Rabu, 19 Agustus 2020

GELIAT AWAL FORUM PRB JAWA TIMUR DI MASA PANDEMI

“Perlu diketahui bahwa kepengurusan kali ini semakin berwarna, karena berbagai unsur pentahelix ada di dalamnya, Ada tukang tambal ban, akademisi, pengusaha, juga ada unsur media.” Kata mBah Dharmo kepada Gatot Soebroto, Kepala bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Provinsi Jawa Timur, saat membuka acara jumpa pertama pengurus baru forum pengurangan risiko bencana Jawa Timur (F-PRB JATIM) periode 2020 – 2023, Rabu (19/8/2020).

Pertemuan yang digelar di Markaz sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana Jawa Timur (SRPB JATIM), Gedung Siaga, BPBD Jawa timur, dihadiri sekitar 24 pengurus ini, berlangsung meriah penuh canda, padahal baru bersua. Sambil memperkenalkan diri masing-masing untuk menyamakan ‘chemistry’, pertukaran informasi dan gagasan pun bergulir silih berganti.

Gatot mengingatkan agar pengurus F-PRB JATIM bisa bekerjasama membangun sinergi dengan BPBD dan SRPB dalam melakukan kegiatan kebencanaan. Baik itu upaya sosialisasi pengurangan bencana maupun operasi penanggulangan bencana, serta program peningkatan kapasitas anggotanya.

“Sungguh, sejak saya menjabat, tidak pernah tahu kegiatan forum. Saya tahunya hanya SRPB. Untuk itu, kedepan silahkan berkontribusi positif. Beri kami masukan. Jika memungkinkan nanti kegiatan forum akan kami bantu, seperti SRPB yang akan mengadakan rakor di Obis Camp,” Kata Gatot, yang didampingi Dhany, Kasie Rehabilitasi.

Masih kata pria yang murah senyum ini, forum hendaknya membuat program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Edukasi yang dilakukan harus bermanfaat dalam rangka menumbuhkan budaya sadar bencana. Termasuk program peningkatan kapasitas relawan, serta pelibatan unsur pentahelix dalam kegiatan forum.

“Tapi ingat, melakukan komunikasi pentahelix itu mudah diomongkan, namun sulit dilakukan. Contoh, BPBD sudah memberi saran tentang sebuah perencanaan, tapi OPD lain belum tentu mau melaksanakan karena ada kepentingan yang berbeda,” tambahnya.

Sungguh, Pertemuan yang ditemani nasi kotak ini, masing-masing pengurus belum mempunyai program, bahkan ada yang belum saling kenal. Maka, di sinilah semua bisa menyampaikan gagasan, usulan dan harapan agar mbah Dharmo dan kabinetnya bisa mewujudkan amanat mubes online yang digelar minggu lalu.

Ada usulan tentang penggunaan dana desa untuk kegiatan kebencanaan, juga harapan melakukan advokasi kepada Forum PRB tingkat Kabupaten/Kota, serta mengenalkan diri ke dinas terkait untuk melakukan kajian bencana di wilayahnya. Bahkan ada usulan membuat seragam organisasi yang mbois dalam rangka menumbuhkan jiwa korsa yang solid.

“Saya pikir pertemuan yang pertama ini jangan langsung memberikan banyak pekerjaan kepada pengurus. Sebaiknya kita isi dengan kenalan dan saling tukar informasi agar semakin kenal,” Kata Cak Khusairi, dari unsur Kata akademisi.

Apa yang dikatakan CaK Khus, panggilan akrab dosen Unair ini ada benarnya. Program gak usah ‘ndakik-ndakik’. Sederhana saja yang penting mudah dilaksanakan untuk kemudian dikomunikasikan lewat media agar diketahui khalayak ramai bahwa forum besutan mbah Dharmo telah mulai berbuat untuk mewujudkan syahwat berforum bagi anggotanya.

Pertemuan awal ini diakhiri dengan ajakan membangun relasi untuk merencanakan program. Bahkan, jika mungkin, bersama mengatur strategi untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak agar keberadaan forum tidak dipandang sebelah mata.

Semoga pertemuan yang indah ini akan terus berlanjut agar semua gagasan, usulan dan harapan bisa terwujud. Tidak harus luring, lewat daring pun bisa (walau kadang bikin pusing karena koneksi putus nyambung akibat pulsa kurang mendukung). Wallahu a’lam bisshowab. Salam Sehat, Salam Kemanusiaan, tetap ikuti protokol kesehatan. [eBas/KamisPon-20082020]

 

 

 

 


Selasa, 18 Agustus 2020

RADIO KOMUNITAS SEBAGAI JURNALISTIK WARGA

Dalam sebuah diskusi online tentang ‘jurnalistik warga’ yang diselenggarakan oleh SEJAJAR (Sekretarian Jaringan antar Jaringan), dikatakan bahwa jurnalaistik harus menyuarakan kebenaran berdasar fakta dan data yang dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah tulisan jurnalistik (baik berbentuk berita maupun artikel lainnya) sehingga pembacanya mudah memahami pesannya.

Salah satu bentuk jurnalistik warga yang dibahas dalam diskusi online adalah radio komunitas. Oleh nara sumbernya, dikatakan bahwa UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, memberi peluang bagi masyarakat marginal untuk menggunakan frekuensi penyiaran sebagai media untuk memberdayakan warga setelah menerima informasi baru yang disiarkan.

Di dalam Wikipedia, dikatakan Radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan, diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Radio komunitas menyajikan tema-tema yang dibutuhkan warga setempat, acapkali bahasa yang digunakan oleh penyiar mengikuti dialek lokal sehingga mudah dipahami.

Sementara itu, menurut Lucio N. Tabing, radio komunitas adalah suatu stasiun radio yang dioperasikan di suatu lingkungan, wilayah atau daerah tertentu yang diperuntukkan khusus bagi warga setempat, berisi acara dengan ciri utama informasi daerah setempat (local content), diolah dan dikelola warga setempat.

Pendapatnya Lucio N. Tabing, seperti yang disitir Masduki, dikatakan bahwa ada lima karakteristik radio komunitas dalam konteks sosial yaitu: (1) Ia berskala lokal, terbatas pada komunitas tertentu; (2) Ia bersifat partisipatif atau memberi kesempatan setiap inisiatif anggota komunitas tumbuh dan tampil setara sejak proses perumusan acara, manajerial hingga pemilikan; (3) Teknologi siaran sesuai dengan kemampuan ekonomi komunitas bukan bergantung pada bantuan alat pihak luar; (4) Ia dimotivasi oleh cita-cita tentang kebaikan bersama dalam komunitas bukan mencapai tujuan komersial; dan (5) Selain mempromosikan masalah-masalah krusial bersama, dalam proses siaran radio komunitas harus mendorong keterlibatan aktif komunitas dalam proses mencari solusinya (Tabing, 1998).

Dalam jurnal terbitan Universitas Atma Jaya, Juni tahun 2004, dikatakan bahwa tujuan media komunitas (dalam hal ini radio) menurut Denis McQuail adalah (1) memberikan pelayanan informasi isu-isu dan problem universal, tidak sektoral dan primordial (2) pengembangan budaya interaksi yang pluralistik, (3) penguatan eksistensi kelompok minoritas dalam masyarakat, (4) bentuk fasilitasi atas proses menyelesaikan masalah menurut cara pandang lokal (McQuail, 2000).

Apa yang diungkap oleh para ahli diatas, tampaknya sejalan dengan paparannya Sinam, ketua jaringan radio komunitas Indonesia, bahwa fungsi radio komunitas itu mendidik dan memajukan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan, dengan melaksanakan program acara yang meliputi budaya, pendidian dan informasi yang menggambarkan identitas bangsa.

Fungsi lain adalah membantu pemerintah mengkomunikasikan pesan-pesan pembangunan sesuai bahasa lokal agar warga mudah memahami untuk kemudian mau berbuat menuju perubahan yang diinginkan.

Disamping itu juga memberitahukan kepada khalayak bahwa keberadaan organisasi masyarakat sipil mempunyai tujuan mulia, ingin memberdayakan masyarakat melalui materi siarannya lewat radio komunitas.

Memberdayakan disini, termasuk mengajak masyarakat terlibat dalam menyusun materi siaran, memberi kesempatan kepada warga menyampaikan gagasannya, dan pendapatnya untuk disiarkan sehingga diketahui oleh warga lainnya. sehingga materi siarannya benar-benar partisipatif interaktif.

Media  lain yang bisa digunakan untuk menyampaikan informasi yang memberdayakan (menginspirasi) warga adalah melalui media online, dan weblog. Yang memungkinkan digunakan oleh komunitas adalah weblog karena gratis dan mudah diakses.

Masalahnya kita belum memiliki budaya baca, masih terlena oleh budaya tutur (budaya lisan). Masalah lemahnya kemampuan baca tulis kiranya juga menjadi perhatian para pegiat jurnalistik warga. Salah satunya melalui gerakan literasi baca tulis dengan membentuk komunitas taman bacaan masyarakat dengan segala variannya.

Ini penting agar semangat jurnalistik warga benar-benar menyuarakan kepentingan warga untuk semakin berdaya. Bukan hanya menyuarakan kepentingan sang actor dengan mengatas namakan masyarakat. Salam Tangguh, Salam Literasi, terus menginspirasi. [eBas/SelasaLegi-18082020]

 

  

 

 


Senin, 17 Agustus 2020

SILATURAHMI DI ERA PANDEMI

 

Konon, dalam hadits Sholih Bukhori dikatan bahwa, Silaturahmi bisa melapangkan rejeki. Silaturahmi juga bisa menjadi sebab seorang masuk ke dalam surga. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia silaturahmi bermakna tali persahabatan atau persaudaraan.

Sementara, pada budaya Indonesia sering ditemui kata silaturahmi sebagai kata yang menggambarkan aktivitas hubungan antar sesama manusia dalam rangka saling mempererat tali persaudaraan dan kekerabatan. Adapun bentuk silaturahmi diantaranya  kegiatan kunjung-mengunjungi, saling bertegur sapa, saling menolong, dan saling berbuat kebaikan.

Begitulah yang dilakukan oleh Abah Budi yang didampingi Wahyudi, pimpinan FRPB Pamekasan. Mereka dengan senang hati melakukan perjalanan dari Pamekasan ke Sidoarjo, minggu (16/8) untuk bersilaturahmi dengan sesama aktivis kemanusiaan. Tentu dengan tetap mentaati protokol kesehatan.

Kegiatan silaturahmi (ke rumah tetangga, saudara, kawan lama, sahabat) erat kaitannya dengan proses interaksi sosial. yaitu hubungan antara satu individu dengan individu lain, individu dengan kelompok sosial, atau kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. (Suhardiyono,2017).

Dalam acara silaturahmi ala aktivis kemanusiaan itu, dilakukan secara santai, grapyak semanak dan tanpa membedakan status sosial diantara mereka. Semuanya mengalir penuh keakraban dan canda tawa. saling tertawa dan kadang juga gablok-baglokan penuh rindu karena lama tidak bertemu.

Mereka, tanpa dikomando, saling bercerita tentang apa saja. memberi informasi dan pengalamannya di masa ‘pageblug’ dari Kota Wuhan. Ada juga yang memberi usulan cerdas tentang program pasca pandemi nanti, atau program lain untuk diversifikasi kegiatan organisasi. Tetap dalam suasana riang gembira sambil menikmati makanan yang ada.

Tidak tertutup kemungkinan, di dalam kegiatan silaturahmi itu tercetus gagasan membuat agenda bersama. Atau, membahas program untuk peningkatan kapasitas relawan dan mempererat tali silaturahmi. Yang jelas, di dalam silaturahmi itu terjalin interaksi yang sehat untuk membangun sinergi.

Apa yang dilakukan Abah Budi itu sejalan dengan pendapat Bapak sosiologi dunia, Auguste Comte, yang mengatakan bahwa interaksi sosial (yang dibungkus dalam silaturahmi) itu timbul sebagai upaya pemenuhan kebutuhan, kepentingan, dan keinginan individualnya. Hal ini sejalan dengan pendapatnya Shaw, pakar sosiologi, bahwa interaksi sosial adalah suatu proses hubungan, pertukaran ide, dan perilaku yang memengaruhi satu sama lain.

Memengaruhi disini adalah upaya mengkongkritkan gagasan menjadi sebuah agenda bersama sebagai sebuah organisasi yang dinamis, dimana masing-masing anggotanya memiliki beragam karakter yang dicoba disatukan untuk kemaslahatan bersama.

Konon, hasil silaturahmi yang mengambil tempat di Omah Ngarep Sawah, kediaman mbak Dian, Koordinator SRPB Jawa Timur, telah melahirkan kesepakatan menyelenggarakan Rapat Koordinasi BPBD Provinsi Jawa Timur Bersama Organisasi Mitra SRPB Jawa Timur, bertempat di Obis Camp, Mojokerto, Jumad sampai dengan Minggu, 21-23 Agustus 2020.

Mungkin inilah yang dimaksud hadist di atas, bahwa silaturahmi akan melapangkan rejeki (dalam hal ini rejekinya berupa program organisasi bisa berjalan di era pandemi). Wallahu a’lam bishowab. Semoga kebiasaan silaturahmi ini menjadi kunci kebersamaan seluruh relawan mitra SRPB Jawa Timur. Salam Tangguh, Salam Sehat. [eBas/SeninKliwon17082020]

 

Jumat, 14 Agustus 2020

CERITA LUCU DIHARI MINGGU

“Sing Penting adoh soko nyowo lan ora mengaruhi rekeningku, wis ora opo-opo, los gak rewel, nglamak sentak, lek perlu keplak,” Begitulah gaya mbak Pus, panggilan akrab Puspita Ningtyas Anggraini, menceritakan sesuatu yang seru.

Di ‘Lorong CafĂ©” milik Cak Alfin, minggu (9/8) siang, mbak Pus ditemani Ocha, menyempatkan diri mampir melihat kawan-kawan KTGD (komunitas tanggap gawat darurat) yang sedang berencana rapat menyusun program sekaligus kosolidasi ke dalam.

Siang itu mbak Pus bercerita tentang pengalaman mengikuti kegiatan Pos Gabungan Pencegahan Dukungan Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur. Katanya, semula hanya ingin menjadi peserta biasa, duduk diam mendengarkan dan mencatat apa-apa yang perlu dicatat.

Namun, karena diajak membantu panitia menyiapkan “Ubo Rampe” kegiatan yang berskala nasional, dan dia punya kemampuan untuk itu, maka Ketua RPBI (relawan penanggulangan bencana Indonesia) ini siap membantu sebisanya.

Sementara yang lain, seperti Cak nDaru, Pak Budi, Suneo, dan Alfin hanya senyam senyum menyimak cerita yang seru dan tidak semua orang mampu melakukan. Betapa tidak, dalam ceritanya, mbak Pus mengatakan sering kali menjadi tumpuan pertanyaan yang seharusnya bukan kapasitas dia untuk menjawab. Misalnya pertanyaan tentang berapa jumlah relawan yang hadir, siapa nara sumber yang akan mengisi materi dan bagaimana kesiapan konsumsi dan pertanyaan lain yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan.

“Pertanyaan datang bertubi-tubi dari segala arah. Dari kiri belum dijawab, sebelah kanan sudah bertanya. Semua saya layani secara proporsional, semampu saya. Kadang saya dibantu Ocha, begitu juga sebaliknya. Namun kadang Ocha nyebelin juga. Mosok Tanya, mulainya jam berapa mbak, tempatnya dimana mbak. Duh, kudu tak kruwes ae arek iki,” Katanya bersemangat, sambil sesekali ngremus es batu yang disuguhkan Cak Alfin. Sementara yang lain tertawa melihat gesture mbak Pus yang lucu.

Ocha pun tak ketinggalan berbagi cerita tentang seseorang yang minta jatah nasi kotak, padahal dia bukan peserta. Termasuk ada seorang Ibu cerewet minta dilayani. Sebagai relawan yang diperbantukan di kepanitiaan, maka Ocha pun menolak semua permintaan di luar prosedur.

“Saya dengan sabar dan sopan memberikan penjelasan terkait dengan permintaan itu. Tapi mereka masih menganggap saya tidak sopanlah, tidak bijak sanalah dan sebagainya. Nah, kalau sudah begitu maka langkah aman yang saya ambil adalah mempersilahkan menghubungi mbak Pus. Semuanya pasti klir,” Kata Ocha, yang disambut tawa peserta jagongan.

Masih kata Ocha, orang kalau ke saya masih nego-nego, tapi kalau sudah ke mbak Pus, langsung net. Jadi gak bisa ditawar lagi. Sementara si orang itu pasti mati kutu, kemudian berlalu meninggalkan tempat (mungkin sambil mengumpat gaya Suroboyoan, jancuk’an arek iki).

Terkait dengan masalahnya Ocha, mbak Pus mencontohkan, suatu saat ada orang yang mengatakan disuruh panitia untuk minta ‘souvenir’ dalam jumlah banyak. Puspita tidak banyak cingcong langsung telpun atasannya panitia dan berkata, jika praktek main belakang diperbolehkan maka semua akan rusak.

Setelah itu orang yang tadi belagu, berlalu begitu saja tanpa babibu (mungkin sambil mbatin kok tegas banget ya, dia itu orang BPBD apa BNPB ya). Namun, sebagai wanita, dia juga sambat bebannya begitu berat, namun ada Pak Budi yang setia memberi nasehat sehingga mbak Pus selalu semangat.

Yang jelas, dari cerita ngalor ngidul sambil ketawa ketiwi tadi,  banyak hikmah yang bisa dijadikan pembelajaran. Seperti, perlunya paham tentang pengelolaan sebuah acara atau kegiatan agar tidak kepothok’an dan keponthal-ponthal mencari personil yang siap. Jejaring kemitraan pun kiranya perlu diperluas agar semakin banyak relawan yang terlibat dalam sebuah acara.

Masalah komunikasi dan koordinasi juga perlu dipahami dan dilakukan sesering mungkin agar tidak terjadi miskomunikasi yang bisa membuat babak belur sendiri. Termasuk menyiapkan diri untuk menjadi nara sumber dadakan, jika diperlukan. Karena relawan itu harus bisa menjadi nara sumber dalam diklat kebencanaan. makanya harus mau belajar.

Sepertinya, semua personil yang mengikuti kegiatan ini pasti punya pengalaman tersendiri. Seandainya ragam pengalaman itu di tulis untuk kemudian di dokumentasikan ke dalam sebuah buku, agar kenangan indah itu tidak begitu saja berlalu, pastilah akan menjadi materi tersendiri yang bisa dibedah dalam acara arisan ilmu khas SRPB Jawa timur.  Salam Sehat, Salam Tangguh Bersatu Bersinergi Untuk Peduli. [eB]

 

 

 

 

Kamis, 13 Agustus 2020

F-PRB JATIM PUNYA NAHKODA BARU

            Akhirnya, forum pengurangan risiko bencana (F-PRB) Jawa Timur, memiliki nahkoda baru. Harusnya pemilihan nahkoda baru itu dilakukan di bulan April 2020. Namun karena waktu itu semua perhatian tertuju pada pageblug covid-19, maka perhelatan musyawarah besar (mubes) itu pun harus tertunda.  

           Akhirnya dengan bermodal semangat, beberapa aktivis forum menggagas untuk mengadakan mubes online. Ya dengan menggunakan aplikasi daring, seperti yang marak digunakan saat ini untuk berkomunikasi dalam bentuk rapat, seminar, diskusi, termasuk pembelajaran jarak jauh sebagai upaya mematuhi protokol kesehatan dimasa pandemi.

Persiapannya relatif pendek, namun karena semangatnya los gak rewel, dan didukung dokumen lama yang lengkap sebagai acuan, maka mubes online itupun berjalan lancar. Hanya pulsa dan koneksi internet saja, yang kadang mengganggu.

Walaupun ada perdebatan disana sini sebagai sebuah kewajaran dari musyawarah untuk mencapai mufakat. Akhirnya mubes dengan mengusung tema, ‘Membangun Gerakan PRB dalam Sinergi Pentahelix Menuju Masyarakat Jawa Timur Tangguh dan Inovatif’, memilih mBah Dharmo secara aklamasi sebagai nahkoda baru, menggantikan Gus Rurid, yang saat ini sedang serius menggeluti bidang per-kopi-an, disamping aktif mendampingi gerakan PRB di daerahnya.

“Selamat atas Mbah Dharmo atas terpilhnya sebagai Sekjen FPRB Jatim masa bakti 2020-2023 dan pengurus lainnya yg terpilih,, semoga amanah dan bisa membawa perubahan bagi Jatim yg lebih baik, aman, dan Tangguh, serta FPRB Jatim bisa berkontribusi lebih banyak lagi terkait Pengurangan Risiko Bencana...”

Begitulah salah satu postingan ucapan selamat kepada mBah Dharmo, sekaligus harapan akan keberadaan dan kiprah F-PRB saat ini, ditengah pandemi yang belum diketahui kapan berhenti.

Sungguh, perhelatan yang langka ini perlu kiranya diabadikan. Sebagai upaya pendokumentasian mubes dengan aplikasi daring yang bersejarah ini, panitia mengharapkan agar semua peserta menulis nama dan gelar akademik dengan benar, serta  alamat whatsApp dan email untuk pengiriman sertifikat kepesertaan dan sertifikat keanggotaan lembaga  di Forum PRB Jatim.

Paling tidak, sertifikat yang akan diterbitkan itu bisa menjadi kenangan bahwa pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2020, telah diselenggarakan mubes F-PRB Jawa timur yang ke-3 secara online gegara pandemic covid-19. 

Hal ini dilakukan untuk memenuhi amanat ‘kesepakatan’ mubes tahun 2017 di Kota Malang. Disamping itu, mubes virtual ini juga untuk mematuhi himbauan social and physical distancing sebagai upaya memutus rantai sebaran covid-19, agar tidak lahir ‘cluster mubes’.

Mungkin, program jangka pendek yang harus dilakukan oleh rezim baru besutan mBah Dharmo adalah, melakukan Konsolidasi internal pengurus. Kemudian segera menyusun laporan mubes dan dikirimkan ke BPBD Provinsi Jawa Timur dan beberapa lembaga terkait lainnya yang dipandang perlu. Serta memanfaatkan grup whatsApp untuk menjaring aspirasi/usulan dari anggota untuk dijadikan bahan rapat pengurus.

Tidak terlalu salah jika di dalam konsolidasi internal pengurus, juga mencermati hasil sidang komisi satu dan dua, sebagai bahan pijakan melangkah.

Ada beberapa hal yang menarik dari hasil sidang komisi satu. Seperti,  untuk VISI perlu ada penambahan dengan unsur-unsur penthahelix, karena yang lama cuma Pemerintah, Lembaga Usaha, dan Masyarakat. Ini perlu ditambah Akademisi dan Media. Untuk Tujuan yang nomer 5, perlu direvisi menjadi, ‘melakukan advokasi, memberikan rekomendasi, diseminasi, sosialisasi dan pendampingan teknis kepada semua pihak tentang PRB untuk mewujudkan Jatim yang siaga, tanggap, dan tangguh.

Fungsi forum juga perlu diubah menjadi, melakukan diseminasi dan sosialisasi tentang kebijakan, pengetahuan, dan segala hal yang terkait dengan PRB kepada semua pihak. Sementara untuk keanggotaan, redaksinya perlu diubah menjadi Keanggotaan bersifat terbuka dengan syarat tertentu, misalnya aktif di dalam kebencanaan serta memiliki sikap toleransi yang tinggi.

Sedangkan hasil sidang komisi dua yang perlu segera dilakukan diantaranya, ada anggapan bahwa dari pihak BPBD yang kurang keseimbangan dalam mempercayai/memperhatikan kinerja F-PRB. Padahal terbentuknya FPRB akan memperingan kerja BPBD.

Membangun kesepahaman semua pihak atau stake holder : 1) belum terbentuknya sinergitas yang kuat antara pemangku kepentingan (formal/non formal) atau pentahelix). Belum kuatnya strategi penguatan kapasitas pada kelompok aggregate kelompok rentan (lansia/anak/difabel/ibu hamil)  dan tempat-tempat berkumpul banyak orang (tempat ibadah, sekolah, mall, pasar dan lainnya)

Belum termainstreamkan perspektif pengurangan risiko bencana di setiap tahapan pembangunan. Mengapa bisa begitu ?.

Semua terjadi karena kurangnya komunikasi diantara elemen pentahelix, dalam rangka melakukan koordinasi membangun sinergi. Inilah tugas berat  mBah Dharmo beserta pengurus untuk membuka kebuntuan komunikasi dan memperluas jejaring kemitraan.

Tentunya harus disadari, dimasa pandemi ini semua gerak dibatasi. Sehingga gerakan mBah Dharmo untuk merealisasikan amanat yang dihasikan dalam sidang-sidang komisi, akan banyak kendala yang ditemui. Untuk itulah mBah Dharmo harus cerdik memilah dan memilih mana yang perlu didahulukan dan bisa ditangani.

Mari bersama menunggu irama apa yang akan dimainkan oleh ‘orkestra’ yang di pimpin mBah Dharmo. Harapannya jelas, alumni pasca sarjana UPN Jokja ini bisa menyuguhkan irama baru tentang peran forum pengurangan risiko bencana yang bisa terasakan kehadirannya di berbagai lapisan masyarakat, khususnya mereka yang berdiam di kawasan rawan bencana. Salam Tangguh, Salam Sehat, tetap semangat melaksanakan protokol kesehatan. [eBas/ndleming parak isuk-JumatPahing/14082020].


Jumat, 24 Juli 2020

BANGKITLAH AYO BANGKIT F-PRB JATIM


Entah ceritanya tadi bagaimana, tiba-tiba semua komentar mengarah pada upaya mengadakan musyawarah besar (mubes), seperti yang pernah digelar di Kota Malang tahun 2017. Tepatnya di Hotel Pelangi, kidulnya alun-alun. Hasil mubes kala itu diantaranya, secara aklamasi memasrahkan nasib Forum-PRB Jawa Timur kepada Rurid Rudianto sebagai Sekretaris jendral, menggantikan Syaiful (Alm).

“Wes monggo saja segera diatur, yang pasti Alhamdulillah semangat dulur-dulur untuk ber-FPRB-ria masih menyala. Monggo gimana baiknya, yang pasti sesuai statute, bulan april 2020 kemaren itu waktunya MUBES III,” Kata Simbah Dharmo, dari Padepokan Jangkar Kelud, menyemangati dengan penuh semangat.

Gayung pun bersambut. Bermacam komentar bebas menghiasi grup whatsApp ‘Membangun Forum PRB JATIM’. Walaupun tidak semua berkomentar, namun beberapa komentator yang rajin berkomentar itu sudah cukup mewakili 114 anggota. Mereka diam itu bukan karena tidak kritis menjaga marwah Forum. Tinggal bagaimana mengkondisikannya agar nanti saat mubes digelar, semua bisa hadir.

Komentar cerdas dan bijak datang dari Achmad khusairy. Dia bilang, mungkin ada baiknya dibuatkan tulisan singkat tentang keperluan musyawarah, terus ditawarkan ke anggota forum, siapa yang mau musyawarah secara daring. Menurut hemat saya bukan soal sekjen secara personal yang akan dibahas, tapi musyawarah itu bisa kita gunakan berdiskusi tentang arah eksistensi FPRB ke depan.

Untuk kondisi sekarang yang realistis ya via daring, yang penting nanti prosesnya mewakili teman-teman forum, dan hasil musyawarahnya sesuai visi misinya forum.

“Menurutku begitu mbah. Mungkin bisa disepakati kira-kira kapan, trus dilist siapa yg bisa ikut ditanggal itu. Kalau sebagian besar bisa kan bagus. Plusnya, Kalau daring wis nggak mikir biaya dan akomodasi,” Ujarnya.
     
         Gagasan dari dosen Unair ini sangat menarik untuk dicermati sebelum memutuskan bermusyawarah secara daring. Seperti perlunya dibuatkan tulisan singkat dan keterwakilan anggota forum. Apakah tulisan evaluatif atau harapan kedepan yang perlu dirumuskan sebagai materi musyawarah atau yang bagaimana, perlu ada kejelasan.

“Kalau keterwakilan forum dalam mewadahi berbagai elemen pentahelix, ya jelas wajib. Agar tidak terkesan forum hanya mewakili kelompok tertentu saja,” Kata yang lain.

Tampaknya arah menuju musvida (musyawarah via daring) semakin kongkrit, tinggal pembulatan dengan jalan mengintensifkan komunikasi untuk membangun kesepahaman bahwa kita perlu segera musyawarah sesuai amanah 2017.

“Kurangnya cuma setunggal Mbah .... Yang bikin apapun rencana sepetinya ambyar di tengah jalan, yaitu kurang ngopi bareng dalam FPRB.  Kalaupun ada kegiatan sebagaimana dinyatakan Pak Sekjen, basisnya lembaga masing-masing,” Kata Yosua.

Apa yang dikatakan Yosua itu senada dengan komentarnya Pak Sekjen. Dimana beliau mengatakan bahwa sejelek apapun peningkatan kapasitas yang di lakukan oleh lembaga & relawan penanggulangan bencana, walaupun niatnya untuk antisipasi bencana alam. Mosok se ora ono gunane kangge nanggulangi covid?.

“Sakjane akeh sing wes di lakoni poro lembaga  karo organisasi relawan. Tapi kok seolah-olah tidak ada jejaknya ya?,” Ujar penikmat kopi khas malangan. Mungkin pertanyaan itu juga dimiliki oleh anggota yang lain, hanya tidak sempat keluar.

Ya, senyatanyalah pandemi dari Kota Wuhan ini telah melahirkan banyak relawan baru dengan berbagai aktivitasnya  untuk turut serta memutus rantai sebaran covid-19. Saking bersemangatnya, sehingga merekalah yang tampak menguasai panggung. Apalagi jika kelompok relawan itu kelahirannya didukung oleh “kepentingan”, maka pergerakannya sangat cepat. “Gas Pol Rem Blong, Los Gak Rewel”, begitulah istilah milenialnya.

“Ayo,,ayo,,ayo,, didandani bareng-bareng.  Yang selama ini kurang pas, ayo dipaskan agar semua kegiatan bisa tercatat dan bisa digunakan disegala cuaca dan kondisi serta segala hazard,” Kata Simbah Dharmo, menyemangati para komentator dengan usulan cerdasnya.

Kalau tidak salah ingat, alumni civitas UPN ‘Veteran’ Jokja ini dalam kepengurusan FPRB JATIM, dipercaya membidangi peningkatan kapasitas anggota. Jelas programnya menyelenggarakan pelatihan, lokalatih, seminar, sarasehan, diskusi dan rapat-rapat mengkritisi kebijakan yang bersentuhan dengan kebencanaan. Ya, bidangnya Simbah Dharmo memang lekat dengan O3 (Olah raga, Olah pikir dan Olah Rasa). Sayang belum terwujut karena rapat pengurus tidak pernah berlanjut.

Sementara komentar dari kaum hawa diwakili oleh mBakyu Eka. Wanita karier ini gayanya seperti Srikandi, dalam dunia pewayangan. Tegas, lugas dan cerdas. Apalagi menghadapi Lontong balap dan Tahu campur, beliaunya sangat trengginas dan tuntas. Termasuk dalam mengomentari kerinduan anggota untuk ber-musvida-ria sambil nyruput kopi. Bagi yang belum kenal, pasti nggreweli bertatapan dengannya, seperti kena sihir aji samandiman. Lain lagi jika sudah kenal (seperti penulis).

“Ngobrong dulu Dul, ngopi daring rapapa. Quo vadis forum butuh berjembung-jembung kopi. Nek kebutuhan ringbes kita bincang ndik situ ae. Seberapa urgensi dibanding ngasih napas buatan ke forum yg senen kemis ini?. Mengko kesusu ringbes pancet engkrik-engkrik’en napas kari rong jumat, ya repot Dul,” Komennya penuh makna dengan nada agak pesimis.

Yups, artinya disini, tidak semua anggota punya greget seperti Simbah Dharmo untuk ber-musvida-ria dengan berbagai alasan. Seperti kesibukan sehari-hari dan ganasnya pandemi.

Yang jelas bola musvida telah ditendang kesana kemari. Harus diupayakan tetap bergerak di lapangan. Ditendang oleh libero, beralih ke sayap kiri dioper ke kanan dalam, direbut striker, mental menyentuh bokongnya wasit. Semoga bola tidak keburu keluar lapangan sebelum membuahkan gol. [eBas/ndleming dini hari-25Juli2020]








Rabu, 22 Juli 2020

SRPB JAGONGAN DI JW. MARRIOTT SURABAYA


Begitulah nyatanya, senin pahing (20/07/2020) malam selasa pon, atas undangan Lilik Kurniawan, salah satu orang penting di jajaran badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Beberapa pengurus SRPB hadir njagong di Lobby Hotel JW. Marriott. Di sana juga ada pengurus PUSPPITA dan staf BPBD Provinsi Jawa Timur.

Terletak di jantung bisnis dan perbelanjaan Surabaya, JW Marriott merupakan salah satu hotel yang mewah dan nyaman. Beruntung SRPB berkesempatan menikmati kenyamanannya. Semua itu berkat kebaikan Pak Lilik, begitu sapaan akrabnya, mengundang jagongan saat melakukan kunjungan kerja ke Surabaya.

Pria asli Jokja ini memang tergolong sangat dekat dengan relawan. orangnya baik, pendiam dan agak pelit senyum (bagi mereka yang belum kenal). Jika sudah kenal baik, maka barikade status sosial tidak berlaku. Semua obrolan bebas berseliweran, namun tetap pada koridor kebencanaan. Beliau juga tidak pelit informasi.

Jika ada guyonan yang menyangkut politik, biasanya akan segera kembali ke jalan yang benar (tentunya setelah nyruput kopi tipis-tipis). Dengan demikian jagongan yang dibangun sangat mencerahkan, bahkan kadang menginspirasi untuk membangun aksi di kemudian hari.

Konon, jabatan beliau ini setingkat eselon satu, tapi tidak canggung bergurau dengan relawan biasa tanpa eselon. Apalagi jabatan, karena relawan itu memang bukan pekerjaan. Sesungguhnyalah alumni UGM ini humoris, kata-katanya penuh makna dan jagoan nyanyi. Suaranya lumayan, tergantung dari sudut mana kita mendengarnya. Nyanyi apa saja beliau bisa, yang penting berani nyanyi tanpa takut salah.

Sambil menikmati apa yang ada, jagongan berlangsung gayeng tanpa ada moderator. Cerita apa saja untuk kemudian tertawa bersama. Hendro dari PUSPPITA bercerita tentang pengalaman dan program-program yang bersinggungan dengan bidang kesiapsiagaan. Termasuk siap membantu edukasi kebencanaan kepada masyarakat melalui tenda pendidikan bencana (tenpina).

Ada juga yang menyinggung tentang perlunya pelibatan seluruh elemen pentahelix dalam upaya penanggulangan bencana (dalam hal ini penanganan covid-19). Karena selama ini pembahasan pentahelix masih sebatas di dalam ruang rapat, belum sampai tahap operasional.

Padahal di dalam SE Kemendagri tentang penanganan covid-19, jelas disebutkan peran dan keterlibatan masyarakat (termasuk organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi dan media) dalam gugus tugas. Mengapa bisa begitu ?. sementara, jika ditanyakan, dapat dipastikan jawabnya masih sedang dipelajari.

Menurut Wawan, yang sempat mencatat materi jagongan di Lobby Hotel mewah itu. Diantaranya adalah rencana mendirikan posko gabungan pencegah penyebaran covid-19 tingkat provinsi Jawa timur di lapangan Makodam Brawijaya, Surabaya. Semua aktivitasnya dipimpin langsung oleh Pangdam Brawijaya.

Untuk mendukung posko gabungan, akan didirikan beberapa tenda. Seperti tenda Logistik, Dapur Umum, Tenda Istirahat sekaligus mushola, Tenda VIP, Tenda rapat, Tenda Jaga dan Tenda Kelas. Durasi kerjanya hanya 14 hari untuk kemudian di evaluasi, perlu tidaknya diperpanjang lagi.

Direncanakan, relawan yang akan dilibatkan sekitar 150 personil. Dimana 80 personil akan disebar di 40 Kecamatan. (31 Kecamatan di Kota Surabaya, 5 Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, dan 4 Kecamatan di Kabupaten Gresik).  

Apa yang direncanakan itu merupakan respon BNPB untuk membantu Provinsi Jawa Timur agar segera keluar dari cengkeraman pandemi covid-19 menuju zona hijau. Sehingga segera bisa menerapkan konsep New Normal agar roda kehidupan berjalan, tentu dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Tidak lupa, sambil jagongan masing-masing partisipan mencoba mencatat apa-apa yang menurutnya menarik untuk dicatat, sesuai selera masing-masing sambil sesekali berswafoto, mengabadikan pertemuan yang langka ini. Pertemuan antara relawan dengan salah satu orang penting di jajaran BNPB dalam suasana santai jauh dari protokoler.

Waktu pun terus berjalan menuju pagi. Satu persatu peserta jagongan mohon diri dengan selaksa harap, agar apa yang telah dibahas tadi bisa terrealisasi dalam sebentuk aksi. Mengingat, diwaktu yang bersamaan telah terjadi perubahan. Gugus tugas berganti nama menjadi satuan tugas.

Dengan masuknya muka-muka baru dalam struktur baru, tentu akan lain pula kebijakannya. Termasuk titik tekan program yang baru. Dus berarti acara jagongan di Lobby Hotel JW. Marriott bersama Pak Deputi itu, dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan saling bertukar informasi untuk bekal membangun sinergi. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. Bersatu Bersinergi untuk Peduli. [eBas/ndleming sendiri pasca ikut webinar penanganan covid-19 di jatim/22072020]