Minggu, 22 September 2019

GERAKAN PEDULI MANGROVE UNTUK KEHIDUPAN


          Sabtu wage (21/9) sore, berbagai komunitas pecinta alam dan pegiat pelestarian alam, berkumpul di Hutan Mangrove Gunung Anyar Tambak, Surabaya. Satu persatu, dengan tertib mereka melakukan registrasi ulang untuk mendapatkan nomor tenda yang dipersiapkan oleh panitia.

Mereka datang dalam rangka turut memeriahkan kegiatan “Eiger Mangrove Adoption 2019” bekerjasama dengan mapala Palasdhika, STIE Mahardhika, Surabaya, dalam rangka penanaman bibit mangrove sebagai langkah partisipasi dalam pelestarian mangrove di pantai timur Surabaya.

Konon, kegiatan ini merupakan yang pertama di Surabaya, dalam rangka ‘mengingatkan’ kepada komunitas pecinta alam agar tidak bosan untuk belajar cinta lingkungan dan upaya pelestarian daerah pesisir dalam arti sebenarnya. Karena, sesungguhnyalah, upaya pelestarian alam itu tidak bisa lepas dari keterlibatan komunitas. Untuk itulah sudah waktunya pemerintah lebih erat lagi merangkul para relawan lingkungan.

Ini penting, karena pantai yang ditumbuhi oleh mangrove dapat menjaga ekosistem, mencegah abrasi, memecah gelombang serta menahan kecepatan tsunami. Disisi lain, hutan mangrove bisa menjadi tempat perkembang biakan berbagai jenis unggas. Khususnya burung dan hewan pantai lainnya.

Kegiatan yang dihelat di alam terbuka di kawasan hutan mangrove ini juga diisi dengan acara “Sharing Session” tentang darurat mangrove yang dipandu oleh Lulut Sri Yuliani, pakar mangrove yang pernah memperoleh hadiah kalpataru tingkat Kota, tingkat Provinsi dan tingkat Nasional. Seluruh peserta khidmat mendengarkan tausyiah seputar mangrove.

Ditangan alumni Unesa ini, mangrove yang banyak jenisnya itu dibudidayakan menjadi bahan olahan yang bernilai ekonomi. seperti sirup, tepung, kopi, minyak urut, bahan pewarna untuk membatik dan lainnya. Termasuk sedang diteliti untuk bahan obat pencegah stunting.

Dikatakan darurat mangrove, karena saat ini banyak hutan mangrove yang meranggas menuju kematiannya dikarenakan musim kering, dan banyaknya sampah plastik yang menutupi tunas mangrove sehingga mengganggu pertumbuhan mangrove sekaligus kehidupan flora fauna di sekitarnya. Belum lagi ulah manusia mengalih fungsikan pasisir pantai untuk kepentingannya.

“Ingat ya, menanam pohon bakau itu bukan untuk pamer. Tapi harus tulus dan dijaga sampai benar-benar tumbuh subur,” Kata Lulut bersemangat. Disamping itu, dalam menanam mangrove juga harus memperhatikan kondisi pesisir. Apakah termasuk pantai berlumpur, berpasir atau pantai karang.

Dengan mengetahui kondisi pesisir bisa disesuaikan dengan jenis bibit mangrove yang cocok. Sehingga pertumbuhannya bisa maksimal. Sementara Cak Roy, dari komunitas relawan Surabaya, mengatakan bahwa menanam bibit mangrove harus diberi pemberat di bagian akarnya atau batangnya diberi tegakan bambu., agar tidak hanyut oleh gelombang pasang surut.

Diakhir paparan tentang darurat mangrove, muncul keinginan mendirikan ‘Sekolah Mangrove’ kerjasama antara pihak eiger dengan pakar mangrove. Hal ini dikarenakan masih minimnya edukasi tentang tanaman mangrove yang banyak jenisnya sekaligus menyimpan manfaat yang tidak sedikit untuk kehidupan manusia.

Kegiatan yang juga diramaikan dengan aneka kuis dan musik akustik ini, tidak terlepas dari partisipasi pihak eiger yang peduli terhadap upaya peningkatan kapasitas berbagai komunitas pegiat alam.

Sungguh, ucapan terimakasih patutlah disampaikan kepada eiger atas segala fasilitas yang diberikan demi suksesnya acara penanaman bibit mangrove untuk membangun habitat flora dan fauna pantai yang rusak akibat kekeringan. Harapannya, pihak eiger bisa melestarikan kegiatan semacam ini sebagai tempat berkumpulnya aneka komunitas untuk saling bersilaturahmi, dan berkoordinasi, Sudah waktunya meninggalkan ritual penanaman mangrove sekedar acara seremonial untuk kepentingan pencitraan semata. Salut untuk manajemen eiger, semoga barokah.

Rembang malam pun menjelang, satu satu peserta memasuki tenda yang telah disiapkan sebagai tempat melepas penat seharian, tidur sejenak untuk menghimpun tenaga. Karena esok ritual penanaman bibit mangrove dimulai. Ingat, tindak lanjut dari penanaman adalah pemeliharaan, karena disitulah titik awal awal hidup matinya pohon mangrove. Salam Lestari, Salam Literasi, tetap menginspirasi. [eBas/08123161763].







































Minggu, 15 September 2019

SRPB JATIM GELAR WORKSHOP JURNALISTIK


Sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana jawa timur (SRPB JATIM) sebagai wadah berkumpulnya organisasi relawan di jawa timur, di bulan September 2019 ini mempunyai gawe special, yang bernama Workshop Jurnalistik Kebencanaan.

Dikatakan special karena kegiatan ini hanya dikhususkan untuk relawan yang sungguh-sungguh berminat dalam bidang jurnalistik. Disamping itu, Workshop ini merupakan kegiatan pertama yang digelar SRPB JATIM dengan model berbayar (tidak seperti Arisan Ilmu Nol Rupiah sebagai ikon SRPB JATIM). Masing-masing peserta wajib berdonasi Rp. 135.000,- dengan mendapat fasilitas Kaos mbois, Piagam untuk kelengkapan seritikasi, dan Konsumsi yang memenuhi standar gizi nasional.

Konon, kegiatan special ini lahir dari hasil ngobrol tipis-tipis di kartor sekretariat SRPB JATIM, lantai dua, BPBD Provinsi Jatim, sambil menikmati makanan yang dibawa sendiri oleh anggota sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan. Semoga saja kedepan bisa muncul kegiatan special lainnya dalam semangat meningkatkan kapasitas relawan.

Kegiatan yang special ini digelar di ruang Siaga BPBD Provinsi Jawa timur. Ruangannya representatif untuk rapat dengan fasilitas sound system, LCD, dan AC yang cukup dingin melenakan mata, alias ngantuk.

Rizki Danianto, praktisi jurnalistik, berkenan berbagi ilmu untuk membekali relawan saat meliput peristiwa kebencanaan. Baik saat pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana. Harapannya, relawan bisa menyampaikan berita dengan benar yang didukung data, fakta berdasar 5 W 1 H, dan foto-foto yang ‘beretika’ agar tidak meresahkan berbagai pihak.

Kata Yossi Merapi, praktisi media TV, menyebarkan berita tidak boleh berubah menjadi bencana jurnalistik. Karena, berita yang disampaikan itu bisa berpengaruh terhadap psikologis masyarakat, khususnya yang menjadi korban. Hal ini sejalan dengan isi pasal 5 kode etik jurnalsitik wartawan Indonesia “wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya” (Budayana, 2012:47)

Untuk angkatan pertama ini, pesertanya dibatasi untuk 15 orang saja yang datang dari berbagai organisasi. Dengan jumlah peserta yang terbatas ini dimaksudkan bisa lebih efektif dalam kegiatan belajar mengajar. Begitu juga rencana untuk kegiatan selanjutnya. Karena, konon kata panitia, animo relawan untuk ikut kegiatan berbayar ini banyak sekali, di luar perkiraan.

Mungkin semua ini karena materinya yang menarik, dan disampaikan langsung oleh ahlinya. Dalam workshop ini materi yang disajikan meliputi, cara mencari berita, cara menulis berita, lima langkah menulis berita, teknik wawancara, bahasa jurnalistik, fotografi, dan jurnalistik kebencanaan. Semuanya disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami.

Peserta sangat antusias mengikuti sajian materi. Mereka mencatat penjelasan nara sumber untuk kemudian melakukan praktek wawancara sekaligus menulis berita dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Kiranya perlu diketahui bahwa berita merupakan laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai yang penting dan menarik bagi sebagian khalayak, bersifat baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa. Dengan demikian, Peristiwa atau pendapat tidak akan menjadi berita, bila tidak dipublikasikan media massa secara periodik. (JB. Wahyudi dalam Djuroto,2004:47). 
Dengan demikian tulisan yang akan dibuat nanti haruslah mudah dimengerti oleh pembacanya.

Tentu, seusai mengikuti workshop ini peserta harus terus berlatih dan berlatih terus dengan tekun dan sabar, untuk memperkaya perbendaharaan kata dan mampu membuat narasi serta mengembangkan berita menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca (seperti, in deep news, feature, maupun opini yang menggugah nurani pembacanya). Paling tidak, kedepan peserta dapat memanfaatkan keberadaan web.srpb dengan berbagai berita terkait peristiwa kebencanaan di daerahnya. Salam Tangguh, Salam literasi, terus menginspirasi. [eBas/minggu pon-150919]


  

Senin, 02 September 2019

RELAWAN PERLU KOMUNIKASI DAN KOORDINASI


          “Pengalaman kita dulu waktu gempa Padang, relawan sangat dimudahkan. Apalagi saat selesai tugas, relawan mendapat surat pengantar dari Dan Ops Bandara Tabing menuju Halim. Sehingga BNPB mempermudah kita untuk balik kanan ke daerah asal kita. Namun sekarang sepertinya relawan dipersulit,” Komentar seorang relawan dalam postingan di grup WhatsaPP.

Komentar lain menyebutkan bahwa, kami sebagai relawan tidak minta muluk-muluk dari pemerintah. Kami hanya minta dipermudah untuk fasilitasi relawan dalam hal transportasi menuju daerah bencana dan pulangnya. Masalah operasional relawan di lokasi itu masing-masing relawan sudah siap sesuai dengan kapasitas jam terbang kami.

Grundelan bernada menuntut ini sering kali hanya berputar-putar ‘di belakang’ tanpa pernah dimunculkan ke permukaan saat ada pertemuan resmi yang digelar pemerintah dan dihadiri relawan. Sehingga pesan yang berupa harapan dari relawan tidak pernah ditanggapi.

Hal ini karena pemerintah memang tidak pernah mendengar pesan itu secara langsung (dan terbuka). Artinya selama ini belum terbangun komunikasi antara relawan dengan pemerintah. Mungkin termasuk dengan unsur pentahelix lainnya, seperti akademisi, dunia usaha, dan media.

Padahal, dengan berkomunikasi kita dapat berinteraksi, saling bertukar pikiran, ide, atau gagasan dengan manusia lainnya dalam rangka membentuk kesepahaman. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh pakar komunikasi, Atep Aditya Barata dalam pakarkomunikasi.com (2017),  yang mendefinisikan komunikasi sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan, berita, atau informasi yang terjadi diantara dua orang atau lebih. Proses ini dilakukan secara efektif agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh penerimanya.

Artinya, masih kata Atep,  Komunikasi melibatkan dua atau lebih manusia, sebab ketika berkomunikasi terjadi proses pengiriman dan penerimaan pesan dari komunikator kepada komunikan. Komunikator dapat menyampaikan pesan kepada komunikan melalui berbagai media, bergantung tujuan serta target yang ditentukan.

Setelah pesan tersampaikan, feedback dari komunikan yang menerima pesan diperlukan. Sebab melalui feedback yang diberikan komunikan, komunikator dapat mengetahui apakan komunikasi berjalan dengan efekti atau tidak.

Sementara,  Agus M. Hardjana, seorang pakar komunikasi lain merumuskan bahwa komunikais adalah kegiatan disampaikannya suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain melalui media tertentu. Setelah pesan tersebut diterima dan dipahami sejauh kemampuannya, penerima pesan kemudian menyampaikan tanggapan  melalui media tertentu kepada penyampai pesan.

Menurut Mendy Aisha, tujuan dari komunikasi adalah terwujudnya perubahan, pembentukan sifat, opini atau pendapat, pandangan, dan perilaku masyarakat sesuai dengan tujuan penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator.

Sementara itu, relawan pun harus melakukan koordinasi agar tidak muncul kesalahpahaman diantara mereka. Menurut James G March dan Herben A Simon, dalam Utsman Ali (2015), Pengertian Koordinasi adalah suatu proses untuk mencapai kesatuan tindakan di antara kegiatan yang saling bergantungan.

Masih menurut lamannya pakarkomunikasi.com, Jika dilihat dari sudut normatifnya, maka koordianasi diartikan sebagai kewenangan untuk menggerakkan, menyelaraskan, menyerasikan dan menyeimbangkan kegiatan-kegiatan yang spesifik atau berbeda, agar nantinya semua terarah pada pencapaian tujuan tertentu pada waktu yang telah ditetapkan. Dari sudut fungsionalnya, koordinasi dilakukan guna mengurangi dampak negatif spesialisasi dan mengefektifkan pembagian kerja.

Tujuan koordinasi diantaranya untuk menciptakan dan memelihara efektivitas organisasi setinggi mungkin melalui sinkronisasi, penyerasian, kebersamaan dan keseimbangan antara berbagai kegiatan dependen suatu organisasi. Serta untuk mencegah konflik dan menciptakan efisiensi setinggi-tingginya di setiap kegiatan interdependen yang berbeda-beda melalui kesepakatan yang mengikat semua pihak yang bersangkutan.

Dengan memperhatikan beberapa teori yang disampaikan oleh pakarnya, maka ada baiknya jika para pegiat kebencanaan, yang saat ini disebuat pentahelix, mulai meningkatkan komunikasi dan koordinasi diantara mereka dalam sebuah pertemuan yang terjadwal secara berkala. Baik yang didanai oleh anggaran BNPB/BPBD maupun dana ‘bantingan’ diantara mereka sendiri, dalam rangka menggagas program pengurangan risiko bencana maupun penanggulangan bencana (pra bencana, tanggap darurat bencana, dan pasca bencana), yang bisa menjadi bahan masukan BPBD/BNPB untuk penyusunan kebijakan. Sayangnya, budaya ‘bantingan’  kurang diminati.

Dengan seringnya berkomunikasi dan berkoordinasi (sambil ngopi, misalnya), maka “suara sumbang” yang sering muncul bisa dieliminasi dan dicarikan solusi, misalnya yang terkait dengan dukungan transportasi yang sering dikeluhkan dan sangat dibutuhkan relawan yang ingin turut beroperasi membantu penanggulangan bencana di lokasi. [eBas/Selasa legi-3/9]





Selasa, 20 Agustus 2019

BNPB Sosialisasi Desa Tangguh Tsunami


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan sosialiasi Desa Tangguh Bencana (Destana) tsunami bersama tim ekspedisi dan telah menyasar 512 desa di 24 kabupaten/kota. Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat lebih siap dalam menghadapi bencana tsunami.

"Kegiatan ini dalam rangka penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami dan untuk pengembangan Desa Tangguh Bencana yang berada di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/8/2019).

BPNB sebagai lembaga negara yang bertugas untuk mengoordinasikan upaya penanggulangan bencana, membuat langkah untuk melindungi masyarakat berisiko yang berada di desa/kelurahan tersebut. Ekspedisi ini juga melibatkan lima unsur (pentahelix), yaitu pemerintah, akademisi, masyarakat, lembaga usaha, dan media.

Ekspedisi ini terbagi dalam empat segmen, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten, yang masing-masing segmen diikuti 200 orang. Dari target 518 desa, hanya tercapai 512 desa yang berhasil disosialisasikan tentang kesiapsiagaan dan potensi tsunami.

"42 ribu masyarakat yang kami datangi, lebih dari 3.700 orang perangkat desa yang kami berikan pemahaman bencana. Kendala di lapangan banyak kami alami, termasuk penolakan dari kepala daerah tersebut," ucap Deputi Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan. 

Diketahui, ada 600 ribu lebih masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tsunami. Fakta Tim Destana di lapangan menemukan tingkat kesiapsiagaan cukup baik bagi daerah yang sudah pernah mengalami tsunami, namun yang belum mengalami tsunami masih banyak yang belum paham dan tidak tahu kemana harus melakukan evakuasi.

"Selain itu, infrastruktur yang masih belum memadai untuk evakuasi. Dari timur Jawa ke barat, masih banyak daerah wisata, yang hampir sebagian besar tidak punya rambu peringatan tsunami. Hal ini sangat riskan bagi keselamatan pengunjung," ucap Lilik.

Kepala BNPB Doni Monardo juga menggagas pembangunan monumen tentang peristiwa bencana alam yang sudah terjadi. Monumen itu ditujukan agar masyarakat mengingat peristiwa bencana alam. Menurutnya, bencana tidak dapat dihindari, namun bisa dikurangi risikonya.

"Konsep pentahelix merupakan sosialisai yang terbaik. Perangkat desa ini diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan sosialisasi kepada RW/RT dan keluarga, namun tetap memperhatikan kearifan lokal. Poinnya, masyarakat harus sadar potensi bencana yang ada, memahami dan mampu melakukan upaya pencegahan, dan masyarakat menjadi tangguh serta mampu dalam menyelamatkan diri dari bencana," tutur Doni. 

Selanjutnya, kegiatan ini akan dilanjutkan menjadi KKN tematik Destana dan bekerjasama dengan perguruan tinggi. Selain itu, ada dua buku mengenai tulisan ekspedisi dan foto perjalanan ekspedisi untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat lain. [sumber:news.detik.com/berita/14/8]




Jumat, 16 Agustus 2019

SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA MASUK DIKLAT PAUD DIKMAS


Tahun 2019, yang bertepatan dengan shio babi tanah ini, BP-PAUD dan DIKMAS Jawa timur mempunyai terobosan baru dalam menggelar pelatihan untuk lembaga mitra. Kegiatan yang bertema “Peningkatan Kompetensi SDM melalui Bimtek (LKP, PAUD, PKBM), berlangsung di “Kampus Gebang Putih 10” Surabaya.

Terobosan baru itu adalah dimunculkannya materi tentang pengurangan risiko bencana, yang di dalamnya berisi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Sebuah materi baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Mengapa baru sekarang diadakan ?.

Seperti diketahui, sejak terjadinya gempa di Pulau Lombok yang meluluh lantakkan Kabupaten Lombok Utara, kemudian disusul gempa Palu (Sulawesi tengah) yang diberengi dengan tsunami dan likuifaksi (jenis bencana baru yang belum dimasukkan ke dalam UU 24 tahun 2007, sebagai salah satu jenis bencana).

Ke dua bencana yang melanda daerah yang berbeda ini belum selesai ditangani, sudah disusul gempa selat sunda yang memunculkan tsunami di pantai pangandaran dan lampung. Di susul dengan berbagai bencana di daerah lain dengan korban harta benda dan nyawa yang tidak sedikit.

Dari situlah kemudian muncul ‘himbauan’ presiden dan mendikbud agar pendidikan mitigasi bencana diajarkan di sekolah. Sayangnya himbauan itu kurang disambut serius dikarenakan ada anggapan materi pelajaran di dalam kurikulum sudah padat.

Bagaimana dengan satuan pendidikan nonformal (SKB, PKBM, PAUD, dan LKP) dalam menyambut himbauan presiden dan mendikbud itu?. Sama saja, setali tiga uang. Bahkan terkesan tidak ada yang peduli melakukan pengkajian untuk dijadikan program aksi sebagaimana yang dihimbaukan oleh presiden.

Padahal, sesungguhnyalah peserta didik dari satuan pendidikan nonformal itu kebanyakan berdomisili di desa yang masuk dalam kawasan rawan bencana. sehingga kalau terjadi bencana mereka akan menjadi korban pertama, sekaligus sebagai orang yang melakukan penyelamatan terhadap korban bencana, sebelum bantuan dari luar datang.

Dari situlah kemudian, sesuai dengan salah satu tugas BP-PAUD dan DIKMAS Jawa Timur, melaksanakan pengembangan mutu pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat. Sementara salah satu fungsinya adalah pengembangan program PAUD dan DIKMAS.

Maka pamong belajar BP-PAUD dan DIKMAS JATIM setiap tahun diwajibkan mengembangkan model. diantaranya model pembelajaran mitigasi bencana pada pendidikan multikeaksaraan. Sasaran dari model ini adalah masyarakat penyandang buta aksara yang baru menyelesaikan program keaksaraan fungsional. Tujuannya adalah sebagai upaya menjaga kemampuan keberaksaraannya agar tidak kembali buta aksara, sekaligus paham akan pentingnya melakukan mitigasi mandiri seperti dalam konsepnya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Kemudian model lain yang masih bersinggungan dengan masalah kebencanaan adalah pengembangan model pembelajaran sadar bencana untuk memperkuat karakter bagi peserta didik LKP. Saat ini model ini masih dalam tahab ujicoba.

Harapannya, setelah mereka menerima materi ini bisa memahami arti penting kesiapsiagaan menghadapi bencana serta mampu melakukan mitigasi untuk mengenali potensi bencana yang ada di daerahnya sebagai upaya mengurangi risiko bencana.

Seperti diketahui, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Dengan kata laian, mitigasi bencana merupakan suatu aktivitas yang berperan sebagai tindakan pengurangan dampak bencana, atau usaha-usaha yang dilakukan untuk megurangi korban ketika bencana terjadi, baik korban jiwa maupun harta. 

Sedangkan Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU RI No.24 Tahun 2007). Kegiatan yang termasuk kesiapsiagaan itu seperti penyusunan rencana penanggulangan bencana, pemeliharan dan pelatihan personil. Bisa juga dikatakan bahwa Kesiapsiagaan adalah upaya yang dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, dan berubahnya tata kehidupan masyarakat.

Sementara, untuk kegiatan bimbingan teknis kali ini, peserta diperkenalkan dengan konsep SPAB, dalam rangka penguatan kapasitas sekolah termasuk kepala sekolah, guru dan siswa tentang kesiapsiagaan agar mereka dapat selamat ketika terjadi bencana.

Dengan kata lain, SPAB sebagai bentuk antisipasi terjadinya bencana di lingkungan sekolah guna mengurangi risiko serta memberi pemahaman kepada pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik, terkait risiko bencana yang mengancam daerahnya dimana sekolah itu berada.   

Disamping itu, melalui SPAB peserta dapat turut membangun budaya siaga, budaya aman dan budaya pengurangan risiko bencana di sekolah, serta membangun ketahanan warga sekolah dalam menghadapi bencana secara terencana, terpadu dan terkoordinasi dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dalam rangka memberikan perlindungan kepada peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan dan masyarakat di sekitar sekolah dari ancaman dan dampak bencana.

Dengan memahami SPAB itulah, diharapkan para pengelola satuan pendidikan nonformal bisa menerapkan konsep SPAB di daerahnya, tentunya dengan beberapa modifikasi sesuai dengan karakteristik budaya setempat. Paling tidak pengelolanya membangun kerjasama dengan relawan setempat untuk mensosialisasikan masalah kebencanaan kepada peserta didiknya.

Hal ini mengingat bahwa upaya penanggulangan bencana itu bukan hanya urusan pemerintah, namun urusan semua sesuai konsep pentahelix (pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media), yang dikenalkan oleh Kepala BNPB beberapa waktu yang lalu. Dalam UU 24 tahun 2007, ada pasal yang mengatur tentang hak masyarakat untuk mendapat pelatihan tentang kebencanaan dan kewajiban untuk melakukan upaya penanggulangan bencana.

Semoga apa yang dilakukan oleh BP-PAUD dan DIKMAS Jawa timur bisa menginspirasi Balai lainnya untuk turut serta menyisipkan materi kebencanaan dalam kegiatan diklat maupun bimtek yang rutin dilaakukan dalam rangka upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia pengelola satuan pendidikan nonformal, dalam rangka peningkatan dan penjaminan mutu program PAUD dan DIKMAS untuk mendukung jargon "menuju SDM unggul Indonesia maju" . Salam Literasi, terus menginspirasi, [eBas/Sabtu wage-17/8]









Senin, 12 Agustus 2019

YANG TERCATAT DARI OPEN TALK SABTU PAHING


                “Alat yang diproduksi itu mahal daripada produk kami, termasuk alat yang dipasang di Pancer itu mahal sekali. Jika dibelikan ke kami bisa mendapat 10 biji dengan fungsi yang sama,” Kata Nara sumber di acara Open Talk yang digelar di Kampus ITS, tepatnya Gedung Geofisika, sabtu pahing (10/8).

Open Talk adalah Kegiatan pengimbasan ilmu dan pengalaman yang rutin digelar oleh Masyarakat Tangguh Inklusif (MTI). Kegiatan ini disamping untuk anggota terdaftar, juga dihadiri oleh berbagai komunitas yang peduli terhadap masalah kebencanaan. Materinya beragam, biasanya disesuaikan dengan kejadian yang sedang ngetren, dan dipandu oleh nara sumber yang kompeten. Untuk kegiatan kali ini materinya berbicara tentang alat peringatan dini Fidela dan Pengalaman mengikuti Ekspedisi Destana Tsunami (EDT) 2019 wilayah Jawa timur, mulai Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan berakhir di Pacitan.

Terkait dengan early warning system (EWS), nara sumber mengatakan bahwa di pantai selatan ada sekitar 400 EWS canggih buatan luar negeri yang harganya miliaran rupiah, namun sayang kurang berfungsi optimal, bahkan sudah banyak yang tidak berfungsi karena rusak maupun hilang dicuri orang.

Dari situlah nara sumber beserta tim nya membuat sendiri alat peringatan dini yang diberi nama Fidela. Mereka berusaha membuat alat yang murah dengan fungsi sama, dilengkapi dengan alat (semacam sensor atau CCTV, mungkin) untuk menjaga agar Fidela tidak hilang dan berfungsi optimal. Artinya, alat ini dilengkapi software  yang bisa mengirim sinyal jika tempatnya berubah dari posisi semula atau dipindah oleh orang lain (dicuri), sehingga cepat ditindak lanjuti. 

Sayangnya, sampai generasi ke 3, alat ini belum ‘digunakan’ oleh instansi yang berwenang dalam hal penanggulangan bencana. mengapa bisa begitu ?. alat yang diproduksi oleh anak negeri sendiri yang sangat canggih dan relatif murah itu, kok kalah bersaing dengan produk luar negeri yang harganya tidak murah.

Menurut teori ngawurologi, kemungkinan alat itu tidak dibeli dan belum digunakan secara massal itu diantaranya, (1) alat itu kurang promosinya, sehingga kalah bersaing dan tidak dikenal oleh calon konsumen. (2)  alat ini masih sebatas untuk pameran ilmiah atau sekedar untuk keperluan mengikuti lomba berhadiah, dan (3) pengusahanya belum bisa “meng-entairtain” calon konsumen seperti yang biasa dilakukan oleh pedagang (rekanan lembaga) pada umumnya, agar proyek pengadaan alat itu jatuh ketangannya. (jika perlu, termasuk proyek pemeliharaannya).

Apa yang terpapar dalam teori ngawurologi itu bisa salah, namun juga bisa benar seperti yang sering dikabarkan oleh burung melalui media massa. Seperti masalah impor bawang yang dilakukan pengusaha tertentu yang berkolaborasi dengan anggota dewan dan akhirnya menjadi tahanan KPK. Konon, pengusahanya juga harus meng entertain dulu agar proyeknya berjalan. Guyonan yang sering dilontarkan adalah, semua yang berbau proyek itu harus ada koordinasi dulu. Yaitu Koor nya ada di nasi. Jika ada nasi baru terjadi koordinasi. Wallahu a’lam.

Tentu kedepan, diharapkan alat canggih bikinan alumni ITS ini perlu diperkenalkan ke pihak yang bertugas mengurusi bidang penanggulangan bencana. Caranya, dengan menggelar kegiatan diskusi, seminar  atau apapun namanya dengan menghadirkan para pemegang kebijakan dan anggaran. Tujuannya jelas agar mereka beralih memanfaatkan produk anak negeri, seperti amanat Bung Karno, berdiri di kaki sendiri (berdikari).

Dari kegiatan itu,  mereka bisa langsung tahu bentuk alatnya, melihat cara kerjanya dan lainnya untuk kemudian mau memborong alat ini untuk dipasang diberbagai titik menggantikan alat yang telah terpasang dan hilang maupun yang rusak. Narsumnya juga bilang bahwa sebaiknya sebelum alat dipasang haruslah disosialisasikan lebih dulu ke masyarakat setempat agar mereka mengerti tujuan dan manfaat pemasangan alat ini, sehingga tumbuh rasa ikut memiliki alat dan mau memelihara serta menjaganya.

Sementara, paparan nara sumber tentang pengalaman mengikuti EDT 2019, sangat menarik. Semangat relawan dalam melakukan edukasi dan sosialisasi terkait dengan potensi bencana tsunami di daerahnya, perlu mendapat apresiasi dan dilatih lagi agar semakin ‘luwes’ dalam berinteraksi langsung dengan masyarakat sesuai kearifan lokal setempat.

Disisi lain, ada masukan bahwa kegiatan EDT 2019 yang telah dirintis itu harus ada tindak lanjutnya. Baik itu berupa KKN tematik maupun munculnya inisiatif dari BPBD untuk mengagendakan secara rutin diklat maupun simulasi penanggulaan bencana kepada masyarakat. Sukur-sukur jika kegiatan simulasi juga melibatkan unsur pentahelix.

Tanpa ada tindak lanjut, maka program EDT 2019 yang menelan biaya tidak sedikit itu tidak akan berdampak kepada upaya membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Seperti biasanya, kegiatan Open Talk diakhiri dengan foto bersama sebagai bukti fisik yang dapat dijadikan potofolio ketika nanti relawan berminat ikut sertifikasi relawan oleh LSP-PB. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan.  [eBas/senin wage-12/8]




Sabtu, 10 Agustus 2019

RELAWAN SADAR BENCANA


Ada yang istimewa dalam kegiatan pelatihan pengelola PAUD dan PKBM tahun 2019 ini. Kegiatan yang dikemas dengan tema Peningkatan Kompetensi SDM Melalui Bimtek bagi Pengelola PAUD dan PKBM (untuk LKP menyusul gelombang berikutnya). Istimewanya adalah, disisipkannya materi tentang Pendidikan (manajemen) Pengurangan Risiko Bencana Pada Satuan PAUD dan DIKMAS.

Ya, materi baru yang oleh Balai coba diperkenalkan dikalangan pegiat satuan pendidikan nonformal (SPNF), dimana seringkali lokasinya atau peserta didiknya banyak yang berdomisili di daerah rawan bencana. Sehingga materi ini menjadi penting diberikan, agar mereka sadar bahwa di daerahnya ada potensi bencana.

Sesungguhnyalah, materi tentang kebencanaan ini sudah ada sejak tahun 2012, dengan nama SMAB (sekolah madrasah aman bencana) yang diperbaharui menjadi SPAB (satuan pendidikan aman bencana). walau sudah lama, namun konsep SMAB/SPAB belum banyak dilakukan di pendidikan formal. Apalagi di pendidikan non formal. Mengapa begitu ?. ya tidak tahu, nyatanya memang begitu. Mungkin pejabatnya yang kurang memiliki kesadaran untuk melakukan itu.

Kegiatan yang bertempat di Aula BP-PAUD dan DIKNAS JATIM berlangsung meriah dan interaktif. Dipandu oleh  pakarnya dari MDMC (muhammadiyah disaster managemen center), membuat peserta antusias mendengan paparan materi yang baru tahun ini diadakan oleh Balai.

Materi yang diberikan berkisar pada konsep satuan pendidikan aman bencana. seperti, Konsep dan Konteks Penanggulangan Bencana  (PB) di Indonesia, Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Tiga Pilar Kerangka Kerja dalam SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana), Pengkajian Risiko Bencana secara mandiri dan partisipatif, Praktek Pengkajian berbasis aset sekolah, Pembuatan RAS (rencana Aksi Sekolah), diakhiri dengan Praktek Pembuatan Peta/Denah Ancaman, Risiko dan Jalur Evakuasi, serta Pembuatan Protap Bencana Sekolah.

Sebagai penyemangat, disamping diberi tas beserta isinya, peserta juga diberi kaos lengan panjang warna orange, waran khas relawan kebencanaan, yang bertuliskan ‘Relawan Sadar Bencana’. ya, dengan pemberian kaos ini diharapkan peserta yang bergiat di satuan pendidikan nonformal, tumbuh kesadaran akan pentingnya mengenali potensi bencana yang ada di daerahnya untuk kemudian bisa mengurangi risiko saat terjadi bencana.

Tentu, dengan pemberian kaos orange bertuliskan Relawan Sadar bencana, bukan otomatis sipemakainya langsung memiliki kesadaran akan arti penting kesiapsiagaan menghadapi bencana dan mengurangi risikonya. Ya, harus ada tindak lanjutnya. Baik berupa diklat maupun simulasi yang diagendakan secara berkala untuk menumbuhkan budaya tangguh bencana kepada peserta didiknya.

Sukur-sukur alumni kegiatan ini bisa berperan sebagai aktor yang menyebarkan konsep pengurangan risiko bencana kepada masyarakat sekitarnya. Jadi semuamya memerlukan proses. Tidak hanya sekali mendengarkan materi SPAB langsung menyandang gelar relawan yang sadar bencana. ingat semuanya butuh proses dan tidak semua orang bisa menjadi relawan.

Mungkin,BP-PAUD dan DIKMAS JATIM lah yang pertama berani menerapkan materi kebencanaan ini dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM Pengelola Satuan Pendidikan Nonformal. Hal ini mengingat, seperti yang dirilis dalam indek risiko bencana Indonesia (IRBI) BNPB,  bahwa di seluruh daerah Jawa Timur berpotensi terjadia bencana dengan ancaman yang berbeda, sesuai letak geografisnya. Hampir semua jenis bencana ada di Jawa Timur. Ada bencana erupsi gunung api, banjir, longsor, gempa, tsunami, kekeringan, kebakaran, dan angin puting beliung.

Disisi lain, ada sekitar 2.000 gedung sekolah yang didirikan di daerah rawan bencana. jumlah tersebut belum termasuk lembaga pendidikan nonformal (PKBM, SKB, LKP, dan PAUD). Dengan kondisi yang seperti ini, tentulah diperlukan upaya penyadaran kepada para pegiat SPNF tentang adanya potensi ancaman bencana di daerahnya.

Sehingga mereka bersama-sama relawan penanggulangan bencana lainnya (termasuk BPBD setempat, jika memungkinkan), bisa membangun sinergi untuk bersama-sama melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pengurangan risiko bencana, sehingga akan tercipta masyarakat sadar bencana yang memiliki kesiapsiagaan serta bisa melakukan mitigasi dan evakuasi mandiri ketika bencana melanda daerahnya. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/ minggu pon (11/9) dini hari]