Rabu, 17 Mei 2023

USAI SUDAH GELARAN HKB 2023 DI LAMONGAN

Gegap gempita kemeriahan pagelaran hari kesiapsiagaan bencana (HKB) tahun 2023 telah usai. Satu persatu tamu telah meninggalkan pendopo Kecamatan Karang Binangun, Kabupaten Lamongan, yang menjadi episentrum kegiatan di tahun politik ini.

Semua undangan, telah pulang membawa dengan sejuta kenang tentang pentingnya mitigasi (penjinakan) potensi bencana di daerah aliran sungai bengawan solo. Panitia pun kini sibuk melunasi semua transaksi yang mendukung kegiatan, sesuai plafon anggaran, sekaligus membuat laporan.

Sementara warga Karang Binangun pun sibuk membersihkan daerahnya, setelah didatangi berbagai elemen masyarakat yang ikut meramaikan peringatan HKB, untuk kemudian berangsur kembali ke rutinitas kehidupan sehari-hari. Kini Karang Binangun pun kembali sibuk dengan permasalahannya sendiri.

Pertanyaannya kemudian, mungkinkan perayaan yang menelan anggaran tidak sedikit itu berakhir begitu saja, tanpa ada tindak lanjutnya ?. apakah fasilitator bersertifikat dan agen bencana akan menindak lanjuti ?. Atau, apakah cukup hanya dengan acara evaluasi untuk bahan kegiatan serupa tahun depan, untuk kemudian sibuk dengan program lain yang harus dilaksanakan ?.

Jawabnya sederhana. Jika ada anggaran untuk tindak lanjut acara peringatan HKB, ya tentu akan ditindak lanjuti. Namun jika tidak ada, ya jelas tidak ada kelanjutannya. Memangnya ada pihak yang berkenan mendanai kegiatan dengan uang pribadi ?.

Jadi, ya jangan terlalu berharap terjadi pembelajaran pasca sarasehan masyarakat sungai yang dihadiri oleh para praktisi dan pakar. Dimana kehadiran mereka itu tentu tidak gratisan, dalam rangka memeriahkan pagelaran rutin di setiap tahunnya.

Padahal, Kepala BNPB, seperti yang dimuat Indonews, selasa (16/5), mengatakan bahwa serangkaian acara yang digelar dalam rangka HKB diharapkan menjadi edukasi dan realisasi kesiapsiagaan bencana serta mitigasi bencana.

Masih kata indonews, acara puncak HKB yang berpusat di Lamongan ini diisi dengan simulasi bencana banjir yang dilakukan secara serentak di 7 (tujuh) kabupaten pada dua provinsi. Adapun kabupaten tersebut meliputi Kabupaten Sragen, Blora dan Ngawi di Jawa Tengah dan Kabupaten Lamongan, Bojonegoro, Gresik dan Tuban di Jawa Timur.

Simulasi ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah yang berada ada sepanjang kawasan Sungai Bengawan Solo. Lokasi tempat simulasi merupakan tempat aktivitas utama masyarakat, yaitu sekolah, pasar dan rumah sakit.

Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon yang dilakukan secara serentak di 7 kabupaten sebagai bentuk kontribusi mitigasi vegetasi dalam pelestarian area Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo.

Menilik dari harapan Kepala BNPB itu, harusnya memang ada tindak lanjutnya. Karena, yang namanya membangun kesadaran itu, ya harus dilakukan berulang-ulang, agar menjadi kebiasaan dalam hidupnya (internalisasi) untuk mewujudkan katangguhan.

Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah komunitas relawan (yang dananya senin kamis), khususnya yang tersebar di 7 Kabupaten sepanjang kawasan sungai bengawan solo, bisa berkiprah secara mandiri melakukan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) kepada masyarakat pinggiran bengawan ?.

Alangkah eloknya jika harapan Kepala BNPB itu dijadikan kerja kolaboratif antar elemen pentahelix (termasuk melibatkan fasilitator destana, katana, kencana dan fasilitator spab), dalam berbagai bentuk kegiatan. Baik itu sarasehan, diskusi, pelatihan, maupun gerakan bersih-bersih sungai.

Tentu, kerja-kerja kolaboratif itu bisa terlaksana jika ada pihak donor yang membiayai. Entah itu perusahaan dengan  dana corporate social responsibility (CSR), atau pun lembaga donor yang beroperasi di Indonesia, seperti Siap Siaga dari Australia.

kalau hanya mengandalkan dana saweran dari anggota komunitas relawan, yang relatif kecil, maka gerakannya hanya sporadis dan bersifat lokalitas yang terbatas. Tidak seperti perayaan HKB 2023 yang menasional gaungnya.

Kini, semua pihak yang terlibat dalam pagelaran HKB 2023 di Lamongan sedang melepas lelah. Mungkin dalam istirahatnya mereka sedang berbagi cerita tentang suka duka selama di pendopo Kecamatan Karang Binangun.

Selanjutnya (mungkin) mereka mulai mencatat apa saja yang layak dijadikan bahan evaluasi dan laporan pertanggungjawaban. Yang jelas, usai sudah pagelaran HKB yang menyita waktu dan tenaga. Tinggal kenangan terindah yang akan menjadi bahan cerita selanjutnya.  Salam Tangguh. [eBas/RabuPon-17052023]

 

 

 

 

 

Kamis, 04 Mei 2023

DIALOG IMAGINER ANTARA MUKIDI DAN TEMANNYA

 Malam itu Mukidi nongkrong di Angkringan yang menjadi langganan berbagai komunitas relawan untuk “kopi darat” berbagi informasi dan merencanakan kegiatan bersama. Diantaranya membahas rencana Anniversary komunitas tertentu atau merencanakan pelatihan untuk peningkatan kapasitas relawan.

 Bertepatan, malam itu ada acara halal bihalal antar relawan yang diikuti oleh puluhan relawan yang datang mewakili komunitasnya. Dengan wajah riang gembira mereka saling bersalam salaman dan berbagi informasi yang berhubungan dengan kegiatan alam bebas.

 Malam itu Mukidi bersua dengan sahabatnya, Supradin, dari komunitas pecinta alam. Mereka mengambil tempat di sudut sambil memesan kopi hitam panas sedikit gula. Istilahnya “kopi paitan”.

 Sambil mendengarkan sambutan pembukaan acara halal bihalal, Supradin mengatakan bahwa dirinya akan nonton sarasehan dan simulasi evakuasi mandiri, di Kantor Kecamatan Karang Binangun, Kabupaten lamongan, pada hari selasa, 16 Mei 2023.

 “Cak Di, sampiyan ingat tidak arahan Kepala BNPB saat peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) ?,” Ujarnya sambil nyruput Kopi pahit sebagai upaya mengurangi risiko diabet.

 Dimana, saat itu Kepala BNPB, mengatakan bahwa, kita harus  manfaatkan momentum HKB ini untuk melibatkan sebanyak-banyaknya partisipasi masyarakat, perangkat desa, segenap komponen pentaheliks, supaya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana bisa menjadi budaya yang mengakar di masyarakat Indonesia.

 Mendengar cerita Supradin, Mukidi ingat kepada Kartomarmo yang menjadi fasilitator Destana. Tentunya saat ini dia sedang sibuk menyiapkan Desa binaannya, untuk melakukan simulasi mandiri, agar layak dipamerkan kepada para pejabat dan undangan peserta apel peringatan HKB.

 Termasuk fasilitator keluarga tangguh bencana, fasilitator kecamatan tangguh bencana, dan fasilitator SPAB, yang belum banyak dilakukan di sekolah, namun harus ditampilkan seolah-olah sekolah sudah tangguh bencana.

 Semua harus dilakukan, termasuk “menghimbau” kepada seluruh elemen pentahelix untuk datang ke Lamongan, dalam rangka mensukseskan HKB tahun 2023 yang mengambil tema “Tingkatkan Ketangguhan Desa, Kurangi Risiko Bencana”.

 Ya, konon, nanti di Lamongan pada hari Selasa pahing (16/05/2023) diselenggarakan apel peringatan HKB tahun 2023 dengan menggelar diskusi yang dihadiri oleh para tokoh kebencanaan, kesenian yang berisi pesan kesiapsiagaan menghadapi bencana. juga ada penjualan souvenir dan wisata kuliner khas Lamongan. Diantaranya Nasi boran dan tempe gimbal.

 Mukidi juga setuju dengan pernyataan yang mengatakan bahwa,  semua pihak harus paham bahwa edukasi, sosialisasi, pelatihan dan simulasi kesiapsiagaan bukanlah pelajaran sekali dalam hidup, tetapi pembelajaran dan upaya seumur hidup.

 “Kegiatan simulasi kepada masyarakat yang daerahnya memiliki potensi bencanalah yang harus diagendakan secara rutin, menggunakan anggaran Desa, dengan melibatkan agen bencana dan relawan lokal,” Kata Mukidi kepada Supradin.

 Sedangkan Supradin, mendapat informasi dari Kartomarmo, bahwa untuk menuju ke lokasi HKB, organisasi tidak memfasilitasi, seperti tahun  yang lalu. Yang ingin berangkat harus memiliki cukup sangu agar disana tidak galau. Nanti titik kumpulnya disisi barat lapangan saja, biar enak.

 “Lho, … Piye to kiiih….?. kok mlaku dewe-dewe…,”. Kata Mukidi kaget dengan penjelasan Supradin yang tidak seperti tahun-tahun yang lalu.

 “Lha yo emboh to, ojok maneh aku. Lha wong Kartomarmo sing dadi pengurus wae, ora tau diajak rapat babar blas terkait dengan penyelenggaraan HKB,” Ujarnya sambil nyakot rondo royal kesukaannya.

 Dia menyarakan, jika sempat ya merepat. Kalau tidak sempat, cukup mengikuti lewat media yang meliput serta menunggu informasi dan foto-foto kegiatan yang diposting oleh mereka yang punya kemewahan waktu dan sangu untuk mengikuti acara secara langsung. [eBas/Jum’ad Legi-05052023]

 

 

Rabu, 03 Mei 2023

ANNIVERSARY SEBAGAI MEDIA SILATURAHIM ANTAR ORGANISASI

 Menurut Cambridge Dictionary, anniversary adalah suatu hari untuk merayakan sesuatu yang penting yang terjadi di hari tersebut. Anniversary identik dengan perayaan hari jadi (dari sebuah organisasi), yang ditunggu oleh banyak pihak untuk kangen-kangenan dn bersulang cerita.

Saking bermaknanya, hampir semua organisasi mengagendakan kegiatan anniversary di setiap tahunnya dengan berbagai agenda yang ditata sedemikian rupa dan dikabarkan lewat media. Dengan harapan semua organisasi yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan dan lingkungan hudup, turut “mangayubagyo”.

Seringkali kegiatan yang mengundang banyak puhak ini diselenggarakan di alam terbuka (camping ground). Biasanya di wana wisata pegunungan, namun ada juga yang menempati daerah pesisir pantai, sesuai kesepakatan internal organisasi untuk memeriahkannya.

Misalnya kegiatan anniversary diikuti dengan penghijauan ataupun penanaman mangrove sebagai upaya melestarikan limgkungan alam demi kehidupan flora dan fauna yang bisa dimanfaatkan oleh manusia dalam arti luas.

Terkait upaya penghijauan dengan menanam berbagai pohon produktif, hendaknya dikerja samakan dengan masyarakat dan pejabat setempat (termasuk aparat perhutani), agar terjamin bibit yang ditebar itu hidup sesuai harapan. Tidak layu sebelum berkembang.

Biasanya, agenda anniversary itu diisi dengan beberapa sambutan formal, untuk kemudian dilanjutkan refleksi dan evaluasi program kegiatan yang telah disepakati, untuk mengetahui pendukung dan kendala pelaksanaan program. Untuk kemudian mencari alternatif solusi agar keberadaannya semakin dirasakan oleh penerima manfaat.

Sambil menggelar pesta kecil dengan hidangan ala kadarnya, mereka menikmati acara spontanitas (biasanya mendengankan nyanyian bertemakan lingkungan dan protes sosial). Kadang kehadiran api unggun akan menambah suasana yang romantis. 

Acara bersulang cerita pengalaman yang tertuang dalam “sharing session” juga sangat menarik sebagai media solaturahim diantara mereka yang menyempatkan datang di arena anniversary. Apalagi jika dalam acara yang digelar penuh akrab bersahabat ini juga dibagikan door prize sebagai kenangan yang terindah. 

Tidak tertutup kemungkinan dalam acara itu muncul kegiatan bersama lintas komunitas. Misalnya mengadakan pendakian bersama, bakti sosial gabungan, dan sebagainya sesuai kesepakatan bersama. Termasuk mengadakan halal bihalal bersama.

Salah satu kegiatan Anniversary yang bisa dicontohkan disini adalah yang akan digelar oleh Sahabat Giri Wana (SGW) dalam rangka ulang tahunnya yang ke-10 sekaligus memperingati hari bumi, dengan gerakan penanaman mangrove, di kawasan kalimireng, Kabupaten Gresik.

Semoga gelaran Anniversary yang disisipi kerja-kerja kemanusian yang dilakukan oleh para natural volunteer, dapat menjadi media silaturahim dan ajang pembelajaran melalui “sharing session” bagaimana mencintai lingkungan alam untuk diwariskan kepada anak cucu. Salam Lestari. [eBas/RabuWage-03052023]

 


 

 

 

 

 

 

 


Minggu, 30 April 2023

HALAL BIHALAL RELAWAN LINTAS KOMUNITAS

“Saya pikir kegiatan hala bihalal yang digelar Jamaah LC, pada hari minggu legi (30/04/2023), merupakan prestasi tersendiri. Karena berani memulai, walau dengan sangat sederhana. Apalagi kegiatan ala kadarnya ini dihadiri oleh puluhan komunitas relawan yang ada di Surabaya,” Kata temannya Prayogi, yang enggan disebutkan jati dirinya.

Ya, kegiatan ini memang spontan tanpa persiapan panjang. Berawal dari acara buka bersama anggota Jamaah LC, pada hari kamis kliwon (19/04/2023). konon, sambil guyon menikmati buka puasa, muncul gagasan mengadakan halal bihalal, dengan mengundang komunitas relawan mitra Jamaah LC. Karena takut konsumsinya tidak mencukupi. Mohon dimaklumi.

Secara spontanitas, panitia pun terbentuk dengan penunjukan langsung tanpa bisa ditolak. Menu nasi kotak pun disepakati. Cemilan pun seadanya hasil sumbangan dari anggota. Termasuk pengadaan bahan baku dan beberapa peralatan dapur, juga hasil meminjam. Untuk tempat menggunakan Balai RT 01, Perumahan Bumi Marina, Keputih, Sukolilo. Surabaya bagian timur.

Sebenarnya panitia todongan ini sudah berusaha mengundang beberapa SKPD Kota Surabaya yang pernah bersama menjalankan tugas-tugas sosial kemanusiaan. Namun entah mengapa mereka tidak bisa hadir. Namun panitia memahami ketidakdatangan mereka.

Namun ada untungnya juga mereka tidak datang, karena jika datang, pasti panitia akan “kisinan setengah malu” karena hidangan yang jauh dari standar selera SKPD. Meskipun mereka dari golongan bawah sekalipun.

Ternyata, tanpa kehadiran mereka, acara berlangsung meriah penuh canda. Hidangan ala kadarnya pun dinikmati dengan rahap tanpa rebutan. Semua kebagian. Terutama kucur yang kenyal kenyil dan kacang godognya yang meduk.

Beberapa dari mereka yang hadir, berkesempatan menceritakan pengalamannya serta harapannya. Sementara yang lain menyimak sambil berfikir kemungkinan apa yang diseritakan itu bisa diadopsi ke dalam program komunitasnya. Atau bisa menjadi usulan program bersama lintas komunitas.

Ada juga yang mencoba usul agar diadakan sarasehan lintas komunitas relawan dimana hasilnya nanti dirupakan rekomendasi yang dilaporkan ke BPBD, dengan harapan mendapat respon positif, dalam rangka upaya peningkatan kapasitas relawan.

“Alangkah eloknya jika kita dapat mendorong BPBD mengadakan peningkatan kapasitas gabungan antara relawan dengan ‘pasukannya’ BPBD. Sehingga keberadaan keduanya dapat bekerja sama saat melakukan tugasnya secara proporsional tanpa egosektoral,” Kata teman Prayogi lainnya.

Makanya, perlu sering “ngopi bareng” agar terbangun kesepahaman bersama akan keberadaan masing-masing dalam melaksanakan tugasnya. Dimana, yang satu berdasar panggilan jiwa yang disesuaikan UU 24 tahun 2007 dan Perka/Perban pendukung. Sementara yang lain melaksanakan tugas sesuai kebijakan pimpinan. Perbedaan inilah yang perlu disadari dan diketahui bersama.

Bahkan, ada yang bilang, sudahlah, biarkan BPBD dengan pasukan yang banyak itu biar bekerja sesuai aturan mainnya. Sedang relawan berkegiatan sendiri sesuai panggilan nurani, tanpa merepotkan mereka.

Jika perlu, kalau ada kejadian, relawan tidak usah turun membantu, cukup melihat saja, sambil menunggu jika diperlukan. Karena, sesungguhnyalah relawan itu bukan pemain utama, tetapi hanya membantu sesuai kemampuan. "Kuat dilakuni, ora kuat ditinggal ngopi".

Begitulah, berbagai suara kritis dan gagasan liar yang cukup menarik itu bersahutan secara demokratis. Semua bebas berpendapat. Walaupun semuanya belum tentu bisa diwujudkan dalam sebuah aksi nyata.

Bahkan bisa juga semua lontaran gagasan itu tertolak karena berbagai alasan. Misalnya, dianggap tidak sesuai dengan kebijakan yang berlaku selama ini. Disamping itu, sesungguhnyalah kita masih enggan ngopi bareng untuk membangun kesepahaman bersama.

Alhamdulillah, acara halal bihalal yang digelar serba nekat itu tanpa kehadiran pejabat itu diakhiri dengan foto bersama, saling merapat penuh semangat.

Beberapa gagasan sempat muncul sebagai rencana tindak lanjut yang perlu dibahas lebih mendalam lagi agar dapat terwujud. Bisa dijadikan bahan diskusi di grup whatsapp, maupun saat kopi darat dalam rangka acara “anniversary” masing-masing komunitas. Salam Waras, selamat Hari Buruh. [eBas/SeninPahing-01052023]

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

   

Kamis, 27 April 2023

BPBD PROVINSI JAWA TIMUR ULANG TAHUN

Ucapan terimakasih kepada Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Subroto, yang telah memberitahu kami, Komunitas Relawan, tentang hari jadi BPBD Provinsi Jawa timur yang ke-14. Hal ini berdasarkan Perda nomor 2 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Lembaga Lain Provinsi Jawa Timur, tanggal 27 April 2009.

Masih kata Gatot, diktum pendirian BPBD Jatim tertera, pada Bab II Pasal 2, yang berbunyi: Dengan Peraturan Daerah ini dibentuk lembaga lain Provinsi Jawa Timur, terdiri dari: a. Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Ya, mohon maaf kami atas nama Komunitas Relawan yang tidak “mangayu bagyo” hari ulang tahun BPBD Jatim, dikarenakan selama ini kami memang tidak pernah tahu dan belum pernah mendengar BPBD Jatim menggelar pesta kelahirannya.

Sungguh, jika kami tahu jauh hari, tentu kami bisa menyiapkan kejutan yang layak dikenang, untuk memeriahkannya, sebagai tanda cinta kami kepada BPBD Jatim yang telah banyak melakukan pembinaan kepada relawan dalam rangka peningkatan kapasitas, serta melibatkan kami dalam pelaksanaan program membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

Dalam instagram yang beredar di grup whatsapp, dikatakan bahwa hari Kamis (27/4/2023), menjadi hari yang istimewa bagi segenap karyawan BPBD Jatim. Karena, untuk pertama kalinya Hari Jadi BPBD Jatim diperingati secara internal, dalam suasana lebaran pasca cuti bersama.

Gatot yang selama ini akrab menjalin komunikasi dengan komunitas relawan, mengibaratkan bahwa usia 14 tahun itu mamun keberadaan BPBD selama ini telah mampu dirasakan oleh masyarakat banyak. Termasuk jalinan koordinasi dalam membangun sinergi yang kolaboratif dengan para pihak, dalam hal upaya PRB dan PB, sangat harmonis.

Kepada seluruh stafnya, pria murah senyum ini berharap terjadi peningkatan profesionalisme kerja dan menambah keguyuban, serta memperkuat loyalitas dan dedikasi diantara karyawan, sehingga benar-benar tangguh melaksanakan tupoksinya terkait dengan penanggulangan bencana..

Sementara, kami, sebagai salah satu elemen pentahelix mohon maaf jika tidak bisa menghadiri acara ulang tahun yang baru pertama kali dimeriahkan di tahun bershio kelinci air ini.

Kami, hanya berharap, semoga jalinan koordinasi yang selama ini sudah terbangun bisa semakin akrab bersahabat di semua bidang yang ada di BPBD Provinsi Jawa Tmur, sehingga semua elemen pentahelix bisa berkontribusi dalam program-program BPBD Jatim. Salam Tangguh. [eBas]

 

 

 

 

Rabu, 26 April 2023

MUKIDI MEMPERINGATI HKB 2023

    Halo #SahabatTangguh! Kamu juga bisa turut mendukung Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2023, dengan cara menggunakan twibbon berikut ini https://twb.nz/harikesiapsiagaanbencana2023. Mari kita sukseskan HKB 2023. Kita siap untuk selamat!.

    Begitulah woro-woro yang diposting di beberapa grup whatsapp, tentang ajakan mensukseskan peringatan HKB tahun 2023. diharapkan semua pihak berkenan memasang fotonya yang paling mbois di twibbon yang dibuat BNPB.

    Mukidi, dengan antusias, memasang fotonya yang paling keren. Baik foto sendirian dengan gaya khasnya, maupun foto bersanding dengan tokoh lokal, regional, maupun nasional. Sengaja Mukidi memasang foto tersebut dengan harapan yang melihat akan terpesona dan menganggap Mukidi sahabatnya sang tokoh atau pejabat tersebut.

    Sebagai fasilitator destana, Mukidi juga sibuk mendorong anggota destana untuk berpartisipasi memeriahkan HKB dengan melakukan upaya mitigasi dan simulai mandiri, yang ditandai dengan memukul kentongan, sebagai Early Warning System tradisional. Konon, memukul kentongan itu sebagai salah satu indikator masyarakat yang sudah sadar bencana.

    Hal ini sejalan dengan slogan HKB, siap untuk selamat, dengan mengusung tema, tingkatkan ketangguhan desa, kurangi risiko bencana, berusaha mengajak para pihak untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Khususnya mereka yang bedomisili di kawasan rawan bencana.

    Gatot Subroto, Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur, dalam pernyataannya yang dimuat di jejakindonesia.id, rabu, 26/04/2023, mengatakan bahwa pihaknya ingin mengingatkan kepada masyarakat, bahwa ancaman bencana bisa terjadi kapan saja.

    “Apapun jenis ancamannya, masyarakat harus mengenali. Setelah mengenali, harus disiapkan strategi untuk selamat. Termasuk mengetahui rute atau jalur evakuasi, tempat evakuasi dan cara atau alat apa yang digunakan untuk evakuasi,” ujarnya.

    Untuk mewujudkan harapan Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur itu, Mukidi yang juga anggota Forum PRB aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya budaya tangguh.

    Dimana ketangguhan itu tampak pada kemampuan masyarakat mengakses informasi terkait dengan kebencanaan dari sumber yang terpercaya. Kemudian, memiliki kemampuan mengantisipasi, kemampuan memproteksi diri, kemampuan beradaptasi, serta memiliki daya lenting pasca bencana.

    Mukidi juga memotivasi pengurus desa tangguh bencana, pengurus kecamatan tangguh bencana, dan mendampingi anggota PKK yang tergabung dalam dasa wisma tangguh bencana, untuk mengkaji kembali materi yang pernah dipelajari. Diantaranya menyusun peta rawan bencana, menyusun rencana aksi komunitas dan melakukan simulasi sesuai potensi bencana yang ada di daerahnya.

    Ini penting dalam rangka upaya meningkatkan kapasitas, wawasan dan kekompakan dalam upaya mewujudkan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

    Sungguh, Mukidi telah melakukan tugasnya sebagai fasilitator destana dengan sekuat tenaga. Termasuk upaya mengajak masyarakat untuk mensukseskan HKB tahun 2023 yang bershio kelinci air. Pengalamannya pun telah dibagikannya melalui sosial media. Begitu juga dengan fasilitator yang lain, sebagai success story.

    Dari situlah Mukidi mempunyai gagasan untuk mengajak teman sesama fasilitator destana untuk membukukan pengalamannya, sebagai bukti otentik bahwa mereka pernah berbuat untuk masyarakat. [eBas/RabuPahing-26042023]

 

 

 

 

 

 

Senin, 17 April 2023

KETIKA ITU APRIL 2017

Dulu, seingat saya bulan april tahun 2017, mereka yang ditunjuk menjadi panitia pelaksana pertemuan akbar di Kota Malang sudah bersibuk diri. Mereka adalah panitia mubes pemilihan Sekjen FPRB Jawa Timur, bertempat di Hotel Pelangi, dan kongres pembentukan SRPB Jawa Timur di Hotel Regent Park. Keduanya di Kota Malang.

Ya, kala itu, panitia masing-masing organisasi sibuk menyusun agenda pertemuan agar kegiatannya sukses. Sibuk menyiapkan ubo rampe rapat, menata ruang pertemuan, menyebar undangan agar pesertanya dari komunitas yang merata dan dianggap bisa mewakili daerahnya dan golongan.

Juga ada panitia yang menyiapkan kamar peserta beserta konsumsinya agar mereka merasa nyaman dalam mengikuti seluruh agenda yang telah disiapkan. Beberapa peserta pun juga ada yang ikut membantu kesibukan panitia yang agak keteteran.

Termasuk melakukan lobi sana lobi sini, menggalang dukungan untuk memilih siapa yang dianggap layak menahkodai organisasi yang menjadi mitra BPBD Provinsi Jawa Timur dalam upaya pengurangan risiko bencana dan penanggulangan bencana sesuai kapasitas masing-masing.

Seingat saya, banyak pihak dari berbagai daerah di Jawa Timur yang diundang untuk mensukseskan perhelatan yang direstui oleh BPBD Provinsi Jawa Timur, sesuai azas keterwakilan dari masing-masing daerah dan golongan. Konon di Jawa Timur itu ada kultur mataraman, kultur pedalungan, dan kultur arek, yang memiliki karakter yang berbeda.

Dengan menu Hotel berbintang, seluruh peserta aktif berdiskusi, sambil kenalan. Karena banyak juga yang baru bertemu di ajang ini. Mereka berdebat untuk meloloskan jagonya, dan bersilat lidah menawarkan program-program yang akan dilakukan selama 3 tahun ke depan.

Ketika semua secara aklamasi menentukan pimpinannya, maka diharapkan dalam menyusun kepengurusan hendaknya memperhatikan keterwakilan daerah dan golongan. Bahkan ada yang mengusulkan adanya koodinator daerah untuk mempermudah bertukar informasi.

Sekarang sudah masuk tahun 2023, yang konon disebut sebagai tahun politik. Bulan april pun segera berganti, namun kesibukan ke dua organisasi, untuk mengadakan rapat pergantian pengurus belum tampak. Kasak kusuk pun tidak terdengar. Hal ini terjadi, mungkin karena kesibukan personilnya.

Atau mungkin karena bertepatan dengan bulan suci ramadhan, sehingga semua personil dari kedua organisasi sedang serius menjalankan ritual ramadhan dalam rangka menggapai pahala yang melimpah sesuai janji-NYA. Wallahu a’lam bishowab. Selamat menyambuh HKB tanggal 26 april dengan memukul kentongan sebagai tanda kesiapsiagaan menghadapi bencana. [eBas/ndleming dewe di malam 27]