Hari minggu, 15 Februari 2026, Mukidi mengikuti kegiatan Aksi Clean Up Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026, yang di selenggarakan oleh word cleanup day (WCD) Jawa Timur, bertempat di Taman Bungkul Surabaya, berbarengan dengan acara Car Free Day sehingga warga Kota Surabaya tahu dan diajak berkolaborasi untuk Indonesia Bersih
Di dalam undangan, ada ajakan yang berbunyi, “Halo Sobat WCD Jatim !, Yuk jadi bagian dari perubahan dengan mengikuti kegiatan Plogging spesial Hari Peduli Sampah Nasional 2026. Mari luangkan satu hari untuk dunia dengan langkah kecil menuju Jawa Timur bersih bebas sampah,”.
Sebuah ajakan untuk menyadari bahwa sampah merupakan masalah yang harus dicarikan solusi bersama agar tidak berserakan kemana-mana yang dapat mengganggu kebersihan, kenyamanan, dan kesehatan warga Surabaya. Bahkan tidak jarang akibat sampah yang dibuang sembarangan dapat melahirkan bencana banjir yang sangat merugikan.
Dengan penuh semangat Mukidi berangkat ke Taman Bungkul memenuhi ajakan WCD Jatim, sekalian bertemu dengan kawan-kawan relawan sosial kemanusiaan dari berbagai komunitas untuk saling bersilaturahmi bertukar informasi.
Waktu masih pagi, panitia dan peserta baru datang beberapa, termasuk Ratrimo, sahabat Mukidi yang datang dengan mengenakan kaos komunitasnya yang warnanya menyala. Begitu juga tumblernya.
“Selamat pagi Cak Di, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarnya dan apa kegiatannya sekarang ?,” Kata Ratrimo saat berjumpa di parkiran dekat warkop, depan Rumah Sakit.
“Alhamdulillah sehat. Dengan-dengar sampiyan ikut ke lokasi bencana Sumatra ya ?. gimana kondisinya sekarang, apakah semua sudah baik-baik saja seperti yang diucapkan beberapa pejabat di media sosial ?,” Kata Mukidi sedikit kaget melihat sahabatnya yang semakin sukses.
“Hehe, sebagai relawan sebenarnya pengen ke sana untuk membantu BNPB dan BPBD di fase tanggap darurat. Tapi tidak ada yang mengajak ke sana. Sementara biaya transportasinya mahal dan tidak mungkin terjangkau oleh relawan seperti saya ini,” Kata Ratrimo pelan.
Saking senangnya ketemu sabahat lama, Mukidi mengajak ngopi di warkop. Dia lebih memilih ngobrol dengan Ratrimo daripada ikut agenda WCD Jatim.
Menurut Mukidi, Ratrimo ini merupakan relawan yang memiliki kapasitas yang lumayan dibidang kebencanaan. Dia sudah sering ikut berbagai pelatihan yang diselenggarakan BNPB, BPBD dan pihak lain. Mulai dari manajemen bencana, Manajemen dapur umum, Pelatihan keposkoan, Pelatihan fasilitator destana, spab dan lainnya.
Setahu Mukidi, Ratrimo itu sering mengikuti kegiatan sarasehan, rapat koordinasi, jambore tentang kebencanaan di berbagai tempat yang diselenggarakan oleh berbagai pihak. Bahkan pernah juga menjadi fasilitator pelatihan serta nara sumber podcast dan seminar pengurangan risiko bencana.
“Seharusnya, dengan kapasitas yang mumpuni itu, BNPB dan BPBD memfasilitasi sampiyan ke lokasi untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalaman dalam rangka membantu upaya penanggulangan bencana di sana. Apalagi sampiyan juga memiliki sertifikat dari LSP-PB yang diakui BNSP,” Katanya sambil nyruput kopi hitam pait panas sebagai upaya mengurangi gula.
Ratrimo hanya meringis getir. Dia bilang bahwa relawan yang ingin ke lokasi itu haruslah memiliki uang sendiri atau dapat sponsor dari ‘instansi’ yang memiliki anggaran untuk membiayai relawan. Dia juga bilang bahwa di lokasi, semua relawan dibawah bendera lembaga kemanusiaan dan para influenser yang tidak pernah ikut pelatihan kerelawanan namun punya banyak anggaran untuk membantu korban.
“Perlu sampiyan ketahui bahwa sekarang negara sedang melakukan efisiensi anggaran. Sehingga relawan harus berusaha sendiri mencari dana untuk melampiaskan nafsunya membantu para penyintas agar tidak tewas karena pemerintah kewalahan menanggulangi bencana Sumatra yang sangat berbeda penanganannya dengan bencana di daerah lain, dan perlu diketahui bahwa sertifikat dari LSP-PB yang saya miliki itu tidak ada artinya sama sekali,” Kata Ratrimo.
Saking asiknya ngobrol bareng, tak terasa kumandang adzan dhuhur terdengar dari Mushola yang ada di lingkungan makam Mbah Bungkul. Mereka berdua segera menuju Mushola untuk sholat dhuhur berjamaah. Termasuk peserta bersih-bersih sampah yang digagas WCD Jatim.
Setelah sholat mereka berpisah, terucap janji untuk bertemu kembali. Mukidi tersipu malu ketika bertemu dengan peserta giat peduli sampah karena nawaitunya berubah, berganti ngobrol bersama Ratrimo, sahabatnya yang pernah bersama ikut pelatihan penyusunan dokumen renkon untuk bencana erupsi gunung api beberapa tahun silam tanpa ada tindak lanjutnya. [eBas/Minggu-15022026]


ternyata, jika relawan ingin ke lokasi bencana harus punya bekal yang cukup
BalasHapussebaiknya relawan itu harus bergabung dengan organisasi yang punya dana operasional seperti lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial kemanusiaan swasta yang dapat membiayai relawan untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan membantu bnpb/bpbd dalam penanggulangan bencana.
kapasitas yg dimiliki relawan termasuk kepemilikan sertifikat profesi yg diterbitkan pleh lsp-pb itu ternyata tidak berguna ketika relawan tidak punya uang untuk ikut upaya penanggulangan bencana.
begitulah nyatanya