Kalau tidak salah, baru kali ini terjadi bencana banjir bandang dan longsor melanda tiga provinsi secara bersamaan. Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, secara berjamaah diterjang banjir yang membawa material lumpur dan kayu gelondongan hasil penebangan. Bahkan ada yang bilang banjir ini akibat dari pembukaan hutan untuk pertambangan dan “sawitisasi” yang ugal-ugalan dalam memperkosa lingkungan alam demi cuan.
Ya, tanggal 26 November 2025, awal petaka yang langsung memakan korban jiwa di hari pertama ini sangat mengerikan. Namun juga sangat disayangkan karena banyak pejabat mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Terkesan asal bunyi tanpa rasa empati. Sungguh sulit dimengerti, seakan ada yang wajib ditutupi.
Netizen pun melalui media sosial langsung “merujak” para pejabat yang komentarnya tidak seperti orang pintar dan berpangkat, sambil memposting video tentang derita korban bencana dan kerusakan yang mencekam, tanpa editan.
Yeka Kusumajaya, salah satu netizen dari Kota Malang, yang paham tentang manajemen bencana, dalam komentarnya di Facebook bilang bahwa, baru di rezim pemerintahan ini saya merasa terhibur setiap baca berita, dimana statement pejabatnya lucu-lucu kayak pelawak semua. Akhirnya saya sadar dan cukup terhibur, seperti D'Javu jamannya Srimulat…
Selain berbagai hujatan dari netizen dalam dan luar negeri, akan lambatnya penanganan bencana oleh negara, serta kesombongan negara menolak bantuan asing, tampak influencer, yaitu orang yang punya pengaruh besar di media sosial (seperti Instagram, TikTok, YouTube) karena punya banyak pengikut, dan dapat memengaruhi keputusan atau perilaku pengikutnya, aktif melibatkan diri dalam upaya membantu korban bencana.
Sungguh baru kali ini mereka yang tidak pernah mengikuti pelatihan tentang kebencanaan seperti yang sering diikuti oleh relawan, turun langsung sebagai relawan kemanusiaan. Baik beraksi sendiri dengan kelompoknya, atau pun bergabung dengan lembaga kemanusiaan yang sudah beraksi di lokasi.
Mereka, dengan kemampuannya berhasil menggalang dana yang besar dari berbagai pihak untuk disumbangkan kepada korban bencana untuk memenuhi kebutuhannya, yang belum didapat dari pemerintah karena berbagai kendala di lapangan (dan kebijakan).
Mereka juga berkolaborasi dengan berbagai relawan, berhasil menembus daerah yang terisolasi karena rusaknya jalan dan jembatan yang diterjang ratusan kayu gelondongan berukuran besar. bergotong royong membersihkan lingkungan, mengadaan air bersih, mendirikan dapur umum sekaligus mendidtribusikannya, serta kegiatan lain yang dikerjakan secara keroyokan antar pihak.
Sungguh, apa yang dilakukan oleh “relawan dadakan” ini, sangat membantu dan meringankan beban pemerintah dalam hal memenuhi kebutuhan para penyintas. Seperti sembako, makanan siap saji, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya yang sangat diperlukan. Bahkan ada yang menyumbang genset, starlink dan panel surya.
Sayangnya keberhasilan mereka menggalang donasi malah ditanggapi “kurang asik” oleh pejabatnya. Seperti bantuan sudah tidak utuh lagi karena dirusak dan diambil oleh oknum nakal. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pengumpulan donasi harus ijin dan membuat laporan.
Harusnya inisiatif masyarakat menolong sesamanya itu dibantu dan difasilitasi terkait dengan transportasinya. Bukan malah dijadikan peluang oleh oknum nakal untuk dijarah dan disunat dalam rangka memenuhi kepentingan pribadinya. Sungguh tidak tahu malu.
Terimakasih kepada para influencer yang telah berkenan membantu pemerintah memenuhi kebutuhan para penyintas. Sungguh, keberanianmu membantu sekaligus menyuarakan situasi dan kondisi di lokasi bencana seperti yang dilakukan para jurnalis sangatlah membantu penyebaran informasi, yang dapat menginspirasi lahirnya rasa peduli untuk beraksi membantu penyintas yang hidupnya setengah mati.
Kata netizen, mereka adalah sekumpulan orang baik, yang didatangkan oleh Tuhan, di tempat bencana. Mereka bukan malaikat, juga bukan Nabi. Tapi mereka adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan.
Teruslah berbuat baik walaupun mulai ada bermacam intimidasi. Selamat tahun baru 2026, semoga para influencer yang menjadi relawan tetap semangat, sehat dan sukses dalam menjalankan kerja-kerja kemanusiaan. Wallahu a’lam Bishowab. [eBas/Kamis-01012026]

