Sabtu, 29 Juni 2024

KETIKA SI BEJO MENULIS DI MEDIA ONLINE

 Seseorang yang bernama Bejo, menulis di infomitigasi.com tentang masih rendahnya keterlibatan komunitas relawan pada fase pra bencana. Dalam tulisannya yang dirilis hari Kamis, tanggal 27 Juni 2024, dia bilang, ternyata banyaknya komunitas relawan tidak menjamin PRB ( Pengurangan Resiko Bencana ) bisa efektif.

 Si Bejo ini juga bilang, PRB belum efektif dilihat dari beberapa variabel, yakni peran relawan di Pra Kebencaan, saat terjadi kebencanaan dan Pasca Bencana. Rerata komunitas di Indonesia ada di saat Bencana dan mulai berkurang aktifitasnya ketika menginjak fase Pasca Bencana.

 Dikatakan pula, yang hampir belum tersentuh adalah kehadiran Relawan Komunitas Bencana yang turut hadir di aktifitas Pra Bencana. Ini artinya, peran komunitas di Fase Mitigasi, Kontijensi, dan sejenisnya itu masih belum tampak.

 Jumlah Komunitas Relawan Kebencanaan yang ada di seluruh Indonesia dan sudah beraktifitas di Pra Bencana masih kurang dari 5%.

 Apa yang dikatakan Bejo itu ada benarnya, tapi tidak semuanya benar. Pertanyaannya, siapa sih si Bejo itu, kok bisa ngomong begitu ?. mungkin si Bejo ini seorang akademisi atau orang awam yang melihat “dunia relawan” hanya dari buku bacaan dan media penyiaran.

 Jika si Bejo ini sering menggauli dunia relawan, pasti dia paham komunitas relawan mana yang dapat melaksanakan kegiatan pra bencana dengan paripurna, dan mana yang hanya dapat melakukan semampunya, karena terbatasnya kemampuan dalam arti luas.

 Seharusnya, sebelum menulis, si Bejo ini memahami dulu bahwa komunitas relawan itu ada yang murni amatiran, yang hanya mengandalkan idealisme, tekat dan semangat yang didasari rasa peduli kepada kemanusiaan, tapa didukung anggaran yang jelas.

 Di sisi lain, ada jenis komunitas relawan yang pergerakannya selalu didukung oleh pendonor sebagai penyemangat kegiatannya. Juga ada relawan yang bergabung dalam lembaga berduit (biasa disebut pekerja kemanusiaan). Golongan inilah yang dapat mengagendakan kegiatan pra bencana dalam arti sebenarnya seperti yang dimaksud oleh si Bejo, karena ada dana operasional yang tidak mengganggu stabilitas dompet pribadi.  

 Artinya, tanpa dukungan dana, merupakan hil yang mustahal bagi komunitas relawan untuk berbuat banyak di ketiga fase bencana. Karena, senyatanyalah semua itu perlu dana, dan relawan pun juga manusia yang perlu dan butuh dana.

 Omong kasong jika ada relawan yang tidak perlu dana untuk melampiaskan idealismenya menolong sesama yang dilanda bencana. Rupanya si Bejo kurang peka tentang ini. Kurang paham tentang adanya keterbatasan komunitas relawan dalam beraksi. Ya, mereka berbuat sesuai kemampuannya, dan si Bejo, tidak melihat kemampuan masing-masing komunitas relawan yang terbatas.

 Dalam catatannya yang apik, menarik dan menggelitik itu, juga dikatakan bahwa selama ini, ketika terjadi bencana rerata banyak komunitas berbondong bondong dari berbagai pelosok negeri menuju satu titik bencana.

 “Euforia ini sudah selayaknya diubah, menjadi Euforia Komunitas Relawan Kebencanaan yang mulai menggarap aktifitas di Pra Bencana,” Harapnya.

 Ya, begitulah kenyataannya, setiap ada kejadian bencana, lokasinya mendadak berubah menjadi wahana wisata bencana. Banyak warga datang berombongan untuk sekedar melihat kerusakan harta benda dan penderitaan pengungsi, sambil berswafoto sana sini.

 Lokasi pengungsian pun mendadak menjadi tempat pembuangan baju bekas layak pakai. Sementara para petugas yang ada di lokasi tidak berdaya menghadapi banyaknya wisatawan bencana, yang terkadang membawa bantuan ala kadarnya.

 Sayang si Bejo tidak menganggap masalah wisatawan bencana ini termasuk yang perlu disoroti, dalam tulisannya. Entah mengapa, mungkin karena tidak tahu.

 Si Bejo dengan cerdas menutup tulisannya dengan mengatakan bahwa masalah kebencanaan yang masih carut marut ini perlu dukungan dan regulasi dari Pemerintah, dalam hal ini BNPB dan BPBD. Tentu ini tidak mudah, karena masih adanya ego sektoral dari masing-masing pihak dalam menangani ke tiga fase kebencanaan. Salam Waras. [eBas/SabtuPahing-29062024]

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 25 Juni 2024

PEMBINAAN POTENSI RELAWAN DALAM CATATAN

 Selama dua hari, senin dan selasa, tanggal 24 - 25 Juni 2024, BPBD Kota Surabaya menjalankan programnya dengan mengadakan Pembinaan Potensi Relawan (PPR) yang ada di Kota Surabaya. Kali ini yang diundang sebagai peserta adalah 25 komunitas relawan. Masing-masing komunitas diwakili oleh 2 personil.

 Berbahagialah komunitas yang terpilih dan dipilih untuk mengikuti acara PPR yang digelar secara berkala. Namun sayang, masih ada yang enggan mengirimkan personilnya dengan beragam alasan. Diantaranya adalah sibuk bekerja karena diadakan pada jam kerja. Alasan lainnya adalah banyak anggotanya yang tidak ber-KTP Surabaya.

 Untuk mengatasinya, dicarilah komunitas (tanpa melihat kualitas),  yang bersedia ikut kegiatan agar kuotanya terpenuhi. Inilah mungkin yang dinamakan sebuah dilema. Diundang gak datang, gak diundang meradang.

 Pertanyaan yang sering terlontar adalah, mengapa pesertanya harus ber-KTP Surabaya, dan mengapa diadakan pada jam kerja. Pahamilah, semua ini adalah kebijakan yang didasarkan pada regulasi yang ada, agar tidak menyalahi aturan, yang dapat berujung di meja hijau.

 Materi yang disajikan dalam PPR kemarin sangat menarik karena langsung bersentuhan dengan kegiatan relawan. Baik pada saat pra bencana, tanggap darurat, maupun pasca bencana. Pematerinya pun adalah pejabat dari BPBD Provinsi Jawa Timur yang memang ahli di bidangnya. Sehingga penyajiannya sangat menarik.

 Dari semua materi, menurut penulis, ada yang perlu dicatat dan diingat. Yaitu tentang keberadaan Desk Relawan yang rencananya akan berada di dekat tenda Posko induk untuk memudahkan koordinasi dan mengurangi miskomunikasi diantara para pihak.

 Dikatakan pula bahwa Desk Relawan itu nantinya, ketika sudah diaktivasi akan langsung terkoneksi dengan Posko induk, BPBD dan BNPB. Untuk itulah semua relawan yang turun ke lokasi bencana harus membawa surat tugas yang diserahkan ke Desk Relawan atau langsung ke Posko induk yang nantinya akan disalurkan ke masing-masing klaster seseuai kapasitasnya.

 memang semua masih berproses, termasuk pendataan relawan melalui e-volunteer. Sehingga pelaksanaan di lapangan juga belum banyak dikenal oleh banyak pihak. Termasuk para pejabat setempat saat menangani fase tanggap darurat.

 Di sisi lain, masih banyak relawan yang ke lokasi bencana tidak membawa surat tugas dan tidak melaporkan kehadirannya di Posko induk dengan berbagai alasan.

 Bahkan celakanya, kadang di Posko induk sendiri juga dibiarkan kosong tidak ada personil jika pun ada seringkali mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan ketika relawan datang menyerahkan surat tugas.

 Dalam diskusi yang hangat, muncul pula istilah bahwa banyak komunitas yang masih suka “gede-gedean bendera” untuk ditancapkan sendiri di lokasi bencana, jalan sendiri tanpa koordinasi, langsung beraksi di lokasi secara mandiri tanpa mau berkolaborasi dengan pihak lain.

 Juga muncul pertanyaan tentang hubungan TRC yang dibentuk BPBD dengan keberadaan relawan. Baik itu pada saat pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana. Begitu juga bentuk sinergitas antara elemen pentahelix yang selama ini belum begitu tampak mesra, dikarenakan masih adanya ego sektoral.

 Situasi inilah yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Heru Bowo, pemateri yang akrab dengan peserta, mengatakan bahwa perlu ada acara ngopi bareng antar pihak untuk berkomunikasi dan berkoordinasi. Sehingga semuanya akan semakin paham akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana dengan membangun ketangguhan (budaya tangguh).

 “Wis ta rek sesekali dolano nang Kantorku, ndek kono wis onok ruangan gawe relawan ngobrol, tapi ojok rokok’an, soale ruangan ber AC. Lekne arep rokok’an yo nang kantin wae,” Selorohnya  diakhir penyampaian materinya.

 Acara PPR diakhiri dengan foto bersama. Heru Bowo tanpa canggung memimpin meneriakkan salam tangguh untuk di videokan. Beliau juga berkenan bersalam salaman dan melayani foto bersama masing-masing komunitas.

 Sebelum meninggalkan arena, banyak peserta yang langsung mengeksekusi nasi kebuli yang diberikan oleh panitia. [eBas/RabuWage-26062024]

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 17 Juni 2024

KOPI DARAT ITU PENTING BAGI KOMUNITAS RELAWAN.

 Kalau tidak salah, sudah hampir dua tahun keberadaan grup whatsapp Relawan Suroboyo Bersatu (RSB) dibentuk. Isinya pun beragam. Mulai guyonan, “perang gambar”, berbagai informasi, pamer selfie, serta berbagai komentar yang menyenangkan, juga kadang menjengkelkan. Ya, sebatas itu.

 Sementara informasi yang mengajak membuat kegiatan bersama antar pihak untuk meningkatkan kapasitas, babar blas tidak disambut antusias. Hanya dibaca tanpa dibalas. Termasuk ajakan untuk mengadakan kopi darat, juga tidak disambut dengan hangat. Lho piye to kih……..?.

 Jika grup whatsapp hanya digunakan untuk ngobrol dan saling berkomentar di dunia maya, tanpa ada upaya bersemuka di dunia nyata, trus apa manfaatnya ?. Sungguh, masih banyak anggota grup whatsapp ini yang belum saling mengenal dan tahu wajah dari masing-masing anggota grup. Idealnya, akrab di udara ya ditindak lanjuti akrab di darat.

 Sesungguhnyalah anggota grup ini hanya bertemu saat menerima undangan dari BPBD atau pihal lain untuk rapat atau diklat. Setelah itu tidak ada tindak lanjutnya dari pertemuan rapat dan diklat itu, dan kemudian sibuk dengan rutinitas masing-masing. Oalah, Masak sih relawan mau berkumpul saja nunggu undangan dari pihak lain.

 Situasi yang demikian ini hendaknya segera dibenahi. Tapi, siapa yang berani memulai membenahi ?. Munculnya inisiatif untuk membenahi dengan mendata komunitas yang ada di grup ini sekalian mencantumkan contact Personnya, patut kiranya “dikomentari” dengan cerdas, bukan dibalas dengan komentar panas.

 Sungguh, Pendataan ini penting untuk memudahkan koordinasi, ngopi bareng, dan membuat kegiatan bersama, seperti sarasehan, loka latih dan simulasi bersama secara mandiri. Tidak ada salahnya meniru kegiatannya kawan-kawan yang tergabung dalam forum bersama lintas komunitas (FORMALITAS).

 Mereka punya agenda kopi darat (biasa disebut kopdar) yang digelar dua bulan sekali dengan mengambil tempat yang berbeda-beda. Paling sering tempatnya di warkop yang ada halaman cukup luas dan nyaman untuk ngobrol bareng melepas kangen.

 Setiap digekar kodar, selalu disambut antusias penuh suka ria. Mereka datang dari berbagai daerah dengan biaya sendiri. Termasuk biaya untuk konsumsi. Mereka juga dengan penuh kesadaran berdonasi seikhlasnya untuk memperbanyak uang kas.

 Sungguh kawan-kawan FORMALITAS patut dibanggakan dan dapat dijadikan contoh oleh anggota grup whatsapp RSB, atas kemandirian financialnya, dengan mengamalkan nilai-nilai gotong royong dan kesetaraan untuk menghidupi organisasinya.

 Lho, mereka kok bisa ya ?. jelas mereka bisa. Salah satunya adalah melalui proses panjang untuk saling bersemuka membangun dialog “piye amrih apik’e”. sehingga tumbuh dedikasi dan loyalitas dengan mengedepankan trnasparansi di semua lini. Untuk kemudian muncullah rasa “melu handarbeni” organisasi

 Ayolah lewat pendataan ini kita agendakan kopi darat untuk menyusun kegiatan kolaboras antar pihaki secara mandiri, seperti kawan-kawan FORMALITAS, yang sebentar lagi juga akan menggelar kopdar sebagai agenda rutinnya. Salam Tangguh dalam kewarasan. [eBas/SeninKliwon-17062024-selesai bantu prosesi Idul Adha di Masjid]

 

Minggu, 02 Juni 2024

15 TAHUN SUDAH SURABAYA EMERGENCY RESPONSE MENGABDI DI JALUR SOSIAL KEMANUSIAAN

 Konon, Ulang tahun dari sebuah komunitas bertujuan untuk memaknai proses kedewasaan dari komunitas tersebut. Peringatan ulang tahun merupakan momen terbaik untuk mengenang masa-masa awal berdirinya sebuah komunitas serta kiprahnya dari tahun ke tahun. Bahkan, jika memungkinkan, perayaan ini juga dijadikan wahana refleksi dan evaluasi.

 Hari ini, sabtu (01/06/2024), bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila,  komunitas Surabaya Emergency Response (S.E.R) memperingati hari ulang tahunnya yang ke-15. acaranya digelar di Markasnya, di daerah Kalilom, Kenjeran. Surabaya.

 Pri Djoko Utomo, Ketua S.E.R sekaligus pendiri, mengatakan bahwa selama ini kegiatannya fokus pada konsolidasi ke dalam untuk meningkatkan kapasitas internal. Hal ini dilakukan untuk membekali anggotanya saat memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat, tentang pentingnya kesiapsiagaan diri, keluarga, tetangga, dan lingkungan dalam menghadapi potensi bencana.

 “Bencana datang tidak dapat diduga, tetapi bagaimana kita dapat mengantisipasi dan mengatasinya, yaitu dengan cara berlatih, untuk mengenali bahayanya, dan kurangi risikonya” Ujar anggota bidang advokasi F-PRB Jawa Timur.

 Ditambahkan pula bahwa, Sosialisasi dan Pelatihan yang sudah dilakukan selama ini adalah di perkampungan, perumahan, sekolah, dan juga di industri. Dengan fokus pada bencana kebakaran, banjir, dan  longsor.

 Masih kata pensiunan guru ini, komunitas S.E.R juga bekerjasama dengan komunitas relawan yang ada di Jawa Timur, saling membantu untuk kegiatan penanggulangan bencana. Baik pada fase pra bencana, tanggap bencana, dan pasca bencana.

 “Kami memiliki slogan, Apabila ada bencana kami datang lebih awal, dan ketika bencana sirna kami pulang lebih cepat, artinya kami mau membebaskan dari pemberitaan. Hal ini sejalan dengan iman kami yang mengajarkan, Apabila tangan kananmu memberi, maka jangan sampai tangan kirimu tau, Ujarnya.

 Sementara Aris, salah satu pengurus S.E.R yang berpengalaman di bidang kesehatan, berharap kedepan semakin berkembang, dan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas. 

 Sedangkan Bambang Tricahyono, dari F-PRB Jawa Timur, dalam pesan singkatnya, berharap S.E.R tetap eksis dengan kegiatannya sekaligus tidak lupa dengan regenerasi sebagai menerus visi misi dalam pengabdiannya di bidang kemanusiaan. Karena regenerasi melalui kaderisasi adalah sebuah keniscayaan. 

 Alfin, mewakili Jamaah LC (Lorong eduCation), yang saat ini sedang di Pulau Madura melaksanakan tugas pendampingan destana dari BPBD Provinsi Jawa Timur, berharap Semoga komunitas yang dipimpin Ki Rebo, panggilan akrab Pri Djoko Utomo, semakin jaya, dan masif kegiatannya di bidang edukasi dan peningkatan Kapasitas, serta kolaborasi antar pihak agar pergerakannya semakin berwarna.

 Senada dengan Alfin, dan Iddin Badaru dari Al-Azhar, mBah Darmo, Sekjen F-PRB Jawa Timur, yang dihubungi lewat selularnya, berharap agar jalinan silaturahim dan sinergi antar pihak yang selama ini telah ada, semakin baik dalam kerja-kerja kemanusiaan yang saling mengisi, saling menguatkan, tanpa melemahkan karena perbedaan. Karena, sehebat apapun kita butuh orang lain.

 “semoga di ulang tahun yang ke lima belas ini, S.E.R semakin jaya, tangguh dan bermanfaat bagi sesama, serta menginspirasi komunitas lain untuk terus berbuat baik di jalur kemanusiaan,” Kata pria yang menjabat Sekjen F-PRB Jatim untuk yang kedua kalinya. [eBas/MingguKliwon-02062024]

Sabtu, 25 Mei 2024

FORUM PERLU DINAMISATOR SEBAGAI PENJAGA SEMANGAT BERFORUM

 Bermula dari kunjungan Pengurus F-PRB Jatim, bidang publikasi ke Kantor JawaPos dan JTV di GrahaPena Surabaya, rabu (22/05/2024), yang didampingi bendahara Forum, bergulirlah berbagai komentar di grup whatsapp, mendukung kegiatan yang diinisiasi oleh inisiator yang oleh karena sesuatu hal terpaksa tidak ikut berkunjung.

 Yosua, dari unsur pengarah mengatakan bahwa, sebenarnya  banyak orang hebat di F-PRB yang belum tereksplor pemikiran, kiprah dan spirit kemanusiaannya. Kalau dipadu produk audio visual pasti jadi percepatan penularan spirit PRB. 

 “Monggo diawali di periode ini. Dengan kebersamaan kita harus optimis untuk mewujudkannya, hal ini mengingat bahwa Spirit kerelawanan dalam forum ini begitu hebat. kekuatan yang bisa mengalahkan apapun. Itulah hebatnya F-PRB,” Ujarnya penuh semangat.

 Pria berkacamata ini juga usul agar ada bidang yang menjadi dinamisator grup, yang bisa menjaga grup untuk senantiasa produktif dengan info dan sharing kebencanaan. Biar lebih manfaat.

 Sungguh cerdas usulannya, ini penting untuk menjaga semangat Ra Mamak, sebagai ketua bidang publikasi yang dapat memotivasi anggotanya untuk berkarya sekuat tenaga. melihat itu, mbah Darmo sebagai Sekjen memberi apresiasi yang membanggakan.

 “Mantaf poll. Thanks Lurs, dedikasi dan komintmen doeloer-doeloer terhadap kemajuan F-PRB, gak ada obatnya. Mohon maaf belum bisa membersamai giat bidang publikasi” Katanya penuh makna.

Diakui atau tidak, sejak bidang publikasi dipegang Ra Mamak, karya-karya berita tentang kiprah F-PRB terkait upaya pengurangan risiko bencana, terus mengalir lewat berbagai media sosial. Ya, bidang publikasi selangkah di depan.

 Dengan banyaknya karya jurnalistik yang dihasilkan, alangkah eloknya jika bidang pengelolaan pengetahuan “bergandeng tangan” dengan bidang publikasi menjadikan aneka berita yang dihasilkan itu, dirangkai sedemikian rupa, melalui editing berlapis, menjadi jalinan tulisan human interest dalam sebentuk buku atau e-Book, pasti uasyik untuk kenangan yang terdokumentasikan dari kepengurusan masa bakti 2023 - 2026.

 “Ayoook kita gelorakan lagi, agar inisiasi yang pernah muncul ada tindak lanjutnya, Saatnya mengoptimalkan karya nyata yang terintegrasi antar bidang sehingga isinya semakin berwarna,” Kata alumni UPN Veteran Jogjakata.

 Pertanyaannya kemudian, jika nanti keinginan membukukan karya jurnalistik dan opini semua bidang yang ada, terus siapakah yang akan menjadi dinamisator dan melakukan editing berlapis ?. Apakah dinamisator itu orang yang bagian mengarahkan dan memerintah tanpa memberi contoh, dan Editor adalah tukang editing karya tanpa pernah berkarya ?.

 Ini harus jelas, agar semangat menulis yang baru tumbuh tidak layu sebelum berkembang karena dipaido dengan kritis oleh mereka yang jagoan maido tanpa pernah bisa membenarkan dan mengarahkan. Apalagi memberi contoh karya tulis yang benar.

 Semoga dari kunjungan ke Jawa Pos, JTV dan ke Kantor KPID akan menambah semangat bidang publikasi untuk terus berkarya melalui berbagai media sosial yang dikuasainya. Harapannya, semangat Ra Mamak ini dapat menginspirasi bidang lain untuk segera berbuat menyebar virus PRB, seperti yang diharapkan Sekjen F-PRB Jatim di arena rapat koordinasi di Hotel Savana, Kota Malang beberapa waktu yang lalu. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SabtuPahing-25052024]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 24 Mei 2024

RELAWAN KOTA SURABAYA SELALU SIAGA MENJAGA KOTANYA

 Seperti biasanya, Mukidi bersama karibnya, Ratrimo, cangkruk’an di warkop langganan, menghabiskan malam menunggu datangnya mata terpejam. Sambil nyakot rondo royal kesukaannya, Mukidi bilang bahwa relawan Kota Surabaya itu hebat. Mereka tergabung dalam Command Center (CC)-112.

 “Relawan yang tergabung dalam CC-112 itu datang dari berbagai komunitas dengan kemampuan dan keterampilan yang beragam, khususnya dalam hal kedaruratan menangani kecelakaan,” Katanya.

 Sungguh, keberadaan Relawan CC-112 sangat terlatih. Mereka adalah relawan pilihan dengan kemampuan yang dapat diandalkan. Berbagai pihak telah mendapat manfaat dari kehadirannya.

 Mereka bekerja selama dua puluh empat jam, yang terbagi dalam beberapa shift. Mereka juga bertugas di beberapa tempat untuk memudahkan pergerakannya mengamankan setiap sudut Kota demi terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat Surabaya.

 Dalam pergerakannya, mereka didukung oleh Dinas terkait, dan juga dibantu oleh berbagai komunitas relawan yang peduli kondisi Kota Surabaya untuk saling berbagi informasi, melaporkan tentang kecelakaan lalui lintas, korban tenggelam di sungai, kebakaran, banjir dan kriminalitas, serta permasalahan warga lainnya yang perlu penanganan cepat.

 “Lha kalau sudah begitu, kira-kira apa peran komunitas relawan yang tidak tergabung dalam relawan CC-112 ?,” Tanya Ratrimo sambil nyruput kopi hitam panas pahit.

 Sungguh, tidak semua komunitas relawan dapat bekerja seperti anggota CC-112 yang sudah sangat terlatih dan memahami tupoksinya. Sehingga, jika terjadi kecelakaan bahkan bencana di wilayah Surabaya, cukup ditangani CC-12, semua beres.

 Mukidi, agak kesulitan menjawab pertanyaan Ratrimo. Karena kenyataannya memang begitu. Tugas dan fungsi mereka benar-benar menangani kedaruratan yang menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Hanya yang terlatih saja sanggup mengerjakannya.

 "Sungguh, kerja anggota CC-12 sangat melelahkan namun membanggakan. Tidak semua orang dapat melakukannya. Semoga menjadi ladang amal kebaikan yang dicatat Tuhan," Ujarnya.

 Mungkin, komunitas relawan yang ada di Surabaya perlu banyak belajar kepada anggota CC-12. termasuk berkoordinasi dan melakukan komunikasi dengan baik, Agar ketika turut serta membantu menangani kecelakaan (bencana) di wilayah Surabaya tidak malah merepotkan pergerakan CC-12.

 Pertanyaannya kemudian, lewat mana komunitas relawan mengawali berkoordinasi untuk menjalin komunikasi dengan relawan anggota CC-12 ?. Sungguh tidak mudah membangun koordinasi antar pihak. Apalagi jika rasa ego sektoral masih kuat di masing-masing pihak. Perlu proses panjang, bahkan perlu juga regulasi yang dapat memperlancar tejadinya koordinasi antar pihak.

 Sambil berproses, alangkah baiknya jika masing-masing komunitas relawan tetap menjalankan visi misinya dalam upaya membangun ketangguhan warga Surabaya menghadapi bencana.

 Mereka harus mencari ceruk yang masih belum tergarap oleh CC-12. misalnya mengadakan sosialisasi dan edukasi pengurangan risiko bencana di sekolah atau Pondok Pesantren. Bisa juga di kelompok masyarakat. Seperti PKK, Majlis Taklim dan sejenisnya. Seperti Jamaah LC mengadakan sosialisasi dan edukasi kebencanaan di TK/PAUD, dan Panti Asuhan. Ini penting  agar tidak terkesan rebutan lahan.

 Yang jelas,  relawan Kota Surabaya, melalui CC-112, selalu siaga menjaga Kotanya, dan siap bergerak setiap saat membantu warga masyarakat yang mengalami kecelakaan. Bahkan masalah rumah tangga pun mereka siap membantu.

 Sungguh luar biasa, dan patut kiranya di dukung bersama, agar semangat mengabdi itu selalu membara di hati, kata Mukidi sambil mengajak Ratrimo meninggalkan warkop langganannya. Wallahu a/lam bishowab. [eBas/JumatLegi-24052024]

 

Minggu, 12 Mei 2024

PONAKANKU INGIN JADI ANGGOTA RNPB

 Beberapa waktu yang lalu, ketika Ilma, ponakanku diterima kuliah di politeknik negeri malang (polinema), dia bilang mau ikut kegiatan kampus, dalam rangka mencari pengalaman, nambah wawasan, dan memperbanyak teman.

 Kemudian, di lain waktu, Ilma bilang, diajak temannya ikut kegiatan kerelawanan seperti yang pernah digaungkan Anies Baswedan, indonesia mengajar. Bedanya, dinisini perannya lebih sebagai pendamping belajar bagi anak-anak usia sekolah.

 Saya sebagai pamannya, tentu sangat mendukung, karena akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak dikemudian hari. Untuk itulah ketika lembaga manajemen infak (LMI) Cabang Kota Malang mengadakan Training of Trainer Fasilitator GANALA, Ilma saya dorong untuk mendaftar.

 Alhamdulillah ponakanku diterima, dan telah mengikuti serangkaian pelatihan dengan materi yang cukup banyak bagi seorang Ilma yang belum tahu dan paham apa itu relawan dengan segala kiprahnya.

 Info dari Abah Santo, salah seorang relawan senior yang berpengalaman, sekaligus petinggi LMI, materi dasar yang diberikan meliputi,  Pengenalan program LMI, Pengenalan istilah kebencanaan, Konsep RNPB, Pendalaman tentang Materi MFR dasar, Balut bidai, SOP Ganala, Materi GANALA, Simulasi GANALA. (foto, video), Melatih Skill Public Speaking saat berada di depan Audiens, dan K3 (APAR dan ALAT) Simulasi bersama warga Rt 8/14 desa sekarpuro kecamatan Jetis kabupaten Malang.

 Semoga dengan materi yang banyak ini ponakanku tabah menjalaninya. Semoga pula ponakanku segera beradaptasi dengan dunia relawan. Khususnya cara makan dengan porsi relawan. Sehingga berdampak pada tubuh yang semakin berisi dan sehat untuk menunjang mobilitasnya sebagai relawan sekaligus mahasiswa yang harus pandai membagi waktu.

 “Nduk, di Kota Malang Raya itu banyak komunitas relawan dengan berbagai gaya, kapasitas dan fokus kegiatannya. Bermainlah dengan mereka agar relasimu semakin luas, tentunya akan sangat mendukung kerja-kerja kemanusiaan yang menjadi tanggungjawabmu,” Kataku melalui whatsapp.

 Sebagai paman yang baik, juga berharap agar Ilma aktif menambah informasi tentang dunia kerelawanan dan kebencanaan. Jangan bosan-bosan tanya mBah Gugel tentang berbagai Perka BNPB yang diperlukan saat di lapangan. Bacalah untuk bekal beraktivitas.

 Jangan lupa semua kelakuanmu membawa bendera RNPB upayakan dicatat dengan rapi dan runtut. Agar kelak dapat kamu bukukan dengan judul, Catatan Seorang Relawan. Jangan takut salah. Walaupun kamu belum pernah ikut pelatihan jurnalistik, yang penting menulis. Daripada pernah ikut pelatihan dan punya piagam, tapi tidak pernah menulis. Itu namanya mbelgedes.

 “Ingat, sekarang kamu menjadi bagian RNPB. Harus menjaga nama baik sebagai relawan yang santun, sesuai jargon, 'dimanapun kita berada, tetap bermanfaat bagi sesama'. Selamat berproses menjadi relawan penanggulangan bencana di bawah kibaran bendera RNPB. Turuti segala arahan dan nasehat abah Santo,” Ujarku penuh harap. [eBas/Minggu Wage-12052024]