngobrol bareng, tak terasa kumandang adzan dhuhur terdengar dari Mushola yang ada di  lingkungan makam Mbah Bungkul. Mereka berdua segera menuju Mushola untuk sholat dhuhur berjamaah. Termasuk peserta bersih-bersih sampah yang digagas WCD Jatim.

 Setelah sholat mereka berpisah, terucap janji untuk bertemu kembali. Mukidi tersipu malu ketika bertemu dengan peserta giat peduli sampah karena nawaitunya berubah, berganti ngobrol bersama Ratrimo, sahabatnya yang pernah bersama ikut pelatihan penyusunan dokumen renkon untuk bencana erupsi gunung api beberapa tahun silam tanpa ada tindak lanjutnya. [eBas/Minggu-15022026]

 

 

 

 

Sabtu, 17 Januari 2026

ADA APA DENGAN BENCANA SUMATRA

 Bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh Sumut dan Sumbar sangat menyita banyak pihak. Termasuk keterlibatan influencer yang berhasil menggalang dana tidak sedikit untuk membantu pemerintah meringankan penderitaan para penyintas kurang cepat tertangani karena kondisi lapangan yang luluh lantak, dan terisolir sulit ditembus.

 Lucunya, kehadiran influencer ini sempat menimbulkan penilaian kontra produktif dari pejabat negara. Seharusnyalah mereka yang bukan relawan ini dirangkul dalam sebuah kolaborasi yang asik. Percayalah tanpa kehadiran influencer dan lembaga kemanusiaan, pemerintah pasti akan “termehek mehek” menangani bencana akibat perusakan hutan yang dilegalkan.

 Ditengah kesibukan komunitas relawan dari berbagai daerah membantu menangani penyintas serta membersihkan lokasi pengungsian, dan fasilitas sosial, muncul isue penyelewengan dana bantuan untuk korban bencana, serta upaya penimbunan (menahan) barang batuan di gudang oleh oknum. Termasuk adanya pejabat yang memberikan pernyataan tentang kejadian bencana yang tidak sesuai data, sehingga menimbulkan berbagai cemooh.

 Sementara kiprah BNPB dan BPBD dalam penanggulangan bencana ini, kurang tampak. Kalah pemberitaan dengan komunitas relawan dan para influencer yang memposting kegiatannya, serta melaporkan kondisi nyata di lapangan. Hal ini menimbulkan berbagai komentar. Termasuk komentar perlunya status bencana nasional.

 Yeka kusumajaya, arek malang yang berpengalaman dalam bidang kebencanaan, memposting keprihatinannya. Dia bilang, kita sudah punya BNPB hampir 18 tahun, kalau diumpamakan anak, dia sudah masuk  masa remaja (Akil baligh). Tapi, menangani bencana Aceh dan Sumatera, mereka kembali seperti balita, yang gak mengerti, tidak tahu atau tidak bisa apa-apa.

Kita mudur sedikit melihat alur cerita bencana Aceh dan Sumatera yang terjadi pada tanggal 25 - 30 November 2025, bahkan sampai sekarang. Dimana Keputusan RI 1 menetapkan Kordinatornya Menko PMK. Tetiba dokumen R3P (rencana rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana) sudah siap, lalu saya bertanya tanya, mana dokumen JITUPASNAnya (kajian kebutuhan pasca bencana),” Kata pria berputra dua ini.

 Masih kata pria berputera dua ini, bahwa katanya menunggu Rendu BAPPENAS, sementara BAPPENAS sendiri menunggu Data dari BRIN sebagai Wali Data yang tidak dibuat sampai saat ini.

 Nah ini mulai aneh. Data aja belum terkumpul, apa lagi mau bicara validasi, woow, semakin sulit dipercaya. Kalau datanya masih muter-muter berarti JITUPASNA belum ada dong. Jika pun Jitupasnanya ada, basis penyusunan dokumennya pakek data apa ?. Lalu gimana akurasi dan istimasi  anggaran di dokumen R3P nya ?,” Katanya lagi.

 Ini semua belum terjawab, masih kata Yeka, muncul lagi berita tentang Ketua Satgas Penanganan Bencana diberikan ke MENDAGRI. Lho Permainan seperti apa lagi nih. Model dari planet mana nih yang dipakek sebagai rujukan manusia di planet Bumi Indonesia kita ini.

 Lalu nongol dan rame lagi, klu gak bisa dibilang viral  tentang sumur bor yang dikerjakan oleh TNI dangan anggaran 150 juta per sumur. Harusnya itu urusan kementerian PUPR atau ESDM, bukan proyeknya TNI. Kok bisa ya ?. ya bisa jalah atas nama kebijakan. 

 Diakhir postingannya, alumni Unisma ini bertanya, Kemana peran dan fungsi BNPB, dan apa Kompetensi PMK dan KEMENDAGRI dalam penanganan bencana ?.

Apa yang diposting Yeka banyak mengudang komentar. Salah satunya bilang, disenyumin saja Sam, senyum kecut. Ingat, mereka kalau ke daerah merasa paling hebat. Minta dilayani, dan minta dijemput. Bikin dokumen harus asistensi mereka. Tapi dalam menangani bencana carut marut, kenyataan bicara lain. Akhirnya ya kembali Rakjat Bantoe Rakjat (RBR), yang bergerak.

 “Sayangnya RBR ini dianggap jadi saingan dan musuh oleh sebagian mereka yang tidak paham tentang penanggulangan bencana namun punya kuasa dalam penyusunan kebijakan tentang penanggulangan bencana,” Katanya.

 Sungguh “keprihatinan” seorang Yeka Kusumajaya, kiranya perlu dijadikan bahan pembelajaran bagi kita yang pernah mengikuti pelatihan kebencanaan yang menjadi programnya BNPB dan BPBD. Baik itu manajemen bencana, PRBBK, SPAB, Destana dan sejenisnya yang ‘diperebutkan’ oleh banyak pihak. Agar penanggulangan bencana dapat berjalan sesuai pakemnya.

 Tidak seperti penanggulangan bencana Aceh dan Sumatra saat ini yang banyak menyimpang dari pakem, terlepas itu atas nama kebijakan untuk melindungi sekaligus menyelamatkan pihak tertentu.

 Jika keberadaan BPBD dan BNPB (termasuk forum dan relawan bentukannya) kalah pamor dengan komunitas relawan dari lembaga swasta dan para influencer dalam menangani warga terdampak, kiranya perlu dipertimbangkan usulan anggota dewan tentang perlunya membentuk Kementerian Bencana, dimana didalam strukturnya nanti ada dirjen banjir, dirjen longsor, dirjen erupsi, dirjen tsunami dan lainnya termasuk dirjen perencanaan, pengadaan dan pembiayaan bencana. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Sabtu-17012026]

 

 

 

Minggu, 04 Januari 2026

KOMUNITAS LAKUKAN PENGHIJAUAN DAN TANTANGANNYA

 Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap komunitas sosial kemanusiaan yang sering berkegiatan di alam bebas, sering melakukan kegiatan penanaman pohon di lereng gunung, bukit, dan hutan yang sering menjadi tempat kegiatan mereka, dalam rangka penghijauan kembali (reboisasi).

 Kata para aktivis lingkungan, bahwa menanam pohon adalah tindakan sederhana yang mampu memberikan dampak besar bagi lingkungan. Pohon berperan penting dalam menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, serta menjaga keseimbangan ekosistem, dan membantu mencegah terjadinya bencana alam.

 Kadang kegiatan ini juga dilakukan di daerah bantaran sungai dan pesisir pantai. Tentunya pohon yang akan ditanam disesuaikan dengan daerahnya, tidak asal tanam (kecuali untuk sekedar seremonial dari sebuah proyek tertentu demi sebuah pencitraan).

 Kegiatan ini biasanya dilakukan rame-rame sebagai sebuah gerakan bersama lintas komunitas, dan pohon yang akan ditanam pun biasanya beragam. Seperti Trembesi, Mahoni, Jati, Akasia, Sengon, Lamtoro, Cemara, Beringin, dan Angsana. Jenis pohon ini cepat tumbuh, akarnya kuat, rindang, menyerap polusi, dan tahan terhadap kondisi lingkungan.

 Namun juga ada kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh komunitas tertentu, yang dilakukan dalam acara ulang tahun komunitas. Biasanya pohon yang ditaman adalah tanaman buah yang pohonnya besar dan akarnya kuat. Diantaranya seperti pohon Sukun, Alpokat, Klengkeng, Durian, Mangga, Kedondong, Rambutan, Jamblang, Sirsak, Kersen, dan Nangka.

 Sedangkan pohon yang cocok ditaman di daerah pantai, diantaranya Kelapa, Ketapang, Mahoni, Beringin, Cemara Laut, Waru Laut, Pandan Laut, dan tentu saja berbagai jenis pohon Bakau.

 Sungguh, jika gerakan penanaman pohon yang melibatkan berbagai komunitas dengan mengajak serta masyarakat sekitar lokasi, akan memberi dampak yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Inilah bentuk nyata kepedulian komunitas dan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan alam.

 Masalahnya kemudian, apakah setelah dilakukan kegiatan penanaman, juga akan diikuti dengan kegiatan perawatan secara berkala untuk menjamin tanaman tumbuh dan berkembang sesuai harapan ?. Termasuk kesiapan masyarakat sekitar untuk membantu merawat dan mengawasinya. Inilah tantangan dari sebuah program penananam.

 Apalagi, saat ini penyalahgunaan lahan tak terbendung, terkesan adanya pembiaran karena alasan kepentingan tertentu, sehingga menyebabkan laju deforestasi yang begitu cepat, dan dampaknyapun sudah terasakan, seperti bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. 

 Jika demikian adanya, pertanyaannya kemudian adalah apakah aksi kecil yang dilakukan komunitas yang menggandeng masyarakat akan dapat menghasilkan perbaikan lingkungan alam, sebagai upaya mengembangkan keanekaragaman flora dan fauna, yang akan dinikmati oleh anak cucu generasi mendatang. Bukan sekedar dongeng pengantar tidur siang sambil telentang ?. Wallahu a’lam bishowab [eBas/Senin-05012026]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 01 Januari 2026

KALENDER BJC 2026 LIMITED EDITION

 Sebuah langkah cerdas diambil oleh pengurus Basecamp Juanda Coffee (BJC) untuk membuat kalender tahun 2026. Harganya relatif murah, cukup dua puluh lima ribu saja sudah mendapat kalender mbois yang menampilkan berbagai foto kegiatan BJC

 Menariknya lagi, seluruh penjualan kalender ini tidak dinikmati oleh pengurus, namun semua akan dimanfaatkan untuk mendukung program BJC tahun 2026, yang konon akan dibahas di dalam rapat awal tahun yang bershio kuda api.

 Tentunya, di dalam rapat nanti setiap anggota dapat memberikan catatan kegiatan tahun 2025, serta masukan dan gagasan program yang akan menjadi agenda tahun 2026. Misalnya, perlu ada agenda rapat rutin, pelatihan peningkatan kapasitas, memperluas jejaring kemitraan dengan pihak yang bergerak dibidang sosial kemanusiaan dan kebencanaan, mencari peluang kerjasama yang saling menguntungkan dan sebagainya.    

 Ya, Kalender yang sengaja dicetak “Limited Edition” ini merupakan gagasan spontan yang baru kali ini dapat direalisasikan. Tentunya diharapkan tahun depan dapat dicetak lebih banyak lagi agar semua anggota berkesempatan memiliki.

 Pak Miskan, sebagai sesepuh BJC mengatakan bahwa kehadiran kalender BJC yang mbois ini secara tidak langsung menjadi media promosi akan keberadaan BJC dengan segala kiprahnya.

 “Kalender ini layak dipajang di ruang tamu yang mudah dilihat orang. Jika tertarik pasti akan bertanya,” Katanya saat wedangan bareng di Warkop langganan, Rabu (31/12/2025) Sore.

 Apa yang disampaikan oleh pria paruh baya berkaca mata itu diamini oleh Masyudi, ketua BJC. Pria berambut gondrong ini juga berharap, dengan terbitnya kalender ini dapat memotivasi anggota lain untuk turut ambil peran dalam kegiatan BJC sehingga kehadirannya akan tampak di dalam foto kegiatan yang akan menghiasi kalender tahun depan.

 Hari ini, Kamis pon tanggal 01 januari 2026, kalender BJC resmi menjadi penanggalan yang berlaku selama satu tahun ke depan. Bangga rasanya menatapnya. Apalagi fotonya juga menggambarkan sebuah keguyuban dalam menjalankan program secara bersama sama sesuai jargon ojo leren dadi wong apik. [eBas/Kamis-01012026]

 

 

 

   

Rabu, 31 Desember 2025

INFLUENCER MENJADI RELAWAN

 Kalau tidak salah, baru kali ini terjadi bencana banjir bandang dan longsor melanda tiga provinsi secara bersamaan. Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, secara berjamaah diterjang banjir yang membawa material lumpur dan kayu gelondongan hasil penebangan. Bahkan ada yang bilang banjir ini akibat dari pembukaan hutan untuk pertambangan dan “sawitisasi” yang ugal-ugalan dalam memperkosa lingkungan alam demi cuan.

 Ya, tanggal 26 November 2025, awal petaka yang langsung memakan korban jiwa di hari pertama ini sangat mengerikan. Namun juga sangat disayangkan karena banyak pejabat mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Terkesan asal bunyi tanpa rasa empati. Sungguh sulit dimengerti, seakan ada yang wajib ditutupi.

 Netizen pun melalui media sosial langsung “merujak” para pejabat yang komentarnya tidak seperti orang pintar dan berpangkat, sambil memposting video tentang derita korban bencana dan kerusakan yang mencekam, tanpa editan.

 Yeka Kusumajaya, salah satu netizen dari Kota Malang, yang paham tentang manajemen bencana, dalam komentarnya di Facebook bilang bahwa,  baru di rezim pemerintahan ini saya merasa terhibur setiap baca berita, dimana statement pejabatnya lucu-lucu kayak pelawak semua. Akhirnya saya sadar dan cukup terhibur, seperti D'Javu jamannya Srimulat…

 Selain berbagai hujatan dari netizen dalam dan luar negeri, akan lambatnya penanganan bencana oleh negara, serta kesombongan negara menolak bantuan asing,  tampak influencer, yaitu orang yang punya pengaruh besar di media sosial (seperti Instagram, TikTok, YouTube) karena punya banyak pengikut, dan dapat memengaruhi keputusan atau perilaku pengikutnya, aktif melibatkan diri dalam upaya membantu korban bencana.

 Sungguh baru kali ini mereka yang tidak pernah mengikuti pelatihan tentang kebencanaan seperti yang sering diikuti oleh relawan, turun langsung sebagai relawan kemanusiaan. Baik beraksi sendiri dengan kelompoknya, atau pun bergabung dengan lembaga kemanusiaan yang sudah beraksi di lokasi.

 Mereka, dengan kemampuannya berhasil menggalang dana yang besar dari berbagai pihak untuk disumbangkan kepada korban bencana untuk memenuhi kebutuhannya, yang belum didapat dari pemerintah karena berbagai kendala di lapangan (dan kebijakan).

 Mereka juga berkolaborasi dengan berbagai relawan, berhasil menembus daerah yang terisolasi karena rusaknya jalan dan jembatan yang diterjang ratusan kayu gelondongan berukuran besar. bergotong royong membersihkan lingkungan, mengadaan air bersih, mendirikan dapur umum sekaligus mendidtribusikannya, serta kegiatan lain yang dikerjakan secara keroyokan antar pihak.

 Sungguh, apa yang dilakukan oleh “relawan dadakan” ini, sangat membantu dan meringankan beban pemerintah dalam hal memenuhi kebutuhan para penyintas. Seperti sembako, makanan siap saji, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya yang sangat diperlukan. Bahkan ada yang menyumbang genset, starlink dan panel surya.

 Sayangnya keberhasilan mereka menggalang donasi malah ditanggapi “kurang asik” oleh pejabatnya. Seperti bantuan sudah tidak utuh lagi karena dirusak dan diambil oleh oknum nakal. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pengumpulan donasi harus ijin dan membuat laporan.

 Harusnya inisiatif masyarakat menolong sesamanya itu dibantu dan difasilitasi terkait dengan transportasinya. Bukan malah dijadikan peluang oleh oknum nakal untuk dijarah dan disunat dalam rangka memenuhi kepentingan pribadinya. Sungguh tidak tahu malu.

 Terimakasih kepada para influencer yang telah berkenan membantu pemerintah memenuhi kebutuhan para penyintas. Sungguh, keberanianmu membantu sekaligus menyuarakan situasi dan kondisi di lokasi bencana seperti yang dilakukan para jurnalis sangatlah membantu penyebaran informasi, yang dapat menginspirasi lahirnya rasa peduli untuk beraksi membantu penyintas yang hidupnya setengah mati.

 Kata netizen, mereka adalah sekumpulan orang baik, yang didatangkan oleh Tuhan, di tempat bencana. Mereka bukan malaikat, juga bukan Nabi. Tapi mereka adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan.

 Teruslah berbuat baik walaupun mulai ada bermacam intimidasi. Selamat tahun baru 2026, semoga para influencer yang menjadi relawan tetap semangat, sehat dan sukses dalam menjalankan kerja-kerja kemanusiaan. Wallahu a’lam Bishowab. [eBas/Kamis-01012026]

Selasa, 16 Desember 2025

SEANDAINYA TANPA KEHADIRAN RELAWAN

 Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatara Utara, dan Sumataera Barat di akhir tahun 2025 ini sungguh dahsyat. Lebih dari seribu nyawa melayang, dan harta benda pun melayang.

 Hal ini tentulah menyebabkan derita masyarakat terdampak akan berkepanjangan, mengingat parahnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk pemulihannya.

 Tentu, untuk menangani bencana yang serentak melanda tiga provinsi ini, diperlukan gerak cepat dari pemerintah untuk mengevakuasi korban. Diperlukan personil yang mumpuni dan dana yang tidak sedikit, serta sarana prasarana pendukung yang sesuai.

 Masyarakat pun serentak turun mengulurkan bantuan. Mereka yang terdiri dari organisasi kemanusiaan, lembaga swadaya masyarakat, komunitas relawan dan perorangan membantu sesuai kemampuannya, agar korban tidak bertambah.

 Dengan caranya sendiri, masyarakat mengumpulkan berbagai bantuan untuk dikirimkan ke lokasi bencana sebagai upaya meringankan derita para penyintas. Sungguh donasi yag berhasil dikumpulkan itu tidak dapat disepelekan. Sangat banyak dan beragam untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak yang kondisinya mengenaskan. Merka juga sibuk membuka dapur umum yang sangat diperlukan oleh masyarakat, petugas dan relawan agar tetap sehat dan bersemangat.

 Sayangnya, masih ada oknum yang nakal, berusaha mengambil bantuan kemanusiaan dari masyarakat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tentu saja hal seperti ini dapat mengendorkan semangat relawan dalam memberikan pertolongan dan bantuan kepada korban bencana.

 Untungnya, para relawan yang terjun di lokasi bencana itu semangatnya tidak pernah kendor, dan punya nyali besar membantu sesamanya. Khususnya di daerah yang masih terisolasi, belum terjangkau banyak bantuan. Terbukti, dengan caranya sendiri mereka mulai berhasil. Makanya jangan disepelekan keberadaan relawan yang ikhlas menolong.

 Sungguh, seandainya semua relawan kemanusiaan kompak mengundurkan diri sejenak untuk tidak membantu di lokasi bencana, dapat dipastikan pemerintah akan kelimpungan termehek mehek kewalahan mengatasi banyaknya korban bencana, kewalahan melakukan evakuasi dan drooping logistik. Bahkan tidak menutup kemungkinan jumlah korban MD akan bertambah banyak.

 Untuk itulah perlunya pemerintah (dalam hal ini BPBD setempat) melakukan koordinasi dan komunikasi kepada komunitas relawan melalui kegiatan peningkatan kapasitas dibidang kebencanaan, sehingga akan memudahkan mobilisasi ketika terjadi bencana. Termasuk dalam hal informasi awal terjadinya bencana.

 Apalagi, seperti diketahui, BNPB punya banyak teman relawan di daerah, seperti diantaranya, Forum PRB, baik tingkat provinsi, dan Kabupaten/Kota, bahkan sampai tingkat Kecamatan dan Kelurahan. Juga ada Agen Bencana, Fasilitator Kebencanaan, dan Tim Reaksi Cepat.

 Merekalah yang seharusnya dijadikan rujukan pertama oleh BPBD dan BNPB terkait dengan informasi terjadinya bencana di daerah, seperti yang sering dijadikan bahasan dalam berbagai pelatihan, dan rapat kebencanaan sebagai salah satu upaya membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Jika keberadaan mereka ini tidak “dilibatkan”, maka dapat berakibat terjadinya bias informasi.  

 Ini penting dilakukan untuk menghindari kesalahan informasi yang memalukan dan berujung minta maaf. Sungguh, tampaknya baru kali ini BNPB “dihujat” banyak pihak karena “kebijakannya” yang kurang pas dengan berbagai dokumen kebencanaan dan aneka Perka BNPB yang disusun dengan anggaran yang tidak sedikit.

 Katanya bencana itu urusan bersama, maka peran serta relawan dan masyarakat hendaknya diapreasiasi dan difasilitasi oleh pemerintah. Bukan dimanfaatkan untuk membangun citra diri seperti yang banyak dilakukan oleh oknum. (seperti yang sering terlihat di media sosial). wallahu a’lam bishowab. [ebas/Rabu-17122025]  

 

 

 

 

Minggu, 09 November 2025

INISIATIF PAK YOGI

 “Monggo, jika tidak sibuk, hadir di BPBD Provinsi Jawa Timur, hari minggu (09/11/2025) saya mengadakan pelatihan pengenalan peralatan water rescue, yang diikuti 30 relawan dari berbagai komunitas,” Kata Pak Yogi melalui Whatsaap.

 Sebuah ajakan yang menarik. Mengingat saya sudah lama tidak dolan ke BPBD Jatim karena harus tahu diri untuk undur diri, dari pada diundurkan secara diam-diam. Namun terpaksa ajakan Pak Yogi saya tolak karena pada waktu yang sama ada kegiatan yang harus saya ikuti.

 Kegiatan yang diinisiasi oleh Pak Yogi, koordinator Posko Bersama Relawan Surabaya itu diselenggarakan di  lokasi Tenpina (tenda pendidikan bencana), yaitu sebuah ruang edukasi yang menyediakan berbagai peraga kebencanaan seperti, layar interaktif, diorama, simulator Early Warning System (EWS), serta poster-poster informasi kebencanaan.

 Kegiataan ini dipandu oleh fasilitator yang mumpuni di bidangnya. Mereka adalah, Sukatno (OBI), Zaenal dan Prasetyo. Keduanya dari TRC BPBD jatim. Adapun pesertanya sejumlah 30 relawan dari berbagai komunitas.

 “Adapun target yang ingin dicapai adalah agar relawan punya kemampuan dan keahlian di bidang water rescue, agar tidak menjadi relawan pasif,” Kata pria berkulit hitam manis dan murah senyum.

 Dikatakan pula bahwa kegiatan ini juga diikuti oleh komunitas yang tergolong baru, diantaranya Komunitas Sungai Watch, Gempa adventure, R-BES, Magana unusa, Camp Sehat Ponorogo, Gesit, dan Cv Trubus.

 Tentu kehadiran komunitas baru ini sangat menggembirakan. Pertanda telah muncul komunitas baru yang peduli terhadap masalah bencana, yang semakin hari semakin sering terjadi dengan segala dampaknya. Untuk itulah kehadiran mereka perlu diberi semangat agar tidak muntaber (mundur tanpa berita).

 Tentu, semua ini berkat inisiatif Pak Yogi yang mengadakan pelatihan dengan dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur. Harapannya, kedepan Pak Yogi dapat merangkul berbagai komunitas untuk membuat agenda berkala sebagai media temu muka saling silaturahmi lintas komunitas untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas di bidang kebencanaan.

 Untuk kesempatan pertama ini, yang dibahas adalah tentang pengenalan Perahu Karet LCR beserta kelengkapan pendukungnya, seperti helm, Live jaket, Dayung, dan Mopelnya.

 “Untuk awal kegiatan, materi yang diberikan berupa pengenalan alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan water rescue beserta fungsi dan cara penggunaannya. Nanti, tanggal 30 November 2025 diadakan uji praktek untuk setiap peserta. Sedangkan Praktek basah direncanakan pada bulan Desember 2025,” Katanya.

 Apa yang dilakukan oleh Pak Yogi ini merupakan bentuk nyata dari peran aktif masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana, dan menyiapkan tenaga terlatih yang siap membantu pemerintah dalam pencarian dan pertolongan korban bencana. Mungkin akan lebih indah jika inisiatif Pak Yogi ini dapat dikolaborasikan dengan programnya BPBD. Tetap Semangat Pak, Doa kami di nadimu. [eBas]