Minggu, 18 Agustus 2024

PERLUKAH KITA MELAKUKAN GIMIK

 Kali ini Mukidi ngopi berdua dengan Rapinter di warkop langganan. Sementara Kaspo beberapa hari ini bersama komunitasnya mengadakan camping ceria di bumi perkemahan, lereng Gunung Penanggungan dari sisi Kabupaten Mojokerto.

 Sambil melihat kemeriahan aneka lomba yang diadakan warga kampung, dalam rangka memeriahkan HUT RI Ke-79, Ratrimo bilang ke Mukidi, bahwa sekarang Kaspo sering melakukan gimik dengan memanfaatkan media sosial yang dimiliki. Baik itu Facebook, Instagram, Tik-tok, Twiter, dan sejenisnya.

 “Lho gimik itu apa to kok saya baru dengar istilah itu ?. Kalau gimik diartikan sebagai pamer foto kegiatan, pamer foto bersama pejabat, pamer dagangan, dan pamer baju baru, menurut saya ya biarkan saja. Sah sah saja, itu haknya,” Kata Mukidi, sambil nyakot rondo royal kesukaannya.

 Mukidi bilang bahwa pamer itu merupakan salah satu sifat manusia untuk menarik perhatian, dan diakui keberadaann. Biasanya mereka akan berusaha dengan segala cara agar dikenal. Itu kalau gimik diartikan sebagai pamer.

 Rapinter, sambil nyeruput kopi, mencoba tanya kepada mBah Gugel arti gimik. Dalam wikipedia, dikatakan bahwa Gimik atau gimmick adalah trik atau alat yang sengaja digunakan untuk menarik perhatian atau membujuk orang untuk membeli sesuatu, menerima, sesuatu, atau terbeli keyakinannya akan sesuatu.

 Dikatakan pula bahwa Gimmick merupakan istilah umum yang merujuk kepada pemanfaatan kemasan, tampilan, alat tiruan, serangkaian adegan untuk mengelabui, memberikan kejutan, menciptakan suatu suasana, atau meyakinkan orang lain.

 “Lha terus apa hubungannya pamer foto yang dilakukan oleh Kaspo dengan istilah gimik itu ya ?. Masak sih foto bisa dijadikan alat untuk mengelabuhi, mempengaruhi, dan membujuk orang ?. kok saya jadi bingung ya,” Kata Rapinter, sambil memperhatikan peserta gerak jalan yang baru melintas.

 Mukidi, waktu rapat warga kampung juga pernah mendengar jika istilah gimik dapat dikaitkan dengan berbagai konteks, termasuk konteks politik. Bahkan sekarang ini banyak pihak yang memanfaatkan gimik diberbagai aktivitas keseharian. Tentu dengan maksud tertentu dan kepentingan yang melatarinya.

 “Mungkinkah gimik berlaku juga dalam konteks kebencanaan ?,” Kata Rapinter mencoba menggali pendapat Mukidi.

 Sebelum menjawab, Mukidi nyruput kopi yang sudah dingin. Kalau masalah gimik kebencanaan, kok tampaknya sulit untuk dimainkan di sana, karena bencana itu masalah kemanusiaan, dan tidak mungkinlah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

 Jika ada yang tega melakukannya pastilah si oknum itu tidak paham apa itu bencana seperti yang termaktub di dalam regulasi yang ada. Lain lagi jika gimik itu dilakukan secara berjamaah. Tapi rasanya itu tidak mungkin, karena relawan tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nuraninya.

 “Sungguh sampiyan jangan sampai melakukan gimik dalam kerja-kerja kemanusiaan, apalagi yang bersentuhan dengan anggaran. Itu sangat berdosa dan semua agama pasti mengutuk perbuatan itu,” Kata Mukidi kepada Ratrimo.

 “Apakah gimik itu termasuk penipuan atau kebohongan yang berkonotasi kebaikan dan tidak berdosa ?,” Kata Rapinter.

 “Hus …. jangan bilang begitu. Kata nenek tidak berbahaya, karena gimik itu oleh sebagian pihak memang dipandang perlu, Termasuk kamu jika mau,” Ujarnya.

 Namun, jika kamu sampai tega berbuat nakal melakukan itu, pasti kamu akan dipaido dan diclathu oleh orang sekampung. Bahkan akan dimasukkan “Buku inting-inting” oleh Pak Lurah. Tapi semua itu hanya jika kelakuanmu konangan. Kalau tidak ya amanlah perbuatanmu.

 Namun sejarah hidupmu akan tercatat sebagai relawan yang tega memanfaatkan moment bencana untuk memperkaya diri lewat gimik yang sengaja kamu ciptakan, ingat jejak digital itu sulit terhapus, Kata Mukidi sambil mengajak Rapinter meninggalkan warkop untuk melihat lomba joget gemoy berhadiah sepeda. Salam Nusantara Baru, Indonesia Maju. [eBas/MingguPahing-18082024]


Rabu, 14 Agustus 2024

YANG SEMPAT TERCATAT DARI NGOPI PB 2.0

    Ngobrol pintar penanggulangan bencana yang digelar secara webinar kali ini, rabu (14/08/2024) malam, mengambil topik, Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) dan Tata Kelola Pemerintah Daerah.

    Dalam paparannya, Cahyo dari BNPB mengatakan bahwa RPB dan dokumen PB lainnya yang harus disusun secara lengkap itu sifatnya dinamis menyesuaikan perkembangan jaman, sebagai pijakan dalam penyusunan kebijakan di bidang penanggulangan bencana.

    Dikatakan pula bahwa dokumen itu juga diharapkan dapat mewadahi keinginan berbagai pihak, dan harus dapat mewarnai penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). untuk itulah saat ini sedang disusun perkuatan BPBD dan personilnya melalui beberapa regulasi yang direvisi.

    Untuk itulah, masih kata Cahyo, diperlukan komitmen dari kepala daerah terhadap masalah kebencanaan beserta anggaran pendukungnya, agar dokumen PB itu benar-benar dapat menjadi acuan penyusunan kebijakan. Dengan kata lain, BPBD sebenarnya sudah mempunyai rencana menyusun dokumen, namun pihak Pemerintah daerah kurang menaruh perhatian dikarenakan kebijakan.

    Belum lagi, kebijakan politik lokal biasanya sangat dominan pengaruhnya terhadap penyusunan dokumen PB, dan BPBD serta BNPB pun sering tidak berdaya menghadapinya. Walaupun sudah ada regulasi yang mengatur.

    Hal ini seperti yang dikatakan oleh peserta, bahwa keberhasilan RPB dalam penyelenggaraan PB di daerah, tergantung keberhasilan memadukan RPB ke dalam RPJMD. Pertanyaannya kemudian, bagaimana trik untuk mensukseskan pemaduan RPB ke dalam RPJMD. Sebab, biasanya RPJMD disusun berdasarkan isu-isu strategis dari kepala daerah.

    Padahal, ada yang bilang bahwa isu kebencanaan itu masuk ke dalam isu strategis pembangunan daerah. Karena resiliensi bencana menjadi salah satu dari 17 arah pembangunan yang tertuang dalam RPJPN dan RPJPD Provinsi se Indonesia.

    Mungkinkah masalah ini yang membuat banyak BPBD yang belum memiliki RPB ?. bahkan mungkin, banyak dokumen yang belum disusun sebagai korban kebijakan daerah.

    Apalagi, dikatakan oleh nara sumber bahwa untuk menyusun dokumen itu perlu keterlibatan ahli, pakar, praktisi, akademisi, dan konsultan itu kapasitas dan kwalitasnya masih beragam, namun honorariumnya tidak murah. Untuk itu diusulkan ada standar minimum kompetensi untuk mereka.

    Sementara itu, konon diperlukan anggaran yang tidak sedikit untuk menyusun dokumen PB. Jumlahnya sekitar 50 sampai 100 juta (bisa lebih). sungguh jumlah itu sangat sulit dipenuhi oleh daerah yang masuk kategori terpencil/tertinggal, terdepan dan terluar, dengan sumber daya manusia yang jauh dari cukup.

    Dari anggaran itu, paling banyak habis untuk acara rapat-rapat dan seremonial yang dihadiri para pejabat. Sedang untuk kegiatan FGD dan konsultasi publik, biasanya didukung dana ala kadarnya saja.

    Sehingga, yang sering terjadi, acara seremonial di atas hanyalah formalitas belaka. Di banyak kasus, setelah para pejabat angkat kaki pasca pembukaan, maka terciptalah suasana santai, bahkan ada juga yang ikut balik kanan, yang penting sudah absen (menyerahkan surat tugas, SPPD, dan ambil amplop jika ada).  

    Kalau sudah begini, maka mutu yang dihasilkan ya hanya begitulah, tidak usah mencari kambing hitam, yang penting daya serap anggaran sudah sesuai aturan.

    Sementara itu ada yang menggelitik dari paparannya Didik. S. Mulyono, yang mengatakan agar masyarakat sipil hendaknya mengawal regulasi/kebijakan yang disusun, agar tetap berjalan sesuai jalurnya. Siapakah yang dimaksud dengan masyarakat sipil ?.

    Kemudian, pernyataan menggelitik lainnya dari Didik adalah, banyak anggota legislatif yang berfungsi ganda. Harusnya sebagai pengawas, namun sering juga merangkap sebagai pelaksana yang bermain di belakang layar.  

    Demikianlah catatan yang sempat tercatat. Sebenarnya masih banyak hal yang menggelitikdari acara Ngopi PB. Sungguh semua peserta yang berjumlah sekitar 130 itu pasti punya catatan sendiri untuk bahan cerita kepada anggota komunitas lainnya dalam rangka pemerataan informasi. 

    Semoga catatan ini tidak menimbulkan kegaduhan, dan dipaido secara berjamaah karena dianggap berseberangan dalam hal catat mencatat materi webinar ini. [eBas/KamisWage-15082024]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 13 Agustus 2024

GIAT RELAWAN PERLU CUAN TAPI TIDAK HARUS SALING REBUTAN

 Seperti biasanya, Mukidi dengan shohibnya, Kaspo dan Rapinter, cangkruk di warkop langganannya sambil ngobrol ngalor ngidul tanpa topik namun kadang muncul polemik, karena pemahaman yang picik.

 Sambil menunggu pesanan berupa kopi hitam panas pahit, Rapinter membuka obrolan tentang kebencanaan dan kerelawanan. Menurut pemahaman dan pengalamannya, program pengurangan risiko bencana dengan berbagai bentuknya, seperti destana dan spab, itu ternyata harus ada cuannya agar dapat berjalan. Tanpa cuan akan berhenti di persimpangan jalan.

 “ada sebuah guyonan ngawur yang mengatakan, ada cuan program disayang, tak ada cuan program ditendang. Bagaimana merurut sampiyan Cak Di,”

 “Lho … lho …gak bahaya ta ?. guyonan sampiyan ini dapat menimbulkan kegaduhan. Sebaiknya postingan semacam ini sampiyan hapus saja dari memori otak sampiyan,” Kata Mukidi sedikit khawatir dengan pertanyaan nakal Rapinter di alam demokrasi otoriter ini.

 “Jika menyimaknya dengan hati yang cerdas tanpa emosi, harusnya tidak bahaya kok. Karena sesungguhnya praktek program berbasis proyek itu lumrah. Hampir semua kementerian pasti mengalami dan memahami, yang penting daya serap anggaran lancar dan laporannya tidak sekedar membuat sehingga enak dibaca,” Jawab Rapinter sambil nyakot rondo royal kesukaannya.

 Kaspo, yang sedari tadi diam saja menyimak percakapan Rapinter dengan Mukidi, hanya cengar cengir mencoba menganalisa guyonan Rapinter tentang relawan, program dan cuan.

 Dalam hati, Kaspo mengakui pernah mendengar “bisik-bisik” yang beredar, bahwa kebanyakan program itu pelaksanaannya hanya sekali sentuh tidak ada tindak lanjutnya. Keberlanjutannya sangat tergantung kepada penyusun anggaran tahun berikutnya.

 Apakah perlu ada tindak lanjutnya dalam bentuk program penguatan kelompok, program pemandirian kelompok, dan program pembinaan kelompok, atau cukup mengulangi program yang lalu dengan sasaran yang berbeda. Semua tergantung kebijakan.

 Sehingga wajar jika para proyektor (orang yang melaksanakan proyek) senang mengatakan bahwa komunitas/lembaga ini telah resmi mendapat label tangguh setelah mendapat program yang hanya sekali sentuh. Padahal kenyataannya tidak begitu, dan semua sudah tahu.

 “Pantesan program destana dan spab yang pernah saya pegang dulu, sekarang entah gimana kelanjutannya, karena yang tinggal hanya dokumen dan foto kegiatan yang tersompan di Balai Desa dan Sekolah, menunggu dimakan rayap,” Kata Kaspo

 “Hahahaha, Kaspo mulai bersuara. Rupanya nalarnya mulai konek dengan pembicaraan yang menggelitik ini,” Seloroh Mukidi sambil tertawa ngakak, terlihat giginya yang mulai jarang karena sudah tergolong manusia tuwek.

 “Woalah, ternyata sampiyan juga pemain to ?. tapi kan enak to?. Sing penting daya serap anggaran lancar dan laporan diterima tanpa revisi. Ya rekayasa sikit-sikit ga papa lah, tapi ya usahana merata. Hindari minum keringat anggotanya,”  Seloroh  Rapinter sambil tertawa, namun tidak sampai ngakak karena usianya belum begitu tuwek.

 Dari obrolan tiga serangkai di atas, dapat ditarik simpulan bahwa semua kegiatan yang dilakukan relawan dalam upaya edukasi dan sosialisasi pengurangan bencana itu, seyagyanya memang harus didukung anggaran yang signifikan. Tanpa itu gerakannya hanya seporadis. Hangat-hangat tahi asu.

 Pelajaran yang dapat dipetik dari obrolan di warkop embongan yang tidak cerdas sama sekali jika ditinjau dari kacamata akademisi, adalah komunitas relawan harus dapat menggandeng “pihak beruang” dengan baik dan benar agar segala program yang akan dilaksanakan dapat memberdayakan para penerima manfaat, tanpa mengganggu dompet pribadi.

 Abaikan saja jika ada yang bilang, relawan kok minta upah. Ya, memang benar relawan tidak minta upah, namun sesungguhnyalah relawan itu berhak menerima upah dan tidak berdosa untuk mencari upah. Apalagi kegiatannya berskala besar dan ada anggarannya).

 “Ya, kenyataannya memang begitu lho. Tapi kadang malu mengungkapkan, namun nyatane rebutan, melupakan jargon saling menguatkan tanpa meninggalkan,” Kata Mukidi yang sering tersakiti saat melaksanakan aksi, haknya sering dikurangi.

 Mukidi pun juga bilang kepada Kaspo dan Rapinter, bahwa masih ada komunitas relawan yang kegiatannya tidak harus menungguh kebaikan donatur. Cukup saweran seikhlasnya untuk membuat sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi semua pihak. Ya itu jenis kegiatan berskala kecil yang tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Yang jelas, diakui atau tidak semua kegiatan relawan itu memang perlu cuan. Salam Waras [eBas/RabuPon-14082024]  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 26 Juli 2024

KONSOLIDASI RENCANA UPACARA TUJUBELASAN DIFASILITASI BUNDA HANI

 “Dimohon kehadirannya kepada seluruh pengurus, tim Support, Panitia dan Petugas Upacara Bendera Formalitas Jatim pada hari kamis (25/07/2024) malam, di TK Tri Sukses, Gunung Anyar, Surabaya,” Kata Ketua Panitia dalam undangan yang disebar melalui grup whatsapp.

 Tempat rapat yang dipilih itu merupakan rumah kosong yang dimanfaatkan untuk sekolahan tingkat taman kanak-kanak, milik Bunda Hani, anggota komunitas Srikandi Pendaki, yang cukup punya nama di dunia kepecinta alaman.

 Peserta rapat cukup banyak. Bahkan ada yang dari luar kota juga datang dengan riang gembira. Diantaranya adalah Pak Agus dari Pandaan, Mas Ramadhan dari Turen Malang, dan mas Ardi dari Mojokerto. Ya mereka datang demi ikut mensukseskan upacara agustusan.

 Harper, Ketua FORMALITAS, yang masa jabatannya tinggal beberapa bulan ini, berharap muncul wajah-wajah baru yang menjadi petugas upacara, sekaligus sebagai upaya kaderisasi agar kepengurusan FORMALITAS tidak terhenti karena tidak adanya calon pengganti.

 Begitu juga panitianya, diharapkan gabungan antara senior dan yunior, dari berbagai komunitas, untuk berkolaborasi mensukseskan acara tahunan ini. Ya, pelibatan yunior dalam kegiatan juga sebagai upaya transfer ilmu dan pengalaman agar para yunior segera menyesuaikan diri, ketika suksesi itu terjadi.

 Terkait dengan rencana suksesi, Abah Ucup, salah seorang penasehat FORMALITAS, berharap ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh calon pengurus FORMALITAS ke depan. Diantaranya, sudah pernah mengikuti kegiatan anniversary dari berbagai komunitas, dan dikenal oleh banyak pihak.

 Sesuai kesepakatan, upacara tujubelasan tahun ini digelar di bumi perkemahan Putuk Panggang Welut, Lereng Gunung Penanggungan dari sisi Mojokerto. Tempatnya cukup menawan dan mudah dijangkau. Sehingga tidak menyulitkan bagian perlengkapan menyiapkan segala pendukung acara.

 Sambil menikmati pisang goreng, ote-ote, keripik singkong, kerupuk upil, dan rujak manis, mereka membahas susunan acara, menu makanan, melengkapi petugas upacara serta menjelaskan tugas masing-masing bidang dengan prinsip saling membantu dan mengingatkan.

 Disamping jajanan yang dihidangkan, Bunda Hani juga menyediakan air minum dalam kemasan, wedang Kopi, dan es cao. Semua disajikan tanpa ada penolakan dari peserta rapat, yang sedang membahas rencana tirakatan dan tumpengan.

 Sambil mendengarkan penjelasan pimpinan rapat tentang susunan acara, dress code, rencana lomba-lomba dan hadiahnya, serta peran tim DU, tim regis, dan tim perlengkapan, satu persatu hidangan berpindah dari piring ke perut.

 “Terima kasih banyak kepada bunda Hani yang sudah memfasilitasi tempat maupun hidangannya, sehingga membuat peserta bersemangat mengikuti rapat. Semoga kebaikan Bunda Hani mendapat balasan dari Sang Maha Pengasih,” Komentar pria ganteng yang masih senang menjomblo. [eBas/JumatWage-26072024]

 

 

 

Rabu, 10 Juli 2024

WARGA HANYA MAMPU BERKOMENTAR

 Bermula dari adanya seseorang pengusaha kosan yang akan membangun lahannya untuk kos-kosan di wilayah Perumahan Marina Emas Barat blok B, RT 02, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya Timur, komentar warga mulai bermunculan, yang mengkhawatirkan rusaknya jalan karena dilewati alat berat, juga truck yang membawa material.

 Sebuah komentar keprihatinan yang sudah terlambat. Karena, sesungguhnyalah sudah sejak dulu para pengusaha kosan membangun kos-kosannya dengan mendatangkan alat berat, dan aman-aman saja, tidak ada komentar. Jika terjadi kerusakan disana-sini, ya dibiarkan saja pura-pura tidak tahu, untuk kemudian diselesaikan dalam senyap.

 Komentar prihatin datang dari Pak Ruslan. Dia merasa heran, untuk area marina sebenarnya kan perizinannya dan  peruntukannya untuk  perumahan. Sehingga menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi penghuninya. Tapi sekarang justru jadi tempat bisnis kos-kosan dan menjadi semrawut sulit diatur.

 “Benar Pak, saya dulu memilih tinggal di Marina karena ini (dekat dan relatively nyaman). Tapi sekarang sudah beda banget. Dan yang lebih saya concern, para pemilik kos memandang ini sebagai hal yang tidak perlu diperhatikan serius,” Kata Mas Ary, menimpali komentarnya Pak Ruslan.

 Masih kata Mas Ary, setiap usaha pasti ada dampaknya. sama juga dengan usaha kos-kosan. Apa pemilik usaha sudah memikirkan dampak yang ditimbulkan, seperti  parkir motor dan mobil anak kos di jalan, knalpot brong, kebersihan lingkungan, perilaku anak kos, dan masalah sosial lainnya.

 Memang, kebanyakan para pengusaha kosan itu tidak tinggal di Marina, sehingga mereka tidak tahu keluh kesah warganya lewat grup whatsapp. Diotaknya hanya ada keuntungan dan cuan semata, agar cepat balik modal dan tambah kaya.

 Hal ini sejalan dengan komentar Pak Ruslan, kalau pemilik kosan tinggal serumah dengan kosannya, mungkin tdk terlalu ada masalah karena gampang koordinasinya. Tapi kebanyakan mereka membangun kosan hanya untuk ngeruk keuntungan, tidak peduli apa yang terjadi ditempat kosnya, yang penting dia untung.

 “Kalau seperti ini jelas merugikan warga sebenarnya.  Ibaratnya di Marina hanya nelek/buang kotoran, sedang warga yang bersihkan kotorannya dan  merasakan baunya,” Ujarnya.

 Sementara, si pengusaha kosan juga punya hak untuk berbuat sesuatu atas tanahnya sendiri. Walaupun dia tidak hidup di Marina dan tidak mau bayar iuran bulanan, tetap saja itu tanah hak miliknya yang dilindungi hukum. Ya, mau dibangun kek, mau dibiarkan njembrung kek, mau dijadikan gudang kek, dan lainnya ya terserah pemiliknya.

 Pak Ruslan juga meramalkan bahwa nanti, ke depan pasti akan banyak masalah sosial yang akan kita hadapi kalau terus kosan menjamur di tempat kita, dan ke depannya pasti akan terus terjadi gap antara warga dengan anak kos, dan tentunya juga dengan pengusaha kosan.

 Pertanyaannya kemudian, seperti postingannya Pak Seger, bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan yang pelik ini ?. Lha wong, menertibkan parkir liar saja kita gagal.

 Apa yang dikatakan Pak Seger itu benar adanya. Sebenarnya pengurus RW Sudah pernah membuat regulasi untuk menertibkan kelakuan anak kos. Bahkan atas nama kesepakatan bersama, pengurus juga membuat spanduk larangan parkir mobil di pinggir jalan bagi anak kos, yang dipasang di beberapa tempat yang strategis.

 Namun nyatanya, regulasi itu tidak jalan. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya kekompakan seluruh warga untuk menjalankan regulasi. Warga masih bersikap membiarkan pengurus jalan sendiri untuk kemudian maido dan nylathu ketika kepentingannya terusik oleh pelaksanaan regulasi.

  Dampaknya, Anak kos babar blas tidak menggubris spanduk yang dipasang. Mungkin anak kos sudah paham bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Sementara sanksi yang diberikan pun hanya disenyumi saja tanpa efek jera.

 Saat ini di lokasi calon kos-kosan belum ada aktivitas keluar masuknya truck pengangkut material. Pekerjanya pun juga tidak tampak sibuk, sehingga belum mengganggu kenyamanan warga sekitar. Hanya alat berat yang dipakai untuk “mendlesepkan” tiang pancang (paku bumi) sudah “ready on use”. 

 Jika komando kerja sudah diteriakkan, tentu suasana di lokasi akan meriah dengan berbagai suara, yang tentunya sedikit banyak akan mengganggu.

 Ya, selamat terganggu oleh kebisingan pembangunan kos-kosan, dan silahkan berkomentar di grup whatsapp warga, senyampang berkomentar masih bebas tanpa dikenai pajak, dan memang warga hanya dapat berkomentar, tidak berani “bertengkar”. [eBas/RabuPon-10072024]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 08 Juli 2024

OM DHARMA YANG SAYA KENAL

    Kalau tidak salah, pertama kali saya kenal Om Dharma di akhir tahun 2018, di Joglo Kadiren (Joka), Komplek Perumahan Surya Inti Permata Juanda, Sedati, Sidoarjo. Ketika ada acara Arisan Ilmu Nol Rupiah yang merupakan program ikonik SRPB Jawa Timur. Kala itu kegiatan Arisan Ilmu diselenggarakan malam hari.

    Seingat saya, materinya seputar kerelawanan yang disampaikan oleh Kepala BNPB, Syamsul Maarif, yang saat itu sedang ada kunjungan kerja ke Jawa Timur.

    Om Dharma hadir beserta rombongannya. Mereka tampak gayeng menikmati acara. Om Dharma dengan senyumnya, grapyak semanak menyapa peserta yang baru dikenalnya, tanpa membedakan usia dan latar belakang. Semua senang, malam pun berkesan.

    Ada yang unik dari rombongannya Om Dharma. Mereka membawa kampor dan membuat kopi sendiri untuk diminum bersama-sama. Bahkan Kepala BNPB pun juga ikut nimbrung ngincipi kopi sambil lesehan penuh suka cita.

    Ya, Om Dharma adalah satu-satunya relawan peserta Arisan Ilmu yang diberi topi oleh Syamsul Maarif, yang juga sebagai guru besar Universitas Pertahanan Nasional, Jakarta. Sementara, lainnya cuma bisa ngowoh plonga plongo gak kebagian.

    Dengan menggunakan pakaian dinas lapangan SRPB yang dibeli sendiri, Om Dharma juga terlibat aktif membersamai kegiatan SRPB. Kehadirannya menjadi penyemangat seluruh pengurus SRPB yang kala itu sedang belajar menjadi mitra BPBD Provinsi Jawa Timur.

    Begitu juga pasca Peristiwa Civid-19, ketika beberapa relawan dari berbagai komunitas membentuk Jamaah LC (Lorong eduCation) dengan bermacam programnya, Om Dharma juga hadir memberi warna dan menyemangati melalui nasehatnya yang dikemas dalam “guyon pari keno”.

    Pernah suatu saat, sambil menikmati rokoknya, Om Dharma bilang, satu hal yang membuat kita semua di keluarga besar Navigator Shooter Jawa Timur  semakin akrab, guyub, rukun dan mesra, itu tidak lain adalah adanya bonus yang saya berikan dengan penuh kasih sayang.

    Bonus itu berupa ‘push up’ bagi mereka yang berbuat salah. Tidak banyak jumlahnya. Hanya lima kali saja, kemudian ditambah lima kali lagi, dan lima kali lagi, sak gempornya. Anehnya, mereka yang menerima bonus tidak marah, apalagi malu. Tapi malah cengengesan penuh suka cita.

    Om Dharma juga sering menghabiskan waktu di Basecamp LC sambil bercerita pengalamannya selama “mbrasak alas” dalam berbagai peristiwa. Bahkan pria yang bernama asli Supriantoro ini tertidur nyenyak  setelah di bekam oleh Alfin, Ketua Jamaah LC.

    Ya, di basecamp LC pula, Om Dharma “diplokotho” oleh Jamaah LC ketika beliau berulang tahun. Saat itu, pria yang suka memberi bonus kepada anggota Navshoot, hanya diam pasrah dan tidak marah, menerima perintah untuk menyalakan lilin dan meniupnya, serta memotong kue ulang tahun.

    Menurutnya, ini adalah peristiwa langka, untuk pertama kalinya “diplokotho” oleh relawan yang lebih muda darinya. Padahal, menurutnya, sebelumnya tidak pernah ada yang berani.

    Siang itu, sabtu wage (06/07/2024), ketika saya bersiap pulang dari Kota Malang menuju Surabaya berdua istri naik motor (ben koyo kancane sing seneng touring tipis-tipis karo bojone). Sambil nunggu istri mempersiapkan diri, iseng-iseng saya  buka grup whatsapp Jamaah Lorong eduCation.

    Adi Sucipto, yang jarang komen di grup whatsapp, tetiba muncul membawa kabar duka. “Ijin info berita duka, Telah meninggal dunia Om Dharma Navshoot (Karang Taruna), siang ini di rumah pakis. Info saya terima langsung dari keponakannya Om Dharma. Saat ini Cak Ndaru  otw rumduk, Aku menyusul bentar lagi,”

    Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un, Allahumaghfirlahuu warhamhuu wa’afihi wa’fu’anhuu. Semoga seluruh amal ibadah Om Dharma diterima Allah Subhanahu wata'ala, dan mendapat tempat yang mulia disisi-Nya. Untuk Keluarga yang ditinggalkan, semoga selalu mendapatkan ketabahan dan kesabaran. Aamiin  yaa robbal'allamin.

    Ucapan belasungkawa pun berdatangan dari sahabatnya. Semua merasa kehilangan, ditinggal oleh salah seorang yang begitu peduli terhadap persatuan dan kesatuan bagi para pegiat kebencanaan dan lingkungan alam. Selamat jalan Om, kini kau abadi di sisi Tuhan Mu, kelak semua akan menyusulmu, tunggu kami di pintu Surga NYA.

    “Selamat datang di zona keabadian, Sampai bertemu di pos Kedamaian. Selamat mendaki ke peluhan Tuhan,” Kata Nia dalam lamannya Wong Alas. Dia juga bilang bahwa Om Dharma adalah satu-satunya orang yang menyapa dirinya dengan panggilan Nonik.

    Sementara Probo, dalam postingannya bilang, bahwa Om Dharma sudah berada di karvak terakhir di petanya. Semoga ilmu navigasi yang beliau tularkan menjadi ladang amal yang menemaninya di alam keabadian.

    Semoga kita bisa menjadikan ibrah di sisa usia ini, dan diberi kesabaran dalam melanjutkan kerja-kerja kemanusiaan yang telah dirintis oleh sahabat kita, Om Dharma Antoro. Allahumma firlahaa warhamhaa. [eBas/SelasaPahing-09072024]

  

 

 

 

.

Rabu, 03 Juli 2024

KADERISASI ORGANISASI ITU SEBUAH KEHARUSAN

 Bertempat di rumah mas Harper, ketua forum bersama lintas komunitas (FORMALITAS), di seputaran Kantor KODAM V/Brawijaya, pengurus formalitas mengadakan rapat rutin, Selasa (02/07/2024) malam.

 Rapat pengurus ini sudah diagendakan sehingga wajib diadakan, dan tentunya semua pengurus harusnya juga datang, agar agenda yang telah ditentukan bersama itu tetap berjalan.

 Rapat yang dibarengkan dengan acara tiup lilin ulang tahunnya mbak Silvi, juga penuh gorengan nan gurih bertabur kolesterol. Sambil menikmati buah melon yang dibawa Pak Ucup, mereka membahas rencana kopi darat (kopdar) minggu depan. Tempatnya sedang akan segera disurvey.

 Rapat yang diiringi gemericik hujan itu juga membahas rencana upacara pitulasan. Ada dua tempat yang diajukan. Namun masih menunggu pembicaraan lebih lanjut.

 Ada usulan, petugas upacaranya dari komunitas yang ditunjuk, dalam rangka pembelajaran. Namun juga ada yang usul agar petugasnya terdiri dari lintas komunitas. Ini pun juga sebagai wadah pembelajaran. Minimal belajar bersosialisasi antar komunitas, saling peduli, transparan dan bertanggung jawab.

 Usulan lain yang cukup menarik adalah tentang perlunya kaderisasi petugas upacara dengan memunculkan wajah-wajah belia yang trengginas sebagai calon penerus pengurus FORMALITAS. Sebagai upaya kaderisasi sebuah organisasi.

 "Sebaiknya yang sudah tua tidak perlu dijadikan petugas lagi. Sudah waktunya yang muda yang berkarya," Kata Pak Ucup sambil menggeser duduknya agar tidak terkena tetesan air hujan.

 mBah Gugel bilang bahwa  kaderisasi memiliki peran yang strategis dalam menjaga kelangsungan dan keberlanjutan organisasi. Melalui proses kaderisasi, organisasi dapat menghasilkan kader-kader yang berkualitas, berkomitmen untuk mewujudkan visi dan misi organisasi dengan baik.

 Salah satu proses kaderisasi adalah sesegera mungkin melibatkan yang muda dalam kegiatan organisasi. Seperti menjadi panitia dan petugas upacara pitulasan.

 Sambil menikmati nasi daging bumbu kecap, rapat juga membahas tentang adanya rencana komunitas tertentu yang akan mendirikan mushola secara kolaboratif, juga harapan bahwa dalam acara kopdar nanti disepakati terbentuknya panitia pitulasan sekaligus petugas upacaranya. 

 Dengan demikian acara kopdar nanti dapat mengundang banyak komunitas dan pembawa acaranya harus dapat mengendalikan suasana agar fokus pembicaraannya.

 "Kalau bisa, saat kopdar nanti ada edukasi untuk menambah wawasan anggota. Nara sumbernya dari teman sendiri yang dianggap mumpuni di bidangnya, dan jangan lupa diadakan acara topi berputar untuk nambah kas formalitas," Kata mbak Aisyah dalam catatan notulensinya. [eB/rabu-03072024]