Senin, 14 Agustus 2017

LEFT ITU KELUAR DARI GRUP WHATSAPP

Sungguh sedih rasanya melihat perkembangan organisasi pasca rapat pelantikan pengurus. Bagaimana tidak?.  Dulu, saat masih menjelang rapat, banyak organisasi yang kurang dikenal tiba-tiba muncul memperkenalkan diri, merengek minta diikutkan dalam pagelaran rapat di Hotel Gratisan. Saat rapat pun, suaranya lantang menggema dengan usulan dan gagasan yang ‘cetar membahana’.

Namun setelah pagelaran rapat usai, satu persatu mereka bercerai berai entah kemana, sulit dikonfirmasi lagi saat dibutuhkan organisasi. Padahal kontribusi tenaga dan pikirannya sangat dibutuhkan untuk mendorong roda organisasi bisa berjalan sesuai visi misi dan tujuanya, demi kemaslahatan umat.

Paling tidak pasca pelantikan pengurus semua peserta rapat diharapkan tetap berkoordinasi, membuka debat tipis-tipis sambil ‘ngopi bareng ben gayeng ning hasile marem’, sehingga tercipta sebuah organisasi yang harmonis. Gesekan pendapat itu hal biasa dalam rangka membangun kesepahaman bersama.

Pertanyaannya kemudian, mengapa mereka berlaku seperti itu, hanya ‘rame ing rapat, sepi ing gawe’. Hanya suka acara seremonial, setelah itu kembali pura-pura tidak kenal. Kira-kira apa ya tujuannya mereka dulu merengek-rengek ikut rapat di Hotel ?. mungkin karena tidak mendapat peran dalam kepengurusan sehingga agendanya yang dibawanya tidak berjalan.

Begitu juga dengan keberadaan anggota grup WhatsApp. Baru masuk dua tiga hari, kemudian tiba-tiba left, keluar dari grup. Padahal keberadaannya gabung ke dalam grup itu belum berkontribusi apa-apa. Belum berkiprah menunjukkan potensi diri lewat aksi bersama memberi manfaat kepada sesama.

Jadi, mengapa harus masuk, jika hanya untuk keluar. Mungkin perlu disadari, bahwa grup ini tidak ada sama sekali keuntungan finansialnya. Secara ekonomis, grup ini tidak mendatangkan hasil yang bisa mempertebal isi dompet dan kantong celana.

Bahkan, uang pribadi seringkali harus keluar untuk menghidupkan grup ini. Seperti untuk beli konsumsi, beli bensin, ongkos angkot, serta beli rokok dan kopinya, semuanya diadakan secara mandiri tidak ada subsidi. Dan yang jelas, ikut grup ini wajib hukumnya berkorban waktu, tenaga dan pikiran untuk kebermaknaan grup.

Dengan kata lain, di organisasi macam ini bukan tempat yang layak mencari uang, tapi untuk mencari teman. Disini pun bukan ajang pamer kepintaran, namun menjadi media saling berbagi pengalaman yang didasari rasa saling asah asih asuh .

Sekali lagi, mengapa harus masuk grup jika kemudian harus left, keluar tanpa meninggalkan kesan, apalagi kenangan. Tidak tahu lagi jika semua itu bagian dari dinamika organisasi yang cair sifat keanggotaannya. Sehingga keberadaan organisasi hanya dianggap sekedar ampiran. Jika menguntungkan ikut hadir, manakala merugikan ya pilih mangkir. Wallahua’lam bishowab.[eBas]   
   



  

Senin, 07 Agustus 2017

SANG PENGGERAK F-PRB JATIM ITU TELAH TIADA

Saat itu, Saiful bersama panitia yang lain, tengah sibuk menyiapkan musyawarah Besar Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Timur (MUBES F-PRB JATIM) di Hotel Pelangi, Kota Malang, tanggal 23 – 25 April 2017. Dia berkata kepada saya, bahwa pergantian pengurus itu merupakan hal yang biasa dalam organisasi, tanda ada dinamika yang hidup dalam kepengurusan.

Masih kata bapak berputera dua itu, yang penting pengurus terpilih nanti tetap bisa menjaga semangat dan kekompakan anggotanya untuk melaksanakan program yang telah disepakati bersama sesuai visi misi organisasi. Dia pun berharap suka duka dalam berorganisasi hendaknya dirasakan bersama, jangan sampai saling meninggalkan.

Kemudian, Sambil makan malam bersama di restoran dekat alun-alun, saya berbisik, “Mas, jika nanti lengser, bukan berarti sampiyan akan mundur total dari kegiatan forum to?, sungguh kehadiran dan pikiran-pikiran segar sampiyan masih sangat kami harapkan”

“Ya tidaklah Mas Edi, Kita akan tetap bersama menularkan virus ketangguhan bangsa menghadapi bencana sesuai konsep PRBBK” Kata Gus Ipul, sapaan akrab saya kepadanya, sambil sibuk dengan kameranya, mengabadikan peserta makan malam yang penuh ceria.

Perhelatan mubes pun berakhir dengan terpilihnya rezim yang baru secara demokratis. Saiful legowo tanpa upaya mbalelo, bahkan dengan senang hati berkenan dijadikan anggota pengurus, membantu sekjen baru. Sejak itulah saya belum berkesempatan bertemu Saiful lagi.

 Padahal, sebagai pengurus baru dan orang baru di forum, kiranya saya masih perlu banyak mendapat masukan darinya yang berpengalaman. Perlu mendapat arahan bagaimana berkiprah bersama dengan berbagai elemen dan kelompok tematik dalam kegiatan pengurangan risiko bencana, agar bisa segera turut berperan mewarnai program forum ke depan.

Sungguh, berkat dorongan Saiful, saya bisa terlibat aktif dalam beberapa kegiatan yang diadakan oleh Forum PRB. Beliau juga beberapa kali memberi kesempatan kepada saya untuk mewakili Forum dalam perhelatan seminar maupun pelatihan terkait dengan pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim dan sejenisnya.

Untuk itulah, tidak terlalu salah jika saya masih perlu saran dan arahannya untuk menjalankan peran saya sebagai pengurus F-PRB JATIM yang membidangi data base, agar tidak mengecewakan dedengkot Forum yang menaruh kepercayaan kepada saya, wabil khusus Mbah Dharmo, Mbah Wazir, Kang Rurid, Pak Sugeng Yanu, Om Hartoyo, Cak Arif, Cak Su’ud, Budhe Anis, Mbak Dian, Mbak Arna, juga Ning Tyas. Dari mereka pula saya banyak belajar, dan masih harus belajar banyak darinya.

Sayang, Tuhan punya rencana lain. Saiful tidak lagi diijinkan untuk terus merajut asa berkiprah membesarkan forum, yang akan diawali dengan gelaran raker pengurus, entah kapan. Saiful pun dengan gayanya yang santun, tidak lagi bisa memberi masukan kepada saya  berkiprah membantu Sekjen terpilih menjalankan programnya.

Ya, Saiful harus meninggalkan teman-temannya yang akan berjibaku menjalankan program bersama, agar semakin bermakna bagi sesama dan semakin dikenal oleh lembaga mitra. Ya, Saiful mendahului teman-temannya menghadap Tuhan dengan segala amal ibadahnya.

Sungguh berdosalah jika kita tidak mewarisi semangatnya dalam mengabdi, menggerakkan organisasi agar dikenal khalayak ramai. Kita pun akan disalahkan oleh sejarah perjalanan forum, jika tidak meneruskan kerja-kerja kemanusiaan yang telah dirintisnya, berkarya dibidang kebencanaan guna membangun budaya sadar bencana, yang mengambil tema siap untuk selamat.

Selamat jalan kawan, Jawa Timur kehilangan salah satu penggerak Forum Pengurangan Risiko Bencana, Percayalah kawan, kami akan meneruskan perjuanganmu, kenangan bersamamu tak kan mungkin terlupakan. semoga engkau bahagia di sisi-NYA. Panjatan doa kami akan selalu mengharumkan pusaramu. (eBas).


Senin, 10 Juli 2017

RELAWAN ARISAN ILMU

Sudah menjadi keharusan organisasi, bahwa setelah mengadakan kongres, maka pengurus terpilih harus segera menyusun kepengurusan dan struktur organisasi beserta kelengkapan administrasi organisasi. Ini penting agar keberadaan organisasi bisa segera menunjukkan aktivitasnya sehingga cepat dikenal oleh masyarakat dan stake holder terkait.

Untuk itulah, salah satu upaya mempercepat menampakkan aktivitasnya, maka pengurus menyelenggarakan rapat kerja untuk membahas beberapa agenda yang sudah seharusnya segera dilaksanakan.

Dalam rapat pengurus sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana jawa timur (SRPB JATIM), yang dihadiri oleh beberapa pengurus, muncul gagasan spontan tentang perlunya mengadakan arisan ilmu antar relawan. Sementara, untuk mengawalinya, kegiatan ini diwajibkan kepada anggota SRPB JATIM.

Nanti, setelah berjalan, pesertanya diperluas untuk semua relawan yang peduli kepada upaya peningkatan kapasitas, dalam hal penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, dan adaptasi perubahan iklim. Termasuk nara sumbernya pun bisa dari berbagai disiplin ilmu yang terkait dengan kebencanaan.

“Perlunya cangkruk bareng ala relawan disertai workshop yang diisi oleh pakar, akademisi dan praktisi kebencanaan, maupun dari relawan sendiri dengan konsep dari kita, oleh kita, untuk kita,” Kata Hamid, penggagas arisan ilmu.  

Kegiatan arisan ilmu ini sebagai upaya pengimbasan ilmu pengetahuan dan keterampilan guna menambah wawasan relawan.disamping itu kegiatan ini juga sebagai media belajar bagi anggota SRPB JATIM pada khususnya. Belajar menjadi nara sumber denga tema bebas sesuai bidangnya atau kebisaannya, dan belajar menjadi peserta diskusi yang baik, aktif menyimak apa yang dipresentasikan nara sumber.

Obrolan malam yang akrab bersahabat ini berjalan mengalir usai pembahasan rencana raker SRPB JATIM. Dimana, yang harus segera dipersiapkan adalah masalah tempat dan tanggal pelaksanaan. ini penting, mengingat waktu persiapannya mepet.

Belum lagi jumlah organisasi yang diundang. Kriterianya bagaimana dan masing-masing organisasi diwakili berapa orang, kiranya harus juga segera dikonsultasikan kepada pihak ‘pengampu’ raker SRPB JATIM, agar kerja panitia tidak  ‘nabyak-nabyak koyo beras den interi’.

Kegiatan ini pun juga menyinggung info dari Sugeng Yanu tentang rencana sertifikasi relawan. Hal ini sebagai upaya pemetaan dan pembinaan untuk meningkatkan kapasitas relawan sesuai standar yang dipersyaratkan oleh LSP-PB, sekaligus memudahkan mobilisasi relawan saat ada bencana.

Hal ini sejalan dengan keberadaan SRPB JATIM yang salah satu programnya melakukan pendataan keberadaan organisasi relawan penanggulangan bencana se jawa timur, sekaligus mendorong BPBD Kabupaten/Kota berkenan memfasilitasi terbentuknya sekber relawan di daerahnya.

Kegiatan yang diselenggarakan di tempat yang agak ‘perpencil’ ini sangatlah tampak warna keguyubannya. Masing-masing peserta datang sambil membawa konsumsi sendiri-sendiri untuk dinikmati bersama-sama.

Semoga kegiatan kebersamaan ini bisa lestari dan berkelanjutan sebagai upaya peningkatan kapasitas relawan. Diantaranya dengan kegiatan arisan ilmu dalam rangka sinau bareng, saling peduli, saling berbagi. Harapannya, SRPB JATIM dapat membangun upaya peningkatan kapasitas relawan penanggulangan bencana, yang siap disertifikasi. [eBas]




Jumat, 30 Juni 2017

RELAWAN SIAGA MUDIK LEBARAN

<edi basuki>
Konon, bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Momentum tahunan yang disediakan Tuhan untuk umat berlomba-lomba menebar kebaikan. Berbagai komunitas Relawan kemanusiaan pun tidak ketinggalan. Mereka, bermodal kreativitas dan rasa kepedulian yang tinggi, mengadakan kegiatan bagi-bagi takjil dengan penuh keikhlasan, semata untuk mendapat ridho-NYA.

Jika dana dan personilnya tersedia, acara berbagi takjil dilanjutkan dengan mendirikan posko lebaran untuk membantu pemudik istirahat. sejenak melepas lelah di posko dengan fasilitas yang disediakan secara gratis. Inilah ladang sodakoh bagi relawan yang punya kesempatan.

Apa yang dilakukan oleh komunitas relawan itu murni inisiatif sendiri, murni kreatifitas sendiri dalam menggalang dana operasional untuk pengadaan logistik buber, takjil dan pelayanan posko mudik. Mereka, dengan sukarela mengorbankan waktunya untuk kerja-kerja kemanusiaan.

Dengan semangat suka cita dan gembira ‘mengamankan’ prosesi mudik agar para pemudik selamat dalam perjalanan, aman dan nyaman sampai tujuan. Disinilah tampak pinternya relawan menggali dan menggalang dana dari masyarakat. Tidak semua relawan memiliki kepintaran seperti ini.

Sebuah pembelajaran yang berproses terus sepanjang bergiat di dunia kerelawanan. Semoga Tuhan berkenan membalas kiprah relawan dengan pahala yang berlimpah. Hal ini sesuai dengan ajaran yang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia, adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesamanya.

Siapakah yang diuntungkan dengan kelakuan relawan siaga mudik?. Jelas pemerintah, dalam hal ini yang terkait langsung dengan kegiatan pengamanan ritual Ramadan dan mudik lebaran. Sungguh berdosa jika pemerintah mengabaikan kelakuan para relawan. Mereka dengan suka rela membantu tanpa kenal waktu.

Tak eloklah jika peran relawan hanya dipandang sebelah mata. Karena, tanpa bantuan relawan, pastilah pemerintah akan “keponthal-ponthal” melaksanakan tugasnya. Bahkan mungkin banyak kejadian yang tidak tertangani karena terbatasnya personil, dan mungkin sarpras penunjangnya.

Sungguh, dibanyak peristiwa, relawan selalu tampil duluan ketimbang pemerintah. Artinya, ada prosedur yang agak ‘mbulet’ yang harus dilalui sebelum pemerintah turun ke lapangan. Misalnya, menunggu surat tugas, menunggu dana operasional, serta perijinan lainnya.

Posko terpadu pun didirikan di beberapa titik strategis, yang dianggap bisa menimbulkan kerawanan, kemacetan dan bahkan kecelakaan yang memakan korban jiwa. Beberapa personil aparat ditemani relawan memantau keadaan agar pemudik selamat sampai tujuan, untuk memeriahkan lebaran bersama sanak keluarga dan sejawatnya.

Dengan terjalinnya koordinasi antar aparat pemerintah dan relawan dalam posko terpadu mudik lebaran, diharapkan akan terbangun komunikasi yang postif dan sinergi dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Sehingga kedepan, keberadaan relawan benar-benar menjadi mitra strategis dalam kegiatan peduli sesama. Selamat berlebaran ketupat, mohon maaf lahir dan batin. Salam kemanusiaan. [eBas]


Rabu, 21 Juni 2017

RELAWAN MENATA MASA DEPAN

Sungguh, roda kehidupan itu berputar terus, mengikuti jalannya sang waktu. Begitu juga dengan umur manusia. Pelahan tapi pasti, semua akan berubah tanpa bisa diubah. Begitu pun relawan kemanusiaan yang aktivitasnya menolong sesama tanpa pamrih. Harus menyiapkan diri, menata hidup dan penghidupannya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Jika tidak ingin terlindas oleh kerasnya hidup, mau tidak mau relawan harus berbenah, suka tidak suka harus mengurangi aktivitas kemanusiaannya, fokus kepada keluarga, kepada anak-anaknya yang beranjak dewasa, semakin banyak pula keperluan hidup yang harus dipenuhi.

Ingat, jangan sampai relawan yang biasanya mengevakuasi korban bencana, dimasa tuanya yang renta ganti (minta) di evakuasi karena ketidak berdayaan diri. Audzu billah hi mindzalik, sungguh tragis jika terjadi.

Untuk itulah, tidak ada salahnya jika relawan yang sudah dewasa, yang sudah berani membangun rumah tangga, segera menyiapkan ‘ubo rampe’ kehidupan agar nantinya tidak terpuruk karena bergelut dengan aksi-aksi kemanusiaan, sehingga menjadi sasaran evakuasi relawan lain.

Caranya?. Cepat putar haluan, janganlah habiskan waktu dengan menggeluti dunia kesukarelawan, mengabaikan kualitas hidup keluarga. Sungguh kegiatan relawan itu murni mengandalkan otot dan otak tanpa imbalan yang sesuai sebagai jaminan bari tua. Semua penting dilakukan agar terhindar dari bencana keluarga.

Untuk relawan yang secara ekonomi sudah mapan, mungkin tidak masalah berkecimpung terus di dunia kerelawanan sampai tua, sampai ajal menjemput di ujung senja.

Tapi, bagi relawan yang serba pas-pasan. Ya harus segera membagi waktu untuk berbenah diri, menggeluti usaha ekonomi produktif yang bisa mensejahterakan keluarga, pun mendukung aktivitas kemanusiaan. Mungkin, dengan menggeluti sektor nonformal, bermain di ceruk ekonomi mikro.

Kata Sang motivator kehidupan, asal jeli menangkap peluang, dan diikuti tekat yang kuat untuk sukses, pasti akan memetik hasilnya. Inilah mungkin, kata sakti yang bisa dijadikan azimat bagi relawan yang sudah waktunya mundur karena umur.

Tentu, kondisi yang demikian pastilah sudah diantisipasi oleh kawan-kawan relawan. Bahkan mungkin sudah ada yang berhasil, sehingga aktivitas kerelawanannya bisa berlanjut terus, tanpa mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangganya.

Memang, jiwa kerelawanan dan rasa peduli pada sesama itu tidak lekang oleh waktu. Diusia senja pun relawan tetaplah relawan. Namun tidaklah harus turun langsung ke medan juang mengevakuasi korban saat tanggap bencana. Cukuplah dengan memberi masukan dan saran kepada relawan muda yang akan melanjutkan kiprahnya sebagai relawan tangguh.

Relawan sepuh yang kaya pengalaman dan ilmu, hendaknya berkenan berbagi kepada yuniornya, transfer ilmu dan pengalaman sebagai bentuk kaderisasi alami.

Sebagai bentuk sedekah ilmu dan pengalaman di penghujung pengabdian. Karena, secara kodrati masa depan itu milik generasi mendatang. Mau tudak mau, seiring berjalannya usia, semua pasti berubah, akan digantikan oleh yang muda.

Ingatlah, kerja-kerja kemanusiaan itu unik, “Berhasil tidak dipuji, Gagal dimaki, Menderita salah sendiri”. Untuk itulah mari berbenah diri melalui introspeksi selagi masih ada waktu untuk memulai upaya menemukan makna kehidupan untuk menata masa depan relawan yang mandiri. Salam lestari, damai dihati, damai dibumi. [eBas].


Senin, 12 Juni 2017

RELAWAN KEMANUSIAAN

<edi basuki>
Ketika ada anak tenggelam di sungai, tanpa dikomando oleh BPBD, relawan langsung turun tangan, saling menginfokan, saling membantu, memberi pertolongan. Termasuk ketika ada pendaki gunung yang tersesat, atau bahkan mengalami kecelakaan yang berujung kematian pun, ada saja relawan yang  membantu evakuasi dengan segala kemampuannya tanpa berharap imbalan.

Para relawan itu yakin bahwa dalam memberi pertolongan mrupakan tindakan yang baik dan akan mendapat balasan kelak dikemudian hari, entah dari mana, berupa apa, dari siapa. Karena mereka percaya, Tuhan tidak tidur.

Ketika ada orang tenggelam di laut, relawan pun langsung ambil bagian tanpa prosedur  yang bertele-tele. Mereka sudah bergerak sebelum pemerintah (BNPB/BPBD) datang. Sungguh tidak dapat dipungkiri, pemerintah sangat terbantu oleh kiprah relawan. Bahkan dibeberapa kasus, pemerintah hanya bergerak pada fase ‘finishing’ saat korban sudah diketemukan.

Termasuk kecelakaan lalu lintas, pohon tumbang menutup jalan raya, bahkan orang hilang dan menemukan dompet/dokumen penting pun, relawan selalu berbagi info lewat sosial media, membantu atas nama kemanusiaan. Saling peduli membantu sesama, tanpa bayaran. Cukup ucapan terima kasih, jiwa kerelawanan pun akan terus bergerak menebar kebaikan tanpa pandang bulu (nonproselitis).

Saat ini, di bulan Ramadan, banyak Komunitas Relawan di Indonesia, ambil peran, melakukan bakti sosial, menunjukkan kepeduliannya dengan berbagi takjil. Setiap sore, di beberapa jalan strategis banyak Komunitas Relawan yang membagikan takjil bagi pengguna jalan, agar bisa mensegerakan berbuka puasa sebelum sampai di rumah.

Semua yang dilakukan relawan didasari keikhlasan dan rasa gembira bisa berbagi dengan sesama sambil selfie dengan berbagai gaya yang kemudian di posting lewat sosial media untuk menunjukkan eksistensinya. Sebuah kelakuan yang perlu dilestarikan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Siapa sebenarnya sosok relawan itu?. Dalam berbagai literatur, relawan atau altruism adalah tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharap imbalan dalam bentuk apapun (tanpa pamrih).

Ada pula yang mengatakan, seseorang/organisasi yang bekerja dalam gerakan kemanusiaan untuk kepentingan masyarakat (korban) yang bekerja secara sukarela tanpa mengharapkan keuntungan, semata didorong oleh kekuatan moral, rasa kemanusiaan dan semangat  tolong menolong.
Sementara, dalam Perka nomor 17 tahun 2011, dikatakan bahwa Relawan Penanggulangan Bencana adalah seseorang atau sekelompok orang, yg memiliki kemampuan dan kepedulian utk bekerja scr sukarela dan ikhlas dalam upaya penanggulangan bencana.

Pada umumnya, Komunitas Relawan di Indonesia itu belajar secara mandiri dan saling membelajarkan diantara mereka untuk meningkatkan kapasitasnya. Bisa lewat latgab, loka latih, loka karya, jamboree dan sarasehan. Dari situlah mereka saling menyamakan langkah, mempererat tali silaturahim untuk melakukan aksi kemanusiaan bersama-sama saling bahu membahu.

Mereka tidak mengandalkan pemerintah (BNPB/BPBD) dalam hal peningkatan kapasitas. Karena pemerintah sangat terbatas, belum banyak yang menganggarkan untuk kegiatan pembinaan relawan, bahkan tidak ada sama sekali karena minimnya anggaran. Biasanya hanya dititipkan ke beberapa program yang sifatnya tidak berkesinambungan.

Sebagai koordinator, BNPB/BPBD hendaknya benar-benar bisa mengkoordinasikan seluruh potensi relawan untuk kegiatan penanggulangan bencana. Karena, sesungguhnyalah mengkoordinasikan relawan itu lebih mudah daripada mengkoordinasikan antar SKPD yang mempunyai kebijakan sendiri dan tingkat kepedulian/kepekaan yang berbeda dalam memandang bencana sebagai ancaman yang membahayakan.

Untuk itulah, tidak terlalu salah, jika relawan sebagai mitra strategis BNPB/BPDB, ke depan dilibatkan dalam upaya membangun ketangguhan masyarakat. menghadapi bencana. Baik pada saat pra bencana, masa tanggap bencana, dan pasca bencana. Mengingat kiprah relawan dalam hal semangat menolong sudah tidak diragukan lagi. Mereka pun secara mandiri selalu membuat kegiatan untuk menjaga kesamaptaan dan meningkatkan kapasitas sebagai relawan kemanusiaan. Salam tangguh.[eBas]


  

Kamis, 08 Juni 2017

RANCANGAN PERUBAHAN UU 24 TAHUN 2007

[Edi Basuki]> …Kegiatan focus group discussion (FGD) dalam rangka uji sahih Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, berlangsung di ruang Rapat Utama BPBD Provinsi Jawa Timur, kamis (8/6). Berlangsung dinamis, walau dalam suasana puasa Ramadan.

Kegiatan yang digelar oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) ini merupakan masukan dari MPBI untuk merubah Undang-Undang Kebencanaan agar sesuai dengan kebutuhan dan visi isi pemerintah Jokowi. Termasuk menyesuaikan dengan perubahan paradigm kebencanaan itu sendiri.

Menurut Panitia Perancang Undang-Undang, masih ada beberapa problem yang harus segera diperbaiki. Seperti problem konsep kebencanaan, problem radaksional di UU 24 tahun 2007 yang tidak tegas, rancu, dan mendua sehingga bisa menimbulkan makna ganda. Serta problem koordinasi penanggulangan bencana antar BPBD, SKPD, TNI dan POLRI, yang di beberapa daerah masih lemah.

Yang menarik dari rencana perubahan tersebut adalah dimasukkannya pasal tentang kewajiban pemerintah daerah mengalokasikan dana penanggulangan bencana paling sedikit 1 (satu) persen dalam APBN dan APBD, untuk kegiatan pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Di pasal lain disebutkan, Pemerintah pun dapat menganggarkan dana alokasi khusus dari APBN, untuk daerah berdasarkan tingkat risiko bencana.

Sementara Hendro, dari unsur pengarah BPBD Jatim, mengharapkan agar istilah relawan bencana dan ahli bencana dimasukkan dalam pasal tersendiri. Termasuk issue gender dalam rangka menumbuhkan budaya sadar bencana bisa dipertimbangkan oleh Panitia Perancang Undang-Undang DPD-RI, untuk disisipkan pada pasal tertentu yang relevan.

Saat dibuka acara Tanya jawab, animo peserta FGD, terutama dari unsur BPBD Kabupaten/Kota, sangat bersemangat. Semua serempak agar DPD-RI dalam menyempurnakan UU 24 tahun 2007, hendaknya lebih menambah peran BNPB/BPBD yang signifikan agar fungsi komando, koordinasi dan pelaksana penanggulangan bencana semakin efisien dan efektif.

Saran dan masukan yang diberikan, semua berdasarka pengalaman lapangan yang dilakukan selama ini. Mereka juga merasakan bahwa ada semacam rivalitas antara BNPB, Kemendagri, dan Kemensos dalam penanggulangan bencana. Kesan yang muncul, ada semacam saling berusaha datang lebih dulu ke lokasi bencana dengan membawa bantuan ala kadarnya, yang penting sampai lokasi dan berfoto selfi untuk laporan ke instansi. Inilah, yang menurut Panitia sebagai titik lemah dalam hal koordinasi yang dilakukan oleh BNPB/BPBD, sehingga UU 24 tahun 2007 ini perlu dirubah.

Ada lagi yang menggelitik. Dalam pasal 18, ayat 4, disebutkan Dinas atau badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat yang memiliki sertifikat kompetensi di bidang bencana. Begitu juga di tingkat kabupaten/kota. pertanyaannya, bagaimana jika si pejabatnya belum tersertifikasi, namun dia sangat mumpuni dalam hal manajerial maupun saat memimpin operasi di lapangan. Atau bagaimana jika si pejabat tersebut orang kepercayaan penguasa otoda?.

Begitu juga dengan susunan organisasi BNPB. Ada Kepala, Sestama, Deputi dan Irtama. Kemudian muncul Pusat dan UPT, lho itu jabatan apa, tupoksinya apa dan eselon berapa. Jawaban yang terlontar usai FGD dan tidak ada jawabannya.

Bang Yeka, dari unsur relawan yang tergabung dalam SRPB JATIM, mempertanyakan dimasukkannya PMI ke dalam susunan organisasi tim koordinasi penanggulangan bencana. Apa dasarnya?. Apa karena faktor Yusuf Kalla, sebagai wakil presiden dan sesepuh PMI, sehingga PMI dimunculkan?. Menurut Yeka, sebaiknya unsur PMI dikeluarkan dari susunan organisasi. Cukup dimasukkan dalam unsur masyarakat terlatih. Ini untuk menghindari politisasi relawan

Karena jika PMI dipaksakan muncul, sementara PRAMUKA, TAGANA, MDMC, LPBI-NU, dan Komunitas Relawan lain dengan berbagai benderanya itu tidak dimunculkan, maka PPUU DPD-RI telah melakukan ketidak adilan. Karena PMI itu juga relawan yang kedudukannya sama dengan PRAMUKA, TAGANA, MDMC, LPBI-NU, dan Komunitas Relawan lainnya dalam melakukan operasi penanggulangan bencana.

Kegiatan yang dibarengi dengan pemberian ‘seminar kit’ dan nasi kotak, juga bisa bikin galau jika perubahan UU kebencanaan ini ditumpangi unsur politis dalam pasal dan ayat yang diusulkan, atas nama penyempurnaan. Jika benar maka keberadaan relawan akan terkontaminasi politik, untuk kemudian terjadi segmentasi relawan sesuai afiliasi politiknya. Ini tidak benar karena kerja-kerja kemanusiaan itu harus nonproselitis, berkeadilan, kesamaan, kemitraan serta transparansi dan akuntabilitas.

Kata Rurid, Sekjen Forum PRB JATIM, dalam postingannya mengatakan bahwa Kepala daerah dijadikan koordinator tim penanggulangan bencana itu rawan dipolitisir, karena itu jabatan politis. Ini mengingat Kepala daerah dan wakilnya itu pembuat kebijakan, sedangkan birokrasi adalah pelaksana kebijakan. Ini akan menjadi rancu apabila pembuat kebijakan sebagai pelaksana kebijakan.

Bahkan bukan hanya nuansa politik saja, tapi bisa juga wacana kepentingan bermain di kebijakan anggaran terkait dengan Dana Siap Pakai (DSP). Karena, konon DSP itu rentan terhadap penyelewengan. Atas nama status darurat, maka proses audit pengadaan barang dan jasa tidak seketat ketika kondisi normal, Kata Yeka yang pernah ikut operasi bencana Sinabung.

Tepat pukul 12.10, acara FGD berakhir karena anggota DPD-RI harus segera menuju bandara Juanda, untuk terbang ke Jakarta. Sungguh kalau modelnya FGD seperti ini yang dibatasi waktu, jelas hasilnya tidak maksimal. Untuk itu  harus ada semacam lokakarya, duduk  bareng, fokus mencermati istilah dan substansi UU yang akan dirubah, untuk mensahihkan rancangan Undang-Undang Perubahan Undang-Undang nomor 24 tahun 2007. Sehingga akan berdaya guna dan berhasil guna. Pertanyaannya, apa masih ada anggarannya?. [eBas].