Rabu, 25 Februari 2026

RAPAT RENCANA KERJA BPBD SURABAYA TAHUN 2027 SECARA DARING

 Seperti tahun lalu, Jamaah Lorong eduCation bersama dinas dan organisasi terkait diundang untuk mengikuti rapat penyusunan rencana kerja BPBD Kota Surabaya, Kamis tanggal 25 Februari 2026. Bedanya kalau tahun lalu rapat di selenggarakan di Pendopo Kecamatan Tenggilis, sekarang di lakukan secara daring.

 Hanya pejabat BPBD dan nara sumber yang bersemuka di kantor, lainnya cukup lewat zoom meeting. Hal ini dimungkinkan untuk menghormati bulan ramadhan agar terjaga kekhusukan ibadah puasa. Semua itu tidak mengurangi semangat dan keseriusan rapat.

 Tahun lalu, dalam acara yang sama, setiap peserta rapat menyampaikan usulan kegiatan untuk dijadikan bahan penyusunan kebijakan, dalam rangka memperkuat rencana kerja. Namun tidak pernah dilibatkan dalam pelaksanaannya, termasuk laporan hasilnya.

 Sehingga tidak tahu apakah usulan yang disampaikan peserta rapat itu diterima atau hanya dicatat saja.  Wallahu a’lam bishawab, yang penting dalam rapat itu banyak pihak yang diundang, termasuk komunitas relawan. Salah satunya adalah Jamaah Lorong eduCation.

 Rapat diawali dengan sambutan pejabat sekretaris BPBD Kota Surabaya. Dikatakan bahwa isu strategis BPBD Kota Surabaya adalah, pertama peningkatan upaya mitigasi dab penanggulangan bencana yang terintegrasi dari berbagai sektor untuk mengantisipasi bencana, terutama akibat perubahan iklim.

 Sedangkan isu ke dua adalah peningkatan kapasitaspetugas kebencanaansesuai standar dan penyediaan peralatan perlindungan bencana bagi petugas dan masyarakat, serta optimalisasi peran serta pentahelik untuk membangun masyarakat yang sadar bencana dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana.

 Dikatakan pula bahwa BPBD Kota Surabaya dalam tugasnya juga melayani kegiatan sosialisasi dan mitigasi bencana, serta penanganan  kedaruratan dan pasca bencana.

 Untuk mendukung layanan, maka bidang kedaruratan, logistik, rehabilitasi dan rekontruksi, berupaya menyediakan logistik, melakukan penyelamatan, pencarian dan evakuasi serta peningkatan kapasitas.

Sedangkan bidang pencegahan dan kesiapsiagaan bertugas menyediakan peralatan perlindungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, pelatihan pencegahan, dan mitigasi, penguatan kapasitas kawasan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan.

 Yang perlu dicermati dari penjelasan pejabat Sekretaris BPBD Kota Surabaya itu adalah optimalisasi peran serta pentahelik dalam upaya penanggulangan bencana di Kota Surabaya.  

 Ini penting agar terjadi keterpaduan dalam upaya mitigasi dan penanganggualan bencana. Tinggal bagaimana bentuk kongkrit peran pentahelik membantu BPBD dalam urusan kebencanaan di Surabaya.

 Sementara itu, Amin Widodo dari ITS , yang menjadi nara sumber dalam kegiatan ini mengatakan bahwa, untuk menghadapi bencana gempa, perlu kiranya pemerintah kota Surabaya memasang alat monitor gempa di beberapa sudut Kota, dan siap membantu pembuatannya (pengadaannya). termasuk dalam upaya sosialisasi masalah gempa kepada masyarakat.

 Sedangkan nara sumber yang satunya (lupa namanya) lebih kepada antisipasi banjir yang menyebabkan terjadinya sedimentasi dan penyempitan badan sungai akibat perubahan tata guna lahan (bantaran sungai), serta perlunya membentuk ”kampung siaga bencana” di Surabaya barat, Timur, Utara dan selatan dibawah komando BPBD Kota Surabaya.

 Untuk itu ditawarkan cara melakukan mitigasinya. Pertama mitigasi struktural, yaitu dengan cara normalisasi dan pelebaran drainase, Pembuatan sumur resapan dan  biopori, Kolam retensi, dan penghijauan, dan pemanfaatan air hujan.

 Sedangkan mitigasi non struktural, adalah melakukan edukasi kepada masyarakat, sistem peringatan dini, simulasi evakuasi, dan regulasi tata ruang. Semua yang terkait mitigasi di atas, harus diketahui banyak pihak agar ikut berpartisipasi untuk mencegah terjadinya “penyerobotan” oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Termasuk hilangnya properti akibat tangan jahil.

 Adapaun masukan lain yang layak untuk dijadikan program kerja BPBD tahun 2027 adalah melibatkan komunitas relawan dalam upaya pengurangan risiko bencana di Surabaya, Pelatihan untuk peningkatan kapasitas Relawan Kota Surabaya di bidang penanggulangan bencana, Mendata dan membina komunitas relawan untuk dilibatkan dalam penanganan/evakuasi korban laka air yang sering terjadi di sungai brantas, jagir dan kalimas.

 Tidak ada salahnya jika BPBD melibatkan komunitas relawan dalam upaya pengurangan risiko bencana di kota Surabaya melalui program kelurahan tangguh bencana dan spab. Terkait dengan mitigasi bencana banjir di kota Surabaya, perlu ada giat kolaborasi antar pihak untuk kerja bakti membersihkan sampah di sungai secara berkala untuk menjaga luasan bantaran sungai dan mengurangi pendangkalan.

 Ada juga masukan untuk melibatkan kampus, untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan mengajak mahasiswa membantu BPBD dalam melaksanakan program kerjanya, serta mencari sumber dana secara kreatif melalui pemanfaatan CSR dunia usaha.

 Semua masukan mendapat apresiasi dari pejabat Sekretaris BPBD. Tinggal bagaimana nanti tim penyelaras dapat meramu semua masukan agar sesuai dengan draft rencana kerja yang telah disusun oleh pakarnya. [eBas/Kamis-26022026]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 komentar:

  1. tampaknya tim penyusun renja kurang peduli terhadap keberadaan komunitas relawan. hal ini tampak kurang disinggung tentang perlunya pendataan, pembinaan dan pelatihan bagi komunitas relawan yang ada di Kota Surabaya dalam rangka peningkatan kapasitasnya.
    padahal senyatanyalah komunitas relawan juga turut berperan membantu BPBD dalam penanganan kebencanaan. termasuk laka lantas, laka air dan banjir.
    semoga dengan masukan dari peserta rapat penyusunan renja BPBD tahun 2027 keberadaan komunitas relawan sedikit diberi ruang untuk turut berkiprah dalam upaya sosialisasi pengurangan risiko bencana di kota surabaya yang dilakukan secara kolaboratif denganpara pihak dibawah koordinasi BPBD sebagai pemegang mandat penanggulangan bencana.

    BalasHapus