Rabu, 18 September 2024

PERINGATAN BULAN PRB HANYA UNTUK ELIT BUKAN UNTUK KELASNYA MUKIDI.

 Sejak digaungkan rencana peringatan bulan pengurangan risiko bencana (PRB) di Provinsi yang dijuluki Serambi Mekah, Mukidi sudah pesimis tidak dapat hadir di lokasi, disebabkan tidak punya dana untuk transportasi dan akomodasi. Sebenarnya Mukidi pingin nebeng pesawat pribadi kayak tetangganya, tapi jelas tidak mungkin karena pesawatnya ke Amerika, bukan ke Aceh.

 Menyadari ketidak berdayaannya, Mukidi yang selalu ingin menambah wawasan, berusaha mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan acara di Aceh. Yaitu kegiatan webinar dalam rangka KN-PRBBK ke 16 yang diselenggarakan oleh berbagai pihak, sejak bulan juli 2024 secara daring (online) di beberapa region. Termasuk region jawa.

 Dari mengikuti beberapa webinar, Mukidi semakin bertambah koleksi materi webinar dan tentu saja piagam (biasanya panitia menyediakan dalam bentuk E-Sertifikat). Namun Mukidi tetap tidak paham tentang segala materi yang dijadikan tema webinar dengan mengundang para pakar.

 Ya, dimaklumi sajalah, Mukidi kan ‘Wong nDeso’ tidak berani melakukan pendekatan untuk mendapat kesempatan seperti mereka yang pandai menjilat yang berbuah jabatan dan kesempatan.

 Ya, itulah bodonya Mukidi yang tidak dapat beradaptasi di jaman uang penuh basa basi. Jaman yang konon orang salah dianggap benar dan yang benar wajib digampar. Benar dan salah apa kata suara terbanyak. Sikap Like and dislike pun didasarkan kedekatan relasi dan emosi, bukan nurani.

 Mengawali pagi, sambil minum kopi di warkop langganan, Mukidi membuka Whatsapp. Membaca satu satu postingan dari teman-temannya. Salah satunya adalah yang di forwarded mBah Darmo di grup FPRB Jatim Kuat 1, dimana anggotanya sejumlah 331 orang dari berbagai komunitas, namun hanya sebagian kecil yang aktif memposting dan berkomentar.

 Adapun yang di forwarded mBah Darmo adalah undangan untuk menghadiri peringatan bulan PRB tanggal 8 - 10 Oktober 2024 di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Kota Banda Aceh, dalam rangka mempromosikan budaya PRB.

 Dalam undangan itu disebutkan juga bahwa pembiayaan perjalanan dinas bulan PRB menggunakan anggaran masing-masing instansi dan untuk peserta dari BPBD se indonesia, agar mendaftar melalui microsite  melalui link, https://bit.ly/BulanPRBAceh2024, atau pindai Barcode.

 Sambil menggigit pelan rondo royal kesukaannya, Mukidi bergumam, jelas yang dapat memenuhi undangan itu hanyalah mereka yang punya anggaran. Memang perhelatan itu hanya untuk konsumsi mereka, untuk para elit bukan untuk kelasnya Mukidi yang sama sekali tidak diperhitungkan.

 Namun panitia masih berbaik hati, untuk memfasilitasi kaum rentan seperti Mukidi, disediakan media online. Diantaranya seperti webinar, zoom meeting, Instagram, dan youtube. Ya melalui media inilah orang sekelas Mukidi mendapat pencerahan terhadap isu-isu baru tentang kebencanaan. Termasuk diksi akan datangnya gempa megathrust yang tinggal menunggu waktu.

 Walaupun tidak mungkin, Mukidi masih berharap keajaiban dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, agar dapat nebeng pesawat ke Banda Aceh untuk menikmati indah dan rancaknya tari saman dan Kuburan Massal Korban Tsunami.

 Namun Mukidi tahu diri bahwa Tuhan tidak merestui. Untuk itulah dia hanya berharap agar pelaksanaan peringatan bulan PRB tahun 2024 di Aceh ini dapat diselenggarakan dengan baik dan benar sesuai anggaran yang dikucurkan pemerintah.

 Janganlah sampai terjadi ‘masalah konsumsi’ seperti dalam penyelenggaraan PON XXI di Aceh dan Sumatera Utara. Dengan dalih apapun itu sungguh memalukan. Bukti panitia kurang siap dan tidak tanggap bencana (kelaparan dan kekecewaan), yang tentu saja akan menjadi kenangan menyebalkan bagi atlit yang menjadi korban. [eBas/KamisWage-19092024]

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar