Senin, 14 Oktober 2024

MEMADUKAN HASIL DEKLARASI KN-PRBBK DENGAN PROGRAM KOMUNITAS

  Salah satu hasil deklarasi KN-PRBBK ke-16 tahun 2024, yang diselenggarakan di Aceh adalah, Kami mengakui pentingnya sosialisasi yang berkesinambungan, edukasi masyarakat, serta pengembangan kader-kader muda untuk melanjutkan gerakan PRBBK ini ke generasi berikutnya.

 Selain itu, dikatakan pula bahwa komunikasi risiko perlu diprioritaskan untuk memastikan masyarakat memahami ancaman yang ada dan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi dampaknya.

 Selanjutnya, Komunikasi yang tepat waktu, jelas, dan aksesible oleh seluruh lapisan masyarakat akan sangat krusial dalam meningkatkan kesiapsiagaan.

 Apa yang disampaikan di atas itu tampaknya  sebagai upaya mendorong komunitas relawan untuk terus bergerak melakukan upaya sosialisasi dan edukasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat luas. Termasuk para pelajar di berbagai tingkatan, sebagai generasi muda calon penerus bangsa.

 Tentunya, apa yang dilakukan oleh komunitas relawan ini tidak seragam, dan itu sah-sah saja, sesuai dengan kapasitas relawan dan latar belakang sasaran. Yang penting tetap bergerak “mensyi’arkan” pesan-pesan kesiapsiagaan dan mitigasi potensi bencana yang ada di daerahnya.

 Seperti diketahui, mitigasi adalah upaya yang memiliki sejumlah tujuan yakni untuk mengenali risiko, penyadaran akan risiko bencana, perencanaan penanggulangan, dan sebagainya.

 Bisa dikatakan bahwa mitigasi bencana adalah segala upaya, mulai dari pencegahan sebelum suatu bencana terjadi sampai dengan penanganan usai suatu bencana terjadi.

 Jika masyarakat yang bedomisili di kawasan rawan bencana, dapat melakukan mitigasi mandiri, tentu mereka akan memiliki kemampuan menghadapi potensi bencana yang sewaktu-waktu datang dengan segala dampaknya.

 Sungguh, seandainya semua komunitas relawan dapat melakukan edukasi dan sosialisasi pengurangan risiko bencana, yang membuat masyarakat dapat memiliki daya informasi, daya antisipasi, daya adaptasi, daya proteksi, dan daya lenting menghadapi bencana. Maka upaya membangun ketangguhan benar-benar terwujud dalam kehidupan masyarakat.

 Sementara itu, jangan lupa komunitas relawan juga perlu menyiapkan kader penerusnya, agar kerja-kerja komunitas yang menjadi programnya tidak berhenti di tengah jalan gegara ketiadaan kader. Ingat, berkiprah sebagai relawan (bukan pekerja kemanusiaan yang bayaran), itu ada batasnya. Baik itu faktor usia yang pasti akan masuk ke kelompok rentan, dan juga kesejahteraan keluarga yang wajib diperhatikan, jika tidak ingin terpuruk.

 Ingat juga bahwa, relawan itu berhasil tidak dipuji, gagal pasti dicaci, dan celaka salah sendiri. Artinya relawan itu harus menyiapkan segalanya secara mandiri dan harus tahu diri kapan undur diri tanpa memaksakan diri.

 Nah, mumpung masih ada waktu, ada baiknya jika di dalam agenda komunitas relawan, juga ada program kaderisasi. Namun perlu disadari bahwa kaderisasi itu tidak mudah karena menyangkut banyak faktor yang mempengaruhi. Termasuk ada tidaknya rasa peduli untuk memberi manfaat bagi sesama.

 Yang penting, salah satu isi deklarasi KN-PRBBK ke-16 tahun 2024 di Provinsi Aceh itu hendaknya menjadi penyemangat bagi komunitas relawan untuk terus menginformasikan pesan PRB dengan segala cara dan gayanya sendiri dan mandiri, tanpa harus terikat SOP. Apalagi harus menunggu petunjuk, arahan dan ajakan dari pihal lain, yang biasanya menjadi ajang rebutan. Biarkan yang senang rebutan, mungkin sedang membutuhkan.

 Tetap semangat mencoba menterjemahkan deklarasi KN-PRBBK sesuai kemampuan menafsirkan untuk kemudian dikongkritkan dalam bentuk kegiatan komunitas. Syukur-syukur dapat dikolaborasikan antar pihak. [eBas/SeninWage-14102024]     

 

 

 

   

 

1 komentar:

  1. tetap semangat menebar PRB lewat jalan mana pun, termasuk lewat tulisan yang menginspirasi dan menjengkelkan ini

    BalasHapus