“Kami di BPBD sudah memiliki pasukan yang cukup banyak
dan harus ditingkatkan kapasitasnya secara berkala agar selalu siap
melaksanakan tugasnya di bidang kebencanaan. Juga tugas-tugas yang diberikan
oleh atasan kami, yaitu Pak Walikota. Untuk itulah kami memprioritaskan pasukan
kami untuk pembinaannya, sehingga ada kesan kami kurang memperhatikan relawan”.
Pernyataan di atas diucapkan oleh Ridwan Mubarum,
Sekretaris sekaligus menjabat sebagai Plt BPBD Kota Surabaya, yang mencoba
menjawab pertanyaan kritis dari Yogi, dari Posko Bersama Relawan Surabaya. Termasuk
dari komunitas Respek yang mengatakan bahwa petugas kurang simpatik saat
relawan membantu di lapangan.
Pertemuan antara relawan Kota Surabaya yang terdiri dari
berbagai komunitas dengan para petinggi BPBD, digelar di Aula Kantor BPBD Kota
Surabaya, selasa pahing (13/09/2022). Ini adalah awal pertemuan yang diinisiasi
oleh relawan. Harapannya yang pertama ini bukan yang terakhir.
Disamping untuk menjalin komunikasi antar relawan, juga
sebagai upaya mempererat tali silaturahmi untuk membangun ketangguhan dan sinergi
positif diantara berbagai komunitas relawan dan BPBD, kaitannya dengan
kerja-kerja pengurangan risiko bencana dan upaya penanggulangan bencana, sesua
pesan dari Perka BNPB nomor 17 tahun 2011.
Pertemuan ini juga menjadi ajang keluh kesah dari
beberapa relawan yang memiliki pengalaman kurang enak dengan petugas saat di
lapangan. Seperti ungkapan di atas. Dengan berkomunikasilah semua akan memahami
mengapa hal itu terjadi.
Roy dari Relawan Surabaya, mengatakan bahwa dulu, setiap
ada kejadian bencana maupun kecelakaan, relawan selalu berada di ring satu, Di depan
bersama-sama petugas melaksanakan tugas. Namun sekarang sudah tidak lagi. Relawan
cukup di ring belakang.
Mengapa ini bisa terjadi ?. ya, mungkin semuanya
mengikuti perubahan aturan dan kebijakan.Termasuk adanya kekhawatiran terjadi
kesalahan yang lebih fatal jika penanganannya melibatkan relawan yang
kapasitasnya beragam (bahkan hanya modal nekat).
Konon, jika terjadi kesalahan atau keterlambatan dalam menangani
kecelakaan, si petugas akan mendapat teguran dari atasan, yang bisa berdampak
terjadinya teguran, mutasi atau “dirumahkan”.
Masalah inilah yang juga perlu dipahami oleh relawan. Bahkan
Ocha, dari Navshoot, mengatakan bahwa, relawan tidak boleh memaksakan kehendak
kepada BPBD, karena semua ada aturan dan kebijakan yang harus ditaati.
Termasuk masalah anggaran, jika mbleset dalam
penggunaannya, maka akan terjadi bencana administratif bagi BPBD, yang tidak
menutup kemungkinan akan berakhir di depan “meja hijau”.
Ya, begitulah nyatanya, beda pimpinan (rezim), beda pula
aturan dan kebijakan yang disusun, termasuk perhatian kepada relawan, yang
konon tidak sehangat dulu (info dari beberapa senior relawan Kota Surabaya yang
enggan dsebutkan jati dirinya disini).
Nah, kemudian, bagaimana relawan menyikapi kondisi yang
demikian ?. Tentunya tetap bersemangat menerima maksud baik pihak BPBD untuk
menghimpun diri dalam grup whatsapp relawan surabaya bersatu, sebagai upaya
mempermudah koordinasi menyusun aksi, melakukan komunikasi mencari solusi,
sekaligus memudahkan mobilisasi relawan apabila ada kejadian.
Terkait dengan upaya peningkatan kapasitas relawan
dibidang kebencanaan. Baik itu saat pra bencana, tanggap darurat, maupun pada
fase pasca bencana. Ada baiknya relawan secara bersama-sama rembugan untuk menyepakati
agenda latihan bersama secara mandiri dengan dana “bantingan” dari masing-masing
komunitas.
Adapun materinya bisa apa saja dengan mencari pemateri
yang mau mengajar secara gratisan, seperi yang selama ini dilakukan oleh SRPB Jawa
Timur, yang terbukti membawa manfaat bagi pesertanya, terkait dengan
peningkatan kapasitas maupun menambah relasi pertemanan.
Atau kelakuan Jamaah LC yang rajin menggelar Jagongan
sambil ngopi untuk menjaring gagasan kreatif yang bisa diwujudkan dalam aksi
bersama lintas komunitas. Seperti gerakan bersih-bersih pantai, edukasi
konservasi dan penanaman mangrove. Serta kegiatan lain yang berazaskan gotong
royong dan kebersamaan dalam keberagaman. Saling menguatkan tanpa melemahkan
dalam arti sebenarnya, bukan sekedar seolah-olah.
Hal ini mengingat anggaran BPBD sudah habis untuk membina
dan meningkatkan kapasitas pasukannya yang jumlahnya banyak itu. Ya, siapa lagi
yang “ngopeni” mereka jika bukan BPBD ?.
Benar orang bilang bahwa bencana itu urusan bersama,
termasuk relawan. Namun harus tetap dibawah koordinasi dan komando BPBD atau
yang ditunjuk, seperti pesan dari konsep SKPDB. Untuk itulah ajakan baik dari
BPBD untuk membentuk paguyuban relawan Surabaya di bulan November 2022 nanti,
perlu kiranya disambut dengan riang gembira.
Mari kita torehkan bersama bahwa acara kopi darat relawan Surabaya yang pertama ini menjadi awal terbentuknya paguyuban relawan Surabaya yang memberdayakan secara ekonomi, dan meningkatkan kapasitas berdasarkan klaster yang ada, sesuai dengan kemampuan individunya. Mari kita buka kembali Perka BNPB nomor 17 tahun 2011.
Adapun masalah inisiasi pembentukan forum penguranga risiko bencana Kota Surabaya yang telah dilakukan dan kurang mendapat tanggapan itu, sebaiknya relawan tidak usah ikut memikirkan. BPBD sudah punya tim sendiri untuk pembentukannya. Yang penting relawan siap jika dibutuhkan untuk meramaikan forum*. Salam Waras. [eB/RabuWage Ndleming dewe-14092022]






