Rabu, 20 Mei 2026

REFLEKSI HARI KESIAPSIAGAAN BENCANA, BNPB BANYAK BERHARAP

 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan beberapa pihak mengadakan webinar tentang Refleksi Hari Kesiapsiagaan Bencana, yang diikuti oleh semua pegiat kebencanaan, Rabu (20/05/2026) siang, bersamaan dengan peringatan hari kebangkitan nasional.

 Seperti diketahui bahwa refleksi adalah proses penting untuk merenungkan kegiatan yang telah dilakukan, untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan, yang selanjutnya digunakan sebagai bahan masukan untuk melakukan kegiatan yang sama dikemudian hari sebagai gerakan bersama membangun ketangguhan, kesiapsiapsiagaan dan budaya sadar bencana melalui berbagai kegiatan yang teragendakan (dan tentunya teranggarkan).

 Dalam webinar itu juga ada harapan dari BNPB agar perayaan HKB yang menjadi agenda rutin BNPB dan pegiat kebencanaan ini jangan sampai hanya jadi acara seremonial belaka yang langsung bubar jalan ketika pejabatnya “selesai gunting pita” dan meninggalkan lokasi upacara pembukaan.

 Harapannya, gelaran yang memobilisasi banyak pihak ini menjadi media literasi kebencanaan yang dapat diambil manfaatnya oleh khalayak ramai. Sehingga upaya membangun kesiapsiagaan, usaha menumbuhkan budaya sadar bencana akan segera dapat “mewarnai” kehidupan masyarakat sehari-harinya.

 Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, kesiapsiagaan didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

 Untuk itulah BNPB berharap Semua upaya mewujudkan pesan Undang-undang harulah dikerjakan secara kolaboratif antar pihak terkait, khususnya NGO yang bergerak dibidang kebencanaan, agar pemerintah tidak berjalan sendiri.

 BNPB pun berharap banyak kepada semua pihak untuk terlibat dan mendukung dalam mensukseskan perayaan HKB untuk ikut serta membangun budaya sadar bencana melalui sosialisasi pengurangan risiko bencana dengan melakukan simulasi yang dilakukan secara rutin dan mandiri (dengan biaya sendiri). Tidak hanya saat ada perayaan HKB saja (dengan biaya APBN/APBD).

 Dengan demikian, harapan ke depan BNPB/BPBD dapat menjadi dirigen dari sebuah orkestra penanggulanag bencana yang handal dan terpercaya. Sementara relawan, masyarakat dan para pihak, yang memainkan irama sesuai arahan dirigen berdasarkan berbagai dokumen dan perka/perban yang ada. Dengan demikian dokumen kebencanaan dan perka/perban yang ada tidak dikalahkan oleh “kebijakan pusat”.

 Dalam acara refleksi lewat zoom meeting yang sempat beberapa kali terjadi gangguan audio ini, ada salah satu nara sumber yang menyampaikan bahwa beberapa tantangan yang harus ‘diperhatikan’ diantaranya adalah keterlibatan kelompok rentan yang kurang, dan keberadaan Tim Siaga yang belum dikembangkan secara berkelanjutan.

 Selanjutnya kegiatan kerelawanan masih bersifat sporadis dan reaktif terhadap krisis yang terjadi. Kemudian tingkat pemahaman dan kesadaran pemerintah desa (juga pemerintah di atasnya) terhadap pentingnya kesiapsiagaan masih bervariasi.

 Tentunya untuk mewujudkan harapan di atas memerlukan anggaran yang memadai dan dukungan kebijakan yang mengikat. Bukan hanya berharap dan bilang seharusnya begini, seharusnya begitu. Kalau hanya sekedar harapan ya jadinya seperti ini. Banyak OPD yang ogah-ogahan terlibat (mengeluarkan anggarannya) untuk memeriahkan perayaan HKB.

 Semoga hasil refleksi HKB yang digelar menjelang Idul Adha 1447 H, benar-benar menjadi pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat merencanakan dan melaksanakan perayaan yang didukung anggaran tidak sedikit ini dapat mewujudkan tampilan HKB yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi rakyat, tidak hanya sekedar menikmati anggaran besar dari pajak rakyat. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Kamis-21052026]

 

1 komentar:

  1. Kata Mukidi selama ini perayaan HKB hanya menguntungkan mereka yang terlibat saja. termasuk UMKM, Tukang Parkir.
    sementara pesan-pesan kesiapsiagaan, mitigasi, ketangguhan dan pemulihan belum sepenuhnya mengedukasi masyarakat.
    pinjam istilahnya mantan pejabat BNPB bahwa perayaan HKB, PRBBK dan Rakornas itu merupakan "Hari Raya" nya para pegiat kebencanaan sehingga harus dirayakan seraya rayanya.

    BalasHapus