Rabu, 03 April 2024

DI BALIK CERITA RELAWAN DI PULAU BAWEAN

 Alhamdulillah gempa yang menggoyang Pulau Bawean sudah reda. Relawan dari berbagai komunitas yang ikut sibuk respon darurat, sudah mulai balik kanan, menyudahi misi kemanusiaannya. Namun masih ada beberapa relawan yang nekat tinggal disana untuk beberapa waktu, sesuai kebijakan lembaga yang menaunginya.

 Yang jelas aksi respon darurat yang dilakukan sudah selesai sesuai dengan tujuan masing-masing komunitas. Semua bantuan untuk penyintas sudah diberikan kepada yang berhak, begitu juga dengan program layanan dapur umum dan distribusi logistik, juga telah tuntas dilakukan. Bahkan relawan yang ditugaskan BPBD Provinsi Jawa Timur juga telah menyelesaikan assessment fasilitas umum yang terdampak gempa Tuban.

 Sementara yang sudah balik kanan, idealnya saat ini sedang dalam masa recovery. Sejenak istirahat melepas penat, menata jiwa, raga, dan dana, sebelum tugas-tugas kemanusiaan memanggil kembali.

 Kembali cangkruk’an, berkumpul dengan sesama relawan. Sambil ngopi berbagi cerita selama berada di lokasi bencana. Tentu ceritanya akan berbeda antara relawan yang satu dengan lainnya. Sesuai sudut pandang masing-masing, yang tidak mungkin sama.

 Semua cerita indah itu hendaknya dijadikan bahan evaluasi untuk dijadikan bahan pembelajaran di kemudian hari. Misalnya, adanya cerita tentang koordinasi dengan para pihak yang sulit terkait dengan keposkoan (mungkin maksudnya SKPDB).

 Padahal, konon SKPDB ada, tapi tidak berjalan sesuai tupoksinya. Ini mungkin karena yang masuk dalam SKPDB bukan orang yang membidangi, asal tunjuk aja, terkadang karena faktor kedekatan atao unsur politik, sehingga mengakibatkan amburadulnya penanganan darurat bencana.

 “Fungsi komando terkadang tidak berjalan. Bisa jadi karena ada kepentingan terselubung atau tekanan dari pejabat tertentu, bisa juga hanya sekedar formalitas saja untuk mencairkan dana TD/BTT, wallohu a’lam,” Katanya sambil nyruput kopi jahe pamekasan.

 Ada juga oknum yang main serobot, mengklaim bahwa dialah yang menata shelter di beberapa titik. Padahal yang mengerjakan itu pihak lain. Entah apa maksudnya. Mungkin karena ketidak tahuan atau merasa berkuasa.

 Sementara ada relawan yang melihat ketidak adilan. Dimana rumah yang rusak tidak mendapat bantuan, sementara yang tidak begitu rusak malah sering mendapat bantuan dari berbagai pihak.

 “Konon, keberadaan SK Tanggap Darurat juga tidak jelas siapa yang memegang. Termasuk adanya posko logistik dan posko koordinasi yang dibagi di dua titik,” Kata relawan yang lain dengan ekspresi wajah tidak paham.

 Sayangnya praktek ini tidak dilaporkan dengan disertai bukti otentik. Jangan-jangan relawan tidak tahu harus lapor kemana. Padahal, jika tidak salah ingat, materi manajemen keposkoan (SKPDB) sudah pernah dijadikan materi diklat yang diikuti oleh para pihak.

 Namun entah kenapa, setiap terjadi bencana, selalu saja ada kendala dalam pelaksanaannya. Termasuk penggunaan kata Trauma Healing yang sudah diganti dengan istilah Layanan Dukungan Psikososial. Tapi entah kenapa banyak pihak, masih setia menggunakan kata Trauma Healing.

Sementara itu, terkait dengan keberadaan Desk Relawan, dikatakan bahwa semua lembaga/organisasi/instansi ataupun individu saat ikut respon darurat, dalam SOP nya harus laporan dulu ke posko, untuk diketahui dan terdata jumlah personilnya, logistik yang dibawanya, dan kapasitas yang dimiliki, serta data pendukung lain. 

 “Ini penting. Agar posko nantinya  bisa memobilisasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan, untuk menghindari kesenjangan yang ada dan penumpukan relawan di satu titik. Inilah tujuan Desk Relawan itu,” Ujarnya menambahkan.

 Namun fakta di lapangan, tidak berjalan sesuai yang diharapkan, karena kurangnya SDM baik dari pemerintah maupun unsur masyarakat, masih tingginya ego sektoral dari masing-masing pihak, dan juga kurangnya pemahaman terkait tupoksi dari Desk Relawan itu sendiri. Termasuk tindak lanjutnya.

 Begitulah sepenggal cerita relawan yang berkesempatan ikut respon bencana gempa Tuban di Pulau Bawean. Tentu, masing-masing relawan punya kesan sendiri yang akan menarik jika diceritakan sebagai pengalaman yang indah. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Selasa-03042024]

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 02 April 2024

TRAUMA HEALING DALAM KOMENTAR PANJANG

 Gempa Tuban beberapa waktu yang lalu, ternyata juga menjadi petaka bagi warga Pulau Bawean. Banyak kerusakan terjadi dimana-mana. Kerugian harta benda pun tidak sedikit menimpa warganya. Namun, dikarenakan kondisi geografis, bantuan dari luar agak terhambat masuk Pulau Bawean.

 Berbagai komunitas relawan bersiap dengan segala perbekalan dan kemampuannya, antri menuju Bawean, untuk mendarma baktikan diri menolong sesamanya yang tertimpa musibah bencana gempa.

 Di lokasi, mereka langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak, untuk menyusun aksi dan membagi diri menangani apa yang harus ditangani agar tidak terjadi miskomunikasi. Termasuk lapor diri ke Desk Relawan yang dibentuk BPBD Provinsi Jawa Timur.

 Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengadakan layanan dukungan psikososial (LDP), dengan sasaran anak-anak. Konon, LDP ini untuk menggantikan istilah trauma healing (TH). Mengapa harus diganti ?. Agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berujung dipaido berjamaah, mari ditanyakan ke ahlinya.

 Ada komentar menarik dalam grup whatsapp, bahwa Saat di lokasi bencana masih sering terjadi miskonsepsi antara psychological first aid (PFA) atau LDP dengan trauma healing.

 Orang-orang yang mendatangi lokasi bencana setelah 2-5 hari pasca bencana, untuk memberikan bantuan psikologis sering menyebutnya dengan istilah trauma healing. Padahal yang benar adalah  pertolongan psikologis awal atau dukungan psikososial.

 Alasannya, pertama karena para penyintas bencana belum bisa disebut trauma, kedua karena trauma healing hanya bisa dilakukan oleh profesional seperti psikolog, konselor, atau psikiater. Mungkin juga oleh relawan yang telah tersertifikasi dengan benar. Bukan sekedar ikut program sertifikasi untuk memenuhi kuota saja.

 “PFA/LDP itu dapat dilakukan oleh siapa saja selama orang tersebut memahami prinsip-prinsip PFA/LDP, dan sudah mengikuti pelatihan bersama tenaga profesional,” Mengakhiri komentarnya.

 Yang jelas istilah TH itu masih saja sering dijumpai di lapangan. Bahkan pihak dinas sosial juga masih menggunakannya. Bahkan terkadang kawan-kawan di BPBD dan BNPB pun juga masih familier dengan istilah TH daripada LDP. Inilah (mungkin) kesalah kaprahan penggunaan istilah.

 “Bahkan, banyak pihak yang menganggap TH sebagai Obat yang menyembuhkan Trauma. Tapi sama halnya dengan Obat, pun kalo berlebih (Over Dosis), bisa fatal akibatnya,” Kata seseorang di grup whatsapp.

 “Pagi TH, siang TH, dan malam pun TH. Lha terus bagaimana dengan konsep pendidikan masa darurat ?,” Tanya yang lain

 Ada juga yang bilang bahwa Kegiatan TH itu bukan sekedar ngajak joget-joget, bermain, bernyanyi, dan lainnya seperti yang biasa dilakukan relawan di lapangan. Tapi ada kuesioner atau form penilaian yang diisi, ngajak ngobrol, dan lainnya. Dari situ Psikolognya bisa menyimpulkan kondisi penyintas itu seperti apa, perlu penanganan lanjutan apa tidak.

 Masalahnya, tidak setiap saat sang psikolog ada di tempat, sehingga hasil kuesionernya tidak segera diketahui untuk pengembilan langkah selanjutnya.

 Mungkin, hal seperti ini seringkali terjadi di lapangan, karena beberapa faktor, diantaranya: 1). Kurangnya pemahaman personil (relawan/pekerja kemanusiaan). 2). Kurangnya pengelolaan/pengaturan personil dalam respon. 3). Tidak adanya manajemen di setiap pos pengungsian, sehingga kurang tertata dan tidak terjadwal. 4). Kepentingan lembaga/organisasi sendiri yang tidak melihat kondisi di lapangan. 5). Masih adanya ego sektoral.

 Dari beberapa faktor tersebut bisa mengakibatkan penyintas lebih parah kondisi psikisnya, bukan malah pulih tapi tambah stres. Hal ini berdasarkan pengalaman waktu respon di Lumajang, karena seringnya ada relawan yg melakukan dampingan TH yang sehari bisa lebih dari 5 kali, kondisi penyintas (anak-anak) malah tidak stabil.

 Ini adalah pengalaman pribadi dari relawan yang sering ikut terjun di lokasi bencana. Mungkin akan berbeda dengan pengalaman relawan yang lain. Itu sah-sah saja, tidak perlu dipaido, juga tidak usah disalahkan.

 Masing-masing mempunyai cara sendiri untuk “berinteraksi” dengan penyintas dalam rangka mengurangi beban psikologi. Yang jelas, mereka sudah berani datang ke lokasi untuk berbuat sesuatu demi menolong warga terdampak bencana gempa Tuban di Pulau Bawean. Baik didukung dana pribadi, maupun diongkosi instansi.

 Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, bahkan tidak perlu banyak berkata-kata, tapi langsung berkarya nyata (tentunya ada dana di belakangnya). Karena masih banyak relawan yang karena sesuatu dan lain hal tidak berkesempatan beraksi di lokasi bencana mendarma baktikan diri sebagai seorang relawan kemanusiaan bidang penanggulangan bencana. 

 Ya, mereka adalah relawan, yang jika berhasil tidak dipuji, namun kalau gagal langsung dimaki, dan jika sakit bahkan mati, itu salah sendiri.  

 Untuk itulah, sekedar diketahui, bahwa rangkaian tulisan ini adalah sekumpulan dari berbagai komentar di grup whatsapp, ketika melihat ada tenda di salah satu daerah di Pulau Bawean bertuliskan Tenda Trauma Healing. Sehingga tidak perlu ditanggapi secara serius, apalagi kemudian di paido, di clathu pol-polan secara berjamaah. Cukup di senyumi saja, sambil joget goyang gemoy.

 Ingat kata Evan Loss, “mbok ya sing full senyum sayang / ben aku tambah sayang / ra sah pusing-pusing / gek ndang dandan, ayo kita healing …. [eBas/SelasaWage-02042024]

Minggu, 24 Maret 2024

PERLUKAH PEMBEKALAN PSIKOLOGIS BAGI RELAWAN LEPAS

 Hari Jumat pon (22/03/2024), saya ikut webinar ngabuburit (ngaji bareng urusan bencana untuk masyarakat inklusi dan tangguh), dengan tema “Pembekalan Psikologis bagi Relawan Bencana, Apa Pentingnya ?”. kegiatan ini dimotori oleh Yayasan Kinanta, Bandung.

 Ya, dari ke tiga nara sumber mengatakan bahwa pembekalan pengetahuan tentang psikologi sangat penting. Baik terkait psikologis untuk diri pribadi, sesama relawan, serta kondisi psikologis para penyintas. Sehingga dalam menjalankan perannya di lokasi bencana, tidak mengalami stress yang berlebih, dikarenakan kesibukan yang seakan tiada hentinya.

 Saking sibuknya relawan dalam membantu BNPB/BPBD, muncul pertanyaan dari peserta webinar, Apakah bisa dikatakan relawan adalah ujung tombak sebuah kebehasilan misi di lapangan saat respon bencana ?.

 Dari pertanyaan ini, saya jadi ingat Perka BNPB nomor 17 tahun 2011, dimana peran relawan di masa darurat, diantaranya adalah  Pencarian, penyelamatan dan evakuasi warga masyarakat terkena bencana. Penyediaan dapur umum, Penyediaan tempat penampungan/hunian sementara, Perlindungan kepada kelompok rentan dengan memberikan prioritas pelayanan, Pendampingan psikososial korban bencana. Dan kegiatan lain “atas permintaan” Pos Komando Utama.

 Tentunya dalam melakukan perannya, harus sepengetahuan Posko yang memiliki fungsi koordinasi dan komando. Ini penting untuk menghidari kesalah pahaman dan tumpang tindih pekerjaan di lapangan. Walaupun nyatanya memang masih sering terjadi.

 Jadi, kalau ada yang mengatakan relawan sebagai ujung tombak suksesnya penanganan bencana, ya perlu dipikir ulang. Karena, masih kata salah seorang nara sumber, nyatanya masih banyak relawan yang berangkat ke lokasi tanpa bekal penguasaan masalah psikologis. Mereka hanya modal nekat karena ingin membantu sesamanya dengan ikhlas sesuai panggilan kemanusiaan.

 Padahal, menurut paparan nara sumber, sebelum turun ke lokasi, relawan harus memahami prinsip-prinsip kerja kemanusiaan, memahami prinsip dan etika dalam membantu masyarakat terdampak bencana, menghormati keberagaman dan budaya korban bencana,

 Mungkin prinsip di atas itu diperuntukkan kepada relawan sebagai pekerja kemanusiaan yang mendapat bayaran, bukan  relawan yang datang dari komunitas dengan mengandalkan panggilan jiwa dan bekerja berdasarkan perasaan sesuai pengalaman.

 Bahkan, saking semangatnya menolong orang lain, ada yang berkomentar bahwa di beberapa kasus, banyak juga relawan yang terlalu bersemangat untuk ikut setiap kegiatan tanggap darurat, sehingga berdampak pada tanggung jawab keluarga yang cenderung dikesampingkan.

 Jelas kerja-kerja nekat seperti di atas tidak dimiliki (bahkan tidak dianjurkan) bagi relawan jenis pekerja kemanusiaan, yang cara kerjanya berdasar kontrak kerja profesional dengan aturan tertentu yang mengikat. Mereka ini tampaknya juga harus paham tentang Core Humanitarian Standard (CHS) dalam kerja-kerja kemanusiaan.

 Dalam webinar itu, pemapar materi juga sempat menyebut istilah “relawan lepas” untuk mereka yang ke lokasi bencana hanya mengandalkan semangat dan modal nekat saja.

 Sungguh, baru dalam webinar ini saya mendengar istilah “Relawan lepas”. Semoga bukan mencibir dan merendahkan relawan yang datang ke lokasi berbasis rasa kemanusiaan ingin menolong sesamanya.

 Bukan pula sebuah sindirian kepada relawan yang belum paham tentang pentingnya memahami materi psikososial sebelum ke lokasi bencana, apalagi CHS yang baru disahkan oleh para pekerja kemanusiaan. Karena, sesungguhnyalah pedoman yang seperti itu tampaknya untuk pekerja kemanusiaan, bukan “relawan lepas” yang konon bagian disuruh-suruh, dan angkat-angkat. Salam Waras [eBas/MingguKliwon-24032024]

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 22 Maret 2024

PERAN KELOMPOK RENTAN DALAM KEDARURATAN, ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

 Seperti diketahui, kelompok rentan adalah masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam menikmati kehidupan yang layak. Dalam kebencanaan, kelompok rentan, merujuk pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terhadap dampak bencana.

 Kelompok ini berada dalam situasi dan kondisi yang kurang memiliki kemampuan mempersiapkan diri dalam menghadapi risiko bencana atau ancaman bencana

 Mereka yang termasuk kelompok rentan itu adalah orang lanjut usia, orang sakit, perempuan hamil/menyusui, anak-anak, penyandang disabilitas, serta masyarakat termarginalkan.

 Konon, di berbagai peristiwa bencana, mayoritas yang menjadi korban adalah kelompok rentan. Seperti orang lanjut usia, perempuan, anak-anak dan kaum difabel. Bahkan, untuk perempuan dan anak seringkali mendapat perlakuan yang tidak baik. Seperti pelecehan seksual dan dieksploitasi untuk kepentingan tertentu.

 Untuk itulah, dalam praktek Pengurangan risiko bencana, hendaknya dapat melibatkan partisipasi mereka. Sehingga kebutuhan mereka akan terlayani dengan baik ketika terjadi bencana. Sekaligus keberadaan mereka juga terlindungi dari tindakan yang merugikannya dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

 Kelompok rentan, khususnya perempuan dan kelompk difabel tertentu, kiranya dapat dilibatkan dalam kerja-kerja pada situasi kedaruratan. Diantaranya terlibat dalam pengelolaan dapur umum, layanan dukungan psikososial, shelter pendidikan, serta bidang lain yang memungkinkan kaum perempuan dan difabel turut berperan serta tanpa menimbulkan beban baru.

 Pertanyaannya kemudian, bencana yang bagaimana yang memungkinkan mereka dilibatkan ?. kalau hanya bencana banjir yang cuma dua tiga hari saja, mungkin mereka cukup dilibatkan dalam mengelola di tempat pengungsian saja.

 Sementara, realita di lapangan, ketika terjadi bencana, kelompok rentan ini masih belum diberdayakan. Masih menjadi korban yang perlu diselamatkan dan dilayani sama seperti korban lainnya. Padahal mereka itu sesungguhnya berbeda kebutuhannya, berbeda pula pelayanannya.

 Ya, memang seharusnyalah, kelompk rentan ini mendapat pelayanan yang berbeda dengan pengungsi di luar kelompok rentan. Diantaranya tentang permakanan, keperluan sandang, fasilitas MCK , dan tempat pengungsian yang sesuai dengan kondisi mereka.

 Disinilah peran relawan untuk melakukan pengamatan apakah tempat pengungsian sudah ramah bagi kelompok rentan (khususnya penyandang difabel), mendata keberadaan kelompok rentan, sekaligus “mengawasi” untuk kemudian dilaporkan ke Posko Induk agar mendapat perhatian terkait dengan pemenuhan kebutuhannya.

 Relawan juga dapat mengedukasi sekaligus memotivasi para penyintas, untuk bersemangat bangkit secara ekonomi, untuk mengembalikan kesejahteraannya dalam arti luas (daya lenting). Tidak berlama-lama larut dalam kesedihan, merenungi nasibnya.

 Disamping itu, relawan juga harus memastikan tidak ada kekerasan terhadap kelompok rentan. Baik ketika di tempat pengungsian, maupun saat membangun kehidupannya pasca bencana.

 Sungguh keberadaan kelompok rentan ini memang perlu mendapat perhatian, namun sering kali terlupakan karena berbagai alasan. Atau, sudah dilakukan oleh “pekerja kemanusiaan” (relawan yang bekerja di bawah lembaga kemanusiaan), namun lupa tidak dipublikasikan. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SabtuWage-23032024 dini hari]

 

 

 

 

 

Selasa, 12 Maret 2024

ADA APA DENGAN BANG SUL

                  Seiring bencana banjir mengunjungi beberapa daerah dengan segala dampak yang ditimbulkan, tiba-tiba Bang Sul, Ketua Komunitas menyatakan keluar dari grup whatsapp pengurus, mundur dari kepengurusan, dengan alasan, akan fokus ngurusi keluarga. sebuah alasan yang manusiawi,dan patut dihargai

Lho, ada apa kok mendadak tanpa dikonsultasikan dulu ke dewan pengarah, dewan penasihat, dan dewan pembina.

Lha kalau keberadaan para dewan itu tidak “digubris”, mengapa harus dibentuk ?. Sebenarnya, tugas para dewan itu apa to ?. belum jelas, belum ada kesepakatan.  

Kalau mau jujur, mereka yang duduk di barisan dewan itu ya atas penunjukan, bukan kemauan sendiri, serta belum saling mengenal. Bahkan ada yang belum pernah bertemu dalam sebuah rapat sambil ngopi membahas masalah keorganisasian.

Bahkan, sebagai komunitas, senyatanya belum pernah mengadakan rapat paripurna antar pengurus untuk membahas program kerja komunitas.

Agenda pertemuan rutin yang digelar pun jarang dihadiri oleh pengurus dan anggota dewan secara lengkap. Sehingga yang dibahas pun  hanya program insidental, yang mendukung program komunitas lain.

Seperti pertemuan beberapa hari yang lalu, membahas tentang tata cara dan aturan main ikut turun ke lokasi kejadian/bencana, agar tidak menimbulkan salah paham, juga sempat membahas tentang iuran, dan pengadaan seragam organisasi.

Namun begitu, walau tanpa program kerja yang disusun dan disepakati, beberapa anggotanya  rajin melakukan pertolongan di setiap kejadian. khususnya kecelakaan lalu lintas, maupun di perairan. Hal ini dilatari dengan pengalaman di organisasi induknya. Karena sesungguhnyalah komunitas yang dipimpin Bang Sul belum pernah mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas anggotanya.

Tidak lupa, setiap turun ke lokasi kejadian, mereka dengan bangga memakai seragam dalam rangka "mengibarkan" bendera komunitas agar khalayak ramai tahu akan keberadaannya.

Lha kalau tiba-tiba Bang Sul, sebagai ketua. mengundurkan diri secara sepihak, bagaimana akan dapat mewujudkan rencana yang tertuang dalam notulensi pertemuan beberapa hari yang lalu itu ?. termasuk bagaimana nasib pencarian bantuan alat perlindungan diri (APD).

Ya, mundurnya Bang Sul pasti dikarenakan adanya “kesalah pahaman”. Sayangnya Bang Sul tidak mau mengkonsultasikan uneg-unegnya ke anggota dewan, yang belum tahu perannya di dalam komunitas.

Ya, karena memang belum pernah membahas tupoksinya dalam sebuah jagongan gayeng sambil ngopi, dengan alasan yang tak bertepi.

Sungguh, apa yang dilakukan Bang Sul, akan berdampak pada perjalanan komunitas ke depannya. Anggota pun pasti akan ikut undur diri dari komunitas yang usianya masih seumur jagung.

Bagai anak ayam kehilangan induk, semua anggota komunitas akan berjalan sendiri sesuai nurani, bukan berjalan sesuai aturan organisasi.

Dengan kosongnya posisi ketua, seharusnya segera diambil langkah cepat untuk menyelamatkan komunitas. Eman seragamnya yang masih baru, jika komunitas tidak diselamatkan.

Namun karena sekarang sudah masuk bulan ramadhan, maka tidak elok jika aktivisnya ngurusi organisasi dengan mengesampingkan datangnya bulan suci yang penuh ampunan dan berkah ini. 

Untuk itulah, jika semua aktivis masih menghendaki bendera komunitas tetap berkibar, maka mau tidak mau, nanti pasca lebaran harus ada tindakan nyata untuk menata kembali komunitas dengan segala cita-cita, harapan dan kebijakan yang diambil untuk mengatur pergerakan anggota komunitas dalam kerja-kerja kemanusiaan.

Tanpa ada acara “duduk bareng”  maka “kesalah pahaman” yang dialami Bang Sul akan selalu muncul karena adanya “ketidak sepahaman” dalam melaksanakan aturan main, yang senyatanya belum pernah dibahas.

Artinya, jika komunitas itu ingin sehat dan bermakna dalam berkarya, ya harus ada agenda rapat rutin antar pengurus maupun pengurus dengan anggota dalam rangka upaya peningkatan wawasan dan kapasitas. Termasuk memahami hak dan kewajiban relawan sesuai perka bnpb nomor 17 thn 2011.

Konon, setiap tindakan pasti ada konsekwensinya. Begitu juga jika seseorang menyatakan diri masuk ke sebuah organisasi, ada konsekwensi yang harus diambil. Diantaranya harus mau meluangkan waktunya untuk menghadiri agenda rapat organisasi.

Beda lho ngomong langsung bertatap muka dengan komentar di WhatsApp, yang terkadang menimbulkan mis komunikasi. Sungguh, membangun “chemistry” itu harus dilakukan dengan interaksi langsung. Bukan lewat WhatsApp. Apalagi ini komunitas "nir laba" yang sangat rentan pisahan.

Karena, sesungguhnya sebagai makhluk sosial setiap orang ingin bersosialisasi dengan sesamanya, ngobrol bareng, begejesan sambil ngopi, berbagi informasi dan sebagainya. Tidak tertutup kemungkinan dari interaksi itu muncul transaksi ekonomi yang saling menguntungkan. Termasuk ketemu jodoh dan besanan.

Idealnya sih begitu. Tapi kalau hanya sekedar titip nama untuk sebuah kebanggaan diri, ya itu urusan masing-masing. Wallahu a’lam bis showab. Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan dengan penuh suka cita dan bahagia. Mohon maaf lahir dan batin. [eBas/SelasaPon-12032024 pas awalpuasa ramadhan versipemerintah]

 

 

 

Minggu, 10 Maret 2024

JAMAAH LC MEMASUKI TAHUN KE 4

     Tidak terasa keberadaan Jamaah Lorong eduCation (LC) sebagai wadah relawan dari berbagai komunitas, telah memasuki tahun ke empat. Tentunya, selama berinteraksi di basecampnya, banyak warna warni kejadian yang muncul menemani obrolan, sambil ngopi dan berbagi informasi.

     Berbagai kegiatan kolaboratif yang diinisiasi lewat obrolan  insidental, telah berjalan lancar di luar ekspektasi, bahkan telah menginspirasi komunitas lain untuk membuat aksi dalam skala yang lebih luas lagi. Semua itu karena keberadaan Jamaah LC sudah dikenal.

     Ya, begitulah Jamaah LC yang selama ini tidak memiliki struktur kepengurusan, juga tidak memiliki program. Mengalir begitu saja, yang penting guyub rukun dalam menjalin silaturahmi sambil wedangan (ngopi, nge-Teh, dan lainnya sesuai selera).

     Sehingga, dapat dikatakan bahwa semua program yang dijalankan itu berawal dari gagasan yang muncul saat anggota Jamaah LC ngobrol santai di basecamp. Untuk kemudian jika gagasan itu menarik, langsung ditindak lanjuti dalam sebuah aksi.

     Tercatat ada beberapa kegiatan kolaborasi yang dilakukan. Diantaranya, Diskusi konservasi dan penanaman mangrove, Bersih-bersih Benteng Kedung Cowek, Berbagi Nasi bungkus, Halal bi Halal antar komunitas, Pelatihan untuk peningkatan kapasitas, mengadakan sosialisasi pengurangan risiko bencana di berbagai kalangan, dan sebagainya.

     Saat ada bencana, beberapa relawan anggota Jamaah LC juga ada yang berpartisipasi di lokasi bencana sesuai sesuai arahan induk organisasinya serta kemampuannya. Di lingkungan Jamaah LC tidak ada keharusan anggotanya untuk terjun langsung ke lokasi bencana. Karena relawan itu sifatnya hanya membantu dengan sukarela.

     Tahun 2024 yang juga disebut tahun politik karena berbarengan dengan pemilihan presiden, Jamaah LC memasuki tahun yang ke empat, dengan jumlah anggota yang tercatat dalam grup whatsapp sebanyak 40 orang dari berbagai komunitas relawan.

     Dari jumlah itu, banyak yang pasif karena kesibukan kerja yang membelenggu kehadirannya di basecamp. Hanya beberapa saja yang aktif jagongan di basecamp untuk mencari inspirasi membuat aksi. Sedang lainnya juga tetap bersemangat memberi dukungan moral dari rumah masing-masing.

     Memasuki bulan Maret, beberapa kegiatan sudah dilaksanakan. Di antaranya, Pelatihan medical first renponder (MFR) and Moving Transportasion, serta Pengenalan Pengenalan Radio Komunikasi (HT) bagi pemula. Karena alasan tertentu, peserta dibatasi jumlahnya.

     Sementara kerja-kerja kolaboratif dengan para pihak, juga tetap berjalan sesuai kemampuan dan kesempatan. Bahkan untuk yang ke tiga kalinya sebuah Yayasan Asar Humanity dari Jakarta, menggandeng Jamaah LC untuk membantu membagikan produk mamasuka, berupa mayones, saos tomat, abon rumpit laut, tepung roti, dan sejenisnya, kepada masyarakat yang pantas menerimanya.

     Menjelang bulan ramadhan pun, beberapa aktivis Jamaah LC berkesempatan “rembugan” untuk merencanakan kegiatan di bulan yang penuh ampunan dan barokah, maupun nanti pasca ramadhan. Termasuk rencana Halal bi Halal.

     Beberapa komunitas pun berkesempatan dolan ke basecamp LC dalam rangka memperluas jejaring kemitraan sekaligus menjajagi kemungkinan berkolaborasi dalam aksi yang bermanfaat bagi sesama. Seperti pengurus FORMALITAS (forum bersama lintas komunitas), Pusat Krisis dan Pengembangan Komunitas (PKPK) Unair. Beberapa dosen pun juga pernah mampir, jagongan sebagai sesama pegiat kebencanaan.

     Ya, di tahun yang ke empat ini, jika memungkinkan Jamaah LC perlu mengadakan musyawarah bersama untuk melakukan evaluasi serta bersama menguatkan aksi agar semangat berjamaah itu tetap seperti awal terbentuknya di Warkop Lorong Cafe, yang berada di daerah dukuh kupang, Surabaya barat.

     Satu hal yang perlu disadari adalah, masing-masing anggota sudah banyak yang menurun aktivitasnya untuk “ber-jagongan-ria” di basecamp.  karena tuntutan hidup demi kesejahteraan keluarga dalam arti luas. Ya begitulah takdir kehidupan, semua ada waktunya untuk undur diri dari kegiatan komunitas. Itu sangat manusiawi, tidak seperti dulu lagi.

     Inilah takdir kehidupan yang tidak dapat dihindari. Untuk itulah, tidak ada salahnya jika semua anggota Jamaah yang jumlahnya 40 orang itu perlu bersuara, akan dibawa kemana Jamaah LC ini. Dibiarkan mati perlahan karena pelan-pelan, dan mulai ditinggalkan anggotanya. Atau bagaimana ?, keputusan ada di tangan semua anggota.

     Yang jelas, sampai tahun ke 4 ini, keberadaan Jamaah LC telah berhasil “mewarnai” berbagai pihak, khususnya anggota LC dalam kiprahnya di bidang kebencanaan. Semua kiprahnya terdokumentasikan di berbagai media sosial. Inilah jejak digital yang akan menjadi kenangan dan susah dihilangkan.

     Semoga di acara Halal bi Halal nanti, semua anggota grup whatsapp Lorong eduCation dapat hadir lengkap untuk kemudian menyepakati keberlanjutan Jamaah LC dengan segala dinamikanya, atau ada usulan lain yang lebih inovatif, cerdas dan berdaya guna dari anggota. Waktulah yang akan bicara. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SeninPahing dini hari-11032024]

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

  

 

 

Sabtu, 09 Maret 2024

CAK MUSLIMIN

     Beberapa hari yang lalu, dalam komentarnya di Facebook, dia bilang,  sesungguhnyalah dirinya ingin bersemuka dengan kawan-kawan sesama pegiat olah raga alam bebas seperti dulu, sebelum pekerjaan menyita waktunya dan membatasi langkahnya.

     “Maunya sih senang berkumpul dengan teman-teman se misi dan sejalan perjuangan. Tapi apa daya kerjaan sering kena shift malam. Jadi ya maaf belum dapat hadir,” Komentarnya.

     Sungguh, apa yang dikatakan Cak Muslimin itu merupakan sebuah fase perjalanan setiap orang. Artinya, akan tiba saatnya untuk mulai meninggalkan aktivitas ‘out door’, berganti mengutamakan urusan domestik, terkait dengan kesejahteraan keluarga dalam arti luas, yang menyita waktu dan menguras tenaga.

     Ya, Cak Muslimin sudah berada di jalan yang benar dengan mengutamakan pekerjaan, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada waktunya nanti, semua juga akan mengikuti jejak Cak Muslimin. Begitulah hidup, datang dan pergi, semua akan berganti.

     Ya, siapa sih yang tidak kenal dengan Cak Muslimin ?. Sosok yang telah malang melintang di aktivitas kepecinta alaman. Kepeduliannya kepada upaya pelestarian lingkungan alam sudah tidak diragukan lagi. Berbagai organisasi dan komunitas sudah pernah diakrabi dengan suka dukanya.

     Cak Muslimin, pada jamannya, juga sering menginisiasi sebuah aksi kemanusiaan dan lingkungan. Dengan demikian mereka yang aktif di kegiatan alam bebas, pastilah kenal dengan pria berpostur semampai ini. Kini, usia Cak Muslimin sudah tidak muda lagi. Pekerjaan utamanya juga telah menghalangi waktunya untuk beraktivitas di luar.

     Sejalan dengan usia yang semakin menua, alangkah bijaknya jika mulai mengurangi peran di komunitas. Memberi kesempatan kepada yang muda untuk “berkarya dan bergaya”. Cak Muslimin telah memulainya untuk memberi kesempatan kepada yuniornya.

 Karena sesungguhnyalah yang namanya proses regenerasi itu sangat diperlukan, bahkan wajib dipersiapkan oleh setiap komunitas, jika ingin roda komunitas terus berputar dengan segala dinamika dan eksistensinya.

     Beberapa literatur mengatakan bahwa regenerasi dapat didefinisikan sebagai suatu perpindahan tongkat estafet dalam berorganisasi dari generasi yang lebih senior ke generasi yang lebih yunior.

     Dengan kata lain, regenerasi ini untuk mempertahankan sebuah komunitas agar tetap berjalan dan menggapai tujuannya. Jika tidak ada regenerasi maka komunitas itu akan tinggal papan nama yang tidak bermakna. Hanya akan ada dalam cerita tanpa karya nyata.

     Begitulah, Cak Muslimin sudah memulai memberi contoh kepada sebayanya untuk undur diri mengurangi dominasi dalam kegiatan komunitasnya. Sudah mulai mengurangi “cawe-cawe”. Semua diserahkan kepada yang muda. Cak Muslimin semakin “tut wuri handayani”.

     Semoga yang dicontohkan Cak Muslimin tidak disalah pahami oleh sebayanya. Karena sesungguhnyalah regenerasi itu akan datang bila waktunya tiba. Jika tidak disadari maka waktulah yang akan menyudahi keberadaan komunitas untuk kemudian semua tinggal kenangan dan menghilang ditelan perubahan. Naudzubilla min dzalik. [eBas/SabtuKliwon-09032024]