Hayuuuuk wis, ngumpul nang MAKO SAR-SER. Di daerah Kalilom Lor Timur 1B/31, Surabaya. Jumat, 28 Juli 2023, pk. 19.00. Agenda: Nyruput kopi ireng, Ngemil, Ngomong Ngalor-Ngidul, sinambi Guyon. Begitu ajakan Ki Rebo, panggilan akrab Prijoko Utomo di grup whatsapp Relawan Suroboyo Bersatu.
“Gak usah sungkan. Seperti aku kalo datang di berbagai pertemuan relawan, yo gak pakai sungkan-sungkanan. Kita ngobrol sambil ngopi, serta ngemil kacang godog, gedang goreng dan pohong goreng buatan istriku,” Tambahnya.
Sebuah ajakan yang sulit untuk ditolak bagi relawan yang tidak sibuk. karena, sesungguhnyalah acara kumpul-kumpul ngobrol bareng itu merupakan sebuah ajang silaturahmi untuk mempererat pertemanan.
Bahkan dalam ajaran agama dikatakan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang usia dan melapangkan rejeki. Benar tidaknya pernyataan itu, masing-masing pribadilah yang dapat menjawabnya.
Sayang ajakan Ki Rebo ini berbarengan dengan himbauan dari pihak kepolisian agar warga Surabaya pada hari itu sebaiknya tetap di rumah demi keamanan, terkait adanya acara dari salah satu perguruan silat yang rawan terjadinya “gesekan”.
Namun semua itu tidak mengurangi keseruan jagongan tanpa rencana, juga tanpa panitia. Masing-masing, tanpa sungkan menceritakan pengalamannya, terkait dengan kerja-kerja kemanusiaan di lokasi bencana, maupun kegiatan pencarian pendaki yang hilang di gunung, maupun saat mengikuti kegiatan pelatihan untuk peningkatan kapasitas.
Diantara seruputan kopi panas, melintas cerita tentang lahirnya SRnC (Surabaya Rescue and Care), yang berawal dari komunitas breaker (radio komunikasi yang bernama GONG JITU), diambil dari nama frekwensi radio 140170.
Kemudian, karena sesuatu dan lain hal, maka sebagian anggotanya mendirikan SAR-SER dan sudah memiliki akta kelembagaan dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kemenkumham.
Sementara yang lain tetap bergerak dengan bendera yang dipilihnya. Sedangkan yang bernaung di SAR-SER, kini masih ada dan terus ada. Walaupun personilnya keluar masuk karena faktor sekolah dan pekerjaan.
Tentu, masing-masing personil punya cerita sendiri dari sudut pandang pribadi, dan itu sah sah saja. Begitulah romantisme berkomunitas. Alangkah baiknya jika ada yang mau mendokumentasikan pengalaman masa lalu sebagai bahan pembelajaran generasi baru.
Begitu juga saat mencecap gedang goreng krispi bikinan nyonya rumah, diketemukan alasan mengapa setiap ada kegiatan berupa rapat atau diklat untuk peningkatan wawasan, selalu saja yang tampil mewakili komunitas hanya itu-itu saja orangnya.
Ternyata semua itu dikarenakan, hanya orang-orang itulah yang memiliki waktu untuk mewakili komunitasnya. Sementara anggota yang lain punya kesibukan dengan pekerjaannya.
Cerita pengalaman pun terus bergulir saling bersahutan. Termasuk ketaatan seluruh anggota SAR-SER terhadap doktrin organisasi, yang mengatakan bahwa dalam melaksanakan tugas, datang paling awal, selesai tugas pulang lebih awal, tanpa menunggu publikasi. Dengan kata lain, bekerjalah dalam senyap tanpa pamrih.
Sebuah doktrin yang mudah diucapkan namun sulit dikerjakan dijaman yang mengedepankan portofolio dan bukti fisik untuk sebuah perbuatan. Itulah pilihan ditengah perubahan jaman yang dinamis dan pragmatis.
Sungguh, doktrin yang dianut SAR-ER ini mengingatkan pada petuah Djoko Saryono, salah satu senior mapala Jonggring Salaka ikip malang, yang kini menjadi guru besar di almamaternya. Dia bilang, jadilah manusia yang memberikan pelayanan kepada sesama dengan pijakan kemanusiaan mendahului formalisme agama, suku, ras, gender dan sekat-sekat sosial.
Juga teringat pada Romo Mangun Wijaya, yang mengatakan, jadilah burung manyar yang terbang dikebiruan luas langit kemanusiaan. Sebuah kalimat yang padat makna. Dan narasi ini pun kehabisan kata untuk meneruskan cerita, karena tidak mampu mencerna kemana terbangnya burung manyar yang kini semakin jarang terlihat oleh mata. Salam Tangguh, Seduluran Sak Lawase. [eBas/migguPahing-30072023]






