Kamis, 04 Januari 2024

JAMAAH LC DAPAT SURAT CINTA DARI KI REBO

    Konon, menurut penanggalan Cina, tahun 2024 ini bershio Naga Kayu, yang dipercaya membawa energi yang kuat dan dinamis. Naga Kayu juga dipercaya kreatif, fleksibel, penuh inovasi, bijaksana, cerdik dan adaptif.

    Semoga kawan-kawan komunitas yang ada di Jawa Timur, khususnya Surabaya, memiliki karakter yang dimiliki oleh Naga Kayu. Sehingga semua program  yang akan dilaksanakan selama tahun 2024 dapat dirasakan oleh banyak pihak.

    Begitu juga dengan Jamaah LC (Lorong eduCation), yang berharap keberadaannya semakin berdampak kepada para penerima manfaat. Paling tidak program-program yang pernah dilaksanakan, dapat menginspirasi program 2024.

    Di penghujung tahun 2023, Jamaah LC mendapat kepercayaan dari Asar Humanity, Jakarta untuk membantu secara suka rela mendistribusikan makanan ala korea. Seperti, Topokki, Pancake, Tepung Roti, Abon, dan bumbu masak. Jumlahnya banyak, dan tidak mungkin dikerjakan sendiri oleh Jamaah LC.

    Untuk itulah Jamaah LC menggandeng beberapa komunitas, diantaranya, LMI, RBES, INAVOR, BTI, dan SER, yang secara sukarela membantu membagikan kepada masyarakat yang layak menerima bantuan.

    Alhamdulillah, hari selasa, tanggal 2 Januari 2024, semua barang sudah terdistribusikan. Tinggal beberapa yang belum diambil karena kendala kendaraan yang belum siap. Sebuah kerja sama non profit yang mencerminkan nilai gotong royong, terjalin apik tanpa ada dusta diantara kita.

    Ki Rebo, petinggi Surabaya Emergency Respon (SER), yang berkunjung ke basecamp LC (Ki Rebo menyebutnya Posko), memberikan sebuah surat cinta untuk Jamaah LC. Dari deretan kata yang teruntai dalam kalimat, jelas tersirat pesan mendalam untuk keberadaan Jamaah LC ke depannya.

    Kurang lebih inilah isi surat cinta dari Ki Rebo;   Kemarin pagi, Selasa 2 Januari 2024. Saya sempat mengunjungi Posko LC untuk nyruput kopi ireng pait panas yang diudek sepenuh hati oleh saudaraku, Alfin.

    Kami berempat sekedar ngobrol dan mengingat-ingat kembali keberadaan posko dengan segala kegiatannya. Posko sebagai tempat berkumpulnya rekan-rekan seperjuangan di kerelawanan dan kemanusiaan. Dari sekedar tempat bertukar informasi, berbagi pengalaman dan mempererat silaturahmi, sampai membuat aksi sosial dan upaya peningkatan kapasitas relawan dalam upaya pengurangan risiko bencana dan penanggulangan bencana.

    “Memang naif aku bercerita ini, tetapi akan menjadi bagian sejarah hidup bahwa ada tempat yang selalu menjadi jujugan relawan untuk ngobrol dan ngopi (nyruput- kataku),” Kata Ki Rebo, yang nama aslinya Prijoko Utomo.

    Sambil menikmati sruputan kopi ireng pait panas, aku masih sempat ngobrol bareng Alfin dan Wahid, walau sesaat kemudian mereka berdua ijin keluar karena ada keperluan penting.

    Kini tinggal berdua dengan sesepuh LC, Pakde Ebas. Kami ngobrol bebas. Cerita demi cerita, meluncur tanpa struktur untuk berbagi pengalaman, dan banyak hal berkaitan dengan aktivitas relawan yang bergerak di bidang kemanusiaan. Termasuk menyinggung kemungkinan membuat kegiatan kolaboratif sepanjang tahun politik yang rawan konflik.

    “Posko LC jadilah saksi dan sejarah bagi teman-teman Relawan. Siapapun dia, untuk menerima ilmu, dan berbagi ilmu, apapun bentuk dan caranya. Terima kasih Mas Ebas dan teman-teman LC. Aku pulang,” Begitulah Ki Rebo memungkasi surat cintanya yang penuh makna. Tentu dalam memaknai surat cinta Ki Rebo akan sangat beragam, tidak mungkin seragam.

    Yang jelas, kita telah memasuki tahun baru. Tentunya masing-masing komunitas  akan menyusun rencana kegiatan yang disepakati bersama secara internal, maupun kegiatan kolaboratif lainnya dengan beberapa pihak.

    Sungguh tidak diduga, di awal tahun politik ini, ditandai dengan gempa Sumedang, serta banjir bandang, dan banjir Rohingnya di beberapa daerah di Sumatra. Tentu yang paling sibuk adalah pemerintah yang membidanginya, dibantu lembaga/yayasan/organisasi kemanusiaan yang punya duit no limit.

    Eh, apakah masalah manusia perahu dari rohingnya yang terdampar di berbagai pesisir Sumatra dan yang telah bertahun-tahun berdiam di rumah penampungan pengungsi  itu juga masuk ke ranah bencana?. Bagaimana penanganannya ?.

    Sementara, beberapa komunitas relawan dari berbagai daerah, baik yang punya anggaran sendiri, maupun yang digerakkan oleh instansi yang mau membiayai, telah beraksi di Sumedang. Bahkan ada yang berinisiatif memunculkan hashtag #SumedangMemanggil.

    Haruskah komunitas relawan dari daerah lain (yang jauh dari Sumedang), berbondong-bondong nyerbu lokasi untuk beraksi ?. Memangnya di Kota Sumedang dan sekitarnya, tidak ada komunitas relawan yang siap turun tangan membantu BPBD setempat ?. Atau, dikarenakan gempa itu sifatnya lokal, sehingga dianggap tidak perlu mendatangkan bala bantuan relawan antar lokal. Tidak tahulah, semua sesuai aturan pemerintah daerah setempat. 

    Disinilah pentingnya membangun koordinasi antara komunitas relawan dengan BPBD terkait dengan mobilisasi relawan untuk nyerbu lokasi bencana. Ingat,  dalam penanggulangan bencana, keberadaan relawan itu hanyalah pemain pembantu. Pemain utamanya ya pemerintah (dalam hal ini BPBD).

Sungguh, atas nama panggilan jiwa, pastilah semua relawan tergoda untuk pergi ke lokasi "mendharma baktikan tenaganya", menolong sesama yang terkena bencana. Namun apa daya jika “dompet” tidak mendukung. Artinya, relawan 'amatir' perlu dana untuk dapat ke lokasi bencana. Tanpa dana yang mencukupi, jelas relawan hanya akan gigit jari. Lain lagi dengan relawan 'profesional' yang tergabung dalam lembaga/yayasan/organisasi yang memiliki anggaran kebencanaan,     

Beberapa waktu yang lalu ada komunitas relawan yang dengan jumawa berteriak 'kami siap digerakkan kemana saja'. Eh ternyata, dibalik kata "digerakkan" itu adalah minta disediakan dukungan fasilitas untuk pergi ke lokasi bencana. Tanpa itu, jelas menolak dengan berbagai alasan. Yen ngunu yo akeh tunggale mas bro.

Mungkinkah surat cinta untuk Jamaah LC dari Ki Rebo ini ada kaitannya dengan kejadian di awal tahun ?. ya monggo saja dimaknai sendiri. Karena Ki Rebo hanya bilang bahwa di Basecamp Jamaah LC merupakan tempat berbagi ilmu. Ya, ilmu apa saja termasuk masalah koordinasi, komunikasi dan informasi.

Terimakasih Ki Rebo atas kiriman surat cintanya. Semoga anggota Jamaah LC dapat menterjemahkan surat Ki Rebo dalam rangkaian kegiatan di tahun yang bershio Naga Kayu. Nyuwun pangestunipun Ki. [eBas/KamisKliwon-04012024]

 

 

  

 

    

 

 

Selasa, 02 Januari 2024

MALAM TAHUN BARU 2024 DI BASECAMP LC SURABAYA

    Hari minggu legi (31/12/2023) adalah hari terakhir tahun 2023. Banyak komunitas yang bersiap merayakannya dengan berbagai acara, yang dikemas dengan tema “perpisahan tahun 2023 dan selamat datang tahun baru 2024”. Bahkan ada komunitas yang sudah melakukannya bebera hari sebelumnya, karena jauhnya lokasi yang dijadikan tempat malam tahun baruan.

    Tempat-tempat perkemahan (camping ground), baik itu di daerah pegunungan, pantai dan hutan, dipenuhi oleh berbagai komunitas. Termasuk tempat pariwisata pun, tak kalah ramainya. Semua itu demi “merayakan” datangnya tahun baru 2024, yang mana, nanti di bulan februari bangsa indonesia “mencoblos” presiden anggota dewan pilihannya.

    Tentu saja, komunitas yang dapat melakukan semua ini dapat dipastikan memiliki waktu luang dan sehat jiwa raga, serta anggaran yang cukup untuk mendukung kemeriahan agendanya. Diantaranya anggaran untuk transportasi, akomodasi dan masuk lokasi. Belum lagi anggaran tak terduga (emergency) juga harus ada agar tidak celaka.

    Gelaran menyambut tahun baru sangat beragam, sesuai selera. Yang jelas mereka bergembira menyambut tahun baru dengan harapan baru pula. Ada juga yang melakukan evaluasi kegiatan selama tahun 2023 untuk kemudian merencanakan kegiatan tahun 2024 yang lebih baik lagi (sesuai hasil evaluasi).

    Ada juga yang hanya berkumpul sambil bakar-bakar (termasuk bakarkenangan ?). Ya, bakar jagung, singkong, ayam, roti dan bakar sate, untuk dinikmati bersama. Tidak lupa wedang kopinya agar tercipta suasana riang gembira, sejenak melupakan rutinitas hidup harian

    Begitu juga dengan Jamaah LC. Tidak ada agenda khusus yang mewajibkan anggotanya untuk bertahun baruan bersama di basecamp. Banyak anggotanya yang bergabung dengan komunitas lain, menikmati malam tahun baru di berbagai lokasi dengan aneka  atraksi yang menarik hati. Berbahagialah bagi mereka yang masih diberi kesempatan oleh Tuhan.

    Sementara, beberapa Jamaah LC, cukup menikmati malam tahun baru di basecamp saja, menikmati apa yang ada, bukan mengada-ada. Yang penting semua bahagia. Dibawah komando Cak Bogank, prosesi bakar ikan dan sosis, lancar tanpa kendala. Sementara mas Erick ngurusi bagian dapur. Sedang lainnya membantu apa yang perlu dibantu.

    Nasi, sambel, ikan bakar, dan kerupuk menjadi menu utama yang disantap bersama anggota Jamaah LC menjelang pergantian tahun. Tanpa harus rebutan, satu persatu bergantian mengambil konsumsi sesuai porsi masing-masing pribadi.

    Sambil nyemil kerupuk upil, mereka menikmati lagu lewat sound system yang dibeli secara patungan. Mereka juga berkaraoke ria secara keroyokan. Semua senang, semua bergembira memasuki awal tahun 2024 tanpa harus kemana-mana, yang penting bahagia.

    Momen pergantian tahun memang menjadi waktu yang tepat untuk evaluasi diri dan organisasi, sekaligus menorehkan harapan dan resolusi untuk menjadi lebih baik di tahun 2024. Begitu juga dengan seluruh anggota Jamaah LC, tentunya juga punya harapan.

    Dengan penuh semangat dan harapan, mari kita sambut tahun baru ini sebagai lembaran baru dalam kehidupan Jamaah LC. Di mana setiap halaman dipenuhi dengan kisah-kisah keberhasilan dalam kerja-kerja kemanusiaan yang bermanfaat bagi sesama, sebagai sebuah kenangan yang indah.

    Selamat datang tahun 2024, Semoga di tahun ini anggota Jamaah LC menjadi lebih baik. Semoga apapun yang diimpikan oleh masing-masing anggota Jamaah Lc dapat terkabul. [eBas/SelasaPon-02012024]





 

  

Rabu, 20 Desember 2023

JAMAAH LC BUKAN TEMPATNYA LADY COMPANEON

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan terlibat dalam kepanitiaan Annniversary FORMALITAS 2023 yang ke-5, bagian seksie keamanan. Pesertanya banyak, datang dari berbagai komunitas dengan segala gaya dan penampilan yang khas sebagai pecinta kegiatan di alam bebas. Walau terkesan sangar, tapi mereka sangat baik, grapyak semanak, saling sapa sambil tersenyum penuh keakraban.

Begitu pula saat saya di Mushola yang ada di kawasan Bernah de Vallei, lokasi yang dipilih untuk memeriahkan acara ulang tahun. Sambil nunggu giliran sholat, saya coba menyapa mereka.

“Kenalkan saya Ebas dari Jamaah LC Surabaya,” Kata Saya sambil mengulurkan tangan.

“Lho, memangnya LC ada jamaahnya to?,” Katanya penuh keheranan.

“Asik ini, LC nya cantik-cantik ya, bisa dibooking gak,”Tanya yang lain.

Lho, saya malah bingung dengan perkataan mereka. Kok gak nyambung ya, pasti ada yang salah dan perlu penjelasan agar tidak salah paham. Benar, ternyata mereka menganggap singkatan LC pada komunitas saya itu adalah sebuah profesi yang sangat melekat dengan dunia hiburan malam.

Mereka mengira LC merupakan singkatan dari ‘Lady Companion’. Yaitu, perempuan yang tugasnya menemani konsumen bernyanyi di tempat karaoke. Bahkan, jika keduanya merasa cocok, biasanya berlanjut ke hubungan yang pribadi sifatnya. Tidak jarang diteruskan ke ranjang setelah ber-karaoke-ria.

Waduh, bahaya. Ini harus dijelaskan agar mereka tidak beranggapan Jamaah LC sebagai tempat berhimpunnya para pemandu karaoke. Sungguh, tidak ada hubungannya sama sekali.

LC di sini singkatan dari “Lorong eduCation”. Jadi, secara singkat Jamaah LC merupakan tempat berkumpulnya berbagai pihak untuk ngobrol bareng sambil ngopi, penuh suka ria. Materi obrolan bisa apa saja tanpa ada batasan, yang penting tidak menyinggung SARA dan diminati bersama.

LC juga sebagai tempat mempererat tali silaturahmi sekaligus media memperluas jejaring kemitraan dan pertukaran gagasan. Masing-masing dipersilahkan melontarkan gagasan dengan bebas merdeka, disertai argumentasi dan solusi.

Jika lontaran gagasan itu dianggap menarik, maka akan dibahas bersama sampai muncul sebuah rencana kegiatan yang dapat diikuti oleh banyak pihak. Kegiatan itu, diantaranya dapat berupa aksi sosial santunan kepada kaum dhuafa, kerja bakti membersihkan sampah dan penaman pohon.

Juga mengadakan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas relawan, sesuai minat dan kemampuannya. Bahkan juga terlibat membantu pihak lain dalam melaksanakan program kemanusiaan. Semuanya dilakukan dalam suasana riang gembira tanpa tekanan, tanpa utangan, karena dapat mengganggu stabilitas pertemanan.

Sementara, jika gagasan yang dilontarkan itu dianggap kurang menarik atau terlalu sulit untuk direalisasikan, maka gagasan itu hanya akan menjadi bahan obrolan saja tanpa kelanjutan, sekedar menambah wawasan.

Begitulah keberadaan Jamaah LC, yang sampai saat ini tetap istiqomah tanpa memiliki struktur organisasi yang jelas. Karena semua anggota Jamaah LC memegang prinsip, yang penting ikhlas dan saling menguatkan.

Jamaah LC sangat terbuka bagi siapa saja untuk membangun kegiatan kolaboratif, terkait upaya meningkatkan kapasitas relawan kemanusiaan (bidang penanggulangan bencana). Ya, siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke basecamp Jamaah LC, diharapkan membawa stiker logo organisasinya. untuk ditempelkan sebagai kenangan yang indah.

Semoga dengan paparan singkat ini, semua pihak semakin paham tentang apa itu Jamaah LC dengan segala kiprahnya. Sekedar diketahui bahwa dunia perbankan juga memiliki istilah L/C (Letter of Credit).

Yaitu,  sebuah instrumen yang dikeluarkan oleh sebuah bank atas nama salah satu nasabahnya, yang menguasakan seseorang atau sebuah perusahaan penerima instrumen tersebut menarik wesel atas bank yang bersangkutan atau atas salah satu bank korespondennya bagi kepentingan, berdasarkan kondisi-kondisi/ persyaratan-persyaratan yang tercantum pada instrumen.

Percayalah, Jamaah LC tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Letter of Credit  yang di beberapa kasus, dapat membuat kepala sakit karena dibelit urusan duit yang rumit. Salam Waras, seduluran sak lawase. [eBas/KamisLegi-21122023]  

 

 

Jumat, 15 Desember 2023

MUSIM HUJAN WAKTUNYA MENGHIJAUKAN HUTAN, GUNUNG DAN PANTAI

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 11 Desember 2023, diperingati sebagai hari gunung internasional. Peringatan ini merpakan upaya menyadarkan kita semua akan pentingnya menjaga pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati yang  ada di gunung (termasuk dihutan dan pantai).

Konon, tema hari gunung internasional tahun ini adalah "Memulihkan ekosistem pegunungan", yang harus didukung oleh kebijakan politik, penelitian ilmiah, dan dukungan dana operasional.

Hal ini sebagai upaya mempercepat penghijauan dan mencegah penggundulan gunung untuk usaha ekonomi dengan mengabaikan potensi bencana (termasuk rusaknya habitat flora fauna), yang akan muncul akibat perubahan tata guna lahan.

Dalam peringatan ini, berbagai komunitas di seluruh dunia diharapkan berkontribusi untuk menyelamatkan gunung dengan segala isinya. Salah satunya dengan melakukan penghijauan diawal musim penghujan.

Ya, mereka tidak  hanya menghujaukan gunung saja. Namun  juga menghijaukan area hutan dan lahan kosong untuk mengurangi terjadinya kekeringan (kekurangan air) dan bahaya banjir longsor. Serta menanami pantai dengan mangrove, cemara udang, waru, sono laut, dan tumbuhan lain yang cocok di area pesisir,

Salah satu contoh adalah komunitas sahabat giri wana (SGW), yang bermarkas di Surabaya barat. Di awal musim penghujan ini, mereka telah memulai ”merawat” alam bekerja sama dengan berbagai pihak, menanam pohon untuk ‘melestarikan’  kehidupan. Tidak lupa mereka juga mendiskusikannya sambil nyruput kopi dan menikmati semilirnya malam di alam terbuka.

Jika memungkinkan, mereka juga dapat melakukan upaya memahamankan masyarakat melalui edukasi dan promosi tentang pentingnya upaya pelestarian lingkungan hidup untuk mengurangi risiko bencana. Seperti, upaya mengatasi deforestasi, mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan, serta mengurangi dampak aktivitas manusia yang merugikan ekosistem gunung, hutan dan pantai.

Dengan demikian, setiap orang dapat menjadi bagian dari upaya melindungi keanekaragaman hayati serta ekosistem di gunung, hutan, dan pantai. Termasuk melestarikan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Sementara, Cak nDan dengan komunitasnya di Kota Malang, yang telah mendedikasikan diri untuk ‘merawat’ alam dengan caranya sendiri. Konon, hasilnya juga mulai dirasakan oleh berbagai pihak.

Begitu juga dengan komunitas lain yang tidak disebut disini. Mereka, dengan kemampuannya, juga berbuat untuk pelestarian alam.

Ya, mereka adalah pekerja sunyi yang luput dari pemberitaan media. Bahkan kelakuan mereka yang memberi manfaat bagi kehidupan, enggan dipublikasikan. Semua itu, konon untuk menjaga keikhlasan sebagai ladang mencari pahala-NYA.

Musim hujan telah datang di penghujung tahun 2023, waktunya para pegiat alam dan pecinta lingkungan beraksi dengan penuh dedikasi dan loyalitas tanpa batas, menghijaukan gunung, dan hutan yang beberapa waktu lalu kering kerontang, meranggas dan terbakar oleh panasnya kemarau.

Mereka juga merawat pohon bakau  yang menjadi tempat hidup biota laut sekaligus penahan ombak alami agar tidak terjadi banjir rob, abrasi serta intrusi, yang membahayakan kehidupan. Bismillah, mari kita bersama merawat lingkungan alam sesuai dengan kemampuan masing-masing. Salam Lestari. [eBas/JumatKliwon-15122023]  




Senin, 11 Desember 2023

YANG TERCATAT DARI ACARA ANNIVERSARY FORMALITAS KE-5 TAHUN 2023

Seperti tahun tahun yang lalu, forum bersama lintas komunitas (FORMALITAS) selalu mengadakan acara “slametan” agar keberadaan forum sebagai wadah berbagai komunitas yang bergerak di bidang sosial, dan kemanusiaan semakin kompak dalam menjalankan programnya. Termasuk meningkatkan kapasitas anggotanya, agar dapat berdampak positif bagi sesama.

“slametan” itu dikemas dalam acara anniversary formalitas ke-5. Ditangani oleh sebuah kepanitiaan yang terdiri dari berbagai komunitas. Ketuanya Silvia, dari komunitas pecinta kopi ketinggian. Dibawah arahannya, semua panitia yang ditunjuk bekerja sesuai arahan. Inilah (mungkin), yang menjadikan acaranya sukses luar biasa tanpa friksi yang berarti.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, sabtu dan minggu, tanggal 9 – 10 Desember 2023, diikuti oleh berbagai komunitas dengan mengibarkan bendera kebanggaannya. Sekitar 600 peserta datang dari berbagai daerah, penuh sukacita turut memeriahkan acara yang dikemas apik oleh panitia. 

Ada penampilan tari remo, tari kreasi baru, dan permainan gitar akustik. Gelaran ini sebagai upaya menggali bakat dalam berkesenian. Ada juga acara khas para pegiat alam ini yang wajib ada dalam setiap acara. Yaitu makan bersama beralaskan daun pisang. Sebagai bentuk paseduluran, kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan.

Tidak lupa komunitas Famili Satwa Sidoarjo, ambil bagian memamerkan beberapa hewan piaraannya. Diantaranya, Ular, Musang, Tokek, Iguana, dan burung hantu. Pameran satwa ini dalam rangka mengedukasi khalayak untuk menumbuhkan rasa cinta fauna. 

Begitu juga Arul Lamandau dari Komunitas Petarung Kehidupan. Didukung oleh Komunitas Leewung (Lelaku endah elok wong urip jelajah gunung) dan Arra Outdoor, menggelar program dulkelas dengan sasaran anak-anak dengan metode belajar sambil bermain. Sehingga anak-anak punya kesan tersendiri mengikuti orang tuanya hadir dalam acara rutinan ini. Alangkah baiknya jika program dulkelas dikolaborasikan dengan family satwa sidoarjo dalam sebuah kegiatan.

Konon, acara yang digelar di camping ground Bernah de Vallei, Pacet, Mojokerto, dengan jargon “guyub rukun sak lawase” ini tergolong istimewa. Acaranya tidak hanya kumpul bersama melepas kangen 'bersulang cerita' pengalaman, sambil menikmati hiburan semata. Namun juga diisi dengan kegiatan donor darah, pemberian santunan kepada anak yatim hasil donasi anggota FORMALITAS, serta kehadiran Yayasan PANNA yang memberikan sosialisasi tentang bahaya narkoba dan pemeriksaan urine secara gratis.

Termasuk pemberian kesempatan kepada beberapa komunitas membuka lapak, menjadikan acara ini semakin ramai penuh warna. Apalagi ada yang membagikan minuman gratis. Belum lagi pembagian door prize yang jumlahnya banyak, dengan hadiah utama sebuah kulkas. Sungguh, perayaan yang digelar dipenghujung tahun  bershio kelinci air ini sangat istimewa. 

Ya, baru tahun inilah ada door prize berupa kasur busa  dan sebuah kulkas. Apa ini karena ketua pelaksananya seorang ibu yang mumpuni, seperti tokoh wayang Srikandi, yang trengginas dalam segala hal. Sat set, wat wet, bras bres beres. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SelasaPahing-12122023]

Kamis, 30 November 2023

ARISAN ILMU BERGULIR KEMBALI DI PENGHUJUNG TAHUN BERSHIO KELINCI 2023

Alhamdulillah, Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINR) akan digelar kembali. Rencananya kegiatan ikonik SRPB Jatim ini akan menempati Ruang Siaga, Kantor BPBD Provinsi Jawa Timur, pada hari minggu pahing (17/12/2023). Pesertanya dibatasi, hanya 100 orang saja. Hal ini terkait dengan tempat.

Ya, ditengah kesibukan pengurus yang padat terkait dengan penghidupannya, mereka masih sempat menjalankan program gratisan sesuai kesepakatan. Ini pertanda bahwa pengurus tetap konsisten terhadap pelaksanaan program yang telah disepakati bersama secara terbuka, tidak slinthutan.

Disini pengurus yang membidangi program AINR patut diacungi jempol. Karena mereka tetap istiqomah melaksanakan AINR di setiap bulannya. Seperti diketahui, sejak kelahirannya, AINR memang dikerjakan secara mandiri dengan metode saweran antar pengurus dan anggota mitra berbasis SUSU TANTE (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan). Semua ditanggung bersama semampunya. Saling menguatkan tanpa meninggalkan. Ya begitulah, AINR belum pernah mendapat cipratan proyek seperti yang lainnya.

Ya, sejatinya pengurus SRPB Jatim tidak hanya nggarap program yang ada duitnya saja. Namun juga tetap konsisten melaksanakan program gratisan secara bersama-sama dengan penuh keadilan. Alhamdulillah, selama ini semuanya belum ada yang terkontaminasi Virus Cuan. Sehingga tidak ada yang hanya nggarap program berduit saja, dan berusaha menghindari melaksanakan program gratisan dengan berbagai alasan. Semoga hal baik ini tetap terpelihara selamanya. Ingat kata orang bijak, gak usah rebutan rejeki. Karena rejeki tidak pernah tertukar. Tenang saja semua ada waktunya.

Untuk AINR #52 ini mengambil tema “Post Traumatic Stress Disorder”, yang akan diampu oleh Ahmad Guntur, seorang dosen yang baik hati dari STIKES Widyagama Husada Malang. Tentu, sesuai konsep nol rupiah, Pak Dosen ini tidak diberi honor serupiahpun. Bahkan dia harus mengeluarkan kocek sendiri untuk biaya transportasi dan akomodasi selama perjalanan Malang Surabaya pulang pergi.

Alhamdulillah, ternyata masih ada orang pandai yang bersedia berbagi ilmu secara gratisan dalam rangka peningkatan kapasitas relawan. Semoga menjadi ladang pahala yang mbarokahi untuk jenjang karier Pak Dosen.

Menurut literatur, Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stres pasca trauma adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa traumatis. Misalnya, pelecehan seksual, bencana alam, peperangan, atau kecelakaan. Sungguh, pengetahuan ini sangat berguna bagi relawan yang sering ikut turun ke lokasi bencana mendampingi para korban (penyintas) dengan segala deritanya.

Paling tidak, materi ini akan menambah wawasan ketika melakukan Layanan Dukungan Psikososial. Hal ini seperti yang dikatakan oleh dokter Airi Mutiar, ahli anestesi RSUD, Dokter Soetomo Surabaya, bahwa materi ini dapat dijadikan bekal untuk mengedukasi masyarakat.  

Untuk itulah sangat rugi sekali jika para relawan melewatkan kesempatan ini. Ingat, kesempatan tidak mungkin datang dua kali. Karena AINR berikutnya, mungkin akan diisi oleh nara sumber lain, misalnya dari Forum PRB Jawa Timur, dengan materi yang tidak kalah menariknya. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/KamisKliwon-30122023]

 

 

 

 

  

 


Minggu, 26 November 2023

RELAWAN LITERASI AMAN BERKENDARAAN

Salah satu agenda dari komunitas volunteer of humanity (VOH) di akhir tahun yang bershio kelinci ini adalah  mengadakan Family Camp di Hutan Kota Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Surabaya, sabu dan minggu, tanggal 25 – 26 November 2023.

Kegiatan yang baru pertama digelar ini banyak diminati berbagai komuitas relawan. Panitianya ramah, lokasinya indah alami, dipenuhi aneka pohon yang perawatannya perlu ditingkatkan. Khususnya kebersihan lingkungan. Jika memungkinkan VOH dapat membuat acara kerja bakti "merawat" Balas Klumprik.

Materinya pun menarik, sangat bermanfaat untuk bekal pengetahuan saat berkegiatan di alam bebas. Tentang bagaimana cara menangani gigitan ular agar korban terselamatkan. Termasuk merawat korban yang tersengat lebah atau tawon vespa affinis (tawon ndas).

Begitu juga materi water rescue yang disampaikan oleh Tim Rescue dari SAR-MTA. Walaupun hanya materi kering (teoritis), namun mampu menyihir peserta untuk memperhatikan dengan penuh seksama. Bagi mereka yang berminat, syaratnya adalah dapat berenang dan sehat, kuat dan tenang tidak grusa grusu (dapat mengendalikan emosi).

Semoga, pengurus VOH segera mengagendakan latihan water rescue yang sesungguhnya. Praktek langsung bermain air basah-basahan. Pasti seru dan menyenangkan dalam rangka meningkatkan kapasitas relawan untuk terlibat dalam upaya penyelamatan korban kecelakaan di sungai.

Sementara materi etika berkomunikasi dengan radio komunikasi, kiranya juga perlu dipahami oleh relawan yang biasa membawa Handy Talky (HT) untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Baik yang tergabung dengan ORARI maupun RAPI, untuk menyampaikan informasi penting yang perlu ditindak lanjuti.

Acara ini, disamping mendapat kunjungan dari Ketua RW dan Babinsa koramil setempat dalam rangka “Pengkondisian” wilayah. Kapolsek Wiyung, didampingi Babinkamtibmas dan seorang intel, berkesempatan ngopi bareng sambil ngobrol santai tenang masalah narkoba dan kebencanaan.

Kapolseknya ganteng, cerdas, full senyum dan ramah, tidak seperti oknum polisi yang suka mencari rejeki di pinggir jalan. Dari obrolan itu, muncul gagasan menarik dari Kapolsek. Yaitu perlunya ada relawan literasi safety riding, sesuai UU nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Safety riding diartikan sebagai bentuk perilaku berkendraan yang anam dan nyaman bagi dirisendiri maupun pengendara lain.

Gagasan ini muncul karena rasa keprihatinan Kapolsek tentang Salah satu penyebab angka kematian tinggi di dunia selain adanya penyakit menular adalah karena kecelakaan lalu lintas. Bahkan menurut badan kesehatan dunia (WHO) angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 1.35 juta. Dan rata-rata yang mengalami kecelakaan lalu lintas ini adalah usia 5 sampai 29 tahun.

Berdasar data yang entah diambil tahun berapa, yang jelas keprihatinan ini, menurutnya perlu ditindak lanjuti dengan upaya pencegahan. Jika pemda dapat membentuk jumantik (juru pemantau jentik) di setiap Desa/Kelurahan. Tentunya pembentukan relawan literasi safety riding perlu juga dicoba. Tinggal ada tidaknya political will dari para penguasa setempat.

Paling tidak Kapolsek Wiyung dapat mengawali membumikan gagasanya dengan memanfaatkan pramuka saka bayangkara untuk dilatih (semacam TOF). Kemudian diadakan uji coba dengan menerjunkan mereka ke sekolah-sekolah, yang ada di wilayah Kecamatan Wiyung untuk mengkampanyekan safety riding.

Dari hasil uji coba itulah, dijadikan bahasan dalam acara jagong bareng untuk melihat kebermaknaannya dari berbagai aspek. Ini penting, agar upaya melahirkan relawan literasi aman berkendaraan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam upaya menurunkan korban kecelakaan lalu lintas.

pertanyaannya kemudian, mungkinkan Kapolsek penerusnya nanti mau melanjutkan gagasan cerdas tentang perlunya relawan literasi safety riding ?. mengingat rotasi jabatan itu selalu ada dan masing-masing pejabat punya cara dan selera sendiri dalam menjalankan tugasnya.

Untuk itulah, gagasan cerdas dari seorang Kapolsek Kecamatan Wiyung ini perlu segera di tindak lanjuti oleh komunitas relawan dalam bentuk jagong bareng untuk membulatkan gagasan di atas.

Akan lebih elok lagi jika jagong bareng ini “di kawal” langsung oleh Kapolsek sebagi pemilik gagasan, agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam menterjemahkannya. Salam Tangguh, Salam Satu Aspal. [eBas/SeninPahing-27112023]