Selasa, 11 April 2023

MUKIDI JADI KETUA FORUM FASILITATOR DESTANA

 Kemarin, setelah tarawih saya ngopi di warkop langganan bersama Mukidi. Sungguh, ngopi bersama Mukidi itu sangat menyenangkan, dan selalu ada hal baru yang diceritakan dengan gaya yang seru.

 Kali ini Mukidi bercerita tentang adanya rencana mengkoordinir seluruh fasilitator destana (fasdes) dalam sebuah wadah formal, agar mudah berkomunikasi dan memobilisasi antar fasdes. Dimana, sampai saat ini keterlibatannya dalam membangun ketangguhan masyarakat belum merata. Masih didominasi oleh pihak tertentu yang mengedepankan kedekatan.

 Konon, Sejak tahun 2012, sudah terdata sebanyak 752 Fasilitator yang tersebar di 33 Provinsi, 218 Kabupaten Kota dan 330 Desa di Seluruh Indonesia. Inilah yang akan di data ulang agar keberadaannya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk upaya pengurangan risiko bencana.

 Menurut Mukidi, fasilitator sebanyak itu, tidak sedikit yang sudah beralih profesi. Diantaranya ada yang menjadi konsultan BPBD dan BNPB, juga ada yang menjadi perangkat desa, serta fasilitator nasional kebencanaan yang menjadi mitranya BNPB. Bahkan ada juga yang menjadi karyawannya sebuah lembaga donor dari negara asing.

 “Namun, ada juga yang undur diri alih profesi karena merasa tidak pernah dipakai, merasa tidak memiliki kompetensi dan secara financial tidak menguntungkan,” Kata Mukidi sambil menggigit rondo royal kesukaannya.

 berdasar kenyataan itulah, masih kata Mukidi, BNPB Melalui Program Siap Siaga saat ini sedang membangun sistem Pengelolaan Fasilitator PRBBK/Destana/Program Ketangguhan Masyarakat. Sebagai tindak lanjut dari Temu Kangen Fasilitator Ketangguhan Masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2023.

 Dalam undangan webinar yang mengambil tema Pengelolaan Fasilitator Membangun Ketangguhan Masyarakat terhadap Bencana dan Dampak Perubahan Iklim, BNPB mengajak semua pihak yang pernah terlibat  dalam Program Desa Tangguh Bencana, PRBBK dan Program Membangun Ketangguhan Masyarakat  untuk berpartisipasi dalam upaya mendata keberadaan fasdes.

 Saya melihat Mukidi sangat antusias menyambut program ini. Bahkan tampak sekali keinginannya untuk menjadi koordinator fasdes. Bahkan Mukidi sudah punya usulan nama dari wadah yang akan dibentuk. Yaitu Forum Fasilitator Desa Tangguh (F2DT).

 Tentu F2DT ini berbeda dengan FPRB yang mewadahi semua unsur pentahelix dalam pelaksanaan programnya. Juga sangat berbeda dengan SRPB yang berdirinya difasilitasi oleh mercycorp, atas restu Kalaksa BPBD Jawa Timur, waktu itu.

 Jika nanti Mukidi terpilih menjadi ketua F2DT, dia merencanakan menggelar rakor fasedes untuk menjalin silaturahmi, mengenal praktek baik gerakan pemberdayaan komunitas dalam rangka membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana sesuai kearifan lokal.

 “Saya akan mendorong BNPB dan BPBD agar menyediakan anggaran khusus untuk operasionalisasi forum serta dana pembinaan untuk peningkatan kapasitas anggota. Karena, berdasarkan pengalaman, tanpa bantuan dana dari para pihak, maka keberadaannya bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau,” Kata Mukidi penuh keyakinan.

 Apa yang dikatakan Mukidi itu merupakan pengalaman yang didapat dari teman-temannya. Dia melihat bahwa jika sebuah komunitas tidak memiliki sumber dana sendiri (donatur tetap atau unit usaha mandiri), maka kegiatannya sangat terbatas dan tidak menyentuh semua anggota, yang ujungnya berdampak pada munculnya friksi yang kurang sehat.

 Saya hanya bisa manggut-manggut mendengar ambisi Mukidi yang begitu tinggi untuk merebut ketua F2DT. Padahal program ini masih rencana awal, yang perlu ditindak lanjuti dengan pertemuan selanjutnya. Baik itu daring maupun luring.

 Namun, bagaimanapun juga, keberanian Mukidi untuk bermimpi, penuh ambisi itu perlu diapresiasi. Karena sesungguhnyalah, untuk bermimpi saja dibutuhkan keberanian. Termasuk berani di paido berjamaah oleh teman seiring seperjalanan. Salam Waras. [eBas/Rabu-11042023-saat iktikaf malem selikur]

 

 

 

   

 

 

 

Senin, 10 April 2023

MUKIDI IKUT WEBINAR

     Kemarin, setelah tarawih, Mukidi tidak langsung pulang. Dia mampir ke warkop langganannya, yang selama bulan ramadhan ini hanya buka malam hari untuk menghormati bulan suci. Apalagi ada surat edaran dari Kampung tentang himbauan agar semua warkop tidak buka di siang hari.

     Seperti biasa Mukidi memesan kopi, sambil menikmati rondo royal kesukaannya. Disana juga ada Dalbo, dan Kaspo. Juga sedang ngopi setelah sehari berpuasa menahan hawa nafsu dan kopi.

     “tadi siang sampiyan ikut webinar tentang kreativitas komunitas dalam upaya PRB,” Tanya Mukidi kepada Dalbo, yang merupakan ketua dari salah satu komunitas relawan penanggulangan bencana, yang ada di kampungnya.

     “Sebenernya pengen ikutan, tapi lupa ketiduran. Maklumlah badan lemas, semalam gak sahur,” Kata Dalbo, sambil tersenyum.

     Kemudian Mukidi bercerita tentang webinar yang mengupas praktek baik tentang kerja-kerja kreatif dari sebuah komunitas dalam rangka ikut membangun ketangguhan masyarakat di daerahnya yang memiliki potensi bencana bansor (banjir dan longsor).

     Konon, mereka benar-benar melibatkan masyarakat dalam melakukan mitigasi bencana di daerahnya. Melalui kegiatan arisan, PKK, dan Tahlilan, para aktor mencoba menyadarkan masyarakat tentang adanya potensi bencana, dan bersama-sama mencari solusi agar bisa selamat dari bencana, sesuai kearifan lokal.

     Terkait dengan praktek baik yang diceritakan Mukidi, Kaspo, yang aktif di forum relawan bencana, mengusulkan agar Mukidi bisa mengajak para relawan yang menjadi anggota grup whatsapp, untuk memanfaatkan whatsapp sebagai media diskusi tukar informasi dan pengalaman, terkait dengan penanggulangan bencana. Baik itu saat pra bencana, tanggap darurat, maupun pasca bencana.

     “Dengan diskusi yang membahas kebencanaan maka secara tidak langsung akan menambah wawasan, sekaligus memperluas pertemanan. Bukan membahas di luar kebencanaan. Jika itu bisa dilakukan, maka akan menarik banyak pihak untuk mencoba menduplikasinya,” Kata Kaspo sambil mempermainkan asap rokoknya membentuk bulatan-bulatan, yang kemudian hilang.

     Apa yang dikatakan Kaspo ini ada benarnya. Karena senyatanyalah masih banyak komunitas relawan yang karena kesibukannya, enggan datang jika diundang rapat merencanakan kegiatan, dengan berbagai alasan.

     “Maaf saya tidak bisa merapat karena kondisi tsedang tidak bersahabat. Saya ikut saja semua keputusan rapat,” itu alasan klasik yang sering terlontar ketika diajak rapat.

     Artinya, mereka ini masih ingin dianggap sebagai tamu undangan untuk ikut mensukseskan sebuah acara., tanpa mau ikut repot-repot menyiapkan acara. Bahkan ada yang hanya mau berkontribusi sarana prasarana dan dana saja, daripada ikut rebyek menyiapkan acara.

     Padahal, sesungguhnyalah mereka itu pasti memiliki gagasan yang cemerlang jika diberi kesempatan, mereka juga mempunyai pengalaman dan kapasitas yang mumpuni di bidang kebencanaan, khususnya di fase tanggap darurat.

      Anggapan Kaspo itu ada benarnya, dan harus dimaklumi. Untuk itulah, menurut Kaspo, perlunya mengoptimalkan keberadaan grup whatsapp untuk membahas kerja-kerja kemanusiaan. Baik itu yang berhubungan dengan lingkungan alam maupun kebencanaan.

     Senyatanyalah, keberadaan dan inisiatif komunitas relawan itu banyak, serta sangat bermanfaat membantu pemerintah dalam menangani masalah kemanusiaan di daerahnya. Seperti kecelakaan lalu lintas, kebakaran, bencana banjir dan masalah sosial lainnya, yang memerlukan penanganan cepat.

     Namun, apa yang mereka lakukan masih sering timbul kesalah pahaman dikarenakan “jarang ngopi bareng” diantara aktor. Hal ini dimungkinkan karena tersendatnya jalur koordinasi dan komunikasi serta (mungkin) belum jelasnya SOP di lapangan. Untuk itulah perlu ada agenda ngopi barenga diantara aktor.

     Apa yang telah dilakukan komunitas relawan itu, tentunya perlu di dokumentasikan sebagai kenangan yang indah sekaligus menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan kapasitas.

     Ingat bencana itu akan selalu berulang, bahkan semakin sering terjadi. Sehingga upaya peningkatan kapasitas menjadi hal yang wajib dilakukan secara mandiri, tanpa harus menunggu uluran tangan pemerintah maupun lembaga donor.

      Nah, dari cerita Mukidi yang ikut webinar tentang kreatifitas komunitas dalam upaya PRB itu, tentunya bisa diadopsi dengan membuat kegiatan yang memanfaatkan grup whatsapp untuk berkomunikasi, saling belajar, tukar informasi dan pengalaman sekaligus mempererat silaturahmi.

     Jika itu dapat berjalan, dan Mukidi dapaat “mengorkestrasi” anggota grup whatsapp, maka akan mempermudah koordinasi dan mobilisasi antar komunitas relawan dalam melakukan kerja-kerja kemanusiaan, sehingga kesalah pahaman yang selama ini sering timbul bisa dikurangi.

     “Namun gagasan si Kaspo itu tidak mudah terwujud karena berbagai sebab, diantaranya masih adanya ego sektoral diantara aktornya,” gumam Dalbo yang dari tadi hanya diam menyimak cerita Mukidi sambil nyeruput kopi. [eBas/SeninLegi-10042023]  

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 09 April 2023

TAKJIL MEMBAWA BERKAH BAGI SEMUA

 Walaupun ada larangan berbagi takjil menggunakan tas kresek, namun tidak menyurutkan niat baik dari berbagai komunitas peduli kemanusiaan untuk melakukannya. Tidak boleh  memakai tas kresek, ya dengan menggunakan bungkus kertas (paper bag), walaupun haus menambah dana ekstra. No problemo.

 Semua dilakukan demi menggapai remahan pahala ramadhan yang penuh berkah dan ampunan bagi hambanya yang ikhlas berbagi dengan sesamanya yang sedang menjalankan ibadah puasa.

 Setiap hari, melalui media sosial, mereka memposting kegiatannya yang terkait dengan pembagian takjil di berbagai tempat yang strategis. Bukan hanya sekedar memberikan kurma dan segelas air dalam kemasan. Namun, banyak juga yang membagikan nasi bungkus/kotak dengan lauk yang memenuhi standar gizi.

 Ya, mereka, antar komunitas seakan berlomba mengumpulkan remahan pahala ramadhan sebanyak-banyaknya, melalui kegiatan berbagi takjil. Sebuah kegiatan yang relatif mudah dan murah. Dengan catatan, semua elemen yang terlibat memiliki komitmen untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama.

 Disamping kegiatan berbagi takjil, mereka juga mengadakan buka bersama anak panti asuhan, juga dengan manula di Panti Jompo, serta acara Sahur On The Road. Tidak lupa, mereka juga menggelar acara buka bersama dengan lintas komunitas. Ya, semua tergantung dari kreativitas dan kesepakatan anggotanya serta dana yang tersedia.

 Pertanyaannya kemudian, mereka bisa berbuat seperti itu, dananya dari mana ?. ternyata mereka mengumpulkan dana secara mandiri dengan saweran antar anggota. Proses saweran bisa berjalan lancar karena semua anggota punya kepedulian terhadap suksesnya program komunitas yang telah disepakati.

 Besar kecilnya saweran tidak ditentukan, yang penting ikhlas berpartisipasi nyawer. Bentuknya tidak harus uang, namun bisa berupa barang atau tenaga.

 Disinilah dedikasi dan loyalitas anggota sangat diperlukan agar semua program yang direncanakan bisa berjalan sesuai harapan. Dampaknya, keberadaan komunitas diakui oleh berbagai pihak penerima manfaat.

 Tentu membangun sebuah komunitas yang solid dengan berbagai program yang disenangi anggotanya itu tidaklah gampang, tidak semudah membalik kedua tangan. Bahkan dengan penerapan teori yang hebat pun, belum tentu membuat anggotanya sepakat.

 Untuk itulah diperlukan kesepahaman bersama sebelum merancang kegiatan. Dengan kata lain, terlebih dulu menyamakan frekwensi sebelum membuat aksi. Termasuk kegiatan berbagi takjil. Agar membawa berkah bagi semua.  

 Alangkah eloknya jika diantara komunitas itu ada yang berkenan mengadakan semacam sarasehan untuk sharing session, berbagi pengalaman tentang kerja-kerja kemanusiaan yang selama ini telah mereka lakukan, termasuk kegiatan berbagi takjil yang dilakukan rutin setiap bulan ramadhan.

 Dari situlah antar komunitas akan saling belajar dalam rangka meningkatkan kapasitas, terkait dengan dedikasi dan loyalitas untuk memperbaiki kinerja komunitasnya. Wallahu a’lam. [eBas/SeninLegi-10042023]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 03 April 2023

KETIKA RELAWAN BERTAKJIL

 Konon acara berbagi takjil itu sudah lama ada. Bedanya adalah  cara penyajiannya, cara penyampaiannya, dan jenis makanan yang diberikan sebagai takjil. Salah satu makanan yang sering muncul dalam setiap acara berbagi takjil adalah kurma.

 Namun tampaknya saat ini kurma mulai kurang diminati, khusunya kurma yang bentuknya sudah mblenyek, berair dan lengket. Namun jika warna, rasa dan bentuknya yang menarik, masih sangat diminati dan tentu diharapkan, tapi itu mahal, sehingga menjadi sajian istimewa yang tidak semua orang bisa menikmati.

 Kebiasaan relawan berbagi takjil itu sesuai dengan perintah agama. Yaitu, selain ibadah puasa, juga mengeluarkan sedekah di bulan ramadhan. Konon, mereka yang berkenan memberikan takjil kepada orang yang berpuasa, niscaya ia akan mendapatkan pahala sama seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

 Hal ini seperti yang ada di dalam Hadist riwayat Tirmidzi, "Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.".

 Dengan adanya janji limpahan pahala ramadhan, berbagai komunitas relawan dengan kemampuan dan caranya, mereka mengagendakan acara berbagi takjil. Biasanya dilakukan di jalanan yang ramai dilalui sepeda motor. Ada juga yang sengaja berbagi takjil setiap hari di basecampnya.

 Biasanya takjil itu diantaranya berupa kopi, es teh, kolak, es cao, air putih dan gorengan. Namun beberapa komunitas ada yang menyediakan makan berupa nasi kotak, nasi soto dan menu lain sesuai anggaran.

 Bahkan ada beberapa komunitas relawan yang berkolaborasi mengagendakan beberapa acara bersedekah. Tidak hanya berbagi takjil, buka bersama dan saur on the road saja, namun juga mengadakan kunjungan ke rumah jompo dan panti asuhan yatim piatu. Semua dilakukan dengan penuh gembira dalam rangka meraih pahala ramadhan sebanyak banyaknya.

 Mereka bisa menggelar acara secara simultan itu karena semua mitranya punya kesadaran tinggi tentang makna berorganisasi, bersinergi, dan berkolaborasi mensukseskan sebuah karya, sesuai bidang dan kemampuannya.

 Tentu membangun sebuah organisasi yang solid itu memerlukan proses panjang dengan mengedepankan partisipatory dan transparansi (istilah kerennya, tiada dusta diantara kita). Di beberapa kasus, ada organisasi yang solid secara instan, namun keberadaannya didukung sponsor dan adanya pihak donor yang memanjakan.

 Disinilah makna saling merangkul dan menguatkan itu terjadi. Bukan sebuah retorika belaka untuk tujuan tertentu. Ya, disinilah egosentris ditepis dengan rasa kebersamaan yang berbuah manis.

 Prosesi berbagi takjil di tahun 2023, yang sering disebut dengan politik ini, sedikit terkendala oleh larangan menggunakan tas kresek untuk mewadahi takjil. Sehingga ada tambahan dana untuk pengadaan wadah pengganti tas kresek. Namun demi mengharap pahala ramadhan, prosesi berbagi takjil pun tetap diagendakan oleh relawan dimana saja berada.. Wallaho a’lam bishowab. Semoga lelahmu menjadi lillah. [eBas/SeninWage-30342023]  

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 29 Maret 2023

CERITA PAK YOGI DI SORE HARI

 Beberapa hari yang lalu, Pak Yogi, dari Posko Bersama Relawan Surabaya, memberi info tentang pelatihan pencegahan dan mitigasi bencana Kota Surabaya, sebagai upaya pembinaan potensi relawan. Kegiatan ini merupakan program kerja dari bidang pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya.

Sayang, anggota Jamaah LC pada kesempatan ini tidak dapat berpartisipasi mengikuti pelatihan dikarenakan sedang sibuk menyiapkan kegiatan berbagi takjil dan buka bersama dengan anak asuh Sanggar Alang-alang, dalam rangka menggapai keberkahan bulan suci ramadhan.

 Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, selasa dan rabu (28-29 maret 2023), mensyaratkan pesertanya harus ber KTP Surabaya dan membawa surat mandat dari induk organisasinya, dalam rangka tertib administrasi, sesuai aturan penggunaan anggaran.

 Adapun surat mandat dari induk organisasi yang harus dibawa peserta itu juga penting, sebagai bukti bahwa keberadaan organisasi tersebut bukan sekedar papan nama, yang hanya ada ketika ada kegiatan saja.

 Konon, kegiatan ini sekaligus perkenalan dengan Kalaksa BPBD Kota Surabaya yang baru, dimana beliau menjabat ditandai dengan kecelakaan perahu tambangan yang menyebabkan seorang penumpangnya meninggal dunia. mungkin ini sebagai peringatan agar ada assessment terhadap keberadaan perahu tambangan secara berkala.

 Pak Yogi dalam postingannya di grup whatsapp, mengatakan bahwa ada yang menarik dari arahan Kalaksa BPBD Kota Surabaya dalam sambutannya. Yaitu, adanya sinergi total antara BPBD Kota Surabaya dengan Relawan.

 "Sebagai pimpinan BPBD, harapan itu sangatlah mendasar sekali mengingat relawan memiliki dasar aturan jelas yang tertuang di Perka BNPB no 17 tahun 2011, yang di dalamnya memuat Sumpah janji Relawan, juga klaster klaster yang menjadi arah para relawan dalam bertugas,” Ujar nDan Yogi, sapaan akrabnya.

 Masih kata pria berkacamata ini, diharapkan semua berkomitmen, bahwa apa yang disampaikan Kalaksa BPBD membangun ketangguhan relawan dan kotanya, dengan catatan BPBD surabaya bisa menerima keberadaan relawan di lapangan saat terjadi bencana, secara penuh baik tingkat pimpinan juga para staf serta TRC nya.

 Sementara, Zaini, salah satu peserta dari Posko Bersama, mengatakan bahwa Ibu Kepala berharap selalu ada koordinasi antara relawan dengan BPBD dalam upaya penanggulangan bencana.

 “Semua relawan harus bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk BPBD, dan saya  mengucapkan terima kasih atas kesediaan relawan membantu kerja-kerja BPBD selama ini,” Ujarnya.

 Sedangkan Rina, dari Laskar Srikandi Soeroboyo, mengatakan sangat berterimakasih diberi kesempatan mengikuti pelatihan ini. Disamping menambah saudara juga menambah wawasan sebagai bekal melaksanakan tugas di lapangan. Materinya seputar manajemen penanggulangan bencana, pencegahan narkoba, dan tindakan paramedis/PPGD.

 Mungkin ke depan, pasca lebaran, Pak Yogi yang ditunjuk BPBD menjadi “penghubung” dengan komunitas relawan, bisa mengagendakan sarasehan antar pimpinan komunitas relawan secara mandiri, dalam rangka menyusun agenda bersama peningkatan kapasitas relawan. Dimana hasilnya nanti dilaporkan ke BPBD Kota Surabaya.

 Sehingga semua komunitas relawan aktif menyampaiakan gagasan, kemudian merencanakan dan mengeksekusinya dalam sebuah kegiatan kolaboratif antar pihak, sesuai konsep dari kita, oleh kita dan untuk kita. Tidak hanya menjadi follower saja. Salam Tangguh. [eBas]

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 27 Maret 2023

MBAK SEFI MENGGAGAS AHWAT UNITED

Kemarin, minggu (26/03/2023) sore pasca solat asar, saya bertemu dengan mbak Sefi, ketua INH beserta beberapa anggotanya yang berkenan berkolaborasi dengan Jamaah LC dalam kegiatan Berbagi Takjil, untuk mendapatkan berkah bulan suci ramadhan.

Keberadaan Jamaah LC yang menjadi wadah jagongan dari berbagai komunitas relawan, dalam bulan ramadhan tahun ini mencoba mengadakan beberapa kegiatan dalam rangka ikut mengais pahala di bulan yang penuh ampunan.

Salah satu komunitas relawan yang mendukung kegiatan yang pertama ini adalah INH. Semetara, komunitas lain yang tergabung dalam Jamaah LC, sudah punya agenda sendiri dengan komunitasnya.

Ada yang menarik saat kami meninggalkan Masjid berjalan menuju Basecamp Jamaah LC. Yaitu, rencana mbak Sefi membentuk Ahwat United sebagai wadah berkiprah wanita muslim di bidang kebencanaan.

Tersirat, beliau ingin mengoptimalkan potensi yang dimiliki anggotanya agar mampu berperan dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana melalui upaya komunikasi edukasi dan informasi terkait dengan pengurangan risiko bencana.

Sungguh saya pribadi sangat mendukung gagasan mbak Sefi membentuk Ahwat United. Hal ini mengingat bahwa di setiap terjadi bencana, kaum perempuan rentan menjadi pelecehan sexual (baik fisik maupun verbal) oleh oknum tertentu yang memanfaatkan kesempatan.

Untuk itulah perempuan harus “diberdayakan” agar mampu berpartisipasi di setiap fase kebencanaan. Mereka harus memahami potensi bencana yang ada di daerahnya, mereka juga harus tahu apa yang harus dilakukan saat dan selama masa tanggap darurat bencana serta apa yang harus dikerjakan saat pasca bencana.

Hendro, direktur PSBL UNITOMO selalu membekali mahasiswa UNITOMO yang melaksanakan KKN dengan konsep Dasa Wisma Tangguh. Dimana sasarannya adalah ibu-ibu anggota PKK, dengan harapan mereka akan memiliki kemampuan mendapatkan informasi terkait dengan bencana, memiliki daya antisipasi, daya proteksi, adaptasi, serta daya lenting pasca bencana.

Konon, menurut Hendro, ibu-ibu yang tergabung dalam Dasa Wisma pasti sudah mengenal warganya. Untuk itu perlu dioptimalkan dengan kemampuan mendata warganya terkait dengan jumlah anggota keluarga, usia, pekerjaan, keadaan fisik, keberadaan kelompok rentan serta kondisi rumah tergolong rawan bencana atau tidak.

Mereka juga diajari membuat peta rawan bencana, jalur evakuasi, menentukan titik kumpul sementara dan lainnya, sebelum pihak luar datang membantu. Termasuk menyiapkan tas siaga bencana untuk setiap keluarga.

Data tersebut akan sangat membantu BPBD dan pihak lain ketika terjadi bencana. Diantaranya akan memudahkan proses evakuasi, penyediaan logistik, layanan kesehaan dan psikososial serta  bantuan lainnya yang harus segera terpenuhi di masa tanggap darurat.

Mbak Sefi pun banyak bercerita tentang perlunya “mengedukasi” kaum perempuan, sesuai pengalamannya ketika terjun di lokasi bencana. Diantaranya ketika beliau ke lokasi bencana Cianjur dan Lumajang, yang sempat rame dengan “oknum” setempat karena mis komunikasi.

Obrolan yang gayeng tentang gagasan indah itu pun berakhir di depan basecamp Jamaah LC, yang saat itu ramai oleh relawan yang tengah menyiapkan paket takjil yang akan dibagikan. Semoga kegiatan berbagi takjil ini menjadi ladang pahala untuk kita semua

Semoga embrio Ahwat United yang sedang digodog dengan seksama dan telah memiliki pataka itu, bisa segera menampakkan eksistensinya dan beradaptasi, membangun sinergi dengan komunitas relawan dan BPBD, yang ada terkait dengan kerja-kerja kemanusiaan. [eBas/seninPahing-27032023]

 

 

 

 

Selasa, 14 Maret 2023

RENCANA BERSIH BERSIH BENTENG KEDUNG COWEK SECARA BERKALA

Menurut beberapa catatan, Benteng Kedung Cowek berada di sisi timur kaki Jembatan Suramadu, tepatnya di Jalan Kedung Cowek, Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya dengan garis lintang  -7.2116043 dan garis bujur 112.781074.

Lokasinya tidak jauh dari kaki Jembatan Suramadu di sisi Surabaya dan berjarak hanya beberapa ratus meter ke arah timur dari kaki jembatan. Hingga akhir 2021area benteng berada dalam kepemilikan Paldam V Brawijaya.

Masih banyak masyarakat, khususnya warga Surabaya, yang belum mengetahui keberadaan benteng yang berdiri di atas tanah seluas sekitar 71.876 meter persegi ini. Kompleks tersebut berada dalam teritorial wilayah Kodim 0831/Surabaya Timur.

Benteng Kedung Cowek ini memiliki sebelas bangunan yang mencakup total luas 1.925,44 meter persegi (Bangga Surabaya 2020), ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/261/436.1.2/2019 tanggal 31 Oktober 2019. Benteng Kedung Cowek merupakan warisan budaya kategori benda.

Kini, keberadaan Benteng sudah semakin dikenal dan ramai dikunjungi dengan berbagai keperluan. Diantaranya dimanfaatkan untuk pengambilan foto.

Sayangnya, pada beberapa bagian benteng masih ditemukan sisa coretan vandalis. Beberapa bagian tembok benteng yang kusam dan kumuh. Begitu juga sampah pengunjung banyak teronggok mengotori ruangan Benteng. Apalagi di tepi pantainya, aneka sampah, entah dari mana banyak berserak, mengotori pantai.

Komunitas Jamaah LC  bersama berbagai komunitas relawan dan pecinta alam, sudah dua kali melaksanakan kegiatan bersih-bersih sampah di pantai seputaran Benteng Kedung Cowek. Begitu juga dengan komunitas lain, juga pernah melakukan kerja bakti dengan melibatkan beberapa Dinas terkait.

Bahkan, saat evaluasi kegiatan di Basecamp Jamaah LC, Keputih, tercetus gagasan melakukan kerjasama dengan Kodam Brawijaya untuk membersihkan seputaran Benteng secara berkala. Termasuk membersihkan bangunan benteng lainnya yang belum pernah dibersihkan, sekaligus melakukan penghijauan dengan tanaman pantai, dalam rangka pengurangan risiko bencana.

Tentu gagasan ini masih harus dibahas secara mendalam oleh lintas komunitas, terkait dengan jumlah personil yang terlibat, siapa panitianya, jumlah sarpras yang diperlukan, serta penyediaan logistik untuk mendukung suksesnya acara.

Beberapa komunitas, secara personal sangat mendukung gagasan yang muncul di Basecamp LC. Mereka bahkan menawarkan program Belajar Sejarah Surabaya di Benteng Kedung Cowek bagi pelajar Kota Surabaya. Jika memungkinkan menggandeng BPBD Kota Surabaya untuk melakukan sosialisasi PRB kepada masyarakat pesisir.

Persoalannya, bagaimana “menggodog” gagasan ini lebih serius lagi agar segera menjadi nyata sebagai program bersama. Kira-kira kapan mulai dibahas, siapa saja yang diundang, dan untuk awal pertemuan, enaknya bertempat dimana ?.  semuanya perlu disepakati bersama.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kawan-kawan mantan peserta bersih-bersih pantai beberapa waktu yang lalu, untuk urun rembug mewujudkan gagasan yang sempat muncul di Basecamp Jamaah LC saat melakukan evaluasi sambil ngopi. Salam Tangguh, Salam Lestari, Tuhan memberkati. [eBas/selasaWage-14032023]