Senin, 30 Mei 2022

PERLUNYA MEMBANGUN KESEPAHAMAN ANTAR BPBD DAN FPRB

Kemarin, hari senin (30/05/2022). Sebagian pengurus FPRB Jawatimur, didampingi unsur pengarah dan staf Siap Siaga, berkesempatan audiensi dengan kepala BPBD Provinsi Jawa Timur beserta beberapa pejabat lainnya, di Ruang Tangguh yang dingin.

Snack dan makan siangnya dikemas dalam kotak yang menarik, membuat peserta rapat nyaman untuk berdialog membangun kesepahaman tentang kerja-kerja pengurangan risiko bencana yang bisa dikolaborasikan dan dikoordinasikan antar pihak.

Dalam kesempatan itu Mbah Darmo, sebagai Sekjen FPRB, menyampaikan program forum yang sudah dan sedang dikerjakan. Termasuk menjelaskan tentang dana operasional yang digunakan, agar tidak ada dusta diantara mereka.

“Saya sampaikan disini bahwa dana program didapatkan melalui urunan dari sebagian honor saat menjadi nara sumber, serta penjualan souvenir. Sampai saat ini belum pernah meminta sumbangan suka rela dari anggota,” Tegasnya.

Mungkin, pertemuan keakraban ini akan semakin bermakna jika Mbah Darmo juga menyampaikan 10 hal yang harus diketahui tentang FPRB, seperti yang pernah dikatakan oleh Lilik Kurniawan, yang sekarang menjabat sebagai Sestama, BNPB, dan bergelar Doktor. Sehingga masing-masing pihak memahami akan keberadaan forum.

Adapun 10 hal yang pernah disampaikan di Hotel Grand Mercure Mirama, Surabaya, senin (26/10/2020), itu diantaranya adalah FRPB sebagai perwujudan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana di daerahnya, FRPB dibentuk berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007, PP No. 21 Tahun 2008, serta secara spesifik  diatur dalam Perka BNPB  yang dalam proses penyelesaian.

Selanjutnya, FPRB memiliki Visi: Memastikan Pembangunan Daerah Berbasis Pengurangan Risiko Bencana, Memastikan kebijakan yang diambil dapat mengurangi risiko bencana saat ini, tidak menambah risiko bencana baru, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, Memastikan kelembagaan penanggulangan bencana dapat bersinergi dengan baik, antara BPBD  dengan OPD, antara pemerintah daerah dengan masyarakat dan lembaga usaha.

FPRB juga memastikan anggaran penanggulangan bencana cukup digunakan dalam penanggulangann bencana sesuai dengan risiko bencana di daerahnya, dan memastikan pemberdayaan masyarakat  dilakukan di daerah dalam membangun ketangguhan terhadap bencana.

Guna merealisasikannya, tentu perlu sering duduk bersama membahas agenda bersama antar pihak (multihelix). Termasuk saat BPBD menyusun program kerja yang ada hubungannya dengan relawan, hendaknya forum dilibatkan, agar programnya tepat sasaran dan manfaatnya terasakan oleh penerima manfaat.

Begitu juga saat forum akan mengadakan rapat dengan berbagai pihak, hendaknya BPBD yang mengundang, selanjutnya yang presentasi tentang program terkait dengan PRB adalah forum. Karena OPD tidak mungkin mau datang jika yang mengundang rapat itu forum. Hal ini telah dilakukan oleh FPRB Provinsi Bali (hasil ngobrol dengan Ketuanya di arena Rumah Resiliensi Indinesia saat penyelenggaraan GPDRR di Nusa Dua, Bali, 25/05/2022).

    Dalam kesempatan yang langka itu, Amin Widodo, berharap agar semua kegiatan relawan dalam pengurangan risiko bencana maupun aksi penanggulangan bencana divideokan dengan menarik untuk kemudian disebarkan melalui media sosial agar dikenal oleh khalayak ramai.

    Dengan kata lain, Jika pengalaman dan praktek baik yang telah dikerjakan itu hanya didokumentasikan dalam bentuk buku, jelas kurang menarik pembacanya. Sehingga pesan pembelajaran tidak sampai. Akibatnya kejadian bencana itu akan terulang dan terus berulang tanpa penyelesaian, dengan mempelajari kejadian yang telah dialami.

     Apa yang disampaikan oleh dosen ITS ini benar dan perlu ditindaklanjuti. Sekarang ini era milenial yang memanfaatkan vlog sebagai media pembelajaran untuk mengkomunikasikan suatu pesan akan pentingnya kesiapsiagaan, dan ketangguhan kepada masyarakat.

       Ya, peristiwa bencana hendaknya dijadikan bahan pembelajaran yang dikomunikasikan kepada masyarakat. Baik secara daring maupun luring dalam rangka upaya penyadaran untuk membangun budaya tangguh bencana, dengan strategi jauhkan bencana dari masyarakat, jauhkan masyarakat dari bencana, dan living harmony with risk.

    Konon, ketangguhan itu bisa dilihat dari kemampuan masyarakat untuk mencari informasi tentang potensi bencana yang ada, kemudian memiliki kemampuan mengantisipasi, proteksi, adaptasi dan memiliki daya lenting dalam rangka pemulihan pasca bencana.

    Sedangkan Cak Su’ud dari Siap Siaga mengharapkan agar BPBD semakin peduli melibatkan keberadaan forum dalam berbagai kegiatan untuk membangun kolaborasi antar pihak yang saling menguntungkan.  

    Sedangkan Budi Santoso, sebagai kepala BPBD Provinsi Jawa Timur  akan berusaha mencarikan sumber dana dari CSR untuk mendukung kegiatan kesiapsiagaan dalam bentuk edukasi, sosialisasi kebencanaan. Termasuk upaya pelestarian alam melalui penanaman pohon di daerah rawan bencana.

    Acara ramah tamah ini diakhiri dengan foto bersama. Tentu masing-masing pihak berharap agar semua obrolan itu ada tindak lanjutnya dalam bentuk program keroyokan antar pihak dalam rangka membangun ketangguhan berkelanjutan, seperti yang direkomendasikan dalam GPDRR ke-7 tahun 2022 di Nusa Dua, Bali, baru-baru ini. [eBas/SelasaPahing-31-05-2022]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 28 Mei 2022

MENUNGGU REALISASI REKOMENDASI UNTUK RESILIENSI

             Pada acara penutupan gelaran Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7, di Bali Nusa Dua Convention Centre pada Jumat (27/5/2022). Indonesia berkesempatan untuk menyampaikan tujuh rekomendasi terkait Agenda Bali untuk Resiliensi Berkelanjutan.

Tujuh rekomendasi itu dihasilkan lewat berbagai masukkan dari diskusi dan berbagi pengalaman praktik baik upaya pengurangan risiko bencana, selama gelaran GPDRR berlangsung, sejak tanggal 23 sampai 28 Mei 2022.

Tinggal bagaimana pemerintah, dalam hal ini BNPB/BPBD mensikapi rekomendasi tersebut. Apakah segera beraksi dengan merangkul berbagai pihak atau abai, menunggu arahan dan petunjuk dari atasannya, yang entah kapan akan memberi instruksi.

Pertanyaannya kemudian adalah, dari tujuh rekomendasi hasil GPDRR itu, mana yang bisa segera ditindak lanjuti oleh komunitas relawanyang dirupakan dalam programnya, sebagai bentuk partisipasi nyata membantu pemerintah membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

Penulis mencoba meminta pendapat beberapa orang anggota F-PRB Jawa Timur terkait dengan tujuh rekomendasi, yang mungkin bisa dikerjakan sesuai kapasitas, terkait dengan rekomendasi yang dirumuskan di Pulau Dewata.

Anin Faros, sebagai fasilitator Desa Tangguh Bencana, yang sering bersentuhan dengan masyarakat, mengatakan bahwa rekomendasi nomor empat dan lima yang mungkin bisa dikaitkan dengan program forum.  

Rekomendari ke empat itu mengatakan bahwa, bencana memberikan dampak berbeda kepada setiap orang. Untuk itulah perlunya pendekatan partisipatif dan berbasis HAM untuk memasukkan semua, sesuai prinsip "Tidak ada apa-apa tentang kita tanpa kita" dalam perencanaan pengurangan risiko bencana dan implementasinya pada masyarakat yang berisiko. 

Rekomendasi itu juga berharap dapat melibatkan generasi muda dan profesional muda sebagai bentuk investasi yang harus ditingkatkan untuk merangsang inovasi dan solusi kreatif. 

Sedangkan rekomendasi ke lima, intinya ingin memastikan setiap orang di muka bumi dilindungi oleh sistem peringatan dini dalam jangka waktu lima tahun ke depan.  Respons terhadap seruan tersebut harus mempertimbangkan rantai nilai peringatan dini yang berpusat pada masyarakat secara menyeluruh dari ujung ke ujung – mulai dari penilaian risiko hingga infrastruktur dan menjangkau tujuan akhir. 

“Upaya ini tentunya bisa disampaikan oleh forum saat melakukan program sambang desa sianu bareng dan sapa destana,” Katanya melalui sambungan seluler.

Sementra itu, Cak Anam, disamping sebagai pengurus FPRB, juga aktid di LPBI-NU Kabupaten Mojokerto, mengatakan bahwa apa yang dihasilkan diacara GPDRR itu semuanya baik, jika semua pihak berkomitmen untuk mencoba memulai melaksanakannya.

“Rekomendasi pertama bisa dilakukan dengan mendekati pemegang kebijakan lokal. Upaya ini memang berat, tapi harus dicoba lakukan dengan melibatkan para pihaak,” Tambahnya.

Untuk rekomendasi yang ke dua, masih kata Cak Anam, bisa dilakukan dengan mendekati masyarakat secara langsung. Upaya ini juga berat, karena mainstream masyarakat kita terhadap program pengurangan risiko bencana, masih jauh panggang dari api.

Sedangkan yang ke empat, bisa dilakukan dengan melanjutkan apa yang sudah dilakukan forum bersama masyarakat (diantaranya pembentukan dan pendampingan destana, serta program sapa destana)

“Terkait rekomendasi yang terakhir, forum bisa mendorong melalui keseriusan stakholder yang membidangi administrasi kebencanaan, terkait perhitungan IRBI bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bukan hanya seremonial belaka,” Kata pria berkulit sawo matang yang humoris ini.

Tentu masih akan banyak lagi pendapat yang muncul bagaimana merealisasikan tujuh rekomendasi yang dihasilkan di Pulau Bali ini, untuk membangun budaya tangguh, berdasarkan kapasitas dan kepentingan masing-masing pihak. Ya, para pihak memang boleh menterjemahkannya kedalam programnya.

Jika memungkinkan, diperlukan sinergitas dan kerja-kerja kolaboratif antar pihak untuk merealisasikan tujuh rekomendasi. Dengan kata lain, masing-masing pihak turut berkontribusi aktif mengawal tujuh rekomendasi.

Mengingat pentingnya masalah ini, Kepala BNPB mengatakan, harus ada komitmen ulang terhadap keterlibatan masyarakat, dan pengurangan risiko bencana yang digerakkan oleh masyarakat, serta mendukung struktur lokal yang ada dan membangun resiliensi.

Beberapa waktu yang lalu, saat penyelenggaraan Konfrensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas XIV tahun 2021, juga menghasilkan beberapa rekomendasi.

Namun sampai saat ini gaungnya semakin menghilang terbawa kesibukan lain yang harus segera diselesaikan. Akankah tujuh rekomendasi yang dihasilkan di Sofitel Bali Nisa Dua Beach Resort, Provinsi Bali itu, akan mengalami nasib yang sama ?. [eBas/mingguKliwon-29052022] 

Selasa, 17 Mei 2022

HALAL BIHALAL LINTAS KOMUNITAS RELAWAN

Konon, hasil dari jagongan hari sabtu (07/05/2022), beberapa hari pasca Idul Fitri, di Basecamp Jamaah LC, diantaranya adalah menyepakati untuk mengadakan acara halal bihalal lintas komunitas relawan di Surabaya.

Sejak itu, masing-masing personil yang terlibat mulai membagi diri sesuai kemampuan. Siapa membawa apa, siapa melakukan apa dan siapa membeli apa. Semua berkontribusi dalam suasana gotong royong guyub rukun, tanpa melihat besar kecilnya kontribusi yang diberikan.

Semua anggota Jamaah LC bergembira. Karena kegiatan ini merupakan yang pertama diselenggarakan oleh mereka yang masih miskin pengalaman berorganisasi. Hanya semangat kebersamaanlah yang membuat semua berjalan.

Karena kesibukan anggota, maka semua koordinasi dan komunikasi dilakukan secara daring. Termasuk menu apa yang akan ditampilkan saat halal bihalal pun dibahas dan disepakati secara virtual. Menu lontong sayur terpiih sebagai hidangan wajib. Mereka berbagi diri. Siapa membawa lontong, tahu, cecek, manisa, santan, bumbu, sambel, ceker ayam, telur, dan kerupuk.

Ada juga yang berkenan menyumbang air gelas dalam kemasan, buah, aneka jajanan, dan lainnya yang mendukung suksesnya acara. Semua dilakukan sebagai salah satu bentuk gotong royong yang dikembangkan Jamaah LC.

Dalam kegiatan yang digelar secara lesehan itu, di Basecamp Jamaah LC Keputih, senin (16/05/2022), masing-masing yang hadir memperkenalkan diri serta aktivitas komunitasnya. Dari situlah akan diketahui kapasitasnya sebagai modal untuk membangun kegiatan bersama yang bermanfaat langsung bagi masyarakat yang menjadi sasarannya.

Mereka juga menceritakan bagaimana perjalanan komunitasnya sejak awal berdiri sampai sekarang dengan segala aktivitasnya. Bukan hanya bergerak dibidang kebencanaan saja. Namun juga dibidang pendakian, penjelajahan, terlibat dalam pencarian dan evakuasi pendaki yang mengalami kecelakaan di gunung. Tak lupa mereka juga melakukan upaya konservasi alam dengan melakukan penghijauan di daerah yang gundul akibat penebangan liar dan kebakaran.

Halal bihalal yang dikemas dalam suasana santai ini menampilkan masakan dari relawan yang biasa teribat di dapur umum. Ada ceker ayam bumbu kecap, sayur manisah berkolaborasi dengan tahu dan cecek, lontong yang kenyal menggemaskan, dan kerupuk yang kemriyuk.

Jajanan sisa lebaran pun turut tampil meramaikan mereka yang asih ngobrol berbagi cerita pengalaman. Rengginang khas madura dan pisang lumajang yang digoreng  tanpa gosong itu, sangat pas dinikmati sambil ngopi. Terima kasih mbakyu Anin, yang jauh-jauh dari Senduro, Lumajang datang membawa pisang.

Paling tidak, pada jumpa pertama ini mereka yang datang telah paham akan kiprah masing-masing komunitas, dan rajutan tali silaturahmi pun semakin erat berjabat. Tinggal bagaimana merawat dalam bentuk menggarap program bersama.

Misalnya mengadakan pertemuan (bahasa kerennya sarasehan), dengan mengundang komunitas yang lebih banyak lagi. Tidak seperti kegiatan kali ini yang belum mampu mengundang semua komunitas relawan Surabaya, dikarenakan adanya keterbatasan penyelenggaraan.

Ya, harap dimaklumi bahwa langkah kecil yang telah diayunkan oleh Jamaah LC perlu ditindak lanjuti agar semakin sempurna dan bermakna.

Malam kian larut, mendung pun menggelayut di kawasan Kelurahan Keputih. Satu satu peserta halal bihalal meninggalkan tempat sambil membawa kesan tersendiri. Tidak lupa juga membawa hidangan yang masih tersisa banyak, agar tidak mubazir.

“Tim Sapu Jagat” pun mulai beraksi membersihkan lokasi. Mengamankan semua peralatan agar tidak kesingsal, dan membuang sampah agar tidak meninggalkan bau yang mengundang lalat, semut dan tikus.

Setelah semua beres, barulah melepas lelah sambil memandangi aneka foto kegiatan, yang sempat diabadikan dan dibagikan di grup whatsapp. Alhamdulillah kegiatan halal bihalal lintas komunitas yang mengusung tema “Tingkatkan Kebersamaan Melalui Ikatan Silaturahmi”, berjalan sesuai rencana. Tinggal melakukan evaluasi sebagai bahan pembelajaran untuk menyelenggarakan kegiatan selanjutnya. Salam Sehat Salam Kemanusiaan. [eBas/SelasaPon-17052022]

  

 

 

 

 

 

 

Senin, 11 April 2022

ARISAN ILMU NOL RUPIAH DI ERA PANDEMI

Paruh pertama tahun 2022, tepatnya 10 April 2022, yang bertepatan dengan bulan ramadhan, pengurus SRPB Jawa Timur, mencoba menggelar program ikonik, Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINR), yang selama ini telah banyak menginspirasi komunitas lain untuk menduplikasinya. Karena dipercaya banyak manfaatnya. Paling tidak sebagai media mempererat tali silaturahmi.

Ya, kalau tidak salah, sejak wabah covid-19 dari Kota Wuhan, China “menyerbu” Indonesia, banyak sudah korban nyawa berjatuhan. Untuk mencegahnya, diantaranya adalah pemberlakuan “social distancing” dengan berbagai istilah yang mengikutinya. Diantaranya PPKM dan protokol kesehatan. Otomatis semua kegiatan yang mendatangkan massa untuk berkerumun, seperti kegiatan AINR, dilarang.

Semua kegiatan luring dialihkan menjadi daring. Namun semangat berdaring dikalangan relawan kurang tampak karena berbagai alasan. Banyak kendala yang mengikutinya. Utamanya kendala paket data. Memang beda rasanya berkomunikasi secara luring dengan model daring.

Dengan memanfaatkan semarak persiapan Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2022, dan seijin ‘penghuni’ Joglo Kadiren (Joka), pengurus SRPB Jawa Timur menggelar Arisan Ilmu Nol Rupiah, yang dikemas dalam acara Buka Bersama dan solat magrib berjamaah.

Seperti biasa, masing-masing relawan membawa aneka jajanan sendiri untuk kemudian dinikmati bersama, sebagai cermin sikap saling peduli, dan semangat gotong royong dalam kebersamaan mempererat tali silaturahmi. Termasuk bergotong royong membersihkan lokasi sebelum dan setelah jegiatan. Inilah yang tidak ada jika AINR digelar secara daring.

Kegiatan digelar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. semua duduk tertib mendengarkan informasi dari berbagai pihak untuk menambah wawasan. Tentu saja bagi yang baru pertama ikut AINR, bisa berkenalan sambil ngobrol berbagi cerita.

Dian Harmuningsih, koordinator SRPB membuka acara dengan menguraikan perjalanan program ikonik dengan segala suka dukanya. Kemudian Dadang Iqwandi, dari bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, BPBD Provinsi Jawa timur, juga berkesempatan menginformasikan  agenda kegiatan alternatif yang bisa dilakukan para relawan menyongsong HKB 2022. Diantaranya, Sosialisasi pengurangan risiko bencana dan Edukasi kebencanaan dengan memanfaatkan mosipena (mobil edukasi bencana).

Acara inti AINR adalah tausyiaah dari Profesor Syamsul Maarif, terkait dengan peran relawan dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana, lewat berbagai program yang dijalankan oleh BPBD dan BNPB, diantaranya desa tangguh bencana dan keluarga tangguh bencana.

Dalam paparannya, mantan orang penting di BNPB itu menekankan perlunya melibatkan masyarakat dalam kesiapsiagaan mengelola bencana. Mereka dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kelangsungan kehidupan dan penghidupan yang mereka jalankan dari sudut pandang mereka sendiri.

Dikatakan pula bahwa, lingkup kesiapsiagaan menghadapi bencana itu diantaranya adalah, Menemukenali dan prediksi risiko,  Memperkirakan kapasitas yang diperlukan untuk menghadapi risiko bencana,  Meningkatkan kapasitas yang sudah ada secara berkelanjutan, dan Merencanakan untuk mengelola/meredam risiko dengan kemampuan/kapasitas yang bersumber dari berbagai pihak.

Peran relawan di sini adalah membantu masyarakat dalam menemukenali potensi ancaman, pengelolaan/peredaman risiko, kesiapsiagaan, strategi mitigasi dan pemulihan pasca bencana. Sedangkan pemerintah, termasuk pemerintah Desa, memberikan pendampingan berupa, Teknik/keahlian, anggaran, alat dan perlengkapan, serta  logistik administrasi. Tentunya tanpa melahirkan ketergantungan.

Terkait dengan praktik baik untuk menyemarakkan hari kesiapsiagaan menghadapi bencana, yang mengambil tema siap untuk selamat, dengan sub tema Keluarga Tangguh Bencana, Pilar bangsa Menghadapi Bencana. Beberapa peserta Arisan menceritakan kiprah komunitasnya.

Alfin dari komunitas tanggap gawat darurat (KTGD), sekaligus pengasuh Jamaah LC di basecamp keputih dan pengurus Forum PRB Jawa Timur, menjelaskan tetang kegiatan komunitasnya dalam menyongsong HKB tahun 2022 ini, diantaranya adalah akan mengadakan Pelatihan PPGD untuk Driver OJOL.

Sedangkan Erick Alfian, dari Inavor, yang juga anggota Tim SPAB BPBD Jawa Timur, menceritakan kegiatannya terkait HKB 2022 kali ini, yaitu Edukasi KDRT (Kecelakaan Dalam Rumah Tangga) dan Manajemen Sampah sebagai salah satu Pengurangan Risiko Bencana.

Programnya disebut ISBAT INAVOR (Indahnya Saling Berbagi mAnfaaT dari Indonesian Survivor). Pesertanya dari beberapa Pengurus RT dan RW, Ibu rumah tangga dan Asisten rumah tangga, serta Penjaga Keamanan Lingkungan.

Sementara peserta yang lain mencatat apa saja yang perlu dicatat dalam buku catatannya. Ada pula yang tidak mencatat, cukup diingat saja dalam ingatan (itupun kalau masih ingat).

Yang jelas, gelaran AINR secara tatap muka terbatas ini bolehlah dibilang sukses. Untuk itu, tidak ada salahnya jika gelaran berikutnya layak diadakan secara rutin, tinggal membenahi standar operasional prosedurnya, agar kegiatannya semakin baik dan banyak diminati. Apalagi, saat ini pandami semakin melandai. Wallahu a’lam bishowab [eBas/SeninPahing-11042022-barengan dengan demo mahasiswa]

Minggu, 03 April 2022

CERITA RELAWAN BAGIAN DARI LITERASI KEBENCANAAN

Dalam rangka menyambut pelaksanaan Global Platform Disaster Risk Reduction (GPDRR), yang akan diselenggarana di Nusa Dua Provinsi Bali pada bulan Mei 2022, kami selaku tim sekretariat (BNPB) bermaksud untuk mengumpulkan tulisan mengenai praktik baik relawan dalam kebencanaan di Indonesia.

Besar harapan kami para relawan di seluruh indonesia bisa mengirimkan praktik baiknya dan bisa berbagi cerita dengan kawan-kawan lain baik di Indonesia maupun dengan dunia.

Begitulah postingan Ninil Jannah di grup whatsapp, agar anggota grup yang terdiri dari berbagai komunitas mau berbagi cerita pengalamannya dalam kegiatan kebencanaan. Baik itu pada fase pra bencana, taat tanggap bencana, maupun pasca bencana.

Sungguh, ajakan orang penting di Planas (platform nasional) ini, sangatlah tepat. Mengingat relawan kebencanaan itu sangat kaya pengalaman. Mereka sudah banyak berbuat menolong sesama diberbagai peristiwa bencana dengan segala suka dukanya.

Sayang sekali, pengalaman yang begitu heroik itu tidak didokumentasikan dalam sebuah buku, yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi sesama relawan diberbagai daerah, seperti harapan Ninil dalam postingannya.

Disini bisa dicontohkan praktik baik yang dilakukan oleh relawan di lapangan. Diantaranya, Alfin, sebagai seorang fasilitator destana yang harus mengampu terbentuknya destana di berbagai daerah, juga aktif di pos bersama Forum pengurangan risiko bencana (Posma F-PRB) Jawa Timur, membantu warga terdampak bencana awan panas guguran Gunung Semeru.

Apa yang dilakukan Alfin ini bisa menjadi pembelajaran bagi relawan lokal, bagaimana mengelola pos bersama dalam hal penggalangan bantuan sekaligus pendistribusiannya. Termasuk melakukan edukasi dan motifasi kepada warga terdampak agar segera menata hidupnya yang porak poranda dilanda bencana. Ini bisa dilakukan lewat layanan dukungan psikososial serta sosialisasi pengirangan risiko bencana.

Sedangkan Kang Yudha dan Ning Anin Faros, pendamping destana yang handal ini lincah menggalang berbagai elemen pentahelix untuk diajak bersama melakukan aksi kemanusiaan dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan yang dimiliki.

Sementara, Aksi-aksi Gus Yoyok, salah seorang pengurus Forum PRB Jawa Timur, yang juga aktif di LPBI NU, layak didokumentasikan untuk bahan pembelajaran. Dia sangat piawai dalam menggandeng berbagai pihak dan memobilisasi relawan untuk mensukseskan sebuah kegiatan kemanusiaan.

Diantaranya memobilisasi relawan untuk membantu warga yang terkena musibah banjir, mengadakan acara penghijauan di bantaran sungai dengan menanami berbagai jenis tanaman keras. Dia juga berhasil menginisiasi terbentuknya santri tangguh bencana (SANGGUB) di berbagai Pesantren di wilayah di Jawa Timur.

Begitu juga mBah Dharmo, sebagai Sekjen Forum PRB Jawa Timur, aktivitasnya bagai kutu loncat.  Bagaimana tidak, seperti tidak punya rasa lelah. Pagi hari menghadiri acara yang ada hubungannya dengan kebencanaan di satu daerah, sorenya sudah di kota lain mengisi materi pengurangan risiko bencana, dan Besuknya sudah berada di Kabupaten lain untuk mendorong terbentuknya Forum PRB tingkat Kabupaten/Kota, dalam kondisi bugar sehat tanpo sambat.

Mereka yang dicontohkan di atas adalah pengurus Forum PRB yang sangat aktif menjalankan perannya untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak, berbagi informasi untuk membangun ketangguhan masyarakat menghadapi potensi bencana di daerahnya, serta melakukan edukasi pengurangan risiko bencana sebagai upaya menumbuhkan budaya tangguh.

Tentu masih banyak pihak yang telah melakukan praktik baik diberbagai bidang sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Hanya belum banyak yang mendokumentasikan semua praktik baik ke dalam sebuah tulisan yang dibukukan. Kalau dokumentasi berupa foto kegiatan, tentu semua komunitas pasti memiliki dan menyimpannya. Mungkin ke depan perlu ada pihak yang bisa menginisiasi terbitnya sebuah buku yang mendomunentasikan aneka kisah relawan.

Praktik baik yang telah dilakukan mereka, tentu sangat berharga dan layak untuk didokumentasikan dalam sebuah buku, agar bisa dijadikan bahan belajar bagi relawan calon penerus mBah Dharma dan kawan-kawan. karena, pada waktunya nanti, yang mudalah yang berkarya melanjutkan sepak terjang yang tua dalam berforum.

Konon, kendala para relawan enggan mencatat segala yang diperbuat, dengan alasan diantaranya takut salah, takut tulisannya jelek dan ketakutan lain yang diciptakan sendiri. Mereka lebih suka bercerita secara verbal, dari mulut ke mulut (istilahnya Ninil by Cangkem) sambil cangkruk di warung kopi tanpa takut salah.

Padahal, sesungguhnyalah menulis itu adalah memindahkan bahasa verbal ke bahasa tulis. Jadi tulis saja yang diomongkan ngalor ngidul itu tanpa takut salah. Karena tulisan itu sangat subjektif sekali sifatnya, tergantung dari sudut pandang penulisnya.

Arif Erwinandi, seorang editor pintubatu.com, sebuah media online yang banyak menampilkan berita yang terkait dengan pengurangan risiko bencana, mengatakan bahwa, sebaiknya relawan menuliskan apa saja aktivitasnya disemua fase penanggulangan bencana, tanpa takut salah, yang penting berani melawan rasa malas. Setelah terkumpul semua, baru bahasanya diselaraskan agar enak dibaca dan mudah dipahami pesannya, sebagai upaya mendukung gerakan lterasi kebencanaan.

Inilah (mungkin), yang diharapkan oleh tim sekretariat (BNPB) mengumpulkan tulisan mengenai praktik baik relawan dalam kebencanaan di Indonesia, yang diharapkan bisa dipamerkan saat pelaksanaan Global Platform Disaster Risk Reduction (GPDRR), di Nusa Dua Provinsi Bali pada bulan Mei 2022. Semoga gayung bersambut.

Semoga kawan-kawan komunitas relawan penanggulangan bencana di berbagai daerah berkenan menyambut ajakan Ninil Jannah untuk mengumpulkan naskah terkait dengan praktek baik kebencanaan. Termasuk upaya pengurangan risiko bencana lewat berbagai program yang diberkan kepada masyarakat, khususnya mereka yang berdomisili di kawasan rawan bencana. Salam tangguh, salam literasi. [eBas/SeninKliwon-04042022]

     

Sabtu, 12 Maret 2022

PRAKTIK SPAB MASIH SETENGAH HATI

Konon, menurut beberapa relawan yang aktif turun ke lokasi bencana, saat masa tanggap darurat, semua sibuk melakukan evakuasi korban, pendirian  tempat pengungsian, pemenuhan hak dasar, distribusi logistik, pendataan warga terdampak, dan sejenisnya.

Ya, semua warga, termasuk pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik, masih sibuk sendiri, menyelamatkan diri, keluarga dan harta bendanya. Untuk sementara, masalah pendidikan, seperti gedung sekolah beserta sarananya yang rusak, dan berbagai dokumen sekolah yang hilang pun sejenak ‘terabaikan’.

Biasanya, masih menurut relawan yang berjibaku di saat tanggap darurat, seminggu setelah ‘masa panik’, barulah beberapa komunitas relawan mulai mengadakan layanan dukungan psikososial kepada anak-anak di lokasi pengungsian. Dengan berbagai gaya dan cara, mereka berusaha menghibur, mengajak bermain dengan kegiatan rekreatif.

Dari sinilah, kemudian mulai dilakukan pendataan terkait dengan kondisi gedung sekolah beserta sarana prasarananya, berapa peserta didik yang menjadi korban, bagaimana keadaan para pendidik dan tenaga kependidikannya.

Setelah itu, barulah disusun laporan untuk ditindak lanjuti dengan turunnya bantuan berupa alat permainan edukatif, alat tulis, buku bacaan dan lainnya, termasuk tenda baca (atau memanfaatkan mobil perpustakaan keliling). Biasanya kegiatan ini menjadi cikal bakal pendirian SETARA (sekolah sementara). Baik yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan, BPBD, maupun komunitas relawan.

Begitulah siklus kegiatan pendidikan di masa darurat bencana. Selalu saja dinomor duakan. Mengapa bisa begitu ?. jangan-jangan memang harus begitu sesuai skala prioritas, dalam rangka meminimalkan jumlah korban.

Seandainya, program satuan pendidikan aman bencana (SPAB) bisa berjalan dengan baik di semua sekolah, khususnya sekolah yang berada di daerah rawan bencana. Sungguh akan lain ceritanya. Insan pendidikan pasti lebih siap menghadapi bencana, seperti yang tersurat dalam tujuan SPAB.

Diantaranya adalah, meningkatkan kemampuan sumberdaya di satuan pendidikan dalam menanggulangi dan mengurangi risiko bencana. Kemudian, memastikan keberlangsungan layanan pendidikan pada satuan pendidikan yang terdampak bencana,  serta  membangun kemandirian satuan pendidikan dalam menjalankan program SPAB.

Artinya, jika program SPAB bisa berjalan di seluruh jenjang sekolahan, khususnya sekolah-sekolah yang berada di wilayah rawan bencana, maka dapat dipastikan, jika terjadi bencana, insan pendidikan akan dapat melakukan penyelamatan secara mandiri terhadap harta benda sekolah untuk mengurangi kerugian dari dampak bencana.

Mereka juga akan melakukan pendataan dampak bencana. Khususnya yang menimpa peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan yang akan dilaporkan ke atasannya. Untuk kemudian secara proaktif merencanakan sekolah sementara. (pendidikan darurat bencana).

Sungguh, banyak komunitas relawan yang ingin ikut serta mensukseskan gerakan literasi kebencanaan melalui program SPAB. Sayangnya pihak Dinas Pendidikan enggan bersinergi  “memanfaatkan” keberadaan komunitas relawan untuk membangun ketangguhan sekolah menghadapi bencana.

Alasannya selalu saja tidak ada dana. Padahal banyak komunitas relawan yang tidak berfikir masalah anggaran dalam melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan. Konon, dalam dunia relawan, kepuasan kerja itu tidak selalu diukur dengan anggaran.

Untuk itulah, tidak ada salahnya jika pengurus Forum PRB membangun kolaborasi dengan Dinas Pendidikan untuk melaksanakan literasi kebencanaan melalui program SPAB. Tentu, disini peran BPBD setempat juga sangat menentukan terbangunnya kolaborasi itu. Hal ini mengingat BPBD mempunyai fungsi sebagai komando, koordinator dan pelaksana dalam penanggulangan bencana.

Jika memungkinkan, perlulah kiranya orang Dinas Pendidikan atau pendidik diundang mengikuti rapat Forum PRB. Agar mereka tahu tentang masalah kebencanaan, PRB dan SPAB. Karena, senyatanyalah banyak pendidik (bahkan orang Dinas) yang belum tahu tentang keberadaan Permendikbud nomor 33 tahun 2019, tentang SPAB.

Sangat memprihatinkan sekali, tidak sedikit dana yang digunakan untuk melahirkan konsep SPAB, namun setelah jadi, tidak ada kelanjutannya dalam bentuk praktik baik yang dapat dijadikan contoh oleh sekolah lain.

Kalau pun ada pihak yang mengatakan bahwa program SPAB telah berjalan sesuai harapan, itu hanya bersifat seremonial saja. Disini yang dipentingkan adalah sekolah sudah pernah ada kegiatan sosialisasi SPAB, lantas diberi label bahwa sekolah tersebut telah melaksanakan SPAB dengan segala programnya yang tidak ada kelanjutannya. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/MingguPon-13032022]  

Kamis, 03 Maret 2022

MENDOKUMENTASIKAN KEGIATAN UNTUK PEMBELAJARAN

Jumat bersih, begitulah kebiasaan hampir semua organisasi perangkat daerah, setiap hari jumat setelah senam bersama. Biasanya ada extra fooding yang ikut meramaikan kegiatan yang mengedepankan kebersamaan itu. Kadang nasi pecel. Nasi bakar, atau soto. Ada juga gorengan yang menemani susu sapi, telur rebus, wedang kopi, teh dan air putih. Tentu semua dilakukan dengan tetap mentaati protokol kesehtan,

Saya pun, saat kena giliran WFH (work from home), menyempatkan bersih-bersih meja yang berserakan kertas catatan tentang apa saja yang sempat tercatat. Ternyata banyak yang harus dibuang karena sudah usang. Cukup banyak kertas yang dibuang.

Konon, menurut Erick Inavor, sebenarnya kertas-kertas bekas itu bisa dijadikan uang jika rajin mengumpulkan, untuk kemudian 'dipertimbangkan'. Hanya perlu kepedulian dan semangat untuk mengumpulkannya. Banyak contoh komunitas yang memanfaatkan barang bekas untuk membiayai operasionalisasi organisasinya, sehingga tidak membebani anggotanya.

Ada selembar catatan dari sebuah pertemuan resmi yang diampu oleh lembaganya mbak Miranti. Menurut saya ini menarik untuk direnungkan. Sudah seberapa jauhkan catatan itu dicoba realisasikan?.

Salah satu kertas yang siap dibuang, ada catatan yang berisi berbagai usulan. Seperti perlunya ada rapat pengurus forum yang dilakukan secara berkala, baik luring maupun daring. Perlunya peningkatan kapasitas pengurus forum, dan pendataan jumlah destana dan spab yang telah dibentuk (dan ada kegiatannya).

Ada juga Pendampingan/Penguatan program destana dan spab. Pemanfaatan media sosial sebagai media sebar info. Harapan agar ada pemetaan kapasitas pengurus forum, serta Pendataan fasilitator destana dan spab.

Kemudian ada usulan tentang perlunya kerja sama multipihak dalam kegiatan program pengurangan risiko bencana, Inisiasi terbentuknya tim siaga bencana di satuan pendidikan. Perlunya mendorong realisasi hasil jambore FPRB tahun 2021 dan program literasi kebencanaan.

Alhamdulillah, beberapa usulan di atas telah mewarnai perjalanan program FPRB Jawa Timur. Misalnya, tentang perlunya upaya peningkatan kapasitas pengurus forum. Ini sudah dilakukan dan beberapa pengurus forum yang sudah meningkat kapasitasnya dipercaya untuk melaksanakan programnya BPBD, dengan aturan main yang telah disepakati.

Begitu juga dengan program sambang dulur sinau bareng (SDSB) dan Sapa Destana, telah rutin dilakukan oleh mereka yang berkompeten, dalam rangka memperkuat Pendampingan program destana dan spab, sehingga bisa berkegiatan secara mandiri dan lestari, serta terbentuknya tim siaga bencana di daerah dan satuan pendidikan.

Hal ini sejalan dengan harapan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Provinsi Jawa Timur, bahwa dengan dibentuknya Destana, akan terwujud masyarakat yang tangguh, yang mampu menyusun sistem penanggulangan bencana secara mandiri. Harapan inilah yang mungkin perlu dijadikan bahan 'obrolan' saat melaksanakan program Sapa Destana.

Tinggal bagaimana mendokumentasikan semua hasil pembelajaran yang telah dilakukan selama ini, untuk dijadikan pedoman bagi yunior yang akan menggantikan seniornya, pada saatnya nanti. Termasuk memanfaatkan media sosial untuk mengabarkan segala praktik baik yang bisa diduplikasi oleh pihak lain, sebagai upaya mendukung gerakan literasi kebencanaan. [ebas/JumatWage-04032022]