Selama dua hari, senin dan selasa, tanggal 24 - 25 Juni 2024, BPBD Kota Surabaya menjalankan programnya dengan mengadakan Pembinaan Potensi Relawan (PPR) yang ada di Kota Surabaya. Kali ini yang diundang sebagai peserta adalah 25 komunitas relawan. Masing-masing komunitas diwakili oleh 2 personil.
Berbahagialah komunitas yang terpilih dan dipilih untuk mengikuti acara PPR yang digelar secara berkala. Namun sayang, masih ada yang enggan mengirimkan personilnya dengan beragam alasan. Diantaranya adalah sibuk bekerja karena diadakan pada jam kerja. Alasan lainnya adalah banyak anggotanya yang tidak ber-KTP Surabaya.
Untuk mengatasinya, dicarilah komunitas (tanpa melihat kualitas), yang bersedia ikut kegiatan agar kuotanya terpenuhi. Inilah mungkin yang dinamakan sebuah dilema. Diundang gak datang, gak diundang meradang.
Pertanyaan yang sering terlontar adalah, mengapa pesertanya harus ber-KTP Surabaya, dan mengapa diadakan pada jam kerja. Pahamilah, semua ini adalah kebijakan yang didasarkan pada regulasi yang ada, agar tidak menyalahi aturan, yang dapat berujung di meja hijau.
Materi yang disajikan dalam PPR kemarin sangat menarik karena langsung bersentuhan dengan kegiatan relawan. Baik pada saat pra bencana, tanggap darurat, maupun pasca bencana. Pematerinya pun adalah pejabat dari BPBD Provinsi Jawa Timur yang memang ahli di bidangnya. Sehingga penyajiannya sangat menarik.
Dari semua materi, menurut penulis, ada yang perlu dicatat dan diingat. Yaitu tentang keberadaan Desk Relawan yang rencananya akan berada di dekat tenda Posko induk untuk memudahkan koordinasi dan mengurangi miskomunikasi diantara para pihak.
Dikatakan pula bahwa Desk Relawan itu nantinya, ketika sudah diaktivasi akan langsung terkoneksi dengan Posko induk, BPBD dan BNPB. Untuk itulah semua relawan yang turun ke lokasi bencana harus membawa surat tugas yang diserahkan ke Desk Relawan atau langsung ke Posko induk yang nantinya akan disalurkan ke masing-masing klaster seseuai kapasitasnya.
memang semua masih berproses, termasuk pendataan relawan melalui e-volunteer. Sehingga pelaksanaan di lapangan juga belum banyak dikenal oleh banyak pihak. Termasuk para pejabat setempat saat menangani fase tanggap darurat.
Di sisi lain, masih banyak relawan yang ke lokasi bencana tidak membawa surat tugas dan tidak melaporkan kehadirannya di Posko induk dengan berbagai alasan.
Bahkan celakanya, kadang di Posko induk sendiri juga dibiarkan kosong tidak ada personil jika pun ada seringkali mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan ketika relawan datang menyerahkan surat tugas.
Dalam diskusi yang hangat, muncul pula istilah bahwa banyak komunitas yang masih suka “gede-gedean bendera” untuk ditancapkan sendiri di lokasi bencana, jalan sendiri tanpa koordinasi, langsung beraksi di lokasi secara mandiri tanpa mau berkolaborasi dengan pihak lain.
Juga muncul pertanyaan tentang hubungan TRC yang dibentuk BPBD dengan keberadaan relawan. Baik itu pada saat pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana. Begitu juga bentuk sinergitas antara elemen pentahelix yang selama ini belum begitu tampak mesra, dikarenakan masih adanya ego sektoral.
Situasi inilah yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Heru Bowo, pemateri yang akrab dengan peserta, mengatakan bahwa perlu ada acara ngopi bareng antar pihak untuk berkomunikasi dan berkoordinasi. Sehingga semuanya akan semakin paham akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana dengan membangun ketangguhan (budaya tangguh).
“Wis ta rek sesekali dolano nang Kantorku, ndek kono wis onok ruangan gawe relawan ngobrol, tapi ojok rokok’an, soale ruangan ber AC. Lekne arep rokok’an yo nang kantin wae,” Selorohnya diakhir penyampaian materinya.
Acara PPR diakhiri dengan foto bersama. Heru Bowo tanpa canggung memimpin meneriakkan salam tangguh untuk di videokan. Beliau juga berkenan bersalam salaman dan melayani foto bersama masing-masing komunitas.
Sebelum meninggalkan arena, banyak peserta yang langsung mengeksekusi nasi kebuli yang diberikan oleh panitia. [eBas/RabuWage-26062024]

tetap semangat
BalasHapusKenyataannya memang banyak relawan yg hanya aktif jika diundang berkegiatan. Tapi gak aktif jika diajak rapat.
BalasHapus