Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap komunitas sosial kemanusiaan yang sering berkegiatan di alam bebas, sering melakukan kegiatan penanaman pohon di lereng gunung, bukit, dan hutan yang sering menjadi tempat kegiatan mereka, dalam rangka penghijauan kembali (reboisasi).
Kata para aktivis lingkungan, bahwa menanam pohon adalah tindakan sederhana yang mampu memberikan dampak besar bagi lingkungan. Pohon berperan penting dalam menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, serta menjaga keseimbangan ekosistem, dan membantu mencegah terjadinya bencana alam.
Kadang kegiatan ini juga dilakukan di daerah bantaran sungai dan pesisir pantai. Tentunya pohon yang akan ditanam disesuaikan dengan daerahnya, tidak asal tanam (kecuali untuk sekedar seremonial dari sebuah proyek tertentu demi sebuah pencitraan).
Kegiatan ini biasanya dilakukan rame-rame sebagai sebuah gerakan bersama lintas komunitas, dan pohon yang akan ditanam pun biasanya beragam. Seperti Trembesi, Mahoni, Jati, Akasia, Sengon, Lamtoro, Cemara, Beringin, dan Angsana. Jenis pohon ini cepat tumbuh, akarnya kuat, rindang, menyerap polusi, dan tahan terhadap kondisi lingkungan.
Namun juga ada kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh komunitas tertentu, yang dilakukan dalam acara ulang tahun komunitas. Biasanya pohon yang ditaman adalah tanaman buah yang pohonnya besar dan akarnya kuat. Diantaranya seperti pohon Sukun, Alpokat, Klengkeng, Durian, Mangga, Kedondong, Rambutan, Jamblang, Sirsak, Kersen, dan Nangka.
Sedangkan pohon yang cocok ditaman di daerah pantai, diantaranya Kelapa, Ketapang, Mahoni, Beringin, Cemara Laut, Waru Laut, Pandan Laut, dan tentu saja berbagai jenis pohon Bakau.
Sungguh, jika gerakan penanaman pohon yang melibatkan berbagai komunitas dengan mengajak serta masyarakat sekitar lokasi, akan memberi dampak yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Inilah bentuk nyata kepedulian komunitas dan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan alam.
Masalahnya kemudian, apakah setelah dilakukan kegiatan penanaman, juga akan diikuti dengan kegiatan perawatan secara berkala untuk menjamin tanaman tumbuh dan berkembang sesuai harapan ?. Termasuk kesiapan masyarakat sekitar untuk membantu merawat dan mengawasinya. Inilah tantangan dari sebuah program penananam.
Apalagi, saat ini penyalahgunaan lahan tak terbendung, terkesan adanya pembiaran karena alasan kepentingan tertentu, sehingga menyebabkan laju deforestasi yang begitu cepat, dan dampaknyapun sudah terasakan, seperti bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Jika demikian adanya, pertanyaannya kemudian adalah apakah aksi kecil yang dilakukan komunitas yang menggandeng masyarakat akan dapat menghasilkan perbaikan lingkungan alam, sebagai upaya mengembangkan keanekaragaman flora dan fauna, yang akan dinikmati oleh anak cucu generasi mendatang. Bukan sekedar dongeng pengantar tidur siang sambil telentang ?. Wallahu a’lam bishowab [eBas/Senin-05012026]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar