Rabu, 02 Juli 2025

IBU DIRJEN PAUD MENGGAGAS DIBENTUKNYA MITIGATOR CILIK

 Dalam sebuah Webinar Mitigator SPAB-PAUD 2025, Dr. Nia Nurhasanah, Direktur PAUD, Kemendikdasmen RI, punya harapan gimana menyusun dan melaksanakan rencana aksi spab sesuai kontek lokal, dengan mengenalkan kelas mitigasi untuk meningkatkan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan paud di bidang pengurangan risiko bencana.

 Dalam Webinar dengan tema mengangkat peran guru paud dalam membangun budaya tangguh bencana dengan pelatihan mitigator SPAB, Ibu berkacamata ini juga berharap bagaimana satuan paud bisa melibatkan anak sebagai Mitigator Cilik, dalam membuat program pelatihan dan kesiapsiagaan secara menyenangkan dan edukatif sekaligus membentuk satuan paud sebagai tempat belajar yang nyaman aman dan membentuk karakter tangguh anak indonesia sejak dini.

 Webinar yang diselenggarakan secara daring pada hari senin (30/06/2025), merupakan gagasan cerdas dari seorang ibu pejabat yang menggeluti dunia pendidikan dan peduli terhapat upaya membangun budaya tangguh bencana yang digaungkan BNPB.

 Sejalan dengan gagasan Mitigator Cilik, sebagai sebuah profesi (?), Om Rangga, dalam postingannya di grup whatsapp PRBBK Indonesia mengatakan bahwa Mitigator diambil dari kata mitigasi, serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

 Mitigator juga bisa sebagai Mitigation Facilitator  untuk memudahkan penyebutan para pelaku mitigasi bencana, perubahan iklim, konflik sosial, dan keadaan yang membahayakan manusia. Merekalah Mitigator!," Tulisnya.

Sementara itu, masih menurut Om Rangga, Pak Lilik, yang sekarang menjabat sebagai Deputi 5 Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), yang membidangi koordinasi penanggulangan bencana dan konflik sosial, konon sangat intensif memikirkan bagaimana Tenaga Kebencanaan yang dibutuhkan negara, dapat dikonsolidasi dan difungsikan tidak hanya sebagai relawan, melainkan juga sebagai tenaga terlatih yang bisa masuk ke dalam sistem.

Dari obrolan Pak Lilik dan Om Rangga itu, mungkin (istilah) mitigator, baik dari instansi pemegang otoritas kebencanaan (disaster) dan kedaruratan (emergency) seperti BPBD, BASARNAS, Damkar, Tagana, Puskris, dari NGO lokal-nasional-internasional, kalangan profesional dan pekerja non formal, perlu diangkat untuk membangun ketangguhan masyarakat (sebagai mitigator ?).

Pak Lilik pun juga berharap agar Om Rangga membuat Kelas Mitigasi yang bagus dan dijaga kualitasnya agar para mitigator yang dihasilkan dapat diserap ke dalam sistem. Untuk kemudian juga diterima oleh Kemenpan RB sebagai tenaga fungsional/Jabatan Fungsional Umum (yang dibayar).

Walaupun gagasan ini masih sebatas wacana, tidak ada salahnya jika pengelola program Master Magister Bencana di berbagai kampus untuk segera berancang-ancang membuka jurusan mitigator sesuai jenjang pendidikan yang ada.

Yang jelas istilah baru yang mungkin akan menjadi profesi baru itu bisa saja terwujud. Seperti pendapat Om Avianto dari MPBI, bahwa 10 tahun yang lalu, kita mungkin masih merasa aneh dengar profesi "content creator" atau "data scientist" dan istilah milenial lainnya untuk sebuah profesi tanpa instansi.

“Tapi sekarang udah banyak anak-anak kecil yang punya cita-cita ke profesi ini. So, why not kalau kelak ada profesi yang spesialisasinya adalah tentang mitigasi bencana,” Katanya optimis.

Benar sekali pendapat Om Avianto. Bahkan sekarang sudah banyak anak muda yang sukses berprofesi dengan memanfaatkan kecanggihan gawainya. Seperti tiktoker, olshop, bahkan open BO makin banyak peminatnya karena menjanjikan cuan banyak tanpa dipotong pajak.

Ya, semuanya akan dan sedang berproses, berpacu dengan kecanggihan teknologi dan kebebasan berekspresi, dengan dukungan argumentasi yang sesuai nalar demokrasi. Termasuk gagasan tentang mitigator cilik dari Ibu Dirjen yang cantik. Yang penting kebijakan itu harus didukung anggaran, pasti dapat berjalan lancar dan diterima dengan suka cita oleh pengelolanya.

Semoga gagasan ibu Nia (yang ijasahnya asli) tidak bernasib seperti SPAB yang sampai saat ini masih belum banyak pejabat dinas pendidikan di tingkat tapak yang paham dan mengamalkan SPAB dengan masif. Padahal sudah ada aturannya dalam permendikbud nomor 33 tahun 2019, tentang penyelenggaraan program SPAB.  (termasuk upaya pembentukan sekber spab tingkat provinsi dan kabupaten/kota).

 Mengapa kebijakan SPAB kurang diperhatikan oleh pejabat dinas pendidikan ?. salah satunya adalah kebijakan yang diluncurkan dari pusat itu tidak dibarengi dengan penyediaan anggaran pendukung. Sedangkan daerah tidak mempunyai dana.

 Apakah sekolah harus kerja bakti dan narik iuran dari peserta didik untuk menjalankan program spab, atau harus nekat “nyubit anggaran sana sini” untuk menjalankannya, dengan konsekwensi menjadi bidikan BPK (bahkan KPK).

 Sesungguhnyalah, selama ini anggaran pelaksanaan program spab di sekolah itu bukan dari dinas pendidikan (karena tidak ada pos anggarannya), tapi dari lembaga lain seperti BNPB, BPBD, dan lembaga donor (NGO) yang memprogramkan spab beserta anggarannya, dengan model sekali sentuh. Dimana,  sekolah yang sudah mendapat jatah program spab, langsung diberi label Sekolah Tangguh Bencana. Begitu juga dengan program yang terkait dengan kebencanaan milik berbagai instansi lainnya.

 “Program seperti ini yang penting daya serap anggarannya lancar. Masalah hasil, dapat diprogramkan kembali tahun depan. Gitu aja kok repot,” Kata Mukidi sambil nyruput kopi

 Akhirnya, berharap gagasan Ibu Dirjen PAUD segera ditindak lanjuti oleh pejabat dibawahnya yang membidangi pendidikan. Baik pendidikan formal, maupun pendidikan nonformal. Termasuk merancang anggarannya dengan melibatkan para pihak yang paham tentang 'kebencanaan' agar gagasan mitigator cilik terus bergulir menjadi wacana yang menggelitik. [eBas/Rabu-02072025]

 

 

 

Selasa, 17 Juni 2025

BOLEHKAH KENALAN DENGAN PEJABAT BARU

 Kemarin hari  rabu (11/06/2025) saya ketemu Pak Yanu, Kabid PK BPBD Kota Surabaya, saat acara pembukaan sosialisasi dan pembentukan kelurahan tangguh bencana di halaman kantor Kelurahan Tambak Sarioso, Kecamatan Asemrowo, Kota Surabaya. Disana saya juga ketemu ibu Lilik dari BPBD Kota Surabaya dan Ning Cantik Nur Layla, staf PK BPBD Provinsi Jawa Timur.

 Sambil ngobrol, saya dapat info dari Pak Yanu, bahwa Kepala BPBD Kota Surabaya telah berganti. Begitu juga dengan Sekretaris BPBD. Beliau juga mengabarkan bahwa Pak Widyo dan Pak Heri juga sudah tidak berkantor di BPBD karena telah resmi memegang SK Pensiun.

 “Pak, kira-kira kapan BPBD mengundang perwakilan komunitas relawan yang ada di Surabaya untuk bersilaturahmi dengan pejabat BPBD yang baru,” Kata saya sambil nikmati lemper ayam mini.

 Tidak ada salahnya jika silaturahmi itu dimaknai sebagai upaya menjaga komunikasi dan sinergi antara instansi pemerintah (dalam hal ini BPBD) dengan komunitas relawan sosial kemanusiaan yang ada di Surabaya untuk mewujudkan budaya tangguh bencana seperti yang sering didengungkan di dalam kegiatan kebencanaan. Salah satunya lewat kegiatan sosialisasi dan pembentukan kelurahan tangguh bencana ini.

 Ya, Komunikasi adalah kunci menjaga hubungan yang harmonis dan membangun kesepahaman dengan seluruh pihak terkait agar tidak ada dusta di antara pihak.

 “Monggo mas, kapan diagendakan, silahkan langsung menghubungi beliaunya,” Kata Pak Yanu.

 Alhamdulillah Pak Yanu telah memberi tanda bahwa pejabat baru di Lingkungan BPBD Kota Surabaya siap menerima ‘audiensi’ dengan komunitas relawan, dalam rangka mempererat tali silaturahmi, serta berbagi informasi. Harapannya akan terbangun kolaborasi antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Kota Surabaya.

 Masalahnya kemudian, ketika relawan sendiri yang harus menghubungi langsung kepada pejabat baru untuk bertemu, biasanya dijawab, silahkan menunggu, sedang dikonsultasikan dulu. Begitulah pengalaman beberapa tahun yang lalu ketika relawan berkirim surat untuk permintaan ‘uadiensi’ namun sampai saat ini tidak terrealisasi.

 Artinya, diperlukan seseorang yang punya wibawa dan kharisma untuk bersedia menjadi ‘katalisator’ untuk terjadinya acara kenalan dengan pejabat baru. Entah itu berwujud sarasehan, diskusi, lokalatih dan lainnya sambil nyruput kopi hitam panas rodok pahit, namun tidak sepahit kehidupan ini.

 Pertanyaannya kemudian, siapakah sosok yang berwibawa dan berkharisma itu ?. karena tanpa kehadirannya mustahil terjadi silaturahmi antara pejabat baru dengan komunitas relawan yang ada di Surabaya.

 Hari selasa (17/06/2025) siang, di Masjid Al-Anshor Kelurahan Tambak Sarioso, saya bertemu lagi dengan Pak Yanu, menyaksikan simulasi evakuasi korban bencana, dalam rangka penutupan acara sosialisasi dan pembentukan kelurahan tanguh bencana. Dalam acara penutupan itu juga dikukuhkan pengurus Forum PRB tingkat Kelurahan. Selamat bekerja Bapak dan Ibu Pejabat baru, semoga sukses. [eBas/Rabu-18062025]

 

   

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 28 Mei 2025

FORMALTAS MENGADAKAN PELATIHAN PRUSIKING

 Alhamdulillah, akhirnya harapan para senior dan pendiri forum bersama lintas komunitas (FORMALTAS) dapat diwujudkan oleh pengurus, saat diadakan pertemuan rutin dua bulanan, yang diberi nama kopi darat (kopdar), yang diikuti oleh berbagai komunitas yang tergabung dalam FORMALITAS. Namun begitu komunitas atau individu yang berminat ikut kopdar dipersilahkan datang.

 Beberapa waktu yang lalu, saat kopdar, para senior dan pendiri FORMALITAS pernah berharap agar pengurusnya kembali kepada marwahnya. Yaitu sebagai wadah berkumpulnya berbagai komuitas untuk saling silaturahmi dan meningkatkan kapasitas di bidang kepecinta alaman (mengingat mayoritas komunitas yang bergabung adalah pecinta alam).

 Untuk itulah, kopdar yang diselenggarakan pada selasa (27/05/2025) malam, dalam sesi edukasi diisi dengan pelatihan prusiking, yang disampaikan oleh Kapten Prasojo, panggilan akrab Sariyanto, sekaligus pemilik Warkop Kapten yang menjadi lokasi kopdar.

 Konon, dalam literatur, dikatakan bahwa Prusiking (biasanya beriringan dengan Rappeling) adalah kegiatan di alam bebas yang biasa dilakukan oleh para pecinta alam. Dua kegiatan ini sudah menjadi salah satu materi dasar dalam panjat tebing dan juga penelusuran gua vertical yang hanya bisa dilakukan apabila ada kecuraman atau ketinggian dengan menggunakan tali karmantel. 

 Rappeling merupakan kegiatan menuruni ketinggian baik itu tebing atau gua dari atas ke bawah atau dalam penelusuran gua disebut dengan Descending yaitu kegiatan menuruni tali. Sedangkan Prusiking ini dalam penelusuran gua disebut juga dengan Ascending yaitu kegiatan menaiki tali.

 Alhamdulillah, malam itu cuacanya sangat mendukung, pesertanya pun sangat antusias menyimak apa yang dikatakan oleh nara sumber. Apalagi, Sahrul, dibawah bimbingan Kapten berkenan memperagakan cara penggunaan peralatan prusiking. Sehingga peserta mudah memahami untuk kemudian mempraktekkan secara bergantian. Dengan diiringi canda tawa gembira.

 Sungguh, seandainya kegiatan ini diadakan ditempat terbuka, seperti di Kebun Bibit Wonorejo, pastilah akan lain sensasinya, pesertanya dan gaungnya (karena dilihat orang banyak). apalagi jika komunitas yang punya usaha diberi kesempatan buka lapak dengan harga khusus, pasti akan menambah ramai suasana, dan banyak pihak yang diuntungkan.

 “Kalau di Warkopnya Kapten, sungkan mau mencoba. Apalagi tidak terlalu tinggi. Kalau di tempat terbuka (outdoor) semua peserta, khususnya yang muda diwajibkan mencobanya, pasti seru,” Kata Cak Rokhim, yang sering camping bersama istrinya.

 Apa yang dikatakan Cak Rokhim, ada benarnya. Untuk itu kegiatan ini hendaknya dijadikan agenda rutin, dengan materi yang berbeda, seperti materi PPGD, Manajemen Pendakian, cara mendirikan tarp tent, Peta Kompas, dan lainnya, sebagai upaya meningkatkan kapasitas pecinta alam. Apalagi di dalam FORMALITAS banyak senior yang mampu menjadi nara sumber di bidangnya untuk menunjang kegiatan di alam bebas.

 Ya, paling tidak kegiatan prusiking di Warkop Kapten ini sebagai awal yang seharusnya ditindak lanjuti oleh pengurus FORMALITAS, para senior dan pendirinya senang karena harapannya diperhatikan dan diwujudkan oleh yuniornya. Dengan demikian kegiatan kopdar akan semakin bermakna sebagai media tukar informasi dan berbagi pengalaman. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Rabu-28052025]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 23 April 2025

GERAKAN RESIK-RESIK MASJID TUMBUH DIMANA-MANA

Konon, jika tidak salah, gerakan resik-resik masjid (GRRM) dilahirkan oleh komunitas pecinta alam yang bernama Gimbal Alas Indonesia (GAI) di Kota Malang, beberapa tahun yang lalu. mungkin enam tahan yang lalu. Gerakan ini benar-benar gerakan sosial yang mengedepankan kemandirian tanpa berfikir profit. tentunya di daerah lain juga ada kegiatan seperti ini dengan nama, istilah, dan tujuan yang berbeda, tapi satu tujuan, mencari ridho Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Semangat ke-istiqomah-an dan gotong royonglah yang mendasari gerakan ini, sehingga mampu menggema kemana-mana. Kalau tidak salah, setelah Kota Malang, GRRM muncul di Kota Surabaya. Untuk kemudian menyebar ke Mojokerto, Sidoarjo, Jombang, Gresik dan Tuban. Tentu tidak menutup kemungkinan kota-kota lain juga akan terkena virus gerakan ini, yang konon sebagai media mencari remah-remah pahala yang di ridhoi-NYA.

Semua peralatan dan segala keperluan untuk mendukung gerakan diupayakan secara mandiri, patungan seikhlasnya, mengedepankan kebersamaan dan kesetaraan tanpa paksaan. Sekecil apapun, semua berperan untuk mensukseskan gerakan yang dipercaya bernilai pahala.

Dengan demikian, semuanya ikhlas tidak dibayar, malah banyak keluar uang. Rela meninggalkan keluarga untuk menyiapkan segalanya, hanya dapat kopi dan gorengan saja. Kalau lagi beruntung dapat nasi bungkus dari hamba Alloh. Anehnya kok ya mau dan tidak nggerundel, dan anehnya lagi, semua pelakunya merasa bahagia, tertawa lepas tanpa dosa. Lho ya, Sungguh tidak masuk logika, tapi nyata adanya.

Ya, begitulah jiwa kesukarelawanan yang terpateri di setiap hati pecinta alam yang tergabung dalam GRRM. Semua yang dilakukannya itu bukan semata soal untung rugi, Tapi soal kebersamaan, persahabatan, rasa senasib seperjuangan serta kepedulian sosial, yang mengedepankan kepuasan batin daripada sekedar materi.

Masing-masing GRRM di setiap kota tentulah punya gaya sendiri-sendiri dalam menjalankan misi suci pergerakan ini, sesuai pengalaman berorganisasi dari masing-masing pribadi. Inillah yang kemudian akan menjadi bahan diskusi dan tukar informasi saat masing-masing anggota GRRM bertemu dalam acara tertentu, seperti halal bi halal dan perayaan ulang tahunnya.

 Konon, saat mereka bertemu itulah menjadi ajang tukar pengalaman dalam menjalankan agendanya di masing-masing kota. Dari situlah mereka belajar dan mencoba menduplikasikan pengalaman ke dalam agendanya, sesuai konsep ATM (amati, tiru dan modifikasi). sungguh itu tidak berdosa, demi memperkuat manajemen organisasinya dan kemajuan gerakan sosial keagamaan yang menjadi penyemangatnya.

 Seperti yang baru dilakukan saat digelar acara halal bi halal di Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu, Kabupaten Gresik. Sabtu-Minggu, tanggal 19 - 20 April 2025, dengan mengambil tema Silaturahmi Keluarga Besar GRRM Jawa Timur. Konon, kata yang berkesempatan hadir, disana terjadi pertukaran ide, gagasan dan saran untuk kemajuan gerakan yang dijalankan dengan jargon “Resik resik Masjid, Resik resik Ati, Istiqomah”.

Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Rabu-23042025].

 

 

   

Minggu, 09 Maret 2025

WARKOP KAPTEN TEMPAT NYAMAN UNTUK JAGONGAN

 Di jalan swadaya nomor 36-8, Dusun Bangah Barat, Kelurahan Bangah, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, terdapat warung kopi (warkop) yang baru beroperasi beberapa bulan, namun ramainya tidak ketulungan, khususnya di waktu jam kerja,

 Seperti warkop lainnya, menu utama yang dijual ya wedang kopi dan gorengan. Ada juga kerupuk, keripik dan berbagai minuman sasetan, dan lainnya. Meja kursinya seadanya tapi nyaman untuk nyruput wedang kopi dan nyakoti gorengan. Tempatnya lumayan bersih, dan yang terpenting toiletnya bersih tidak bau pesing.

 Namanya warkop kapten, milik Om Sariyanto, yang lebih dekenal dengan panggilan kapten gendeng prasojo. Orangnya kalem, berambut gondrong terlihat sangar, tapi ngangeni (kata beberapa cewek anggota komunitas yang sering jagongan di warkopnya kapten).

 Ya, warkop kapten disepakati menjadi basecamp formalitas (forum bersama lintas komunitas), karena lokasinya dianggap strategis. Apalagi pemilik warkop juga sangat “welcome” terhadap anggota formalitas. Bahkan tidak jarang secangkir kopi hitam panas dihidangkan dengan gratisan kepada mereka yang terpilih.

 Sebagai basecamp tentunya beberapa kegiatan formalitas diadakan di warkop. Seperti rapat, kopi darat yang di dalamnya ada edukasi tentang kepecinta alaman, dan kegiatan formalitas lainnya. Semua dilakukan dengan konsep gotong royong mengedepankan kebersamaan dan kesetaraan. “Duduk sama rendah Berdiri sama tinggi”.

 Ya, jagongan di warkop kapten juga pernah di selenggarakan musyawarah bersama yang mengundang para senior dan pendiri formalitas, serta ketua komunitas yang tergabung di formalitas. Jumlahnya hampir 500 komunitas (yang tercatat di buku catatan). Sungguh, seandainya semua ketua komonitas hadir pasti warkop kapten penuh sesak duduk berdesak.

 Walaupun tidak memenuhi kuorum, mubes tetap berjalan dengan agenda membahas anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, perpanjangan waktu kepengurusan, melengkapi susunan pengurus yang sampai sekarang banyak bidang/seksi yang masih dibiarkan kosong.

 Termasuk membahas usulan salah seorang senior untuk mengembalikan marwah berdirinya formalitas sebagai wahana edukasi untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan anggota komunitas yang tergabung di dalam wadah formalitas. Tinggal mencari siapa pelaksananya, narsumnya, tempatnya dan pesertanya.

 Dalam mubes juga disinggung tentang program formalitas di bulan ramadhan. Seperti Sahur on The Road, Berbagi Takjil, dan Santunan Yatim Piatu. Namun ada yang menghendaki agar volume kegiatan dikurangi, untuk memberikan kesempatan kepada komunitas untuk menanganinya, sedangkan formalitas cukup “mangayu bakyo tut wuri handayani”.

 Kini mubes telah telah berlalu dengan beberapa kesepakatan yang harus dilaksanakan oleh pengurus. Semoga pengurus dapat mewujudkannya, termasuk segera melengkapi struktur kepengurusan dengan personil yang punya komitmen, bukan sekedar “titip nama tanpa karya”.

 Salah satu yang telah diwujudkan adalah menggelar acara Sahur on The Road di hari Minggu dini hari (09/03/2025), dengan pusat kegiatan di warkop kapten. Di bawah komando Bunda Viani semua yang berkesempatan hadir bergotong royong mengikuti proses memasak dengan menu yang telah disepakati.

 Ada yang bantu merajang sayur dan cabe merah, ngulek bumbu, mendinginkan nasi dengan cara diwolak walik, menyiapkan tempat dan lainnya. Termasuk nggodok banyu  gawe wedang kopi.

 Jam 02.00 dini hari gelar Sahur on The Road dimulai, semuanya siap beraksi membagikan nasi bungkus dan air kemasan kepada mereka yang berhak menerima. Routenya sesuai dengan arah pulang masing-masing personil. Karena setelah membagikan tidak kembali ke warkop kapten, namun langsung pulang ke rumah masing-masing.

 Barokalloh, semoga mereka yang menyempatkan diri hadir di warkop kapten dalam rangka giat Sahur on The Road mendapat limpahan pahala ramadhan. Wallahu a’lam bishowab.[eBas/Senin-10032025]

 

 

 

 

  

Jumat, 28 Februari 2025

JAMAAH LC IKUT ACARA KONSULTASI PUBLIK RENJA BPBD SURABAYA TAHUN 2026

 Sungguh, tidak ada salahnya jika Jamaah LC (Lorong eduCation) mengucapkan terimakasih kepada Pak Yanu, selaku kabid PK BPBD Kota Surabaya, yang telah memberi kesempatan mengikuti Rapat Forum Perangkat Penyusunan Rencana Kerja Tahun Anggaran 2026 dan Forum Konsultasi Publik tentang Standar Pelayanan BPBD Kota Surabaya. Rapat ini diselenggarakan di pendopo Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya, Kamis (27/02/2025).

 Dengan mengikuti kegiatan ini, Jamaah LC menjadi tahu bahwa visi BPBD Kota Surabaya adalah Mewujudkan Ketangguhan terhadap Bencana dan Berkelanjutan. Sementara misinya adalah, Memperkuat budaya sadar bencana, Melaksanakan sinergi stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana, dan Mengembangkan sistem penanggulangan bencana berbasis sains dan teknologi.

 Mungkin, dari visi misi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam program inovatif tahun 2026 yang menjadi rencana kerja dan dibahas dalam rapat yang mendatangkan akademisi dari ITS, yang sekaligus sebagai moderator.

 Inilah bentuk transparansi program BPBD, sehingga Komunitas relawan dapat mengetahuinya, untuk kemudian dapat membangun aksi kolaborasi antar keduanya dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan di bidang kebencanaan.

 Adapun program inovasi itu adalah, TRC multisektor sesuai Perka BNPB, Pelatihan materi dan praktek rehab rekon personil pawana, pelatihan teori dan praktek telemedecine personil CC Room 112. dukungan dana untuk kegiatan ini diajukan sekitar Rp. 22.940.494.448,-

 Juga ada program Pelaksanaan F-PRB secara berkala, Pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana di 31 Kawasan, Penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana (RPB) skala Kota. Dukungan dananya pada kisaran Rp. 318.200.000,-.

 Ada juga Pelatihan gedung bertingkat tanggap bencana, Pelatihan dan sosialisasi terpadu warga bantaran sungai. Ini diperlukan anggaran Rp. 1.050.751.647.

 Sementara itu, peserta rapat yang terdiri dari berbagai pihak itu juga tahu kegiatan bidang pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya. Seperti mengadakan pelatihan pencegahan dan mitigasi bencana Kabupaten/Kota, Penyediaan peralatan perlindungan dan kesiapsiagaan terhadap bencana, dan Penguatan kapasitas kawasan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan.

 Program diatas itu sangat diperlukan. Mengingat bahwa BPBD Surabaya itu tugasnya mengampu semua jenis bencana dan masalah darurat sosial yang menimpa warga. Tugas-tugas ini didukung oleh berbagai OPD terkait, serta masyarakat dan media yang peduli Kota Surabaya. Untuk itu diperlukan kolaborasi pentahelix dalam upaya membangun budaya tangguh bagi warga kota Surabaya.

 Terkait dengan program Pelaksanaan F-PRB secara berkala dengan dukungan banyak dana, kalaksa BPBD Surabaya, dalam paparannya sempat bilang bahwa masalah pembentukan forum, kalau tidak salah dengar, masih akan dibahas lebih mendalam lagi, entah kapan, yang penting akan dibahas.

 Semoga saja pembahasannya dilakukan dengan melibatkan elemen pentahelix, seperti yang diatur dalam pedoman pembentukan F-PRB. Begitu juga dengan rencana penyusunan dokumen kajian risiko bencana, rencana penanggulangan bencana dan renkon serta dokumen pendukung lainnya, hendaknya juga melibatkan para pihak.

 Yang jelas semua program inovasi tahun 2026 dengan dukungan dana yang tidak sedikit, yang dipaparkan kalaksa itu masih perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan salah tafsir.

 Disampaikan juga bahwa dalam melakukan edukasi dan sosialisasi program pengurangan risiko bencana, sesungguhnya diperlukan peran serta berbagai pihak, namun nyatanya masih belum ada upaya pelibatan dikarenakan belum terjalinnya komunikasi dan koordinasi yang sejuk untuk membangun kesepahaman.

 Jika daerah lain bisa, mengapa Surabaya sulit ?. Erick, salah satu peserta dari Lorong eduCation bilang, perlu ada acara jagongan bareng secara informal sambil ngopi, nyemil dan ngudud untuk mencoba mengurai kendala yang ada.

 Masalahnya kemudian, siapa yang layak untuk memulai mengajak jagongan ?. Kalau yang memulai mengajak dari relawan, tampaknya kurang menarik. Karena sudah beberapa kali mencoba dan nyatanya tidak ada respon positif, babar blas gak direwes karena masih berfikir untung rugi.

 Paling tidak Jamaah LC yang berkesempatan mengikuti acara rapat konsultasi publik, dapat menyampaikan informasi yang didapat kepada anggotanya untuk dibahas bersama, dan jika memungkinkan membuat semacam rekomendasi yang disampaikan ke BPBD sebagai bahan untuk penyempurnaan rencana kerja tahun 2026. wallahu a’lam bishowab. [eBas/Jumat malam usai tarawih pertama- 28022025]    

 

 

 

 

 

 

Minggu, 23 Februari 2025

ADAKAH TINDAK LANJUT PASCA RAKOR

 Menjelang bulan ramadhan tahun ini, BPBD Provinsi Jawa Timur memfasilitasi F-PRB dan SRPB menggelar rapat koordinasi (rakor) yang diikuti oleh yang diikuti oleh wakil organisasi mitra masing-masing. F-PRB bertempat di Hotel Movenpick, dan SRPB menempati Hotel Leedon.

 Dalam amanatnya, Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur berharap agar semua komponen relawan turut serta melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan dalam rangka mengurangi risiko bencana di berbagai daerah di Jawa Timur, yang semakin hari semakin meningkat dengan kerugian yang semakin banyak ragamnya.

 Kemudian, dalam rangka memeriahkan peringatan bulan PRB tingkat nasional tahun 2025, dimana Jawa Timur menjadi panitianya, diharapkan semua pihak, baik yang tergabung di F-PRB maupun SRPB, diharapkan dapat menyatukan langkah menuju bulan PRB di Jawa timur, dengan fokus kegiatan pada bersih-bersih sampah dan penanaman pohon, sebagai upaya mengurangi potensi banjir dan longsor, serta melakukan edukasi/sosialisasi PRB kepada masyarakat untuk membangun budaya tangguh.

 Rakor ditahun yang bershio ular kayu ini, semua pesertanya mendapat Jaket mbois Limited Edition yang tidak dijual secara online. Dengan berseragam jaket eksklusif ini, peserta berhasil menelorkan beberapa hasil yang konon akan ditindak lanjuti. Baik untuk laporan maupun untuk keperluan lain.

 Terkait dengan tindak lanjut rakor, kira-kira program apa yang akan dilakukan oleh masing-masing pihak, sebagai cerminan hasil rakor, selain bersih sampah dan penanaman pohon, yang senyatanya sudah dilakukan oleh banyak pihak.

 Hal ini mengingat bahwa, dalam sebuah postingan di grup whatsapp, ada yang bilang bahwa materi yang dibahas dalam rakor terlalu ringan, kerana materi tersebut sudah dibahas sejak tahun 2004 dalam UNDRR. Sehingga yang datang hanya Golongan L3 yaitu Lu Lu Lagi, every year. Ya macam inilah Relawan PRB Jawa Timur.

 Pertanyaannya kemudian, mengapa ada anggapan rakor hanya diikuti oleh golongan L3 ?. mungkin karena orang-orang ini adalah orang yang loyal dan mudah dihubungi, los gak rewel. Namun bisa juga dalam sebuah organisasi, semua anggotanya sibuk, tidak dapat mewakili rakor. Sehingga, dari pada tidak terwakili maka yang hadir ya itu lagi itu lagi.  Hal inilah yang perlu disadari oleh semua pihak, agar tidak timbul sakwa sangka yang tidak sehat.

 Namun kenyataannya, memang ada praktek yang mengakomodasi ikutnya golongan L3, dengan berbagai alasan yang  mengorbankan anggota mitra yang sulit dihubungi (dianggap tidak aktif), dalam rangka mengamankan kuota sesuai aturan penggunaan anggaran untuk memperlancar proses penyusunan laporan.

 Postingan ini semoga tidak dianggap angin lalu, namun perlu dijadikan bahan evaluasi, mengapa golongan L3 ini selalu ada, dan apakah tidak ada upaya untuk meniadakannya dalam rangka memberi kesempatan kepada yang lain untuk ikut serta menikmati fasilitas gratisan yang menyenangkan.

 Yang jelas, pasca rakor, masing-masing pihak mulai unjuk karya melakukan kegiatan bersih-bersih sampah di sungai, maupun penanaman di berbagai tempat yang dianggap rawan bencana. Tidak lupa mereka juga mendokumentasikan melalui berbagai media.

 Tentu, dari banyaknya hasil unjuk karya itu, nantinya akan diseleksi, mana yang layak ditampilkan dalam agenda perhelatan peringatan bulan PRB tingkat nasional tahun 2025. Layak disini diantaranya (mungkin) yang mengandung unsur kreatif, inovatif, kemenarikan, kebermanfaatan, kesinambungan dan sebagainya sesuai kriteria yang ditentukan oleh tim panitia. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Senin-24022025]