Minggu, 16 Februari 2025

MENAKAR UNTUNG RUGI PEMBENTUKAN F-PRB KOTA SURABAYA.

 “Sabar nggih,  Budaya birokrasi harus sesuai arahan pimpinan dulu. Saya hanya serpihan seng yang belum punya kuasa. Besuk saya laporkan dulu ke pimpinan,” Kata Bayu, dalam postingannya di grup whatsapp PIC Bulan PRB Jatim 2025, minggu (16/02/2025).

 Apa yang dikatakan itu, bermula dari “ajakan dadakan” kepada peserta RAKOR F-PRB Jatim yang berasal dari Kota Surabaya untuk mengadakan “Cangkruk’an” membahas pembentukan F-PRB Surabaya, sesuai apa yang dikatakan Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur dan Sekjen F-PRB Jatim.

 Ternyata ajakan itu bertepuk sebelah tangan alias tidak mendapat respon, entah karena apa. Mungkin karena faktor yang mengajak, atau mungkin mereka sudah merasa bahwa ajakan ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Hanya omon-omon saja.

 Hal ini mengingat bahwa inisiasi pembentukan F-PRB Surabaya sudah pernah dirapatkan di Basecamp Jamaah Lorong eduCation, yang dihadiri oleh banyak pihak. Diantaranya, mantan Sekjen Planas, Mbakyu Ninil, alumni FK-UNAIR. Namun tidak ada respon dari banyak pihak, termasuk dari BPBD Surabaya sendiri.

 “Pelan-pelan maseh, kita masih dalam proses. Termasuk proses konsultasi ke beberapa akademisi. Semoga pasca pelantikan Wali Kota, semuanya segera terwujud,” Kata salah seorang pejabat BPBD Surabaya saat beberapa perwakilan relawan ‘sowan’ untuk mendapatkan petunjuk dan arahan.

 Sejak itulah, semangat membentuk forum PRB Kota Surabaya menjadi layu sebelum berkembang. Semua kembali ke habitatnya masing-masing, tenggelam dalam kesibukan harian sebagai manusia yang punya tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakatnya.

 Sekarang, melalui Rakor F-PRB muncul kembali himbauan yang dilontarkan agar Kota Surabaya dan Kabupaten/Kota segera membentuk F-PRB, yang nanti akan dikukuhkan oleh gubernur saat perayaan peringatan bulan PRB tingkat Nasional tahun 2025, dimana Jawa Timur ditunjuk sebagai tuan rumah.

 Setali tiga uang, himbauan yang dilontarkan di Hotel Movenpick itu hanya didengarkan tanpa nafsu menggebu, dengan menerapkan strategi defensif, diam dan menunggu undangan dari yang berkopenten, bukan dari sesama relawan.

 Hanya ada satu komentar yang cukup menarik dari Bang Santo, Ketua F-PRB Kabupaten Tulungagung. Beliau bilang, Lakukan saja lebih dulu dengan beberapa lembaga dan komunitas relawan yang siap. Jangan memaksa mereka yang belum mau bergabung. Kejadian serupa sama di Tulungagung. Ini penting, untuk menghilangkan ke-AKU-an dan menggantinya dengan  ke-KITA-an dalam kegiatan kolaboratif.

 Sementara, Ki Rebo, panggilan udara dari Ketua Surabaya Emergency Respon, dengan bijak menanggapi komentarnya  Bayu, salah seorang staf BPBD Kota Surabaya, terkait dengan ajakan untuk cangkruk bareng membentuk F-PRB Surabaya sebagai mitra BPBD dalam upaya pengurangan risiko bencana.

 “Betul Mas Bayu. Kami faham dengan itu. Begitu pula kami mengenali kondisi teman-teman relawan. Gak usah bingung mas, santui saja. Anggap saja ajakan cangkruk’an itu sekedar Test quick response saja kok, dan masalah kopi serta cemilan, itu tradisi gotong royong relawan kok mas,” Kata Bapak bercucu lebih dari tiga itu.

  Sedangkan Yogi, Koordinator Posko Bersama Relawan Surabaya, dalam komentarnya di grup whatsapp Relawan Suroboyo Bersatu, mengajak berbaik sangka saja dan bijak. Bagaimana BPBD surabaya nya dan bagaimana dengan RELAWAN nya. Relawan lari kencang tapi tempat yang jadi lindungannya belum bisa maksimal, terus bagaimana?. sementara relawan yang lain kebanyakan hanya menunggu, tanpa inisiatif tertentu sebagai bentuk ketidak berdayaan.

 Probo, salah satu pendiri Lorong eduCation, mengajak sowan ke bpbd kota Surabaya. Sambil ngopi ala relawan, kita gunakan semaksimal mungkin kemampuan dan kekurangan kita untuk saling support

 “Apa perlu BPBD kota kita undang cangkruk’an ala relawan, atau menunggu BPBD ngundang kita?. Kalau menunggu terus, itu berat, karena hanya menunggu penuh rindu dan yang dirindu merasa tidak perlu,” Katanya becanda.

 Yang jelas Ki Rebo, sudah mencoba mengajak membentuk F-PRB dengan menyediakan rumahnya menjadi tempat jagongan sambil nyruput kopi dan nyemil gorengan. Namun responnya negatif. Apakah ini pertanda Kota Surabaya tidak menghendaki berdirinya forum ?.

 Monggo, dipersilahkan kepada relawan lain yang punya nyali untuk meniru keberanian Ki Rebo mengajak komunitas relawan membentuk F-PRB, walaupun nyatanya gagal.

 Yang jelas, relawan perlu duduk bersama untuk mempererat tali silaturahmi, sekaligus jika memungkinkan mengagendakan kegiatan kolaborasi yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti himbauan Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur.

 Nanti saat jagongan itu, yang perlu dibicarakan, salah satunya adalah, menakar untung ruginya kehadiran F-PRB bagi warga Kota. Jangan-jangan warga melalui pemkot sudah merasa tidak memerlukan relawan, karena selama ini sudah ada “pasukan” yang siap bertindak cepat ketika terjadi musibah yang mengganggu keamanan, kenyamanan dan ketertiban warga Surabaya, termasuk ketika terjadi kecelakaan, kebakaran, kebanjiran dan bencana lainnya.

 Kemudian, perlu juga merenungkan petuah mbah Darmo, yang mengatakan bahwa rusaknya sebuah komunitas itu lebih disebabkan oleh masalah internal sendiri. Untuk itu perlu dibangun komitmen yang kaut untuk berkomunitas. Itu artinya semua gerak langkah komunitas harus sesuai dgn kesepakatan dan jargon yang diusungnya, agar tidak sekedar jargon yg dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

 “Percuma jargonnya bagus tapi tidak seindah warna aslinya. Tidak mewarnai dalam praktek berorganisasi. Jika ini tidak dibenahi, maka wajar saja suara komunitas tidak di dengan oleh unsur penta helix lainnya. Terutama pemerintah, dalam hal ini BPBD setempat,” Kata relawan yang enggan disebutkan jati dirinya karena takut di anggap “nakal” dan layak untuk tidak diajak. 

hal lain yang perlu juga dibahas adalah, jika nanti F-PRB Surabaya sudah dibentuk, kira-kira apa tugas dan fungsinya ?. baik terhadap keberadaan komunitas relawan yang ada di Surabaya, maupun sebagai mitra BPBD Kota Surabaya. Jangan sampai setelah terbentuk kemudian bingung sendiri apa yang harus dilakukan, karena kurang dukungan dari berbagai pihak, termasuk BPBD. Mari kita tunggu bersama munculnya inisiatif untuk ngopi bareng lintas komunitas. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Senin-17022025].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 13 Februari 2025

WAKTUNYA BERBAGI PERAN

 Rupanya, pasca kopdar yang terakhir di warkop Songo di daerah Prapen, banyak sekali masukan yang harus “diperhatikan” oleh pengurus formalitas. Mulai dari keinginan para senior agar formalitas kembali ke marwahnya sebagai wadah edukasi bagi anggotanya untuk meningkatkan kapasitas yang menunjang aktivitasnya di alam bebas (kepecinta alaman), perlunya mengadakan latihan bersama, dan kerja-kerja kolaboratif lintas komunitas lainnya yang disepakati bersama.

 Harper sebagai ketua formalitas, dalam komentarnya di grup whatsapp mengatakan bahwa, Banyak usulan yang  dilimpahkan ke formalitas. Saya tidak tega melihat tugas pengurus yang otomatis menjadi semakin berat karena selalu menjadi panitia kegiatannya. Sedangkan anggota komunitas lainnya jarang yang mau menjadi panitia. Mayoritas inginnya jadi peserta.

 “Faktor sebenarnya karena mereka tidak mau susah, tidak mau capek, tidak mau repot. Padahal itu perjuangan demi membangun komunitasnya lebih besar dan lebih maju lagi,” Ujar pria ganteng, yang aktif menghadiri anniversary berbagai komunitas.

 Apa yang dikatakan teman dekatnya ning Tasya benar adanya. Banyak pihak yang enggan jadi panita karena tidak mau capek, tidak mau rebyek, dan tidak mau rugi. Maunya terima undangan untuk kemudian datang duduk, diam, makan, dan “maido” jika tidak sesuai dengan yang diharapkan.

 Untuk itulah, masih kata Harper, saya ingin mendorong komunitas-komunitas agar lebih aktif dan tidak takut untuk membuat kegiatan sekaligus menjadi panitianya. Karena nantinya juga akan dibantu oleh komunitas lainnya dalam rangka saling menguatkan.

 Jika harapan pria penyabar ini dapat diwujudkan, secara tidak langsung keberadaan forum ini telah membelajarkan anggotanya untuk berani membuat kegiatan sekaligus menjadi panitia penyelenggaranya yang penuh dinamika dan suka duka yang menyertainya.

 Sedangkan Utami, pejabat bendahara yang amanah menjalankan tugasnya bilang bahwa, sebaiknya kegiatan formalitas, seperti upacara agustusan, berbagi takjir, dan saur on the road dikurangi. Biarkan kegiatan itu ditangani oleh komunitas. Sedangkan pengurus formalitas cukup ‘tut wuri handayani’ saja.

 “Apa yang saya usulkan ini merupakan masukan dari beberapa teman,” Kata Ibu berputera dua, yang sangat tertib dalam hal pencatatan keuangan organisasi.

 Masukan dari ibu yang selalu bersemangat jika diajak mendaki ini, diamini oleh ketua formalitas, sebagai upaya memberi kesempatan kepada komunitas untuk tampil dengan kegiatannya, sementara pengurus formalitas fokus pada kegiatan yang berskala besar.

 Begitu juga dengan Cak Mus, salah seorang yang ikut membidani lahirnya formalitas, sangat mendukung usulannya bendahara formalitas, dalam rangka pemerataan peran diantara komunitas yang tergabung dalam formalitas. Untuk itulah maka, tugas pengurus adalah selalu pro aktif merangkul serta mengarahkan mereka. Jika diperlukan, pengurus, melalui bidang edukasi mencarikan pemateri atau nara sumber untuk kegiatan “Sharing session”.

 Namun demikian, perlu juga dipikirkan tentang upaya kembali ke marwahnya. Yaitu mencari tokoh yang dapat mengkondisikan agar seluruh anggota komunitas mau berkumpul bersama untuk mengikuti edukasi.

 Dulu, ketika almarhum Om Dharma masih ada, dan para pendirinya masih aktif, merekalah tokoh yang menjadi panutan. Pertanyaannya kemudian, apakah sekarang ada tokoh yang sekelas mereka ?. wallahu a’lam bishowab. Mari kita bicarakan bersama sambil ngopi agar ada solusi untuk menyusun aksi kolaborasi. [eBas/JUm’at dinihari-14022025]

 

Selasa, 11 Februari 2025

PEMANGKASAN ANGGARAN DAN DAMPAKNYA BAGI PROGRAM PENANGGULANGAN BENCANA

 Tahun ini Daikin dan Belini tidak dilibatkan dalam pelaksanaan program sosialisasi program destana dan spab di berbagai Kabupaten. Konon katanya untuk memberi kesempatan kepada anggota lainnya dalam rangka penyegaran, pemerataan dan kaderisasi.

 Mereka berdua paham dan menerima kebijakan yang diambil tanpa sakwa sangka. Mereka tahu diri bahwa semua akan ada masanya. Mereka tetap santai cangkruk’an di warkop langgagannya, menikmati kopi yang harganya telah disesuaikan karena imbas kenaikan sembako dan gas melon.

 “Mas Kin, sampiyan apa sudah dengar adanya rencana pemangkasan anggaran di berbagai kementerian untuk mendukung merealisasikan janji politik waktu kampanye ?,” Tanya Belini sambil nyeruput Kopi hitam panas pait, sebagai upaya mengendalikan gula di tubuhnya.

 Masih kata Belini, bahwa Avianto Amri, ketua MPBI, dalam tulisannya mengatakan, Pemerintah memangkas anggaran BNPB, BMKG, dan Basarnas, mengancam kesiapsiagaan dan respons bencana di Indonesia. Minimnya investasi mitigasi dapat meningkatkan korban jiwa dan biaya respons, serta pemulihan. Saatnya semua pihak bersatu memastikan upaya penanggulangan bencana tetap berjalan efektif dan tepat sasaran.

 “Jika tulisan Avianto ini benar, tentu akan berdampak pada kegiatan di semua fase penanggulangan bencana. Jangan-jangan juga berdampak pada pengurangan tenaga kontrak (honorer) di lembaga tersebut,” Tambahnya.

 Tentu dampak pemangkasan anggaran itu juga akan dirasakan oleh komunitas relawan, khususnya yang sering diajak “jalan bareng” oleh instansi terkait. Sementara komunitas relawan yang berjalan sendiri, ya enjoy saja menikmati situasi yang serba tidak menentu ketika pemerintah baru sedang mencari bentuk formula jitu untuk menyejahterakan rakyatnya dengan program baru, sambil berdoa semoga saja tidak ada tenaga kontrak (honorer) yang “dirumahkan” akibat kebijakan ini.

 Sambil menikmati jajan rondo royal kesukaannya yang masih hangat,  Daikin, lewat gawainya mencoba mencari artikel terkait dengan rencana pemerintah memangkas anggaran yang akan berdampak pada kinerja dan program kementerian.

 “Yang jelas, jika pemangkasan anggaran itu benar dilakukan di semua instansi, termasuk BNPB dan BPBD, maka upaya membangung ketangguhan masyarakat menghadapi bencana lewat berbagai program, akan mengalami penyesuaian,” Kata Daikin.

 Sambil menikmati sego krawu khas gresik, Daikin juga bilang bahwa sebelum ada pengurangan anggaran, program pra bencana, diantaranya edukasi dan sosialisasi pengurangan risiko bencana,  mitigasi, dan pelatihan untuk peningkatan kapasitas relawan, masih sedikit dan belum merata. Apalagi jika anggarannya dikurangi. Ya tinggal menunggu waktu sajalah, seperti kata Dwi Korita tentang akan datangnya bencana megathrust, yang sampai sekarang masih ditunggu.

 “Dengan demikian, ajakan Avinato untuk bersatu memastikan upaya penanggulangan bencana tetap berjalan efektif dan tepat sasaran, sangat tergantung kebijakan pemerintah (dalam hal ini BNPB/BPBD), mau melibatkan masyarakat dalam melaksanakan program di semua fase penanggulangan bencana, apa tidak” Tambahnya.

 Hal ini sejalan dengan komentar Zie_lawanoes di grup whatsapp PRBBK Indonesia 1, yang prihatin bahwa pemerintah belum   punya kesadaran dan peka terhadap kebencanaannya, sehingga program yang disusun hanya sekali sentuh tanpa tindak lanjut yang melibatkan para pihak.

 “Pemerintahlah yang harusnya lebih sigap dan tanggap, karena mereka memiliki kebijakan dan anggarannya,” Katanya.

 Sambil meninggalkan warkop. Belini menambahkan bahwa tidak ada ceritanya program destana dan spab yang sekali sentuh itu dapat dikatakan tangguh dan tanda budaya tangguh itu sudah dimiliki masyarakat.

 “Ingat, komentar Zie_lawanoes, bahwa saat ini Semuanya hanya berbicara "TANGGUH Bencana" tapi tidak( memahami dan mengerti konsepsi dari kata tersebut. Destana/Keltana (dan spab, red) itu merupakan program kerja yang harus dilaksanakan dan diperbuat oleh seluruh unsur terkait khususnya oleh pemerintahnya sendiri,” Pungkasnya meninggalkan Daikin yang sedang menikmati rondo royal. [eBas/Rabu-12022025]

 

Senin, 10 Februari 2025

RATUSAN KOMUNITAS TERGABUNG DALAM FORMALITAS

 Sungguh, kepengurusan forum bersama lintas komunitas (FORMALITAS) Jawa Timur dibawah kepemimpinan Harits Permana semakin maju dan bertambah jumlah komunitas yang tergabung ke dalam FORMALITAS, yang menjadi wadah berkumpulnya berbagai komunitas sosial kemanusiaan, untuk saling berbagi pengalaman, bertukar informasi sekaligus menjalin silaturahmi untuk memperluas jejaring kemitraan.

 Dari catatan yang diinformasikan oleh Ketua, ada ratusan komunitas yang tercatat di buku catatan mulai tahun 2018 sampai sekarang. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Kayaknya, belum ada sebuah forum yang beranggotakan ratusan komunitas dengan berbagai latar belakang. Ini adalah sebuah potensi yang dapat digerakkan untuk membuat kegiatan kolaboratif.

 Harper, panggilan Harits Permana, mengatakan bahwa, Daftar komunitas tersebut awal mula dapat dari rekan-rekan yang nomornya tersimpan di Hp saya dan masuk group. Kemudian dari daftar hadir setiap kegiatan Formalitas dan dari data komunitas yang daftar sebagai sponsor/support/media partner di acara Formalitas Jatim selama ini. Termasuk logo masing-masing komunitas juga masih tersimpan rapi.

 “Daftar komunitas yang terdata itu mayoritas sudah tergabung masuk di grup WhatsApp Formalitas Jatim. Komunitas yang terdata tersebut juga belum tentu aktif semua. Beberapa ada yang vakum, ada yang ganti nomor, ada yang sudah hilang kontak,” Ujarnya.

 Dikatakan pula bahwa Kedepan akan diadakan pendataan ulang terhadap komunitas yang sudah tercatat di buku catatan. Tujuannya untuk mengetahui jumlah komunitas yang benar-benar sudah tergabung/aktif di Formalitas Jatim termasuk jumlah anggotanya, lokasi sekretariat/basecampnya, untuk memudahkan komunikasi.

 Dengan kata lain, pendataan ulang itu untuk mengetahui perkembangan masing-masing komunitas terkait dengan program kerja, jumlah anggota, dan kapasitas  anggotanya, Untuk mensinergikan peran masing-masing komunitas dalam program kolaboratif, serta Mendorong dan memperkuat kerjasama antar komunitas dalam upaya pelestarian lingkungan alam.

 Harper juga berharap jika ada komunitas yang belun terdata dan ingin  aktif di FORMALITAS, disilahkan menginformasikan ke pengurus antuk dicatat di buku catatan.

 “Terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah setia berada di rumah bersama ini, yang usianya baru 6 tahun, berjalan menuju 7 tahun ini, kiranya masih butuh banyak belajar sekaligus minta bimbingan dari rekan-rekan. Pengurus siap menerima kritikan saran dan masukan agar kedepannya rumah kita ini bisa jauh lebih baik lagi dan bisa lebih maju untuk menggapai sukses bersama,” Katanya penuh harap.

 Dalam acara kopdar beberapa waktu yang lalu, ada masukan dari para senior, agar FORMALITAS kembali ke marwahnya yang dicetuskan sejak awal oleh para pendirinya. Yaitu edukasi untuk meningkatkan kapasitas anggotanya.

 Sejalan dengan masukan dari para senior, pendataan ulang ini menjadi penting. Diantaranya untuk menentukan materi apa yang akan menjadi bahan edukasi. Termasuk bentuk edukasinya yang bagaimana. Apakah hanya penyampaian teoritis di dalam ruang, atau langsung praktek di lapangan.

 Untuk itu, tidak ada salahnya jika memulai membangun jaringan/relasi dengan mapala yang memiliki sarana wall climbing, untuk belajar tali temali, prusiking, vertical rescue dan sejenisnya. Hal ini mengingat mayoritas komunitas yang tergabung di dalam FORMALITAS itu Pecinta Alam.

 Artinya, ke depan, dalam rangka kembali ke marwahnya, pengurus FORMALITAS bidang edukasi harus menyusun agenda peningkatan kapasitas anggotanya melalui diklat, seminar, lokalatih, dan lokakarya. Termasuk melakukan advokasi terkait dengan upaya pelestarian lingkungan yang kini semakin banyak dijarah atas nama proyek strategis nasional.

 Tentu, untuk mewujudkan upaya kembali ke marwahnya itu tidak mudah, perlu proses. Banyak faktor yang harus dipenuhi. Untuk itulah diperlukan kebersamaan, kesepakatan dan komitmen yang kuat dari semua pihak, dalam rangka menyusun konsep kembali ke Marwah FORMALITAS. Wallahu a’lam bishawab. [eBas/Selasa-11022025]

 

 

 

 

Jumat, 31 Januari 2025

DHAIKIN DAN TIMNYA MELAKSANAKAN PROGRAM SPAB

 Di awal tahun 2025, organisasinya Dhaikin mendapat kehormatan membantu menjalankan program SPAB ke beberapa sekolah yang terpilih/dipilih menjadi sasaran program. Untuk mempersiapkannya, Dhaikin dan kawan-kawan yang tergabung dalam Tim Fasilitator SPAB mengadakan koordinasi dengan  pihak sekolah yang menjadi sasaran. Ini penting agar dalam pelaksanaan nanti sekolah benar-benar siap dengan segala “Ubo rampenya”.

 Dhaikin sebagai ketua Tim memberi arahan kepada Belini, Nissin, Miwon, Sasa dan Tosa antar pihak yang terlibat., agar mengingatkan anggotanya untuk tampil lebih baik, sesuai hasil evaluasi kegiatan serupa tahun lalu, yang konon sedikit ada friksi antar pihak yang terlibat.

 “Kita harus tampil all out. Pertaruhannya adalah nama baik organisasi. Ini bukan sekedar fee yang akan didapat, namun sebuah kepercayaan dari para pihak,” Tandasnya.

 Masih kata Dhaikin, bahwa saat ini semangat berorganisasi agak mengalami penurunan gairah dikarenakan kesibukan pribadi, serta adanya faksi yang saling curiga dan tidak percaya karena  buntunya komunikasi. Sungguh suasana yang demikian itu tidak sehat dan harus segera dibenahi. Jangan malah dipelihara untuk melanggengkan kepentingan sendiri.

 Belini, salah satu anggota Tim yang berpengalaman mengusulkan agar tahun yang bershio ular kayu ini, kalau bisa juga melibatkan anggota Tim yang baru agar memiliki pengalaman sesuai janji saat mengikuti pelatihan fasilitator SPAB.

 “Jika memungkinkan tahun ini proses fasilitasinya dilakukan dengan metode tim teaching, agar semua ikut merasakan. Namun harus dikonsultasikan terlebih dulu, untuk kemudian disepakati bersama,” Ujarnya penuh harap,

 Apa yang dikatakan Belini, diamini oleh Sasa dan Tosa dengan sikap samikna wa atokna, yang penting dapat bagian dan selalu dilibatkan. Sebuah sikap defensif, diam manut grubyuk tanpa berani berkomentar. Jika semua bersikap defensif, maka proses demokrasi dapat dipastikan tidak berjalan dan program tidak transparan.

 Terkait dengan usulan Belini, mBakyu Miwon yang suka nasi rawon bilang, perlu ada penyegaran terlebih dulu terkait dengan fasilitasi untuk menyamakan frekwensi sehingga saat di lapangan tidak mengecewakan.

 Sungguh, semua usulan Belini dan mBakyu Miwon perlu dijadikan masukan demi kebersamaan agar tidak terjadi kecemburuan yang berujung pada kondisi yang kurang menyenangkan. Tentunya hal seperti ini akan berpengaruh kepada kekompakan, yang dapat mengurangi tingkat kepercayaan.

 Dhaikin sebagai ketua Tim, sangat paham akan hal itu. Sehingga perlu dibahas secara internal maupun dalam rapat koordinasi. Paling tidak, kepercayaan yang diberikan untuk melaksanakan program SPAB, harus dilaksanakan dengan penuh semangat sesuai uang termaktub dalam panca dharma relawan, yaitu Mandiri, Profesional, Solidaritas, Sinergi, dan Akuntabel. Walaupun pelaksanaannya tidak semudah membalikan ke dua tangan.

 Selamat ber-SPAB-ria, nikmati prosesnya, rasakan hasilnya dan jangan lupa, laporannya sebagai salah satu bahan pembelajaran bagi semua pengurus dan organisasi mitra dalam rangka saling menguatkan tanpa meninggalkan demi pemerataan kapasitas. Salam Tangguh . [eBas/Sabtu-01022025]

 

 

 

 

 

 

 

PEGIAT ALAM BEBAS TAK TAKUT HUJAN DERAS

 Konon, setiap musim penghujan, sering kali diikuti dengan terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor. Bahkan akhir-akhir juga disertai dengan angin puting beliung dan petir yang daya rusaknya lumayan besar.

 Untuk mengurangi terjadinya kecelakaan, pemerintah telah mengeluarkan himbauan agar dimusim penghujan ini para pegiat alam bebas mengurangi aktivitasnya di alam bebas. Himbauan yang tidak diikuti sanksi yang membuat jera. Sehingga tetap saja bumi perkemahan, hutan dan gunung tetap saja ramai oleh para pegiat alam bebas.

 Sementara, para pengelola bumi perkemahan dan jalur pendakian, juga tetap setia melayani para pegiat alam bebas yang akan melakukan aktivitasnya, yang penting mereka mentaati aturan yang ditetapkan. Khususnya membayar harga tiket masuk.

 Disamping itu, para pengelola juga percaya bahwa para pegiat alam bebas itu telah memiliki pengetahuan dan wawasan terkait dengan aktivitasnya, serta menguasai keterampilan yang diperlukan. Seperti pengetahuan tentang teknik survival, manajemen pendakian, kemampuan membaca peta, bidik kompas, navigasi, pertolongan pertama gawat darurat, bongkar pasang tenda, dan sebagainya.

 Dengan kapasitas yang luar biasa itulah, para pegiat alam tetap diperbolehkan untuk berkemah, dan melakukan pendakian. Termasuk pendakian model tek-tok yang saat ini sedang marak.

 Artinya, kapasitas para pegiat alam bebas itu sudah tidak perlu diragukan lagi dalam menjaga keselamatan diri. Disamping itu sebagai pegiat alam bebas juga sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan alam yang dijadikan arena kegiatannya.

 Mereka, dengan penuh kesadaran dan kesukarelaannya ikut menjaga alam, melakukan penghijauan, baik dengan tanaman buah, tanaman tegakan, maupun tanaman produktif sesuai dengan kondisi setempat.

 Dengan kemampuan yang dimiliki, para pegiat alam bebas sering kali terlibat (dilibatkan) dalam operasi pencarian dan tertolongan jika terjadi petaka di hutan dan gunung, yang menimpa pegiat alam yang kurang persiapan (sembrono).

 Hebatnya lagi mereka juga rela “mengamankan” sampah yang ditemui disepanjang jalur pendakian dan di sekitar bumi perkemahan. Inilah bukti nyata bahwa para pegiat alam itu memang cinta lingkungan alam yang lestari dengan aneka flora dan fauna yang menyenangkan.

 Mereka juga melaporkan kepada pengelola jika menemui daerah yang berpotensi terjadi longsor jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, tersumbatnya aliran sungai oleh batu besar maupun pohon roboh yang dapat menyebabkan banjir bandang. Termasuk melaporkan adanya perusakan/pencurian kayu dan satwa oleh oknum tertentu.

 Bahkan ketika terjadi hujan deras disaat berkemah maupun dalam perjalanan pendakian,  mereka tetap ceria menikmati keindahan alam dalam suasana basah dan dingin yang mencekam. Ya, mereka adalah manusia pilihan yang pantang menyerah. Sekali layar terkembang pantang surut kebelakang. Salam rimba, salam lestari.  [eBas/Jumat-31012025]  

 

 

 

 

 

 

Rabu, 22 Januari 2025

FORMALITAS SEBAGAI MEDIA SILATURAHMI ANTAR KOMUNITAS

 Dengan ini, Formalitas ( Forum Bersama Lintas Komunitas) Jawa Timur, mengundang rekan-rekan komunitas maupun pribadi untuk hadir dalam acara "Kopdar & Edukasi". Demikian sebagian bunyi dari flyer yang dibuat oleh pengurus untuk mengikuti agenda dua bulanan.

 Kali ini acaranya digelar di Warkop Songo Heritage, Prapen, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya. Pada hari Rabu (22/01/2025) malam, dalam suasana hujan intensitas sedang.

 Namun, ternyata rasa rindu untuk bertemu itu mengalahkan segalanya. Termasuk cuaca yang kurang mendukung karena musim hujan, anggota komunitas yang tergabung dalam formalitas, nekat datang memenuhi undangan, sekaligus melepas rindu antar sesama pegiat alam bebas.

 Ya, seperti diketahui bersama bahwa formalitas itu bukan nama sebuah komunitas. Namun keberadaannya itu merupakan wadah berkumpulnya berbagai komunitas untuk mempererat tali silaturahmi antar komunitas, sekaligus menjalin persaudaraan yang kuat untuk membangun kolaborasi yang bermanfaat.

 Formalitas juga sebagai ajang berbagi informasi dan cerita pengalaman dalam rangka memperkaya wawasan dan paseduluran. Dari situlah diharapkan akan muncul gagasan/ide untuk membuat kegiatan kolaboratif dalam rangka meningkatkan kapasitas untuk menunjang kegiatannya di bidang sosial kemanusiaan dan pelestarian lingkungan alam.

 Di dalam anggaran dasarnya, formalitas juga berperan sebagai katalisator yang memberi masukan saran dan usulan yang konstruktif kepada berbagai pihak terkait upaya pelestarian lingkungan alam. Serta memberikan edukasi dan sosialisasi kepada berbagai pihak tentang pentingnya membangun kesadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan alam.

 Sebagai wadah bertemunya berbagai komunitas dengan segala keunikannya masing-masing, maka maju mundurnya keberadaan formalitas sangat bergantung dari partisipasi aktif anggotanya.  Untuk itu setiap anggota dipersilahkan memberi kritik saran masukan dan koreksi kepada pengurus agar tetap istiqomah dalam menjalankan amanah. Masukkan bisa lewat japri pribadi atau lewat grup whatsapp.

 Ada masukan yang dilontarkan malam itu, tentang perlunya kembali ke marwah awal berdirinya formalitas yang memberi manfaat kepada komunitas terkait dengan penguasaan keterampilan yang mendukung aktivitasnya di alam bebas. Seperti latihan prusiking, tali temali, vertical rescue, membaca peta, belajar navigasi dan lainnya.

 Ini  manfaatnya jelas tampak dan dirasakan. Bukan hanya, kegiatan anniversary, kopi darat, dan kemping ceria, yang seringkali abai terhadap kondisi lingkungan alam sekitar.

 Terkait dengan harapan kembali ke marwah pendirian awal formalitas, Bang Arul yang membawakan materi dulkelas, siap memfasilitasi tempat untuk peningkatan kapasitas dalam pelatihan. Tempat yang ditawarkan Bang Arul bukan kaleng-kaleng seperti yang sering dilakukan oleh Jamaah Lorong eduCation yang memanfaatkan Balai RT dalam berkegiatan.

 Tempatnya di Balai Pemuda. Lokasinya strategis di tengah Kota Surabaya. Tinggal bagaimana pengurus menjawab tawaran Bang Arul yang ingin mengembalikan marwah formalitas lewat sisi lain. Rencananya, untuk awal kegiatan, Bang Arul menawarkan pelatihan komunikasi radio (penggunaan Handy Talkie) untuk mendukung kegiatan di lapangan.

 Ada juga hal yang sangat penting untuk segera dibahas. Yaitu disamping membahas keberadaan anggaran dasar (anggaran rumah tangga belum disusun), serta pergantian pengurus formalitas yang sudah habis masa baktinya, dan perlu diadakan pemilihan ketua baru, atau tetap mempertahankan ketua lama untuk menjabat lagi.

 Namun semua itu perlu ada pembahasan khusus yang dihadiri oleh para ketua komunitas yang tergabung dalam wadah formalitas untuk membentuk tim formatus yang akan membuat aturan main pemilihan ketua baru. Termasuk mengubah atau menambah aturan yang ada di dalam anggran dasar.

 Sehingga semua kesepakatan yang diambil lewat musyawarah, tidak menyimpang dari anggaran dasar. Untuk itu tidak ada salahnya jika pengurus segera melakukan pendataan ulang kepada komunitas yang tergabung dalam wadah formalitas. Ini penting untuk mengetahui kapasitas, dan sarpras yang dimiliki. Sehingga akan memudahkan dalam hal koordinasi, pembinaan dan mobilisasi.

Sebelum kopdar malam ini disudahi dengan foto bersama sebagai upaya mendokumentasikan kegiatan, disampaikan pula bahwa salah satu cara untuk mendapatkan dana operasional, adalah dengan menjual souvenir, diantaranya berupa kaos, ganci, buff. Emblem dan baju lapangan, serta “Topi Muter” sebagai bentuk gotong royong untuk menambah inventaris yang yang mendukung kegiatan formalitas.

 Gerimis tengah malam mengiringi peserta kopdar meninggalkan Warkop Songo Heritage. Ada juga yang masih melanjutkan jagongan membahas rencana program formalitas ditahun 2025. seperti perbaikan anggaran dasar, pergantian pengurus, dan upaya mengembalikan marwah formalitas.

 Semua rencana itu baik. Tinggal siapa yang akan menjadi “dirigen” untuk mewujudkan rencana itu. Tentunya dengan dukungan semua pihak yang ada di dalam wadah formalitas, yang usianya sudah enam tahun. Sebuah usia yang “rawan perpecahan” karena kesibukan masing-masing aktivisnya yang harus memenuhi kewajibannya sebagai makhluk sosial. Salam Lestari. [eBas/Kamis-23012025 dini hari]