Rabu, 31 Desember 2025

INFLUENCER MENJADI RELAWAN

 Kalau tidak salah, baru kali ini terjadi bencana banjir bandang dan longsor melanda tiga provinsi secara bersamaan. Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, secara berjamaah diterjang banjir yang membawa material lumpur dan kayu gelondongan hasil penebangan. Bahkan ada yang bilang banjir ini akibat dari pembukaan hutan untuk pertambangan dan “sawitisasi” yang ugal-ugalan dalam memperkosa lingkungan alam demi cuan.

 Ya, tanggal 26 November 2025, awal petaka yang langsung memakan korban jiwa di hari pertama ini sangat mengerikan. Namun juga sangat disayangkan karena banyak pejabat mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Terkesan asal bunyi tanpa rasa empati. Sungguh sulit dimengerti, seakan ada yang wajib ditutupi.

 Netizen pun melalui media sosial langsung “merujak” para pejabat yang komentarnya tidak seperti orang pintar dan berpangkat, sambil memposting video tentang derita korban bencana dan kerusakan yang mencekam, tanpa editan.

 Yeka Kusumajaya, salah satu netizen dari Kota Malang, yang paham tentang manajemen bencana, dalam komentarnya di Facebook bilang bahwa,  baru di rezim pemerintahan ini saya merasa terhibur setiap baca berita, dimana statement pejabatnya lucu-lucu kayak pelawak semua. Akhirnya saya sadar dan cukup terhibur, seperti D'Javu jamannya Srimulat…

 Selain berbagai hujatan dari netizen dalam dan luar negeri, akan lambatnya penanganan bencana oleh negara, serta kesombongan negara menolak bantuan asing,  tampak influencer, yaitu orang yang punya pengaruh besar di media sosial (seperti Instagram, TikTok, YouTube) karena punya banyak pengikut, dan dapat memengaruhi keputusan atau perilaku pengikutnya, aktif melibatkan diri dalam upaya membantu korban bencana.

 Sungguh baru kali ini mereka yang tidak pernah mengikuti pelatihan tentang kebencanaan seperti yang sering diikuti oleh relawan, turun langsung sebagai relawan kemanusiaan. Baik beraksi sendiri dengan kelompoknya, atau pun bergabung dengan lembaga kemanusiaan yang sudah beraksi di lokasi.

 Mereka, dengan kemampuannya berhasil menggalang dana yang besar dari berbagai pihak untuk disumbangkan kepada korban bencana untuk memenuhi kebutuhannya, yang belum didapat dari pemerintah karena berbagai kendala di lapangan (dan kebijakan).

 Mereka juga berkolaborasi dengan berbagai relawan, berhasil menembus daerah yang terisolasi karena rusaknya jalan dan jembatan yang diterjang ratusan kayu gelondongan berukuran besar. bergotong royong membersihkan lingkungan, mengadaan air bersih, mendirikan dapur umum sekaligus mendidtribusikannya, serta kegiatan lain yang dikerjakan secara keroyokan antar pihak.

 Sungguh, apa yang dilakukan oleh “relawan dadakan” ini, sangat membantu dan meringankan beban pemerintah dalam hal memenuhi kebutuhan para penyintas. Seperti sembako, makanan siap saji, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya yang sangat diperlukan. Bahkan ada yang menyumbang genset, starlink dan panel surya.

 Sayangnya keberhasilan mereka menggalang donasi malah ditanggapi “kurang asik” oleh pejabatnya. Seperti bantuan sudah tidak utuh lagi karena dirusak dan diambil oleh oknum nakal. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pengumpulan donasi harus ijin dan membuat laporan.

 Harusnya inisiatif masyarakat menolong sesamanya itu dibantu dan difasilitasi terkait dengan transportasinya. Bukan malah dijadikan peluang oleh oknum nakal untuk dijarah dan disunat dalam rangka memenuhi kepentingan pribadinya. Sungguh tidak tahu malu.

 Terimakasih kepada para influencer yang telah berkenan membantu pemerintah memenuhi kebutuhan para penyintas. Sungguh, keberanianmu membantu sekaligus menyuarakan situasi dan kondisi di lokasi bencana seperti yang dilakukan para jurnalis sangatlah membantu penyebaran informasi, yang dapat menginspirasi lahirnya rasa peduli untuk beraksi membantu penyintas yang hidupnya setengah mati.

 Kata netizen, mereka adalah sekumpulan orang baik, yang didatangkan oleh Tuhan, di tempat bencana. Mereka bukan malaikat, juga bukan Nabi. Tapi mereka adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan.

 Teruslah berbuat baik walaupun mulai ada bermacam intimidasi. Selamat tahun baru 2026, semoga para influencer yang menjadi relawan tetap semangat, sehat dan sukses dalam menjalankan kerja-kerja kemanusiaan. Wallahu a’lam Bishowab. [eBas/Kamis-01012026]

Selasa, 16 Desember 2025

SEANDAINYA TANPA KEHADIRAN RELAWAN

 Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatara Utara, dan Sumataera Barat di akhir tahun 2025 ini sungguh dahsyat. Lebih dari seribu nyawa melayang, dan harta benda pun melayang.

 Hal ini tentulah menyebabkan derita masyarakat terdampak akan berkepanjangan, mengingat parahnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk pemulihannya.

 Tentu, untuk menangani bencana yang serentak melanda tiga provinsi ini, diperlukan gerak cepat dari pemerintah untuk mengevakuasi korban. Diperlukan personil yang mumpuni dan dana yang tidak sedikit, serta sarana prasarana pendukung yang sesuai.

 Masyarakat pun serentak turun mengulurkan bantuan. Mereka yang terdiri dari organisasi kemanusiaan, lembaga swadaya masyarakat, komunitas relawan dan perorangan membantu sesuai kemampuannya, agar korban tidak bertambah.

 Dengan caranya sendiri, masyarakat mengumpulkan berbagai bantuan untuk dikirimkan ke lokasi bencana sebagai upaya meringankan derita para penyintas. Sungguh donasi yag berhasil dikumpulkan itu tidak dapat disepelekan. Sangat banyak dan beragam untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak yang kondisinya mengenaskan. Merka juga sibuk membuka dapur umum yang sangat diperlukan oleh masyarakat, petugas dan relawan agar tetap sehat dan bersemangat.

 Sayangnya, masih ada oknum yang nakal, berusaha mengambil bantuan kemanusiaan dari masyarakat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tentu saja hal seperti ini dapat mengendorkan semangat relawan dalam memberikan pertolongan dan bantuan kepada korban bencana.

 Untungnya, para relawan yang terjun di lokasi bencana itu semangatnya tidak pernah kendor, dan punya nyali besar membantu sesamanya. Khususnya di daerah yang masih terisolasi, belum terjangkau banyak bantuan. Terbukti, dengan caranya sendiri mereka mulai berhasil. Makanya jangan disepelekan keberadaan relawan yang ikhlas menolong.

 Sungguh, seandainya semua relawan kemanusiaan kompak mengundurkan diri sejenak untuk tidak membantu di lokasi bencana, dapat dipastikan pemerintah akan kelimpungan termehek mehek kewalahan mengatasi banyaknya korban bencana, kewalahan melakukan evakuasi dan drooping logistik. Bahkan tidak menutup kemungkinan jumlah korban MD akan bertambah banyak.

 Untuk itulah perlunya pemerintah (dalam hal ini BPBD setempat) melakukan koordinasi dan komunikasi kepada komunitas relawan melalui kegiatan peningkatan kapasitas dibidang kebencanaan, sehingga akan memudahkan mobilisasi ketika terjadi bencana. Termasuk dalam hal informasi awal terjadinya bencana.

 Apalagi, seperti diketahui, BNPB punya banyak teman relawan di daerah, seperti diantaranya, Forum PRB, baik tingkat provinsi, dan Kabupaten/Kota, bahkan sampai tingkat Kecamatan dan Kelurahan. Juga ada Agen Bencana, Fasilitator Kebencanaan, dan Tim Reaksi Cepat.

 Merekalah yang seharusnya dijadikan rujukan pertama oleh BPBD dan BNPB terkait dengan informasi terjadinya bencana di daerah, seperti yang sering dijadikan bahasan dalam berbagai pelatihan, dan rapat kebencanaan sebagai salah satu upaya membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Jika keberadaan mereka ini tidak “dilibatkan”, maka dapat berakibat terjadinya bias informasi.  

 Ini penting dilakukan untuk menghindari kesalahan informasi yang memalukan dan berujung minta maaf. Sungguh, tampaknya baru kali ini BNPB “dihujat” banyak pihak karena “kebijakannya” yang kurang pas dengan berbagai dokumen kebencanaan dan aneka Perka BNPB yang disusun dengan anggaran yang tidak sedikit.

 Katanya bencana itu urusan bersama, maka peran serta relawan dan masyarakat hendaknya diapreasiasi dan difasilitasi oleh pemerintah. Bukan dimanfaatkan untuk membangun citra diri seperti yang banyak dilakukan oleh oknum. (seperti yang sering terlihat di media sosial). wallahu a’lam bishowab. [ebas/Rabu-17122025]  

 

 

 

 

Minggu, 09 November 2025

INISIATIF PAK YOGI

 “Monggo, jika tidak sibuk, hadir di BPBD Provinsi Jawa Timur, hari minggu (09/11/2025) saya mengadakan pelatihan pengenalan peralatan water rescue, yang diikuti 30 relawan dari berbagai komunitas,” Kata Pak Yogi melalui Whatsaap.

 Sebuah ajakan yang menarik. Mengingat saya sudah lama tidak dolan ke BPBD Jatim karena harus tahu diri untuk undur diri, dari pada diundurkan secara diam-diam. Namun terpaksa ajakan Pak Yogi saya tolak karena pada waktu yang sama ada kegiatan yang harus saya ikuti.

 Kegiatan yang diinisiasi oleh Pak Yogi, koordinator Posko Bersama Relawan Surabaya itu diselenggarakan di  lokasi Tenpina (tenda pendidikan bencana), yaitu sebuah ruang edukasi yang menyediakan berbagai peraga kebencanaan seperti, layar interaktif, diorama, simulator Early Warning System (EWS), serta poster-poster informasi kebencanaan.

 Kegiataan ini dipandu oleh fasilitator yang mumpuni di bidangnya. Mereka adalah, Sukatno (OBI), Zaenal dan Prasetyo. Keduanya dari TRC BPBD jatim. Adapun pesertanya sejumlah 30 relawan dari berbagai komunitas.

 “Adapun target yang ingin dicapai adalah agar relawan punya kemampuan dan keahlian di bidang water rescue, agar tidak menjadi relawan pasif,” Kata pria berkulit hitam manis dan murah senyum.

 Dikatakan pula bahwa kegiatan ini juga diikuti oleh komunitas yang tergolong baru, diantaranya Komunitas Sungai Watch, Gempa adventure, R-BES, Magana unusa, Camp Sehat Ponorogo, Gesit, dan Cv Trubus.

 Tentu kehadiran komunitas baru ini sangat menggembirakan. Pertanda telah muncul komunitas baru yang peduli terhadap masalah bencana, yang semakin hari semakin sering terjadi dengan segala dampaknya. Untuk itulah kehadiran mereka perlu diberi semangat agar tidak muntaber (mundur tanpa berita).

 Tentu, semua ini berkat inisiatif Pak Yogi yang mengadakan pelatihan dengan dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur. Harapannya, kedepan Pak Yogi dapat merangkul berbagai komunitas untuk membuat agenda berkala sebagai media temu muka saling silaturahmi lintas komunitas untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas di bidang kebencanaan.

 Untuk kesempatan pertama ini, yang dibahas adalah tentang pengenalan Perahu Karet LCR beserta kelengkapan pendukungnya, seperti helm, Live jaket, Dayung, dan Mopelnya.

 “Untuk awal kegiatan, materi yang diberikan berupa pengenalan alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan water rescue beserta fungsi dan cara penggunaannya. Nanti, tanggal 30 November 2025 diadakan uji praktek untuk setiap peserta. Sedangkan Praktek basah direncanakan pada bulan Desember 2025,” Katanya.

 Apa yang dilakukan oleh Pak Yogi ini merupakan bentuk nyata dari peran aktif masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana, dan menyiapkan tenaga terlatih yang siap membantu pemerintah dalam pencarian dan pertolongan korban bencana. Mungkin akan lebih indah jika inisiatif Pak Yogi ini dapat dikolaborasikan dengan programnya BPBD. Tetap Semangat Pak, Doa kami di nadimu. [eBas]

 

 

GRRM PERLU ALAT VITAL BARU

 Sesungguhnyalah kegiatan kawan-kawan dalam GRRM sangat tergantung dari lengkap tidaknya peralatan penunjang. Semakin lengkap peralatannya, maka proses pembersihan Masjid akan semakin cepat dan ringan serta menjangkau banyak area yang sulit digapai tanpa bantuan alat.

 Beberapa peralatan vital yang diharapkan dimiliki untuk mendukung kelancaran kegiatan diantaranya, vacuum cleaner, hand blower, jet cleaner, tangga lipat, cairan pembersih dan lainnya. Semakin banyak semakin menyemangati para relawan pecinta kebersihan Masjid.

 Sebenarnya tanpa peralatan vital pun dapat dilakukan secara manual, akan tetapi tentu pengerjaannya butuh waktu lama dan banyak personil. Apalagi jika pihak takmir (marbot) tidak mau membantu sama sekali.

 Dalam literatur yang ditemukan, peralatan vital adalah peralatan, sistem, atau perangkat yang sangat penting dan krusial untuk menjalankan fungsi tertentu.

 Istilah ini bisa merujuk pada bagian mesin atau perangkat yang sangat penting untuk suatu tujuan (dalam hal ini tujuan bersih-bersih masjid).

 Tentunya peralatan vital ini harganya tidak murah dan membutuhkan penanganan ekstra agar awet tidak cepat rusak. Untuk itulah perlu kehati hatian dalam penggunaannya, tidak sembrono dan penuh tanggung jawab.

 Dalam perkembangannya, GRRM selalu berusaha menambah bermacam peralatan vital yang diperlukan untuk mendukung kegiatannya yang semakin padat.

 Begitu juga antar pengurus GRRM, selalu aktif berkomunikasi mencari informasi dan tukar pengalaman terkait dengan upaya penambahan peralatan yang sangat vital untuk mempermudah pergerakan. Termasuk "pengadaan" mobil operasional beserta perawatannya, serta pengadaan genset portable untuk "njagani' listrik masjid yang terbatas wattnya.

 Semua dilakukan dengan swadaya semampunya tanpa membebani anggotanya. Bicara masalah dana untuk pengadaan, penambahan dan perawatan peralatan vital itu diperlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan fitnah.

 Termasuk dalam hal mencari donatur maupun saweran antar anggota. Semua perlu dibahas bersama sambil ngopi bareng secara face to face, bukan lewat pertukaran komentar di grup WhatsApp, yang sering menimbulkan salah tafsir tentang perlunya alat vital baru yang lebih canggih untuk mendukung Gerakan Resik-Resik Masjid. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Minggu-09112025]

Rabu, 05 November 2025

MALAM KEAKRABAN RELAWAN AMBULANCE JAWA TIMUR

 Malam Rabu (05/11/2025) di SPBU Shell Tenggilis, Surabaya, terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar tempat mengisi bahan bakar, tapi juga menjadi tempat ngumpul bareng (kopdar) bagi para driver ambulance dan relawan kemanusiaan dari berbagai kota di Jawa Timur.

 Acara bertajuk “Shell Meet Up EVO Team Surabaya” ini berlangsung seru sejak pukul 19.00 hingga 22.00 WIB. Lebih dari 45 unit ambulance berjejer rapi, disertai ratusan relawan yang datang dengan semangat kebersamaan penuh keakraban dan rasa bangga sebagai bagian dari pejuang kemanusiaan di jalan raya.

 Selain jadi ajang silaturahmi dan temu komunitas, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi seputar keselamatan berkendara. Turut hadir Aiptu Rouf dari Unit Kamsel Satlantas Polrestabes Surabaya, yang memberikan banyak arahan penting untuk para relawan ambulance.

 “Setiap kegiatan di jalan harus tetap mematuhi Undang-Undang Lalu Lintas. Kalau rekan-rekan ambulance butuh bantuan percepatan menuju rumah sakit, kami siap bantu melalui SITS (Surabaya Intelligent Transport System),” jelas Aiptu Rouf.

 “Kami bisa memantau arus lalu lintas dan menyesuaikan fase lampu di simpang yang padat agar kendaraan emergency bisa melintas lebih cepat,” tambahnya.

 Suasana makin cair ketika sesi games seru dimulai. Para peserta diajak mencari sedotan berwarna hitam yang disembunyikan di area acara. Gelak tawa pun pecah saat para pemenang berhasil menemukan sedotan dan membawa pulang doorprize keren dari Shell seperti Oli Motor, Kaos, Kanebo, dan souvenir eksklusif Shell.

 Namun, di balik suasana riang itu, para relawan juga menyempatkan waktu untuk berdoa bersama mengenang almarhum Bapak Amsari, salah satu driver ambulance asal Situbondo yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik aksi sosial mereka, selalu ada rasa kekeluargaan dan kepedulian yang kuat antar sesama.

 Sebagai penutup, puluhan unit ambulance menyalakan rotator dan berkeliling menikmati gemerlap malam Kota Surabaya. Rute konvoi melintasi Ahmad Yani, Darmo, Tunjungan, Tugu Pahlawan, Kota Lama, dan berakhir di Kya-Kya Surabaya.

 “Alhamdulillah kami diizinkan berkeliling kota. Kami atur dua barisan, tertib di jalan, berhenti saat lampu merah, dan tidak menyalakan sirine. Banyak warga tersenyum dan melambaikan tangan. Rasanya bangga sekali bisa memperlihatkan bahwa komunitas ambulance juga bisa tertib dan solid,” cerita Roni, koordinator acara Meet Up, dengan wajah penuh haru.

 Kegiatan Shell Meet Up EVO Team Surabaya bukan hanya soal kendaraan atau hadiah. Lebih dari itu, acara ini menjadi simbol kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial. Para relawan membuktikan bahwa di balik deru sirine dan rotator merah, ada hati yang tulus melayani — bahkan saat mereka sekadar berkumpul dan berbagi tawa di malam penuh cahaya. Semoga acara ini menjadi media yang diagendakan secara berkala untuk saling bertukar pengalaman dan berbagi informasi sekaligus meningkatkan kapasitas sebagai relawan sosial kemanusiaan. [rna]

Rabu, 29 Oktober 2025

ANNIVERSARY ITU GENGSI ORGANISASI

 Sebuah kebanggaan tersendiri bagi anggota dan alumni sebuah organisasi  dapat menyelenggarakan acara anniversary yang diagendakan secara rutin setiap tahunnya, atas kesepakatan bersama.

 Anniversary itu, bisa juga disebut milad, ulang tahun, maupun Dies natalis, dimana kehadirannya sangat ditunggu oleh ‘banyak pihak’. karena, sesungguhnyalah tidak semua organisasi mampu dan mau mengadakan acara ini. Sebuah kegiatan yang kelihatannya mudah, namun dapat menimbulkan finah, jika salah kelola dan panitianya tidak amanah. (hanya bermain aman ah).

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hari ulang tahun adalah hari yang bertepatan dengan tanggal dan bulan lahir seseorang atau sesuatu, termasuk organisasi sosial kemanusiaan.

 Konon, tujuan dari acara ini adalah Meningkatkan semangat berprestasi dalam organisasi, membangun citra positif organisasi, menumbuhkan kebanggaan terhadap organisasi, dan menambah jejaring kemitraan untuk memperkuat keberadaan organisasi dalam menjalankan programnya.

 Biasanya, acara anniversary sebuah organisasi dihadiri oleh pengurus, anggota dan alumni. Termasuk orang-orang terdekat yang sering berinteraksi dan berkolaborasi di berbagai acara.

 Susunan acaranya juga sangat fleksibel sesuai dengan kesepakatan mereka yang terlibat. Ada organisasi yang memulai acara dengan menyanyikan lagu kebangsaan, hymne, sambutan dari berbagai pihak, doa, dan potong tumpeng.

 Ada juga acara anniversary yang hanya sambutan ketua panitia, berdoa, dan potong tumpeng untuk kemudian dilanjutkan dengan acara lain yang kebih seru. Seperti talk show, sharing session, dan hiburan. Monggo saja semua boleh dilakukan dan tidak berdosa, juga tidak melanggar hukum.

 Yang jelas, acara anniversary dan istilah sejenis lainnya, diakui atau tidak merupakan ajang reuni tipis-tipis antara para senior lintas organisasi. Ya, mereka datang berharap dapat bertemu dengan teman seangkatannya untuk berbagi cerita, bertukar pengalaman tentang suka duka menapaki takdir kehidupan dalam segala aspek.

 Sehingga yang terjadi, acara yang sudah disusun dengan baik oleh panitia, biasanya diabaikan berjalan sendiri tanpa mendapat perhatian dan sambutan yang layak. Mereka asik sendiri berbagi obrolan sambil menikmati jajanan dan makanan yang disediakan panitia. Sementara yang menyimak rangkaian acara, ya hanya panitianya dan sebagian anggota yang masih tergolong yunior.   

 Namun, perlu diingat bahwa acara anniversary bukan sekadar perayaan hura-hura semata. Ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil untuk bekal berbenah lebih baik dalam bersosialisasi dengan berbagai pihak.

 Alangkah bermanfaatnya jika acara anniversary itu juga membahas perlunya kaderisasi dan regenerasi kepengurusan organisasi, serta melahirkan kesepakatan bersama untuk mengadakan pelatihan lintas organisasi, musyawarah bersama, dan gerakan bakti sosial bersama mengangkat isue pelestarian lingkungan. Agenda seperti ini tentunya akan baik untuk membekali para yunior penerus senior.  

 Dengan demikian, acara anniversary yang bergengsi bagi sebuah organisasi itu bukan sekedar arena berkumpul sesama senior untuk mengenang kembali kegagahan masa lalu, semasa ketika aktif sebagai anggota pecinta alam dengan segala romantikanya. Termasuk mabuk bersama.

 Ingat usia semakin renta yang terus bergerak menuju akhir cerita  kehidupan yang akan membawa ke jalan surga atau jalan lainnya. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Rabu-29102025]

 

Jumat, 24 Oktober 2025

ANNIVERSARY RELAWAN BENCANA EMERGENCY SOSIAL KE-6 TAHUN 2025

 Terimakasih kepada panitia anniversary yang telah mengundang saya untuk hadir berbagi gembira menyambut ulang tahun yang ke-6. Sampai saat ini jumlah anggotanya terpantau di grup whatsapp sebanyak 35 personil dengan kemampuan yang beragam di bidang kerelawanan. Diantaranya di bidang Dapur Umum serta Pencarian dan Pertolongan. 

 Konon, mereka semua juga turut berkontribusi saweran untuk mensukseskan acara dari kita, oleh kita dan untuk kita.

 Sebelumnya, saya juga diundang rapat untuk pembentukan panitia anniversary. Namun karena ada kesibukan keluarga, saya tidak dapat hadir, dan menyerahkan sepenuhnya kepada panitia terpilih dalam meramu acara semeriah mungkin sesuai dengan anggaran yang ada hasil saweran.

 Sekarang pun saya juga terpaksa berhalangan hadir untuk menikmati acara yang dikemas oleh panitia, dikarenakan saya habis kecelakaan tunggal, dan sampai saat ini kondisi fisik masih belum layak tampil di keramaian karena dapat mengganggu kemeriahan acara.

 Dimana, pipi dan dahi masih sedikit bengkak sehingga bentuk wajah yang sudah tidak ganteng ini tidak presisi. Luka di bawah alis juga kadang masih mengeluarkan darah, gigi masih nyeri dan seluruh badan, khususnya lutut kiri masih cenut-cenut jika melangkah.

 Berharap tanpa kehadiran saya, acara anniv berjalan sesuai yang direncanakan dengan penuh riang gembira, sekaligus memberi semangat untk melangkah ke depan yang semakin asik.

 Sungguh, merupakan suatu kebanggaan bagi sebuah komunitas yang mampu bertahan sampai usia yang ke enam. Sebuah prestasi tersendiri bagi pengurus dan anggotanya dalam menapaki kerja-kerja sosial kemanusiaan yang jauh dari keuntungan financial.

 Apalagi sebagai komunitas, R-BES jarang sekali mengadakan rapat pengurus yang dihadiri pengurus secara lengkap. Jarang sekali mengadakan rapat anggota yang dihadiri seluruh anggota, dengan berbagai alasan kesibukan. Juga belum pernah rapat bareng membahas AD/ART, rencana program, dan evaluasi akhir tahun, seperti lazimnya sebuah komunitas.

 Ya, tanpa itu semua nyatanya R-BES tetap bergerak dan terlibat dalam menjalankan misi sosial kemanusiaan bersama komunitas lainnya. Walau hanya berkomunikasi lewat grup whatsapp, dan berkoordinasi lewat Japri dan Hotel Tenggo, anggota R-BES pun selalu hadir diberbagai lokasi musibah/bencana.

 Sambil rebahan di kamar menikmati rasa cenut-cenut dan sedikit batuk dan pilek, saya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-6 dengan harapan semoga ke depan semakin solid dan kompak dalam berkomunitas dan berkegiatan sosial kemanusiaan.

 Juga berharap, dalam berkegiatan di lapangan jangan lupa ‘absen kehadiran’  di tenda komando agar keberadaan R-BES dikenal oleh komunitas lain sesama pegiat sosial lemanusiaan, maupun pemerintah yang membidanginya.

 Begitu juga ketika ada lembaga atau komunitas yang mengadakan kegiatan pelatihan atau lainnya, hendaknya R-BES hadir sebagai peserta untuk menambah pengalaman dan pertemanan (memperluas jejaring kemitraan).

 Terakhir, saya juga berharap agar pengurus suatu saat dapat mengadakan semacam sarasehan yang wajib dihadiri oleh seluruh anggota R-BES untuk menyamakan langkah. Karena, sesungguhnyalah sampai saat ini antar anggota R-BES belum saling kenal, atau hanya kenal dan ngobrol lewat medsos saja.

 Kepada panitia, terimakasih atas undangannya, dan mohon maaf belum bisa membersamai dalam suasana riang gembira anniversary R-BES ke-6 tahun 2025. semoga sukses dan bermanfaat bagi sesama, bagi semua anggota. Baik yang sudah saya kenal maupun yang belum saya kenal. Salam kompak persahabatan. [eBas/Jum’at-24102025]