Hari sabtu (15/02/2025) siang, saat menjelang penutupan rakor bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan F-PRB Jatim tahun 2025 di Hotel Movenpick, Surabaya, mBah Darmo, selaku Sekjen F-PRB Jatim memberi pesan kepada peserta rakor, bahwa Rusaknya sebuah komunitas itu lebih disebabkan masalah internal.
Sebuah pesan yang multi tafsir, entah ditujukan kepada siapa. Tergantung siapa yang menerimanya. Apalagi mayoritas peserta rakor adalah pengurus F-PRB di daerahnya masing-masing. Sehingga pesan ini secara umum dapat diartikan sebagai peringatan kepada pengurus agar tetap menjaga soliditas antar pihak yang terlibat dalam kepengurusan.
Konon, dalam etika berkomunitas, semua anggota haruslah mentaati aturan yang disepakati bersama, dalam menjalankan tugas komunitas, hendaknya menggunakan azas kesetaraan, keterbukaan dan kebersamaan yang bertanggungjawab. Jangan sampai ada dusta diantara yang bersepakat
Mungkinkah ada laporan yang masuk ke Sekjen tentang terjadinya ketidak stabilan dalam menjalankan roda komunitas ?. jika benar, dalam hal apa dan di bagian mana yang kurang stabil, serta penyebabnya apa ?.
Harusnya jika ada masalah di internal komunitas, cukup diselesaikan sambil duduk bersama lewat media rapat yang telah disepakati bersama, sehingga tidak perlu lapor ke Sekjen yang tugasnya sudah banyak dan mengantri. Janganlah dibebani lagi.
Lilik Kurniawan, mantan sestama BNPB yang kini berpindah ke kementerian koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan, dalam acara zoom meeting, mengatakan bahwa Jawa Timur menjadi barometer upaya PRB, hendaknya harus dijaga bersama anggapan itu dengan menghindari friksi yang dapat menimbulkan masalah internal.
Setelah acara penutupan, tanpa ikut makan siang di Hotel, saya pulang sambil nganyari jaket gratisan dengan logo F-PRB Jatim ukuran L. Bagian belakangnya ada motto, “Kuat, Bermanfaat, dan Bermartabat”.
“Lho, sudah ada motto yang hebat tapi Sekjen kok masih bilang masalah internal dapat merusak komunitas. Jika benar, itu tanda bahwa motto yang ada belum dipahami bersama untuk kemudian mewarnai pelaksanaan program,” batin saya sambil memacu Revo-110 cc dengan kecepatan 40Km saja.
Mungkin, dalam agenda repat pengurus pasca ramadhan (kalau ada), alangkah eloknya jika mBah Darmo menjlentrehkan apa itu makna kuat, bermanfaat dan bermartabat. Termasuk apa itu makna dibalik kata saling menguatkan tanpa meninggalkan. Agar tidak menimbulkan masalah internal. Karena senyatanyalah, menurut bisik-bisik beberapa pengurus, semua kalimat sakti itu belum seindah warna aslinya. Semua masih tergantung kebijakan. Wallahu a’lam bishowab [eBas/Senin-17022025]

hanya mengingatkan bahwa timbulnya masalah internal itu salah satunya dipicu oleh masalah cuan dan distribusi kesempatan. maka bijaklah dalam ber organisasi agar tiadak ada dustu diantara para pengurusnya
BalasHapusYang penting adalah, Legal formal dari komunitas tersebut, karena tak jarang ketika ada yg gak suka maka komunitas tersebut akan di ambil alih.
BalasHapusOleh karenanya legal itu penting, dan satu-satunya fprb yg berbadan hukum hanya Pamekasan
Semoga semua bisa memaknai legal itu jangan dirusak apalagi mau diambil alih.
Namanya berorganisasi pasti ada saja permasalahan tinggal bagaimana pemahaman dari mitra organisasi tersebut dan aturan-aturan yang sudah di sepakati. Kalau ada masalah di internal, ada aturan untuk menyelesaikannya melalui rapat internal.
BalasHapusbiasanya faktor kesempatan dan cuan itu yang menimbulkan sikut sikutan karena kepentingan.
BalasHapusjika semua dilakukan secara terbuka dan saling memberi kesempatan maka semuanya akan nyaman
apalagi ada kopi jahe khas FRPB Pamekasan
duh nyaman ongguh tak iye