Jumat, 31 Januari 2025

PEGIAT ALAM BEBAS TAK TAKUT HUJAN DERAS

 Konon, setiap musim penghujan, sering kali diikuti dengan terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor. Bahkan akhir-akhir juga disertai dengan angin puting beliung dan petir yang daya rusaknya lumayan besar.

 Untuk mengurangi terjadinya kecelakaan, pemerintah telah mengeluarkan himbauan agar dimusim penghujan ini para pegiat alam bebas mengurangi aktivitasnya di alam bebas. Himbauan yang tidak diikuti sanksi yang membuat jera. Sehingga tetap saja bumi perkemahan, hutan dan gunung tetap saja ramai oleh para pegiat alam bebas.

 Sementara, para pengelola bumi perkemahan dan jalur pendakian, juga tetap setia melayani para pegiat alam bebas yang akan melakukan aktivitasnya, yang penting mereka mentaati aturan yang ditetapkan. Khususnya membayar harga tiket masuk.

 Disamping itu, para pengelola juga percaya bahwa para pegiat alam bebas itu telah memiliki pengetahuan dan wawasan terkait dengan aktivitasnya, serta menguasai keterampilan yang diperlukan. Seperti pengetahuan tentang teknik survival, manajemen pendakian, kemampuan membaca peta, bidik kompas, navigasi, pertolongan pertama gawat darurat, bongkar pasang tenda, dan sebagainya.

 Dengan kapasitas yang luar biasa itulah, para pegiat alam tetap diperbolehkan untuk berkemah, dan melakukan pendakian. Termasuk pendakian model tek-tok yang saat ini sedang marak.

 Artinya, kapasitas para pegiat alam bebas itu sudah tidak perlu diragukan lagi dalam menjaga keselamatan diri. Disamping itu sebagai pegiat alam bebas juga sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan alam yang dijadikan arena kegiatannya.

 Mereka, dengan penuh kesadaran dan kesukarelaannya ikut menjaga alam, melakukan penghijauan, baik dengan tanaman buah, tanaman tegakan, maupun tanaman produktif sesuai dengan kondisi setempat.

 Dengan kemampuan yang dimiliki, para pegiat alam bebas sering kali terlibat (dilibatkan) dalam operasi pencarian dan tertolongan jika terjadi petaka di hutan dan gunung, yang menimpa pegiat alam yang kurang persiapan (sembrono).

 Hebatnya lagi mereka juga rela “mengamankan” sampah yang ditemui disepanjang jalur pendakian dan di sekitar bumi perkemahan. Inilah bukti nyata bahwa para pegiat alam itu memang cinta lingkungan alam yang lestari dengan aneka flora dan fauna yang menyenangkan.

 Mereka juga melaporkan kepada pengelola jika menemui daerah yang berpotensi terjadi longsor jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, tersumbatnya aliran sungai oleh batu besar maupun pohon roboh yang dapat menyebabkan banjir bandang. Termasuk melaporkan adanya perusakan/pencurian kayu dan satwa oleh oknum tertentu.

 Bahkan ketika terjadi hujan deras disaat berkemah maupun dalam perjalanan pendakian,  mereka tetap ceria menikmati keindahan alam dalam suasana basah dan dingin yang mencekam. Ya, mereka adalah manusia pilihan yang pantang menyerah. Sekali layar terkembang pantang surut kebelakang. Salam rimba, salam lestari.  [eBas/Jumat-31012025]  

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar