Minggu, 06 Agustus 2023

TANPA KESADARAN ITU OMONG KOSONG

Diakhir tahun pengabdiannya, pengurus SRPB Jatim menggelar kegiatan yang layak diacungi jempol karena keberaniannya menggelar pelatihan berbayar. Ya, mereka menggelar pelatihan Training of Fasilitator SPAB di sebuah Hotel, dimana pesertanya wajib membayar cukup mahal untuk ukuran kantongnya relawan.

Walau pun berbayar, ternyata pesertanya sangat antusias. Kuota yang disediakan pun terpenuhi. Bahkan ada beberapa peserta yang ditolak karena terlambat mendaftar. Banyaknya peserta yang belum tertampung ini akan menjadi catatan tersediri bagi pengurus SRPB Jatim, untuk dijadikan program rutin, disamping Arisan Ilmu Nol Rupiah yang menjadi ikonnya.

Sungguh, ternyata atensi relawan untuk menjadi fasilitator SPAB sangat menggembirakan. Hal ini sangat membantu BNPB dan Seknas SPAB untuk mencetak fasilitator SPAB yang benar-benar mumpuni, dalam rangka upaya sosialisasi pengurangan risiko bencana melalui program SPAB, sehinga cita-cita membangun ketangguhan dan budaya sadar bencana bisa segera terwujud.

Namun, upaya membangun kesadaran itu tidaklah mudah. Perlu proses panjang dan berkesinambungan. Hal ini diakui oleh Dadang Iqwandi, salah seorang pejabat BPBD Provinsi Jawa Timur,  bahwa yang terberat menjadi Fasilitator itu adalah memunculkan Kesadaran Masyarakat/Komunitas. Bukan sekedar menyusun dokumen sebagai kelengkapan laporan. 

“Dokumen itu bisa dipelajari dan tinggal isi form yang sudah tersedia,” Katanya saat bicara dihadapan peserta ToF SPAB yang digelar SRPB Jatim, sabtu (05/08/2023).

Apa yang dilontarkan Dadang, bukanlah isapan jempol belaka. Karena memang itulah kenyataannya. Dengan kata lain semua upaya pengurangan risiko bencana, baik itu melalui program destana, katana, SPAB, serta program baru yang bernama kencana, kecamatan tangguh bencana, tidaklah mungkin mampu menumbuhkan kesadaran jika hanya “sekali sentuh” saja.

Sementara, yang namanya program pemerintah itu biasanya jarang ada tindak lanjutnya. Sehingga tujuan program hanya semacam “pemicu” untuk kemudian masyarakatlah yang harus melanjutkan program tersebut secara mandiri.

Artinya, jika masyarakat (dan aparat setempat) menganggap program itu bermanfaat, pastilah mereka akan berupaya menindak lanjutinya secara swadaya. Termasuk membuat kebijakan untuk menggunakan dana desa/kelurahan.

Namun nyatanya, program seperti SPAB, oleh dinas pendidikan belum dianggap prioritas. Sehingga pelaksanaan SPAB hanya mengandalkan anggarannya BNPB atau BPBD.

Pertanyaannya, bagaimana bisa menyelamatkan warga sekolah jika terjadi bencana, kalau program SPAB belum menjadi prioritas yang dianggarkan ?. Apakah fasilitator SPAB rela selalu menggunakan “Dompet Pribadi” untuk melakukan kontrak fasilitasi ?. Mari berfikir jernih.

Dengan kata lain, untuk menumbuhkan kesadaran harus ada sarana pendukungnya. Tanpa itu ya program hanya tinggal program yang enak diceritakan. Termasuk adanya istilah, jika terjadi bencana harus “sat set bin wat wet”. Ini juga memerlukan kesadaran, berupa penyediaan sarana yang mensupport agar dapat ber satset bin wat wet

Hanya komunitas relawan tertentulah yang dapat bersat set bin wat wet karena adanya support sarana yang memadai. Entah dari mana, yang penting nyaman dan menambah semangat melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.

Sungguh, Dadang Iqwandi berkata apa adanya. Jujur tanpa kemunafikan. Harapannya tentulah relawan harus menyadari bahwa program SPAB dari BPBD yang dilaksanakan itu hanyalah sekedar sosialisasi. Jika ada yang bilang sekolah sudah tangguh bencana dalam sekali sentuh, itu hanyalah bahasa program kerja berbasis daya serap anggaran.

Dadang juga bilang bahwa praktek PRBBK tanpa Kesadaran itu Omong Kosong. Jelas hal ini terkait dengan istilah tidak ada makan siang yang gratis. Dengan kata lain, agar tidak menjadi omong kosong perlu adanya support agar tumbuh kesadaran.

Termasuk kesadaran dari para perancang program agar memikirkan juga anggaran bagi mereka yang akan melaksanakan upaya menumbuhkan kesadaran akan kesiapsiagaan melalui program SPAB.

Begitu juga nanti pasca TOF SPAB ini, harus ada kesadaran dari “panitia” untuk memberi kesempatan kepada alumni TOF mengaplikasikan ilmunya, dengan cara dilibatkan dalam Tim SPAB melalui model pembelajaran team teaching. Dengan risiko, jatah kontrak fasilitasi terkurangi karena harus dibagi lagi.

Semoga pelatihan Training of Facilitator SPAB yang diselenggarakan tidak gratis oleh SRPB Jatim ini, dapat menginspirasi tumbuhnya kesadaran pihak kemendikbud dan ristek untuk menjalankan peraturan yang dibuat terkait dengan SPAB sekaligus anggaran pendukungnya. Tanpa itu, semuanya hanyalah omong kosong, sekedar menghabiskan anggaran belaka. [eBas/SeninKliwon-07082023]

Sabtu, 05 Agustus 2023

MIMPI RELAWAN BERKOLABORASI DALAM KEGIATAN

Sesungguhnyalah keberadaan Jamaah LC (Lorong EduCation) adalah wadah berkumpulnya relawan dari berbagai komunitas/organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, dan pelestarian lingkungan (juga di bidang pengurangan risiko bencana).

Mereka berkumpul bukan sekedar jagongan sambil ngopi dan ngemil gorengan. Namun juga melontarkan gagasan yang menginspirasi untuk disepakati menjadi agenda bersama dalam sebuah aksi. Ya, tentunya aksi kemanusiaan.

Memang, ada gagasan yang tidak sempat di eksekusi dalam sebuah aksi. Namun tidak sedikit yang telah dilaksanakan dengan melibatkan banyak komunitas. Diantaranya, kegiatan latihan bersama dan mengadakan operasi bersih lingkungan.

Sejak akhir tahun 2020, dimana saat ini yang namanya virus mematikan dari negeri Cina, yang biasa disebut pandemi covid-19 sedang menebar cemas dan duka disetiap harinya. Jamaah LC berusaha merangkul berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam kegiatan bersama yang bermanfaat.

Namun upaya merangkul perlu kiranya ditingkatkan lagi agar benar-benar kegiatan kolaboratif itu dapat diagendakan secara berkala, sebagai uoaya menambah wawasan, meningkatkan kapasitas, serta memperluas jejaring kemitraan.

Kini, di tahun politik ini, disaat pandemi covid-19 telah berubah menjadi endemi (namun tetap waspada), tidak ada salahnya jika Jamaah LC berupaya merangkul berbagai komunitas relawan untuk saling menguatkan agar keberadaannya semakin dilihat dan dirasakan oleh para pihak terkait.

Salah satunya, melalui pertemuan yang digelar oleh relawan yang tergabung dalam Yayasan Yatim Mandiri, diharapkan muncul gagasan cerdas untuk membangun kolaborasi dalam giat-giat kemanusiaan. Ya, diharapkan relawan Yatim Mandiri  dalam kegiatan tersebut dapat menjembatani terjadinya dialog segar yang partisipatif diantara para relawan yang menghadiri undangan. Tidak sekedar kumpul melepas canda tawa sambil menikmati apa yang ada.

Jika panitianya mampu mengkondisikan sebuah pertemuan yang bermakna, yang dapat melahirkan gagasan seperti jagongan di basecamp Jamaah LC selama ini,  tentu sangat menarik. Pasti akan mendorong komunitas relawan yang lain untuk menggelar pertemuan semacam ini. Sehingga makna silaturahmi antar komunitas relawan di kota Surabaya akan benar-benar terwujud. Hal ini penting untuk membongkar sekat-sekat ego sektoral.

Dengan demikian, sepulang dari acara yang digelar di Cafe Cinta, Kecamatan Jambangan, Surabaya, pastilah peserta akan tercerahkan, untuk kemudian menginformasikan ke anggota komunitasnya dengan penuh semangat, bahwa ada hal yang menarik dari pertemuan yang digelar oleh relawan Yatim Mandiri. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SabtuPon-05082023]

Senin, 31 Juli 2023

TERUS MENGUKIR SUKSES MENJELANG KONGRES

“Alhamdulillah mendapat kepercayaan lagi dari BPBD Jawa Timur untuk memberikan fasilitasi SPAB kepada sekolah-sekolah di 10 Kab/Kota di Jawa Timur. Mohon doa untuk kelancaran kegiatan kami bersama tim yang telah mengemban amanah selama 5 tahun ini,” Kata Azelin, ketua Tim SPAB SRPB Jatim, dalam postingannya di grup whatsapp tim sekber spab jatim.

Tentu, semua anggota grup pastilah ikut berbangga atas prestasi yang ditorehkan Tim SPAB SRPB, sehingga tetap dipercaya untuk melaksanakan program yang didukung anggaran yang lumayan menyenangkan.

Ya, selama ini anggaran SPAB masih dari BPBD karena memang programnya BPBD, bukan programnya Dinas Pendidikan, yang masih belum paham permendikbud nomor 33 tahun 2019 beserta aturan yang mengikutinya.

Konon, menurut cerita, Tim SPAB SRPB Jatim ini memang dipilih dari beberapa komunitas relawan yang menjadi mitra SRPB Jatim, lewat penyaringan yang ketat, demi sebuah mutu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Artinya, dari banyaknya komunitas yang menjadi mitra SRPB Jatim itu, hanya beberapa saja yang memiliki anggota yang mumpuni dibidang edukasi, berkepribadian menarik dan amanah terhadap tugas yang diembannya.

Terbukti mereka yang bergabung dalam tim asuhan Azelin, benar-benar dapat diandalkan dan semakin banyak pihak yang ingin bekerjasama dalam berbagai kegiatan, terkait dengan program SPAB. Bahkan program lain pun tim SPAB SRPB siap melayani sesuai permintaan.

Dikatakan pula bahwa membentuk tim yang solid ini memerlukan proses panjang, untuk menyamakan frekwensi sehingga terbentuklah loyalitas tanpa batas dan dedikasi tinggi dalam menjalankan aksi. Mereka benar-benar saling menguatkan, bukan memanfaatkan.

Ya, pengurus SRPB Jatin benar-benar menjalankan strategi  saling merangkul, bukan memukul. Saling mengajak bukan menginjak. Sehingga semua komunitas relawan yang terdaftar sebagai mitra SRPB Jatim merasa “di openi”, diperhatikan dan dilibatkan dalam seluruh agenda SRPB Jatim yang di sepakati bersama secara terbuka.

Dengan demikian seluruh komunitas relawan yang mitra kerasan dan nyaman di bawah naungan SRPB Jatim, dan belum terdengar ada yang mundur alon alon meninggalkan wadah yang dibentuk oleh BPBD Provinsi Jawa Timur, di bulan april 2017, melalui kongres di Hotel Regent Park, Kota Malang.

Bahkan konon, mereka dalam menjalankan aksinya ke daerah, selalu berusaha menyempatkan diri “mengajak” serta relawan lokal yang menjadi mitranya, untuk jagongan berbagi informasi, dan bersulang cerita, sebagai bagian dari sambung seduluran dengan segala dampaknya, sesuai jargan yang diusung, bersatu bersinergi untuk peduli.

Dengan kata lain, apa yang dilakukan ini dapat dimaknai sebagai upaya pembinaan kepada anggota mitra SRPB yang dikemas dalam acara jagongan informal antara anggota tim SPAB yang mendapat tugas ke daerah dengan relawan lokal yang menjadi mitranya.

Dengan pendekatan model ini, maka secara tidak langsung tim SPAB telah memberi kesempatan kepada relawan lokal untuk belajar menjadi fasilitator SPAB. Sehingga, suatu saat SRPB Jatim tidak kekurangan fasilitator SPAB yang siap diberi peran melaksanakan tugas fasilitasi. Dengan demikian tidak akan muncul lagi sangkaan, “yang tampil kok itu-itu saja ya, padahal mitranya banyak sekali”.

Sungguh, diakui atau tidak, masa kepengurusan SRPB Jatim yang ke dua ini benar-benar menampakkan kemajuan. Walaupun program ikonik, seperti Arisan Ilmu Nol Rupiah tidak dapat berjalan seperti jaman sebelum pandemi covid-19. semua itu disiasati dengan metode lain, namun tetap bermakna dan berkelas. Seperti program Srikandi Siaga Bencana dan Pelatihan Fasilitator SPAB. Dimana, program ini dapat dikatakan sebagai ajang kaderisasi untuk menghadapi suksesi tahun ini.

Tahun 2023, sebagai tahun pengabdian terakhir dari kepengurusan hasil kongres 2020. Sudah waktunya mereka lengser untuk kemudian digantikan oleh anggota lain wakil dari komunitas relawan yang menjadi mitranya.

Tentu calon penggantinya harus mumpuni dalam mengelola organisasi, dan diterima oleh seluruh komunitas relawan mitra SRPB Jatim, melalui kongres di tahun yang bershio kelinci air ini.

Sungguh, tugas berat bagi kepengurusan hasil kongres 2023 telah menanti di depan mata. Disamping semakin dituntut mandiri masalah dana operasional, juga tantangan lain terkait dengan tuntutan revitalisasi organisasi.

Maka, untuk menjaga eksistensinya haruslah meningkatkan profesionalisme dan soliditas seluruh komunitas relawan anggota mitra SRPB Jatim. Agar tidak bernasib bagai kerakap diatas batu, hidup segan mati tak mau.

Semoga prestasi yang telah ditorehkan sejak April 2017 sampai medio 2023 ini, dapat menjadi kompas bagi calon pengurus terpilih. Paling tidak semua fenomena yang ada selama ini dapat menjadi bahan acuan dalam penyusunan program selanjutnya.

Selamat kepada pengurus atas segala prestasi yang telah diukir selama ini yang sangat bermanfaat bagi sesama, terkait upaya pengurangan risiko bencana, hasil kolaborasi cantik dengan BPBD dan para pihak. Selamat menuju kongres SRPB Jatim tahun 2023. Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SelasaWage-01082023]

Minggu, 30 Juli 2023

JAGONGAN ANTAR RELAWAN ITU MENYENANGKAN

Hayuuuuk wis, ngumpul nang MAKO SAR-SER. Di daerah Kalilom Lor Timur 1B/31, Surabaya. Jumat, 28 Juli 2023, pk. 19.00. Agenda: Nyruput kopi ireng, Ngemil, Ngomong Ngalor-Ngidul, sinambi Guyon. Begitu ajakan Ki Rebo, panggilan akrab Prijoko Utomo di grup whatsapp Relawan Suroboyo Bersatu.

“Gak usah sungkan. Seperti aku kalo datang di berbagai pertemuan relawan, yo gak pakai sungkan-sungkanan. Kita ngobrol sambil ngopi, serta ngemil kacang godog, gedang goreng dan pohong goreng buatan istriku,” Tambahnya.

Sebuah ajakan yang sulit untuk ditolak bagi relawan yang tidak sibuk. karena, sesungguhnyalah acara kumpul-kumpul ngobrol bareng itu merupakan sebuah ajang silaturahmi untuk mempererat pertemanan.

Bahkan dalam ajaran agama dikatakan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang usia dan melapangkan rejeki. Benar tidaknya pernyataan itu, masing-masing pribadilah yang dapat menjawabnya.

Sayang ajakan Ki Rebo ini berbarengan dengan himbauan dari pihak kepolisian agar warga Surabaya pada hari itu sebaiknya tetap di rumah demi keamanan, terkait adanya acara dari salah satu perguruan silat yang rawan terjadinya “gesekan”.

Namun semua itu tidak mengurangi keseruan jagongan tanpa rencana, juga tanpa panitia. Masing-masing, tanpa sungkan menceritakan pengalamannya, terkait dengan kerja-kerja kemanusiaan di lokasi bencana, maupun kegiatan pencarian pendaki yang hilang di gunung, maupun saat mengikuti kegiatan pelatihan untuk peningkatan kapasitas.

Diantara seruputan kopi panas, melintas cerita tentang lahirnya SRnC (Surabaya Rescue and Care), yang berawal dari komunitas breaker (radio komunikasi yang bernama GONG JITU), diambil dari nama frekwensi radio 140170.

Kemudian, karena sesuatu dan lain hal, maka sebagian anggotanya mendirikan  SAR-SER dan sudah memiliki akta kelembagaan dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kemenkumham. 

Sementara yang lain tetap bergerak dengan bendera yang dipilihnya. Sedangkan yang bernaung di SAR-SER, kini masih ada dan terus ada. Walaupun personilnya keluar masuk karena faktor sekolah dan pekerjaan.

Tentu, masing-masing personil punya cerita sendiri dari sudut pandang pribadi, dan itu sah sah saja. Begitulah romantisme berkomunitas. Alangkah baiknya jika ada yang mau mendokumentasikan pengalaman masa lalu sebagai bahan pembelajaran generasi baru.

Begitu juga saat mencecap gedang goreng krispi bikinan nyonya rumah, diketemukan alasan mengapa setiap ada kegiatan berupa rapat atau diklat untuk peningkatan wawasan, selalu saja yang tampil mewakili komunitas hanya itu-itu saja orangnya.

Ternyata semua itu dikarenakan,  hanya orang-orang itulah yang memiliki waktu untuk mewakili komunitasnya. Sementara anggota yang lain punya kesibukan dengan pekerjaannya.

Cerita pengalaman pun terus bergulir saling bersahutan. Termasuk ketaatan seluruh anggota SAR-SER terhadap doktrin organisasi, yang mengatakan bahwa dalam melaksanakan tugas, datang paling awal, selesai tugas pulang lebih awal, tanpa menunggu publikasi. Dengan kata lain, bekerjalah dalam senyap tanpa pamrih.

Sebuah doktrin yang mudah diucapkan namun sulit dikerjakan dijaman yang mengedepankan portofolio dan bukti fisik untuk sebuah perbuatan. Itulah pilihan ditengah perubahan jaman yang dinamis dan pragmatis.

Sungguh, doktrin yang dianut SAR-ER ini mengingatkan pada petuah Djoko Saryono, salah satu senior mapala Jonggring Salaka ikip malang, yang kini menjadi guru besar di almamaternya. Dia bilang, jadilah manusia yang memberikan pelayanan kepada sesama dengan pijakan kemanusiaan mendahului formalisme agama, suku, ras, gender dan sekat-sekat sosial.

Juga teringat pada Romo Mangun Wijaya, yang mengatakan, jadilah burung manyar yang terbang dikebiruan luas langit kemanusiaan. Sebuah kalimat yang padat makna. Dan narasi ini pun kehabisan kata untuk meneruskan cerita, karena tidak mampu mencerna kemana terbangnya burung manyar yang kini semakin jarang terlihat oleh mata. Salam Tangguh, Seduluran Sak Lawase. [eBas/migguPahing-30072023]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 26 Juli 2023

JAMBORE FORUM PRB AJANG BERBAGI INFORMASI ANTAR PEGIAT PRB

 Tidak ada salahnya jika jambore dimaknai sebagai kegiatan bersama antar pegiat pengurangan risiko bencana (PRB), yang dilakukan di alam bebas, sebagai wahana berkomunikasi tukar informasi, dan berbagi pengalaman terkait dengan praktik baik pelaksanaan program PRB dimasing-masing daerah. Untuk kemudian saling mengadopsinya, dengan konsep ATM (amati, tiru dan modifikasi).

 Sementara itu tujuan jambore adalah untuk mempererat persaudaraan antara pegiat PRB, serta saling belajar memahami budaya, dan kearifan lokal yang berlaku di daerah lain. Selain itu, jambore juga menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan peserta dalam berbagai bidang, seperti leadership, teamwork, dan life skill, yang mendukung kegiatannya.

 Untuk itulah pengurus Forum PRB Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan jambore yang menjadi agenda berkala dan ditunggu-tunggu banyak pihak. Semua keperluan jambore dipersiapkan dengan cermat agar tidak mengecewakan para pihak.

 Termasuk (mungkin) panitia menyiapkan stand pameran yang menjual souvenir berupa kaos, cemilan khas daerah, dan lainnya sebagai kenangan Jambore F-PRB tahun 2023 di Coban Putri, bagian wilayah administratif Kota Batu..

 Panitia pun bekerja penuh semangat dan saling bahu membahu demi suksesnya acara jambore yang bergengsi. Karena tidak mudah “mengorkestrasi” kegiatan yang melibatkan banyak pihak dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi dan karakter berbeda. Apalagi agenda yang akan dibahas sangat penting untuk perjalanan Forum PRB ke depan.

 Ya, agenda yang ingin dibahas diantaranya adalah pelibatan seluruh elemen pentahelix dalam PRB yang harus semakin nyata, bukan hanya seremonial belaka. Sehingga pola koordinasi antar aktor semakin nyata untuk meningkatkan efektivitas kerja-kerja kemanusiaan dalam membangun ketangguhan masyarakat.

 Termasuk meningkatkan peran desk relawan agar semakin efektif dan efisien dalam mengelola potensi relawan saat masa tanggap darurat, untuk menghindari tumpang tindih peran karena terjadinya penumpukan relawan hanya di satu titik.

 Mungkin perlu juga dipikirkan oleh panitia bahwa saat focus group duscussion juga membahas tentang perlunya agenda pembinaan kepada komunitas yang menjadi mitranya dalam bentuk peningkatan kapasitas dan wawasan agar tidak “mundur alon-alon” kerena merasa tidak “disentuh”, apalagi dilibatkan dalam kegiatan.

 Ya, sesungguhnyalah jumlah mitra Forum PRB itu banyak sekali, namun nyatanya yang terlibat dan dilibatkan dalam kegiatan hanya beberapa saja, lainnya hanya makmum, menunggu di tikungan menanti undangan dan kesempatan. Sehingga muncul istilah 4-L (loe lagi loe lagi). model dominasi minoritas inilah yang perlu dicarikan solusi agar terjadi pemerataan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan.

 Jika memungkinkan, perlu juga mengadakan evaluasi program untuk melihat faktor penghambat dan pendukung keterlaksanaan program yang telah disusun dan disepakati bersama. Ini penting untuk meminimalisir munculnya “program dadakan” yang tidak pernah dibahas bersama dalam sebuah rapat pengurus.

 Sebelum acara Jambore ditutup, ada baiknya juga disepakati masalah suksesi kepemimpinan, yang menurut aturan harus dilaksanakan di tahun 2023, yang bershio kelinci air. Wacana suksesi ini hendaknya digulirkan agar masing-masing calon segera berbenah diri menyusun strategi untuk menggantikan mBah Dharmo dengan segala prestasinya selama menjadi Sekjen F-PRB Jawa Timur periode 2020 - 2023.

 Semoga kawan-kawan pegiat PRB selalu dalam kondisi sehat jiwa raga dan dompetnya, sehingga di arena jambore nanti dapat membeli aneka souvenir yang dijajakan sebagai kenangan yang terindah.

 Sampai bertemu di Coban Putri, tempat diselenggarakannya jambore F-PRB yang rencananya akan dihadiri oleh orang nomor satu di Jawa timur, Khofifah Indar Parawansa, dan sederet orang penting lainnya. Termasuk kehadiran pejabat teras BNPB. Sukses pelaksanaan, sukses kegiatan, sukses semuanya. F-PRB Jatim Jaya, bermartabat selamanya. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/KamisWage-27072023]

Kamis, 20 Juli 2023

RAPAT PERSIAPAN KONGRES SRPB JATIM UNTUK MEMILIH PENGURUS BARU

Menurut Peraturan yang disepakati, tahun 2023, yang bertepatan dengan tahun politik, sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana (SRPB) Jawa Timur, wajib menggelar kongres untuk memilih pengurus baru. Ya, pergantian pengurus merupakan hal wajar di dalam organisasi yang dinamis.

Untuk itulah, Dian Harmuningsih, sebagai koordinator SRPB Jatim, mengadakan rapat pengurus secara daring pada hari Kamis (20/07/2023). hal ini demi efisiensi waktu dan tenaga. Mengingat kebanyakan pengurusnya berdomisili di luar Kota Surabaya.

Dian, yang menjadi koordinator dua periode ini, diawal sambutannya mengatakan bahwa, untuk pelaksanaan kongres kali ini BPBD Provinsi Jawa Timur kemungkinan besar tidak memberikan dukungan dikarenakan banyaknya kegiatan mendadak yang menguras anggaran. Seperti banyaknya kejadian bencana di beberapa daerah di Jawa Timur.

“Saya sudah bertemu salah satu kasie di bidang pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur, untuk konsultasi penyelenggaraan kongres beberapa hari yang lalu. Untuk itulah kita harus mencari alternatif pencarian dana agar kongres tetap berjalan sesuai aturan. Jika perlu, kongres secara daring juga menarik, namun tetep diupayakan luring,” Katanya.

Rapat tersebut dihadiri oleh seluruh pengurus SRPB Jawa Timur. Ada yang berhalangan hadir dikarenakan kesibukan. Rapat tersebut merupakan langkah awal dalam melakukan persiapan kongres, yang di dalamnya ada pemilihan pengurus. Agar tidak terjadi kemandegan roda organisasi.

Biasanya, Proses pemilihan pengurus itu dilakukan secara bertahap. Dimulai dari persiapan, sosialisasi, penyampaian visi misi bakal calon koordinator, hingga pada tahap pemilihan yang dilakukan secara demokratis. Ini penting, agar tidak terjadi penambahan periode seperti yang akhir-akhir ini sering diwacanakan untuk kepentingan tertentu, melalui berbagai media.

Wawan, wakil koordinator SRPB mengatakan agar peserta webinar memanfaatkan pertemuan ini untuk menyampaikan apa saja terkait dengan perjalanan SRPB yang sejak pandemi covid-19, banyak agenda yang tertuda.

 “Silahkan kawan-kawan mengutarakan saran, usulan dan sejenisnya untuk menjadi bahan kongres sekaligus perbaikan kinerja organisasi dimasa depan, pasca kongres,” Ujarnya.

Sementara, pengurus lain yang enggan disebut namanya, berharap agar semua pengurus mencoba menghubungi komunitas relawan yang menjadi anggota mitra SRPB untuk diajak kembali meramaikan kongres yang ke 3 tahun 2023. Sukur-sukur juga menanyakan ketidak aktifannya dalam berkegiatan dengan SRPB. Ini penting untuk bahan evaluasi.

“Keberadaan bidang humas dan kemitraan juga perlu sesering mungkin memberitakan segala kiprah SRPB lewat media sosial yang dimiliki. Seperti agenda Srikandi Siaga Bencana (SSB), program SPAB, dan pelatihan fasilitator SPAB, serta agenda lain agar diketahui oleh anggota mitra dan khalayak ramai,” Pungkasnya. [eBas/JumatPon-21072023]

 

 

 

 

 

Minggu, 16 Juli 2023

PERLU ADA PRA KONGRES AGAR ACARANYA BERJALAN SUKSES

Sesuai ketentuan yang berlaku, tahun 2023, yang juga disebut tahun politik, SRPB Jatim harus menyelenggarakan kongres yang ke 3 dalam rangka pergantian pengurus. Ya, tahun ini masa bakti kepengurusan SRPB Jatim tahun 2020 - 2023 telah paripurna.

Dengan demikian, sebagai organisasi yang dinamis dan taat azas, maka estafet kepengurusan SRPB Jatim merupakan sunatullah. Tidak ada upaya penundaan kongres, sebagai upaya menambah masa jabatan pengurus untuk beberapa periode lagi.

Sungguh itu tidak boleh terjadi, apapun kondisinya, karena menyalahi aturan dan mendzolimi ketentuan yang disepakati bersama, serta tidak layak menjadi panutan komunitas yang menjadi mitranya.

Sebelum kongres SRPB Jatim digelar, ada baiknya pengurus mengadakan rapat pra kongres yang dihadiri oleh seluruh mitranya, sebagai upaya mengkondisikan semua mitra yang terlibat, sekaligus memberi semangat kepada mitra yang selama kepengurusan tidak aktif dalam agenda SRPB Jatim. Bahkan mungkin ada yang sudah lupa karena jarang diajak/dilibatkan dalam kegiatan.

Dalam rapat pra kongres (bisa via zoom), diantaranya dapat diisi dengan menjelaskan kembali tentang visi misi organisasi, serta tujuan didirikannya SRPB Jatim oleh kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur. Siapa tahu ada gagasan cerdas untuk mereaktualisasi visi misi sesuai jamannya. Sehingga nanti dapat dijadikan bahasan dalam kongres.

Isue yang berseliweran dari berbagai pihak (yang mungkin kurang dapat dipertanggungjawabkan karena mengandung unsur subjektivitas), mengatakan bahwa sejak musim covid-19 di medio awal 2020, banyak agenda yang dijadwal ulang. Seperti kegiatan Arisan Ilmu Nol Rupiah, yang menjadi program “iconic” SRPB Jatim, harus dihentikan karena adanya social distancing sebagai upaya memutus perkembangan covid-19 yang telah memangsa ribuan nyawa.

Begitu juga persoalan komunikasi antar personil yang mengalami hambatan karena kesibukan dan “gesekan” tipis-tipis. Masalah keterlibatan mitra dalam kegiatan, yang mandiri maupun yang tidak mandiri, juga menjadi gosip yang menyesakkan dada. Termasuk isue kedekatan dalam pelibatan personil.

Hal ini terjadi (mungkin) karena belum semua mitra memiliki kapasitas yang memadai untuk dilibatkan dalam sebuah kegiatan, dan hal ini memang harus dilakukan agar kegiatannya bermutu dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sesungguhnyalah, isue-isue yang berkembang secara sepihak dan subjektif itu juga terjadi di hampir semua organisasi. Biasanya isue yang berbau “like and dislike” akan mereda dengan sendirinya jika sudah ada komunikasi yang hangat diantara yang berselisih paham.

Isue-isue semacam inilah di dalam rapat pra kongres disampaikan secara transparan untuk kemudian dicarikan jalan keluarnya secara bersama-sama berbasis win-win solution. Sehingga saat kongres, semua mitra SRPB Jatim akan hadir untuk membahas nasib organisasi yang akan dinahkodai oleh pengurus baru yang dipilih dalam kongres ke-3 tahun 2023.

Siapakah calon pengurus yang potensial duduk di kepengurusan yang baru ?. idealnya sudah muncul dengan segala dinamikanya, untuk kemudian di rapat pra kongres menjadi ajang kontestasi rencana aksi.

Sayangnya semua pihak enggan menampilkan potensinya, namun siap jika ditunjuk. Inilah salah satu bukti kesantunan semua anggota SRPB Jatim, yang tidak pernah gegabah dengan amanah. Bersikap merendah namun siap menerima perintah.

Bismillah, selamat mengadakan rapat pengurus, kemudian dilanjutkan dengan rapat-rapat berikutnya untuk menyiapkan “ubo rampe” pelaksanaan kongres ke-3 tahun 2023. Ini bisa diselenggarakan secara daring maupun luring. Tergantung ada tidaknya anggaran pendukung, dari yang mendirikan SRPB Jatim. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SeninWage-17072023]