Minggu, 13 September 2020

KANG PALIH PEGANG SRPB MAGETAN

Akhirnya, di masa pandemi covid-19 ini, dengan suara aklamasi, Kang Palih diserahi amanah untuk menjadi ketua SRPB Kabupaten Magetan. Tidak “gemen-gemen”, Kang Palih dilantik langsung oleh Bupati Magetan, Suprawoto. Disaksikan Kepala Dinas Kesehatan Magetan dan Kalaksa BPBD Magetan, Ari Budi Santoso.

Kegiatan yang digelar di Sekretariat SRPB, Dukuh Kambingan, Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, sabtu (13/9/2020), juga disaksikan oleh Staf Ahli Gubernur Jawa Timur bidang Kebencanaan, Suban Wahyudiono, dan Kabid PK BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Subroto. Sebuah peristiwa langka, kegiatan komunitas dihadiri beberapa pejabat penting.

Kiranya Kang Palih sangat senang dan bangga, prosesi pelantikan kabinetnya sukses, aman terkendali. Apalagi Pengurus SRPB Jawa Timur juga turut ‘mangayu bagyo’ dengan segala keceriaan dan harapan agar Kang Palih segera menampakkan keberadaannya. Gak Pake Lama, langsung wat wet sat set, cancut tali wondo, menyingsingkan lengan baju menuju harapan baru.

Ya, sebuah tanggung jawab yang harus segera digulirkan dalam berbagai program, agar Pak Bupati dan pejabat yang menyempatkan hadir di Dukuh Kambingan, percaya bahwa kehadirannya tidak sia-sia dan yakin bahwa Kang Palih mewarisi semangatnya Ki Mageti dalam “mrantasi tugas” yang diemban. Apalagi di belakang Kang Palih juga bercokol orang-orang hebat dengan segala kapasitasnya.

Tentu, Kang Palih dipilih itu karena pengalamannya yang banyak di dunia kerelawanan. Ya, senior satu ini memang telah lama malang melintang dibidang tugas kemanusiaan. Segala suka duka berkecimpung dalam organisasi telah menempa Kang Palih. Inilah modal sosial yang telah dimilikinya untuk menjadi trigger SRPB Magetan dengan segala program inovasinya yang kreatif.

Lihat saja “Bathuk’e tambah ombo lan kinclong” pertanda Kang Palih itu seorang pemikir dan pekerja keras, sampai badannya gak sempat gemuk. Ya, Kang Palih memang lelaki yang istikomah dengan bentuk badang yang kurus tapi atletis.

Banyak harapan dari undangan yang dilontarkan malam itu. Intinya, semua berharap, semoga SRPB Magetan dibawah rezimnya Kang Palih dapat bermanfaat dalam penanggulangan bencana dan upaya pengurangan risiko bencana, melalui sosialisasi dan edukasi.

Jangan lupa, keberadaan SRPB sebagai wadah berkumpulnya berbagai organisasi dan komunitas itu, hendaknya bisa menjadi katalisator antar elemen pentahelix dalam kegiatan kebencanaan dan Kemanusiaan di Magetan, serta bersinergi dengan BPBD Magetan dan Dinas terkait. Sehingga jargon ‘masalah bencana adalah masalah bersama’ menjadi nyata adanya.

Pastilah Kang Palih dan SRPB Magetan akan menjadi gunjingan banyak pihak karena dikukuhkan langsung oleh Pak Bupati. Tentu mereka akan mencari tahu dan menunggu program nyata yang bermanfaat bagi sesama warga Magetan. Untuk itu Kang Palih harus tetap amanah, bukan “aman ah” kayak tetangga sebelah. Dimana, setelah berhasil jadi ketua SRPB langsung “Mblenjani Janji”.

Tidak ada salahnya jika Kang Palih dan kabinetnya segera mengatur langkah melakukan muhibah ke berbagai dinas serta komunitas terkait untuk mengenalkan diri sekaligus membangun sinergi. Siapa tahu disana ada banyak program yang bisa dikerjakan secara keroyokan dan hasilnya bisa dirasakan secara transparan.

Yang bagaimana itu ?. Mari ditunggu aksi nyata Kang Palih dengan Kabinetnya yang (mungkin) sedang menyusun program di Dukuh Kambingan. Tentulah sambil nyruput kopi dan ngemil lempeng Magetan yang di-dulit-kan sambel pecel. Salam Tangguh, tetap bersatu bersinergi untuk peduli. [eBas/SeninPon-14092020]

Kamis, 10 September 2020

WEDANG KOPI BANYU UDAN DI BALAI DESA PRODO PASURUAN

Judul diatas adalah benar adanya. Membuat wedang kopi, dimana airnya adalah air hujan yang ditampung kemudian diolah dengan metode elektrolisa alias di setrum sehingga dapat langsung diminum.

Konon, minum air hujan yang sudah dielektrolisasi sangat baik bagi tubih, bahkan ada yang percaya sebagai obat untuk kesehatan. Termasuk dimasak sampai mendidih untuk membuat wedang kopi yang siap disruput oleh para Juri desa tangguh bencana (destana) dari tingkat Provinsi.

Ya, hari itu, kamis (10/9) di Balai desa Prodo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan diadakan penilaian Destana tingkat jawa Timur. Tim Jurinya beragam. Disamping dari BPBD Provinsi Jawa timur, juga dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Bapemas, IABI, dan SRPB Jatim.

Dalam penilaian kali ini, Desa Prodo masuk kategori lomba Destana Utama, dengan indikator: a). Adanya kebijakan PRB yang telah dilegalkan dalam bentuk perdes atau perangkat hukum setingkat di kelurahan. b). Adanya dokumen perencanaan PB yang telah dipadukan ke dalam (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) dan dirinci ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa), c). Adanya Forum PRB yang beranggotakan wakil-wakil masyarakat, termasuk kelompok perempuan dan kelompok rentan, dan wakil pemerintah desa/kelurahan, yang berfungsi dengan aktif.

Kemudian, d). Adanya Tim Relawan PB Desa/Kelurahan yang secara rutin terlibat aktif dalam kegiatan peningkatan kapasitas, pengetahuan dan pendidikan kebencanaan bagi para anggotanya dan masyarakat pada umumnya.

Selanjutnya, e). Adanya upaya-upaya sistematis untuk mengadakan pengkajian risiko, manajemen risiko dan pengurangan kerentanan, termasuk kegiatan-kegiatan ekonomi produktif alternatif untuk mengurangi kerentanan. f). Adanya upaya-upaya sistematis untuk meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan serta tanggap bencana.

Forum PRB Desa Prodo memang baru dibentuk dan disahkan oleh Kepala Desa Setempat. Namun kegiatan yang sudah dilakukan terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana, sudah banyak dilakukan dengan melibatkan seluruh warga secara gotong royong.

Banjir merupakan bencana yang rutin datang setiap musim penghujan. Untuk itu sosialisasi masalah bagaimana bersikap saat banjir datang menggenangi daerahnya setinggi dada orang dewasa, serta bagaimana upaya mengurangi bahaya banjir dan menangani pasca bencana, kiranya sangat perlu digalakkan.

Upaya itu diantaranya adalah kerja bakti membersihkan lingkungannya, memasang rambu-rambu evakuasi, menyiapkan tempat pengungsian, mengadakan lumbung pangan dan jimpitan. Serta memanfaatkan dana desa untuk kegiatan kebencanaan seperti pesan dari permendes nomor 16 tahun 2018, tentang Prioritas penggunaan Dana Desa tahun 2019.

Dalam pasal 12, poin d, nomor 3, dikatakan, …..  untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat Desa yang meliputi, pengelolaan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam da konflik sosial, penanganan bencana alam dan konflik sosial, serta penanganan kejadian luar biasa lainnya.

Dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi, mereka juga memanfaatkan lahan di pinggiran jalan desa dengan ditanami aneka sayur serta mengadakan jimpitan beras, bekerja sama dengan BUMDES.

Banyak sekali informasi menarik yang didapat oleh tim juri saat berdialog dengan berbagai elemen masyarakat terkait penanganan bencana secara mandiri. Tim juri pun sempat melihat kondisi lapangan yang menjadi langganan banjir. Juga melihat kelengkapan administrasi dan sarana prasarana pendukung lainnya yang menunjang upaya penanggulangan bencana.

Sambil nyruput wedang kopi banyu udan, saran yang layak diperhatikan oleh anggota Forum PRB Desa Prodo adalah, perlunya mengagendakan kegiatan kerja bakti serta membangun jejaring kemitraan dengan berbagai komunitas.

Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas anggota Forum yang baru lahir ini, kiranya perlu ada pembinaan dan pendampingan dari berbagai pihak, dalam bentuk lokalatih, saraserahan dan diskusi kebencanaan. tentunya, semua ini akan lebih gayeng jika ditemani wedang kopi banyu udan. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Kamis malem JumatKliwon-10092020]*

 

 

 




Selasa, 08 September 2020

PENILAIAN DESTANA YANG TANGGUH BENCANA

Kalau tidak salah dengar, BNPB membuat program desa tangguh bencana (destana) itu dalam rangka mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang potensi bencana di daerahnya masing-masing. Karena, setiap terjadi bencana, masyarakatlah yang pertama merasakan, menjadi korban dan masyarakat pula yang pertama bergerak menolong korban bencana.

Untuk melihat program tersebut berjalan, diadakanlah penilaian destana. Tim jurinya terdiri dari berbagai elemen, diantaranya relawan. Tentu sebelumnya, mereka diberi bekal yang memadai, sehingga dalam melaksanakan tugas sebagai juri tidak asal menilai demi daya serap anggaran. Dengan demikian akan terpilih destana yang benar-benar destana.

Ada pula yang bilang bahwa setiap penilaian destana, bertujuan untuk mengetahui posisi desa tersebut tangguh terhadap bencana atau tidak saat ini. Dari informasi yang didapat akan dijadikan bahan menyelenggarakan lokalatih untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi potensi bencana yang ada di desanya.

Idealnya, dalam penjurian berpedoman pada buku Standar Nasional Indonesia (SNI) 8357 : 2017, tentang Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana, dikatakan bahwa dengan penerapan SNI Desa dan kelurahan tangguh bencana, diharapkan upaya-upaya pengelolaan risiko bencana tersebut dapat secara nyata berkontribusi dalam penurunan risiko bencana termasuk dampak perubahan iklim melalui pemberdayaan masyarakat desa dan kelurahan dengan pelibatan langsung masyarakat termasuk didalamnya kelompok rentan dan kelompok marginal lainnya.

Perangkat penilaian Desa dan Kelurahan tangguh bencana ini menilai 5 komponen. Yaitu, komponen 1: kualitas dan akses layanan dasar, serta komponen 2: dasar sistem penanggulangan bencana.

Kedua komponen tersebut merupakan indikator dasar, seperti termaktub dalam SNI, untuk memastikan usaha-usaha penguatan ketangguhan dapat berjalan dengan baik. Berikutnya, komponen 3: pengelolaan risiko bencana; komponen 4: kesiapsiagaan darurat, dan komponen 5: kesiapsiagaan pemulihan. Ketiga komponen ini merupakan representasi proses untuk mewujudkan indikator hasil dalam SNI.

Hasil dari penilaian, akan menentukan Desa/Kelurahan yang benar-benar layak menyandang gelar Destana Utama, Destana Madya, atau Destana Pratama.

Namun rambu-rambu penilaian yang ada di dalam SNI bisa dibijaksanai sesuai dengan situasi dan kondisi. Termasuk penilaian tentang penanganan pandemi covid-19 serta sosialisasi protokol kesehatan, kiranya perlu juga diadakan. Sehingga personil destana juga tangguh dalam memutus rantai sebaran covid-19.

Yang jelas, kegiatan penilaian destana kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh aktivitas kehidupan dimasa pandemi haruslah mentaati protokol kesehatan. seperti menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun. Semua ini perlu dijalankan agar kegiatan penilaian destana tidak meninggalkan masalah baru, yaitu timbulnya klaster destana. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/RabuPon-09092020]

 

 

Senin, 31 Agustus 2020

RELAWAN PEDULI TEMPAT IBADAH

Assalamualaikum...semoga kita semua selalu dalam lindungan Alloh SWT. Jika berkenan, mohon kehadirannya rekan, senior, kakak utk berpartispasi pada Sabtu, /29/08/2020, Jam 07.30 sd selesai. Acara: Giat sosial peduli bersih-bersih Masjid Ahmad, di Klampis Ngasem III. Dimohon peserta membawa sendiri snack n botol air minum. Demikian pemberitahuan dari kami, sebelumnya kami sampaikan Terima kasih.

Begitulah bunyi pengumuman yang diposting di grup whatsApp relawan peserta rakor SRPB Jawa Timur 2020, di Obis Camp, Trawas, Mojokerto. Sebuah kegiatan peduli kebersihan rumah ibadah yang sangat bermanfaat untuk menggalang silaturahmi antar para pegiat lingkungan alam, menumbuhkan semangat gotong royong, dan tentunya turut serta menjaga kebersihan rumah ibadah, sebagai perwujudan “Kebersihan sebagian dari Iman”.

Begitulah, pagi hari, sabtu pahing, relawan dari berbagai komunitas berdatangan ke Masjid Ahmad, yang cukup besar di tengah perkampungan Klampis. Sambil membawa logistik sendiri-sendiri sebagai bentuk kemandirian. Serta tetap mengindahkan protokol kesehatan.

Setelah berbasa basi, mereka langsung mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Nyapu lantai sekaligus ngepel, nyemprot disinfektan di seluruh lingkungan Masjid, membersihkan kamar mandi, membersihkan debu yang menempel di kipas angin, kaca dan dinding. Begitu juga tower masjid, tidak luput dari pembersihan dengan menggunakan peralatan lengkap, ‘full body harness’ untuk bekerja di ketinggian.

Tidak lupa, ditengah kesibukan bersih-bersih Masjid, masih sempat memainkan cameranya untuk mengabadikan kegiatan bersama yang indah untuk kemudian di share ke berbagai grup whatsApp. Begitu juga dengan bagian dokumentasi, hilir mudik membidikkan lensanya ke berbagai sudut Masjid yang sedang dibersihkan.

Ternyata, kerja keroyokan membersihkan Masjid tanpa ada yang mengomando itu cukup efektif. Buktinya menjelang waktunya adzan duhur, semuanya beres. Tinggal mengemasi peralatan untuk kemudian menjalankan solat dzuhur berjamaah. Sayangnya, pewangi ruangan kurang terasa segarnya.

Seperti biasanya, untuk mengakhiri kegiatan selalu ada acara ngobrol santai sambil evaluasi. Ditemani nasi bungkus dan segelas kopi, pertukaran informasi mengalir silih berganti. Semua punya hak mendengarkan dan menyampaikan pendapat, informasi dan pengalamannya. Ya, apa saja boleh disampaikan, termasuk rencana kegiatan bersih-bersih tempat ibadah selanjutnya.

 Konon kegiatan yang baru pertama dilakukan di masa pandemi covid-19 ini, akan segera ditindak lanjuti dengan melibatkan komunitas yang lebih banyak lagi. Begitulah harapan mulia dari penggagasnya. Semoga komunitas lain berkenan mendukung sehingga tampak keguyubannya dalam melakukan kerja-kerja sosial secara mandiri. Semoga kegiatan ini menjadi ladang pahala bagi yang percaya. [eBas/SeninWage-31082020]

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 24 Agustus 2020

BUDI CAHYONO BICARA TENTANG EKSISTENSI ORGANISASI RELAWAN

       "Anggota saya sementara ini yang tercatat ada 74 orang, namun yang aktif sekitar 21 orang. Lainnya sibuk dengan pekerjaan, namun mereka tetap berkontribusi terhadap organisasi. Aktif mengikuti pertemuan serta membantu doa, dan kadang juga dana agar yang aktif selalu sehat dan bersemangat,” Kata Budi Cahyono, Ketua forum relawan penanggulangan bencana (FRPB) Kabupaten Pamekasan.

Pria berkacamata ini tergolong ahli hisap. Perokok kelas berat, tapi tetap sehat, bahkan dan terkesan angker bagi yang belum mengenalnya. Padahal, sesungguhnya Pak Bud, begitu panggilan akrabnya, sangat humoris dan enak diajak ngobrol. Apalagi ngobrol tentang kerja-kerja kemanusiaan dibidang kebencanaan, sambil rokok’an.

Ditemui di acara pengimbasan informasi tentang keterlibatan relawan dalam program Masjid Tangguh, dan Pasar Tangguh yang diinisiasi oleh BNPB, kepada relawan di wilayah Kabupaten Mojokerto dan peserta rapat koordinasi (rakor) SRPB Jawa Timur. Pak Bud mampu menghipnotis peserta dengan gayanya, sehingga materi yang disampaikan mudah dipahami.

Kegiatan pengimbasan itu merupakan rangkaian dari Rakor yang diselenggarakan SRPB Jawa Timur sebagai salah satu mandat kongres yang difasilitasi oleh BPBD Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini mengambil tempat di Obis Camp, Trawas, Kabupaten Mojokerto. Pada hari jum’at sampai dengan minggu (21 23 agustus 2020).

Saat ngobrol usai memberikan materi, beliau bilang bahwa masukan salah satu peserta dari relawan Kota Pasuruan sangat menarik untuk dikaji dan di-ujiterap-kan di masing-masing organisasi. Masukannya itu berupa ajakan agar organisasi relawan berani berinovasi dan kreatif mencari terobosan financial untuk mendukung kegiatan organisasi.

“Usulan ini menarik. Saya kira perlu dijadikan materi arisan ilmu atau dibahas saat jagongan sambil ngopi. Duh nyaman ongguh tak iye,” Katanya sambil memainkan asap rokoknya.

Ya, peserta dari Kota Pasuruan itu mengatakan bahwa sudah waktunya relawan berinovasi mengemas kegiatan yang bisa mendatangkan keuntungan untuk mendukung kegiatan.

Relawan juga harus kreatif memperluas jejaring kemitraan dengan berbagai komunitas dan organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada hubungannya dengan penanganan kebencanaan. Ini penting, agar keberadaan dan kegiatannya tidak dipandang sebelah mata.

“Sebenarnya saya sudah menjalankan ajakan tersebut. Contohnya, kegiatan selama pandemi ini mendapat dukungan dari anggota yang tidak ikut turun ke lapangan. Baik berupa doa dan dana. Mereka juga aktif menggalang bantuan dari ‘Hamba Allah’, sehingga memudahkan gerakan teman-teman di lapangan,” Ujarnya lagi.

Konon, masih kata Pak Bud, sejak pandemi masuk ke Madura, mereka turut sibuk membantu pemerintah menanganinya dengan melakukan penyemprotan disinfektan ke berbagai fasilitas umum, fasilitas sosial, dan rumah warga. Bakti sosial pembagian masker dan hand sanitizer, pembagian paket sembako bagi warga yang ekonomi rumah tangganya terpapar pandemi. Mereka juga terlibat dalam penanganan korban covid-19.

Kegiatan yang dilakukan Pak Bud beserta pasukannya itu tanpa pamrih dan murni swadaya. Kesungguhan mereka pun akhirnya juga diapresiasi oleh berbagai pihak, termasuk Bupati Pamekasan dan pihak Angkatan laut, dalam bentuk dukungan.

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah menggandeng beberapa media online untuk meliput semua kegiatan FRPB sehingga diketahui oleh khalayak ramai. Termasuk keterlibatannya dalam rakor SRPB Jawa Timur di masa pandemi ini.

Terkait dengan upaya regenerasi agar eksistensi organisasi tetap lestari, menurut pria berkumis ini harus dilakukan secara bertahap dengan memberi kesempatan kepada anggota yang muda untuk tampil melaksanakan tugas dan tanggungjawab organisasi. Sukur-sukur bisa bekerjasa sama dengan BPBD mengadakan diklat kebencanaan bagi relawan.

Dalam beberapa literatur dikatakan bahwa regenerasi dapat dikatakan sebagai sutu perpindahan tongkat estafet tanggung jawab keorganisasian dari generasi sebelumnya ke generasi yang baru. Regenerasi organisasi dilakukan agar adanya penerus perjuangan dari perwujudan tujuan organisasi yang harus selalu dipertahankan dan ditingkatkan di tiap generasinya.

Adanya regenerasi dalam sebuah organisasi menjadi sebuah rantai penghubung yang akan terus terkait dan membuat suatu organisasi mempertahankan keberadaannya. Dengan kata lain, regenerasi tidak boleh terlambat agar eksistensi organisasi tetap diakui oleh khalayak ramai.

          “Menurut saya secara berkala harus diadakan pertemuan anggota dalam bentuk sarasehan, jagongan bareng dalam rangka pengimbasan informasi dan pengalaman dari yang tua kepada yang muda sebagai upaya peningkaan kapasitas secara informal,” Katanya.

Sungguh, ngobrol dengan Pak Bud ini menyenangkan. Begitu juga dengan pasukannya, juga ramah dan enak diajak bicara. Apalagi salah satu anggotanya ada yang jagoan bergoyang atarktif nonstop selama gelaran elekton di malam keakraban. Banyak pelajaran yang dapat dipetik. Terimakasih Pak Bud, partisipasi panjenengan sangat menginspirasi. Salam Tangguh, Bersatu Bersinergi Untuk Peduli. [eBas/nDemingParakIsuk/SelasaPon-25082020]

SAYA HANYALAH PESERTA RAKOR

Konon, rapat koordinasi (rakor) adalah salah satu media komunikasi yang wajib ada di dalam sebuah organisasi. Rakor seringkali juga menjadi wahana reunian untuk menjalin silaturahmi, tukar pengalaman dan informasi tentang kegiatan yang telah dan sedang dikerjakan. Siapa tahu bisa menginspirasi mereka yang terlibat dalam rakor.

Begitu juga dengan SRPB JATIM, yang merupakan wadah berkumpulnya organisasi relawan, juga memiliki agenda rakor sebagai salah satu programnya. Rakor yang digelar di Obis Camp, Trawas, Mojokerto, 21 – 23 Agustus 2020, merupakan upaya menyamakan langkah untuk membahas program yang dimandatkan oleh Kongres ke -2 di Grand Park Hotel, Surabaya, di penghujung februari 2020.

Seperti diketahui, dengan munculnya pandemi, maka banyak program yang telah disusun pasca kongres, terpaksa ditunda demi keselamatan dan kesehatan sesuai protokol kesehatan.

Melalui rakor inilah, diharapkan muncul ide baru bagaimana mensikapi program yang telah disusun dan belum dilaksanakan. Masing-masing organisasi diwakili oleh satu orang utusan dari unsur pengurus, dengan membawa surat mandat. Hal ini penting guna memutuskan program strategis yang harus segera diambil. Sehingga masing-masing organisasi mitra SRPB JATIM bisa melaksanakan program bersama yang telah disepakati.

Ya, rakor memang penting untuk menghindari konflik yang tidak sehat. Dengan rakorlah diharapkan akan terjadi Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Simplifikasi program agar pencapaian tujuan bersama seefektif serta seefisien mungkin.

Namun sayang, atas nama kesibukan, tidak semua pengurus organisasi mitra dapat menghadiri. Banyak yang terpaksa diwakilkan kepada anggotanya. Bahkan ada yang baru sekali ini ikut kegiatannya SRPB JATIM, sehingga babar blas belum paham tentag SRPB dengan segala aktivitasnya, dan lebih banyak diam dan bertanya tentang hal-hal di luar materi rakor. Itu wajar karena ketidak tahuan. Perlu dimaklumi dan menjadi pelajaran bersama..

Ini tampak saat berlangsungnya sidang-sidang komisi yang membahas program kerja amanat kongres. Peserta rakor dibagi dalam tiga komisi. Ada komisi A yang membahas anggaran, komisi B membahas Pengembangan kapasitas, Organisasi dan Kebencanaan. Sementara komisi C membahas Kemitraan dan bidang advokasi.

Semua program yang dirumuskan dalam kongres dicermati dan dibahas dengan berbagai masukan dan catatan untuk penyempurnaan. Namun ada yang belum berani menyepakati program karena merasa perlu dikonsultasikan ke pimpinan organisasi masing-masing. Mereka hanya mencatat kegiatan rakor yang akan dilaporkan ke pimpinan organisasinya.

“Mohon maaf, saya hanyalah anggota biasa yang mendapat tugas untuk mengikuti rakor. Surat mandat yang saya bawa sekedar menjelaskan bahwa saya benar-benar anggota yang ditugasi secara resmi oleh organisasi untuk mengikuti rakor, bukan untuk mengambil keputusan,” kilahnya.      

Padahal, semua peserta rakor itu telah dibekali surat mandat sebagai wakil resmi organisasi, seharusnya bisa aktif berkontribusi untuk ‘membedah’ program yang dibahas di dalam komisi demi ketercapaian program sesuai situasi kondisi saat ini. Sehingga saat sidang pleno sudah bisa menjadi kesepakatan yang oleh tim perumus tinggal ‘diselaraskan’ untuk dilaksanakan oleh pengurus.

Semua hasil bahasan sudah diplenokan, harapannya semua peserta sidang memahami hasil yang sudah dibahas dalam sidang-sidang komisi. Kini, semua sudah ditangan tim perumus untuk diselaraskan, yang nantinya akan menjadi salah satu bahan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan rakor.

Kemeriahan rakor semakin lengkap dengan permainan elekton yang memaksa diri ikut bergoyang sambil menikmati kambing guling, wedang kemaruk dan rebusan polo pendem. Wallahu a’lam bisshowab. Tetap semangat bersatu bersinergi untuk peduli. Jangan lupa protokol kesehatan. [eBas/ndleming SeninPahing-24082020]

  

Kamis, 20 Agustus 2020

KETIKA SUNGAI SEMAKIN TERCEMAR

Seiring bertambahnya jumlah penduduk yang mengadu nasib ke Kota, berebut pekerjaan, maka kebutuhan akan tempat tinggal menjadi problema tersendiri. Khususnya masyarakat miskin yang nekat mengadu nasib tanpa dibekali keterampilan yang layak jual.

Sehingga yang terjadi mereka menggelandang di sudut-sudut Kota, bahkan di kuburan dan di kolong jembatan. Sudah menjadi bagian wajah Kota jika daerah sempadan sungai kini berubah fungsi menjadi hunian kaum 4T (tempat tinggal tidak tetap). Ya mereka terpaksa tinggal disitu karena tidak mampu kontrak rumah (nge kos).

Walhasil bibir sungai dipadati oleh rumah liar. Karena penghuninya sibuk dengan urusan perut, mereka tidak peduli dengan lingkungannya. Sungai pun menjadi multi fungsi. Ya untuk mandi, mencuci, kakus sekaligus tempat buang sampah. Segala macam sampah.

Disamping sampah rumah tangga dan barang bekas, sungai pun diam-diam juga dimanfaatkan oleh oknum sebagai tempat pembuangan limbah pabrik. Yang terjadi kemudian adalah, sungai semakin dangkal akibat cepatnya proses sedimentasi oleh aneka sampah, kualitas air sungai rendah karena dicemari aneka limbah berbahaya, dan tentu saja merusak keindahan Kota karena kumuh dan bau yang tidak sedap akibat onggokan sampah. Tentu ekosistem sungai pun menjadi rusak karenanya.

Berbagai komunitas yang peduli terhadap lingkungan alam, flora dan fauna, telah lama berteriak akan pentingnya menjaga alam, dan melestarikan lingkungan. Bahkan mereka melakukan demo ke berbagai instansi yang berwenang. Termasuk ke perusahaan yang diduga membuang limbahnya.

Mereka juga melakukan penelitian tentang lingkungan sungai dan hasilnya dipublikasikan. Namun nyatanya belum banyak pihak (terutama pemegang kebijakan) yang memperhatikan.

Gerakan bersih-bersih sampah domestik (plastik, popok dan pembalut) juga dijadikan agenda bersama. Menyelamatkan sempadan sungai dengan menanami tanaman pelindung untuk mencegah tumbuhnya pemukiman liar. Ada pula yang mencoba mengedukasi masyarakat sekitar sungai agar tumbuh kesadarannya untuk turut menjaga sungai agar bersih, sehat dan nyaman.

Mengusir mereka ?. Tentu tidak semudah membalik kedua telapak tangan. Karena banyaknya kepentingan yang bermain disana. Mereka juga manusia yang punya hak untuk hidup di Kota. Di sini, yang diperlukan adalah kepemimpinan yang kuat untuk menegakkan peraturan daerah. Paling tidak, sekarang sudah ada beberapa daerah yang berusaha menata pemukiman sekitar sungai agar tidak kumuh.

Apa yang dilakukan oleh berbagai komunitas itu merupakan bentuk kepedulian terhadap upaya mencegah (mengurangi) tingkat pencemaran yang mengakibatkan kerusahan alam.

Suara kepedulian itulah seharusnya ditangkap oleh pemerintah untuk menata ulang sempadan sungai agar tidak dimanfaatkan oleh oknum yang nakal demi kepentingannya. Sehingga konsep pembangunan berwawasan lingkungan menjadi nyata.

Pertanyaannya kemudian, akan dikemanakan onggokan sampah plastik, popok, pembalut dan lainnya yang berhasil dikumpulkan dalam acara bersih-bersih sungai?. Cara praktisnya adalah dibakar sampai benar-benar habis terbakar. Tapi ini bisa mengakibatkan polusi udara dan sesak napas dan penyakit lainnya.

Salah satu yang sering dilakukan untuk mengoalh onggokan sampah adalah menggunakan sistem 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle).

Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. 

Sementara Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Sedangkan Reduce berarti kita mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reduce juga berarti mengurangi belanja barang-barang yang anda tidak “terlalu” butuhkan seperti baju baru, aksesoris tambahan atau apa pun yang intinya adalah pengurangan kebutuhan.

Mungkin inilah yang perlu dijadikan bahan edukasi kepada masyarakat, khususnya yang mendiami sempadan sungai untuk memanfaatkan sampah menjadi berkah. Konsep bank sampah juga perlu di sosialisasikan.

Namun, membangun kesadaran untuk hidup bersih dan tidak membuang sampah sembarangan, itu bukan perkara mudah. Beberapa komunitas telah melakukan itu dan berhasil, hanya dampaknya belum signifikan.

Yang jelas gerakan peduli alam dan upaya pelestarian lingkungan itu akan terus bergaung, termasuk ajakan untuk tidak membuang sampah di sungai, agar tidak semakin tercemar. Walaupun lirih, akan terus disuarakan oleh para pengabdi lingkungan tanpa kenal lelah dan menyerah. Wallahu a’lam bisshowab. [eBas/JumatWage-21082020]