Senin, 12 September 2016

WARGA BUMI MARINA EMAS BERKURBAN

Seluruh warga muslim Perumahan Bumi Marina Emas, Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya Timur,  pada Hari Senin tanggal 12 September 2016 melaksanakan penyembelihan hewan qurban  dalam rangka Hari Raya Idul Adha  1437 H/2016 M di halaman masjid Al-Ikhlas, Komplek Perumahan Bumi Marina Emas, hasil gotong royong warga muslim setempat.

Sebelum prosesi penyembelihan hewan kurban, sesuai dengan aturannya, didahului dengan sholat Idul Adha, yang dilaksanakan di tanah lapang milik developer. Sholat yang dipimpin oleh uztad Ainul Haris ini juga diikuti oleh warga sekitar Perumahan Bumi Marina Emas, itu sesuai dengan  apa yang diriwayatkan oleh Barra’ bin Malik radhiyallahu’anhu berkata, Nabi bersabda, Barang siapa menyembelih hewan kurban setelah shalat Idul Adha, maka sembelihannya telah sempurna dan ia sesuai dengan sunnah kaum muslimin. (HR. Bukhari no  5545 dan Muslim no, 1961).

Artinya, menyembelih hewan kurban adalah ibadah yang telah diatur ketentuannya oleh syariat islam. Waktunya, jenis hewan, syarat-syarat hewan yang akan menjadi kurban, tata cara penyembelihan, dan pembagian daging kurban, diatur oleh sunnah Nabi, Seperti halnya saat pembagian daging kurban yang berjalan tertib dan lancar karena ketegasan dan kejelian panitia dalam melaksanakan tugasnya.   

Alhamdulillah, hewan kurban untuk Idul Adha kali ini terkumpul sebanyak  8 ekor sapi dan 21 kambing, yang merupakan qurban dari warga muslim setempat. Itu artinya kesadaran kaum muslim marina untuk melaksanakan perintah agama semakin menggembirakan, apalagi ditunjang dengan membaiknya tingkat pendapatan  yang berimbas pada kesejahteraan.

Di sisi lain, keberadaan takmir masjid pun patut mendapat apresiasi. Karena kegigihannya mengelola masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan, sedikit demi sedikit upaya memakmurkan masjid mulai tampak hasilnya. Masjid yang megah hasil gotong royong warga itu pun semakin ramai, semakin terasakan manfaatnya bagi warga muslim khususnya, dan masyarakat sekitar perumahan. Seperti terselenggaranya kegiatan ngaji untuk anak-anak, pengajian rutin minggu sore bakda mahrib, serta kegiatan insidental lainnya.

Pelaksanaan qurban ini selain memiliki nilai ibadah juga untuk meningkatkan nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan di antara warga marina sebagai komunitas baru yang perlu segera meningkatkan rasa kerjasama, gotong royong, kebersamaan serta kepedulian terhadap sesama sebagai warga sebuah kampung.

Tentu harapannya, kedepan pelaksanaan peringatan hari besar keagamaan semakin sempurna dengan melibatkan warga muslim perumahan yang semakin banyak. Tentu semua itu bisa terwujud manakala komunikasi dan koordinasi dilakukan dengan baik dan transparan melalui temu warga yang enak lan kepenak.

Hal ini penting, karena prinsip dasar ibadah ini terletak pada kesadaran warga muslim akan nilai-nilai ketulusan untuk kemaslahatan orang banyak yang berhak akan pembagian daging kurban. Selamat merayakan Idul Adha dengan hidangan khas serba daging kambing dan sapi, semoga tetap sehat dalam keberkahan-NYA. [eBas]



 

Sabtu, 10 September 2016

KADERISASI KOMUNITAS RELAWAN

Kata teman saya, yang sudah lama malang melintang di dunia kerelawan, mengatakan bahwa program kaderisasi itu untuk organisasinya, bukan untuk relawannya. Alasannya, relawan itu adalah panggilan jiwa. Relawan atau sukarelawan Biasa diartikan orang yang tanpa dibayar menyediakan waktunya untuk mencapai tujuan organisasi, dengan tanggung-jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus, tetapi dapat pula dengan latihan yang sangat intensif dalam bidang tertentu, untuk bekerja sukarela membantu tenaga profesional.

Semua orang, siapa saja mampu dan bisa menjadi relawan, namun tidak semua mau. Masih kata teman saya, yang dianggap senior oleh teman-teman relawan, bahwa jiwa pengabdian kepada nilia-nilai kemanusiaan yang biasa dilakukan oleh relawan itu tidak pernah mati. Walau tidak harus turun langsung ke medan bencana, namun sumbangan pemikirannya, saran dan masukannya tetap akan menginspirasi relawan lainnya yang lebih yunior.

Karena, bagaimanapun juga yang namanya usia, kondisi kesehatan dan kebutuhan hidup rumah tangga serta tanggungjawab sosial sebagai anggota masyarakat juga memerlukan perhatian, dan itu tidak bisa dihindari. Semua pasti akan terjadi pada setiap manusia, juga relawan. Sehingga persiapan diri dan keluarganya harus diperhatikan dengan melakukan mitigasi kehidupan dan penghidupannya, jika masa tuanya nanti tidak ingin dievakuasi karena tidak bisa mandiri secara ekonomi..

Sementara, Kaderisasi merupakan hal penting guna kelanjutan eksistensi organisasi. Dalam berbagai literature, sering dikatakan bahwa kaderisasi merupakan suatu kebutuhan internal yang  dilakukan demi kelangsungan dan kelancaran organisasi. Seperti halnya dengan hukum alam, semua proses pasti akan terus berulang - ulang  dan terus berganti. Ada yang datang pun ada yang pergi. Itulah hidup.

Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan program keorganisasiannya dengan dinamis. Fungsi kaderisasi adalah mempersiapkan calon penerus yang siap melanjutkan tongkat estafet aktivitas organisasi, sesuai cita-cita berdirinya organisasi. Dimana, masing-masing organisasi tentu berbeda dalam melakukan kaderisasi.

Pada umumnya, masing-masing organisasi melakukan kaderisasi dengan cara merekrut anggota baru untuk kemudian di gembleng dalam subuah tradisi pendidikan dan pelatihan (diklat) khas masing-masing organisasi, termasuk penggunaan seragam dan bendera organisasi yang membanggakan.

Namun ada pula yang melakukan kaderisasi cukup dengan cangkruk’an di warung kopi antara anggota senior dan yunior dalam rangka pewarisan nilai-bilai kerelawanan. Saling sinau berbagi informasi dan pengalaman lewat obrolan ringan sambil nyruput kopi dan bahkan main kartu untuk membangun paseduluran. Biasanya hasil obrolan itu ditindak lanjuti dengan latihan bersama sesuai kesepakatan. Sangat fleksibel tidak pakai ribet.

Inilah model pengimbasan pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan dari senior kepada yunior (sistem gethok tular). Model kaderisasi semacam ini secara organisatoris, sering dianggap lemah dan sulit berkembang. Hanya komitmenlah yang akan membangun dedikasi dan loyalitas antar anggota. Proses ini biasanya memakan waktu lama, sepanjang kehidupan itu sendiri.

Kegiatan pengimbasan ini seperti Proses enkulturasi atau proses “pembudayaan”, yaitu proses seorang individu belajar menyatukan dirinya dengan lingkungan organisasinya. Di sana, dia akan belajar sesuai pola pikir,serta sikapnya terhadap adat istiadat, sistem norma, serta aturan-aturan yang berlaku dalam organisasi.

Memang, masing-masing organisasi punya cara sendiri untuk mempertahankan eksistensinya, melakukan tugas-tugas kemanusiaan, sesuai kemampuan dan kesempatan. Karena, sesungguhnyalah dilemma yang sering menggelayuti seorang relawan itu adalah bagaimana mengatur keseimbangan antara ngurusi masalah kemanusiaan dan kerumahtanggaan.

Selamat melaksanakan recruitment anggota baru kepada kawan-kawan pengurus organisasi kerelawanan, yang kini semakin banyak tumbuh dengan keunikannya masing-masing sesuai bidang yang digeluti, yaitu mengabdi kepada nilai-nilai kemanusiaan yang terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim yang dilakukan sendiri oleh komunitas masyarakat yang hidup di kawasan rawan bencana. [eBas].











Sabtu, 03 September 2016

PENGURANGAN RISIKO BENCANA BERBASIS KOMUNITAS

 Dibanyak kasus, bencana alam selalu menimbulkan dampak bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat. Untuk masyarakat terdampak harus merespon dengan tindakan preventif untuk meminimalisir dampat bencana. Karena masyarakat terdampak sendirilah yang akan melakukan penyelamatan sendiri sebelum pihak luar datang.

Salah satunya adalah dengan Sosialisi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) kepada masyarakat, yaitu upaya meminimalisir kerentanan dan risiko situasi bencana di seluruh masyarakat, untuk menghindari (pencegahan) atau untuk membatasi (mitigasi dan kesiapsiagaan) dampak bahaya yang merugikan dalam konteks pembangunan berkelanjutan yg luas.

Kini, program PRB itu juga menjadi issue penting dalam SDGs (Sustainable Development Goals), yaitu sebuah dokumen yang akan menjadi acuan dalam kerangka pembangunan dan perundingan negara-negara di dunia. Target utamanya mengentaskan kemiskinan.

Namun demikian, konon katanya, Indonesia akan menggunakan tiga indikator terkait dengan dokumen SDGs, yaitu pembangunan manusia atau human development yang meliputi pendidikan dan kesehatan, lingkungan dalam skala kecil atau social economic development dan lingkungan yang besar atau environmental development berupa ketersediaan kualitas lingkungan dan sumber daya alam yang baik.

Issue-isue inilah yang harus disinggung dalam program PRB. Artinya sosialisasi PRB itu tidak melulu bicara tentang bencana saja, tetapi juga upaya membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya tangguh bencana, yang senantiasa siap siaga menghadapi situasi darurat serta mengenali berbagai sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu.

Dengan kata lain, apabila bencana itu terjadi, masyarakat sudah tahu dan paham benar apa yang mesti dilakukan untuk menghindari risiko bencana tersebut. Disamping itu, sesuai konsep Living Harmony with Disaster, masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana juga diharapkan mempunyai daya lenting pasca bencana, yaitu pulih kembali seperti sediakala, bahkan bisa membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, program PRB bertujuan agar warga mempunyai persiapan yang lebih baik untuk menghadapi bencana.

Sayangnya, di lapangan, ke tiga pilar utama dalam penanggulangan bencana (pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha) masih tidak mudah untuk dikoordinasikan. Gerakannya belum optimal, belum bisa bekerja sama dalam penanggulangan bencana, masih sebatas bekerja bersama atau sama sama bekerja sesuai kepentingan masing-masing.

Apalagi, masih banyak produk legislasi yang belum berpihak kepada upaya penanggulangan bencana, apalagi pengurangan risiko bencana. Termasuk penyusunan dokumen renkon yang kemudian berubah menjadi renop pun sering gagap saat akan dijalankan sesuai kesepakan dalam dokumen, siapa mengerjakan apa.

Ini terjadi karena, konon sistemnya belum terbangun dan ditaati bersama, sehingga perlu dibangun dengan melibatkan kekuatan komunitas relawan beserta dunia usaha. Ya, itulah pentingnya program PRB yang mengedepankan kemitraan dan partisipasi berbagai komunitas dalam penanggulangan bencana, misalnya BNPB/BPBD dalam menyusun peta prioritas daerah rawan bencana berbasis komunitas dengan melibatkan berbagai elemen relawan.

 Sehingga PRB itu benar-benar hadir pada saat pra bencana, darurat bencana dan pasca bencana. Jika itu bisa terwujud, maka upaya PRB itu tidak sekedar upaya menyelamatkan banyak nyawa (meminimalisir jumlah korban) semata, namun juga menyelamatkan kehidupan dan penghidupan itu sendiri. Salam Kemanusiaan.*[eBas].


Senin, 29 Agustus 2016

FASILITATOR DESA TANGGUH BENCANA

Sungguh, yang namanya banjir dan tanah longsor kini semakin akrab menyapa sekaligus mengancam kehidupan masyarakat yang bermukim di sekitarnya (kawasan rawan bencana). Sementara, untuk melakukan relokasi pun tidaklah semudah membalik tangan, banyak faktor yang ikut bermain.

Untuk itulah, maka lahirlah konsep ‘Living Harmony with Disaster’, yaitu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan ketangguhan masyarakat mengenai. Arti ketangguhan disini salah satunya dapat mengenali hazard/bahaya dilingkungannya, dapat menghindari terhadap ancaman, mempunyai daya adaptasi, dan daya lenting untuk bisa kembali seperti sedia kala.

Mungkin, dari situlah muncul  Perka BNPB No. 1/2012, tentang Desa Tangguh Bencana (destana), yaitu sebuah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana.

Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca bencana.

Dalam destana, masyarakat terlibat aktif dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko-risiko bencana yang ada di wilayah mereka, terutama dengan memanfaatkan sumber daya lokal demi menjamin keberkelanjutan.

Destana ini merupakan upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana. Tujuannya, antara lain, Melindungi masyarakat di kawasan rawan bahaya dari dampak-dampak merugikan bencana, Meningkatkan peran serta masyarakat, khususnya kelompok rentan, dalam pengelolaan sumber daya untuk mengurangi risiko bencana, dan Meningkatkan kerjasama antara para pemangku kepentingan dalam PRB, pihak pemerintah daerah, lembaga usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyakarat (LSM), organisasi masyarakat, dan kelompok-kelompok lainnya yang peduli.

Salah satu fokus prioritas dalam NAWACITA, yaitu, "Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan". Maka direkrutlah fasilitator destana, yang tugasnya melakukan fasilitasi dan pendampingan kepada masyarakat desa guna mencapai target-target destana di atas melalui perspektif pendidikan orang dewasa dengan pendekatan proses pendidikan kritis.

Untuk itulah, maka diadakan peningkatan kapasitas fasilitator destana, agar dapat mengerjakan tugas dan fungsinya dengan baik dan lancar. Hal-hal yang perlu dipahami dan dikuasai oleh para fasilitator destana antara lain menyangkut peraturan perundang-undangan mengenai kebencanaan dan desa, teknik fasilitasi dengan perspektif pendidikan orang dewasa, analisa risiko bencana, teknik pengkajian desa secara partisipatif, sosial budaya dan bahasa masyakarat setempat, kepemimpinan dan pendampingan, gender, dan lain-lain.

Konon, pembentukan Destana itu diprakarsai oleh BNPB melalui programnya yang didampingi oleh fasilitator destana selama waktu tertentu. Setelah program selesai, destana diharapkan bisa mandiri mengelola kegiatannya yang dikoordinasikan dengan BPBD setempat. Mengingat, program penanggulangan bencana, termasuk pembentukan destana beserta kegiatannya, merupakan pekerjaan yang tidak mudah, diperlukan kerjasama dengan semua pihak terkait, terutama adanya sinergi antara BPBD setempat dengan SKPD terkait.

Namun nyatanya, di lapangan lain, tidak selalu seindah konsepnya. Harusnya, seperti program pemerintah yang lain terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Pasca program harusnya dilanjutkan dengan program lanjutan untuk penguatan dari program sebelumnya, kemudian ada program pendampingan dan terakhir program pemandirian.

Karena, mustahil masyarakat bisa langsung mandiri pasca program. Apalagi jika BPBD setempat tidak menganggarkan untuk kegiatan pembinaan maupun pendampingan desa tangguh. Kecuali, di desa tersebut sumber daya manusianyanya mumpuni dan seluruh warga mendukung program Destana, baik secara moril dan materiil.

Untuk itulah, alangkah eloknya jika BNPB/BPBD memanfaatkan fasilitator destana yang sudah menyelesaikan kontraknya, diangkat sebagai mitra yang bertugas mendampingi kegiatan destana sampai mandiri, dalam arti program destana benar-benar diakui keberadaannya dengan dimasukkannya program destana ke dalam RPJM Desa maupun Rencana Kerja Pemerintah desa, sehingga semua kegiatan kebencanaan akan terdanai oleh Anggaran Pembangunan Belanja Desa maupun Alokasi Dana Desa.

Sukur-sukur jika fasilitator destana yang sudah berpengalaman itu diangkat sebagai pegawai tidak tetap (honorer) untuk memperkuat tugas-tugas kemanusiaan yang diperankan oleh BNPB/BPBD. Upaya ini pun juga tidak mudah karena semua kembali kepada ketersediaan anggaran yang akan membiayai kiprah Fasilitator destana dalam upaya mewujudkan ketangguhan bangsa menghadapi bencana.[eBas/berbagai sumber]








Selasa, 09 Agustus 2016

WARUNG KOPI MBAH COKRO WARUNG INSPIRASI

             Menempati lahan yang konon bekas lapangan Niac Mitra, sebuah klub sepak bola yang pernah ada di Surabaya, berdiri Warung kopi yang tampil sederhana dan antik, menawarkan kesan kuno bernuansa jadul. Warung Kopi mbah Cokro, itulah namanya. Disana juga menyediakan tempat untuk pertemuan yang diberi nama Padepokan Tjokroaminoto dan Panggung Rakyat untuk pertunjukan musik maupun baca puisi (musikalisasi puisi).

Warung mbah Cokro yang berada di jalan Prapen, Surabaya timur, menawarkan kuliner yang tidak seperti warung kopi pada umumnya. Jangan berharap jika nongkrong di warung itu bisa memesan soft drink atau aneka kudapan masa kini, termasuk jangan mencari marning, kuaci, sanghai, kacang atum, rokok eceran dan krupuk plastikan dan aneka minuman shacet yang biasa digantung.

Minuman yang disajikan pun menu ndeso, diantaranya wedang tape, temu lawak, susu anget, dan es teh, dan jagoannya tetap wedang kopi setengah pait. Sedangkan jajanan yang ditampilkan standar warung kopi pinggir jalan, seperti tahu brontak, tempe goreng, pisang goreng, sate usus, ceker ayam, sate telur puyuh. Juga ada Sego Teri, Mie Kluntung, dan Nasi Kucing bungkus daun pisang.

Warung ini dibangun dari potongan bambu dan kayu bekas yang sengaja tidak dihaluskan (kasaran). Mulai meja-kursi dari bambu, dingklik dari kayu, piring dan gelas dari seng dan barang kuno lainnya yang dijadikan asesoris, seperti sepeda onthel, radio, proyektor dan mesin cuci rusak. Barang-barang jadul inilah yang bikin kangen siapa pun yang pernah kesana. Ya, kesan pertama begitu menggoda.

Karena suasana yang sederhana dan apa adanya itulah yang membuat nyaman untuk cangkruk’an di waktu malam, bersama teman, bersama komunitas, untuk saling berbagi, saling peduli dan saling sinau untuk menambah wawasan sekaligus mempererat paseduluran, seperti jargon lama, Mitreka Satata, teman senasib seperjuangan. Tentu semua itu dilakukan sambil nyruput kopi pelan-pelan.

Warungnya Mbah Cokro sering juga dijadikan tempat diskusi oleh berbagai komunitas, menjadi tempat berkumpulnya berbagai relawan kemanusiaan, yang mencoba melahirkan inspirasi dengan menebar berbagai informasi. Mulai diskusi pendidikan, pameran foto, diskusi budaya dan media penyiaran dan kegiatan lain yang diselenggarakan oleh berbagai komunitas yang memiliki kepedulian terhadap sesama.

Materi diskusinya cukup aktual, dan berbobot, walau disampaikan secara santai, jauh dari kesan formal. Ya diskusinya mengalir apa adanya, bloko suto, sak njeplak’e cangkem sehingga mengundang senyum dan tepuk tangan. Begitu juga tanggapan peserta diskusi beragam, dan tak kalah ‘nakalnya’ dengan dialeg khas Suroboyoan.

Mereka, sesuai dengan potensi dan kapasitasnya, mencoba ber-shodakoh wawasan dan pengalaman. Dengan gayanya sendiri, saling memberi tausyiah, menyebarkan virus positif yang mencerahkan idealisme yang kini semakin memudar di era industrialisasi, materialistis dan konsumtif. Konon, perilaku yang demikian bisa berdampak pada pudarnya nilai-nilai keindonesiaan, nilai-nilai kebhinekaan.

Ya, di warungnya mbah Cokro, para relawan kemanusiaan itu menemukan ladang berekspresi untuk mengasah idealismenya dan mengamalkan segala kebisaannya, dengan harapan dapat  menginspirasi mereka yang suka cangkruk’an di halamannya mbah Cokro untuk melakukan aksi-aksi kemanusiaan. Semoga.[eBas/08123161763]



Sabtu, 06 Agustus 2016

KOMUNITAS RELAWAN INDONESIA MENGGAPAI ASA

Sesuai pesan UU 24 tahun 2007, Masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam penanggulangan bencana, yaitu salah satunya dengan menjadi relawan penanggulangan bencana. Oleh karena itu ke depan, pengembangan pendataan jumlah dan mutu relawan jadi penting untuk memudahkan mobilisasi.

Dalam Undang undang kebencanaan, disebutkan bahwa relawan penanggulangan bencana  adalah seseorang atau sekelompok orang, yang memiliki kemampuan dan kepedulian dalam penanggulangan bencana yang bekerja secara ikhlas untuk kegiatan penanggulangan bencana. Prinsip kerja yang mendasari relawan adalah mandiri, profesional, solidaritas, sinergi dan akuntabilitas.

Ke depan,  untuk memudahkan pembinaan dan penugasan, relawan penanggulangan bencana dibagi menjadi sistem klaster (cluster) atau kelompok kerja. Ada 9 (sembilan) cluster yang membidangi kerja-kerja relawan penanggulangan bencana antara lain: Klaster Tim Reaksi Cepat (TRC), Klaster Pos Komando/Koordinasi (Posko), Klaster Medis, Klaster Logistik, Klaster Evakuasi, Klaster Shelter, Klaster Dapur Umum, Klaster Psikososial, dan Klaster Komunikasi.

Konon, dengan bimbingan petugas (dalam hal ini BNPB/BPBD) relawan menjadi garda terdepan dalam membantu penanganan tanggap darurat, yang bertugas mencari dan mengumpulkan data di lokasi terjadinya bencana, melakukan penelitian atas korban dan kerusakan yang terjadi akibat bencana, membuat perkiraan bantuan dan peralatan yang dibutuhkan serta membuat saran, tindakan serta bantuan pertolongan darurat lainnya untuk menyelamatkan korban.

Namun nyatanya, pemerintah belum mengatur mekanisme kerelawanan pada saat terjadi bencana, dalam bentuk regulasi yang dijadikan payung hukum oleh Pos Komando yang menangani ‘prosesi bencana’ saat itu. Karena dibanyak kasus, relawan yang datang dan melapor ke posko tidak mendapat tanggapan yang ‘mesra’ dari petugas posko (yang mungkin belum tahu manajemen posko dan belum paham peran relawan). Sehingga dengan kreativitasnya sendiri relawan melakukan kerja-kerja kemanusiaan versinya sendiri.  

Untuk itulah, dalam upaya membangun relawan yang seperti diharapkan, masing-masing komunitas  relawan Indonesia dengan segala macam bendera, seragam, visi misi dan idealisme yang diusung, mencoba meningkatkan mutu anggotanya secara mandiri, gabungan antar komunitas relawan maupun kerjasama dengan pemerintah (BNPB, BPBD, dan SKPD lain yang memiliki anggaran untuk bencana), sehingga paham perannya jika sewaktu-waktu tugas kemanusiaan memanggilnya.

Begitu juga dengan Komunitas Relawan Indonesia, juga melakukan upaya membangun sinergi meningkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan. Dengan konsep saling sinau, saling peduli, saling berbagi dan beradaptasi, mereka bersama menyelenggarakan pertemuan berkala secara informal, jauh dari kesan formalitas

Pertemuan itu merupakan sarana komunikasi antar anggota untuk membangun kesepahaman dalam kerja-kerja kerelawanan, kaitannya dengan kesiapsiagaan penanggulangan bencana serta program kerja yang akan dilaksanakan, termasuk membangun relasi  memperluas jejaring kemitraan, juga bagaimana melakukan kaderisasi . Ini penting untuk melanggengkan organisasi sebagai tempat pengabdian ‘sedekah ilmu’ untuk  sesama.

Dari pertemuan-pertemuan itu diharapkan muncul gagasan bagaimana cara memberdayakan relawan. Karena, selama ini belum banyak relawan yang memikirkan masa depannya, masih berkutat pada peningkatan kompetensi, kapasitas dan profesionalitas untuk kerja-kerja kemanusiaan.

Sehingga, dibanyak kasus, banyak relawan yang kaget ketika dituntut untuk membangun keluarga, hidup ditengah-tengah masyarakat. Sungguh tidak selamanya relawan itu akan menjadi relawan yang hanya sibuk dengan kerja-kerja kemanusiaan, ngurusi orang lain, tanpa memperhatikan kehidupan pribadi dan keluarganya.   

Contoh sederhana, seperti yang sedang dilakukan oleh Mas Edy, seorang instruktur kegiatan alam bebas sekaligus pegiat lingkungan, yang punya nama beken Atmosfir Hawer, yaitu membuat tempat pembibitan aneka tanaman keras (bedengan), yang nantinya ditanam di lereng gunung dan bukit untuk mengurangi bahaya longsor. Kegiatan tersebut jika ditekuni kemudian dikerjasamakan dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha yang memiliki program CSR, pasti akan mendatangkan barokah.

Termasuk membuat souvenir dan perlengkapan kegiatan di alam bebas, juga bisa menjadi sebuah industri kreatif yang menjanjikan. Banyak contoh mantan aktivis mapala yang hidup mapan dengan jualan pernak pernik perlengkapan kegiatan di alam bebas (outdoor equipment). Konon, semuanya berawal dari gagasan yang muncul saat cangkruk bareng di warung kopi, untuk kemudian direalisasikan.

Mungkin, teman-teman komunitas relawan Indonesia belum menemukan gagasan yang jitu yang bisa dijual, sehingga kegiatan ngopi bareng masih menjadi media sambung paseduluran, sedekah ilmu serta tukar informasi saling sinau untuk memperluas wawasan terkait dengan penanggulangan bencana dan upaya pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim. Semoga tetap barokah. “Tabah sampai akhir,” Kata Cak Lutfi. [eBas]







Rabu, 03 Agustus 2016

PENDIDIKAN ALTERNATIF YANG MEMERDEKAkAN ANAK



Di era yang serba mungkin ini, atas nama demokrasi dan kebebasan berekspresi, beberapa orang yang mempunyai kepedulian kepada anak-anak yang terlantar pendidikannya, mencoba menawarkan model lain dalam mendidik anak lewat proses pembelajaran yang interaktif, nyaman dan menyenangkan serta keluar dari pembelajaran klasikal. 

Mereka membentuk komunitas peduli pendidikan anak, yang percaya bahwa suasana belajar yang kondusif membuat anak didik mudah menumbuh kembangkan kreativitas, bakat, dan potensi diri. Sehingga guru sebagai pendamping akan lebih mudah mendidik.

Ada komunitas peduli pendidikan yang tidak mementingkan ijasah sebagai tanda lulus untuk prasyarat  melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, mereka memberikan laporan berbentuk portofolio yang lengkap tentang segala kompetensi dibidang kognitif, affektif dan psikomotor  serta kebisaan lain yang telah dikuasai oleh peserta didik.

“Kami dari Sanggar Anak Akar mencoba mengembangkan bakat dan potensi anak jalanan dan anak pinggiran yang terbuang dari sistem persekolahan karena ketiadaan biaya dan sulitnya akses,” Kata Susilo, menceritakan pengalamannya bersentuhan dengan anak-anak marjinal yang dilupakan Negara.

Masih menurut Pak Sus, begitu panggilan mesranya, anak-anak itu dibimbing untuk menuliskan pengalamannya dan dibukukan (didokumentasikan untuk koleksi perpustakaan atau pun di jual jika ada yang berminat). Kemudian buku itu dibaca bersama sebagai bahan belajar. Ya, mereka belajar dari pengalamannya sendiri.

Di Sanggar Anak Akar, anak-anak itu belajar membuat puisi, cerpen, bahkan lagu serta karya lain. Ternyata mereka bisa mengembangkan bakat dan potensinya yang kelak akan berguna. Ya, sesungguhnyalah, masih banyak anak yang terlantar pendidikannya, tidak tertampung pada jalur pendidikan formal.

Inilah, konon, yang menginspirasi lahirnya pendidikan alternatif di berbagai daerah, oleh orang-orang yang peduli kepada sesama. Mereka ini melakukan berbagai  gerakan mandiri, mencoba memberdayakan anak pinggiran melalui bidang pendidikan sebagai medan pengabdian, shodakoh ilmu dan kebisaan yang bermanfaat bagi sesamanya.

Dalam brosur yang dibagikan, dikatakan bahwa pendidikan alternatif ini muncul karena ketidak puasan terhadap kualitas pendidikan, khususnya terhadap pendidikan yang tidak memberikan ruang yang luas pada kemerdekaan dan kebutuhan individu anak, dalam rangka mengembangkan bakat, minat, potensi, kreativitas dan kecerdasan sosial sejak dini.

Hal ini senafas dengan testimoni yang dikemukakan Yuli, dari Sanggar Alit, Surabaya, selama bergelut dengan anak-anak yang “Emoh Sekolah” dengan berbagai alasan. Yuli bergerak dengan pendekatan andragogi yang menghargai keberagaman anak, serta menumbuhkan kesadaran untuk berpendidikan  (senang belajar) dalam rangka menyiapkan mental menghadapi problem kehidupan.

Celetukan yang cerdas dan sedikit nakal itu muncul bersahutan dalam format “Diskusi Pendidikan Arternatif; Membangun Keragaman Model Pendidikan”, yang berlangsung gayeng di Warkopnya ‘Mbah Cokro’, di daerah Prapen, Surabaya.

“Sekolah telah menjadi masalah yang ‘merusak’ dengan berbagai aturan dan merongrong secara massif serta menyengsarakan. Dengan dukungan anggaran besar, sekolah semakin menjadi ladang investasi yang bernilai ekonomis dan cenderung otoriter,” celetuk Daniel, M Rosyid, guru besar ITS, mengawali celotehannya tentang sekolah sebagai instrument teknokratis.

Semua yang hadir tertawa, termasuk moderator dan pelayan Warkop. Namun, yakinlah bahwa penikmat diskusi itu menertawakan sesuatu yang tidak dipahami, hanya seolah-olah ngerti. Karena celetukan seorang guru besar itu perlu dikaji secara akademis empirik, agar paham apa makna dibalik celetukan yang menyegarkan tentang pendidikan alternatif.

Ya, dalam prakteknya, pendidikan alternatif kini mulai marak dimana-mana dengan berbagai keunikannya, untuk membekali anak didiknya dengan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Ini dilakukan  dalam rangka menumbuhkan kemampuan membaca, mengalami (praktek), dan menulis, serta berani berbicara dan bertanya.

“Ini penting, karena belajar itu pada hakekatnya memaknai pengalaman hidup,” Ujar Pak Dan, sapaan guru besar ITS, yang malam itu tampil mbois.

Keunikan penyelenggaraan pendidikan alternatif itu tidak terlepas dari selera, kepentingan dan pengalaman yang diusung oleh para pegiatnya, guna menyiapkan anak didiknya menghadapi masa depannya.

Namun, mengingat sistem pendidikan nasional masih mementingkan ijasah untuk berbagai keperluan (ngelamar kerja dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi), maka, mau tidak mau para pegiat pendidikan alternatif pun tetap harus tunduk menyiapkan anak didiknya mengikuti ujian nasional.

Jika mereka dengan kesadaran sendiri yakin bisa hidup tanpa ijasah, cukup mengandalkan potensi diri sendiri  membuka peluang usaha di sektor informal secara mandiri, ya silahkan saja. Itu artinya telah membantu pemerintah mengurangi panjangnya barisan pencari kerja.

Sungguh materi diskusi di Warkopnya ‘Mbah Cokro’ malam itu sangat menarik untuk direnungkan. Dengan sajian kopi ireng di cangkir blirik yang terbuat dari seng, peserta dihibur nuraninya, digelitik idealismenya untuk turut serta berbuat sesuatu yang membawa manfaat bagi sesamanya yang sedang menerima nikmat miskin dan bodo dari Tuhan.

Semoga Warkop ‘Mbah Cokro’ yang telah menjadi ruang publiK untuk saling sinau, saling peduli serta berbagi informasi dan pengalaman dari berbagai elemen masyarakat, terus menghentak dengan topik bahasan yang menginspirasi sesama pegiat kemanusiaan. Wassalam. [edibasuki/08123161763]