Sabtu, 18 Mei 2019

NGABURESIK DI PANTAI KENJERAN


Konon, istilah ngabuburit itu adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang  dalam rangka menunggu saat berbuka puasa dibulan romadhon. Bentuknya bisa bermacam-macam sesuai selera. Ada yang sekedar jalan-jalan keliling kota, ada yang cangkruk’an di cafĂ© atau warkop, ada pula yang ngobrol di taman kota dan kegiatan lain yang menyenangkan.

Begitu juga dengan kawan-kawan komunitas pecinta alam, mereka dengan kreativitasnya membuat acara NGABURESIK, plesetan cerdas dari ngabuburit sambil resik-resik. Konon, kesepakatan ngaburesik itu dibuat di emperan toko, saat kumpul-kumpul sambil ngopi mempererat tali silaturahim.

Ya, mereka sepakat berkegiatan menunggu saatnya berbuka sambil melakukan hal-hal yang positif menjaga kebersihan pantai dari sampah plastik. Lokasinya di pantai kenjeran. Tepatnya, disekitar “Taman Suroboyo” yang belum diresmikan, masih tahab finishing, namun sudah diramaikan oleh pengunjung dan pedagang.

Kegiatan ini diikuti oleh beberapa komunitas, mereka secara spontan bersinergi membangun aksi bersih-bersih. Pinjam istilahnya Cak nDaru, sinergitas tak pandang golongan atau komunitas. Semua lebur oleh keragaman, namun satu tujuan yang sama. Surabaya harus bebas dari sampah plastik.

“Pantai Kenjeran ini kita jadikan titik awal kegiatan bersih-bersih sampah plastik sampai terlihat hasilnya, baru bergeser ke tempat lain,”Kata Ki Rebo, saat melakukan evaluasi kegiatan ngaburesik sambil menikmati hidangan buka puasa, hasil sumbangan dari donatur.

Masih kata Ki Rebo, jika memungkinkan kegiatan ini ditindak lanjuti dengan melakukan edukasi kepada masyarakat agar tumbuh kepedulian terhadap sampah, dan kebersihan lingkungan. Termasuk mengupayakan penambahan tempat sampah di beberapa sudut taman sekitar pantai. Pemasangan rambu-rambu larangan buang sampah sembarangan. Pemasangan poster ajakan peduli sampah. Seperti, “Kebersihan Sebagian dari Iman”, “Arek Suroboyo Peduli Sampah, “Warga Surabaya Cinta Lingkungan Bersih, Nyaman dan Asri”, dan lainnya sesuai kreativitas kawan-kawan.

Kegiatan yang digelar hari sabtu pon (18/5) itu sedikit banyak telah memunculkan semangat bersama untuk menindak lanjuti. Dan kawan-kawan Sahabat pena ditunjuk sebagai ‘Leading sector’ (starter) program ini, sesuai konsep yang digaungkan oleh BNPB, “Kita Jaga Alam-Alam Jaga Kita”.

Untuk merealisasikannya, tentu diperlukan komunikasi yang harmonis dan setara antar komunitas. Mengingat upaya edukasi masalah lingkungan dan kebersihan untuk mewujudkan Surabaya bersih dari sampah (plastik), itu bukan hal yang gampang. Perlu proses panjang dan berkesinambungan.

Tidak ada salahnya jika dokumentasi kegiatan ngaburesik itu di share kemana-mana sebagai upaya menebar virus peduli sampah plastik. Dimana, konon Indonesia adalah penghasil sampah (plastik) terbesar ke dua di dunia. Untuk itulah upaya penyadaran akan dampak sampah plastik perlu segera dilakukan. Sukur-sukur jika Sahabat Pena berkenan melaporkan kegiatan ini kepada penguasa Surabaya, agar mereka tahu dengan harapan kedepan mereka mau membantu.

Terkait dengan ngaburesik ini, Ki Rebo, mengatakan bahwa ini kegiatan yang sangat positif, mengajarkan kepada diri sendiri dan masyarakat akan pentingnya lingkungan yang nyaman dan aman. Nyaman dari polusi sampah, da n aman dari akibat yang ditimbulkan oleh polusi sampah.

Beliau juga mengatakan, salut kepada rekan-rekan Sahabat Pena yang memulai mengajak kepada kita arti pentingnya Kota Surabaya Bebas dari Sampah. Artinya, aksi ngaburesik yang tercetus di bulan yang penuh mahfiroh dan barokah ini hendaknya benar-benar bisa menjadi titik awal gerakan bersih sampah.

Di sisi lain, menurut Cahyo dari grup Federal, mengingatkan bahwa sampah plastik yang banyak menyangkut di pangkal pohon bakau di kawasan wisata konservasi mangrove wonorejo, sangat membahayakan kesuburan pohon bakau dan menghambat pertumbuhan tunasnya. Hal ini mengingat, keberadaan mangrove itu konon berfungsi sebagai penghambat terjadinya abrasi, banjir rob dan pemecah gelombang tsunami hingga 80%.

“Hal ini kiranya juga perlu menjadi perhatian dan peran serta komunitas pecinta alam yang selalu peduli terhadap kerusakan lingkungan,” Ujarnya.

       Rembang petang pun beranjak malam. Keramaian taman di malam minggu mulai terasa, ditingkah suara asongan menawarkan dagangannya untuk mengais rejeki malam minggu. Lamat terdengar adzan isya’ memanggil umat-NYA untuk ke masjid. Beribadah malam, mengharap ridho, ampunan dan pahala NYA.

Satu-satu peserta ngaburesik balik kanan, kembali pulang membawa selaksa kenang, sambil berharap pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk merancang aksi yang semakin berisi, bisa segera datang. Semoga langkah kecil ini merupakan awal dari langkah besar yang bermakna bagi upaya pelestarian lingkungan alam. Wallahu a’lam bishowab. Salam Lestari. [eBas]  




Selasa, 14 Mei 2019

SRPB JATIM TIDAK PUNYA DUIT, TAPI BISA DO IT


       “Cak, sampiyan tahu gak, kemarin pas terjadi bencana banjir di beberapa kota di jawa timur, banyak organisasi relawan yang turun membantu dengan membawa logistik cukup  dan perlalatan rescue yang memadai, termasuk ada yang membawa mobil dapur umum, “ Kata mas Dalbo mengawali obrolan malam di warung kopi langganan.

“Iya, kata teman-teman yang sudah di lokasi sejak awal juga bilang bahwa mereka datang lebih dulu sebagai bentuk emergency respon dari pada yang lain,” Kata Cak Mukidi menjawab sambil membaca Koran Memo, Koran kesayangannya. Korang yang selalu memuat peristiwa perkosaan dan kriminalitas.

“Lha kapan lho SRPB bisa membeli mobil dapur umum dan perahu karet?. Masak SRPB kalah dengan yang lain.” Ujar mas Dalbo penuh selidik.
lha dalah, sebuah pertanyaan lugu dari mereka yang belum tahu, termasuk mas Dalbo ini. Ya wajarlah, sebagai orang yang baru bergabung menyangka jika SRPB JATIM itu terdiri dari kaum beruang yang punya duit banyak.

Mas Dalbo juga menganggap bahwa SRPB JATIM itu sama dengan organisasi relawan lain yang donaturnya banyak berlimpah duit lebih, sehingga bisa bergerak kemana-mana, kapan saja dengan dukungan logistik dan peralatan yang lebih dari cukup. Oalah mas Dalbo sampiyan kok ya ada-ada saja.

Kantor Sekretariat saja belum punya, masih tergantung kepada kebaikan pihak lain yang berkenan meminjamkan tempat untuk beraktivitas dan bersilaturahmi, dalam rangka membangun sinergitas antar organisasi relawan, berbagi informasi dan saling tukar pengalaman sebagai upaya meningkatkan kapasitas relawan penanggulangan bencana. Peralatan pun juga masih milik masing-masing individu.
        
        Ya, sesungghnyalah SRPB JATIM itu memang tidak punya duit, yang dimiliki adalah semangat untuk berbagi dan berekspresi, serta ber ‘ do it ‘ secara bersama-sama untuk kemaslahatan bersama, dan ternyata, ketika semuanya dilakukan bersama-sama dengan penuh komitmen, maka semuanya bisa terlaksana.

Contoh kongkritnya adalah kegiatan Arisan ilmu Nol Rupiah yang sudah digelar berkali-kali sebagai media menambah wawasan dan pengetahuan. Tanpa mengandalkan dana besar, ternyata kegiatan itu tetap bisa berjalan tanpa mengurangi makna untuk belajar.

Begitu juga saat berkeinginan mengadakan baju dan kaos seragam. Semua dibicarakan bersama untuk mufakat, baru kemudian dengan modal semangat rencana itu di eksekusi untuk urunan bagi mereka yang berkenan untuk memiliki baju dan kaos seragam. Tidak ada paksaan untuk memiliki. Sehingga issue diluar sana yang mengatakan bahwa SRPB JATIM itu dananya di support oleh BPBD adalah salah besar dan ngawur pol.

Cak Dalbo hanya mecucu saat dijelaskan apa itu SRPB JATIM dengan segala suka dukanya, karena belum semua elemen mau mengakui dan menerima kehadiran SRPB JATIM. Semuanya terjadi dikarenakan sentimen pribadi, mungkin juga sakit hati karena kalah pinter, takut tersaingi, dan takut kalah popularitas. Sungguh, SRPB JATIM lahir bukan untuk itu. Semua terjadi karena salah persepsi semata karena jarang duduk bareng, ngopi bersama.

Sekali lagi, SRPB JATIM lahir untuk mempererat tali silaturahmi serta memperluas jejaring kemitraan antar relawan, pegiat alam, pekerja kemanusiaan, dan pemerintah yang membidanginya. keberadaannya merupakan wadah untuk saling belajar dan tukar pengalaman dibidang kebencanaan. Tidak menutup kemungkinan sebagi tempat terjadinya transaksi ekonomi dan siapa tahu juga sebagai ajang pertemuan jodoh, utamanya bagi yang masih jomblo.

Bisa keberadaannya berperan sebagai katalisator yang menjembatani antara keinginan dan kebutuhan relawan dengan pihak-pihak terkait dalam rangka peningkatan kapasitas, sehingga memudahkan pendataan, pembinaan dan mobilisasi organisasi relawan jika tugas-tugas kemanusiaan memanggilmya untuk turun membantu sesamanya yang sedang dilanda bencana.

“Nah, agar sampiyan memahami dan tidak salah paham dengan apa itu SRPB JATIM, monggo sampiyan sering mengikuti dan terlibat dalam kegiatannya. Ini penting agar sampiyan juga bisa turut menjelaskaan kepada mereka yang tidak tahu dan sok tahu, apa itu SRPB JATIM dengan segala keterbatasannya. Karena sesungguhnyalah di SRPB JATIM itu selalu diupayakan agar tidak ada dusta diantara kita,” Kata Cak Mukidi menyudahi obrolan hangat malam itu karena harus segera pulang untuk menunaikan solat tahajud dan persiapan makan sahur bersama keluarga kecilnya. [eBas/selasa-14/5, malem ke sepuluh bulan romadhon 1440]  




………………………………………………
   

Minggu, 12 Mei 2019

DESK RELAWAN, SEBUAH KONSEP YANG MASIH PREMATUR UNTUK DILAKSANAKAN


           “Lha kayak beginilah seharusnya desk relawan itu. Berperan dalam membantu pendataan, khususnya data tentang keberadaan relawaan yang ikut turun dalam operasi penanggulangan bencana,”  Kata Mukidi, ketika meninjau lokasi bencana  sekaligusmemberikan bantuan sembako. Mas Muk, begitu panggilannya, juga menyempatkan mampir di tenda  desk relawan, yang didirikan atas inisiatif relawan mitra SRPB JATIM.


Berawal dari cuplikan cerita pengalaman Mukidi melihat proses kegiatan desk relawan di lapangan yang mendapat sambutan menyenangkan dari berbagai pihak, termasuk BPBD. Semua itu karena relawannya bisa ‘berdiplomasi” dengan meyakinkan tentang konsep desk relawan hasil bahasan di acara Dharma Relawan Adhirajasa, di Buleleng, Provinsi Bali.

 Obrolan malam pasca acara Arisan Ilmu tentang Memanen Air Hujan bersama Komunitas Banyu Bening, dari Jokja, mengalir begitu saja tanpa topik, yang penting ngobrol sambil nikmati gorengan sisa acara. obrolan terus mengalir tanpa moderator, juga tanpa menunggu pengampu dari pihak tertentu.

Di dalam konsep desk relawan, keberadaannya itu diantaranya adalah mendata relawan yang datang untuk membantu menangani bencana. Yang perlu didata itu diantaranyan, nama relawan, nama organisasi relawan, jumlah personil, kemampuan yang dimiliki, logistik dan peralatan yang dibawa, berapa hari mereka akan beroperasi di lokasi, dan lainnya.

Kemudian, data tersebut diserahkan ke posko induk untuk dijadikan bahan laporan maupun untuk menyusun kebijakan rencana operasi selanjutnya, terkait dengan pemberian tugas relawan. Misalnya menugaskan relawan untuk melakukan evakuasi, melibatkan relawan membantu di dapur umum, membantu pendistribusian logistik, pencatatan keluar masuknya bantuan dari masyarakat dan lainnya. Harapannya, operasi penanggulangan bencana dapat berjalan tertib , efektif, efisien, dan terukur. Sehinga tidak ada dusta diantara mereka.

Sesungguhnyalah konsep desk relawan itu perlu dikaji kembali kesangkilan dan kemangkusannya setelah dilakukan ujicoba operasional dalam penanganan bencana. Harus ada acara duduk bersama antar berbagai elemen untuk melakukan evaluasi pasca ujicoba desk relawan di atas, sebagai upaya menggugah kesadaran tentang upaya membumikan konsep desk relawan.

Seperti diketahui, keberadaan desk relawan baru bisa berjalan sesuai gagasan awal, jika di masing-masing Kabupaten/Kota sudah terbentuk Sekber Relawan yang akan bertanggungjawab terhadap aktivitas desk relawan (yang jika memungkinkan bisa didampingi oleh sekber provinsi). Untuk itulah perlunya ada kegiatan sosialisasi. Baik tentang konsep desk relawan, maupun perlunya pembentukan sekber di masing-masing kabupaten/kota (sukur-sukur bisa difasilitasi oleh pemda setempat). sebuah harapan yang "masih jauh panggang dari api"

Dalam obrolan tanpa konsep itu, Sebagai orang yang paham tentang manajemen bencana, Mukidi juga bilang, bahwa relawan yang berinisiatif mendirian desk relawan haruslah berkoordinasi dengan BPBD setempat. Perlu atau tidaknya tenda desk relawan didirikan itu harus berdasar pada hasil kaji cepat dan disetujui oleh BPBD setempat. 

Jika disetujui, maka desk relawan bisa melakukan tugas-tugasnya di tenda tersendiri yang difasilitasi oleh BPBD, dimana, tendanya dekat dengan tenda posko induk untuk memudahkan koordinasi, terkait dengan perkembangan situasi, kondisi dan data terbaru yang didapat oleh relawan di lapangan.

Setelah pasca bencana, dimana seluruh operasi penanggulangan bencana ditutup, maka harus ada evaluasi bersama tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, untuk kemudian dijadikan bahan penyusunan laporan. Baik itu laporan tentang efektitas pelaksanaan desk relawan, maupun laporan yang berkaitan dengan administrasi secara keseluruhan.

Pertanyaannya kemudian, maukah organisasi relawan yang ada di daaerah itu dikoordinir dalam satu sekretariat bersama tanpa menghilangkan ‘keunikan’ masing-masing organisasi ?. Pertanyaan ikutan lainnya adalah, Apakah konsep desk relawan ini akan disambut gembira oleh relawan dan BPBD ?. atau sedekar indah di wacana dan baru dicobalaksanakan setelah ada pihak yang mengampu. 

disinilah perlunya ada dialog yang hangat dan berkesinambungan diantara berbagai elemen yang akan menjalankan sekber dan desk relawan. Semua itu perlu untuk membangun kesepahaman dan membuang sikap “like and dislike” antar personil yang dianggap berbeda. tanpa itu, sangat rawan konflik karena beda pemahaman Wallahu a’lam bishowab [eBas/simpulan obrolan semalam pasca Arisan Ilmu tentang dongeng memanen air hujan dari komunitas banyu bening Jokja yang punya motto, ngombe banyu udan ben ora edan-13/5]








  


  

Minggu, 28 April 2019

TAMAN HARMONI SEBAGAI PUBLIC SPHERE UNTUK BERBAGI INFORMASI


Taman Kota adalah taman yang berada di lingkungan perkotaan yang dapat dinikmati oleh seluruh warga kota untuk saling bertegur sapa sambil olah raga, atau bersantai bersama keluarga maupun komunitasnya. Bisa dikatakan, Taman Kota, selain berfungsi untuk menjaga kualitas lingkungan, keberadaannya juga dapat menumbuhkan rasa sosial dan menumbuhkan toleransi dan rasa peduli, terhadap sesama manusia maupun mahkluk hidup lainnya, dalam rangka mendukung upaya pelestarian alam (termasuk flora dan fauna).

Begitu pula keberadaan Taman Harmoni yang terletak di kawasan Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Setiap hari minggu selalu diramaikan oleh warga dari berbagai daerah untuk berbagai kegiatan. Keasrian dan keindahannya menjadi jujugan penggemar fotografi untuk mengabadikan berbagai gaya dan peristiwa.

Tidak jarang berbagai komunitas pun menjadikan arena Taman Harmoni menjadi tempat berkumpul, berinteraksi antar anggotanya. Misalnya, Ibu-ibu PKK menggadakan arisan atau makan bersama dalam rangka syukuran, Komunitas Penggemar Satwa, juga memanfaatkan Taman untuk bertukar informasi tentang cara merawat satwa dan bahkan bisa menjadi ajang jual beli jika ada kesepakatan harga. Tidak jarang Pramuka dan PMI juga memanfaatkan keberadaan taman untuk latihan atau sekedar berkoordinasi.

Ya, Taman Harmoni dan taman kota lainnya itu sejatinya adalah ruang terbuka untuk masyarakat (public sphere). Alan McKee (2005) yang disitir di lamannya aryakusuma17.blogspot.com, menyatakan beberapa pengertian tentang public sphere sebagai berikut, Ruang publik adalah suatu wilayah hidup sosial di mana suatu pendapat umum dapat dibentuk diantara warga negara, berhadapan dengan berbagai hal mengenai kepentingan umum tanpa tunduk kepada paksaan dalam menyatakan dan mempublikasikan pandangan mereka.

Dinyatakan pula bahwa Ruang publik adalah ruang dimana percakapan, gagasan, dan pikiran masyarakat bertemu. Atau, tempat di mana informasi, gagasan dan perberdebatan dapat berlangsung dalam masyarakat dan pendapat politis dapat dibentuk.

Sebagai ruang terbuka, maka keberadaan Taman juga bisa digunakan untuk mengedukasi pengunjung taman tentang informasi yang perlu diketahui oleh khalayak ramai. Seperti yang dilakukan oleh Komunitas MTI yang mengadakan sosialisasi Kesiapsiagaan Keluarga (menghadapi bencana, red), dalam rangka meramaikan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh pada tanggal 26 April 2019.

Kegiatan yang dilakukan pada hari minggu (28/4) itu, MTI menampilkan Pojok Pengetahuan, yang berbicara tentang pengetahuan kebencanaan yang kita perlukan.  Pojok Keluarga Siaga, membahas tentang pentingnya setiap keluarga dan masyarakat sadar budaya tangguh bencana. Pojok Tas Siaga, yaitu pengetahuan akan barang apa saja yang harus dimasukkan ke dalam tas siaga agar mudah menyelamatkan disaat terjadi bencana. Ada pula Pojok Skill Building, yaitu informasi tentang bagaimana supaya bangunan aman ketika ada gempa. Tidak lupa aktivis MTI juga mendemonstrasikan media permainan edukatif dan menyediakan souvenir cantik.

Tentu upaya berbagi informasi ini tidak sekali jadi. Namun terus berproses dan dilakukan secara berkala. Disinilah, diperlukan ketangguhan dari aktivis MTI untuk mengedukasi masyarakat yang pada kenyataannya belum peduli terhadap masalah bencana. Surabaya yang jelas-jelas dilewati sesar Surabaya yang berpotensi menimbulkan gempa besar (berdasar hasil penelitian), masyarakat masih banyak yang belum percaya.

Ini terjadi karena Surabaya tidak memiliki pengalaman sejarah tentang gempa yang hebat. Inilah tantangan aktivis MTI untuk meyakinkan masyarakat Surabaya dengan memanfaatkan keberadaan Taman Kota sebagai public sphere. Wallahu a’lam bishowab. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/minggu pon-28/4] 






Kamis, 25 April 2019

SAMPAH PLASTIK DAN KONDOM JUGA ADA DI GUNUNG


          Ternyata, masalah sampah sudah merambah ke wilayah gunung dan hutan. Sampah yang banyak berserak itu adalah bawaan wisatawan. Hal ini tidak lepas dari kesadaran wisatawan yang masih membuang sampah sembarangan. Padahal sudah disediakan tempat sampah, serta tulisan-tulisan peringatan, tapi pengunjung tidak disiplin. Perlu waktu untuk mengedukasi masyarakat pecinta outdoor activity.
          
          Umumnya, sampah itu berupa tas kresek, plastik bungkus roti, bungkus mie instan, tisu, botol minuman, bungkus dan puntung rokok. Tidak jarang ponco, sepatu, sandal dan pakaian yang rusak juga dibuang, daripada ‘ngabot-ngaboti bawaan’, begitu pikirnya.

Bahkan yang memprihatinkan, dalam postingannya Ochars Journey, yang mengikuti kegiatan  Srikandi Bijak Sampah 2019 oleh Trashbag Community DPD Jawa Timur, tanggal 21 Aprl 2019, menemukan kondom bekas di daerah Putuk Lesung, Gunung Arjuno.

Ya, fenomena penemuan kondom bekas pakai di lokasi wisata hutan dan gunung tampaknya semakin banyak (dan mungkin dianggap wajar). Sementara kondom yang di Putuk itu kebetulan ditemukan yang kemudian diposting di media sosial. Ya, kondom identik dengan persetubuhan. Walau pun mungkin kondom digunakan untuk membungkus HP, dompet dan lainnya, namun ‘pikiran ngeres’  pasti tetap muncul, karena kondom itu dicipta untuk ‘bermain cinta’, tidak untuk yang lain.

Sungguh keterlaluan. Apakah ini salah satu bentuk kerusakan moral ?. memanfaatkan aktivitas wisata ke gunung dan hutan (mungkin juga di pantai) untuk berbuat tidak senonoh. Dengan meninggalkan kondom bekas pakai yang dibuang begitu saja, seolah-olah pelakunya ingin meninggalkan pesan bahwa dia adalah pemberani.

mungkin si oknum ingin menunjukkan bahwa dia berani melanggar mitos bahwa gunung (dan hutan) itu angker. Anggapan bahwa berbuat yang tidak santun di gunung akan mendapat celaka, oleh si oknum dipatahkan dengan melakukan persetubuhan. Tentunya si oknum melakukannya dengan suka sama suka, atas nama cinta. Atau si pelakunya itu benar-benar goblok dan teledor membuka aibnya sendiri dengan membuang kondom sembarangan. Duh, sungguh memprihatinkan.

Kelakuan oknum yang tidak patut ditiru ini sedikit banyak akan menyebabkan munculnya anggapan dari khalayak ramai bahwa aktivitas alam bebas identik dengan kebebasan yang melintasi batas moralitas. Pepatah mengatakan, akibat nila setitik, rusak susu sebelanga.

Padahal, sesungguhnyalah para aktivis pecinta alam, pemerhati lingkungan, komunitas peduli sampah dan relawan itu jasanya tidak ternilai. Mereka, atas nama kemanusiaan, menolong sesamanya dengan suka rela. Tanpa dibayar, mereka menginfaqkan tenaganya, waktunya, bahkan hartanya melakukan gerakan penghijauan, mangrovisasi, membersihkan sampah di sungai, di pantai, di hutan dan di gunung. Ya, merekalah pahlawan lingkungan, pahlawan kemanusiaan, yang seringkali karyanya dilupakan.

Tidak henti-hentinya mereka mengedukasi masyarakat dengan melakukan aksi bersih-bersih (di kawasan wisata) sebagai upaya menumbuhkan rasa memiliki sekaligus mencintai lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Seperti postingannya Ochars Journey yang mengatakan, “Jangan hanya menikmati keindahan alam saja, tapi juga cintai alam dengan tidak buang sampah sembarangan. Ingat, Gunung Bukan Tempat Sampah”. [eBas/kamis legi-26/4]

  

Minggu, 21 April 2019

LITERASI MENINGKATKAN WAWASAN RELAWAN


Budaya literasi itu bukan sekedar kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung saja. Namun, mencakup kemampuan untuk berkomunikasi, membangun jejaring kemitraan dan menciptakan peluang kerja dan bekerja sama dengan pihak lain,  itu juga merupakan bekal yang perlu dimiliki untuk relawan penanggulangan bencana guna meningkatkan kesejahteraan hidup dalam arti yang luas.

Dalam lamannya theconversation.com dikatakan bahwa rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Ini berujung pada rendahnya pertumbuhan dan akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan yang ditandai oleh rendahnya pendapatan per kapita. Literasi rendah juga berkontribusi secara signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan.
     
     Ya, literasi ini begitu penting di dalam kehidupan jaman now yang diwarnai kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini tentu membawa pengaruh terhadap pola relasi antar manusia. Etika dan sopan santun pun dinomor duakan.

Untuk itulah, di era ketatnya persaingan globalisasi, kemampuan literasi sangat diperlukan dalam segala lini kehidupan manusia. Hal ini mengingat kemampuan literasi ini bisa menjadi kunci manusia untuk berproses menjadi manusia yang lebih berpengetahuan dan berperadaban tanpa meninggalkan etika ketimuran.  

Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk meningkatkan kemampuan literasi ini adalah dengan banyak membaca buku dan sering bersemuka bersama kawan untuk tukar informasi, saling cerita pengalaman untuk menginspirasi sesama. Ya, intinya banyak berilaturahmi dengan sesama relawan penanggulangan bencana, pasti ada sesuatu yang bisa diambil untuk menambah wawasan sekaligus mempererat tali silaturahim.

SRPB JATIM, dengan kegiatan rutinnya yang bernama Arisan Ilmu, bisa juga dimaknai sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi relawan penanggulangan bencana. Sambil bersilaturahmi, mereka berbagi cerita, saling menginformasikan pengalamannya.

Apalagi, masing-masing relawan telah memiliki aneka pengalaman yang bisa menginspirasi sesamanya untuk memperkaya pengetahuan yang akan berguna kelak dikemudian hari. Begitu juga nara sumber yang diundang juga berkompeten dalam bidangnya. Hal ini tentu membuat mereka yang berkesempatan hadir akan bertambah wawasannya.

Dalam lamannya gurudigital.id, dikatakan bahwa literasi adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan  individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya National Institut for Literacy sendiri menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Dari pernyataan di atas, nyatalah bahwa relawan pun perlu meningkatkan kemampuan literasi dalam rangka meningkatkan kapasitasnya sebagai relawan yang aktif dalam penanggulangan bencana dan tentunya bisa membantu BPBD dalam upaya sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat. Termasuk ikut serta menjaga kelestarian alam dalam rangka mengurangi dampak bencana. Hal ini sesuai dengan jargon BNPB yang dimunculkan saat Rakornas 2019, "Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita"

Apalagi, relawan itu tidak selamanya mampu aktif turun ke lokasi bencana, karena kekuatan fisiknya  semakin renta dimakan usia. Pasti ada saatnya untuk ‘undur diri’. Untuk itulah kekuatan okol harus berganti dengan kekuatan akal. Dengan kemampuan literasi yang dimiliki, akan memudahkan beradaptasi dengan lingkungan baru yang tidak jauh dari dunia kerelawanan. Misalnya menjadi fasilitator dalam pendidikan dan pelatihan kebencanaan, menjadi pembicara dalam seminar kebencanaan, menjadi konsultan untuk penanggulangan bencana, dan sebagainya.

Artinya, penguatan budaya literasi melalui kegiatan Arisan Ilmu menjadi penting bagi relawan dalam rangka memperluas wawasan sekaligus membuka jejaring kemitraan antar relawan. Siapa tahu dari situ akan terbangun kolaborasi dan sinergi yang cantik dalam melaksanakan sebuah kegiatan.

Semoga kegiatan rutin Arisan Ilmu yang diagendakan oleh SRPB JATIM, bisa melahirkan relawan pembelajar bagi sesamanya. Hal ini sejalan dengan Perka BNPB nomor 17 tahun 2011. Disana jelas disebutkan bahwa relawan penanggulangan bencana perlu memiliki kecakapan atau keterampilan khusus yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana.

Kemahiran tersebut dapat digabungkan dalam kelompok kecakapan Perencanaan, Pendidikan, Sistem informasi geografis dan pemetaan, Pelatihan gladi dan simulasi, Kaji cepat bencana, SAR dan evakuasi, Transportasi, Logostik, Keamanan pangan dan nutrisi, Dapur umum, Pengelolaan lokasi pengungsian dan huntara, Pengelolaan pos penanggulangan bencana, Kesehatan, Air bersih sanitasi dan kesehatan lingkungan, Keamanan dan perlindungan.

Kemudian, keterampilan tentang Gender dan kelompok rentan, Psikososial/konseling/penyembuhan trauma, Pertukangan dan perekayasaan, Pertanian peternakan dan penghidupan, Administrasi, Pengelolaan keuangan, Bahasa asing, Informasi dan komunikasi, Hubungan media dan masyarakar, Pemantauan evaluasi dan pelaporan, Promosi dan mobilisasi relawan.

Tentulah masing-masing kecakapan ini perlu diagendakan untuk dibahas dalam kegiatan Arisan Ilmu. Untuk didiskusikan bersama sambil nyruput kopi dalam rangka menyamakan pemahaman pesan yang tersirat dalam Perka 17, sekaligus sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi relawan penanggulangan bencana. Salam Tangguh, Salam Literasi, tetap menginspirasi. [eBas/senin pahing, 22/4]    
  












Jumat, 12 April 2019

HARI KESIAPASIAGAAN BENCANA 2019 (SEBUAH HARAPAN)


Konon, upaya BNPB menjadikan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB)  tersebut bertujuan untuk membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana. Dengan kata lain, melalui peringatan HKB, masyarakat disadarkan bahwa penanggulangan bencana itu merupakan urusan semua pihak (Everybody’s business), seperti yang diperlihatkan dalam logonya BNPB/BPBD.

BNPB dan BPBD pun telah mengeluarkan himbauan kepada seluruh komunitas relawan untuk menyemarakkan  HKB 2019 dengan kreativitas masing-masing, dalam rangka ‘mensosialisasikan’ mitigasi dan kesiapsiagaan guna membangun budaya tangguh menghadapi bencana kepada khalayak ramai, wabil khusus masyarakat yang berdomisili di kawasan rawan bencana.

Bahkan, informasi dari warganet mengatakan bahwa ada telegram dari menteri dalam negeri kepada gubernur, bupati dan wali kota se Indonesia untuk melaksanakan perintah kegiatan HKB dengan melakukan latihan evakuasi bencana di wilayahnya masing-masing serentak pada jam 10.00 – 12.00 waktu setempat. Ini menandakan betapa pentingnya membangun kesadaran masyarakat akan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Sungguh tepatlah motto yang dihembuskan oleh BNPB, “Kita Siap, Kita Selamat”, yang pada akhirnya kita bisa menyelamatkan.

Ya, seperti diketahui bersama bahwa saat ini Indonesia yang terletak di lingkaran cincin api, sehingga memiliki banyak zona sesar alias patahan dan gunung api sehingga sering dilanda gempa dan letusan gunung api. Termasuk bencana  banjir, dan longsor yang menelan korban jiwa dan harta benda yang tidak sedikit.

Sehingga upaya pengurangan risiko bencana melalui latihan kesiapsiagaan, mitigasi struktural dan non struktural, mutlak perlu diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya yang daerahnya memiliki potensi bencana. Paling tidak masyarakat menjadi tahu risiko yang ada disekitarnya, dan solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko bencana.

Disamping kesadaran akan pentingnya pendidikan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, ajakan “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita” dengan upaya cinta lingkungan, cinta kali bersih dan kesadaran untuk tidak membuang sampah disembarang tempat, kiranya juga perlu di jadikan gerakan sebagai upaya mitigasi non struktural yang tumbuh dari kesadaran individual.

Tinggal bagaimana, upaya penguatan kesadaran individu yang sedang menggebu ini mendapat dukungan dari pemerintah ?. Misalnya, merespon masukan dari warga tentang adanya kerusakan inftrastruktur tertentu yang bisa berpotensi menimbulkan bencana, membuat regulasi yang pro mitigasi atau penegakan regulasi yang sudah ada dengan bijaksana agar semuanya tetap terkendali.

Pertanyaannya kemudian, bisakah itu dilakukan ?. semoga kemeriahan gelar HKB tahun 2019, yang mengangkat tema, Siaga Bencana dimulai dari Diri  Sendiri dan Keluarga. Serta tema yang melibatkan emak-emak, “Perempuan Menjadi Guru Siaga Bencana dan jadikan Rumah sebegai Sekolahnya”. benar-benar bisa membawa manfaat bagi upaya pengurangan risiko bencana. Semua ini bisa terwujud jika BNPB/BPBD berhasil membangun sinergi antar berbagai elemen pentaheliks. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas-Jumat paing-12/4]