Dengan ini, Formalitas ( Forum Bersama Lintas Komunitas) Jawa Timur, mengundang rekan-rekan komunitas maupun pribadi untuk hadir dalam acara "Kopdar & Edukasi". Demikian sebagian bunyi dari flyer yang dibuat oleh pengurus untuk mengikuti agenda dua bulanan.
Kali ini acaranya digelar di Warkop Songo Heritage, Prapen, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya. Pada hari Rabu (22/01/2025) malam, dalam suasana hujan intensitas sedang.
Namun, ternyata rasa rindu untuk bertemu itu mengalahkan segalanya. Termasuk cuaca yang kurang mendukung karena musim hujan, anggota komunitas yang tergabung dalam formalitas, nekat datang memenuhi undangan, sekaligus melepas rindu antar sesama pegiat alam bebas.
Ya, seperti diketahui bersama bahwa formalitas itu bukan nama sebuah komunitas. Namun keberadaannya itu merupakan wadah berkumpulnya berbagai komunitas untuk mempererat tali silaturahmi antar komunitas, sekaligus menjalin persaudaraan yang kuat untuk membangun kolaborasi yang bermanfaat.
Formalitas juga sebagai ajang berbagi informasi dan cerita pengalaman dalam rangka memperkaya wawasan dan paseduluran. Dari situlah diharapkan akan muncul gagasan/ide untuk membuat kegiatan kolaboratif dalam rangka meningkatkan kapasitas untuk menunjang kegiatannya di bidang sosial kemanusiaan dan pelestarian lingkungan alam.
Di dalam anggaran dasarnya, formalitas juga berperan sebagai katalisator yang memberi masukan saran dan usulan yang konstruktif kepada berbagai pihak terkait upaya pelestarian lingkungan alam. Serta memberikan edukasi dan sosialisasi kepada berbagai pihak tentang pentingnya membangun kesadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan alam.
Sebagai wadah bertemunya berbagai komunitas dengan segala keunikannya masing-masing, maka maju mundurnya keberadaan formalitas sangat bergantung dari partisipasi aktif anggotanya. Untuk itu setiap anggota dipersilahkan memberi kritik saran masukan dan koreksi kepada pengurus agar tetap istiqomah dalam menjalankan amanah. Masukkan bisa lewat japri pribadi atau lewat grup whatsapp.
Ada masukan yang dilontarkan malam itu, tentang perlunya kembali ke marwah awal berdirinya formalitas yang memberi manfaat kepada komunitas terkait dengan penguasaan keterampilan yang mendukung aktivitasnya di alam bebas. Seperti latihan prusiking, tali temali, vertical rescue, membaca peta, belajar navigasi dan lainnya.
Ini manfaatnya jelas tampak dan dirasakan. Bukan hanya, kegiatan anniversary, kopi darat, dan kemping ceria, yang seringkali abai terhadap kondisi lingkungan alam sekitar.
Terkait dengan harapan kembali ke marwah pendirian awal formalitas, Bang Arul yang membawakan materi dulkelas, siap memfasilitasi tempat untuk peningkatan kapasitas dalam pelatihan. Tempat yang ditawarkan Bang Arul bukan kaleng-kaleng seperti yang sering dilakukan oleh Jamaah Lorong eduCation yang memanfaatkan Balai RT dalam berkegiatan.
Tempatnya di Balai Pemuda. Lokasinya strategis di tengah Kota Surabaya. Tinggal bagaimana pengurus menjawab tawaran Bang Arul yang ingin mengembalikan marwah formalitas lewat sisi lain. Rencananya, untuk awal kegiatan, Bang Arul menawarkan pelatihan komunikasi radio (penggunaan Handy Talkie) untuk mendukung kegiatan di lapangan.
Ada juga hal yang sangat penting untuk segera dibahas. Yaitu disamping membahas keberadaan anggaran dasar (anggaran rumah tangga belum disusun), serta pergantian pengurus formalitas yang sudah habis masa baktinya, dan perlu diadakan pemilihan ketua baru, atau tetap mempertahankan ketua lama untuk menjabat lagi.
Namun semua itu perlu ada pembahasan khusus yang dihadiri oleh para ketua komunitas yang tergabung dalam wadah formalitas untuk membentuk tim formatus yang akan membuat aturan main pemilihan ketua baru. Termasuk mengubah atau menambah aturan yang ada di dalam anggran dasar.
Sehingga semua kesepakatan yang diambil lewat musyawarah, tidak menyimpang dari anggaran dasar. Untuk itu tidak ada salahnya jika pengurus segera melakukan pendataan ulang kepada komunitas yang tergabung dalam wadah formalitas. Ini penting untuk mengetahui kapasitas, dan sarpras yang dimiliki. Sehingga akan memudahkan dalam hal koordinasi, pembinaan dan mobilisasi.
Sebelum kopdar malam ini disudahi dengan foto bersama sebagai upaya mendokumentasikan kegiatan, disampaikan pula bahwa salah satu cara untuk mendapatkan dana operasional, adalah dengan menjual souvenir, diantaranya berupa kaos, ganci, buff. Emblem dan baju lapangan, serta “Topi Muter” sebagai bentuk gotong royong untuk menambah inventaris yang yang mendukung kegiatan formalitas.
Gerimis tengah malam mengiringi peserta kopdar meninggalkan Warkop Songo Heritage. Ada juga yang masih melanjutkan jagongan membahas rencana program formalitas ditahun 2025. seperti perbaikan anggaran dasar, pergantian pengurus, dan upaya mengembalikan marwah formalitas.
Semua rencana itu baik. Tinggal siapa yang akan menjadi “dirigen” untuk mewujudkan rencana itu. Tentunya dengan dukungan semua pihak yang ada di dalam wadah formalitas, yang usianya sudah enam tahun. Sebuah usia yang “rawan perpecahan” karena kesibukan masing-masing aktivisnya yang harus memenuhi kewajibannya sebagai makhluk sosial. Salam Lestari. [eBas/Kamis-23012025 dini hari]
.jpg)
tetap bersemangat berkomunitas untuk membangun seduluran antar pihak sekaligus membangun kolaborasi dalam kerja kerja sosial kemanusiaan yang bermanfaat bagi semua
BalasHapus