Menurut berita yang beredar, Provinsi Jawa Timur dipastikan akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tahun 2025 mendatang, yang di dalamnya digelar pula Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (KN-PRBBK).
Hal ini ditandai dengan diterimanya Pataka oleh Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, dari Kepala BNPB, Suharyanto pada saat puncak peringatan Bulan PRB tahun ini di Balee Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Kamis (10/10/24) yang lalu.
Tentu berita ini hendaknya disambut dengan gegap gempita oleh seluruh komunitas relawan penanggulangan bencana. Wabil khusus bagi para pekerja kemanusiaan yang selama ini beroperasi di Jawa Timur dalam membantu BPBD membangun ketangguhan menghadapi bencana, termasuk tangguh sumber daya manusianya, maupun tangguh manajemennya.
Idealnya sih, dengan adanya kabar yang menggembirakan itu, berbagai komunitas segera bergerak bersama mengagendakan ngobrol bareng sambil ngopi membahas apa saja yang terkait dengan “ubo rampe” kegiatan KN-PRBBK. Tidak ada salahnya juga membahas hasil berbagai webinar yang menyajikan aneka topik dan materi yang digelar sejak bulan juli 2024. termasuk diantaranya mebcoba membedah tujuh butir yang termaktub dalam Deklarasi KN-PRBBK ke 16 di Provinsi Aceh.
Hasil ngobrol bareng itu nantinya disodorkan ke BPBD Provinsi Jatim, dengan harapan dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun kebijakan yang mendukung perhelatan akbar Bulan PRB dan KN-PRBBK ke 17 tahun 2025.
Jika memungkinkan, semua komunitas membantu mengkomunikasikan tentang kabar gembira ini agar diketahui oleh masyarakat luas. Tidak lupa semua komunitas yang memiliki program sosialisasi dan edukasi pengurangan risiko bencana, juga mulai menata diri untuk dinominasikan tampil meramaikan Perayaan bulan PRB dan KN-PRBBK, dengan menonjolkan rasa jawa timurannya.
Namun yang terjadi, berita yang membanggakan ini tampaknya kurang terdengar gaungnya. Para pihak yang bersentuhan langsung pun biasa saja. Bahkan di grup whatsapp tetap ramai dengan perang gambar dan saling berkomentar tentang berita yang aktual sambil saling mencemooh dengan dibungkus guyonan.
Hal ini terjadi mungkin, di midio akhir tahun yang bershio naga kayu ini ada agenda politik yang bernama pilkada serentak, sangat menyita perhatian dan kesibukan para pihak. Begitu juga pasca pilkada pun, biasanya berlanjut pada penataan personil sesuai kebijakan pemenang pilkada.
Jika ini benar, maka wajar semua pihak diam. Sementara fokus pada prosesi pilkada, sekaligus menunggu hasil akhirnya. Harapannya, siapapun yang memenangi pilkada, memiliki selera terhadap isue-isue kebencanaan. Sehingga upaya menyemarakkan mandat pagelaran bulan PRB dan KN-PRBBK di tahun yang bershio ular, dapat berjalan secara spektakuler dan berkelas. Salam Tangguh. [eBas/RabuLegi-16102024]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar