Jumat, 24 Mei 2024

RELAWAN KOTA SURABAYA SELALU SIAGA MENJAGA KOTANYA

 Seperti biasanya, Mukidi bersama karibnya, Ratrimo, cangkruk’an di warkop langganan, menghabiskan malam menunggu datangnya mata terpejam. Sambil nyakot rondo royal kesukaannya, Mukidi bilang bahwa relawan Kota Surabaya itu hebat. Mereka tergabung dalam Command Center (CC)-112.

 “Relawan yang tergabung dalam CC-112 itu datang dari berbagai komunitas dengan kemampuan dan keterampilan yang beragam, khususnya dalam hal kedaruratan menangani kecelakaan,” Katanya.

 Sungguh, keberadaan Relawan CC-112 sangat terlatih. Mereka adalah relawan pilihan dengan kemampuan yang dapat diandalkan. Berbagai pihak telah mendapat manfaat dari kehadirannya.

 Mereka bekerja selama dua puluh empat jam, yang terbagi dalam beberapa shift. Mereka juga bertugas di beberapa tempat untuk memudahkan pergerakannya mengamankan setiap sudut Kota demi terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat Surabaya.

 Dalam pergerakannya, mereka didukung oleh Dinas terkait, dan juga dibantu oleh berbagai komunitas relawan yang peduli kondisi Kota Surabaya untuk saling berbagi informasi, melaporkan tentang kecelakaan lalui lintas, korban tenggelam di sungai, kebakaran, banjir dan kriminalitas, serta permasalahan warga lainnya yang perlu penanganan cepat.

 “Lha kalau sudah begitu, kira-kira apa peran komunitas relawan yang tidak tergabung dalam relawan CC-112 ?,” Tanya Ratrimo sambil nyruput kopi hitam panas pahit.

 Sungguh, tidak semua komunitas relawan dapat bekerja seperti anggota CC-112 yang sudah sangat terlatih dan memahami tupoksinya. Sehingga, jika terjadi kecelakaan bahkan bencana di wilayah Surabaya, cukup ditangani CC-12, semua beres.

 Mukidi, agak kesulitan menjawab pertanyaan Ratrimo. Karena kenyataannya memang begitu. Tugas dan fungsi mereka benar-benar menangani kedaruratan yang menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Hanya yang terlatih saja sanggup mengerjakannya.

 "Sungguh, kerja anggota CC-12 sangat melelahkan namun membanggakan. Tidak semua orang dapat melakukannya. Semoga menjadi ladang amal kebaikan yang dicatat Tuhan," Ujarnya.

 Mungkin, komunitas relawan yang ada di Surabaya perlu banyak belajar kepada anggota CC-12. termasuk berkoordinasi dan melakukan komunikasi dengan baik, Agar ketika turut serta membantu menangani kecelakaan (bencana) di wilayah Surabaya tidak malah merepotkan pergerakan CC-12.

 Pertanyaannya kemudian, lewat mana komunitas relawan mengawali berkoordinasi untuk menjalin komunikasi dengan relawan anggota CC-12 ?. Sungguh tidak mudah membangun koordinasi antar pihak. Apalagi jika rasa ego sektoral masih kuat di masing-masing pihak. Perlu proses panjang, bahkan perlu juga regulasi yang dapat memperlancar tejadinya koordinasi antar pihak.

 Sambil berproses, alangkah baiknya jika masing-masing komunitas relawan tetap menjalankan visi misinya dalam upaya membangun ketangguhan warga Surabaya menghadapi bencana.

 Mereka harus mencari ceruk yang masih belum tergarap oleh CC-12. misalnya mengadakan sosialisasi dan edukasi pengurangan risiko bencana di sekolah atau Pondok Pesantren. Bisa juga di kelompok masyarakat. Seperti PKK, Majlis Taklim dan sejenisnya. Seperti Jamaah LC mengadakan sosialisasi dan edukasi kebencanaan di TK/PAUD, dan Panti Asuhan. Ini penting  agar tidak terkesan rebutan lahan.

 Yang jelas,  relawan Kota Surabaya, melalui CC-112, selalu siaga menjaga Kotanya, dan siap bergerak setiap saat membantu warga masyarakat yang mengalami kecelakaan. Bahkan masalah rumah tangga pun mereka siap membantu.

 Sungguh luar biasa, dan patut kiranya di dukung bersama, agar semangat mengabdi itu selalu membara di hati, kata Mukidi sambil mengajak Ratrimo meninggalkan warkop langganannya. Wallahu a/lam bishowab. [eBas/JumatLegi-24052024]

 

1 komentar:

  1. perlunya koordinasi antar petugas dan relawan agar tidak terjadi ego sektoral dalam penanganan korban.

    begitu juga perlu ada pelatihan bareng/pertemuan bersama antar pihak (petugas dan relawan) agar terjadi kesepahaman dan kebersamaan serta kedekatan emosional diantara mereka

    BalasHapus