Selasa, 26 Januari 2021

MEREKA BERGERAK TANPA LELAH DEMI KEMANUSIAAN

Hari ini, selasa, 26/01/2021, bertempat di  Desa Sekar, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, ada kegiatan pembagian paket sembako 25 paket, yang berisi beras 1.5 kuintal, mie instan 15 dos, alat kebersihan 5 shet. Disamping itu juga diadakan sosialisasi kajian risiko, dan edukasi living harmony with hazard. Kemudian diadakan gotong royong bersih-bersih lingkungan dan rumah yang terdampak banjir bandang.

Kegiatan ini melibatkan  elemen pentahelix, seperti FPRB JATIM bersama, LPBI NU JATIM, LPBI NU BANGIL, LPBI NU Bojonegoro, ISM Mojosaei, JANGKAR KELUD, BPBD Bojonegoro, Pol PP Bojonegoro, Perangkat Desa Sekar, dan warga setempat. Itulah postingan dari petinggi Forum PRB Jawa Timur di grup whatsApp FPRB JATIM KUAT.

Sebelum kegiatan ini, beberapa waktu yang lalu mBah Dharmo, sebagai Sekjen FPRB Jatim, juga menghimbau lewat grup agar pengurus dan anggota forum yang mempunyai kelonggaran waktu (serta dana, tentunya), berkenan bergabung untuk membangun sinergi pentahelix dan ketangguhan masyarakat serta komunitas menghadapi bencana di Bumi Angling Dharmo.

Sungguh, saya (dan mungkin anggota lain) merasa heran dengan kelakuan mBah Dharmo. Dengan didukung oleh Gus Yoyok beserta anggota LPBI NU Kecamatan Bangil, mereka berdua mengkoordinir anggotanya untuk bersafari dari berbagai daerah yang terdampak bencana banjir. Tanpa mengenal lelah mereka mengemas kegiatan secara berkelanjutan tanpa jeda untuk istirahat.

Ya, mereka berdua sepertinya tidak mempunyai rasa capek. Sepertinya mereka itu tergolong “Wong sakti mondroguno”, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Terus bergerak menebar kebermanfaatan untuk sesama. Setali tiga uang dengan Abah Budi Cahyono, komandan relawan Kota Pamekasan. Tiada hari tanpa aktivitas yang bersentuhan dengan upaya membantu sesama. Sungguh keberadaan mereka ini sangat membantu tugas-tugas BPBD setempat.

Saya (dan mungkin anggota lain) beranggapan bahwa, mereka bisa merdeka berkegiatan tanpa henti, tentulah karena mendapat dukungan penuh dari keluarga di rumah. Mereka juga mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki anggota lain. Sehingga mereka akan merasa termehek-mehek mengikuti langkah mBah Dharo, Gus Yoyok, juga Abah Budi.

Mereka berprinsip bahwa kegiatan kemanusiaan itu bukanlah ajang mencari sensasi unjuk diri demi popularitas pribadi. Namun semua merupakan medan pengabdian untuk kemaslahatan sesama. Mereka percaya bahwa apa yang dilakukan merupakan ladang kebaikan untuk investasi akherat.

“Semua yang kita jalani semata karena penggilan jiwa korsa, ketulusan,keikhlasan, amanah dan istiqomah,” Kata Gus Yoyok, yang saat ini juga sedang menggalang donasi untuk korban bencana Sulbar dan Kalsel.

Tentu, komunitas yang lain, diantaranya seperti SRPB, MDMC, Bonek Peduli, dan Brandal Alas, dengan caranya sendiri dan kemampuan yang dimiliki, juga ikut berfastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan demi meraih ridha Allah. Namun kadang kala upaya berbuat baik untuk sesama itu, kesan yang muncul malah persaingan, mengklaim diri akan kehebatannya.

Sehingga muncul upaya memaksakan diri untuk ikut tampil demi sebuah pengakuan. Padahal bukan itu yang diharapkan. Ingat, masing-masing komunitas pasti memiliki keterbatasan. Inilah yang seharusnya disadari bahwa, kerja-kerja kemanusiaan seperti penanggulangan bencana itu bukan mengedepankan egosentris, karena kegiatan itu butuh kerjasama berbagai aktor, bukan kompetisi.

Pastilah mBah Dharmo tidak menghendaki terjadinya persaingan. Karena semua memiliki peran masing-masing, yang bisa saling mengisi. Hal ini sesuai dengan kredo yang sering didengungkan, membangun sinergi antar elemen pentahelix untuk kerja-kerja kemanusiaan.

Disinilah (mungkin) peran Forum mendorong BPBD untuk mengkoordinir segenap aktor yang turun ke lapangan dalam satu komando, agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Artinya ketika dalam penanganan darurat bencana, hendaknya FPRB/relawan setempat dilibatkan dalam posko induk untuk membantu pendataan dan distribusi logistik yang merata, serta terlibat dalam Team Rapid Assessment.

Walaupun mBah Dharmo berlari dengan programnya mengiringi langkah Gus Yoyok. Namun atas nama kebersamaan pulalah, pria yang baru mantu ini selalu ingat “pasukannya”. Buktinya, setiap merancang kegiatan, alumni pasca sarjana Universitas Pembangunan ‘Veteran’ Jokja ini selalu mengajak semua komunitas untuk berpartisipasi.

Masalahnya adalah, tidak semua anggota memiliki waktu luang dan terutama memiliki kelebihan uang, seperti mBah Dharmo, Gus Yoyok, dan juga Abah Budi, yang selalu mengatakan, jangan pernah lelah untuk peduli sesama. Sehingga yang terjadi adalah, kebanyakan anggota (termasuk pengurus) hanya bisa membaca laporan dan foto kegiatan di whatsApp. Paling-paling hanya membatin, “Kok gak capek ya berkegiatan terus membantu tugasnya BPBD tanpa jeda, dengan penuh gembira,”.

Kemudian hanya bisa berdoa agar mBah Dharmo, Gus Yoyok dan Abah Budi tetap bersemangat di jalurnya, membangun sinergi pentahelix dalam penanggulangan bencana. Salam sehat, salam kemanusiaan. [eBas/RabuPon-27012021]

 

 

 

  

Sabtu, 23 Januari 2021

AKSI DAN DONASI FPRB DALAM MERAJUT SENERGI PENTAHELIX

Setelah sukses menggelar sambang dulur sinau bareng (SDSB) di Pulau Garam, beberapa waktu yang lalu. mBah Dharmo dan Gus Yoyok mengagendakan safari ke beberapa daerah yang terkena bencana banjir. Kegiatan yang diberi nama “FPRB JATIM, LPBI NU JATIM DAN BPBD PROVINSI JATIM PEDULI BANJIR” nyambangi beberapa daerah dengan membawa bantuan sembako dan masker.

Mereka juga menyalurkan Bantuan 50 Paket Sembako dan Masker Dari Ibu Gubernur Jawa Timur, untuk warga lansia dan disabilitas yang terdampak banjir di Desa Wonoasri, Kecamatan. Tempur Rejo, Kabupaten Jember. Mereka juga menggelar Aksi Sosial "Grebek Sampah" di Sungai Gladak Putih. Masing-masing peserta dibekali glangsing berlogo BPBD yang akan diisi sampah.

Di tempat yang sama, mereka juga mengadakan kegiatan psikososial kepada anak-anak Yatim Piatu Panti Asuhan Nurul Qodri. Disamping itu juga melakukan sosialisasi protokol kesehatan dan pembagian masker, serta perlengkapan ibadah.

Dalama kegiatan ini, Personil yang terlibat, merupakan perwakilan dari, LPBI NU JATIM, FPRB Jatim, LPBI NU Jember, LPBI NU Bangil, LPBI NU Lumajang, LPBI NU Situbondo, LPBI NU Malang, LPBI NU Kencong, Jangkar Kelud, FPRB Kota Probolinggo, FPRB Jember, dan Bagana Banser PAC Jember

Mereka juga menyerahkan bantuan sembako mie instan, minyak goreng, beras, air mineral, snack, masker, alat-alat kebersihan dan perlengkapan ibadah yang terdampak banjir di Yayasan Yatim Piatu Nurul Qodiri, di Dusun Kraton.

Apa yang dilakukan ini, menurut Yudha, salah seorang aktivis F-PRB Kabupaten Probolinggo, merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi penyitas, sekaligus sebagai sarana edukasi bagi masyarakat agar menjaga kelestarian lingkungan.

“Aksi yang dilakukan oleh pengurus forum ini, diharapkan kedepan masyarakat terdampak dapat bergerak secara mandiri dalam menjaga alam sekitar, khususnya menjaga luasan sungai dan bertumpuknya sampah yang menyebabkan pendangkalan sehingga berpotensi banjir,” Kata pria yang berpengalaman sebagai fasilitator kebencanaan.

Sementara itu sekjen FPRB Jawa Timur, mBah Dharmo mengatakan bahwa kegiatan yang melibatkan berbagai elemen ini merupakan perwujudan dari kolaborasi sinergitas pentahelix yang tidak membeda-bedakan ‘bendera’. Semua bersama-sama sepakat untuk berbuat menggapai asa yang telah dicanangkan dalam program yang bersentuhan dengan kerja-kerja kemanusiaan.

Deddy Rustiono dalam tulisannya di unnes.ac.id, mengatakan bahwa Sinergi adalah suatu bentuk dari sebuah proses atau interaksi yang menghasilkan suatu keseimbangan yang harmonis sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang optimum.

Masih kata Deddy, ada beberapa syarat utama penciptaan sinergi yakni kepercayaan, komunikasi yang efektif, feedback yang cepat, dan kreativitas.

Sejalan dengan paparann di atas, mBah Dharmo rupanya telah mencoba mendorong anggotanya untuk mengenal satu sama lain melalui berbagai aktivitas sosial. Membangun perilaku baik yang tidak menimbulkan kecurigaan dan kekhawatiran pihak lain akan kehilangan posisi atau kariernya.

Sebagai sekjen FPRB pengganti Rurid Rudianto, Mbah Dharmo juga memberi kesempatan dan kepercayaan kepada anggotanya untuk melakukan kegiatan secara mandiri sesuai kreativitasnya. Dengan demikian akan memperkuat dan memperkaya sinergisme dalam forum yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.

Ning Anin Faros, aktivis perempuan dari Desa Senduro, Kabupaten Lumajang, mengatakan bahwa sinergi yang dibangun mBah Dharmo beserta Gus Yoyok itu sangat bagus dan bermanfaat langsung bagi warga terdampak. Harapannya, masih kata sohibnya Zaenal Fattah, bahwa ke depan, kegiatan seperti ini hendaknya bisa melibatkan lebih banyak lagi anggota forum yang datang dari berbagai komunitas yang berbeda, dalam kegiatan kemanusiaan sebagai upaya peningkatan kapasitas dengan praktek langsung di masyarakat.

Artinya, aksi sosial di Kabupaten Jember ini tidak sekedar seremonial tanggap darurat saja. Tapi ada sentuhan edukasi kepada masyarakat/komunitas agar kedepan mampu melakukan upaya-upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan, penanganan darurat dan Rehabilitasi Rekonstruksi, yang pada akahirnya bisa mewujudkan Gerakan PRB dan Perubahan Iklim di Jawa Timur yang melibatkan seluruh elemen pentahelix.

Tampaknya, kegiatan di Jember ini akan terus bergulir. Hal ini tampak dari postingan  Gus Yoyok terbaru sepulang dari Jember, di WhatsApp pengurus FPRB, yang mengatakan ‘Sampai ketemu di Bojonegoro’ dalam acara Peduli Banjir Bojonegoro.

Sementara sebelum aksi di Jember, sudah diawali dengan berkegiatan di Kabupaten Lamongan, Mojokerto, Gresik, dan Sampang. Entahlah, setelah itu akan bergerak kemana lagi dalam rangka merajut sinergi pentahelix yang indah dibicarakan namun sulit diimplementasikan. 

Hanya mBah Dharmo dan Gus Yoyoklah yang akan mendesainnya. Karena mereka berdua kaya ide kreatif dan inovatif dalam hal merancang aksi. Sementara yang lain berusaha menyiapkan diri agar bisa ikut aksi yang dikemas lewat program sambang dulur sinau bareng. Mungkin akan lebih elok lagi jika kegiatan ini BPBD setempat ikut terlibat, agar semakin akrab diantara elemen pentahelix. Wallahu a’lam bishowab. Salam Sehat, Salam Kemanusiaan. [eBas/MingguKliwon-24012021] 

 

 

 

 

 

Minggu, 10 Januari 2021

PROGRAM PERDANA SDSB DI MADURA

Sungguh, betapa bangganya Bang Endik (Koordinator Bidang PKM) saat tahu idenya tentang SDSB benar-benar menjadi role model dari pengurus FPRB JATIM periode 2020–2023. Bayangkan, langkah pertama muhibah ke Pulau Garam, langsung terbentuk kepengurusan FPRB Kabupaten Sampang dan Kabupaten Pamekasan. Hal ini sesuai dengan UU nomor 24 tahun 2007 dan PP nomor 21 tahun 2008.

Semua kegiatan sambang dulur dilakukan dengan biaya sendiri, dan donasi dari pribadi-pribadi yang peduli. Ini karena belum ada subsidi untuk operasionalisasi organisasi. Namanya juga program mandiri yang belum dikoordinasikan dengan berbagai instansi. Mungkin suatu saat nanti ketika FPRB sudah berprestasi, baru akan mengalir donasi.

Namun semua itu bukan penghalang bagi relawan. Acaranya tetap meriah. Bahkan ada acara pembagian masker kepada pengguna jalan, penghijauan di beberapa tempat dengan beberapa jenis tanaman produktif, dan penyerahan bantuan sembako bagi keluarga tidak mampu. Inilah arti sebuah kebersamaan bagi semua yang terlibat (istilahnya mBah Dharmo, kabeh rumongso di-uwong-ke). tentu dengan tetap mentaati protokol kesehatan.

Semua juga ikut aktif menikmati dialog kebencanaan serta materi tentang pentingnya FPRB. Dalam materi rakor di Hotel Mercure, beberapa waktu yang lalu dikatakan bahwa FPRB memiliki visi untuk memastikan pembangunan daerah berbasis pengurangan risiko bencana. Memastikan kebijakan yang diambil dapat mengurangi risiko bencana saat ini, tidak menambah risiko bencana baru, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Selain itu, juga memastikan kelembagaan penanggulangan bencana dapat bersinergi dengan baik, antara BPBD dengan OPD, antara pemerintah daerah dengan masyarakat, dan lembaga usaha. Biasa disebut pentahelix.

Semoga hal ini menjadi awal yang bisa menginspirasi daerah lain untuk menggelar SDSB, yang dilanjutkan dengan membentuk FPRB dengan melibatkan semua unsur pentahelix. Sukur-sukur kegiatannya dihadiri oleh staf BPBD setempat, seperti di Sampang dan Pamekasan. Hal ini mengingat bahwa FPRB merupakan mitra BPBD untuk mengurangi dampak bencana.

Dari kegiatan SDSB yang digelar dengan penuh rasa akrab bersahabat ini, secara aklamasi pesertanya memilih Moch. Hasan Jailani  (Gus Mamak) Sebagai (Sekjen) Ketua FPRB Kab. Sampang, dan Budi Cahyono sebagai (Sekjen) Ketua FPRB Kabupaten Pamekasan. Ke dua tokoh ini dipercaya bisa merangkul semua elemen pentahelix dalam membangun gerakan bersama pengurangan risiko bencana di daerahnya masing-masing.

Semua berharap, semoga sukses selalu dan di berikan kekuatan, kesehatan dan kelancaran menjalankan tugas dengan penuh amanah. Sementara mBah Dharmo, sangat mengapresiasi kepada para relawan di Sampang dan Pamekasan yang cepat merespon mandat untuk segera membentuk FPRB di daerahnya. Apalagi pemerintahnya juga mendukung.

“Semua pihak pasti memiliki kelemahan, maka bagaimana kelemahan tersebut disatukan menjadi kekuatan, karena urusan bencana adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dan pemerintah,” Ujarnya.

Selanjutnya, silahkan dipilih anggota pengurus dari berbagai elemen yang mumpuni di bidangnya, dengan memperhatikan azas pemerataan. Untuk kemudian bersama-sama menyusun rencana program yang diselaraskan dengan programnya BPBD setempat. Hal ini penting untuk memudahkan koordinasi.

Apa yang dilakukan oleh mBah Dharmo dan kawan-kawan, menurut istilah orang Bojonegoro, sangat matoh. Bahkan, Program SDSB pun mendapat apresiasi dari Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, SE,M.PSDM, dengan harapan tahun ini akan terbentuk FPRB se jatim dengan segala kiprahnya, sesuai hasil rakor di Hotel Mercure, Surabaya, tanggal 26-27 November 2020.

Sebagai Sekjen yang bertanggungjawab penuh terhadap maju mundurnya Forum, mBah Dharmo berharap keberadaan FPRB Kabupaten/Kota mampu membangun sinergitas pentahelik yang semakin meningkat, ego sektoral mulai ditinggalkan, terwujudnya Gerakan Pengurangan Risiko Bencana dan Peruban Iklim di jawa timur.

Karena, sesungguhnyalah pembentukan FPRB adalah perwujudan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana. Dari situlah akan muncul budaya tangguh terhadap bencana. termasuk tuju objek ketangguhan. Seperti, ketengguhan rumah/hunian, sekolah/madrasah, puskesmas/RS, pasar, rumah ibadah, kantor, dan prarasana vital lainnya. namun semua itu tidaklah mudah. Perlu ada gerakan yang massif melalui edukasi, sosialisasi dan advokasi. Semua itu perlu proses panjang.

Sekali lagi, gelaran perdana SDSB yang dicetuskan oleh bidang peningkatan kapasitas, FPRB Jawa Timur, telah menuai hasil yang signifikan. Mungkin, sebelum menggelar acara serupa selanjutnya, perlu ada evaluasi kegiatan selama dua hari, Sabtu – Minggu (9 – 10 Januari 2021), di Bumi Arek Lancor.

Sementara masih ada 36 Kabupaten/Kota yang menjadi target program SDSB. Ini tidak mudah. Perlu ada sinergi dan kebersamaan semua elemen setempat dalam pelaksanaannya. Jelas kendala utama adalah pandemi covid-19 yang masih mengancam. Belum lagi kendala koordinasi dengan aktor lokal dengan nuansa politik yang kental, tentunya tidak mudah.

Untuk itulah dalam merencanakan kegiatan SDSB, Teguh PK, dalam postingannya berharap jangan dipaksakan. Tunggu moment yang tepat. Tidak perlu mengejar matahari, karena, rembulan pun tak pernah sanggup mendekapnya. Sebuah kalimat sarat makna. Perlu diresapi sambil ngopi bersama menyok goreng, guna merencanakan program muhibah SDSB selanjutnya.

Masalahnya akan lain jika ada fasilitasi dari pemerintah setempat untuk menggelar SDSB di daerahnya. Artinya kegiatan ini bisa dimasukan dalam anggaran penanggulangan bencana, seperti yang diharapkan dalam visi forum, yang ingin memastikan adanya anggaran yang cukup digunakan dalam penanggulangan bencana sesuai dengan risiko bencana yang ada di daerahnya.[eBas/Senin11012021]

 

 

 

 

Senin, 04 Januari 2021

FORUM PRB JATIM PUNYA PROGRAM SDSB

Diakui atau tidak, geliat forum pengurangan risiko bencana (FPRB) Jawa Timur semakin tampak nyata, ketika mBah Dharmo di dapuk secara aklamasi di era pandemi menjadi Sekjen Forum. Sungguh, pilihan peserta musyawarah online tidak keliru.

Terbukti, pria dari Desa Pondok Agung, kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang ini langsung tancap gas menggerakkan organisasi dengan berbagai aktivitas. Semua dilakukan guna konsolidasi internal sekaligus membangun chemistry anggotanya.

Gayung pun bersambut, semua anggota mengimbangi semangat Sudarmanto, S.Sos, M.MB, nama lengkap mBah Dharmo. Salah satunya adalah Gus Yoyok, Ketua LPBI-NU Kota Bangil, yang siap menggerakkan anggotanya untuk mensukseskan seluruh program FPRB Jawa timur.

Salah satu program ikonik adalah SDSB (Sambang Dulur Sinau Bareng). Program ini dimunculkan oleh Bang Endik, Pembina Dirgantara Rescue, dalam rangka membangun kebersamaan terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Gagasan ini muncul saat rakor bersama BPBD Provinsi Jawa Timur dan SRPB Jawa Timur, di Hotel Singgasana, Surabaya, beberapa waktu yang lalu

“Dalam kegiatan SDSB ini prinsipnya tidak ada yang pintar, tidak ada yang hebat. Semua sama sehingga perlu belajar bareng saling mengisi dalam rangka penguatan kapasitas anggota forum di semua tingkatan,” Katanya saat dihubungi.

Masih kata Bang Endik, diharapkan program SDSB ini bisa merawat keberadaan forum di daerah, serta mendorong tumbuhnya forum di tingkat Kabupaten/Kota. Hal ini sesuai dengan harapan BPBD Provinsi Jawa timur bahwa  di tahun 2021 seluruh Kabupaten/Kota terbentuk forum dengan segala aktivitasnya.

Alfin, salah seorang pengurus bidang peningkatan kapasitas, FPRB Jatim, mengatakan bahwa SDSB memang merupakan salah satu program dari bidang peningkatan kapasitas. Tujuannya untuk menyambung silaturahmi dengan semua pihak, khususnya FPRB di tingkat daerah. Harapannya FPRB Jatim bisa lebih di kenal oleh semua  pihak. Baik terkait dengan visi, misi, tujuan dan programnya.

“Program SDSB ini bertujuan meningkatan kapasitas masyarakat/relawan/komunitas, atau lembaga lain dalam bidang kebencanaan, dengan harapan pemahaman masyarakat dalam bidang kebencanaan semakin luas, sehingga pada akhirnya terbangunnya ketangguhan dan kemandirian masyarakat dalam respon bencana baik di fase pra, saat maupun pasca,” Kata penilik Lorong Cafe.

Sementara, mBah Dharmo mengatakan bahwa program SDSB merupakan role model hasil mubes III FPRB JATIM periode 2020-2023. Dalam prakteknya, Forum tidak mengundang, tapi mendatangi lokasi yang dituju. Karena, selain berbagi ilmu, Forum juga ingin berbagi beban, tdak hanya saat terjadi bencana, namun di segala waktu, sehinga ada upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, kedaruratan dan pemulihan, semua bisa terlaksana secara bersama-sama.

Walaupun pandemi covid-19 masih cukup ganas, pengurus FPRB Jawa Timur berencana mengawali tahun 2021 dengan menggelar SDSB di Pulau Madura. Tepatnya di Kabupaten Sampang dan Kabupaten Pamekasan, dengan sasaran komunitas relawan yang ada disana. Agendanya, Diskusi sambil Ngopi dan Bakti Sosial dengan pembagian masker, sembako serta penghijauan.

Mengingat sebagian Jawa timur sedang menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, dihimbau peserta yang akan mengikuti kegiatan SDSB di Pulau Garam harus benar-benar dalam kondisi sehat, agar tidak mudah tertular atau menulari peserta lainnya. Ingat, maskerku melindungimu, dan maskermu melindungiku. Jaga iman, imun dan aman.

Sejalan dengan itu, Ibu Gubernur jawa Timur, saat rakor virtual menyambut datangnya 77.760 vaksis covid-19, memohon warga jatim patuh protocol kesehatan dan jangan lengah untuk terus melaksanakan 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Saat ini penularan virus belum berhenti. (jatimmedia.com/04-01-2021).

Ya, inilah salah satu greget mBah Dharmo dalam menggerakkan organisasi di awal tahun dengan program SDSB. Sementara relawan daerah pun juga menyambut dengan antusias kedatangan Sekjen beserta rombongan dalam rangka bersemuka sambung paseduluran dalam rangka menambah wawasaan tentang pengurangan risiko bencana. Apalagi di kedua tempat SDSB itu disaat musim penghujan ini rawan banjir, sehingga bisa dijadikan bahan praktek langsung, jika memungkinkan..

  “Harapan saya, program SDSB ini menjadi ajang saling belajar, sharing ilmu dan pengalaman terkait kebencanaan, serta saling menguatkan dan memotivasi relawan, sehingga mampu berperan dalam pra, saat, dan pasca bencana. Sekaligus media golek pahala sesuai konsep hablum minan nas,” Kata Alfin, sohibnya budhe Anin Faros, dengan penuh semangat. Semoga gelaran SDSB yang diagendakan tanggal 9 dan 10 Januari 2021 dapat berjalan dengan aman terkendali tanpa ekses yang berarti. Salam Tangguh, Salam Sehat. Terus menginspirasi sepenuh hati tanpa iri hati. [eBas/SeninKliwon-04012021]

 

 

Senin, 21 Desember 2020

BP-PAUD DIKMAS JATIM SEBAGAI TEMPAT STUDI TIRU

Ternyata, setelah BP-PAUD DIKMAS berhasil menggondol predikat wilayah bebas dari korupsi (WBK), banyak tamu dari berbagai lembaga sejenis, termasuk lembaga mitra berdatangan untuk melakukan studi tiru (biasa juga disebut studi banding). Konon, mereka pingin belajar bagaimana caranya bisa mendapat predikat WBK.

Sayangnya piagam penghargaan yang diterima dari Kemenpan RB, tertanggal 12 desember 2017 ada kekeliruan sedikit dengan penulisan nama lembaga. Disana tertulis Pusat Pengembangan PAUD dan PM Jatim, padahal yang benar adalah BP PAUD dan DIKMAS Provinsi Jawa Timur.

Mungkin juga para tamu itu kepingin belajar tentang transparansi anggaran yang bebas korupsi, cara mudah mempercepat daya serap, pemerataan surat tugas dinas luar yang menyejahterakan seluruh karyawan berbasis nilai-nilai kebersamaan, senasib seperjuangan.

Sebagai pemegang predikat WBK, seluruh karyawan Balai telah menerapkan budaya kerja produktif, rajin, jujur, kerjasama, dan bersemangat dalam hal pelayanan kepada lembaga mitra yang menjadi sasaran ujicoba model dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nonformal. Apalagi model yang disusun tim pengembang juga selalu tervalidasi oleh validator. Mungkin inilah yang layak menjadi unggulan untuk di-studi tiru-i.

Seperti lazimnya sebuah kegiatan studi tiru/studi banding, selalu saja diawali dengan acara penyambutan dengan sekapur sirih ucapan selamat datang dari tuan rumah. Sementara dari perwakilan tamu akan menyampaikan terima kasih atas sambutannya sekaligus dengan rendah hati ingin belajar mencari pengalaman.

Konon, Balai yang sebentar lagi merger dengan LPMP itu, dalam rangka upaya meraih predikat WBBM namun belum waktunya itu sempat membentuk tim sukses yang berdisiplin tinggi berbasis kualitas kinerja. Informasi seperti ini kiranya menarik dan perlu dicatat, yang nantinya sangat layak menjadi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) di daerahnya.

Setelah acara seremonial dengan menikmati jajanan dalam kotak, dilanjutkan dengan saling tukar cinderamata dan foto bersama untuk bukti fisik yang akan menyertai SPPD sebagai laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran Negara. Akhir dari acara studi tiru adalah para tamu diajak “Office Tour”, yaitu keliling lingkungan Balai untuk melihat aktivitas kerja karyawan Balai di setiap ruangannya sambil dijelasakan oleh tour gaide yang ditunjuk.

Biasanya acara studi tiru diakhiri dengan makan prasmanan bersama sambil ngobrol apa saja, bahkan ada karaokenya. Namun, karena saat ini sedang pandemi covid-19, maka acara tersebut ditiadakan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan bersama. Demikianlah ujung acara studi tiru yang disudahi dengan penyelesaian SPPD.

Harapannya, semoga ada pengalaman yang bisa dijadikan bahan diskusi di Kantor masing-masing sepulang dari acar studi tiru di BP-PAUD DIKMAS Surabaya. Harapan berikutnya, semoga para tamu juga menyempatkan diri menikmati destinasi Kota Surabaya, termasuk wisata kuliner yang cukup beragam, enak, murah dan mengenyangkan. Hal ini juga terjadi pada karyawan BP-PAUD DIKMAS Jawa Timur saat melakukan studi tiru. Yang penting tetap sehat dan bahagia pasca program studi tiru, untuk kemudian diprogramkan lagi ditahun berikutnya.Salam Sehat, Salam literasi [eBas/SelasaPahing-22122020]    

 

 

 

 

  

Minggu, 20 Desember 2020

DIDIK MULYONO MENGGAGAS SKPDB YANG BERKELAS

“Sependek yang aku tau, relawan dengan kompetensi khusus yang akan diperbolehkan membantu mas, ini berangkat dari banyak pengalaman dimana lebih banyak yang jadi wisatawan bencana dibanding jadi relawan yang ketrampilannya dibutuhkan. Jadi perlakuan relawan lebih profesional dan kita bisa melakukan penertiban di lapangan bagi wisatawan bencana yang menyaru jadi Relawan,” Kata Didik Mulyono mengawali obrolan online.

Dikatakan pula bahwa, relawan harus terakomodir di tengah keterbatasan sumberdaya personil lokal di wilayah yang terdampak bencana. Tantangannya adalah pemda via sistem komando penanganan darurat bencana (SKPDB) belum memiliki strategi untuk memobilisir dan mendayagunakan tenaga relawan.

“Makanya untuk memastikan antar unit kerja bisa bersinergi, harus disusun proses bisnis /tata Laksana nya di SKPDB. Kalau cuma mengunggulkan ego ya bakalan bubar, nggak pernah ada praktik kolaborasi dalam penanganan darurat bencana.” Ujarnya.

Artinya, SKPDB itu representasi dari pemda, bukan hanya BPBD saja, untuk itu organisasi perangkat daerah (OPD) dan lembaga lain perlu menyepakati proses dan prosedur kinerja di masing-masing unit kerja yang ada di SKPDB. Disisi lain, pentahelix bisa ditempatkan dimana-mana (unit kerja) yang ada di SKPDB, yang penting mekanisme dan prosedur kerjanya jelas dan terukur, jadi siapapun yang masuk/terlibat dalam unit kerja akan tau bagaimana tugas, fungsi dan batasan dari unit kerja yang dia ikuti.

Didik juga bilang bahwa praktek selama ini banyak BPBD Kabupaten/Kota yang belum mampu menyusun proses bisnis SKPDB sehingga respon di lapangan masih sering mengedepankan ego sektoral karena nggak diatur sebagai satu kesatuan kerja dalam SKPDB.

Sementara itu, penataan database Relawan juga dilakukan termasuk mapping kebutuhan kompetensi relawan yang bisa mendukung fungsi SKPDB. Dalam peta pengelolaan relawan yang digagasnya, Sebelum terlibat dalam tanggap darurat, mereka harus daftar dan registrasi dulu di seksi admin (sekretariat), lalu ada klasifikasi kompetensi (oleh seksi personil sekretariat). Habis itu mereka akan standby untuk penempatan sesuai dengan kompetensi teknis yang dibutuhkan di lapangan.

Selama penempatan, kinerja Relawan dipantau oleh koordinator sektor teknis yang menggunakan ketrampilannya. Jika selesai durasi penempatan, Relawan akan ditarik ke sekretariat lagi. Gagasan ini menarik, namun pelaksanaannya jelas tidak mudah. Perlu proses, perlu kesepahaman.

Apa yang digagas pria berkacamata ini ada kemiripan dengan konsep desk relawan dari Pangarso Suryotomo dan Lilik Kurniawan, dari BNPB. Bahkan konsep itu sudah pernah di diskusikan pada acara Dharma Relawan Adhirajasa 2019 di Buleleng, Provinsi Bali.

Didik yang dulu ‘menggawangi’ Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) di Jawa Timur, juga mengusulkan ke kawan-kawan FPRB DIY untuk memfasilitasi gelang karet yang ada barcode nya sebagai identitas relawan di lapangan. Dengan menggunakan karet gelang, berarti dia sudah terregistrasi di poÅ¡ko utama dan warna gelang karet menunjukkan kompetensi yang dia miliki.

“Kalau di Sleman, ada wacana bahwa tugas desk relawan itu menerima, mencatat, registrasi dan klasifikasi kompetensi relawan, serta mengeluarkan tanda pengenal (gelang karet) yang berisi informasi detail tentang relawan yang bersangkutan,” Katanya. Sebuah wacana yang kreatif inovatif dan layak sebagai masukan untuk BNPB/BPBD.

Sungguh, ngobrol online dengan Mas Didik, sapaan akrabnya, sangat menyenangkan. Banyak informasi tentang masalah kebencanaan yang menurutnya perlu dibenahi (termasuk relawan juga harus berbenah untuk menyesuaikan dengan gerak jamannya, seperti mapping kebutuhan untuk peningkatan kapasitasnya).

Dia juga berharap, agar komunitas relawan yang banyak jumlahnya itu mau berkumpul dan menyepakati prosedur dan mekanisme kerja di wilayah terdampak bencana, termasuk bagaimana kode etik dipatuhi dan aspek keamanan dan keselamatan relawan di lapangan juga menjadi prioritas untuk diperhatikan.

Kode etik dalam bentuk standard operating procedure (SOP) ini sudah pernah disusun hasil kerja bareng Mercycorps, namun tidak ditindak lanjuti oleh pemegang regulasi, sehingga mandek begitu saja tanpa kelanjutannya. Termasuk penerapan desk relawan yang sering disalah pahami oleh multi pihak, sehingga muncul istilah ‘matahari kembar’. Hal ini bisa terjadi karena masing-masing daerah punya karakter dan kekhasan sendiri-sendiri dalam memaknai penanganan bencana.  

Di penghujung obrolan online, Didik mengatakan bahwa saat ini personil relawan yang memiliki kompetensi analisis media sangat jarang, padahal biasanya publik menyampaikan suaranya via media sosial, jadi kalau ada informasi yang berseliweran di media sosial terkait penanganan dampak bencana, tidak ada satu pihakpun yang merangkum, menganalisis dan menyusun rekomendasi untuk menjelaskan kepada publik terkait isu yang berkembang. Jika dibiarkan, bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap kinerja SKPDB, dimana relawan ada di dalamnya.

Begitu juga dengan pusdalops, minimal mereka harus memiliki tiga operator (radio, media sosial dan media massa) untuk memantau, menangkap, memilah, klarifikasi, merangkum, menganalisis dan menyusun rekomendasi, informasi apa yang ada di publik yang perlu ditindak lanjuti oleh institusi. Tentunya semua ini harus dibangun sinergitas antar elemen pentahelix yang diantaranya bisa memasok informasi yang benar untuk menangkal berita hoax.

Semoga pandemi covid-19 segera berlalu agar gagasan cemerlang dari seorang Didik Mulyono bisa menjadi bahan diskusi secara luring di sore hari yang bisa menginspirasi untuk membuat aksi, tentunya sambil nyruput kopi khas Banyuwangi yang rasanya tidak kalah dengan kopi Gunung kawi. Salam Tangguh [eBas/MingguKliwon-20122020]

Selasa, 15 Desember 2020

MENGGAGAS GERAKAN LITERASI KEBENCANAAN

Saat ini kata ‘literasi’ mulai banyak digunakan di berbagai bidang. Contohnya ada literasi kesehatan, literasi budaya, literasi komunikasi dan mungkin juga akan muncul istilah literasi pandemi covid-19. Semua itu tidak terlepas dari media massa yang mempublikasikan dan diamini oleh para akademisi dalam sebuah karya tulis.

Ya, sekarang kemampuan literasi itu bukan sekedar kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung saja. Namun juga mencakup kemampuan berkomunikasi, membangun jejaring kemitraan dan menciptakan peluang kerja. Kemampuan ini kiranya perlu dimiliki oleh masyarakat, tak terkecuali relawan penanggulangan bencana, guna meningkatkan kesejahteraan hidup dalam arti luas.

Termasuk literasi kebencanaan yang sedang digagas menjadi sebuah gerakan. Ahmad Arif, dari Kompas, mengatakan bahwa literasi bencana adalah kemampuan individu membaca, memahami dan menggunakan infomasi guna memperkuat kapasitas diri dan orang lain dalam menghadapi bencana.

Sementara literasi kebencanaan menurut Wien Muldian adalah, kecakapan hidup untuk mengelola, memahami, dan menggunakan informasi dalam pengambilan keputusan yang tepat untuk mengikuti panduan penguatan ketangguhan di semua bidang dalam tahapan penanggulangan bencana.

Disamping kemampuan menggunakan informasi seperti yang dikatakan ke dua pakar di atas, masing-masing individu atau masyarakat juga perlu memiliki kemampuan antisipasi, adaptasi, proteksi terhadap kemungkinan terjadinya bencana, serta memiliki daya lenting agar tidak terpuruk dalam kesedihan berkepanjangan pasca “dihajar” bencana. Semua ini bisa terwujud melalui gerakan literasi yang melibatkan multi pihak, tentunya dibawah komando BNPB/BPBD

Dalam webinar yang digelar hari minggu (13/12/2020) dengan mengambil tema perlunya literasi kebencanaan. Pujiono sebagai pemandu acara mengakatakan perlunya membagi peran, siapa melakukan apa dengan siapa, agar cikal bakal gerakan literasi kebencanaan benar-benar segera tampak kebermanfaatannya bagi khalayak ramai. Khususnya masyarakat yang berdomisili di kawasan rawan bencana, dengan tetap mengakomodasi kearifan lokal, terkait dengan sejarah, cerita, dan mitos kejadian bencana.

Seperti, BNPB dan BPBD melakukan apa, Komunitas relawan bergerak di sisi mana dan elemen pentahelix lainnya berbuat dibagian mananya bersama siapa. Sementara media massa, maukah memberitakan kegiatan tanggap darurat dengan segala dinamikanya secara berkala ?. ini penting agar khalayak ramai mendapat informasi yang benar tentang upaya penanganan bencana oleh berbagai pihak.

Sebenarnya, gerakan literasi kebencanaan itu sudah dilakukan oleh BNPB/BPBD maupun komunitas relawan, dalam bentuk edukasi untuk meningkatkan kapasitas. Hanya, gaungnya yang mungkin belum tampak. Sehingga diperlukan sebuah gerakan literasi yang dipublikasikan secara besar-besaran dan terus menerus.

Tak lupa pula dalam paparannya, wien Muldian juga menyemangati para aktor yang terlibat dalam webinar untuk menggulirkan gagasan gerakan literasi kebencanaan. Dia bilang, Jika semangat sudah tergalang, tiada hujan jadi perintang, tiada lautan jadi penghalang, betapa pun jalan itu panjang … (yang penting kelak ada regulasi yang menunjang. Agar tidak hanya berdebat panjang, tapi gagasan itu bisa langsung berjalan dan diterapkan di berbagai kalangan. Red).

Semoga para penggagasnya yang terdiri dari para pakar dibidangnya, benar-benar bisa istiqomah mengawal kelahiran gerakan ini agar tidak sekedar wacana akhir tahun 2020 yang mengiringi isue pengadaan vaksin sinovac untuk mengatasi pandemi covid-19 yang masih fluktuatif perkembangannya. Salam Sehat, Salam Literasi, tetap menginspirasi. [eBas/RabuLegi-16122020]