Rabu, 25 Mei 2016

PENDIDIKAN KELUARGA UNTUK PENDIDIKAN ANAK



Akhir-akhir ini sering terdengar berita tentang perkosaan, tenyang pelecehan kepada perempuan (kebanyakan masih dibawah umur). Puncaknya adalah kematian YY, perawan Bengkulu yang masih dibawah umur, harus meregang nyawa dijadikan ‘pesta libido’ usai minum arak yang memabukkan, oleh sejumlah manusia bejat tidak bermoral.

Semua perhatian pun tertuju kepada nasib neng YY. Aneka sumpah serapah dari berbagai kalangan melalui media sosial pun akhirnya direspon oleh presiden dengan memandatangani perpu tentang hukuman kebiri. Sejalan dengan itu, masalah perkosaan pun semakin sering bermunculan dimana-mana. Menyeruak menjadi berita yang mengharukan.

Masalah lain yang rawan melanda remaja adalah peredaran narkoba, berkembangnya paham radikal, pornografi, judi online dan tindak kriminal lainnya yang pelakunya semakin muda, rata-rata masih anak usia sekolah, sehingga hukum kesulitan menjeratnya.

Konon muaranya adalah lemahnya pengawasan orang tua terhadap perkembangan anaknya ketika bermain dengan sebayanya di luar rumah, juga kurang terlibatnya dalam pendidikan anak dengan pihak sekolah dan pergaulan yang semakin bebas karena pengaruh perkembangan informasi dan tehnologi yang tidak mampu di filter oleh masing-masing individu. Sebab lain adalah godaan perilaku konsumtif meniru gaya hidup hedonis yang dipamerkan dalam media sinematografi.

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak sangat perlu, agar tahu sejauh mana perkembangan anaknya di sekolah. Orang tua hendaknya mendampingi perkembangan anaknya, baik secara psikologis, intelektualitas  serta kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya dan masyarakat sekelilingnya, sesuai dengan jenjang pendidikannya.

Konon, dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah ‘Tri Pusat Pendidikan’, yaitu pemerintah, masyarakat dan keluarga. Hendaknya ke tiganya bersinergi mengawal anak menuju cita-cita masa depannya dan terhindar dari godaan kehidupan yang semakin beraneka, terkait dengan tawaran barang konsumtif, hidup pragmatis, jauh dari kepatutan norma etika dan ajaran agama. Mau tidak mau sekolah harus sering berkomunikasi dengan orang tua siswanya agar segala perkembangan bisa cepat diketahui dan diapresiasi oleh kedua pihak.

Kelihatannya, pemerintah tengah merancang konsep keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak sebagai upaya membantu sekolah dalam membentuk karakter anak yang sesuai dengan norma agama dan nilai budaya Indonesia yang adiluhung. Seperti menanamkan kreativitas, sikap inovatif, kerjasama, gotong royong, kerja keras, disiplin, rajin, ulet pantang menyerah, cinta lingkungan dan sayang sesama, berakhlak mulia, serta menghargai perbedaan dan keberagaman sesai sesanti sakti bangsa, Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam laman Wikipedia, Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Dalam seminar tentang PAUD, sering dikatakan bahwa pendidikan yang baik sejak dini akan berdampak pada perilaku, kesehatan, kematangan emosi, mampu berkomunikasi, bekerja sama dan perkembangan pengetahuan dan keterampilan.

Untuk mengkondisikan harapan diatas, ada baiknya sekolah menyediakan waktu menggelar pertemuan dengan orang tua (semacam parenting), sebagai media pelaporan perkembangan anak kepada orang tua, sehingga mereka ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan anak dan ikut menemani anak belajar di rumah. Sukur-sukur bisa membantu jika si anak mengalami kesulitan belajar, atau segera berkoordinasi dengan pihak sekolah, agar segera diketemukan solusinya.

BP-PAUD dan DIKMAS merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  yang salah satu tugasnya adalah pengembangan program pendidikan nonformal, sedang menyiapkan seperangkat model pendidikan keluarga dengan harapan, orang tua bisa ikut serta membantu pihak sekolah dalam mengawasi, mendampingi dan membina putra putrinya menjalankan aktivitas belajar untuk menata masa depannya yang lebih bahagia dan ceria, sebagai generasi yang cerdas, yang siap menerima estafet kepemimpinan dalam rangka alih generasi.

Model ini hanyalah sebuah pedoman kepada orang tua dalam hal mendampingi anaknya agar tidak menyeleweng dari tujuan sekolah, dan tidak ada jaminan berhasil. Hal ini mengingat banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan seseorang, termasuk pola interaksi dengan lingkungan yang membesarkannya. Untuk itulah dalam upaya mengurangi dampak negatif yang bisa mempengaruhi anak dalam merajut masa depannya, diperlukan sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Mari kita tunggu model pendidikan keluarga yang sedang disusun oleh pamong belajar BP-PAUD dan DIKMAS. *[eBas]
   
  

Minggu, 08 Mei 2016

WISATA ALAM GUNUNG BROMO, HARUSKAH DILESTARIKAN ?

Siapa yang tidak mengenal keindahan alami yang disajikan tempat wisata yang satu ini ?. Ya, Bromo merupakan gunung berapi aktif yang berada di kawasan Jawa Timur. Terletak di perbatasan kabupaten Lumajang, Malang, Pasuruan dan Probolinggo. Gunung yang mempunyai ketinggian 2392 m dpl memang layak dikunjungi sebagai destinasi wisata alam.

Bromo tidaklah sebesar gunung - gunung lain di Jawa Timur, seperti Semeru, Argopuro, Welirang, Arjuno Ijen dan Raung, tetapi pesonanya yang indah sudah terkenal kemana-mana sejak lama. Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( TNBTS ) dan nama Gunung Bromo sendiri konon berasal dari kata Brahma yang merupakan salah satu dari Dewa dalam agama Hindu, yang banyak dianut oleh masyarakat Bromo, yang dikenal dengan nama suku Tengger keturunan dari kerajaan Majapahit.
Untuk menikmati pemandangan indah alami gunung Bromo, diantaranya melihat matahari terbit, yang bisa dinikmati di seputaran lokasi yang bernama Penanjakan. Sekarang, sudah ada beberapa paket untuk menikmati indahnya kawasan Bromo, yang dikelola oleh organisasi Jeep Toyota Land Cruiser (karena anggotanya terdiri dari pemilik/penggemar Jeep buatan Jepang yang gagah melegenda di Indonesia). Ada sekitan 700 kendaraan Jeep yang siap mengantar berpetualang mengobok obok kawasan indah Bromo, yang terkenal dengan upacara kasodonya.
Tujuan paket wisata itu diantaranya ke bukit cinta, bukit kingkong, bukit teletabis, padang savanna kawah Bromo, kawasan pasir berbisik, dan daerah lain yang bisa di negosiasikan dengan para pemilik Jeep dengan konsep ‘wani piro, podho penake podho senenge’.
Sungguh, keindahan panorama Bromo membawa berkah bagi masyarakat di sekitarnya. Potensi ekonomi berputar dengan berbagai jenis usaha. Disamping peternakan dan pertanian, kini ada usaha lain yang cukup menjanjikan, seperti jadi calo hotel, calo kendaraan carteran, tukang parkir, persewaan kendaraan garden ganda, tukang ojek, asongan dan pedagang bunga edelweiss, si bunga abadi, usaha penginapan, toko, warung dan usaha sektor informal lainnya. semuanya membawa kemakmuran warga setempat.
Mungkin yang perlu diperhatikan oleh masyarakat penerima manfaat langsung kekayaan alam Bromo (masyarakat Tengger), adalah masalah kebersihan lingkungan wisata dari sampah pembungkus makanan yang dibawa pengunjung, juga limbah pedagang maupun residu tai kuda yang bergelundungan dimana-mana, khususnya di hamparan lautan pasir menuju kawah Bromo, yang baunya semriwing ditiup angin gunung.
Di samping itu perlu juga para pemangku kuasa kawasan Bromo mengajak warganya melakukan mitigasi untuk mengurangi dampak bencana serta melestarikan lingkungan pegunungan tengger agar kawasan Bromo tetap lestari keindahan alamnya.
Sungguh, kini banyak lereng perbukitan yang digunduli diubah pemanfaatannya menjadi hamparan tanaman sayur mayur yang bernilai ekonomi. Kanan kiri jalan menuju Bromo pun sudah mulai jarang ditumbuhi tanaman keras. Dibiarkan gersang meranggas merusak alam lingkungan dan iklim, yang berpotensi memunculkan bencana kekeringan dan longsor. Konon, beberapa hewan liar khas hutan gunung Bromo telah sulit ditemukan dan didengar suaranya. Akankah nanti tinggal cerita penghantar tidur bagi anak cucu pewaris negeri ini?.
Tidak ada salahnya jika pemangku kuasa kawasan Bromo mendorong peran serta para pengojek motor, ojek kuda, komunitas Jeep serta pedagang yang mengais rejeki di situ untuk berperan serta dalam upaya pelestarian, perlindungan dan pemeliharaan lingkungan pegunungan Bromo, dengan menanami pepohonan khas gunung Bromo agar flora dan fauna yang menghuninya tidak punah.  
sehingga potensi wisata Bromo akan tetap bisa dinikmati oleh wisatawan, masyarakat Tengger. Pemda Probolinggo pun turut kecipratan rejeki dengan naiknya pendapatan pajak pariwisata untuk membangun daerah Probolinggo, termasuk infrastruktur yang mempermudah akses perputaran ekonomi daerah di seputaran gunung Bromo. Salam Lestari. [Kang eBas-8516]


Selasa, 03 Mei 2016

ALUMNI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH



“Pak sampiyan dikeluarin dari grup ya, kenapa?. Padahal setahu saya grup ini belum resmi dibentuk tapi kok sudah main pecat ya,” Tanya seorang teman sambil nyengir nyukurin.
“Gak tau ya kenapa, dulu yang memasukkan saya ke grup juga mereka, dan kini wajar jika mereka mengeluarkan saya karena diangap mengganggu stabilitas ketenangan grup,” jawab saya sekenanya.
“Ya, ternyata grup ini tidak demokratis, pro kemapanan, tidak suka dengan suara yang berbeda. Padahal semua anggotanya adalah orang terdidik, para pembelajar dan suka memberdayakan masyarakat melalui program pendidikan luar sekolah,” Kata yang lain yang tidak dikeluarkan seperti saya karena tidak pernah berkomentar.

Ya, grup WA dari alumni PLS lintas kampus dengan nama lucu dan nyeleneh ini ternyata otoriter, tebang pilih kepada yang bersuara nakal. Artinya tidak semua yang kritis ditendang (istiahnya diistirahatkan dulu), apalagi jika yang bersuara kritis itu alumni yang telah menjadi pejabat, pengusaha atau penguasa.

Grup WA yang belum punya aturan (masih dalam tataran ide), belum pernah bersemuka (katanya setelah umroh akan kopi darat, nyatanya…..pret, omong doang). Rekruitmen anggotanya pun berbasis nomor hand phone, langsung dimasukkan grup tanpa persetujuan. Sehingga keberadaannya di grup hanya ‘pupuk bawang’ diam tanpa suara, hanya kasih jempol tanpa komentar yang menginspirasi. Itu tandanya, mereka mau ikut karena sungkan dan rasa hormat kepada mantan dosennya.

Kalau tidak salah, nawaitu membuat grup WA ini adalah gagasan pribadi yang mendapat respon dari beberapa alumni untuk menjadikan WA sebagai media silaturahim, tukar informasi membangun sinergi yang solid untuk menyatukan alumni agar PLS kuat dan memiliki ‘Nilai Tawar’. Sehingga keberadaannya diakui, dan semakin diterima dibanyak lapangan pekerjaan, baik negeri maupun non negeri.

Untuk menguatkan wacana PLS yang semakin bermutu dan diakui keberadaannya, maka diperlukan postingan dan komentar yang positif, konstruktif dan solutif dari alumninya yang beragam tingkat intelektualitasnya, pekerjaannya, jabatannya, posisinya, dan peran sosialnya di kantor, di kampus, pun di kampung.

Dari beragam kepala itu tentunya aneka gagasan/ide meluncur deras dan bebas tanpa batas. Ada yang normatif, ada yang standar akademisi, ada yang kritis tapi konyol, karena asal komen, ada yang bermain dengan teori, ada yang berfatwa dan berharap, dan suara sumbang lainnya, termasuk posting gambar yang penuh arti.

Maka perang komentar menjual gagasan/ide pun bersahutan semakin tajam, dan saling menyudutkan. Sementara yang terpaksa menjadi anggota, hanya diam kayak sapi tolol, hanya mengamati aneka komen yang menguntungkan bagi kepentingannya. Untuk kemudian pasang tanda jempol sebagai pengganti lisannya yang takut bersuara.

Dikarenakan perkembangan komennya yang semakin segar dan liar, membuat penggagas WA khawatir semua orang penting (yang punya kuasa, jabatan dan uang) akan lari keluar dari grup. Padahal mereka (bersama sapi tolol) adalah asset potensial yang bisa disambati untuk mendukung kepentingan grup. Misalnya, diajak patungan membeli tanah untuk yayasan alumni, tarikan sukarela untuk santunan warga binaan, sumbangan untuk mengadakan acara hebat utuk sahabat, dan ajakan sejenis lainnya yang dibungkus demi kebersamaan alumni, demi kemaslahatan alumni, demi keberkahan hidup alumni, demi alumni mati masuk surga dan demi demi lainnya.

Untuk itulah mereka bertindak cerdas dan tegas, membuang pemilik suara sumbang yang membikin onar tatanan grup WA (padahal belum punya aturan yang mengikat anggotanya, seperti AD/ART), sehingga semua aturan disesuaikan dengan seleranya sendiri, dan subjektif sekali.

Tindakan ini pun bisa jadi sebagai warning bagi anggota yang lain agar tidak nakal, harus menjunjung tinggi keseragaman, tidak boleh ada suara berbeda dengan senior. Selamat berorganisasi wahai para alumni pendidikan luar sekolah, semoga amanah dan tidak ada dusta diantara anggota. [Kang Ebas]


Jumat, 22 April 2016

PERJALANAN CINTA SUKRASANA

memang aku kebalikan dari kakanda Sumantri:
kakanda tampan rupawan, idaman semua putri kerajaan
badanku cebol menakutkan, perutku jemblung memuakkan
parasku pun serupa hewan, bikin orang kocar-kacir berlarian
suara kakanda merdu menawan, suaraku cedal menggelikan
kakanda dikejar-kejar putri jelita berhias purnama rembulan
diriku dijauhi semua orang, juga ditakuti semua perempuan

tetapi kakanda Sumantri juga kebalikan dari aku:
aku lebih sakti dalam segala, kakanda Sumantri lebih pandai berkata
aku punya ilmu luar biasa, kakanda Sumantri punya ilmu tak seberapa
dia juga pandai meminta meski aku terima karena dia sangat kucinta

tetapi kakanda Sumantri jelas kebalikan dari aku:
aku telah melampaui badanku hingga menemukan rahasia baka
aku sudah melampaui badanku hingga leluasa mengabdi di surga
kakanda Sumantri masih terpenjara tubuh yang semu dan fana
kakanda Sumantri terperangkap paras dan rias yang sementara
kendati tampak gemerlap memesona, memukau mata manusia
tetapi tak kuasa mendedah lelapis langit, raih bakti sempurna

maka, bagiku dunia tak adil karena lebih memuja tubuh ketimbang sukma
lebih menghargai yang kasat mata ketimbang yang di kepala
lebih memuliakan rias ketampanan ketimbang kecendekiaan
lebih menyembah paras kebendaan ketimbang keruhanian
maka, bagiku, dunia telah terpenjara kewadagan
mengimani kehebatan, memuja-muja keunggulan
mengimani kemegahan, memuja-muja keanggunan
bersimpuh pada kekuasaan, bersuka suapi kekerasan
hingga tak sanggup membubung menemu kemuliaan
hingga tak kuasa mencapai makrifat kehidupan
hingga tak mampu menciptakan jalan keabadian
maka, bagiku, dunia telah terperosok ke jurang kesesatan
hingga berbalut kegelapan, dan bersekutu kesemuan
maka, simpulku, dunia amat bengis bagi makhluk sepertiku
cuma untungkan dan bahagiakan manusia seperti kakakku

tetapi, aku dan kakanda Sumantri adalah satu
tak boleh terpisahkan oleh dunia yang telah sesat tuju
karena kakanda Sumantri janin perkasa di kokoh rahim ibu
dan aku ari-ari yang setia memberi makan rahim ibu setiap waktu
karena kakanda Sumantri dan aku pemilik bersama teduh rahim ibu
maka, aku cintai kakanda Sumantri sepenuh jiwa, seluruh napas dada
maka, kubaktikan sepanjang hidupku bagi kejayaan Sumantri nan perwira
dengan keikhlasan, ketulusan, dan ketanpapamrihan mengagetkan surge

maka, kemanapun Sumantri pergi, mengembara, mengelana, dan mengabdi
aku pasti mencari, selalu mengikuti, senantiasa membayangi dengan cinta suci
dan siap membantu saat ketangkasan dan kesaktian Sumantri tak mencukupi
[kakanda Sumantri menganggukkan kepala, tanda bakal istiqamah pada janji]

tetapi, apa harus dikata, sesat hakikat kian menerungku dunia juga manusia
setelah Taman Sriwedari kupindah ke Maespati, kureguk tuba, kubopong celaka
karena cengkerama bahagia permaisuri, putri raja dan dayang-dayang istana
berantakan seketika saat mereka temukan aku berada Taman Sriwedari juga

dan mahapatih Maespati sekejab tiba, mengusirku pergi dengan nada murka
tentu aku tak bersedia karena dia kakanda Sumantri, manusia paling kucinta
dan telah mengizinkan aku untuk selalu bersamanya, dalam suka dalam duka

kakanda Sumantri makin murka, merentang busur panah tepat terarah dada
dan mengirim maut ke jantungku saat puncak kemelut jiwa gagal dia kelola
aku terkesiap sesaat, tapi maut meringkus nyawa lebih cepat, tumbanglah aku
Sumantri terperanjat, tapi remuk jiwa merambat cepat, dia pun berwajah sendu

“tega nian kau ingkari janji wahai Sumantri, tega nian kau rebahkan adik sendiri
tapi, aku tak terlarai, dan tetap mengirimi harum cinta kepada kakanda Sumantri
sebab kuyakin kau tetap mencintai, dan mengakui aku tak terganti di palung hati
memang karena berada di dunia yang sesat tuju, kau kirim maut ke jantungku ini”

“aku menunggumu kakanda Sumantri karna surga hanya menerima kita bersama
di sana kita selalu bersama, tak terpisahkan lagi, sebab telah kalis dari nafsu dunia”
[Sumantri memikul pedih yang kelabu, sambil berkawan sendu terus menunggu
kedatangan Sukrasana menumpang taring Rahwana, antarkan ajal yang gaharu] …
-*Malang, 2012-

…………
sungguh rangkaian kata panjang penuh makna itu hasil karya seorang sahabat, Djoko Saryono. Ya dia memang pintar dalam segala hal hingga mencapai gelar akademik tertinggi, Prof. DR. Djoko Saryono, M.Pd sekaligus menjadi guru besar di almamaternya, IKIP Malang (sekarang UM).

Dia adalah juga salah satu penggerak awal mapala Jonggring Salaka IKIP Malang dengan nama panggilan Joko Sar,  diantara seangkatan dengan, Cak Palogo, Mas Heru Blek, Didik Dink, Eko Petruk, Sigit, Remon Tambora, Cak Soleh, Tanto, Gunawan Gembik, Agung Celeng, Cak Mul Ceret, mBah Badrusyi eGive, Anggyo Bog, Lilik, Irma, Erma, Mas Joko Set …

Sabtu, 09 April 2016

K.R.I ADALAH KOMUNITAS SOSIAL NONFORMAL



Dalam postingannya, Mochammad Iqbal, sebagai ketua mengingatkan kepada seluruh anggota grup, bahwa komunitas relawan Indonesia (K.R.I) merupakan sekumpulan orang yang memiliki pandangan, hobi dan minat yang sama dalam aksi-aksi kemanusiaan, yang bersifat cair tanpa harus mengorbankan aktivitas utamanya, yaitu menjalani kehidupan untuk keluarga dan masyarakatnya.

Artinya disini, tidak harus memaksakan turun ke lokasi bencana manakala ‘situsi dan kondisi’ pribadi tidak memungkinkan. Termasuk agenda pertemuan anggota pun tidak harus dikemas dalam suasana formal dan paripurna, seperti organisasi lain yang mempunyai aturan yang jelas tegas dan mengikat anggotanya.

“ Itu yang namanya komunitas, bertukar ide bisa di mana saja, tidak hanya di ruangan kantor/kelas/meeting room atau acara-acara resmi lainnya. Dengan tidak mengurangi keseriusan dalam bertindak sebagai "RELAWAN" ngobrol santai tanpa beban rasanya lebih enjoi dan lebih HIDUP dalam berbagi ide,” Ujarnya.

Benar sekali apa yang dikatakan Cak Kabul, begitu sapaan akrab ketua K.R.I yang memiliki kemahiran dibidang pembuatan piranti sound system untuk hajatan di luar maupun di dalam gedung. Sambil gentian ngucut gaple, aneka masalah dan gagasan dilontarkan bagitu saja, oleh siapa saja sambil nyruput kopi dan melepas baju.

Termasuk rencana latihan bersama biasanya muncul dalam pertemuan nonformal empat atau enam orang saja, kemudian di share lewat media sosial, maka jadilah sebuah keputusan untuk mengadakan sinau bareng, baik di sungai maupun di pantai. Tidak menutup kemungkinan ide liar yang asal ucap dari si Papa Romi tentang perlunya mengadakan kegiatan susur sungai menjadi nyata.

Ya, mungkin inilah organisasi yang digagas bersama di kantor PWI beberapa tahun silam bahwa Komunitas Relawan Indonesia (K.R.I) adalah wadah relawan kebencanaan yang mendiskusikan secara khusus tentang kegiatan pengurangan resiko bencana, untuk kemudian memberikan masukan kepada pihat terkait.

Di sini, setiap anggota boleh melontarkan gagasan/ide terkait dengan issue-issue
kebencanaan dan masalah sosial lainnya sebagai dampak dari terjadinya bencana, lalu mendiskusikannya berdasar kesetaraan yang demokratis. Jika ada yang perlu disempurnakan, akan dibahas bersama-sama. Masing-masing tidak diharamkan untuk mendokumentasikan kegiatan apa saja kemudian mengunggahnya di media sosial sebagai upaya promosi eksistensi.

Lontaran ide Cak Kemat untuk perawatan perahu karet dan rapat membahas penerimaan anggota baru sebagai upaya kaderisasi pun, munculnya di warkop saat guyon sambil ngopi, bukan saat pertemuan resmi. Begitu juga kegiatan komunikasi dengan teman-teman pegiat K.R.I di daerah perlu kiranya dipersering, walau hanya melalui facebook, whatsapp, sms dan bbm. Ini penting, karena K.R.I bukan organisasi biasa yang sangat cair dan luwes sifat keanggotaan dan kegiatannya.

Selanjutnya K.R.I akan menjadi tempat bertemu bagi anggotanya untuk saling sinau, berbagi informasi dan pengalaman, atau belajar bersama tentang apa saja seputar kebencanaan dan kerelawanan. Sebagai organisasi soaial nonformal, anggota K.R.I sangat luwes dalam melakukan komunikasi, koordinasi dan konsultasi untuk merancang aksi kemanusiaan tanpa harus memaksakan diri. semuanya mengalir begitu saja mengikuti perjalanan sang waktu.  Wassalam …*[Pak dhe]

Senin, 04 April 2016

La Subu Marafat, Sang Komandan Saka Widya Bhakti Budaya

Langkah besar yang di torehkan pamong belajar BPPAUDNI Regional Surabaya dalam menyambut rencana Kemendikbud memasukkan kegiatan kepramukaan sebagai pelajaran ekstra kurikuler, patut di acungi dua jempol. Ya, mereka jeli menangkap peluang dengan mengembangkan model pramuka saka widya bhakti.

Berbagai kegiatan untuk mewujudkan gagasan pun telah dilakukan dengan penuh dedikasi dan loyalitas, mulai dari menyusun model, mengujicoba model, mengundang pakar pramuka, mengadakan kursus mahir dasar, kursus mahir lanjutan dan mendatangkan Dirjen PAUDNI untuk meresmikan sekaligus upaya mempromosikan temuan yang spektakuler.

Hebatnya lagi, rintisan saka widya bhakti ini tidak melibatkan banyak pamong belajar yang berkantor di gebang putih sepuluh, karena memang mayoritas buta dengan apa itu pramuka, hanya beberapa orang saja yang tergolong pakar pramuka yang diberi tugas menanganinya. Sungguh sebuah dedikasi yang patut diberi penghargaan atas karya hebatnya.

Ya, sesungguhnyalah kegiatan pramuka itu bukan hanya bicara teori dan rapat koordinasi konsultasi semata, namun yang terpenting adalah bagaimana berbuat langsung di lapangan, berkarya dengan penuh kesukarelaan, mengedepankan nilai-nilai gotong royong dan kerjasama untuk mewujudkan aksi yang bermakna bagi perkembangan wawasan, keilmuan, keterampilan dan sikap sopan santun yang didasari oleh tri satya dan dasa dharma.

Kalau hanya ngomong doang, tidak perlu pakar pramuka, semua bisa, apalagi kalau hanya sekedar memberi nasehat, masukan, saran dan arahan yang berbunga-bunga, serta berkemah dengan bonus seragam kaos gratisan. Semua itu tergantung kebijakan dan kesamaan chemistry atasan dan bawahan (untuk tidak mengatakan berdasarkan Like and Dislike).

La Subu, adalah salah seorang pegiat pramuka dari SKB Gudo, Kabupaten Jombang, yang getol menguprak-uprak ketika pegiat saka widya bhakti loyo kehabisan gairah, seiring menipisnya dana pendukung. Saking kelewat semangatnya, La Subu disangka yang bertanggungjawab akan mati hidupnya konsep saka yang bergerak di bidang pendidikan nonformal. Salah satunya adalah menginspirasi munculnya kegiatan kumpul kumpul temu para pegiat pramuka saka widya bhakti.

Ya, dalam rangka mempertahankan eksistensi Saka Widya Bakti, maka Alumni Pendidikan dan Pelatihan Pamong Saka Dan Kursus Mahir di Bllessing Hills Trawas, Mojokerto, berinisiatif sendiri (tanpa campur tangan yang punya ide saka widya bhakti) mengadakan temu koordinasi dalam rangka penyusunan Program kerja di masing masing Daerah dan membentuk sebuah Komunitas yang diberi nama Komunitas Dewan Saka Widya Bakti (KDSWB) periode tahun 2013 s.d 2015.

Sungguh, seandainya mereka tidak aktif pasti saka widya bhati ini tinggal kenangan yang indah, karena penggagasnya sendiri sudah kehabisan bensin untuk meneruskan kelangsungan hidup model dengan ide-ide inovatifnya, sampai benar-benar dikenal oleh para penggila pramuka. Untung ada La Subu, yang punya nyali besar.

Dulu, kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 28 sampai 29 Maret 2013 di BPPAUDNI Regional Surabaya, diikuti oleh 31 orang. yang tersebar dari 14 Kwarcab di Jawa Timur, dengan niat satu, yaitu KDSWB bisa menampakkan kiprah dengan ciri khasnya, yang berbeda dengan keberadaan saka yang sudah ada, termasuk segera menentukan siapa induknya yang akan membina dan mendanai. Misalnya saka bhayangkara, jelas yang membina, mendanai dan melibatkan dalam tugas-tugas ke-lalu lintas-an adalah polisi. Begitu juga dengan saka-saka yang lain

Kegiatan yang di buka oleh Eko yunianto, Kepala Seksi Informasi BPPAUDNI Regional Surabaya, berjalan lancar penuh rasa keakraban sesuai nilai-nilai kepramukaan. Dalam pengarahannya, pria berbadan gendut ini mengatakan bahwa kegiatan ini diluar tanggung jawab Balai, namun Balai mendukung sepenuhnya asalkan demi eksistensi Saka Widya Bakti, Balai hanya menyediakan Penginapan dan bantuan konsumsi tanpa ada bantuan transport. Kawan kawan dari tim pengembang model pramuka tetap mengikuti dan akan didampingi oleh kak Lilik. Ujarnya penuh semangat.

Terkait dengan masalah transport, mereka sepakat mengamalkan salah satu kode etiknya, yaitu Rela Berkorban. “Prinsip kami adalah, ada atau tidak ada bantuan Dana, kami tetap melaksanakan temu koordinasi dalam rangka menjaga eksistensi Saka Widya Bakti di masa yang akan datang,”. kata La Subu, sebagai inisiator sekaligus ketua koordinator kegiatan. Sayang sikap rela berkorban kurang dimiliki oleh lainnya sehingga terkesan cuci tangan semua ketika tidak ada dananya.

Sungguh mulia semangat mereka, dan malulah rasanya jika tim pengembang model pramuka tidak ikut bersemangat mewujudkan model saka widya bhakti menjadi sebuah saka yang benar-benar diakui keberadaannya, termasuk direstui oleh pejabat yang nantinya bertanggungjawab membina dan mendanai. Ya, disini tidak ada untung rugi, yang berbicara adalah hati nurani, rasa keterpanggilan jiwa untuk berbuat demi kemanusiaan. La Subu beserta pasukannya telah membuktikan itu.

Pertemuan yang berlangsung ala kadarnya itu pun tetap penuh kegembiraan khas pramuka. Sesuai dengan semangat lagu Di sini Senang Di sana Senang, mereka pun menghasilkan kesepakatan yang akan dijadikan pegangan dalam menghidupkan semangat saka widya bhakti, yaitu; (a) Pembentukan Dewan Saka, (b) Perkemahan Penegak tingkat Jawa Timur pada bulan Desember 2013, (c) Perekrutan Anggota baru Saka Widya Bakti.

Mereka pun sepakat menyusun KDSWB periode 2013 2015, dimana. Mereka memilih La Subu sebagai Ketua, di damping Sekretaris, Istisaroh dari Kwarcab Nganjuk, Bendahara, Isdiyah Irowati dari Kwarcab pasuruan, Seksi PAUD, Sunarti dari Kwarcab Jombang, Seksi Kursus, Umar dari Kwarcab Malang Kota, Seksi Dikmas, Gofur dari Unesa Surabaya, Seksi Humas, Imam dari Mojokerto Kota.

Sebuah awal perjalanan telah dimulai dengan penuh kesadaran dan keswadayaan. Harapannya, semoga langkah kecil itu tidak menutup diri, namun bisa mengajak pamong belajar sebanyak-banyaknya untuk turut Cancut Tali Wondo, Rawe rawe Rantas Malang malang Putung mengembangkan konsep pramuka saka widya bhakti gagasan pamong belajar BPPAUDNI Surabaya yang pakar dibidang pramuka. Hal ini mengingat, jika nanti saka ini benar-benar diakui keberadaannya secara nasional, maka otomatis akan menjadi kebanggaan pamong belajar seluruh Jawa Timur.

Paling tidak, La Subu harus kreatif membuat kegiatan kepramukaan yang bisa diikuti oleh pamong belajar (dan penilik) yang belum kenal sama sekali dengan dunia pramuka. Sehingga akan muncul kader-kader baru yang akan meramaikan kiprah saka wadya bhakti di lapangan. Itulah mungkin tugas tambahan dari KDSWB yang dibidani oleh alumni PLS, IKIP Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, yang sekarang sudah menetap di sebuah desa di kabupaten Jombang. Ya, tidak terlalu salah jika La Subu dikatakan sebagai relawan kemanusiaan.*[eBas]