Rabu, 15 Januari 2020

SUSANTO SANG KOMANDAN RNPB-LAZNAS-LMI


Sebagai relawan yang cukup berpengalaman di berbagai operasi penanggulangan bencana, Susanto merupakan sosok yang turut mewarnai perjalanan SRPB JATIM. Pria yang bisa dipanggil Mas Santo ini, banyak berkontribusi dalam perjalanan SRPB JATIM sampai menjadi seperti ini. Sumbangan pemikiran dan kesediaannya berbagi pengalaman dalam arisan ilmu adalah salah satu bukti peran sertanya.

Dalam sebuah postingan di Facebook, Pria yang berdomisili di Tulungagung ini mengatakan bahwa, Menjadi volunteer adalah hal yang anomali, dimana kebanyakan orang sibuk memikirkan dirinya sendiri, para volunteer meluangkan waktunya untuk menolong sesama makhluk hidup. Kami yang terpanggil hatinya untuk rela melakukan kebaikan dengan rasa senang.

“Sering kali apa yang kami lakukan tidak bisa dimengerti oleh orang kebanyakan, Menolong orang bukanlah hal yang mudah. Setidaknya harus memiliki sesuatu yang berlebih untuk bisa membantu orang yang membutuhkan. Entah itu waktu, tenaga, materi ataupun pemikiran,” Katanya.

Selain itu, masih kata Mas Santo, relawan harus memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal yang tidak umum, siap berkorban dan menanggung resikonya sendiri. Meski tidak mudah, namun tidak menyurutkan para sukarelawan melakukan aksi sukarela menolong sesama.

Apa yang dikatakan di atas itu merupakan ajakan kepada relawan agar selalu belajar menambah wawasan dan keterampilan terkait dengan upaya penanggulangan bencana, termasuk dapat berperan sebagai fasilitator dalam melakukan edukasi kepada khalayak ramai tentang upaya pengurangan risiko bencana. Disamping itu, relawan harus menjaga kesehatannya agar tidak bermasalah ketika di lapangan. Jangan sampai niatnya mau mengevakuasi korban malah dievakuasi.

Sebagai komandan RNPB Laznas LMI, dia juga terjun langsung memimpin pasukannya untuk melakukan aksi “penyelamatan” pada bencana banjir di sedaerah Lebak, Banten. Dimana pada hari Ahad, 12 Januari 2020 kondisi lalu lintas di lokasi bencana sering terjadi kemacetan akibat wisata bencana, termasuk bencana Banjir Lebak Banten.

‘Hari ini Tim RNPB Laznas LMI kembali menyalurkan 36 paket kebersihan dan logistik di Desa Bungurmekar, Kampung Bolang dan Kampung Susukan. Jalur sungai masih menjadi jalur alternatif menggunakan perahu karet dan rakit. Alhamdulillah jalan menuju kedua Desa tersebut sudah bisa dilalui sepeda motor, tetapi tetap hati hati karena jalan masih berlumpur,” Begitu ujarnya.
Ya, bapak yang punya usaha bubur ayam itu selalu melaporkan kegiatannya di lapangan, dari waktu ke waktu. Dengan demikian koleganya bisa mengetahui kondisi lapangan yang terbaru serta perkembangan penanganan bencana di lokasi bersama-sama relawan lain yang datang dari berbagai daerah membantu BPBD setempat yang senyatanya memang memerlukan bantuan dari relawan.

Seperti diketahui, RNPB Laznas LMI merupakan salah satu komunitas relawan yang memiliki personil berkualitas dan mumpuni diberbagai klaster, didukung sarana prasarana dan pendanaan yang memadai. Hal ini sangat memudahkan dalam melakukan quick response.

Misalnya, setelah melakukan kajian, mereka dengan cepat bisa mendirikan dapur umum untuk meringankan korban banjir bandang di Kabupaten Lebak, tepatnya di Balai Desa Sukarame kecamatan Sajira.

"Setiap harinya tim dapur umum Laznas LMI mendistribusikan ribuan makanan siap saji, makanan ringan dan minuman kepada korban banjir bandang. Dapur Umum menjadi kebutuhan mendesak, karena terdapat ribuan warga yang menjadi korban yang terdampak langsung maupun tidak langsung tidak lagi memiliki harta benda dan bahan makanan" ujar Asep Sahrudin selaku Kepala Desa Sukarame, ketika mengetahui kesibukan di dapur umum yang didirikan RNPB Laznas LMI.

Begitulah sebagian kiprah Susanto menjalani takdirnya sebagai relawan penanggulangan bencana dengan istiqomah. Pengalamannya banyak dan patut diteladani. Tidak ada salahnya jika sepak terjang Mas Santo dalam kerja-kerja kemanusiaan itu dibagikan kepada relawan muda untuk diambil hikmahnya.  

Tinggal bagaimana pengurus SRPB JATIM merayu beliau agar mau berbagi ilmu. Namun perlu diingat bahwa kesibukannya sangatlah padat, seperti kutu loncat. Loncat sana, loncat sini untuk memenuhi panggilan tugas. Semoga Mas Santo tetap sehat, bisa berbagi waktu dengan keluarga. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/15012020]





Sabtu, 11 Januari 2020

JALAN TERJAL MENYUSUN DIREKTORI RELAWAN JAWA TIMUR


Salah satu harapan dari kongres pertama SRPB tahun 2017 adalah menyusun direktori relawan se Jawa Timur. Andiny Utary, dari Universitas Negeri Padang, mengatakan bahwa  direktori adalah sebuah buku petunjuk yang berisikan informasi seperti nama, alamat, instansi atau organisasi lain sebagainya yang disusun secara alfabetis. Direktori sangat berguna dalam membantu seseorang atau instansi dalam menemukan suatu informasi yang dibutuhkannya dengan cepat dan tepat

Untuk direktori relawan, idealnya di dalamnya berisi data lengkap keberadaan organisasi relawan. mulai dari nama organisasi, alamat, nara hubung, susunan pengurus, akta pendirian organisasi, jumlah anggota, program kerja, pengalaman lapangan, peralatan yang dimiliki, klaster yang diminati, jenis diklat yang pernah diikuti dan data lain yang mendukung. Nantinya direktori ini diserahkan kepada BPBD, yang bisa digunakan untuk penyusunan kebijakan, terkait dengan upaya pembinaan kepada relawan.

Tujuan dibuatnya direktori ini untuk mempermudah mencari relawan yang sudah menguasai bidangnya maupun yang belum, untuk dilibatkan dalam sebuah kegiatan. Saat ini, masih sering terjadi dalam setiap diklat hanya diikuti oleh orang itu-itu saja, seakan tidak ada yang lain. Sementara anggota yang lain tidak pernah diikutkan. Sehingga tidak terjadi pemerataan kapasitas relawan.

Kondisi ini tidak sehat. Untuk itulah SRPB JATIM sebagai wadah organisasi relawan harus bisa menjembatani agar terjadi pemerataan dalam upaya peningkatan kapasitas relawan. Baik dalam fase pra bencana, tanggap darurat bencana, maupun fase pasca bencana. Salah satunya melalui penyusunan direktori relawan.

Namun ternyata, upaya menyusun direktori ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Karena tidak semua organisasi relawan berkenan saat dimintai data tentang keberadaan lembaganya. Ada saja alasannya, bahkan ada yang curiga data tersebut akan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Bagi mereka yang tidak senang dengan keberadaan SRPB JATIM (umumnya mereka yang merasa senior, merasa hebat kaya pengalaman, kaya harta, kaya koneksi dan mungkin kaya perlengkapan pendukung operasi penanggulangan bencana), kesempatan ini dijadikan bahan fitnah dengan ditambahi bumbu iri, dengki dan sejenisnya. Jelas harapannya timbul rasa tidak percaya kepada SRPB JATIM. 

Ya, begitulah sifat sipenyebar fitnah. selalu saja menggunakan taktik “Lempar batu sembunyi Tangan”. Hanya menyebar issue bin gossip untuk kemudian tiarap tanpa berani bertanggungjawab. Karena dasarnya sudah tidak suka, maka mereka ini tidak mau diajak dialog, ngobrol musyawaroh sinambi ngopi agar paham dan tidak sesat selamanya.

Pelan tapi pasti, upaya membuat direktori relawan semakin menampakkan hasil, bahkan sudah dalam proses siap cetak, walau belum lengkap. Apalagi, konon rencana realisasinya akan difasilitasi oleh BPBD Provinsi Jawa Timur. Dari sekitar 227 organisasi relawan yang telah mendaftar, hanya 60 persen yang sudah berkenan menyerahkan datanya (walaupun belum lengkap).

Untuk direktori edisi pertama, mungkin data organisasi relawan masih seadanya. Mungkin nanti setelah tahu guna dan manfaatnya, mereka akan segera mengumpulkan. Tentu hal ini bisa dilanjutkan untuk penyusunan direktori edisi berikutnya yang lebih lengkap. Sehingga, tidak menutup kemungkinan direktori ini akan menjadi program tahunan. Karena secara berkala, direktori itu harus divalidasi ulang untuk melihat apakah organisasi yang ada masih aktif atau sudah bubar karena tidak ada regenerasi.

Semoga fasilitasi yang dijanjikan BPBD benar adanya (cepat cair anggarannya) sehingga upaya penyusunan direktori ini bisa selesai sebelum SRPB JATIM melaksanakan kongres, yang di dalamnya ada moment pergantian pengurus sekaligus menyelaraskan statutanya sesuai dengan perkembangan di era milenial 4.0. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Mimggu paing-12012020]









Minggu, 05 Januari 2020

PEMBELAJARAN DARI BANJIR CILEDUK DI AWAL TAHUN 2020


Konon ceritanya, di awal tahun 2020, saat terjadi bencana banjir yang memakan banyak korban jiwa di wilayah jabodetabek. Di wilayah Kecamatan Cileduk pun juga kebanjiran. Banyak warga yang panik, sibuk menyelamatkan diri, keluarga, dan harta bendanya, mengungsi dengan caranya sendiri. Sementara bantuan dari luar belum banyak karena kondisi cuaca dan kendala lain yang tidak memungkinkan mempercepat gerak.

Di tengah kesibukan warga yang melakukan evakuasi mandiri, muncullah seseorang (akhirnya diketahui bahwa dia adalah relawan dari yayasan yang bergerak dibidang sosial kemasyarakatan). Dengan keterampilan yang dimiliki, dia membantu masyarakat terdampak. Mendata jumlah korban, kerugian harta benda, mengatur proses evakuasi dan distribusi logistik. Semua dilakukan tanpa pamrih, untuk meringankan derita sesama. Karena saat itu belum banyak tenaga penolong dari luar (mungkin termasuk BPBD setempat, mungkin lho ya).

Kemudian, datanglah dengan tiba-tiba Bapak Pejabat Penguasa Cileduk berbaju biru, dengan muka kecut.

“Siapa kamu?!. Datang malah ngatur-ngatur,” Teriaknya penuh kemarahan. Dia murka karena merasa lebih bertanggungjawab terhadap wilayahnya.

Banyak orang kaget. Termasuk anggota rombongannya. Untungnya seseorang itu hanya diam mendapat hardikan yang menjengkelkan. Sebuah kesabaran tingkat dewa dipertontonkan. Dalam kondisi capek, badan basah kuyup dan situasi semrawut, seseorang itu malah memilih menghindar daripada melayani pejabat berbaju biru yang sedang dilanda emosi.

Rupanya Pak Pejabat berbaju biru itu belum pernah membaca Perka nomor 17tahun 2011 tentang peran serta relawan (masyarakat terlatih) dalam penanggulangan bencana. ya, Pak Pejabat berbaju biru ini rupanya menggunakan teori “Bentak dulu baru mencari tahu”. Artinya, marah dulu agar kelihatan berwibawa, baru kemudian tanpa rasa malu meminta maaf dengan alasan dia sedang lelah. (ya, mungkin tugas pejabat itu diantaranya adalah marah-marah dan nyuruh-nyuruh bawahan).

Inilah sikap arogansi yang seharusnya tidak perlu terjadi, jika pak pejabat berbaju biru itu mau berkomunikasi dan memahami apa yang telah diperbuat oleh seseorang itu. Malah seharusnya pak pejabat berbaju biru itu merasa senang karena dibantu tanpa mbayari. Harusnya pak pejabat berbaju biru itu berterimakasih warganya ada yang mengurusi sebelum bantuan dari luar berdatangan, sehingga bisa mengurangi risiko bencana.

Sesungguhnyalah, saat bencana banjir melanda jabodetabek, banten dan jawa barat. Banyak sekali para relawan berdatangan dari berbagai daerah untuk membantu sesamanya, tanpa menunggu permintaan dari pak pejabat setempat, yang mungkin pada saat itu masih sibuk rapat, sibuk berkoordinasi sebelum turun melakukan inspeksi, melihat pengungsi untuk kemudian pergi lagi (tentunya sambil selfie sebagai bukti telah turun ke lokasi).

Pertanyaannya kemudian, mampukan pak pejabat berbaju biru itu beserta anak buahnya menangani sendiri para pengungsi tanpa dibantu masyarakat?. jelas tidak mampu, karena kualitas SDM nya kita sudah pada tahu. Makanya jangan keburu marah. Jangan mengumbar emosi kepada relawan yang sibuk membantu evakuasi, menyelamatkan pengungsi tanpa digaji.

Ingat. relawan yang datang itu ingin menolong sesamanya dengan sekuat kemampuannya. Bahkan ada yang membawa sarpras sendiri dengan SDM yang mumpuni dibidangnya, membawa obat-obatan sekaligus tenaga kesehatan, membawa logistik untuk dimakan sendiri maupun untuk didistribusikan ke posko pengungsian. Ada juga yang membuka dapur umum yang bisa menyiapkan ratusan bungkus untuk konsumsi para pengungsi dan petugas yang mengurusi pengungsi.

Semoga peristiwa marahnya pak pejabat penguasa wilayah Cileduk yang berbaju biru itu tidak menular ke lain daerah dan bisa menjadi pembelajaran kita semua (ya pejabatnya, ya relawannya), bahwa kerja-kerja kemanusiaan itu tujuannya hanya satu, menyelamatkan sesama. (jika ada kepentingan yang mengikuti, itu soal lain).

Mereka, para relawan itu telah bekerja dengan ikhlas, patut dihargai, jangan malah dibentak-bentak. Ingatlah, dijaman keterbukaan informasi ini semua kejadian bisa diviralkan dengan dampak yang mencengankan. Salam tangguh, tetap bersemangat.[eBas/senin-06012020]



Sabtu, 04 Januari 2020

TULISAN FAUZAN MUKRIM PERLU DIVIRALKAN UNTUK PEMBELAJARAN


Disclaimer.
Ini cerita subjektif saya saja, dan semoga tidak dijadikan bahan untuk mendiskreditkan siapa pun. (mungkin tulisan ini cocok di beri judul “Bapak Berbaju Biru Belagu”, red)

Mari bersama kita simak cerita Fauzan mukrim untuk pembelajaran bagi kita para pegiat kemanusiaan (ya relawannya, ya pejabatnya), agar bisa saling memahami, bahwa kerja-kerja kemanusiaan itu tujuannya satu, menyelamatkan sesamanya.

Sesungguhnyalah, pejabat itu harus ngerti bahwa tanpa bantuan seseorang (relawan) dalam menangani bencana, pastilah akan keteteran dan korban akan semakin banyak. Karena dibeberapa kasus, pejabat itu kalau ada bencana akan disibukkan dengan urusan administrasi sehingga tidak bisa fokus pada upaya penyelamatan korban. Makanya perlu kehadiran seseorang untuk membantu dengan ikhlas dan sukarela. Untuk itu hargailah jerih payahnya. Jangan dibentak-bentak, jangan disuruh-suruh karena dia bukan bawahanmu ……

Ayo kita mulai membaca dengan hati, jangan lupa siapkan secangkir kopi ……
………

Ketika saya sampai di Perumahan Wisma Tajur, saya melihat anak muda berbaju merah pudar itu sudah sibuk di dekat gapura kompleks. Ia bersama seorang warga bernama Pak Hendri dan seorang ketua RT, mengatur evakuasi dan distribusi logistik. Di tangannya ada sebuah buku yang berisi catatan warga di mana saja yang belum dievakuasi. Hanya ada satu perahu karet milik BNPB. Satu perahu karet lagi barusan ditarik untuk dipindahkan ke Pondok Bahar.

Perumahan Wisma Tajur ini salah satu wilayah banjir terparah di Tangerang. RW 07 yang terdiri dari sekitar 600 rumah, semua terendam. Tadi malam air mencapai atap, tapi Kamis siang sudah surut sampai sedada. Lokasinya hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari kompleksku. Saya melipir ke situ karena permintaan kantor untuk live report, setelah mengungsikan keluargaku ke tempat yang aman. Kompleksku juga kebanjiran, tapi tidak separah Wisma Tajur. Di tempatku "cuma" sepinggang.

Dari obrolan sekilas dengan anak muda itu, saya tahu kalau dia bukan warga setempat. Ia pekerja NGO dan kebetulan ibu mertuanya juga terjebak di dalam kompleks. Dia mengaku pengantin baru. Sudah dari semalam di situ. Entah perintah kantor atau karena inisiatifnya sendiri, dia mengambil peran sebagai "kordinator". Saya mengenal beberapa anak muda seperti ini. Mereka yang gampang tergerak tanpa harus menunggu birokrasi. Bleeding heart, sebutannya.

Saya perhatikan dia memang cukup berperan. Dia mengkordinir pemasangan jalur tambang supaya warga bisa masuk sendiri membawa logistik atau mengevakuasi keluarga tanpa perlu menunggu perahu.

Saya lihat dia agak keteteran, jadi saya putuskan untuk membantunya, sambil saya mengumpulkan bahan liputan untuk kantor. Saya bantu mengumpulkan logistik yang mau diantar per blok. Untungnya, tak lama kemudian, 5 orang tentara datang. Saya jelaskan kondisinya dan mereka bersedia membantu mengantar logistik untuk warga yang masih bertahan di dalam. Tapi data siapa yang harus dievakuasi dan diantarkan logistik, tetap dipegang oleh anak muda itu. Kita sebut saja namanya R.

"Baru gue lihat ada wartawan abis kerja turun ngebantu, Bang," katanya.
Saya bilang rumah saya juga kebanjiran, dan secara geografis ini masih wilayah tetangga saya juga.
"Biasanya langsung ngopi," katanya lagi. Saya tertawa.

Semua lancar dan baik saja, sampai kemudian datang seorang bapak berbaju biru itu.
"Siapa kamu? Datang malah ngatur-ngatur!" teriaknya. Dia marah dan kelihatannya merasa dilangkahi wewenangnya oleh R.

Ia memarahi R dengan kata-kata keras dan menyebut dirinya sebagai pejabat kecamatan yang lebih bertanggungjawab.

Saya menarik R mundur dan menenangkannya. Istri R yang juga ada di situ menunggu ibunya dievakuasi, memeluk R. "Tenangin suamimu, Mbak." Saya bilang begitu.
Beberapa orang, termasuk petugas Babinsa, menarik si bapak pejabat.

R mengangkat tangannya yang menggenggam buku itu ke atas.
"Saya buang ini sekarang!" katanya menahan marah.
Dan memang, catatan siapa yang sudah dan masih harus dievakuasi itu, cuma R yang pegang. Perangkat RW mempercayakan padanya.

Ketika kemudian petugas Tagana Baznas datang, R menyerahkan catatannya itu kepada rescuer dan dia sendiri menepi entah ke mana. Mungkin menenangkan diri.
Saya berusaha memahami situasinya. Beberapa warga yang saya tanya, jelas membela R.

"Dia sudah dari semalam bantu kita," kata seorang ibu.
"Tak apa, Mas, warga juga tau kok siapa yang kerja," kata seorang remaja yang sedari tadi saya lihat memandu perahu karet. Badannya basah kuyup.

Saya sempat merekam ketika pejabat itu memarahi R dengan kata-kata keras sambil menyebut siapa dirinya. Tapi saya simpan untuk diri sendiri saja.

Saya juga tak tahu lagi ke mana sang pejabat pergi setelah itu. Saya baru bertemu dia lagi di posko ketika Wakil Walikota datang meninjau.

Saya beli sebotol teh Pucuk Harum. Meminum tegukan pertama.
Pak Wawali disambut para perangkat, yaitu ketua RW, Lurah, dan oh juga bapak yang marah-marah tadi. Setelah itu mereka berfoto dengan mandatory style: memberi jempol atau mengepalkan tangan.

Barangkali di tegukan keempat atau kelima teh pucukku, rombongan itu sudah pamit pergi lagi.

Saya dengar seseorang berteriak. Hidup, Pak Wakil! Tahun depan Wali Kota!"
Saya mengerjakan tugasku live by phone ke kantor, dan setelah itu pergi mencari R. Saya melihat ia menggendong bayi yang tampak lemah. Ibu si bayi mengikut di belakangnya. Bayi itu demam dan butuh bantuan medis.

Saya arahkan ke posko tempat tadi para bapak pejabat itu berfoto.
"Lo naik apa, Bang?" tanyanya. Bayi yang dia gendong itu tersingkap sarungnya. Mungil sekali. Saya jadi ingat Rain, dan hampir menangis lagi setelah tadi melihat anak kecil yang popoknya penuh itu.
"Motor," kataku.
"Ntar gue nebeng lo pulang ya."

Saya iyakan. Saya menunggunya di dekat motorku terparkir, tapi dia tak juga muncul. Kepalaku agak pening dan pertigaanku mulai terasa lembab setelah terendam sepaha tadi.
Saya memutuskan pulang duluan. Saya berharap, mudah-mudahan nanti kami bisa berjumpa lagi di tempat yang lebih kering dan tak ada orang teriak-teriak. [fm]

Senin, 23 Desember 2019

UJI KOMPETENSI RELAWAN PENANGGULANGAN BENCANA


     Sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana (SRPB) Jawa Timur, sebagai mitra kritis dari BPBD Provinsi Jawa Timur, telah beberapa kali dipercaya menyiapkan relawan untuk mengikuti uji kompetensi (sertifikasi) relawan sesuai kuota yang disediakan oleh BPBD atas petunjuk LSP-PB. Uji kompetensi ini penting agar relawan memiliki keahlian sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Penanggulangan Bencana (SKKNI PB). Sebagai barang baru, tentu program uji kompetensi ini perlu terus menerus di viralkan agar relawan semakin paham dan tidak alergi mendengar kata uji kompetensi relawan.

Alhamdulillah, berkat ketegasan dan kejudesan seorang Dian Harmuningsih,  Koordinator SRPB JATIM, kesempatan yang diberikan selalu berakhir dengan baik. Kuota terpenuhi (bahkan kuotanya bisa ditambah secara mendadak, ketika ada peserta yang tiba-tiba muntaber, mundur tanpa berita), dan relawan yang mengikuti ujikom juga mumpuni dibidangnya. Semua ini karena ‘didikan keras’ dari emaknya Falain, yang juga aktif sebagai komandan pramuka brigade penolong Jawa Timur. Sehingga relawan bertambah wawasan, pengetahuan, keterampilan dan sikapnya.  

Semua ini karena relawan yang aktif di SRPB, disamping lebih siap, juga benar-benar memiliki pengalaman. Baik pengalaman organisasi, mapun pengalaman lapangan. Termasuk pengalaman mengikuti berbagai pelatihan.

Di dalam acara Arisan Ilmu Nol Rupiah, khas SRPB JATIM, dikatakan bahwa tujuan dilaksanakan uji kompetensi adalah melihat indikator ketercapaian standar kompetensi relawan yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan martabat dan profesionalitas relawan dalam rangka ikut melakukan operasi penanggulangan bencana. Karena, sesungguhnyalah kerja-kerja kemanusiaan itu memerlukan sumberdaya manusia yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan kompetensi sesuai bidang profesinya masing-masing, sehingga kerjanya cepat, tepat, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk itulah, saat uji kompetensi berlangsung, relawan tidak hanya mampu bercerita tentang pengalaman dibidang kebencanaan, serta mampu menjawab pertanyaan yang disodorkan oleh asesor saja. Namun, yang lebih penting  relawan harus memiliki bukti fisik sesuai okupasi yang dipilih, berupa dokumen asli. Bisa berupa piagam, sertifikat atau ijasah, dan foto-foto dokumentasi saat mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya penanggulangan bencana

Seperti diketahui, setiap gelaran Arisan Ilmu, tidak henti-hentinya Koordinator SRPB JATIM mengingatkan agar peserta memiliki sertifikat Arisan yang materinya selalu berbeda dan bermanfaat untuk menambah wawasan, karena disampaikan oleh nara sumber yang kompeten di bidangnya. Sekaligus memperbanyak portofolio yang akan digunakan untuk bekal mengikuti uji kompetensi. Karena, sesungguhnyalah kegiatan rutinan Arisan Ilmu itu bisa dimaknai sebagai media edukasi bagi relawan penanggulangan bencana.

Apalagi, SRPB JATIM sampai saat ini masih sering mendapat kuota gratisan untuk mengikuti uji kompetensi. Untuk itulah diharapkan organisasi relawan yang sudah bermitra dengan SRPB JATIM diharapkan lebih siap menyambut uji kompetensi tanpa harus muntaber. Karena jika tidak siap, maka akan diberikan kepada relawan yang lebih siap, walau mereka bukan mitra SRPB JATIM. ya, kuota gratisan itu memang wajib dipenuhi karena menyangkut kredibilitas SRPB terhadap LSP-PB. Mari bersama menjaga kepercayaan yang diberikan oleh BPBD JATIM. [eBas/Selasa pon malam natal-241219]










Sabtu, 14 Desember 2019

SRPB JATIM DAN GERAKAN LITERASI KEBENCANAAN


Konon, bangsa yang berperadaban maju itu dapat dipastikan memiliki budaya baca tulis yang tinggi. Dengan kata lain, jika ingin maju, maka mau tidak mau harus menggerakkan literasi, yaitu membiasakan diri akrab dengan bacaan untuk kemudian diikuti dengan kebiasaan menulis. Begitu juga dengan relawan penanggulangan bencana, harus mau mengembangkan budaya baca dan mengasah gagasan dan idenya melalui kegiatan diskusi dan ngopi (ngabrol pintar) .

Dalam Wikipedia, pengertian literasi itu istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Relawan pun tampaknya juga harus mumpuni dalam hal membaca, menulis dan berbicara sehingga bisa turut berperan serta dalam fase pra bencana, diantaranya melakukan penyuluhan dan sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat, khususnya mereka yang berdomisili di daerah rawan bencana.

Hal ini mengingat Indonesia memiliki potensi bencana dan selalu memunculkan risiko korban harta benda, bahkan jiwa. Ingat, bencana alam tidak bisa dihindari, tetapi jumlah korban jiwa bisa dikurangi. Maka dari itu, diperlukan gerakan literasi kebencanaan oleh komunitas (sukur-sukur bisa berkolaborasi dengan BPBD setempat).

SRPB Jatim, yang memiliki kegiatan rutin Arisan Ilmu, merupakan upaya meningkatkan kapasitas relawan. Baik melalui materi yang disajikan maupun saat ngobrol antar relawan sambil ngopi berbagi pengalaman dan tukar informasi, sekaligus membangun jejaring kemitraan yang berbasis simbiosa mutualisma. Tinggal bagaimana mendokumentasikan aneka pembicaraan (termasuk postingan dan komentar di grup whatsapp), dalam bentuk tulisan, tanpa takut salah. Yang penting nulis dan belajar menulis aneka pengalaman yang tentunya mengesankan (paling tidak untuk diri sendiri).

Tanpa disadari, apa yang dilakukan dalam Arisan Ilmu itu merupakan sebuah gerakan literasi, khususnya literasi kebencanaan. Melalui gerakan ini relawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli lingkungannya, mengenali potensi bencana yang ada di daerahnya.

Harapannya, setelah masyarakat paham akan adanya potensi bencana, dan paham bagaimana mengantisipasinya sesuai konsep kesiapasiagaan menghaadaapi bencana, mereka juga mau dan mampu merawat pengetahuan tersebut yang diwariskan kepada generasi penerusnya.

Contohnya adalah masyarakat Kepulauan Simeulu, Aceh. Mereka di sana masih menjaga erat kearifan lokal literasi kebencanaan secara turun-temurun. Seperti istilah smong yang diteriakkan masyarakat ketika tahu ada tanda-tanda bahaya tsunami.

Gerakan literasi kebencanaan itu juga perlu didukung oleh peran media massa menyampaikan pengetahuan tentang kebencanaan. baik berupa iklan sadar bencana, maupun berita-berita terjadinya bencana beserta upaya penanggulangannya di berbagai daerah, juga acara berbagi informasi tentang pengurangan risiko bencana.

Salah satu akibat dari belum tumbuhnya budaya sadar bencana diantaranya banyak sarana prasarana sistem peringatan dini (EWS) yang dibiarkan rusak oleh masyarakat setempat, bahkan mereka juga tidak peduli ketika alat peringatan dini itu dicuri. sehingga tidak berfungsi ketika ada potensi datangnya bencana.

Untuk itulah, sudah waktunya BPBD menggandeng relawan melakukan gerakan literasi kebencanaan melalui penyuluhan pengurangan risiko bencana, pendampingan desa tangguh bencana dan keluarga tangguh bencana, serta program sejenis yang bertujuan menumbuhkan budaya sadar becana, membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Paling tidak, SRPB bisa mengajaka organisasi mitranya untuk mewujudkan gerakan literasi kebencanaan dalam berbagai bentuknya.

Ingat, musim hujan sebentar lagi datang. Bencana banjir dan longsor pun pasti akan meminta korban. Belum lagi bencana angin puting beliung yang semakin sering menimbulkan kerusakan. Waspadalah. [eBas/SabtuPon-141219]  





Selasa, 10 Desember 2019

SRPB JATIM DI ERA MILENIAL 4.0


Konon, di era revolusi industri 4.0 ini, semua masyarakat (termasuk relawan) diharapkan semakin melek internet dan cerdas menggunakan androidnya untuk menunjang mobilitas hidup ditengah-tengah masyarakatnya yang mulai mengalami pergeseran di segala bidang kehidupan. Konon semua aktivitas sosial ekonomi semakin dipermudah oleh digitalisasi yang serba berbayar secara online dan saling menguntungkan tanpa mengedepankan perasaan, mengutamakan terjadinya kesepakatan.

Di era ini, mobilitas hidup bergerak begitu cepat seiring perubahan teknologi informasi. Semua ini berdampak pada sikap hidup yang serba cepat dan cenderung asik dengan dirinya sendiri, untuk kemudian enggan berinteraksi dengan lingkungannya. Ya, dengan gadget ditangan, menjadikan yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa semakin jauh. Makanya sekarang ini orang semakin pendiam saat berkumpul di suatu tempat, bahkan ketika rapat. Karena semua asik memainkan gadgetnya sambil manggut-manggut untuk menimbulkan kesan memperhatikan dan mendengarkan.

Sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana jawa timur (SRPB JATIM) sebagai wadah berkumpulnya organisasi relawan haruslah berperan serta dalam mensosialisasikan literasi digital. Yaitu, bisa memanfaatkan gadget untuk mencari informasi tentang kebencaanaan, sebagai upaya mengantisipasi potensi bencana yang sewaktu-waktu terjadi di daerahnya dalam rangka mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana.

Kegiatan rutinan Arisan Ilmu Nol Rupiah adalah program kerja nyata  menstransfer informasi dan pengalaman untuk memperluas wawasan relawan yang tergabung dalam wadah bentukan BPBD Provinsi Jawatimur. Sehingga mumpuni dalam melaksanakan tugas kemanusiaan dibidang kebencanaan. sekaligus bisa menjadi bekal manakala mendapat kesempatan mengikuti sertifikasi relawan yang diselengarakan oleh LSP-PB secara gratisan. Diluar itu semua kegiatan Arisan Ilmu Nol Rupiah merupakan media penguat sekaligus perekat silaturahmi antar relawan milenial.

Ya, di era revolusi industri 4.0 relawan harus meningkatkan kapasitasnya yang bersinggungan dengan teknologi informasi berbasis internet. Semua itu agar tidak tertinggal oleh jaman, ditinggal kesempatan yang semakin diperebutkan secara ketat. Apalagi kedepan, upaya penanggulangan bencana semakin komplek permasalahannya. Sudah selayaknyalah jika SRPB JATIM lebih sering menggelar diskusi mencermati kebijakan dan kejadian bencana serta penanganannya.

Termasuk mencoba membahas pesan-pesan yang ada di Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015 – 2030, yang terkait dengan upaya mempromosikan kesiapsiagaan untuk bencana sehari-hari, latihan respon dan pemulihan, termasuk latihan evakuasi, pelatihan dan pembentukan sistem pendukung berbasis daerah, untuk memastikan respon yang cepat dan efektif terhadap bencana dan terkait pengungsian, termasuk akses ke tempat penampungan yang aman, makanan pokok dan pasokan bantuan yang bukan makanan, yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Berkait dengan pesan Sendai di atas, alangkah eloknya jika SRPB bisa mendorong organisasi mitra untuk menggelar pelatihan yang melibatkan relawan lintas organisasi, sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan mempererat tali silaturahmi. Kemudian kasilnya bisa dipublikasikan melalui media massa, atau pun sebagai bahan masukan untuk penyusunan kebijakan.

Ya, di dalam beberapa literature dikatakan saat ini kita sedang dalam masa bersejarah, masa saat revolusi industri keempat sedang dibicarakan, dipersiapkan, diperdebatkan, dan dimulai. Konon, jutaan pekerjaan lama yang semula mapan, akan menghilang, dan jutaan pekerjaan baru yang tak terpikirkan sebelumnya akan muncul.  Era ini pun mengguncang tatanan Ekonomi, Politik, bahkan budaya. Revolusi industri keempat akan menggilas banyak orang, Apakah relawan juga akan ikut digilas revolusi?. Mari bersiap diri agar tidak tergilas. Salam Tangguh, Salam kemanusiaan. [eBas/RabuKliwon-111219]