Seperti biasa,
minggu pagi, Mukidi, mengisi hari liburnya dengan cangkruk di warkop langganan.
Sebagai calon penyandang pensiuan, Mukidi telah mulai belajar mengisi
hari-harinya, salah satunya dengan cangkrukan di warkop langganan.
Bulan Desember
telah bergulir mendekati tutup tahun 2021. Itu artinya, kurang empat bulan
Mukidi menyudahi kiprahnya sebagai PNS. Sebagai calon pensiunan, tentu Mukidi
mulai “disisihkan” dari segala
aktivitas kantor yang ada kaitannya dengan program tahun 2022, yang saat ini
sedang disusun.
Salah satu
isuenya adalah, akan ada perubahan nama kantor. BP-PAUD DIKMAS akan berubah
nama menjadi Balai Pengembangan Mutu Pendidikan. Namun isue tersebut belum
final. Masih ada isue lain terkait perubahan nama kelembagaan. Termasuk kepindahan
tempat kerja dari jalan Gebang Putih ke jalan Ketintang.
Ada yang
bilang, jika nanti benar-benar semua personil pindah ke jalan Ketintang, maka
akan terjadi masa transisi dan adaptasi antara penghuni lama dengan penghuni
pindahan. Karena, sejatinyalah ke dua penghuni itu berbeda. Baik itu tentang
kinerja, jam terbang, sasaran tusi dan karakter individunya. Tentu ini juga
akan menjadi masalah tersendiri jika unsur manajemen gagal “mengelola” ke duanya.
Mukidi nyeruput
kopinya yang semakin dingin. Dia berharap praktek “like and dislike” yang biasa dijalankan di Gebang Putih, tidak
dibawa dan ditularkan di Ketintang, yang tentunya telah punya budaya kerja sendiri,
dan bisa saja saling berbenturan.
Ada pula
yang resah karena jarak tempuh dari kediamannya ke Ketintang semakin jauh,
sedang angkutan umum selain ojek, grab dan taxi, tidak ada. Belum lagi masalah
kemacetan selama perjalanan, serta genangan dimana-mana ketika hujan turun. Maka
kemacetan pun semakin panjang.
Hari semakin
siang, Warkop pun semakin ramai dengan pengunjung yang terdiri dari berbagai
strata sosial. Mukidi enggan beranjak karena kopinya masih separo. Dalam bayangan
Mukidi, hendaknya manajemen Kantor mengadakan semacam pelatihan untuk mengkondisikan
karyawan Gebang Putih agar siap bergabung mengikuti irama kerja karyawan
Ketintang.
Ini penting
agar tidak terjadi friksi dikemudian hari. Sayangnya hal ini tidak dianggap
penting dan dibiarkan berjalan sesuai takdirnya. Semua diserahkan kepada
masing-masing untuk menjalin relasi membangun sinergi dalam pelaksanaan tusi.
Sambil nyruput
kopi yang semakin dingin, Mukidi merasa semua isue tentang perubahan
kelembagaan kantornya, tidak berpengaruh terhadap dirinya. Dia hanya menjadi
pendengar yang baik ketika temannya membahas rencana kerja tahun 2022.
Bahkan kemungkinan saja Mukidi tidak sempat ikut menikmati hiruk pikuk perpindahan dari Gebang Putih ke Ketintang. Juga tidak ikut “berbenturan” dengan suasana baru. Semua itu karena Mukidi sudah masuk masa pensiun, dan tinggal menunggu waktu untuk dilupakan dan melupakan.
jadi perubahan BP-PAUD DIKMAS ke BPMP JATIM itu tidak akan menghambat proses pensiun Mukidi yang tinggal menunggu waktu.
Gawai Mukidi
berdering, ada pesan singkat dari istrinya yang minta diantar ke Pasar Grosir
Surabaya, belanja "ubo rampe" untuk acara arisan PKK di kampungnya. Mukidi tidak
berani membantah permintaan istrinya, daripada panjang urusannya. [eBas/ndlemingSeninKliwonSiangHari-2212021]


