Selasa, 21 November 2023

GERAKAN CABUT PAKU DI POHON

Konon, peringatan hari pohon se dunia (World Tree Day) diadakan setiap tahun pada tanggal 21 November. Tujuannya untuk membangun kesadaran akan pentingnya upaya pelestarian pohon, serta sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian  lingkungan hidup.

Konon pula, pada hari itu dihimbau agar warga mendukung gerakan menanam satu jiwa satu pohon. Jenisnya tidak ditentukan. Pohon apa saja boleh, dan ditanam di lahan terbuka, di tepi jalan, lahan kosong, hutan, gunung, dan lain tempat dalam rangka menghijaukan lingkungan agar rindang, asri dan nyaman.

Namun, dikarenakan musim kemarau yang lumayan panas di atas rata-rata. Maka menanam pohon tampaknya hanyalah kesia-siaan, karena cuaca yang tidak mendukung. Mungkin, nanti ketika musim hujan tiba, gerakan menanam pohon digencarkan oleh semua pihak yang peduli pelestarian alam.

Dalam rangka memperingati hari pohon tahun ini, ada komunitas peduli lingkungan yang sering berkegiatan di alam bebas, melakukan kegiatan kreatif yang masih ada hubungannya dengan cinta lingkungan. Yaitu melakukan gerakan cabut paku di pohon, di sepanjang jalan raya yang telah ditentukan.

Konon, mereka melibatkan berbagai komunitas melakukan gerakan cabut paku ini secara berkala, bekerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja. Mereka melaksanakan gerakan ini sesuai Peraturan wali kota Surabaya nomor 19 tahun 2014, tentang Perlindungan Pohon.

Pada BAB III tentang penyelenggaraan perlindungan pohon, pasal 3 ayat 3 mengatakan bahwa Masyarakat berperan serta dalam penyelenggaraan perlindungan pohon pada area yang menjadi milik atau dikuasai oleh masyarakat yang bersangkutan dan/atau area yang dimiliki atau dikuasai oleh Pemerintah Daerah.

Apa yang dilakukan oleh komunitas peduli lingkungan itu merupakan perwujudan dari peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan pohon, diantaranya melalui kegiatan: a. penanaman pohon; b. pemeliharaan pohon; c. tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak atau mematikan pohon.

Cukup melalui flaiyer ajakan berpartisipasi yang disebar melalui berbagai media sosial, khususnya grup whatsapp, berbagai komunitas di kota Surabaya berbondong-bondong berkumpul bersama untuk memulai kegiatan gerakan cabut paku dengan penuh suka cita.

Begitu juga dengan pasukan Satpol PP, berbaur saling bahu membahu mensuksesnya acara cabut paku. Artinya, disini Satpol PP tidak hanya mengawasi saja, tapi benar-benar berjalan mencari dan mencabut paku yang menancap di pohon, untuk menjalankan pasal 13. yang mengatakan bahwa setiap orang dan/atau badan diantaranya, dilarang: a. memaku pohon; b. menempelkan iklan/poster/sejenisnya pada pohon; c. membakar pohon.

Dalam peraturan yang menjadi payung hukum gerakan ini, dikatakan bahwa pohon memiliki peranan yang penting dalam rangka menjaga kelangsungan hidup bagi seluruh makhluk hidup, sehingga keberadaannya perlu dilindungi dan dilestarikan, untuk peneduh jalan dan memperindah wilayah pemukiman. 

Sungguh, gerakan sederhana namun berdampak luar biasa pada pelestarian pohon peneduh jalan. Alangkah eloknya jika gerakan ini semakin banyak yang mengikuti. Sukur-sukur ada yang menduplikasi di daerah lain.

Gerakan sederhana lain yang ada hubungannya dengan cinta lingkungan adalah bersih-bersih sampah di got atau sungai, serta menabur biji buah-buahan di lahan atau hutan saat musim hujan, yang sebentar lagi akan datang. Salam Lestari. [eBas/RabuPahing-22112023]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SRPB DIPERCAYA BPBD GELAR SPAB

 Alhamdulillah Tim Fasilitator SRPB Jatim kembali digandeng BPBD Provinsi Jawa Timur untuk membantu melaksanakan program SPAB ke beberapa sekolah menengah atas (dan rencananya juga menyasar pondok pesantren) di beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Timur.

 Kegiatan ini didukung anggaran yang cukup memadai dari BPBD Provinsi Jawa Timur tahun 2023. Dengan demikian laporan pertanggungjawabannya harus dibuat pengurus SRPB sesuai aturan dari BPBD, agar lancar semuanya.

 Sementara Tim Fasilitatornya benar-benar mumpuni. Semuanya bersertifikat. Termasuk anggota tim yang baru lulus pelatihan juga mulai diterjunkan secara proporsional. Begitu juga materinya menggunakan standar Seknas SPAB. Mungkin metodenya yang boleh variatif sesuai kearifan lokal setempat.

 Sebenarnya, sudah beberapa kali SRPB digandeng terkait pelaksanaan program SPAB dengan hasil yang menggembirakan. Sehingga wajar jika BPBD tidak meragukan dan bahkan percaya sepenuhnya kepada SRPB Jatim.

 Ya, kepercayaan inilah yang harus dijaga oleh pengurus SRPB Jatim. Semua personil yang terlibat harus 'on the track' sesuai nilai- nilai profesionalisme, seperti yang tersurat dalam Perka BNPB nomor 17 tahun 2011.

 Alhamdulillah pengurus SRPB Jatim tetap istiqomah menjalankan perannya. Walaupun pengurusnya sudah berganti personil, namun tim fasilitator SPAB tetap solid sesuai kesepakatan awal, yaitu dibawah kendali pengurus SRPB. Dengan demikian pelaksanaan program SPAB  berjalan lancar, tidak menimbulkan friksi terkait dengan pembagian tugas fasilitasi yang berimplikasi rejeki.

 Ya, diakui atau tidak, bahwa pengelolaan rejeki organisasi itu sangat peka dan mudah membuat anggota khilaf, sehingga tidak mau berbagi dan enggan diganti, bahkan jika perlu akan terus mengangkangi itu rejeki.

 Disinilah kehebatan pengurus SRPB Jatim yang benar-benar saling menguatkan tanpa meninggalkan. Sambil merangkul memberi kesempatan kepada mitranya untuk mengambil peran. Sehingga tidak muncul fragmentasi yang saling menenggelamkan. Semua diberi kesempatan dalam kesetaraan.

 Semoga di penghujung tahun bershio kelinci air ini, membawa keberkahan bagi tim fasilitator SPAB yg berada dibawah bidang pengembangan sumber daya manusia SRPB Jatim.

 Semoga BPBD nantinya juga merasa puas dengan kinerja tim fasilitator yang akan menunaikan tugas sekaligus menyiapkan laporan kegiatannya, sehingga memperlancar proses daya serap anggaran tahun 2023.

 Tentunya, banyak pihak yang berharap agar pengurus SRPB, khususnya bidang pengembangan SDM semakin giat mengajak anggota mitranya  untuk meningkatkan kapasitasnya, sehingga dapat terlibat membantu pelaksanaan program BPBD, diantaranya menjadi fasilitator. Wallahu a'lam bishowab. [eBas/SelasaLegi-21112023]

Minggu, 05 November 2023

KOMENTAR KECEWA

 Perhelatan gerak jalan tradisional mojokerto - suroboyo (mojosuro) tahun 2023 telah usai. Giat yang diselenggarakan sabtu (5/11/2023), bolehlah dibilang sukses. Walau tidak banyak instansi pemerintah yang berpartisipasi dengan berbagai alasan.

 Gerak jalan yang dimeriahkan oleh komunitas bersepeda onthel dan kirab bendera raksasa sepanjang 200 meter yang dibawa oleh 60 peserta dari berbagai komunitas, benar-benar ramai sehingga lalu lintas agak tersendat. Alhamdulillah tidak terjadi gesekan antar pengendara, peserta, dan penonton.

 Terkait dengan kamtibmas, kegiatan yang sempat vakum 3 tahun karena pandemi covid-19, terpantau tidak terjadi perbuatan melawan hukum. Tidak ada bentrok antar peserta, tidak ada gegeran antar peserta dan penonton, tidak terlapor adanya peserta dan penonton yang mengkonsumsi miras dan pencurian/pembegalan ranmor. Alhamdulillah.

 Namun, dibalik kesuksesan penyelenggaraan yang konon masuk muri karena jumlah peserta terbanyak itu, ternyata peserta ada yang kecewa karena perlakuan panitia. Khususnya di seputaran tempat finish, dimana panitia “penyambutan” kurang bersemangat di tempat.

 Hal ini seperti yang dialami Sodik, salah seorang peserta pembawa bendera raksasa, yang merasa kecewa karena tidak ada sambutan yang signifikan saat tiba di garis finish.

 “Sayangnya, Kita sangat, sangat, dan sangat kecewa Mas, justru Kirab Merah Putih Mojo Suro yang jadi IKON, masuk finish malah gak ada yang menyambut. Gak ada satu pun panitia yang ada di lokasi,” Begitu komentarnya di grup whatsapp.

 Dia juga berkomentar bahwa, kita hanya di jadikan obyek untuk kepentingan tertentu dari instansi terkait, dalam hal ini DISPORA untuk mendapat keuntungan tertentu dari event ini di depan Gubernur. Tau gitu setelah start, jalan sebentar, kita gulung, kita bawa ke Surabaya, jelang finish kita jalan lagi.

 Terlepas dari benar tidaknya kinerja panitia yang dianggap kurang siap, ada baiknya rasa kecewa yang ditumpahkan Sodik menjadi bahan pembelajaran yang berharga agar ke depan tidak muncul kecewa yang sama.

 “Betuuuuull..…, padahal sekelas instansi pemerintah, namanya panitia pelaksana walaupun dua hari dua malam gak tidur ya harus tetep siap di TKP sampai benar-benar selesai. (kan ada anggarannya, red),” Tulis Ma’min membenarkan komentar Sodik.

 Sementara, Mas udev, dengan komentarnya yang bijak, berharap, semoga  kedepan bisa jadi bahan evaluasi buat Dispora Jatim. Tidak ada drama lagi yang mengecewakan karena panitianya yang kurang bersemangat melaksanakan tugasnya.

 Menurut pantauan Mas udev, dari komunitas relawan, di sepanjang route gerak jalan, jarang terlihat panitia yang ‘menyambut’ peserta. Celakanya di garis finish juga begitu. Sehingga, tanpa penyambutan peserta gerak jalan balik kanan sendiri-sendiri tanpa applause yang memabanggakan dari panitia.

 “Teman saya bahkan setiap ikut gerak jalan mojosuro sampai hafal. Mankanya gak berharap finish di tugu pahlawan, kalau sekiranya capek, ya balik kanan, telpon saudaranya minta dijemput,” Ujarnya.

 Sejalan dengan Mas udev, Harper berkomentar bahwa, perlu dimaklumi, kegiatan ini sempat vakum 3 tahun sehingga saat menyelenggarakan lagi, panitianya agak kagok kaget bingung bagaimana cara mensukseskannya, termasuk mepetnya waktu pendaftaran peserta.

 Mungkin, lebih tepatnya ‘woro-woronya’ kurang gencar bersemangat, atau perhatian panitianya lebih tertuju pada panggung hiburan dengan artis kondang yang lagu-lagunya sedang naik daun, dan wajah artisnya yang kinyis-kinyis dibanding wajah peserta gerak jalan yang kumus-kumus.

 Kalo kegiatan apapun itu dilaksanakan rutin apalagi skala besar tapi sempat vakum beberapa tahun, pasti ketika dimulai lagi sudah berbeda kesiapannya. Seperti mulai dari nol lagi.

 Yang sudah biasa jadi panitia saja kadang masih ada kekurangan disana-sini, apalagi panitia baru yang minim pengalaman. Untuk itulah perlunya terus belajar dari pengalaman dan menjaga kekompakan, merupakan salah satu kunci keberhasilan acara.

 Tetap bersemangat, tetap ber positif thingking saja, anggap saja semua kejadian yang mengecewakan itu di luar rundown yang dibahas panitia dalam rapat-rapatnya. Termasuk pelibatan komunitas relawan yang membantu keamanan, kenyamanan dan kesehatan peserta gerak jalan mojosuro sebagai salah satu media untuk menanamkan rasa nasionalisme dan patriotisme kepada generasi muda, ditengah-tengah arus globalisasi yang serba ‘computerize’ yang canggih. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/SeninLegi-06112023]

 

 

 

 

 

  

Senin, 30 Oktober 2023

MENGAJAK WARGA BERGERAK ANTISIPASI BANJIR DI DESANYA

 Mukidi bersama anggota Komunitas Relawan Edukasi Bencana (KOREB), mendampingi warga Desa membangun ketangguhan mengadapi bencana berbasis kearifan lokal. Desa yang didampingi Mukidi merupakan langganan bencana setiap musim hujan tiba.

 Awalnya Mukidi masuk melalui kegiatan Posyandu dan PKK yang sedang mendapat penyuluhan penanganan stunting dari relawan Dinas Kesehatan Kabupaten. Dari situlah Mukidi dipersilahkan Kepala Desa untuk mendampingi warga Desa yang tergabung dalam kader Desa, karang taruna, remaja masjid, PKK dan pengurus lembaga pemberdayaan masyarakat desa (LPMD), dalam sebuah pelatihan Warga Desa Tangguh Bencana.

 Dalam mendampingi warga Desa, Mukidi dan anggota KOREB memanfaatkan materi SPAB dan KATANA, DESTANA, dan KENCANA, serta API. Tidak ketinggalan materi tengang PRBBK juga di senggol.

 Itulah salah satu bentuk kreativitas relawan dalam upaya menumbuhkan kesadaran warga untuk membangun ketangguhan menghadapi bencana. Intinya bagaimana memahamkan warga bahwa di Desanya ada potensi bencana yang harus disikapi dengan bijak.

 Salah satu metode yang digunakan Mukidi adalah mengajak peserta pelatihan jalan-jalan untuk mencari tahu penyebab banjir. Mereka diajak melihat kondisi sungai yang kotor oleh sampah, juga melihat pendangkalan dan penyempitan luasan badan sungai akibat tumpukan sampah.

 Dari kegiatan jalan-jalan itu, peserta disuruh membuat laporan sekaligus usulan untuk tindak lanjutnya untuk mengatasi kondisi sungai agar terbebas dari sampah. Mereka juga diajari tentang bagaimana menyusun berbagai dokumen untuk memudahkan upaya penanggulangan bencana.

 Seperti diantaranya menyusun dokumen rencana penanggulangan bencana, kajian risiko bencana, dan  dokumen rencana aksi komunitas.termasuk bagaimana membuat peta kawasan rawan bencana.

 Pada bagian lain, peserta diperkenalkan dengan materi mitigasi, kesiapsiagaan, Manajemen Dapur Umum, Manajemen Posko, serta penanganan penyintas di tempat pengungsian. Termasuk pelayanan terhadapa kelompok rentan dan bagaimana mengatasi dampak yang ditimbulkan setelah banjir berlalu.

 Mukidi juga mengajari peserta tentang bagaimana upaya mengamankan barang-barang berharga dan dokumen penting ke dalam Tas Siaga. Semua disampaikan secara menarik diselingi fun game dan praktek bersama. Seperti praktek membuat berbagai dokumen, peta rawan bencana dan simulasi menghadapi banjir.

 Hari hasil penyusunan laporan jalan-jalan, peserta sepakat menindaklanjuti dengan mengadakan gerakan bersih-bersih sungai yang diikuti oleh seluruh warga Desa dan aparatnya. Disamping mengangkat sampah, juga mengembalikan luasan badan sungai dengan cara membuang endapan lumpur campur sampah, baik yang ditengah maupun yang di tepi sungai.

 Sampah yang kering dibakar sampai habis jadi abu. Sisanya dijadikan pupuk kompos atau dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir kejasama dengan Dinas lingkungan Hidup.

 Sungguh apa yang dikerjakan Mukidi dan KOREB di atas itu masih rancangan belaka. Sebuah angan-angan yang realisasinya menunggu anggaran. Entah dari mana. Pemerintah, swasta, lembaga donor, dan lainnya.

 Ya, karena tidak ada makan siang yang gratis. Semua perlu anggaran untuk menjalankan kegiatan, seperti kawan-kawan Mukidi yang selama ini rajin mendampingi warga untuk membangun resiliensi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Tanpa anggaran tampaknya sangat sulit terjadi sebuah kegiatan pendampingan yang memberdayakan.

 Artinya, semua komunitas relawan dapat dipastikan mau melakukan pendampingan untuk memberdayakan warga dibidang kebencanaan jika didukung anggaran yang menyenangkan sekaligus membanggakan untuk dipamerkan di media sosial. Masalah hasil itu nomor sekian, yang penting asik. Salam Waras. [eBas/SelasaKliwon-31102023]

 

   

 

 

 

 

Minggu, 29 Oktober 2023

ECENG GONDOK SALAH SATU SAMPAH DI SUNGAI SURABAYA.

Hari jumat Legi (27/10/2023), BPBD Kota Surabaya mengajak berbagagai pihak mengadakan bersih-bersih sungai yang melintas di wilayah Kecamatan Mulyorejo. Lokasinya dekat kampus ITS, di Surabaya timur.

Kepala BPBD Kota Surabaya, sesuai petunjuk salah satu pejabat di Pemkot Surabaya mengingatkan agar yang “nyemplung” ke kali hanya petugas dari Dinas Lingkungan Hidup dan BPBD saja. Ini dikarenakan sampah yang dibersihkan adalah tanaman eceng gondok yang memenuhi area sungai seluas kurang lebih 600 meter.

Sedangkan pihak lain yang terlibat, termasuk relawan, cukup membantu menarik eceng gondok yang ada di pinggir sungai, untuk dikumpulkan dan diangkut truck yang telah disediakan oleh Pemkot.

Ya, kali ini gerakan bersih-bersih sungai dikonsentrasikan pada eceng gondok. Dimana, jika sungai tidak dibersihkan dari tanaman ini akan berpengaruh pada terhambatnya aliran sungai yang dapat menimbulkan banjir jika musim penghujan.

Dalam berbagai literatur, Eceng gondok (Eichonia crassipe) hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung.

Apabila semakian banyak eceng gondok yang ada di sungai maka cahaya matahari akan menjadi susah untuk masuk ke dalam perairan, ikan akan kekurangan vitamin dari matahari dan mempersulit untuk ikan bernapas karena eceng gondok yang menutupi perairan tidak menyediakan ruang untuk ikan mengambil udara bebas.

Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Rangkaian penelitian seputar eceng gondok oleh peneliti Indonesia antara lain oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni).

Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan. Disamping pendangkalan akibat dari sampah yang dibuang warga ke sungai.

Sungguh, petugas dari DLH dan BPBD sangat terlatih menangani eceng gondok. Disamping ada yang menceburkan diri ke sungai, mereka juga diperkuat oleh dua Beghoe dan beberapa perahu karet, mereka mengumpulkan eceng gondok untuk kemudian di angkut oleh truck sampah ke tempat pembuangan.

Hasilnya, dalam waktu singkat, eceng gondok yang memenuhi area sekirta 600 meter sudah bersih. Termasuk sampah domestik, yang terdiri dari plastik, kayu, bantal, pampers, sandal japit, tas sekolah, dan styroform.

Terkait dengan sampah di sungai Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, saat mengudara di Radio Suara Surabaya, sabtu pahing (28/10/2023) mengatakan, sungai-sungai yang banyak ditumbuhi eceng gondok terindikasi sering dibuangi tinja.

“Sebenarnya eceng gondok itu juga indikator bahwa di situ (sungai) dibuangi tinja. Jadi misalnya warga, kalau ada yang biasanya sedot (WC) di kampung itu kan ada sedot WC yang geledekan (atau truck tinja, red) harusnya buangnya ke IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja), jangan buang ke badan air (sungai),” jelasnya.

Ya, begitulah nyatanya, Sungai yang melintasi Kota Surabaya masih dianggap oleh warga sebagai tempat yang praktis dan gratis untuk membuang aneka macam sampah. Jelas, dampaknya adalah, daya tampung badang Sungai akan berkurang dikarenakan luasan dan kedalaman Sungai yang semakin dipenuhi sampah. Banjir adalah salah satu akibat yang menyertainya.

Kalau sudah begini, alangkah eloknya jika Pemerintah Kota mengajak komunitas relawan peduli lingkungan yang banyak tumbuh di Kota Surabaya, untuk secara berkala mengadakan edukasi kepada warga yang berdiam di bantara sungai agar lebih peduli terhadap kebersihan sungai. Termasuk mengadakan gerakan bersaih-bersih sampah di seputaran sungai.

Tentunya, upaya ini perlu dibahas bersama antar pihak, dibawah kendali BPBD Kota Surabaya, dalam suasana guyub rukun tanpa tekanan dan ketakutan, serta dengan hati yang dingin tanpa emosi sambil nyruput kopi panas dan nyakoti “rondo royal” yang masih anget. [eBas/MingguPon-29102023]

 

 

 

 

 

 

Rabu, 25 Oktober 2023

ARISAN ILMU NOL RUPIAH PROGRAM IKONIK SRPB JATIM

 Gegara pandemi covid-19 dari Wuhan, China, yang menebar kematian di tahun 2020, maka program Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINR) dihentikan oleh pengurus sebagai bentuk ketaatan kepada aturan social distancing, sebagai upaya memutus rantai covid-19.

 Kini, seiring perjalanan waktu, dimana ancaman covid-19 telah berlalu, pengurus SRPB Jatim yang baru terpilih, bersepakat untuk melanjutkan program AINR secara berkala, seperti dulu lagi. Sesuai pamflet (flyer) yang beredar, acara akan dilaksanakan pada hari minggu (28/10/2023). Tidak terasa AINR kali ini merupakan yang ke 51. Sebuah prestasi yang ditorehkan SRPB Jatim dalam upaya meningkatkan kapasitas relawan secara mandiri.

 Konon, untuk mengawali kegiatan ikonik ini, acara akan digelar di Joglo Kadiren (Joka), daerah Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Tempat lahirnya gagasan AINR pasca kongres SRPB Jatim yang pertama, April 2017, di Hotel Regent Park, Kota Malang. Acaranya dibarengkan dengan pisah kenal pengurus SRPB Jatim periode 2020 - 2023 dan 2023 - 2026.

 Ya, konon, awal mula disepakatinya program AINR menjadi salah satu program ikonik dari SRPB Jatim, adalah sebagai upaya membangun kebersamaan dan kesepahaman akan pentingnya belajar berorganisasi, berkoordinasi sekaligus sebagai media silaturahmi antar komunitas relawan.

 Namanya juga nol rupiah, maka semuanya ya serba mandiri berbasis BDD (bayar dewe dewe). Dimana, nara sumbernya tidak dibayar, peserta juga tidak ditarik kontribusi (HTM), dan konsumsi kegiatan merupakan hasil saweran seikhlasnya. Nyatanya acara ini sangat diminati para pihak. Diantaranya untuk menambah wawasan dan memperluas jejaring kemitraan.

 Adapun bahasan AINR yang pertama ini adalah tentang Manajemen Relawan Penanggulangan Bencana, dan Aplikasi E-Volunteer yang baru dikembangkan oleh BPBD Jatim, bersama Siap Siaga.

 Konon, E-Volunteer ini sebagai media pendataan keberadaan relawan dengan segala kapasitas yang dimiliki untuk mempermudah koordinasi dan mobilisasi. Dengan demikian diharapkan seluruh relawan mengisi aplikasi ini.

 Tentu, pengurus SRPB Jatim yang dipimpin Wawan Kim, telah menyiapkan beragam materi dengan nara sumber yang mumpuni dibidangnya untuk mengisi agenda AINR selanjutnya. Namun, seperti beberapa tahun yang lalu, jika ada nara sumber istimewa berkenan berbagi cerita di AIRN, maka akan diutamakan.

 Misalkan ada pejabat BNPB yang bertepatan tugas di Jawa Timur, maka pengurus SRPB akan mencoba berkomunikasi untuk meminta kesediaannya untuk ngobrol bareng di arena AIRN. Begitu juga dengan para pakar dan praktisi kebencanaan yang lain, sangat diharapkan kesediaannya untuk meramaikan program ikonik yang bernama arisan ilmu non rupiah.

 Jika SRPB Jatim mempunyai program AINR, pastilah komunitas lain juga punya program sejenis dengan nama yang berbeda sesuai kesepakatan. Itu sah sah saja sebagai wadah jagongan antar relawan untuk saling berbagi informasi, dan saling tukar cerita.

 Siapa tahu dari kegiatan itu muncul inspirasi untuk membuat aksi kolaborasi dengan berbagai pihak terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana dan membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Salam waras, sukseskan gerakan literasi agar tidak mudah emosi membaca komentar dari mereka yang tidak disukai. [eBas/KamisKliwon-26102023]

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 22 Oktober 2023

MAPALA JONGGRING SALAKA

Kemarin, hari minggu legi (22/10/2023) saya berkesempatan dolan ke sekretariat mapala Jonggring Salaka (JS), Universitas Negeri Malang (d/h IKIP). Tempatnya di gedung ormawa. Sebuah gedung megah khusus berisi semua organisasi yang ada dan diakui oleh rektorat. Seperti biasanya, JS diberi jatah menempati 3 ruangan. Ruang sekretariat, gudang atas dan gudang bawah. kok bisa ya dapat tiga ?. apa karena ngeyel ?

Saya kesana sore hari, sekretariat sepi masih terkunci. Di luar ada meja berisi gelas bekas kopi, asbak penuh puntung rokok. Juga ada perahu karet kempes dan beberapa alat musik yang berserakan. Ya, dari dulu sekretariat JS memang tidak pernah rapi. Terkesan kumuh berdebu tapi tidak bau.

Sebelas menit saya menunggu sambil tolah toleh tidak menentu, barulah muncul dua cowok ganteng dan seorang cewek manis datang. Bergantian salaman dengan santun, tanda mereka masih menaruh hormat kepada “seniornya”. tanpa rasa sungkan, obrolan pun mengalir begitu saja bersahutan. Tentu, sesekali nengok gawai diiringi jemarinya lincah mengirim komentar di grup whatsapp sambil tersenyum tipis.

Simbak yang manis itu pun tak kalah sibuk nggodok banyu untuk membuat wedang kopi. Cangkir kecil untuk saya, dan cangkir besar untuk mereka bertiga, sebagai simbul kebersamaan, senasib seperjuangan yang turun temurun sebagai tradisi Jonggring Salaka..

Mereka bercerita bahwa saat ini sedang sibuk menyiapkan diklat lapangan di daerah Pujon. Juga sibuk nyablon kaos kebanggaan JS. Semoga saya punya rejeki agar dapat ikut memiliki kaos bergambar Raja Babi (Srenggi Gantari) simbol Diklat JS 42 tahun 2023.

Mereka juga bilang bahwa di kampus sudah ada tim reaksi cepat (TRC) yang merupakan gabungan dari mapala, menwa, pramuka, dan KSR, untuk diterjunkan ke lokasi bencana saat tanggap darurat. Namun karena kurangnya koordinasi dan ketidak pahaman pihak rektorat, maka TRC ini sering berjalan sendiri tanpa melibatkan yang lain, termasuk JS.

“Arek-arek wis bolak balik protes tapi yo durung onok solusi. Bahkan TRC ingin berdiri sendiri sebagai ormawa,” Kata mas ganteng jurusan geografi, yang baru lulus setelah kuliah selama lima tahun. Namanya lupa saya gak tanya.

Terkait dengan TRC, masih kata sarjana anyaran ini, ada keinginan suatu saat arek JS perlu belajar tentang penanggulangan bencana, agar paham apa yang harus dilakukan ketika pra bencana, tanggap bencana, dan pasca bencana.

Sementara di Unesa (d/h IKIP Surabaya) juga sudah ada TRC (namanya lupa), Sudah tertata dengan baik, termasuk dukungan anggaran dari rektorat. Konon mereka juga mengerahkan mahasiswa KKN pada saat pasca bencana dalam rangka rehab rekon melalui bidang pendidikan dan keterampilan fungsional untuk upaya percepatan pemulihan ekonomi warga terdampak bencana.  

Sambil nyruput kopi sasetan, mas ganteng itu juga punya keinginan mengajak para aktivis JS seangkatannya, untuk membuat buku tentang semua kiprah yang dilakukan selama menjadi aktifis JS, sebagai kenangan terindah untuk generasi penerusnya agar tidak “Kepaten obor” dan terus nyambung paseduluran, sesuai jargon sekata sehati setujuan. Semoga keinginan itu jadi nyata, bukan angan semata.

Temaram senja menggelayut di gedung ormawa, para aktivisnya yang beragama islam, mulai beranjak ke Mushola untuk sholat magrib berjamaah. Sebelum pulang, saya juga ikutan menjadi makmum, bersebelahan dengan cowok berbaju hitam yang dipunggungnya bertuliskan BEM - UM (kalau tidak salah baca). Tampaknya sudah beberapa hari tidak ganti, sehingga agak semriwing baunya. [ghep’83]