Senin, 14 November 2022

PASANG SURUT BERORGANISASI

pasang surut merupakan fenomena pergerakan naik ataupun turunnya posisi permukaan perairan laut secara berkala yang disebabkan oleh faktor- faktor tertentu. Ya begitulah laut punya siklus pasang surut silih berganti yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan.

Begitu juga dengan pasang surut organisasi (khususnya organisasi nir laba), pasti akan mengalami. Ya, pasang surut adalah sebuah fenomena yang selalu ada di setiap organisasi, dan sering kali sulit ditebak penyebabnya karena sifatnya sangat pribadi. Jika tidak disikapi dengan baik bisa menjadi penyebab surutnya keberadaan organisasi karena satu persatu personilnya ikutan surut.

Tentu kondisi itu tidak dikehendaki. Apalagi jika keberadaan organisasi sedang dalam performa terbaik dengan segala agendanya. Untuk itulah perlu dilakukan bersama upaya menciptakan suasana yang selalu menyenangkan dan membuat semua betah duduk bersama ngobrol sambil ngopi bertukar gagasan dan pengalaman.

Mungkinkah perlu ada upaya mitigasi untuk “mengelola” proses pasang surut itu ?. Tampaknya memang harus diantisipasi oleh semua pihak yang ada di dalam organisasi itu, bukan hanya oleh satu pihak saja. Karena organisasi itu dibangun secara bersama.

Kiranya perlu juga duduk bersama untuk menemukenali apa saja yang menjadi biang kerok surutnya organisasi itu ?. semua keluhan dan  gejala yang berpengaruh juga perlu diinventarisir. Jika memungkinkan semua pihak juga memberikan solusi cerdas untuk mensikapi pasang surut organisasi secara konstruktif.

Beberapa faktor umum yang selalu berpengaruh pada seseorang dalam berorganisasi. Diantaranya, faktor usia dengan segala problema yang mengikuti. Faktor kesibukan keluarga dengan segala implikasinya, faktor reward and punishment.

Bisa juga faktor keterlibatan dan kepentingan dalam proses berorganisasi, serta faktor lain yang masih banyak lagi. Termasuk masalah perasaan yang tidak bisa diungkapkan secara vulgar.

Jangan-jangan inilah yang dinamakan titik jenuh dalam berorganisasi. Dimana awalnya nyaman dan bersemangat menikmati kehidupan organisasi, hingga pada titik tertentu rasa itu berubah menjadi kejenuhan, yang akhirnya membuat semangat itu pun meredup, dan surut.

Jika demikian, ada benarnya anggapan bahwa tidak selamanya kehidupan  berorganisasi itu dinaungi oleh cuaca cerah. Ada hujan, badai, mendung, panas dan dingin yang sering melingkupinya. Termasuk perbedaan pandangan dalam melaksanakan program. itu hal biasa dalam berorganisasi.

Menghadapi itu semua, harapannya tentulah semua personil yang ada di dalam organisasi mencoba beradaptasi, dan mencari solusi bagaimana kesemuanya bisa  dilalui dengan baik sehingga menghasilkan yang terbaik sesuai tujuan bersama, agar suasana surut bisa berubah menjadi pasang.

Upaya mengatasi organisasi yang sedang surut ini sungguh tidak mudah. cara termudah adalah semua personil duduk bersama untuk secara terbuka bicara ada apa sesungguhnya, dan mau dibawa kemana organisasi ini.

Namun, mengagendakan duduk bersama itu juga tidak mudah. Bahkan semua teori motivasi yang sering digunakan dalam manajemen perusahaan dan mengelola organisasi modern, tampaknya tidak berlaku di organisasi nir laba.

Kalau sudah begini, mungkin prinsip "Silent is gold", mungkin adalah yang terbaik untuk diterapkan. Karena dalam suasana hati yang kacau dan pikiran yang bergalau, maka semakin banyak kita berbicara, maka semakin banyak peluang yang akan memperburuk keadaan.

Dengan kata lain, sebaiknya semua anggota organisasi melakukan "Cooling down" atau menenangkan diri sehingga dapat menimbang nimbang dengan cermat sebelum mengambil suatu keputusan. Karena setiap keputusan yang diambil, pasti akan membawa risiko.

Biasanya keputusan yang terburu-buru diambil, biasanya terbawa oleh emosi yang sedang labil, karena itu berpotensi terjadi hal yang lebih buruk. Untuk itulah mari ber “Cooling Down” dulu saja, gak usah ngomongin organisasi beserta rencana-rencana yang pernah dibahas. [eB/SeninWage-14112022]  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 11 November 2022

PEMETAAN FASILITATOR SPAB

Yth. Bapak/Ibu/Saudara Pegiat SPAB,

Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SEKNAS SPAB) Kemendikbudristek akan melakukan pemetaan fasilitator SPAB di seluruh Indonesia. Sehubungan hal dimaksud, Kami mohon kesediaan Saudara untuk berpartisipasi dalam kegiatan pendataan yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 s.d. 25 November 2022 dengan mengisi formular secara jelas melalui tautan https://formulir.kemdikbud.go.id/view.php?id=26573585. 

Hasil pemetaan akan ditampilkan pada web SEKNAS SPAB (https://spab.kemdikbud.go.id/), sebagai referensi informasi Fasilitator SPAB yang dapat diakses oleh seluruh pihak yang berkepentingan.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Saudara Asep Koswara (WA: 0812-1803-3853) dan Mariana Pardede (WA: 0857-6619-5789) atau melalui pos-el spab@kemdikbud.go.id. Terima Kasih.

Begitulah surat terbuka yang beredar di berbagai grup Whatsap. Penulis membacanya pas hari Jumat penuh berkah, yang bertepatan dengan tanggal cantik. Tanggal sebeles, bulan sebelas.

Surat itu berisi himbauan kepada para pegiat SPAB. Baik itu yang sudah pernah ikut diklat fasilitator SPAB, maupun yang belum, untuk berpartisipasi mendaftarkan diri agar keberadaannya terdata di Kantor Seknas SPAB.

Sungguh ini sebuah ajakan yang sangat bijak dari Seknas SPAB, sehingga upaya membumikan SPAB secara merata di seluruh sekolah segera terwujud, dan tidak hanya “dikuasai” oleh segelintir oknum yang merasa lebih berhak melahap program SPAB, karena sudah ikut diklat.

Namun, konon ada yang sudah pernah ikut diklat fasilitator SPAB tapi tidak pernah dipakai, dengan alasan tertentu, dan digantikan oleh mereka yang belum pernah ikut diklat, dengan alasan tertentu pula. Pernah juga ada cerita, seorang relawan sudah ikut diklat fasilitator namun tidak pernah dilibatkan dalam program fasilitasi, sehingga dia bersuara di facebook, menganggap bahwa telah terjadi penguasaan oleh beberapa fasilitator saja, karena disana ada uangnya. naudzubillah min dzalik. Semoga cerita di atas terjadi karena kesalah pahaman semata.

Kondisi inilah yang mungkin (menurut penulis lho ya), menjadi salah satu tujuan pendataan agar program SPAB ini bisa menjadi sebuah gerakan yang masif dengan banyak aktor yang terlibat/dilibatkan, dan mungkin (masih menurut penulis, jadi bisa saja salah), juga untuk memudahkan berkoordinasi dalam rangka pembinaan maupun penugasan.

Ya, sesungguhnyalah banyak aktor lokal yang ingin menjadi fasilitator SPAB. Namun tidak memiliki sertifikas SPAB. Sementara, program diklat Fasilitator SPAB jarang sekali ada. Hal ini sangat menghambat hasrat untuk turut serta mensukseskan program SPAB.

Nah, tidak ada salahnya jika semua pegiat SPAB yang bersertifikat maupun yang belum bersertifikat, hendaknya segera mendaftarkan diri agar terdata di Kantor Seknas SPAB. Siapa tahu setelah proses pendataan, akan dilanjutkan dengan acara pembekalan, sebelum turun ke lapangan.

Semoga program ini benar-benar memberi harapan baru. Baik kepada para pegiat SPAB, maupun program SPAB, yang sampai sekarang belum banyak dipahami oleh Dinas Pendidikan, dan Dinas terkait lainnya.

Termasuk adanya kesadaran baru dari kemendikbudristek terhadap pentingnya program SPAB beserta anggaran pendukungnya. Sehingga gerakan literasi kebencanaan itu benar-benar membawa dampak dalam upaya membangun ketangguhan. [eBas/JumatLegi-11/11/2022]

Rabu, 09 November 2022

RELAWAN PAHAM JURNALISTIK JENIS FEATURE

Konon, yang namanya relawan penanggulangan bencana itu adalah mereka yang memiliki kemampuan dan siap sedia menyumbangkan tenaga untuk kerja-kerja kemanusiaan. Baik pada fase pra bencana, saat bencana, maupun pasca bencana.

Tentu mereka sangat kaya akan cerita suka duka selama membantu sesama. termasuk cerita tentang dipaido temannya karena kesalah pahaman, juga mungkin salah jalan menuju sasaran yang ditentukan.

Semua pengalaman itu hendaknya didokumentasikan dalam sebuah tulisan. Jangan dibiarkan hilang dan dilupakan. Karena, sesungguhnyalah pengalaman itu sangat indah untuk dikenang. Bahkan kadang bisa menjadi pembelajaran bagi mereka yang mau belajar.

Kendala utama relawan enggan menuliskan pengalamannya adalah karena takut salah, takut dipaido dan takut ditertawakan. Padahal yang menyalahkan, memaido, dan menertawakan belum tentu bisa menuliskan pengalamannya. Jadi, mengapa harus malu, dan takut ?. Konon, menulis itu sebuah kreativitas yang pribadi sifatnya.

Untuk itulah, mari mulai menulis apa saja, tidak usah takut salah. Karena menulis itu sifatnya unik dan mempribadi sesuai dengan latar belakang si penulis itu sendiri, yang penting tulisan itu berdasar data dan fakta, yang diberi bumbu narasi dan pemilihan diksi sesuai kekayaan vocabulary.

Agar relawan memiliki keberanian menulis, tidak ada salahnya jika relawan belajar Menulis Feature sebagai salah satu bentuk karya jurnalistik. Mari belajar dari cuplikan buku berjudul  menulis feature karangan Septiawan Santana Kurnia. Jadi, disini saya hanya menulis ulang yang saya anggap penting.

Bukan kepemilikan sertifikat jurnalistik yang mendorong saya nulis, seperti mereka yang bangga dengan sertifikatnya tapi tidak berani mendokumentasikan kelakuannya. Bekal saya hanya keberanian yang nekat, untuk mencoba berbagi cerita, agar teman-teman relawan berani menuliskan pengalamannya untuk kemudian dibukukan.

Baiklah mari kita mulai.

Apa itu Feature ?. Daniel R. Williamson dalam buku “Feature Writeing for Newspaper” mengatakan bahwa Feature adalah sebuah kisah kreatif, terkadang subyektif, yang dibuat untuk menghibur dan menginformasikan pada pembaca tentang suatu peristiwa, situasi atau aspek kehidupan.

Menurut Septiawan Santana, teknik dan penulisan feature merupakan sesuatu yang tak terduga dan tidak selurus penulisan berita reguler. Apa yang dihadapi oleh penulisnya adalah kelinglungan mencari “news value” dari suatu peristiwa untuk diangkat ke dalam feature.

Williamson menyebutkan unsur-unsur yang dimiliki feature adalah kreativitas, subyektivitas, informasi, menghibur dan tidak dibatasi waktu. Tulisan feature juga harus bersifat orisinal dan deskriptif. Jadi, bisa saja di dalam sebuah tulisan feature terdapat banyak informasi. Namun, bedanya tulisan itu harus disampaikan dengan gaya yang menarik.

Penulisan fature juga cenderung deskriptif, karena berbeda dengan berita reguler yang kekuatannya terletak pada objektivitas. Kisah-kisah feature justru diberatkan untuk bagaimana membangkitkan imajinasi pembaca terhadap apa yang diangkat dalam tema penulisannya.

Feature koran atau majalah adalah salah satu jenis tulisan feature yang memiliki dua ciri, yaitu mengikuti headline news yang muncul di halaman-halaman utama koran dan peristiwa utama yang termuat di koran tersebut dan penulis yang ditekan deadline. Tipe ini disebut juga dengan istilah Sidebar. Yaitu tulisan yang mendukung atau dibaik berita utama.

Kedua adalah tipe feature yang dibuat dengan ciri timeless, artinya penulisannya tidak mengikuti cepatnya koran harus memberitakan peristiwa. Wartawan bisa lebih santai dalam menulis karyanya dengan konsekwensi karyanya itu mendetail dan lebih bergaya feature dalam penyampaiannya.

Dalam feature juga menggunakan gaya bahasa sastra untuk mengembangkan tulisan yang berbentuk news maupun views, sehingga tampak sisi human interst nya dan memikat pembaca dengan gaya penulisan yang enteng, cair dan sederhana, serta tidak lekang oleh waktu.

Pada  mulanya feature hanya menjadi sebuah bentuk tulisan yang mengungkapkan sudut pandang lain dari fakta berita yang tidak mungkin dibahas lebih mendalam dan detail di dalam tulisan straight news.

Gunawan Mohamad, dalam tulisannya pernah mengatakan, “penulis feature pada hakekatnya adalah seorang yang berkisah.” Penulis melukis gambar dengan kata-kata dan terkadang melibatkan diri dalam cerita tersebut.

       Keterampilan Menulis Feature (Writing Skills Feature), syaratnya adalah, Kemampuan menangkap peristiwa agar diketahui pembaca, gemar menulis tentang kisah manusia dengan segala masalahnya, dan memiliki kemampuan mengaduk, merangsang dan menghibur emosi pembacanya.

Penulis feature harus memiliki rasa pingin tahu yang besar. Senang dan jeli mengamati/menangkap fenomena sebuah peristiwa dibalik berita, maupun latar belakang dari sebuah pernyataan.

Feature juga akrab dengan emosi atau sentimen kemanusiaan. Dalam kalkulasi tertentu, laporan feature lebih banyak memainkan sisi kemanusiaan dengan cara menarik minat, memusatkan perhatian dan memberi sentuhan kesenangan pada sebagian pembaca. Perhatian kemanusiaannya digugah lewat kisah cinta, benci, ketakutan dan tema-tema yang sering terlupakan karena dianggap biasa.

Struktur feature terdiri atas Judul, Lead, Tubuh, dan Penutup. Judul dibuat semenarik mungkin/seaneh mungkin untuk menarik minat pembacanya. Judul tidak perlu mengikuti seperangkat aturan yang mengikat headlines. Dalam feature judul bukan berupa ringkasan tulisan.

Kemudian memulai dengan membuat Lead  yang berfungsi  menarik minat pembaca untuk terus membaca semapai habis. Ada beberapa lead yang bisa dipilih sesuai dengan kemampuan (bahkan tidak jarang ada yang mengabaikannya).

Jenis Lead (teras berita), Lead What, Who, When, Where, Why, How, Ringkasan, Kontras, Menjerit, Kutipan, Diskriptif, Pertanyaan, Naratif, Parodi, Epigram, dan Lead Sapaan. Untuk penjelasan lengkap beserta contoh Lead bisa dilihat di kitabnya simbah Gugel.

Setelah Lead, barulah menuliskan tubuhnya yaitu apa yang ingin disampaikan kepada pembaca dengan menggunakan bahasa keseharian yang mudah dipahami dengan memberikan sentuhan gaya bahasa sastra agar enak diikuti sambil nyruput kopi.

Diakhir tulisan adalah Penutup. Bisa berupa Ringkasan, Klimaks, Flash back/Cut back, Naratif, Deskriptif, Gabungan (informasi, ringkasan, dan kejutan), bahkan penutup juga bisa tanpa kalimat Penyelesaian, semua diserahkan ke pembacanya (Kalimat Terbuka).

Demikianlah bahasan singkat tentang tulisan jenis Feature yang bisa dijadikan media untuk mendokumentasikan pengalaman relawan saat melakukan kerja-kerja kemanusiaan (baik suka maupun dukanya), dalam sebentuk buku yang akan menjadi bukti bahwa pada masanya Sang Relawan pernah Berbuat sesuatu untuk sesamanya. Tentu buku ini akan menjadi sebuah kenangan yang terindah untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Mohon maaf jika disana sini banyak kekurangan, karena tulisan ini berangkat dari nekat, bukan atas nama sertifikat yang didapat dari sebuah diklat. Salam Tangguh. [eBas/RabuWage-09112022]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

    

Minggu, 06 November 2022

KOPI RATNA DARI TAMBAKREJO

            Tidak ada salahnya jika saya pada kesempatan ini mengucapkan terimakasih kepada pimpinan BPBD Provinsi Jawa Timur, khususnya Mas Dadang. Begitu juga kepada pengurus F-PRB Jawa Timur yang sudi melibatkan saya sebagai salah satu petugas Sapa Destana tahun 2022.

Saya berdua Dariyanto, mendapat tugas menyapa Destana di wilayah Kabupaten Blitar, bertempat di Balai Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto. Dekat dengan Guest House Mitra Bahari, yang berada di komplek Pelabuhan Perikanan Pantai Tambakrejo, milik Dinas Kelautan dan Perikanan, Provinsi Jawa Timur. Selasa (01/11/2022).

Kegiatannya meriah. Dihadiri oleh Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur, yang didampingi oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Kalaksa BPBD Kabupaten Blitar, Kepala Desa Tambakrejo, babinsa dan babinkamtibmas serta perwakilan dari beberapa F-PRB tingkat Desa dan organisasi masyarakat setempat. dalam kesempatan itu, diserahkan pula bantuan 3000 bibit mangrove siap tanam dari Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur.

Peserta Sapa Destana antusias mendengarkan pemaparan dari para pejabat yang datang. Mulai dari pentingnya menjaga lingkungan sekitar agar bersih dari sampah, menanam pohon mangrove, cemara udang dan beberapa jenis pohon pantai untuk mengurangi hempasan gelombang laut selatan. Serta upaya mengembangkan destinasi wisata pantai Tambakrejo.

Terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana, diharapkan agar F-PRB Desa sebagai bentuk partisipasi masyarakat, hendaknya aktif mengedukasi masyarakat akan adanya potensi banjir, longsor, gempa, gelombang ekstrim, tsunami, dan antisipasi dampak pembangunan jalur lintas selatan. Serta pemasangan rambu-rambu evakuasi dan menentukan titik kumpul yang bisa dijangkau dari berbagai arah.

Sambil menikmati snack yang disediakan, petugas Sapa Destana mencoba membuka dialog untuk saling tukar pengalaman dalam “menghidupkan” keberadaan forum, pasca program Destana, yang didampingi oleh Fasilitator Destana. Dengan Sapa Destana, akan diketahui apakah materi yang pernah disampaikan oleh Fasilitator itu, masih berjalan, atau sudah “mati suri” karena kehabisan “amunisi”.

Jika aktivitas forum sudah berhenti, kira-kira ada masalah apa dan bagaimana solusinya, termasuk bagaimana mendorong penggunaan dana Desa untuk mendukung kegiatan forum dalam upaya pengurangan risiko bencana. Dalam kesempatan yang terbatas itu juga diberikan informasi tentang Penilaian Ketangguhan Desa.

Sukimin, salah satu pengurus F-PRB Desa Tambakrejo menjelaskan program yang menjadi agenda forum adalah sosialisasi pengurangan risiko bencana lewat kegiatan yang ada di masyarakat. Diantaranya, lewat tahlilan, yasinan, dan arisan PKK, dan secara berkala melakukan gerakan anti sampah (Gratis), agar lingkungan bersih dan saluran air tidak terhambat.

“Kami juga punya agenda Kopi Ratna, yaitu koin peduli darurat bencana. Dimana setiap pertemuan, anggota forum secara suka rela menginfaqkan sebagian rejekinya untuk dijadikan dana kelompok yang akan digunakan dalam keadaan darurat,” Katanya bangga.

Konon, Kopi Ratna ini juga menjadi media mempererat tali silaturahmi antar pengurus dan anggota. Dana dari Kopi Ratna juga bisa digunakan untuk memberikan santunan kepada masyarakat yang memerlukan uluran tangan. Tentunya berdasarkan kesepakatan.

Ya, istilah Kopi Ratna ini merupakan hasil kreativitas pengurus forum setempat yang tentunya melalui proses yang panjang sebelum disepakati sebagai upaya menggalang Susu Tante (sumbangan sukarela tanpa tekanan).

Saya yakin, semua komunitas pasti punya istilah sendiri untuk mengoptimalkan Susu Tante. Diantaranya Topi Terbang, Sodakoh Receh, Bantingan, Kumpul Uwul, dan sebagainya. Disini yang terpenting adalah keterbukaan agar tidak ada dusta diantara semua. Karena, seringkali uang itu bisa menggoyahkan iman dengan berbagai istilah untuk kepentingan sendiri.

Semoga cerita tentang Kopi Ratna dari Tambakrejo bisa menginspirasi pihak lain untuk mengadopsi, dalam rangka menggali dana secara mandiri untuk opersionalisasi organisasi sekaligus keberlanjutannya. Ya, dengan mengoptimalkan Susu Tante maka akan tercipta kemandirian finansial dari F-PRB di semua tingkatan. Salam sehat, tetap waspada dengan isue Covid-19 dengan sub varian XBB Omicron. [eBas/ndleming mingguLegi sore hari-06112022]

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 02 November 2022

SRPB TASYAKURAN SPAB

Beberapa teman sempat melihat foto dari Tim Fasilitator SPAB bentukan SRPB Jawa Timur yang tampil berseragam dengan mboisnya. Ada beberapa foto yang menggambarkan suasana suka cita (dan tentunya bangga) dalam berbagai gaya. Lokasinya di sekitar Kantor BPBD Provinsi Jawa Timur.

Konon, mereka sedang mengadakan tasyakuran sebagai tanda syukur telah menyelesaikan tugas yang dibebankan oleh BPBD Provinsi Jawa Timur, membantu melaksanakan program sosialisasi SPAB kepada sekolah yang ditunjuk, di beberapa Kabupaten/Kota di Jawa timur.

Seperti diketahui, bahwa sosialisasi SPAB ini programnya BPBD Provinsi Jawa Timur, sekaligus anggarannya, bukan programnya Dinas Pendidikan Jawa Timur. Sedangkan Tim Fasilitator SPAB bentukan SRPB itu “digandeng” oleh BPBD, bukan disuruh Dinas Pendidikan yang memiliki Permendikbud nomor 33 tahun 2019. Ini yang harus dipahami agar tidak salah tafsir untuk kemudian maido dan sok baper.

Ya, mereka patut berbangga dan gelaran syukuran ala kadarnya itu pun wajar diadakan. Disamping untuk mempererat tali silaturahmi, juga untuk evaluasi pelaksanaan program yang memerlukan ketahanan tenaga yang prima agar target terpenuhi.

Ya, evaluasi bagaimana menyiapkan penugasan berikutnya, sekaligus menyiapkan Tim Fasilitator “lapis ke dua” sebagai upaya kaderisasi dan pemerataan kesempatan. Bahkan jika dimungkinkan, setiap Tim Fasilitator SPAB “manggung” di daerah, juga menyempatkan diri bersemuka dengan mitra SRPB di daerah untuk mempererat paseduluran. Syukur-syukur mereka disuruh hadir untuk melihat teknik fasilitasi yang dimainkan oleh Tim Fasilitator SPAB. Dari situlah mitra SRPB akan belajar.

Sambil bercanda mereka berbagi pengalaman selama di daerah, jauh dari keluarga. Demi tanggung jawab mensukseskan amanah yang bergengsi, sebagai ajang pembuktian bahwa Tim Fasilitator SPAB bentukan SRPB benar-benar mumpuni di bidangnya. Istilah jaman now, bukan kaleng-kaleng.

Konon, beberapa sekolah yang “didatangi” Tim Fasilitator SPAB bentukan SRPB sangat puas atas pemaparannya tentang modul tiga pilar SPAB. Yaitu Fasilitas sekolah aman, Manajemen bencana di sekolah, dan Pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana.

Tinggal bagaimana BPBD dan SRPB memotivasi pihak sekolah untuk melanjutkannya secara mandiri, atau bekerjasama dengan komunitas relawan yang ada di daerahnya.

Syukur-syukur jika pihak sekolah dengan kesadaran sindiri minta didampingi Tim Fasilitator dalam mempraktekkan SPAB secara rutin untuk meningkatkan kapasitas warga sekolah. Jika ini terjadi, maka akan menjadi kebanggaan tersendiri, dalam arti luas.

Dengan suksesnya Tim Fasilitator SPAB melaksanakan amanah dari BPBD Provinsi Jawa Timur, itu artinya, SRPB kini memiliki dua program unggulan. Yaitu, Arisan Ilmu Nol Rupiah sebagai wadah peningkatan kapasitas dan wawasan dan Tim Fasilitator SPAB yang siap memfasilitasi anggota mitra di bidang pengurangan risiko bencana.

Tidak ada salahnya jika SRPB yang keberadaannya menginjak tahun ke enam ini memperluas jejaring kemitraan dengan berbagai organisasi profesi yang bergerak dibidang komunikasi edukasi dan informasi. Seperti F-PT PRB, IABI, PSBL UNITOMO, dan lainnya. Sungguh itu tidak mudah dilakukan. Tapi, paling tidak harus dimulai dengan membangun mimpi dulu, setelah mengadakan tasyakuran atas selesainya tugas. Salam Tangguh. [eBas/KamisPon-03112022]

 

 

 

 

 

 

 

   

Kamis, 27 Oktober 2022

BERSAMA PENTAHELIX MEMBANGUN KETANGGUHAN

Alhamdulillah kegiatan Rapat Koordinasi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Provinsi Jawa Timur, diliput banyak media. Artinya berita ini akan diketahui oleh khalayak ramai di berbagai daerah.

Semoga ke depan, semua kegiatan BPBD (dan F-PRB) selalu terberitakan oleh media sebagai salah satu upaya mengkomunikasikan keberadaan BPBD (dan F-PRB) kepada publik.

Apalagi sudah ada MOU antara PWI dan F-PRB Jawa Timur terkait dengan upaya mengedukasi relawan terhadap jurnalistik kebencanaan. Dimana diharapkan relawan bisa melaporkan (menuliskan) semua kejadian di lokasi bencana. Baik yang dilaporkan ke Posko Induk, Pusdalops, maupun ke media lain, untuk menghindari berita hoax.

Mungkin, ini juga berarti bahwa  media sebagai salah satu unsur pentahelix, telah memahami betapa pentingnya menginformasikan peristiwa kebencanaan kepada khalayak sebagai upaya membangun kesadaram akan pentingnya membangun ketangguhan menghadapi bencana secara mandiri.

Tinggal bagaimana BPBD dan F-PRB memberikan ruang kepada para jurnalis agar keterlibatannya di dalam upaya sosialisasi PRB dan penanggulangan bencana bisa maksimal.

Paling tidak, media bisa bekerjasama dengan  komunitas relawan yang sering datang lebih dulu ke lokasi  daripada yang lain, untuk membuat berita awal terkait dengan kaji cepat. Yaitu Mengetahui dan melaporkan situasi dan kondisi wilayah terpapar bencana, dampak yang ditimbulkan, respon masyarakat, dan kebutuhan prioritas yang diperlukan warga.

Rakor yang digelar di Hotel Aria Gajayana, Kota Malang, hari Rabu (26/10/2022) dan Kamis (27/10/2022), mengambil tema “Tangguh Bersama Unsur Pentahelix”. Konon, tujuannya, seperti yang dikatakan oleh Andika, kabid pencegahan dan kesiapsiagaan, BPBD Provinsi Jawa Timur, agar dalam penanggulangan bencana ke depan, kelima unsur tersebut bisa bekerjasama lebih dalam lagi.

Benar kata Andika, keterlibatan unsur pentahelix dalam penanggulangan bencana masih kurang tampak. Misalnya dunia usaha. Kedatangan mereka ke lokasi bencana sering hanya menyerahkan bantuan untuk kemudian foto bersama sebagai bahan laporan, untuk kemudian balik kanan. Begitu  juga dengan helix lainnya. Tampaknya mereka masih sering bermain di acara seremonialnya.

Dikatakan pula bahwa ke depan masyarakat juga akan dioptimalkan keterlibatannya dalam PRB dan penanggulangan bencana, dengan membantuk Desa Tangguh Bencana (destana). Dimana, saat ini BPBD Provinsi Jawa Timur sedang melaksanakan program Sapa Destana ke beberapa Kabupaten untuk melihat perkembangannya.

Semoga tema Tangguh Bersama Unsur Pentahelix, benar-benar bisa terwujud dengan lahirnya kesadaran kolektif para pihak untuk membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, khususnya di daerah yang memiliki potensi bencana. Seperti Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan dan lainnya.

Sehingga ke depan, disetiap kegiatan yang digelar BPBD dan F-PRB, akan diramaikan oleh semua unsur pentahelix. Karena, selama ini yang tampak dominan adalah unsur masyarakat.

Sementara unsur pentahelix lainnya, masih sering terlibat dalam tataran teoritik formalitas. Itupun kadang hanya diwakilkan kepada bawahan. Kalau sudah begini sangat sulit dicapai kesepahaman dan koordinasi antar helix karena harus dilaporkan lebih dulu ke atasan.

Itulah realitanya, dan itu pula yang sedang dibangun oleh BPBD Provinsi Jawa Timur melalui rakor yang mengambil tema Tangguh Bersama Unsur Pentahelix. Sambil nyruput kopi, mari kita ikuti realisasinya. Salam Tangguh [eBas/Jum’atpahing-28102022]

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 22 Oktober 2022

NGOBROL SANTAI BERSAMA PAK PAPANG

Beberapa hari yang lalu, mBah Dharmo sebagai Sekjen F-PRB Jawa Timur mengundang pengurus forum dan mereka yang terlibat dalam kegiatan sapa destana, untuk rapat di sekretariat F-PRB, yang merangkap sebagai kantornya Siap Siaga, di BPBD Provinsi Jawa Timur, sabtu (22/10/2022).

Rapat yang dihadiri oleh Pak Papang, Direktur Kesiapsiagaan BNPB membahas tentang Penguatan Kapasitas dan Kelembagaan F-PRB dan Koordinasi antisipasi Siaga Darurat Hidrometeorologi.

“Sekalian kita adakan evaluasi sapades yang sudah terlaksana, serta rencana kegiatan advokasi dan klaster,” Tambahnya.

Pada hari yang ditentukan, mBah Dharmo, mBah Gender, Gus Puji, Mas Wiwin, dan Pakdhe Kopros serta lainnya, dengan sepenuh cinta menyambut kedatangan Pak Papang, yang memakai baju bermotif kotak-kotak merah (hehe jadi ingat kampanye di Betawi beberapa tahun yang lalu).

Dikarenakan sesuatu dan lain hal, rapat diganti dengan ngobrol santai. Pak Papang bertanya, kenapa Jawa Timur tidak mengirimkan kontingennya ke acara Jambore Relawan Jateng di Kota Rembang, beberapa waktu yang lalu ?.

“Saya hanya ketemu Cak nDaru dan temannya saja. Lainnya tidak tampak,” Kata Pak Papang membuka obrolan sambil menyalakan rokoknya.

Mbah Dharmo dengan bijaksana mengatakan bahwa sesungguhnyalah forum sudah menawarkan kepada semua unsur pentahelix yang ingin ikut Jambore, akan difasilitasi. Namun tidak ada respon sama sekali, entah mengapa. Padahal dulu, dalam acara yang hampir sama, kontingen Jawa Timur pernah datang dalam jumlah banyak dibanding kontingen lain.

Obrolan pun membahas tentang tugas forum yang harus dikerjakan sebagai mitra BPBD. Diantaranya, memahamkan pentingnya PRB dan PB kepada OPD terkait dengan segala regulasi yang ada. Karena masih banyak yang belum paham.

Termasuk Dindik yang tidak paham tentang permendikbud 33 tahun 2019 sebagai “payung hukum” pelaksanaan SPAB. Forum juga harus membangun koordinasi dan komunikasi antar pihak untuk mempermudah pelaksanaan programnya.

“Pelibatan semua pihak dalam kegiatan PRB, agar ada tindak lanjutnya secara mandiri. Untuk itu perlu didorong agar inisiatif dari bawah terkait dengan kegiatan PRB dan PB,” Kata Pak Papang memberi masukan.

Selanjutnya, Destana harus semakin berdaya  sebagai dampak dari kegiatan sapa destana. Sekilas mBah Dharmo juga menyinggung pelaksanaan sapa destana, termasuk ada yang ditunda pelaksanaannya karena adanya bencana yang harus segera ditanggulangi.

Obrolan santai penuh tawa itu beralih ke masalah SPAB yang belum berjalan di semua sekolah. Celakanya SPAB selama ini kebanyakan diprogramkan oleh BPBD, bukan oleh Kemdikbud, termasuk penganggarannya.

Lagi-lagi Pak Papang bilang, agar SPAB itu digalakkan di daerah yang sudah terbentuk Destana, sehingga ke dua program itu bisa saling mendukung.

Terkait dengan keberadaan sekretariat bersama (sekber) SPAB, yang tidak segera terbentuk karena berbagai alasan, sebaiknya forum menggandeng Yayasan atau lembaga swasta yang memiliki sekolah untuk secara mandiri membentuk sekber SPAB. Biasanya setelah terbentuk dan terlihat hasilnya, OPD terkait akan nimbrung dengan sendirinya.

Sambil menikmati nasi kotak lauk empal (lebih tepatnya daging suwir), obrolan yang diikuti oleh banyak pihak itu juga membahas aneka tanaman endemik yang baik untuk penghijauan. Seperti pohon sono keling, trembesi, jati, cendawa jawa, kersen, kemiri, mahoni, dan lainnya yang layak ditanam di daerah gundul.

“Masalahnya, kini semakin banyak daerah tutupan pohon yang dibuka atas nama pembangunan dan kesejahteraan,” Kata Pakdhe Kopros, yang setia menyajikan kopi istimewa untuk Pak Papang.

Pak Papang bilang bahwa dirinya sedang sibuk pergi ke berbagai Kota untuk berbagi materi tentang kebencanaan. Dia juga bercerita tentang bagaimana dia melakukan penghijauan di lahan gundul, dengan cara biji tanaman disebar dengan menggunakan ketapil (bahasa jawanya, plinthengan/tepil).

Sedangkan mBah Darmo menceritakan keberadaan Jangkar Kelud yang bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama dengan kegiatan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitar lereng Gunung Kelud, terkait PRB dengan konsep “Kumpul Uwul” serta sudah dikenal dan tercatat di BNPB.

Sementara mBah Gender mengatakan bahwa, dulu Gunung Kelud itu pernah dikuasai oleh beberapa kerajaan, dan banyak ditemukan peninggalan berupa arca dan bebatuan bekas candi yang menjadi bahan penelitian para ahli sejarah.

Di penghujung pertemuan santai dengan Direktur Kesiapsiagaan BNPB, mBah Dharmo juga menjelaskan rencana rapat minggu depan dengan tema “Memperkuat Kolaborasi Multipihak dalam Penanggulangan Bencana”, yang akan dihadiri oleh berbagai pihak.

Pak Papang berharap agar pengurus forum bisa “metani” peran masing-masing elemen pentahelix dalam PRB maupun PB. Mungkin Pak Papang ingin mengatakan kedepan keberadaan pentahelix di dalam kegiatan forum itu semakin tampak nyata. (sekali lagi, mungkin lho ya).

Setengah lima sore, acara ngobrol bersama Pak Papang berakhir dengan saling bersalam salaman, tanpa acara foto bersama, karena pesertanya tidak banyak (kurang banyak, jauh dari ekspektasi).

Hal ini semoga menjadi bahan evaluasi bagi mBah Dharmo, agar suatu saat jika Pak Direktur datang lagi, mBah Dharmo bisa mengundang dan mengkondisikan semua unsur pentahelix, termasuk komunitas relawan, khususnya yang berdomisili di seputaran Gresik, Surabaya, Sidoarjo (GSS), agar semakin tampak ramai dan guyub dalam menyambut kehadiran tamu. Sehingga tampak nilai kebersamaannya.

Konon, di wilayah GSS itu banyak bercokol akademisi, praktisi, dan lainnya termasuk kalangan media, yang sudah tergabung dalam forum. Terimakasih Pak Papang atas kehadirannya, atas ceritanya, atas sarannya, sekaligus mohon maaf atas penyambutan yang ala kadarnya.

Semoga ini bisa menjadi bahan introspeksi dan inspirasi pengurus forum untuk merangkul semua elemen pentahelix dalam berbagai kegiatan, termasuk kegiatan menyambut datangnya seorang tamu. [eBas/SabtuLegi-22102022]