Minggu, 09 November 2025

INISIATIF PAK YOGI

 “Monggo, jika tidak sibuk, hadir di BPBD Provinsi Jawa Timur, hari minggu (09/11/2025) saya mengadakan pelatihan pengenalan peralatan water rescue, yang diikuti 30 relawan dari berbagai komunitas,” Kata Pak Yogi melalui Whatsaap.

 Sebuah ajakan yang menarik. Mengingat saya sudah lama tidak dolan ke BPBD Jatim karena harus tahu diri untuk undur diri, dari pada diundurkan secara diam-diam. Namun terpaksa ajakan Pak Yogi saya tolak karena pada waktu yang sama ada kegiatan yang harus saya ikuti.

 Kegiatan yang diinisiasi oleh Pak Yogi, koordinator Posko Bersama Relawan Surabaya itu diselenggarakan di  lokasi Tenpina (tenda pendidikan bencana), yaitu sebuah ruang edukasi yang menyediakan berbagai peraga kebencanaan seperti, layar interaktif, diorama, simulator Early Warning System (EWS), serta poster-poster informasi kebencanaan.

 Kegiataan ini dipandu oleh fasilitator yang mumpuni di bidangnya. Mereka adalah, Sukatno (OBI), Zaenal dan Prasetyo. Keduanya dari TRC BPBD jatim. Adapun pesertanya sejumlah 30 relawan dari berbagai komunitas.

 “Adapun target yang ingin dicapai adalah agar relawan punya kemampuan dan keahlian di bidang water rescue, agar tidak menjadi relawan pasif,” Kata pria berkulit hitam manis dan murah senyum.

 Dikatakan pula bahwa kegiatan ini juga diikuti oleh komunitas yang tergolong baru, diantaranya Komunitas Sungai Watch, Gempa adventure, R-BES, Magana unusa, Camp Sehat Ponorogo, Gesit, dan Cv Trubus.

 Tentu kehadiran komunitas baru ini sangat menggembirakan. Pertanda telah muncul komunitas baru yang peduli terhadap masalah bencana, yang semakin hari semakin sering terjadi dengan segala dampaknya. Untuk itulah kehadiran mereka perlu diberi semangat agar tidak muntaber (mundur tanpa berita).

 Tentu, semua ini berkat inisiatif Pak Yogi yang mengadakan pelatihan dengan dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur. Harapannya, kedepan Pak Yogi dapat merangkul berbagai komunitas untuk membuat agenda berkala sebagai media temu muka saling silaturahmi lintas komunitas untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas di bidang kebencanaan.

 Untuk kesempatan pertama ini, yang dibahas adalah tentang pengenalan Perahu Karet LCR beserta kelengkapan pendukungnya, seperti helm, Live jaket, Dayung, dan Mopelnya.

 “Untuk awal kegiatan, materi yang diberikan berupa pengenalan alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan water rescue beserta fungsi dan cara penggunaannya. Nanti, tanggal 30 November 2025 diadakan uji praktek untuk setiap peserta. Sedangkan Praktek basah direncanakan pada bulan Desember 2025,” Katanya.

 Apa yang dilakukan oleh Pak Yogi ini merupakan bentuk nyata dari peran aktif masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana, dan menyiapkan tenaga terlatih yang siap membantu pemerintah dalam pencarian dan pertolongan korban bencana. Mungkin akan lebih indah jika inisiatif Pak Yogi ini dapat dikolaborasikan dengan programnya BPBD. Tetap Semangat Pak, Doa kami di nadimu. [eBas]

 

 

GRRM PERLU ALAT VITAL BARU

 Sesungguhnyalah kegiatan kawan-kawan dalam GRRM sangat tergantung dari lengkap tidaknya peralatan penunjang. Semakin lengkap peralatannya, maka proses pembersihan Masjid akan semakin cepat dan ringan serta menjangkau banyak area yang sulit digapai tanpa bantuan alat.

 Beberapa peralatan vital yang diharapkan dimiliki untuk mendukung kelancaran kegiatan diantaranya, vacuum cleaner, hand blower, jet cleaner, tangga lipat, cairan pembersih dan lainnya. Semakin banyak semakin menyemangati para relawan pecinta kebersihan Masjid.

 Sebenarnya tanpa peralatan vital pun dapat dilakukan secara manual, akan tetapi tentu pengerjaannya butuh waktu lama dan banyak personil. Apalagi jika pihak takmir (marbot) tidak mau membantu sama sekali.

 Dalam literatur yang ditemukan, peralatan vital adalah peralatan, sistem, atau perangkat yang sangat penting dan krusial untuk menjalankan fungsi tertentu.

 Istilah ini bisa merujuk pada bagian mesin atau perangkat yang sangat penting untuk suatu tujuan (dalam hal ini tujuan bersih-bersih masjid).

 Tentunya peralatan vital ini harganya tidak murah dan membutuhkan penanganan ekstra agar awet tidak cepat rusak. Untuk itulah perlu kehati hatian dalam penggunaannya, tidak sembrono dan penuh tanggung jawab.

 Dalam perkembangannya, GRRM selalu berusaha menambah bermacam peralatan vital yang diperlukan untuk mendukung kegiatannya yang semakin padat.

 Begitu juga antar pengurus GRRM, selalu aktif berkomunikasi mencari informasi dan tukar pengalaman terkait dengan upaya penambahan peralatan yang sangat vital untuk mempermudah pergerakan. Termasuk "pengadaan" mobil operasional beserta perawatannya, serta pengadaan genset portable untuk "njagani' listrik masjid yang terbatas wattnya.

 Semua dilakukan dengan swadaya semampunya tanpa membebani anggotanya. Bicara masalah dana untuk pengadaan, penambahan dan perawatan peralatan vital itu diperlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan fitnah.

 Termasuk dalam hal mencari donatur maupun saweran antar anggota. Semua perlu dibahas bersama sambil ngopi bareng secara face to face, bukan lewat pertukaran komentar di grup WhatsApp, yang sering menimbulkan salah tafsir tentang perlunya alat vital baru yang lebih canggih untuk mendukung Gerakan Resik-Resik Masjid. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Minggu-09112025]

Rabu, 05 November 2025

MALAM KEAKRABAN RELAWAN AMBULANCE JAWA TIMUR

 Malam Rabu (05/11/2025) di SPBU Shell Tenggilis, Surabaya, terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar tempat mengisi bahan bakar, tapi juga menjadi tempat ngumpul bareng (kopdar) bagi para driver ambulance dan relawan kemanusiaan dari berbagai kota di Jawa Timur.

 Acara bertajuk “Shell Meet Up EVO Team Surabaya” ini berlangsung seru sejak pukul 19.00 hingga 22.00 WIB. Lebih dari 45 unit ambulance berjejer rapi, disertai ratusan relawan yang datang dengan semangat kebersamaan penuh keakraban dan rasa bangga sebagai bagian dari pejuang kemanusiaan di jalan raya.

 Selain jadi ajang silaturahmi dan temu komunitas, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi seputar keselamatan berkendara. Turut hadir Aiptu Rouf dari Unit Kamsel Satlantas Polrestabes Surabaya, yang memberikan banyak arahan penting untuk para relawan ambulance.

 “Setiap kegiatan di jalan harus tetap mematuhi Undang-Undang Lalu Lintas. Kalau rekan-rekan ambulance butuh bantuan percepatan menuju rumah sakit, kami siap bantu melalui SITS (Surabaya Intelligent Transport System),” jelas Aiptu Rouf.

 “Kami bisa memantau arus lalu lintas dan menyesuaikan fase lampu di simpang yang padat agar kendaraan emergency bisa melintas lebih cepat,” tambahnya.

 Suasana makin cair ketika sesi games seru dimulai. Para peserta diajak mencari sedotan berwarna hitam yang disembunyikan di area acara. Gelak tawa pun pecah saat para pemenang berhasil menemukan sedotan dan membawa pulang doorprize keren dari Shell seperti Oli Motor, Kaos, Kanebo, dan souvenir eksklusif Shell.

 Namun, di balik suasana riang itu, para relawan juga menyempatkan waktu untuk berdoa bersama mengenang almarhum Bapak Amsari, salah satu driver ambulance asal Situbondo yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik aksi sosial mereka, selalu ada rasa kekeluargaan dan kepedulian yang kuat antar sesama.

 Sebagai penutup, puluhan unit ambulance menyalakan rotator dan berkeliling menikmati gemerlap malam Kota Surabaya. Rute konvoi melintasi Ahmad Yani, Darmo, Tunjungan, Tugu Pahlawan, Kota Lama, dan berakhir di Kya-Kya Surabaya.

 “Alhamdulillah kami diizinkan berkeliling kota. Kami atur dua barisan, tertib di jalan, berhenti saat lampu merah, dan tidak menyalakan sirine. Banyak warga tersenyum dan melambaikan tangan. Rasanya bangga sekali bisa memperlihatkan bahwa komunitas ambulance juga bisa tertib dan solid,” cerita Roni, koordinator acara Meet Up, dengan wajah penuh haru.

 Kegiatan Shell Meet Up EVO Team Surabaya bukan hanya soal kendaraan atau hadiah. Lebih dari itu, acara ini menjadi simbol kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial. Para relawan membuktikan bahwa di balik deru sirine dan rotator merah, ada hati yang tulus melayani — bahkan saat mereka sekadar berkumpul dan berbagi tawa di malam penuh cahaya. Semoga acara ini menjadi media yang diagendakan secara berkala untuk saling bertukar pengalaman dan berbagi informasi sekaligus meningkatkan kapasitas sebagai relawan sosial kemanusiaan. [rna]

Rabu, 29 Oktober 2025

ANNIVERSARY ITU GENGSI ORGANISASI

 Sebuah kebanggaan tersendiri bagi anggota dan alumni sebuah organisasi  dapat menyelenggarakan acara anniversary yang diagendakan secara rutin setiap tahunnya, atas kesepakatan bersama.

 Anniversary itu, bisa juga disebut milad, ulang tahun, maupun Dies natalis, dimana kehadirannya sangat ditunggu oleh ‘banyak pihak’. karena, sesungguhnyalah tidak semua organisasi mampu dan mau mengadakan acara ini. Sebuah kegiatan yang kelihatannya mudah, namun dapat menimbulkan finah, jika salah kelola dan panitianya tidak amanah. (hanya bermain aman ah).

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hari ulang tahun adalah hari yang bertepatan dengan tanggal dan bulan lahir seseorang atau sesuatu, termasuk organisasi sosial kemanusiaan.

 Konon, tujuan dari acara ini adalah Meningkatkan semangat berprestasi dalam organisasi, membangun citra positif organisasi, menumbuhkan kebanggaan terhadap organisasi, dan menambah jejaring kemitraan untuk memperkuat keberadaan organisasi dalam menjalankan programnya.

 Biasanya, acara anniversary sebuah organisasi dihadiri oleh pengurus, anggota dan alumni. Termasuk orang-orang terdekat yang sering berinteraksi dan berkolaborasi di berbagai acara.

 Susunan acaranya juga sangat fleksibel sesuai dengan kesepakatan mereka yang terlibat. Ada organisasi yang memulai acara dengan menyanyikan lagu kebangsaan, hymne, sambutan dari berbagai pihak, doa, dan potong tumpeng.

 Ada juga acara anniversary yang hanya sambutan ketua panitia, berdoa, dan potong tumpeng untuk kemudian dilanjutkan dengan acara lain yang kebih seru. Seperti talk show, sharing session, dan hiburan. Monggo saja semua boleh dilakukan dan tidak berdosa, juga tidak melanggar hukum.

 Yang jelas, acara anniversary dan istilah sejenis lainnya, diakui atau tidak merupakan ajang reuni tipis-tipis antara para senior lintas organisasi. Ya, mereka datang berharap dapat bertemu dengan teman seangkatannya untuk berbagi cerita, bertukar pengalaman tentang suka duka menapaki takdir kehidupan dalam segala aspek.

 Sehingga yang terjadi, acara yang sudah disusun dengan baik oleh panitia, biasanya diabaikan berjalan sendiri tanpa mendapat perhatian dan sambutan yang layak. Mereka asik sendiri berbagi obrolan sambil menikmati jajanan dan makanan yang disediakan panitia. Sementara yang menyimak rangkaian acara, ya hanya panitianya dan sebagian anggota yang masih tergolong yunior.   

 Namun, perlu diingat bahwa acara anniversary bukan sekadar perayaan hura-hura semata. Ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil untuk bekal berbenah lebih baik dalam bersosialisasi dengan berbagai pihak.

 Alangkah bermanfaatnya jika acara anniversary itu juga membahas perlunya kaderisasi dan regenerasi kepengurusan organisasi, serta melahirkan kesepakatan bersama untuk mengadakan pelatihan lintas organisasi, musyawarah bersama, dan gerakan bakti sosial bersama mengangkat isue pelestarian lingkungan. Agenda seperti ini tentunya akan baik untuk membekali para yunior penerus senior.  

 Dengan demikian, acara anniversary yang bergengsi bagi sebuah organisasi itu bukan sekedar arena berkumpul sesama senior untuk mengenang kembali kegagahan masa lalu, semasa ketika aktif sebagai anggota pecinta alam dengan segala romantikanya. Termasuk mabuk bersama.

 Ingat usia semakin renta yang terus bergerak menuju akhir cerita  kehidupan yang akan membawa ke jalan surga atau jalan lainnya. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Rabu-29102025]

 

Jumat, 24 Oktober 2025

ANNIVERSARY RELAWAN BENCANA EMERGENCY SOSIAL KE-6 TAHUN 2025

 Terimakasih kepada panitia anniversary yang telah mengundang saya untuk hadir berbagi gembira menyambut ulang tahun yang ke-6. Sampai saat ini jumlah anggotanya terpantau di grup whatsapp sebanyak 35 personil dengan kemampuan yang beragam di bidang kerelawanan. Diantaranya di bidang Dapur Umum serta Pencarian dan Pertolongan. 

 Konon, mereka semua juga turut berkontribusi saweran untuk mensukseskan acara dari kita, oleh kita dan untuk kita.

 Sebelumnya, saya juga diundang rapat untuk pembentukan panitia anniversary. Namun karena ada kesibukan keluarga, saya tidak dapat hadir, dan menyerahkan sepenuhnya kepada panitia terpilih dalam meramu acara semeriah mungkin sesuai dengan anggaran yang ada hasil saweran.

 Sekarang pun saya juga terpaksa berhalangan hadir untuk menikmati acara yang dikemas oleh panitia, dikarenakan saya habis kecelakaan tunggal, dan sampai saat ini kondisi fisik masih belum layak tampil di keramaian karena dapat mengganggu kemeriahan acara.

 Dimana, pipi dan dahi masih sedikit bengkak sehingga bentuk wajah yang sudah tidak ganteng ini tidak presisi. Luka di bawah alis juga kadang masih mengeluarkan darah, gigi masih nyeri dan seluruh badan, khususnya lutut kiri masih cenut-cenut jika melangkah.

 Berharap tanpa kehadiran saya, acara anniv berjalan sesuai yang direncanakan dengan penuh riang gembira, sekaligus memberi semangat untk melangkah ke depan yang semakin asik.

 Sungguh, merupakan suatu kebanggaan bagi sebuah komunitas yang mampu bertahan sampai usia yang ke enam. Sebuah prestasi tersendiri bagi pengurus dan anggotanya dalam menapaki kerja-kerja sosial kemanusiaan yang jauh dari keuntungan financial.

 Apalagi sebagai komunitas, R-BES jarang sekali mengadakan rapat pengurus yang dihadiri pengurus secara lengkap. Jarang sekali mengadakan rapat anggota yang dihadiri seluruh anggota, dengan berbagai alasan kesibukan. Juga belum pernah rapat bareng membahas AD/ART, rencana program, dan evaluasi akhir tahun, seperti lazimnya sebuah komunitas.

 Ya, tanpa itu semua nyatanya R-BES tetap bergerak dan terlibat dalam menjalankan misi sosial kemanusiaan bersama komunitas lainnya. Walau hanya berkomunikasi lewat grup whatsapp, dan berkoordinasi lewat Japri dan Hotel Tenggo, anggota R-BES pun selalu hadir diberbagai lokasi musibah/bencana.

 Sambil rebahan di kamar menikmati rasa cenut-cenut dan sedikit batuk dan pilek, saya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-6 dengan harapan semoga ke depan semakin solid dan kompak dalam berkomunitas dan berkegiatan sosial kemanusiaan.

 Juga berharap, dalam berkegiatan di lapangan jangan lupa ‘absen kehadiran’  di tenda komando agar keberadaan R-BES dikenal oleh komunitas lain sesama pegiat sosial lemanusiaan, maupun pemerintah yang membidanginya.

 Begitu juga ketika ada lembaga atau komunitas yang mengadakan kegiatan pelatihan atau lainnya, hendaknya R-BES hadir sebagai peserta untuk menambah pengalaman dan pertemanan (memperluas jejaring kemitraan).

 Terakhir, saya juga berharap agar pengurus suatu saat dapat mengadakan semacam sarasehan yang wajib dihadiri oleh seluruh anggota R-BES untuk menyamakan langkah. Karena, sesungguhnyalah sampai saat ini antar anggota R-BES belum saling kenal, atau hanya kenal dan ngobrol lewat medsos saja.

 Kepada panitia, terimakasih atas undangannya, dan mohon maaf belum bisa membersamai dalam suasana riang gembira anniversary R-BES ke-6 tahun 2025. semoga sukses dan bermanfaat bagi sesama, bagi semua anggota. Baik yang sudah saya kenal maupun yang belum saya kenal. Salam kompak persahabatan. [eBas/Jum’at-24102025]  

 

 

Selasa, 16 September 2025

AVIANTO KETUA UMUM MPBI

 Siang itu hari sabtu (13/09/2025) di salah satu  tenda komando di lokasi Jambore F-PRB Jawa Timur yang ke-3,  ada tausyiah dari anggota komisi VIII  DPR RI tentang kebijakan yang terkait dengan kebencanaan.

 Sebenarnya saya hanya ingin ambil foto untuk dokumentasi, setelah itu merapat ke booth nya dompet dhuafa yang punya program Pos Hangat dengan menu andalan kopi gratis.

 namun ternyata disitu ada Kak Kokok, seorang pejabat senior pramuka andalan nasional dan Sam Yeka, dari Komunitas Gimbal Alas sekaligus pendiri Komunitas Mitigasi Nusantara, sedang duduk  bersama peserta lain menyimak sharing session dari narasumber yang diundang.

 Ya, akhirnya saya pun membaur dengan senior idola, saling bersalaman untuk bersulang cerita karena lama tak bersua, dan saling memuji dengan suka hati tanpa rasa dengki.

 "Tadi aku lihat ada yang pakai baju seragam MPBI, tapi kok gak kelihatan mas Avianto ya?," Kataku kepada Kak Kokok.

 "Urung kenal po ?, lha kuwi wonge ning ngarep," Kata Kak Kokok dengan logat Jokjanya.

 "secara virtual aku wis kenal sering ketemu dan berbantah di webinar, tapi belum pernah ketemu secara offline," Kataku sambil melihat sosok ganteng yang sibuk mendokumentasikan keriuhan di tenda.

 "Yo kuwi wonge," Kata Kak Kokok meyakinkan.

 Lho iyo ta ?, kok beda ya ketika melihat fotonya yang selalu muncul disaat webinar. Saya pikir posturnya ‘ramping’ ternyata gendut perutnya, kayak bapak-bapak pejabat, sebagai tanda hidupnya makmur. Namun gayanya tetap mbois, gerakannya lincah, dan langkahnya cepat saat menuju Pos Hangat.

 “Mas Avi ya ?, Alhamdulillah saya berkesempatan bertemu langsung dengan idola yang selama ini hanya bisa melihat fotonya saat webinar,” Kata saya sambil bersalaman.

 Tanpa curiga, dengan senyumnya yang khas kami berdua langsung akrab ngobrol di samping tenda. Ternyata mas Avi orangnya enak semanak diajak ngobrol. Apalagi jika obrolan mengarah kepada masalah kebencanaan dengan segala variannya. Termasuk bagaimana membentuk dan menggerakkan para pihak yang ada di dalam F-PRB agar dapat berjalan bersama dalam kesetaraan sebagai mitra kritis BPBD.

 Sambil berdiri tanpa wedang kopi, saya bilang tulisan mas Avi apik, enak dibaca dan menarik untuk didiskusikan. Ini bisa dimaklumi karena beliaunya itu sekolahnya di luar negeri dan ijasahnya dijamin benar-benar asli. Cocok menjadi ketua umum MPBI yang pandai mengatur dan mau diatur.

sekedar diketahui bahwa masyarakat penanggulangan bencana indonesia (MPBI) yang didirikan pada tanggal 3 Maret 2023 merupakan  wadah inklusif yang menyatukan berbagai pihak: masyarakat sipil, akademisi, pemerintah, dunia usaha, media, dan komunitas, sebagai ruang belajar bersama dan berbagi ilmu tentang pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim. Tidak ada ruginya jika komunitas relawan bergabung ke dalam MPBI. 

 Mengingat mas Avi didatangkan ke arena Jambore yang berlokasi di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, sebagai salah satu orang penting, maka saya harus tahu diri untuk segera mengakhiri pertemuan.

 Sebagai penggemar, sebenernya pengen ngajak foto bersama idola, tapi sungkan. Untungnya mas Avi mengajak foto bersama. Jadinya ya seneng benget, walaupun hasilnya kayak novel yang berjudul  ‘Beauty and the Beast’. ya itulah salah satu bentuk keseimbangan alam. ada yang ganteng pun apa yang kurang ganteng.

 Sebelum pisahan, mas Avi sempat bilang, ajak saja Pak Papang dolan ke BPBD Kota Surabaya untuk memfasilitasi terbentuknya F-PRB Kota Surabaya. Saya mengiyakan walau sesungguhnya tidak berani merealisasikan karena bukan kapasitas saya.

 Kami berdua pisahan, dia ke kanan tenda, sedang saya ke kiri menuju Pos Hangat nikmati kopi ekspresso, buatan tangan lentik dari dara manis anggota Dompet Dhuafa. Benar Kata relawan disebelah saya, kopi ekspresso itu pahitnya hampir sama dengan jalannya kehidupan seorang relawan. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Rabu-17092025]  

 

 

 

Senin, 08 September 2025

BENARKAH DIKNAS PUNYA DANA UNTUK PROGRAM SPAB ?

 Bermula dari pertanyaan di grup whatsapp tentang dari mana dana untuk mengadakan pendampingan program satuan pendidikan aman bencana (SPAB). oleh salah satu anggota grup, dijawab bahwa untuk sekolah negeri dananya dari Dinas Pendidikan (Diknas).

 Lho, benarkah ?. Jika benar ya Alhamdulillah, itu artinya program SPAB yang sudah ada permendikbudnya dengan nomor 33 tahun 2019, sudah dipahami oleh semua jajaran yang ada di Diknas untuk dilaksanakan di semua jenjang pendidikan di sekolah.

 Sayangnya, menurut cerita dari teman-teman yang rutin bergelut dengan program SPAB itu, untuk saat ini pihak Sekolah hanya menjadi sasaran program yang telah ditentukan oleh Diknas. Dimana dana dan programnya dari BNPB atau BPBD setempat. Artinya Diknas selama ini belum punya dana tersendiri untuk mendukung pelaksanaan program SPAB di sekolah secara merata dan berkesinambungan.

 Dengan kata lain pihak sekolah posisinya masih hanya menunggu budi baik BNPB atau BPBD yang punya program sekaligus anggaran untuk SPAB. Jika sekolahnya ditempati program SPAB ya alhamdulillah, kalau pun tidak ya tidak masalah.

 Masih kata teman-teman, waktu yang disediakan untuk ‘edukasi’ SPAB di sekolah sering kali dimampatkan dari waktu yang ideal, dengan berbagai alasan. Katanya yang penting tujuan terpenuhi dan daya serap anggaran beres untuk dilaporkan, demi tertib admisistrasi,

 Lucunya sekolah yang sudah ‘disentuh’ program SPAB langsung diberi label “Sekolah Tangguh Bencana”. Lho ya benarkah membangun kesiapsiagaan, membangun budaya tangguh bencana cukup dengan sekali sentuhan ?. Sungguh sebuah hil yang mustahal. Mungkinkah semua program kebencanaan yang ada juga bernasib sama , sekali sentuh langsung tangguh ?. Mungkin kawan-kawan yang selalu berkesempatan terlibat dalam program beginian dapat memberi jawaban. Namun,  tampaknya itulah yang sesungguhnya terjadi selama ini, dan dinikmati dengan senang hati tanpa evaluasi.

 Jika pun ada sekolah atawa daerah yang program kebencanaannya dapat berjalan berkelanjutan. Kemungkinan besar (dapat dipastikan) mereka mendapat ‘kucuran’ program dari pihak tertentu. Atau, sekolah atawa daerah itu dijadikan binaan lembaga/kantor tertentu dalam jangka waktu tertentu.

 Begitu juga dengan gagasan Diknas membentuk sekretariat bersama (sekber) SPAB. Baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, nasibnya juga setali tiga uang. Artinya, ada uang baru jalan, dalam bentuk seremonial, beli baju seragam, menggelar rapat dan diskusi dilanjutkan dengan pembentukan pengurus, untuk kemudian diam ditempat menunggu arahan untuk kelanjutannya.

 Semoga paparan (yang pasti dinilai nakal) ini tidak benar adanya karena semua sudah berubah sejalan dengan berubahnya gaya kepemimpinan dan kebijakan dari pejabat baru di lingkungan dunia pendidikan di era presiden Prabowo, khususnya kebijakan anggaran untuk program SPAB dalam rangka mengamalkan Permendikbud nomor 33 tahun 2019. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/senin-08092025]