Rabu, 20 Desember 2023

JAMAAH LC BUKAN TEMPATNYA LADY COMPANEON

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan terlibat dalam kepanitiaan Annniversary FORMALITAS 2023 yang ke-5, bagian seksie keamanan. Pesertanya banyak, datang dari berbagai komunitas dengan segala gaya dan penampilan yang khas sebagai pecinta kegiatan di alam bebas. Walau terkesan sangar, tapi mereka sangat baik, grapyak semanak, saling sapa sambil tersenyum penuh keakraban.

Begitu pula saat saya di Mushola yang ada di kawasan Bernah de Vallei, lokasi yang dipilih untuk memeriahkan acara ulang tahun. Sambil nunggu giliran sholat, saya coba menyapa mereka.

“Kenalkan saya Ebas dari Jamaah LC Surabaya,” Kata Saya sambil mengulurkan tangan.

“Lho, memangnya LC ada jamaahnya to?,” Katanya penuh keheranan.

“Asik ini, LC nya cantik-cantik ya, bisa dibooking gak,”Tanya yang lain.

Lho, saya malah bingung dengan perkataan mereka. Kok gak nyambung ya, pasti ada yang salah dan perlu penjelasan agar tidak salah paham. Benar, ternyata mereka menganggap singkatan LC pada komunitas saya itu adalah sebuah profesi yang sangat melekat dengan dunia hiburan malam.

Mereka mengira LC merupakan singkatan dari ‘Lady Companion’. Yaitu, perempuan yang tugasnya menemani konsumen bernyanyi di tempat karaoke. Bahkan, jika keduanya merasa cocok, biasanya berlanjut ke hubungan yang pribadi sifatnya. Tidak jarang diteruskan ke ranjang setelah ber-karaoke-ria.

Waduh, bahaya. Ini harus dijelaskan agar mereka tidak beranggapan Jamaah LC sebagai tempat berhimpunnya para pemandu karaoke. Sungguh, tidak ada hubungannya sama sekali.

LC di sini singkatan dari “Lorong eduCation”. Jadi, secara singkat Jamaah LC merupakan tempat berkumpulnya berbagai pihak untuk ngobrol bareng sambil ngopi, penuh suka ria. Materi obrolan bisa apa saja tanpa ada batasan, yang penting tidak menyinggung SARA dan diminati bersama.

LC juga sebagai tempat mempererat tali silaturahmi sekaligus media memperluas jejaring kemitraan dan pertukaran gagasan. Masing-masing dipersilahkan melontarkan gagasan dengan bebas merdeka, disertai argumentasi dan solusi.

Jika lontaran gagasan itu dianggap menarik, maka akan dibahas bersama sampai muncul sebuah rencana kegiatan yang dapat diikuti oleh banyak pihak. Kegiatan itu, diantaranya dapat berupa aksi sosial santunan kepada kaum dhuafa, kerja bakti membersihkan sampah dan penaman pohon.

Juga mengadakan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas relawan, sesuai minat dan kemampuannya. Bahkan juga terlibat membantu pihak lain dalam melaksanakan program kemanusiaan. Semuanya dilakukan dalam suasana riang gembira tanpa tekanan, tanpa utangan, karena dapat mengganggu stabilitas pertemanan.

Sementara, jika gagasan yang dilontarkan itu dianggap kurang menarik atau terlalu sulit untuk direalisasikan, maka gagasan itu hanya akan menjadi bahan obrolan saja tanpa kelanjutan, sekedar menambah wawasan.

Begitulah keberadaan Jamaah LC, yang sampai saat ini tetap istiqomah tanpa memiliki struktur organisasi yang jelas. Karena semua anggota Jamaah LC memegang prinsip, yang penting ikhlas dan saling menguatkan.

Jamaah LC sangat terbuka bagi siapa saja untuk membangun kegiatan kolaboratif, terkait upaya meningkatkan kapasitas relawan kemanusiaan (bidang penanggulangan bencana). Ya, siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke basecamp Jamaah LC, diharapkan membawa stiker logo organisasinya. untuk ditempelkan sebagai kenangan yang indah.

Semoga dengan paparan singkat ini, semua pihak semakin paham tentang apa itu Jamaah LC dengan segala kiprahnya. Sekedar diketahui bahwa dunia perbankan juga memiliki istilah L/C (Letter of Credit).

Yaitu,  sebuah instrumen yang dikeluarkan oleh sebuah bank atas nama salah satu nasabahnya, yang menguasakan seseorang atau sebuah perusahaan penerima instrumen tersebut menarik wesel atas bank yang bersangkutan atau atas salah satu bank korespondennya bagi kepentingan, berdasarkan kondisi-kondisi/ persyaratan-persyaratan yang tercantum pada instrumen.

Percayalah, Jamaah LC tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Letter of Credit  yang di beberapa kasus, dapat membuat kepala sakit karena dibelit urusan duit yang rumit. Salam Waras, seduluran sak lawase. [eBas/KamisLegi-21122023]  

 

 

Jumat, 15 Desember 2023

MUSIM HUJAN WAKTUNYA MENGHIJAUKAN HUTAN, GUNUNG DAN PANTAI

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 11 Desember 2023, diperingati sebagai hari gunung internasional. Peringatan ini merpakan upaya menyadarkan kita semua akan pentingnya menjaga pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati yang  ada di gunung (termasuk dihutan dan pantai).

Konon, tema hari gunung internasional tahun ini adalah "Memulihkan ekosistem pegunungan", yang harus didukung oleh kebijakan politik, penelitian ilmiah, dan dukungan dana operasional.

Hal ini sebagai upaya mempercepat penghijauan dan mencegah penggundulan gunung untuk usaha ekonomi dengan mengabaikan potensi bencana (termasuk rusaknya habitat flora fauna), yang akan muncul akibat perubahan tata guna lahan.

Dalam peringatan ini, berbagai komunitas di seluruh dunia diharapkan berkontribusi untuk menyelamatkan gunung dengan segala isinya. Salah satunya dengan melakukan penghijauan diawal musim penghujan.

Ya, mereka tidak  hanya menghujaukan gunung saja. Namun  juga menghijaukan area hutan dan lahan kosong untuk mengurangi terjadinya kekeringan (kekurangan air) dan bahaya banjir longsor. Serta menanami pantai dengan mangrove, cemara udang, waru, sono laut, dan tumbuhan lain yang cocok di area pesisir,

Salah satu contoh adalah komunitas sahabat giri wana (SGW), yang bermarkas di Surabaya barat. Di awal musim penghujan ini, mereka telah memulai ”merawat” alam bekerja sama dengan berbagai pihak, menanam pohon untuk ‘melestarikan’  kehidupan. Tidak lupa mereka juga mendiskusikannya sambil nyruput kopi dan menikmati semilirnya malam di alam terbuka.

Jika memungkinkan, mereka juga dapat melakukan upaya memahamankan masyarakat melalui edukasi dan promosi tentang pentingnya upaya pelestarian lingkungan hidup untuk mengurangi risiko bencana. Seperti, upaya mengatasi deforestasi, mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan, serta mengurangi dampak aktivitas manusia yang merugikan ekosistem gunung, hutan dan pantai.

Dengan demikian, setiap orang dapat menjadi bagian dari upaya melindungi keanekaragaman hayati serta ekosistem di gunung, hutan, dan pantai. Termasuk melestarikan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Sementara, Cak nDan dengan komunitasnya di Kota Malang, yang telah mendedikasikan diri untuk ‘merawat’ alam dengan caranya sendiri. Konon, hasilnya juga mulai dirasakan oleh berbagai pihak.

Begitu juga dengan komunitas lain yang tidak disebut disini. Mereka, dengan kemampuannya, juga berbuat untuk pelestarian alam.

Ya, mereka adalah pekerja sunyi yang luput dari pemberitaan media. Bahkan kelakuan mereka yang memberi manfaat bagi kehidupan, enggan dipublikasikan. Semua itu, konon untuk menjaga keikhlasan sebagai ladang mencari pahala-NYA.

Musim hujan telah datang di penghujung tahun 2023, waktunya para pegiat alam dan pecinta lingkungan beraksi dengan penuh dedikasi dan loyalitas tanpa batas, menghijaukan gunung, dan hutan yang beberapa waktu lalu kering kerontang, meranggas dan terbakar oleh panasnya kemarau.

Mereka juga merawat pohon bakau  yang menjadi tempat hidup biota laut sekaligus penahan ombak alami agar tidak terjadi banjir rob, abrasi serta intrusi, yang membahayakan kehidupan. Bismillah, mari kita bersama merawat lingkungan alam sesuai dengan kemampuan masing-masing. Salam Lestari. [eBas/JumatKliwon-15122023]  




Senin, 11 Desember 2023

YANG TERCATAT DARI ACARA ANNIVERSARY FORMALITAS KE-5 TAHUN 2023

Seperti tahun tahun yang lalu, forum bersama lintas komunitas (FORMALITAS) selalu mengadakan acara “slametan” agar keberadaan forum sebagai wadah berbagai komunitas yang bergerak di bidang sosial, dan kemanusiaan semakin kompak dalam menjalankan programnya. Termasuk meningkatkan kapasitas anggotanya, agar dapat berdampak positif bagi sesama.

“slametan” itu dikemas dalam acara anniversary formalitas ke-5. Ditangani oleh sebuah kepanitiaan yang terdiri dari berbagai komunitas. Ketuanya Silvia, dari komunitas pecinta kopi ketinggian. Dibawah arahannya, semua panitia yang ditunjuk bekerja sesuai arahan. Inilah (mungkin), yang menjadikan acaranya sukses luar biasa tanpa friksi yang berarti.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, sabtu dan minggu, tanggal 9 – 10 Desember 2023, diikuti oleh berbagai komunitas dengan mengibarkan bendera kebanggaannya. Sekitar 600 peserta datang dari berbagai daerah, penuh sukacita turut memeriahkan acara yang dikemas apik oleh panitia. 

Ada penampilan tari remo, tari kreasi baru, dan permainan gitar akustik. Gelaran ini sebagai upaya menggali bakat dalam berkesenian. Ada juga acara khas para pegiat alam ini yang wajib ada dalam setiap acara. Yaitu makan bersama beralaskan daun pisang. Sebagai bentuk paseduluran, kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan.

Tidak lupa komunitas Famili Satwa Sidoarjo, ambil bagian memamerkan beberapa hewan piaraannya. Diantaranya, Ular, Musang, Tokek, Iguana, dan burung hantu. Pameran satwa ini dalam rangka mengedukasi khalayak untuk menumbuhkan rasa cinta fauna. 

Begitu juga Arul Lamandau dari Komunitas Petarung Kehidupan. Didukung oleh Komunitas Leewung (Lelaku endah elok wong urip jelajah gunung) dan Arra Outdoor, menggelar program dulkelas dengan sasaran anak-anak dengan metode belajar sambil bermain. Sehingga anak-anak punya kesan tersendiri mengikuti orang tuanya hadir dalam acara rutinan ini. Alangkah baiknya jika program dulkelas dikolaborasikan dengan family satwa sidoarjo dalam sebuah kegiatan.

Konon, acara yang digelar di camping ground Bernah de Vallei, Pacet, Mojokerto, dengan jargon “guyub rukun sak lawase” ini tergolong istimewa. Acaranya tidak hanya kumpul bersama melepas kangen 'bersulang cerita' pengalaman, sambil menikmati hiburan semata. Namun juga diisi dengan kegiatan donor darah, pemberian santunan kepada anak yatim hasil donasi anggota FORMALITAS, serta kehadiran Yayasan PANNA yang memberikan sosialisasi tentang bahaya narkoba dan pemeriksaan urine secara gratis.

Termasuk pemberian kesempatan kepada beberapa komunitas membuka lapak, menjadikan acara ini semakin ramai penuh warna. Apalagi ada yang membagikan minuman gratis. Belum lagi pembagian door prize yang jumlahnya banyak, dengan hadiah utama sebuah kulkas. Sungguh, perayaan yang digelar dipenghujung tahun  bershio kelinci air ini sangat istimewa. 

Ya, baru tahun inilah ada door prize berupa kasur busa  dan sebuah kulkas. Apa ini karena ketua pelaksananya seorang ibu yang mumpuni, seperti tokoh wayang Srikandi, yang trengginas dalam segala hal. Sat set, wat wet, bras bres beres. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/SelasaPahing-12122023]

Kamis, 30 November 2023

ARISAN ILMU BERGULIR KEMBALI DI PENGHUJUNG TAHUN BERSHIO KELINCI 2023

Alhamdulillah, Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINR) akan digelar kembali. Rencananya kegiatan ikonik SRPB Jatim ini akan menempati Ruang Siaga, Kantor BPBD Provinsi Jawa Timur, pada hari minggu pahing (17/12/2023). Pesertanya dibatasi, hanya 100 orang saja. Hal ini terkait dengan tempat.

Ya, ditengah kesibukan pengurus yang padat terkait dengan penghidupannya, mereka masih sempat menjalankan program gratisan sesuai kesepakatan. Ini pertanda bahwa pengurus tetap konsisten terhadap pelaksanaan program yang telah disepakati bersama secara terbuka, tidak slinthutan.

Disini pengurus yang membidangi program AINR patut diacungi jempol. Karena mereka tetap istiqomah melaksanakan AINR di setiap bulannya. Seperti diketahui, sejak kelahirannya, AINR memang dikerjakan secara mandiri dengan metode saweran antar pengurus dan anggota mitra berbasis SUSU TANTE (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan). Semua ditanggung bersama semampunya. Saling menguatkan tanpa meninggalkan. Ya begitulah, AINR belum pernah mendapat cipratan proyek seperti yang lainnya.

Ya, sejatinya pengurus SRPB Jatim tidak hanya nggarap program yang ada duitnya saja. Namun juga tetap konsisten melaksanakan program gratisan secara bersama-sama dengan penuh keadilan. Alhamdulillah, selama ini semuanya belum ada yang terkontaminasi Virus Cuan. Sehingga tidak ada yang hanya nggarap program berduit saja, dan berusaha menghindari melaksanakan program gratisan dengan berbagai alasan. Semoga hal baik ini tetap terpelihara selamanya. Ingat kata orang bijak, gak usah rebutan rejeki. Karena rejeki tidak pernah tertukar. Tenang saja semua ada waktunya.

Untuk AINR #52 ini mengambil tema “Post Traumatic Stress Disorder”, yang akan diampu oleh Ahmad Guntur, seorang dosen yang baik hati dari STIKES Widyagama Husada Malang. Tentu, sesuai konsep nol rupiah, Pak Dosen ini tidak diberi honor serupiahpun. Bahkan dia harus mengeluarkan kocek sendiri untuk biaya transportasi dan akomodasi selama perjalanan Malang Surabaya pulang pergi.

Alhamdulillah, ternyata masih ada orang pandai yang bersedia berbagi ilmu secara gratisan dalam rangka peningkatan kapasitas relawan. Semoga menjadi ladang pahala yang mbarokahi untuk jenjang karier Pak Dosen.

Menurut literatur, Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stres pasca trauma adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa traumatis. Misalnya, pelecehan seksual, bencana alam, peperangan, atau kecelakaan. Sungguh, pengetahuan ini sangat berguna bagi relawan yang sering ikut turun ke lokasi bencana mendampingi para korban (penyintas) dengan segala deritanya.

Paling tidak, materi ini akan menambah wawasan ketika melakukan Layanan Dukungan Psikososial. Hal ini seperti yang dikatakan oleh dokter Airi Mutiar, ahli anestesi RSUD, Dokter Soetomo Surabaya, bahwa materi ini dapat dijadikan bekal untuk mengedukasi masyarakat.  

Untuk itulah sangat rugi sekali jika para relawan melewatkan kesempatan ini. Ingat, kesempatan tidak mungkin datang dua kali. Karena AINR berikutnya, mungkin akan diisi oleh nara sumber lain, misalnya dari Forum PRB Jawa Timur, dengan materi yang tidak kalah menariknya. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/KamisKliwon-30122023]

 

 

 

 

  

 


Minggu, 26 November 2023

RELAWAN LITERASI AMAN BERKENDARAAN

Salah satu agenda dari komunitas volunteer of humanity (VOH) di akhir tahun yang bershio kelinci ini adalah  mengadakan Family Camp di Hutan Kota Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Surabaya, sabu dan minggu, tanggal 25 – 26 November 2023.

Kegiatan yang baru pertama digelar ini banyak diminati berbagai komuitas relawan. Panitianya ramah, lokasinya indah alami, dipenuhi aneka pohon yang perawatannya perlu ditingkatkan. Khususnya kebersihan lingkungan. Jika memungkinkan VOH dapat membuat acara kerja bakti "merawat" Balas Klumprik.

Materinya pun menarik, sangat bermanfaat untuk bekal pengetahuan saat berkegiatan di alam bebas. Tentang bagaimana cara menangani gigitan ular agar korban terselamatkan. Termasuk merawat korban yang tersengat lebah atau tawon vespa affinis (tawon ndas).

Begitu juga materi water rescue yang disampaikan oleh Tim Rescue dari SAR-MTA. Walaupun hanya materi kering (teoritis), namun mampu menyihir peserta untuk memperhatikan dengan penuh seksama. Bagi mereka yang berminat, syaratnya adalah dapat berenang dan sehat, kuat dan tenang tidak grusa grusu (dapat mengendalikan emosi).

Semoga, pengurus VOH segera mengagendakan latihan water rescue yang sesungguhnya. Praktek langsung bermain air basah-basahan. Pasti seru dan menyenangkan dalam rangka meningkatkan kapasitas relawan untuk terlibat dalam upaya penyelamatan korban kecelakaan di sungai.

Sementara materi etika berkomunikasi dengan radio komunikasi, kiranya juga perlu dipahami oleh relawan yang biasa membawa Handy Talky (HT) untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Baik yang tergabung dengan ORARI maupun RAPI, untuk menyampaikan informasi penting yang perlu ditindak lanjuti.

Acara ini, disamping mendapat kunjungan dari Ketua RW dan Babinsa koramil setempat dalam rangka “Pengkondisian” wilayah. Kapolsek Wiyung, didampingi Babinkamtibmas dan seorang intel, berkesempatan ngopi bareng sambil ngobrol santai tenang masalah narkoba dan kebencanaan.

Kapolseknya ganteng, cerdas, full senyum dan ramah, tidak seperti oknum polisi yang suka mencari rejeki di pinggir jalan. Dari obrolan itu, muncul gagasan menarik dari Kapolsek. Yaitu perlunya ada relawan literasi safety riding, sesuai UU nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Safety riding diartikan sebagai bentuk perilaku berkendraan yang anam dan nyaman bagi dirisendiri maupun pengendara lain.

Gagasan ini muncul karena rasa keprihatinan Kapolsek tentang Salah satu penyebab angka kematian tinggi di dunia selain adanya penyakit menular adalah karena kecelakaan lalu lintas. Bahkan menurut badan kesehatan dunia (WHO) angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 1.35 juta. Dan rata-rata yang mengalami kecelakaan lalu lintas ini adalah usia 5 sampai 29 tahun.

Berdasar data yang entah diambil tahun berapa, yang jelas keprihatinan ini, menurutnya perlu ditindak lanjuti dengan upaya pencegahan. Jika pemda dapat membentuk jumantik (juru pemantau jentik) di setiap Desa/Kelurahan. Tentunya pembentukan relawan literasi safety riding perlu juga dicoba. Tinggal ada tidaknya political will dari para penguasa setempat.

Paling tidak Kapolsek Wiyung dapat mengawali membumikan gagasanya dengan memanfaatkan pramuka saka bayangkara untuk dilatih (semacam TOF). Kemudian diadakan uji coba dengan menerjunkan mereka ke sekolah-sekolah, yang ada di wilayah Kecamatan Wiyung untuk mengkampanyekan safety riding.

Dari hasil uji coba itulah, dijadikan bahasan dalam acara jagong bareng untuk melihat kebermaknaannya dari berbagai aspek. Ini penting, agar upaya melahirkan relawan literasi aman berkendaraan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam upaya menurunkan korban kecelakaan lalu lintas.

pertanyaannya kemudian, mungkinkan Kapolsek penerusnya nanti mau melanjutkan gagasan cerdas tentang perlunya relawan literasi safety riding ?. mengingat rotasi jabatan itu selalu ada dan masing-masing pejabat punya cara dan selera sendiri dalam menjalankan tugasnya.

Untuk itulah, gagasan cerdas dari seorang Kapolsek Kecamatan Wiyung ini perlu segera di tindak lanjuti oleh komunitas relawan dalam bentuk jagong bareng untuk membulatkan gagasan di atas.

Akan lebih elok lagi jika jagong bareng ini “di kawal” langsung oleh Kapolsek sebagi pemilik gagasan, agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam menterjemahkannya. Salam Tangguh, Salam Satu Aspal. [eBas/SeninPahing-27112023]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 23 November 2023

PENANGGULANGAN BENCANA HENDAKNYA MELIBATKAN MASYARAKAT

Konon, diakui atau tidak, setiap terjadi bencana, masyarakatlah yang menjadi korban pertama sekaligus menjadi penolong pertama sebelum pihak luar datang membantu. Untuk itulah upaya melibatkan masyarakat dalam urusan kebencanaan harus diupayakan.

Hal ini sesuai dengan pasal 27, UU 24 tahun 2007, yang mengatakan bahwa  Setiap orang berkewajiban: a. menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis, memelihara keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup; b. melakukan kegiatan penanggulangan bencana; dan c. memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana.

Agar masyarakat dapat berperan dalam upaya penanggulangan bencana, maka mereka perlu mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan ketrampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. (pasal 26, ayat 1 poin b).

Terkait upaya membangun ketangguhan masyarakat, komunitas relawan diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, dengan memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada di lingkungan setempat, agar dapat “berbuat sesuatu” (mengantisipasi, beradaptasi, memproteksi, dan daya lenting) dalam menghadapi potensi ancaman bencana yang mungkin akan terjadi, secara mandiri.

Beberapa literatur mengatakan bahwa penanggulangan Bencana adalah serangkaian kegiatan baik sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, menghindari dan memulihkan diri dari dampak bencana.

Dari devinisi di atas, tidak terlalu salah jika upaya penanggulangan bencana itu koordinator utamanya adalah pemerintah (dalam hal ini BNPB/BPBD). Sementara, elemen pentahelix lainnya mengambil peran sesuai kapasitasnya. Baik itu di saat pra bencana, tanggap bencana, dan pasca bencana.

Pada saat pra bencana, kegiatan yang dilakukan mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, serta peringatan dini. Langkah-langkah persiapan yang dilakukan dalam menghadapi bencana ataupun upaya memperkecil dampak bencana yang akan terjadi.

Bentuk kegiatannya diantaranya, belajar membuat peta rawan bencana, menyusun dokumen kajian risiko bencana dan lainnya, pembuatan rambu evakuasi, menyiapkan tempat pengungsian, dan pembuatan tanda peringatan dini.

Kegiatan saat terjadi bencana mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara dan menanggulangi dampak yang ditimbulkan, seperti kegiatan search and rescue (SAR), penyelamatan korban dan harta benda, serta evakuasi, bantuan darurat dan pengungsian

Pada saat terjadinya bencana akan banyak pihak yang menaruh perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril material secara spontan, baik dari lingkungan wilayah tersebut maupun dari luar. Bantuan sumbangan yang masuk sebenarnya merupakan tabungan yang harus dikelola dengan baik, tepat guna, tepat sasaran, dan bermanfaat.

Kegiatan pasca bencana pada dasarnya mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Kegiatan saat setelah terjadinya bencana, dilakukan proses perbaikan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula.

Tentunya proses-proses di atas itu harus tetap dalam “pengawasan” BNPB/BPBD. Termasuk ketika harus melibatkan masyarakat di semua fase penanggulangan bencana. Semua ini penting agar tidak terjadi kesalahan administrasi yang dapat berurusan dengan BPK dan KPK di kemudian hari.

Yang jelas, pelibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana itu merupakan langkah cerdas. Ada destana, katana, kencana, dan SPAB. Juga ada KSB milik Kemensos. Bahkan beberapa kantor/lembaga juga punya program sejenis yang numpuk di Desa dengan segala variasinya. Semua program bergengsi itu hendaknya dapat berjalan dalam arti sebenarnya dan didukung dana tindak lanjutnya, agar budaya tangguh itu dapat segera terwujud. Bukan sekedar program seremonial tanpa kelanjutan, hanya mengejar daya serap anggaran semata.  [eBas/JumatWage-24112023]

 

 

 

 

 

 

Selasa, 21 November 2023

GERAKAN CABUT PAKU DI POHON

Konon, peringatan hari pohon se dunia (World Tree Day) diadakan setiap tahun pada tanggal 21 November. Tujuannya untuk membangun kesadaran akan pentingnya upaya pelestarian pohon, serta sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian  lingkungan hidup.

Konon pula, pada hari itu dihimbau agar warga mendukung gerakan menanam satu jiwa satu pohon. Jenisnya tidak ditentukan. Pohon apa saja boleh, dan ditanam di lahan terbuka, di tepi jalan, lahan kosong, hutan, gunung, dan lain tempat dalam rangka menghijaukan lingkungan agar rindang, asri dan nyaman.

Namun, dikarenakan musim kemarau yang lumayan panas di atas rata-rata. Maka menanam pohon tampaknya hanyalah kesia-siaan, karena cuaca yang tidak mendukung. Mungkin, nanti ketika musim hujan tiba, gerakan menanam pohon digencarkan oleh semua pihak yang peduli pelestarian alam.

Dalam rangka memperingati hari pohon tahun ini, ada komunitas peduli lingkungan yang sering berkegiatan di alam bebas, melakukan kegiatan kreatif yang masih ada hubungannya dengan cinta lingkungan. Yaitu melakukan gerakan cabut paku di pohon, di sepanjang jalan raya yang telah ditentukan.

Konon, mereka melibatkan berbagai komunitas melakukan gerakan cabut paku ini secara berkala, bekerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja. Mereka melaksanakan gerakan ini sesuai Peraturan wali kota Surabaya nomor 19 tahun 2014, tentang Perlindungan Pohon.

Pada BAB III tentang penyelenggaraan perlindungan pohon, pasal 3 ayat 3 mengatakan bahwa Masyarakat berperan serta dalam penyelenggaraan perlindungan pohon pada area yang menjadi milik atau dikuasai oleh masyarakat yang bersangkutan dan/atau area yang dimiliki atau dikuasai oleh Pemerintah Daerah.

Apa yang dilakukan oleh komunitas peduli lingkungan itu merupakan perwujudan dari peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan pohon, diantaranya melalui kegiatan: a. penanaman pohon; b. pemeliharaan pohon; c. tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak atau mematikan pohon.

Cukup melalui flaiyer ajakan berpartisipasi yang disebar melalui berbagai media sosial, khususnya grup whatsapp, berbagai komunitas di kota Surabaya berbondong-bondong berkumpul bersama untuk memulai kegiatan gerakan cabut paku dengan penuh suka cita.

Begitu juga dengan pasukan Satpol PP, berbaur saling bahu membahu mensuksesnya acara cabut paku. Artinya, disini Satpol PP tidak hanya mengawasi saja, tapi benar-benar berjalan mencari dan mencabut paku yang menancap di pohon, untuk menjalankan pasal 13. yang mengatakan bahwa setiap orang dan/atau badan diantaranya, dilarang: a. memaku pohon; b. menempelkan iklan/poster/sejenisnya pada pohon; c. membakar pohon.

Dalam peraturan yang menjadi payung hukum gerakan ini, dikatakan bahwa pohon memiliki peranan yang penting dalam rangka menjaga kelangsungan hidup bagi seluruh makhluk hidup, sehingga keberadaannya perlu dilindungi dan dilestarikan, untuk peneduh jalan dan memperindah wilayah pemukiman. 

Sungguh, gerakan sederhana namun berdampak luar biasa pada pelestarian pohon peneduh jalan. Alangkah eloknya jika gerakan ini semakin banyak yang mengikuti. Sukur-sukur ada yang menduplikasi di daerah lain.

Gerakan sederhana lain yang ada hubungannya dengan cinta lingkungan adalah bersih-bersih sampah di got atau sungai, serta menabur biji buah-buahan di lahan atau hutan saat musim hujan, yang sebentar lagi akan datang. Salam Lestari. [eBas/RabuPahing-22112023]