Tumben grup WhatsApp PRBBK Indonesia 1, selasa legi (06/10/2026) malam, ramai oleh obrolan menggelitik, sedikit nakal oleh beberapa "aktivis kemanusiaan" yang sudah berpengalaman malang melintang di bidang kebencanaan.
Salah satunya Kyai Mart, yang memantik diskusi dengan komentar romantis, “Sudah berapa purnama kita memperingati gegap gempita Bulan PRB, lalu mari kita refleksi bersama,”.
Informasi sekunder yang diajukan oleh pria bertubuh subur ini adalah, Ada berapa sih desa/kelurahan yang sudah Destana/KTB dll?, dan Berapa sih investasi program Tersebut?.
Kemudian untuk pertanyaan konfirmasi, Berapa sih Program yang masih berjalan (dengan indikator), 1.Perencanaan dan penganggaran desa untuk PRB, 2. Melakukan pelatihan dan konsolidasi PRB di desa secara mandiri, 3. Melakukan respon kejadian dengan kemampuan Desa, 4. Melakukan evaluasi rutin dan koordinasi komunitas.
Pertanyaan reflektif ini menurutnya merupakan kegelisahannya yang menganggap bahwa investasi PRB selama ini tidak terlalu berdampak pada upaya membangun ketangguhan komunitas saat diuji ada bencana.
"Contohnya bencana NTT kemarin. Ada berapa sih program destana/KTB dan sejenisnya, yang komunitasnya melakukan respon bencana saat itu?.
“Jika ada, mari kita dokumentasikan 'kemenangan" dari proses PRBBK untuk dijadikan model pembelajaran kita bersama,” Harapnya.
Sungguh, untuk menjawab kegelisahan dan pertanyaan reflektif Kyai Mart ini, tentunya mereka yg terlibat langsung sebagai pemain program destana/KTB dan sejenisnya.
Karena merekalah yang sejak awal sudah dilibatkan dalam program ini. Mulai dari menyiapkan ini itunya, berkoordinasi dengan berbagai pihak, kemudian melaksanakannya sampai membuat laporannya.
Sedangkan yang tidak ikut bermain, tahunya ya karena mendengarkan cerita prosesnya dengan segala dramanya, membaca postingan dan komentar di media sosial tentang pengalaman mereka di Desa binaannya.
Sementara itu Yeka, Direktur Mitigasi Nusantara, berkesempatan nimbrung menjawab kegelisahan Kyai Mart dengan mengatakan, seharusnya Desa-desa yang sudah mendapatkan pendampingan Destana akan lebih baik kondisinya dan lebih cepat pemulihannya dari pada Desa-desa yang belum pernah dapat Destana.
"kalau sama aja, artinya kita perlu evaluasi dan koreksi kembali gapnya dimana," Katanya.
Pria berputra dua ini juga mengatakan, sebelum program Destana/KTB berjalan hendaknya, mulai dari menyiapkan fasilitatornya, pemaham konsep dan subtansi pendamping terhadap Destana seperti apa.
"Tahapan dan proses pendampingan, apakah sudah benar-benar dijalankan dengan benar. kemudian, kajian dan simulasinya seperti apa. Belum lagi kontijensinya, apakah benar-benar difahami atau hanya sekedar dokumen pelengkap saja," Ujarnya lagi.
Yeka pun juga mengajak merefleksikan kembali saat penyusunan skenario Simulasi. Apakah saat menyusunnya dibuat benar-benar mirip dengan kejadian sebenarnya, yang memberikan Shock Therapy kepada masyarakat dampingan sebagai pembelajaran penting untuk membangun kesadaran, atau hanya eforia seremonial sebagai penanda akhir proyek destana/KTB.
Artinya, dengan investasi yang cukup besar ini, apakah sudah menjawab seberapa siap/ tangguhnya desa pasca disentuh proyek destana/KTB ini ?.
Kayaknya masih tanda tanya besar, walaupun para pemainnya selalu mengatakan programnya berhasil, tidak ada yang gagal dengan dibuktikan tumpukan dokumen yang menyertai laporan, untuk kemudian memberi label "Tangguh Bencana" dalam sekali sentuh bagi Desa ato Sekolah yang berkesempatan mendapatkan sentuhan program dari BNPB/BPBD.
Inilah yang menjadi kekhawatiran Kyai Mart tentang gegap gempita program PRB tidak diikuti dengan ketangguhan nyata saat ada bencana. Bahkan tidak ada upaya menghadapi, dan merespon bahkan beradaptasi dengan segera terhadap keadaan kedaruratan.
Mengapa bisa begitu, dan selalu dinikmati oleh para pelaku?. Mungkin dikarenakan programnya berbasis daya serap anggaran, dimana semakin cepat dana terserap dan terlaporkan itu yang diharapkan bendahara.
"Apalagi biasanya di dalam anggaran program itu harus dicubit sedikit untuk 'mereka' dan haram jika dilaporkan. Sehingga harus pandai-pandai mengatur agar tetap makmur, walaupun mungkin tidak jujur daripada ajur.
Terkait dengan program Destana, Yeka pun melontarkan pernyataan yang sedikit nakal, seberapa besar beban emisional dan tanggungjawab mereka, jika melihat desa dampingannya tidak berbeda jauh dengan desa lain yang tidak pernah disentuh saat bencana terjadi ?.
"Atau, Destana itu konsepnya hanya sebuah proyek saja, bukan program yg berkesinambungan, dan masyarakat masih dilihat sebagai objek bukan subjek," Ujarnya nakal.
Padahal pria berkumis tipis ini bilang sudah capek nakal karena kalau nakal terus pasti tidak 'di bolo'. Sebuah ungkapan jawa yang multi tafsir. Wallahu a'lam bishowab. [eBas/Rabu Pahing-07102026]
