Selasa, 24 September 2024

SEPENGGAL KENANGAN MINGGU PAHING 24 SEPTEMBER 2024

 Malam ini, hari ke dua pasca Aksi Resik Kali Suroboyo, rasanya badan masih capek dan bayangan aneka jenis sampah masih lekat dengan baunya. Ada pempers, ada softext, ada tas kresek. Juga ada bantal, gombal, suwal, terpal dan lainnya. Saking banyaknya, dapat dipastikan tidak mungkin ditangani secara manual dan dalam tempo sehari.

 Sambil melihat postingan dan komentar di grup whatsapp, dapat dipastikan ada senyum tersungging mengamati tingkah polah mengevakuasi sampah yang berhasil diabadikan. Mungkin juga ada yang tidak sempat difoto atau kefoto karena kesibukannya yang lepas dari perhatian ‘paparazi’. Ya begitulah romantika kegiatan kolaborasi antar pihak.

 Sungguh, romantika Aksi Resik Kali Suroboyo kali ini sangat beragam dan indah untuk dikenang sebagai bahan pembelajaran giat kolaboratif selanjutnya. Seperti, saat rebutan roti dari BPBD Jawa Timur, saat antri minuman segar, saat menunggu nasi kotak, saat ngopi sambil melihat temannya bermain perahu karet berburu sampah. Juga saat berkumpul di basecamp yang banyak nyamuknya, dan saat cemas ketinggalan tas di basecamp LC dan sebagainya.

 Pasti semuanya, termasuk aktivitas di Kali Tebu Sidotopo Wetan dan Kali Jati Srono Wonokusumo, membawa kesan tersendiri, yang mungkin akan menjadi kenangan yang terindah di medio akhir tahun 2024.

 Kini, semua telah kembali ke aktivitas masing-masing. Tentunya sambil menunggu informasi tentang E-Sertifikat yang akan diinformasikan di grup whatsapp (mungkin juga sambil senyam senyum memandangi aneka foto dan membaca komentar yang diposting di grup),

 Dari berbagai pengalaman yang dialami masing-masing pribadi selama mengikuti aksi mengevakuasi sampah di kali, tentunya akan menarik jika kawan-kawan sudi menuliskan untuk kemudian nantinya dibukukan sebagai upaya mendokumentasikan kegiatan kolaboratif yang digagas di Basecamp LC dibawah komando Erick Inavor dan Dhani LMI.

 Tulisannya bebas, dalam bentuk cerita dengan menggunakan bahasa keseharian. Minimal 150 kata. Semua pasti bisa menulis. Karena, sesungguhnyalah tulisan itu adalah bentuk lain dari ‘omong-omongan’ yang di dokumentasikan dalam tulisan.

 Semoga kegiatan Aksi Resik Kali Suroboyo ini Bukan sebuah kegiatan yang hanya sekali kemudian mati. Namun ada kelanjutannya, entah siapa yang akan menjadi ‘promotornya’. itu semua bisa diatur dengan saling berkomunitasi dan berkoordinasi.

 Makanya, jika memungkinkan grup whatsapp Pasukan Aksi Resik Kali Suroboyo ini janganlah bubar. Mari jadikan grup ini sebagai media saling berkomunikasi, berbagi informasi dan menggagas kerja-kerja kemanusiaan secara kolaboratif. Salam Tangguh. [eBas/SelasaWage-24092024]   

 

 

 

 

 

   

Rabu, 18 September 2024

PERINGATAN BULAN PRB HANYA UNTUK ELIT BUKAN UNTUK KELASNYA MUKIDI.

 Sejak digaungkan rencana peringatan bulan pengurangan risiko bencana (PRB) di Provinsi yang dijuluki Serambi Mekah, Mukidi sudah pesimis tidak dapat hadir di lokasi, disebabkan tidak punya dana untuk transportasi dan akomodasi. Sebenarnya Mukidi pingin nebeng pesawat pribadi kayak tetangganya, tapi jelas tidak mungkin karena pesawatnya ke Amerika, bukan ke Aceh.

 Menyadari ketidak berdayaannya, Mukidi yang selalu ingin menambah wawasan, berusaha mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan acara di Aceh. Yaitu kegiatan webinar dalam rangka KN-PRBBK ke 16 yang diselenggarakan oleh berbagai pihak, sejak bulan juli 2024 secara daring (online) di beberapa region. Termasuk region jawa.

 Dari mengikuti beberapa webinar, Mukidi semakin bertambah koleksi materi webinar dan tentu saja piagam (biasanya panitia menyediakan dalam bentuk E-Sertifikat). Namun Mukidi tetap tidak paham tentang segala materi yang dijadikan tema webinar dengan mengundang para pakar.

 Ya, dimaklumi sajalah, Mukidi kan ‘Wong nDeso’ tidak berani melakukan pendekatan untuk mendapat kesempatan seperti mereka yang pandai menjilat yang berbuah jabatan dan kesempatan.

 Ya, itulah bodonya Mukidi yang tidak dapat beradaptasi di jaman uang penuh basa basi. Jaman yang konon orang salah dianggap benar dan yang benar wajib digampar. Benar dan salah apa kata suara terbanyak. Sikap Like and dislike pun didasarkan kedekatan relasi dan emosi, bukan nurani.

 Mengawali pagi, sambil minum kopi di warkop langganan, Mukidi membuka Whatsapp. Membaca satu satu postingan dari teman-temannya. Salah satunya adalah yang di forwarded mBah Darmo di grup FPRB Jatim Kuat 1, dimana anggotanya sejumlah 331 orang dari berbagai komunitas, namun hanya sebagian kecil yang aktif memposting dan berkomentar.

 Adapun yang di forwarded mBah Darmo adalah undangan untuk menghadiri peringatan bulan PRB tanggal 8 - 10 Oktober 2024 di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Kota Banda Aceh, dalam rangka mempromosikan budaya PRB.

 Dalam undangan itu disebutkan juga bahwa pembiayaan perjalanan dinas bulan PRB menggunakan anggaran masing-masing instansi dan untuk peserta dari BPBD se indonesia, agar mendaftar melalui microsite  melalui link, https://bit.ly/BulanPRBAceh2024, atau pindai Barcode.

 Sambil menggigit pelan rondo royal kesukaannya, Mukidi bergumam, jelas yang dapat memenuhi undangan itu hanyalah mereka yang punya anggaran. Memang perhelatan itu hanya untuk konsumsi mereka, untuk para elit bukan untuk kelasnya Mukidi yang sama sekali tidak diperhitungkan.

 Namun panitia masih berbaik hati, untuk memfasilitasi kaum rentan seperti Mukidi, disediakan media online. Diantaranya seperti webinar, zoom meeting, Instagram, dan youtube. Ya melalui media inilah orang sekelas Mukidi mendapat pencerahan terhadap isu-isu baru tentang kebencanaan. Termasuk diksi akan datangnya gempa megathrust yang tinggal menunggu waktu.

 Walaupun tidak mungkin, Mukidi masih berharap keajaiban dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, agar dapat nebeng pesawat ke Banda Aceh untuk menikmati indah dan rancaknya tari saman dan Kuburan Massal Korban Tsunami.

 Namun Mukidi tahu diri bahwa Tuhan tidak merestui. Untuk itulah dia hanya berharap agar pelaksanaan peringatan bulan PRB tahun 2024 di Aceh ini dapat diselenggarakan dengan baik dan benar sesuai anggaran yang dikucurkan pemerintah.

 Janganlah sampai terjadi ‘masalah konsumsi’ seperti dalam penyelenggaraan PON XXI di Aceh dan Sumatera Utara. Dengan dalih apapun itu sungguh memalukan. Bukti panitia kurang siap dan tidak tanggap bencana (kelaparan dan kekecewaan), yang tentu saja akan menjadi kenangan menyebalkan bagi atlit yang menjadi korban. [eBas/KamisWage-19092024]

 

 

 

 

 

Minggu, 01 September 2024

POSTINGAN CERDAS ITU MENARIK UNTUK PEMBELAJARAN

 Sebenarnya saya malas membaca postingan dan komentar di grup whatsapp, yang sering kali hanya pamer foto bersama pejabat, komentar basa basi yang slengek’an dan perang gambar, perang dalil dan kata-kata bijak lainnya, yang semuanya berbasis copy paste dan forward, yang tidak mencerdaskan.

 Namun ternyata di awal bulan September ini, aneka komentar cerdas dan menggelitik muncul bersahutan di grup whatsapp PRBBK Indonesia. Sebuah pertukaran komentar yang sangat menginspirasi untuk dijadikan bahan diskusi sambil ngopi.

 Entah bagaimana awal mulanya, yang jelas postingan Bambang wong Pacitan, tentang pengenalan SPAB di sekolah, sangat menarik untuk dibaca. Dia bilang, Jika  mau, simulasi sebenarnya tidak butuh biaya. Misal, Pada awal tahun pelajaran (misal di MPLS) , ajak anak-anak melakukan pemetaan sekolahnya dengan metode School Watching, ajak anak membuat denah sekolah, buat tanda dimana tempat" yang berbahaya disekolahnya, potensi bencananya apa, buat jalur evakuasi mandiri. Buat diskusi hasil kegiatan ini dengan menghasilkan SOP. Setelah itu, hasil school watching ini disimulasikan bersama.

 “Ini saya lakukan tiap awal tahun dan tidak perlu biaya sama sekali,” Kata Bambang yang berprofesi sebagai pengajar.

 Pria yang aktif di MDMC, juga bilang bahwa untuk membuat kegiatan SPAB ini dalam kegiatan P5 dalam tema Gaya Hidup Berkelanjutan di akhir semester 1, untuk kembali mengevaluasi SOP yang kita buat bersama anak pada waktu awal tahun.

 “Jika memang sekolah membutuhkan dana untuk SPAB, bisa didanai lewat BOS melalui kegiatan P5 ini (Misal, untuk pembuatan tanda tanda jalur evakuasi dll),” Katanya tanpa menyebut apa itu kepanjangan dari P5.

 Masih kata Bambang, sebenarnya guru bisa menyelipkan materi SPAB (pengetahuan kebencanaan) di beberapa pelajaran, misal bahasa Inggris/Indonesia, melalui teks prosedur. IPA, IPS, Agama, Olahraga dll. Tinggal berani tidak si guru menyelipkannya.

 Dikatakan pula, mindset yang ada saat ini, guru dan sekolah menganggap SPAB itu identik dengan SIMULASI, padahal SPAB tidak melulu harus simulasi (apalagi besar besaran yang melibatkan orang di luar sekolah).

 Implememtasi SPAB bisa dilakukan dengan memasukkan materi" kebencanaan di kegiatan kokurikuler, intra dan ekstra kurikuler, bisa pula dengan pemetaan kawasan rawan disekolah (memetakan bangunan mana disekolah yang rawan) dll.

 Apa yang dikatakan Bambang ini sangat bagus sekali jika pihak sekolah “berani” mengikuti nasehat Bambang. Masalahnya, masih banyak sekolah yang lebih menunggu arahan dan kebijakan atasan daripada nuruti gagasannya seorang Bambang yang bukan pejabat.

 Kemudian muncul komentar Natalia Tehuajo, yang bercerita pengalamannya. Dia bilang, Setelah tugas dari Bima, pindah ke Larantuka. Disana, Dia minta slot 1 sekolah di desa dampingan untuk membentuk Duta anak siaga Bencana. Salah satunya malah di kirim ke Jakarta untuk presentasi di arena acara bulan PRB tahun 2012/2013. 

 “Dia presentasi bersama anak utusan dari Lombok. Mereka berbagi cerita di panggung bulan PRB tentang apa yang mereka lakukan sebagai Duta Anak,” Kata wanita asal Ambon ini.

 Wanita enerjik ini juga cerita saat Dia bersama LP2DER membantu BPBD Kota Bima, membentuk team Pelatih anak (Tutor Sebaya) untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Salah satu materinya adalah  jurnalistik dan foto grafer, dengan menggandeng nara sumber lokal.

 “Mereka berlatih ambil gambar tentang titik rawan/potensi rawan bencana, kemudian menarasikan dan di publish di media Lokal Kota Bima, untuk advokasi,” Katanya.

 Natalia, yang pernah aktif di Save the Children,  menambahkan, dulu, tahun 2010-2011, Dia mengupayakan program DRR/PRB dalam bidang pendidikan, melatih guru-guru agar dapat menciptakan silabus ajar bermuatan PRB dan berbasis kearifan lokal.

 Cerita panjang dari perempuan yang aktif berorganisasi ini, disambung dengan komentarnya Adilla, dari Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan. Dia bilang secara rutin melaksanakan kegiatan MPLS untuk mitigasi kebencanaan, dengan melibatkan BPBD Sidrap, melakukan edukasi kebencanaan untuk SPAB partisipatif.

 Sungguh, postingan hari ini sangat berarti untuk menambah wawasan, bukan komentar kacangan yang tidak sesuai latar belakang pendidikan. Bahkan “Nona Ambon” ini juga mengingatkan bahwa kerja relawan itu tidak mudah. Butuh prinsip, tekad, dan benar-benar tulus dari hati. Karena, Kerja relawan itu harus rela berkorban, dan perlu memperluas jejaring kemitraan.

 Dia juga memberi contoh bagaimana membuat silabus untuk sebuah kegiatan. Misalnya kegiatan tentang "Kesiapan Siagaan Menghadapi Megatrusth" yang katanya tinggal menunggu waktu.

 Maka harus ditentukan langkahnya. Seperti menjelaskan Apa itu Megatrusth dan Apa itu Gempa. Kemudian menjelaskan penyebab dan dampak yang menyertainya. Terus Apa yang harus dilakukan menghadapi Megatrusth.

 Setelah itu diadakan diskusi interaktif untuk membuat kesepakatan bersama tentang apa saja yang harus dilakukan jika terjadi megathrust. Seperti penentuan titik kumpul, menyiapkan tas siaga, apa yang harus dilakukan dan siapa saja yang harus dihubungi

 “Silahkan dikembangkan sendiri sesuai kearifan lokal, yang tentunya dimasing-masing daerah akan berlainan,” Pungkasnya. Sebuah postingan dan komentar cerdas seperti inilah yang seharusnya berseliweran di grup whatsapp. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SeninPahing-02092024]

 

WAKTUNYA MENUNGGU MEGATHRUST DENGAN CERIA

 Hari ini, minggu legi (01/09/2024), Vina Panduwinata, si pelantun lagu september ceria, mengingatkan agar kita menyambut bulan September dengan penuh ceria.  Dalam salah satu baitnya, si Burung camar mengatakan, “Kasih, kau singkap tirai kabut di hatiku//kau isi harapan baru untuk menyongsong harapan bersama//september ceria milik kita bersama”.

 Sayangnya, di penghujung bulan September terjadi “Ontran-ontran nasional” gegara partai komunis indonesia melakukan kudeta berdarah yang membunuh para pahlawan revolusi, sehingga menyulut amarah rakyat untuk membalas dengan melakukan pembantaian dimana-mana.

 Ah, tidak usah dibahas, itu hanya sejarah hitam bangsa Indonesia. Kini, diawal bulan September, ketika masyarakat yang bediam di pesisir selatan pulau Jawa dan Sumatera dihimbau untuk menyambut datangnya megathrust yang tinggal menunggu waktu, Mungkin salah satu lirik september ceria bisa diplesetkan menjadi, “di pucuk kemarau panjang yang bersinar menyakitkan, tinggal menunggu waktu kau datang menghantar berjuta derita”.

 Ya, mau tidak mau masyarakat yang berdomisili di daerah yang berpotensi megathrust harus siap menghadapinya sesuai informasi yang diterima. kemuidian siap mengantisipasi, siap memproteksi, siap beradaptasi, dan meningkatkan kapasitas agar memiliki daya lenting pasca megathrust.

 BNPB pun tidak tinggal diam. Menghadapi situasi kegawat daruratan, yang tinggal menunggu waktu, keluarlah surat bernomor B-399/BNPB/D-II/BOP.03.02/08/2024, tanggal 23 Agustus 2024, tentang langkah-langkah kesiapsiagaan zona megathrust.

Isi surat tersebut diantaranya adalah tentang perlunya upaya kesiapsiagaan dalam bentuk mitigasi struktural, maupun non struktural, seperti membangun kapasitas masyarakat dalam melakukan aksi dini untuk selamat jika terjadi gempa dan tsunami. Termasuk juga mengecek kesiapan alat peringatan dini, Tempat Evakuasi Sementara dan Tempat Evakuasi Akhir, Papan informasi, serta keberadaan rambu-rambu dan jalur evakuasi.

 Kemudian yang lebih penting lagi, dan harus disambut dengan ceria (penuh harap), adalah BNPB menghimbau diadakannya edukasi, sosialisasi dan literasi kepada masyarakat sebagai upaya oeningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap risiko gempa dan tsunami. Termasuk meningkatkan koordinasi antar pihak.

 Sungguh, masyarakat harus bersiap diri (penuh harap) dengan ceria menerima edukasi, sosialisasi dan peningkatan literasi kebencanaan yang akan dilakukan oleh BPBD, atau pihak yang ditunjuk. Kira-kira bentuknya model “Hit and Run” atau model pendampingan yang manusiawi ?. Just wait and see.

 Ya, kira-kira kapan surat edaran dari BNPB tertanggal 23 Agustus 2024 itu ditindak lanjuti dalam bentuk penyuluhan atau pelatihan, agar masyarakat di daerah pesisir dapat bersiap diri dengan ceria menyambut datangnya megathrust yang tinggal menunggu waktu.

 Semoga saja himbauan BNPB itu juga disertai dengan anggaran pendukungnya, agar para pihak yang akan terlibat dalam sosialisasi, edukasi dan literasi bersemangat melakukannya (bahkan rebutan untuk dilibatkan). [eBas/ndleming minggu sore durung ngopi]

 

 

 

    

 

 

 

Kamis, 29 Agustus 2024

MEGATHRUST DAN MEGATRON

 Kalau tidak salah, di bulan Agustus ini muncul istilah baru. Yaitu megathrust dan megatron. Yang satu mengabarkan akan terjadinya bencana yang maha dahsyat dengan dampak hancurnya harta benda dan puluhan mahluk hidup yang akan meregang nyawa karena terlambat menyelamatkan diri.

 Sementara yang satu lagi, mengabarkan tentang sebuah prestasi hebat luar biasa dari seorang perawan kelahiran Jember, yang mengharumkan indonesia dikancah per-voli-an di tingkat nasional maupun di liga Voli Korea.

 Menurut berita yang bertebaran di media, dikatakan bahwa megathrust yang tengah hangat diperbincangkan itu, biasanya terjadi di dasar laut, dan di sepanjang zona subduksi ini. Tekanan akibat pergerakan lempeng yang menumpuk selama ratusan tahun, kemudian dapat dilepaskan tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi yang dasyat.

 Ada juga yang bilang bahwa gempa megathrust adalah gempa bumi berskala besar yang bersumber di zona subduksi atau zona megathrust. Sedangkan megathrust itu sendiri merupakan zona pertemuan dua lempeng tektonik bumi. Salah satu lempeng menyusup atau terdorong ke bawah lempeng tektonik lainnya.

 Konon, potensi bencana megathrust itu memang harus diwaspadai, karena berpotensi terjadinya tsunami. Saking bahayanya, lembaga yang punya mandat untuk menginformasikannya, sampai menggunakan kata “tinggal menunggu waktu”. seolah-olah dalam waktu yang tidak lama, dalam hitungan hari atau minggu akan terjadi gempa besar.

 Padahal, Menurut Daryono, seorang pejabat di BMKG, mengatakan bahwa, hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dengan tepat dan akurat mampu memprediksi terjadinya gempa (kapan, dimana, dan berapa kekuatannya).

 “Sehingga, kita semua juga tidak tahu kapan gempa akan terjadi, sekalipun tahu potensinya,” lanjutnya.

 Penggunaan kata “tinggal menunggu waktu” itu sebaiknya tidaklah digunakan, karena meresahkan. Atau mungkin, ada maksud tertentu dibalik kata “tinggal menunggu waktu”. Ya, semoga tidak begitu.

 Ya, sebaiknya pemerintah yang menangani masalah kebencanaan, mengajak para pihak (dalam hal ini Forum PRB) untuk bersama melakukan  upaya mitigasi secara intensif di daerah yang berpotensi terjadi megathrust. Baik itu di tingkat individu, keluarga, masyarakat, hingga pemerintah, dalam rangka membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan menghadapi bencana.

 Melalui sosialisasi PRB, masyarakat diajari tentang apa yang harus dilakukan jika ada bencana, barang-barang apa saja yang harus diprioritaskan untuk diselamatkan dengan menggunakan tas siaga bencana, siapa saja yang harus ditolong saat terjadi bencana dan kemana harus menyelamatkan diri, apa yang harus dilakukan saat ditempat pengungsian, dan apa yang harus dilakukan pasca bencana.

 Sementara, konon, badan nasional penanggulangan bencana (BNPB), dibantu beberapa pihak, sedang, dan akan terus membangun sistem peringatan dini yang tersebar di hampir semua zona megathrust di Indonesia.

 Pembangunan ini meliputi sirene, rambu-rambu evakuasi bencana dan sebagainya, yang tersebar di 182 desa. Selain itu, BNPB juga telah menyiapkan buku panduan tentang aneka bencana, peta evakuasi, mulai dari ancaman, kerentanan, hingga kemana masyarakat harus melakukan evakuasi.

 Semoga, apa yang telah diperbuat BNPB, dapat ditindak lanjuti oleh BPBD di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta para pihak terkait yang punya program memberdayakan masyarakat di tingkat tapak terkait dengan kebencanaan. Itu yang penting, dari pada menakut nakuti dengan kata “tinggal menunggu waktu”.

 Sudah sekitar dua minggu ini, masyarakat berharap-harap cemas menunggu datangnya waktu yang dimaksud. Mungkin juga sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD dan Instansi terkait juga sudah mulai ‘menggeser logistik’ ke titik yang terdekat dengan lokasi yang diperkirakan akan mengalami kehancuran karena megathrust.

 Sementara itu megatron, sang bintang voli dari Jember konon telah terbang ke Korea untuk membela Daejeon Red Sparks, yang mengontraknya dengan bayaran mahal. Semoga kedatangan Megatron menjadi ancaman bagi lawan-lawannya untuk meraih kemenangan.

 Sedangkan untuk Megathrust, semoga tidak jadi datang, agar masyarakat tidak galau dengan kata “tinggal menunggu waktu”, yang ngeri-ngeri sedap itu. Ngeri bagi penyintas dan sedap bagi mereka yang nantinya memegang proyek rehab rekon pasca megathrust.

 Mari kita nantikan, apakah kata “tinggal menunggu waktu” yang dicetuskan oleh si Anu beberapa waktu yang lalu itu, akan menjadi kenyataan, atau hanya upaya menggugah kesadaran akan adanya potensi bencana besar yang mematikan. [eBas/KamisPon-29082024]  

 

 

 

 

 

Kamis, 22 Agustus 2024

PROGRAM PENANGGULANGAN BENCANA DI TINGKAT TAPAK ITU PERLU DANA

 Hari ini, Kamis Legi (22/08/2024) Rapinter menyimak webinar tentang kebencanaan. Tidak main-main, dua webinar sekaligus disimak lewat laptop dan Gawainya.

 Pertama tentang metode pengukuran pencapaian Peta Jalan PRBBK 2024 - 2044 sebagai Kontribusi dalam Pencapaian Rencana Induk Penanggulangan Bencana, yang diadakan oleh MPBI, dan satunya membahas tentang Praktik Baik HFI  Hub Sumatra Utara dalam Membangun Ketangguhan Masyarakat Pesisir dan Pulau Terpencil Indonesia.

 “Cak Muk, saya tadi ikut dua webinar sekaligus. Materinya bagus banget, dan sangat mungkin untuk di duplikasikan menjadi salah satu program organisasi kita,” Kata Rapinter kepada Mukidi, saat menikmati kopi sore hari di warkop langganan.

 “Wow kok tumben mau ikutan acaranya orang pinter. Emangnya kamu ngerti apa yang dibahas ?,” Kata Mukidi heran. Mengingat Rapinter jarang mau diajak mengikuti diskusi seperti webinar ini.

 “Hehehe …. ya ngerti to, tapi belum paham. Yang penting sudah dapat materinya yang dapat dipelajari sendiri, dan sertifikat elektronik seperti Cak Kaspo, kolektor sertifikat, hehehe,” Kata Rapinter sambil nyruput kopi kesukaannya.

 Sambil berbisik, Rapinter bilang ke Mukidi bahwa Dia sebagai relawan merasa belum pernah dilibatkan atau terlibat dalam penyusunan peta jalan PRBBK. Jangankan nyusun, mendengar saja belum pernah. Karena memang dalam rapat organisasi tidak pernah dibicarakan, apalagi di wacanakan.

 Dia juga berbisik bahwa, banyak Lembaga Swadaya Masyarakat yang memberdayakan sekaligus membangun kesiapsiagaan di tingkat tapak lewat program kebencanaan, seperti destana, ternyata perlu dukungan lembaga donor, terkait dengan pembiayaan operasionalisasi program. Seperti untuk mobilisasi warga yang dijadikan peserta, sarana prasarana pendukung program, menghadirkan pejabat untuk membuka dan menutup program, serta pengadaan konsumsi. Termasuk tindak lanjut pasca program.

 “Hehehe… ya iyalah. Tanpa dana, jelas tidak ada yang mau. Ada dana pun seringkali programnya ya seperti itu. Kalau sudah begini, terus apanya yang mau diukur dari Peta Jalan PRBBK ?,” Kata Mukidi. Jelas Rapinter tidak bisa menjawabnya.

 Mukidi, hanya tersenyum atas kebodohan Rapinter dalam membaca situasi organisasi. Sambil memegang rondo royal, Mukidi bilang kepada Rapinter, bahwa yang dapat menjalankan program seperti yang ada di webinar itu, adalah para pekerja kemanusiaan di bawah lembaga donor, yang pekerjaannya memang lebih banyak mengandalkan olah pikir untuk mencermati serta membuat regulasi dan kebijakan. Termasuk menyusun buku panduan dan sejenisnya tentang kebencanaan.

 “Mereka itu bukan relawan seperti sampiyan yang lebih sering mengedepankan semangat dalam berkegiatan di kebencanaan. Baik itu pada fase pra bencana, tenggap bencana, dan pasca bencana,” Kata Mukidi.

 Dengan kata lain, keberadaan anggaran memegang peran penting untuk menjalankan program sosialisasi dan edukasi pengurangan risiko bencana di tingkat tapak dalam rangka membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan. Yang berkesempatan menyelenggaran program beranggaran itu biasanya mereka para pekerja kemanusiaan, yang dibayar sesuai kapasitasnya.

 “Mungkin program merekalah yang nantinya akan dilihat hasilnya melalui monitoring sesuai dengan metode pengukuran pencapaian peta jalan PRBBK. Ini mungkin lho, karena saya sendiri juga tidak paham,” Kata Mukidi sambil tersenyum kecut. [eBas ndleming sore hari jelan buka puasa sunnah senin kamis-22082024]

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

Rabu, 21 Agustus 2024

MARI BER-MEGATHRUST DENGAN SUKARIA

 Akhir-akhir ini kata megathrust sedang naik daun, seiring munculnya peringatan dari BMKG (Badan Meteorologi, klimatologi dan geofisika) akan potensi gempa besar atau Megathrust, dengan tingkat kerusakan yang parah, dan tentunya juga akan memakan korban harta, benda dan nyawa.

 Konon, gempa ini paling tidak akan melanda beberapa daerah di pesisir selatan Pulau Jawa. Diantaranya,  Pangandaran, Serang, Cilacap, Gunung Kidul, Pacitan, dan Banyuwangi. Untuk itu, bagi masyarakat yang tinggal di daerah itu diimbau lebih waspada terhadap segala kemungkinan risiko gempa megathrust. 

 Namun hendaknya ada himbauan agar warga tidak perlu panik dan galau. Karena ada BPBD, yang akan dibantu oleh para pekerja kemanusiaan, dan lembaga donor yang sudah paham dengan segala macam teori, regulasi, dan aksi untuk menanggulangi bencana. Baik itu saat pra bencana, tanggap bencana, dan pasca bencana. 

 Belum lagi komunitas relawan (baik yang plat kuning maupun plat merah), pasti akan dengan gagah berani terjun ke lokasi bencana, sesuai kapasitasnya membantu melakukan pencarian, pertolongan, penyelamatan, sekaligus mengelola korban bencana agar terpenuhi kebutuhan dasarnya.

 Untuk itulah, dalam acara webinar tentang ngobrol pintar penanggulangan bencana (Ngopi-PB) 2.0, yang diselenggarakan oleh MPBI dan kawan-kawannya, menjadi penting sebagai media pembelajaran bersama upaya penanggulangan bencana yang senantiasa berubah.

 Ngopi-PB 2.0 kali ini temanya “Bagaimana sebaiknya kita ber-Megathrust”. Rabu (21/08/2024) malam. Salah satu nara sumbernya adalah Kang ET, panggilan akrab Teguh Paripurno, yang menawarkan kiat kiat selamat dari ancaman megathrust. Diantaranya, mulai melakukan pemetaan risko dan kerentanan aset, memulai merencanakan mengurangi kerentanan dengan melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan.

 Sementara itu, ada beberapa peserta webinar yang menyampaikan pendapatnya. Diantaranya, Lukas Mansawan, dari BPBD Kabupaten Supiori, Provinsi Papua. Dia bilang, jika Megathrust itu benar datang menyapa, kira-kira pihak mana yang berhak mengeluarkan pernyataan resmi untuk disampaikan kepada masyarakat.

 Sementara, Banu Subagyo, bilang, betapa pentingnya membuat “kemasan Informasi” yang jelas, lengkap, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Mungkinkah badan yang mempunyai mandat memberikan informasi (setidaknya BNPB, BMKG, dan Kominfo), berkoordinasi dan mengemas sebaik mungkin “ komunike bersama” sebelum diedarkan  ke masyarakat, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran dan kegaduhan.

 Ya, rupanya disini kemasan komunikasi dengan bahasa awam sangat diperlukan agar masyarakat dapat ber-megathrust dengan sukaria. Media pembelajaran pun juga sangat diperlukan. Seperti informasi tentang bencana dengan segala penanggulangannya melalui video pendek, komik, infografis, dan buku panduan yang mudah dipahami dan dapat melakukan tindakan yang tepat.

 Masalahnya, adalah masih adanya perbedaan dari para pemegang mandat untuk memberikan informasi bencana dalam menafsirkan megathrust dikarenakan beda tugas, fungsi dan penggunaan anggaran lembaga. Ego sektoral inilah yang harusnya dieliminir.

 Sementara itu, para pihak yang tergabung dalam F-PRB (pentahelix) hendaknya dapat menjembatani terjadinya kolaborasi untuk memberikan sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat agar terbangun kesiapsiagaan dan mitigasi secara mandiri di tingkat warga. Khususnya yang berdomisili di daerah rawan bencana.

 Jika pihak BMKG sudah mengeluarkan peringatan bahwa datangnya megathrust itu “tinggal menunggu waktu”, maka Pemerintah hendaknya sudah mulai menyiapkan pasukannya, khususnya Tentara dari unsur Batalyon Zeni Tempur, serta Detasemen perbekalan dan angkutan, untuk menyiapkan peralatannya di daerah yang diprediksikan akan disambangi megathrust.

 Begitu juga dengan Kantor/Lembaga lainnya yang memiliki keterkaitan dengan penanggulangan bencana, hendaknya juga bersiap diri. Baik personil, peralatan, dan anggarannya.

 Diakhir wedinar yang dimoderatori mbakyu Tetrie Darwis, muncul harapan agar segera dipasang alat peringatan dini (EWS), dan mendata kelompok rentan yang berada di daerah pesisir, agar mereka paham bagaimana ber-megatgrust dengan baik dan benar penuh sukaria. [eBas/KamisLegi/dinihari-22082024]