Selasa, 15 Maret 2016

K.R.I Belajar Berbagi Saling Peduli

Para pegiat Komunitas Relawan Indonesia (K.R.I) punya cara sendiri untuk saling peduli terhadap anggotanya dalam rangka berbagi informasi, tukar pengalaman meningkatkan wawasan, keterampilan dan kapasitas di dunia kerelawanan di bidang penanggulangan bencana.

Acara berbagi itu seringkali dilakukan di warung kopi (warkop) murahan pinggiran jalan, kelas rakyat jelata. Itu dilakukan, disamping karena keterbatasan isi dompet, juga terkandung maksud membangun rasa solidaritas terhadap sesama sebagai wujud nyata gerakan “Mari Berbagi di Warung Tetangga” yang sedang ramai di media sosial saat ini.

Karena, sesungguhnyalah, dengan kegiatan nyruput kopi bareng di warung murahan, interaksi antar anggota komunitas dengan penjualnya (dan pengunjung lain) semakin terjalin akrab, saling guyonan, belajar berpendapat, saling mendengarkan dan berbagi cerita tanpa sekat, tanpa sungkan. Disinilah menjadikan komunitas semakin terbangun rasa pertemanan yang menguat sebagai wujud ‘hablum minnan nas’.

Konon, dulu Bung Karno juga sering ‘blusukan’ menyapa wong cilik, kaum marhaen, untuk mengasah kepekaannya terhadap maslah-masalah sosial kemanusiaan dalam rangka menyusun konsep untuk mensejahterakan martabat bangsanya.

Namun anggota K.R.I tidak harus meniru kelakuan Bung Karno yang hebat itu. Tapi, paling tidak bisa meniru semangatnya untuk peduli kepada nasib wong cilik, berbagi dengan sesamanya, sehingga dalam melaksanakan aksi kemanusiaan penanggulangan bencana dapat melakukan dengan penuh perhitungan sesuai kemampuan untuk menghindari kekonyolan, bukan sekedar mendapat pujian, untuk itulah K.R.I tidak selalu turun manakala ada kejadian.

Acara berbagi ilmu tidak melulu yang berkaitan dengan masalah penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana saja, tetapi juga lainnya yang dirasa ada guna manfaatnya. Berbagi pengalaman nambal perahu karet, contohnya, pun dilakukan.

 Tentu sambil guyonan dan nyruput kopi. Bahkan disela-sela istirahat, tidak diharamkan untuk menggelar permainan kartu remi, sebuah permainan yang kayaknya wajib dikuasai oleh mereka yang mentasbihkan diri sebagai relawan, pecinta alam dan para pegiat aktivitas di alam bebas. Sehingga semuanya berjalan dengan hati riang guna pererat persaudaraan.

Acara saling berbagi model Komunitas Relawan Indonesia ini memang khas, yang belum tentu dimiliki oleh organisasi lain. Selalu dilakukan dalam suasana non formal dengan motto sersan (serius tapi santai). Termasuk saat merencanakan kegiatan berlatih bersama dengan konsep Saling Sinau, maupun ketika melakukan persiapan turun ke lokasi membantu operasi tanggap bencana.

Ini bisa terjadi, mungkin karena hampir semua aktivisnya mempunyai pengalaman di bidang kepecinta alaman dan menguasai pengetahuan tentang outbond, sehingga bisa mensikapi segala permasalahan dengan tenang, santai, terencana, tepat dan terukur.

Tentu semua itu selalu diselingi dengan acara ngopi, ngobrol pintar sambil nyruput kopi tipis-tipis sebagai penghangat suasana, penyegar semangat agar tidak salah paham. Kata itulah yang menjadi pedoman yang harus diimani oleh setiap anggota K.R.I.


karena, bagi komunitas relawan Indonesia, KOPI mempunyai makna mendalam, yaitu Ketika Otak Perlu Inspirasi dalam rangka menemukan cara untuk menjalin kemitraan antar sesama relawan sehingga bisa berkontribusi membangun gerakan pengurangan risiko bencana demi mewujudkan ketangguhan bangsa menghadapi bencana. Untuk itulah, mari kita sruput kopinya tipis-tipis demi kemanusiaan.*[eBas] 

Senin, 07 Maret 2016

SEPENGGAL CERITA BANJIR SAMPANG



Konon, banjir Sampang itu selalu datang setiap musim penghujan tiba. Dari tahun ke tahun masyarakat di beberapa daerah terdampak selalu disapa oleh genangan yang tingginya tergantung dari intensitas curah hujan saat itu. Jika kedalaman banjirnya sebatas lutut orang dewasa, itu merupakan hal biasa. sudah tidak dianggap sebagai bencana yang harus ditangani relawan dari luar daerah.

Pemda Kabupaten Sampang cukup mengerahkan potensi lokal, untuk menangani banjir yang biasanya dalam tiga hari sudah surut. Namun Banjir Kali ini tampaknya lain dan seakan tidak berdaya menyambut kedatangan si banjir tahunan itu.

Pertanyaannya kemudian, mengapa banjir Sampang selalu muncul tanpa upaya nyata yang bisa menguranginya?. Bahkan yang terjadi, daerah yang terdampak semakin meluas kemana-mana, yang biasanya tidak banjir menjadi terendam bahkan sampai menelan korban jiwa. Terus, kemana BPBD nya yang memiliki tugas mitigasi serta punya program sosialisasi pengurangan risiko bencana?.

Bagaimana bentuk pelibatan sekaligus pembinaan relawan lokal yang dilakukan BPBD dalam rangka upaya pencegahan, mitigasi, pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, sehingga siap hidup berdampingan dengan bencana (living harmony with disaster).

Permasalah di atas muncul saat teman-teman anggota komunitas relawan Indonesia (K.R.I) cangkruk’an di warung kopi, ngobrol masalah aksi banker Sampang kemarin. Ya, bahasa kerennya melakukan evaluasi kegiatan kemanusiaan yang bertajuk #Savesampang.

Evaluasi ini sebagai media saling cerita pengalaman selama tiga hari beraksi saat banjir Sampang kemarin, serta dalam rangka mengetahui mengetahui kendala, hambatan dan faktor pendukung selama beraksi membantu evakuasi pengungsi, distribusi logistik, membantu kesibukan posko, dan membantu sebar informasi, mengingat sistem komunikasi antar posko dan personil di lapangan kurang lancar, kurang terkoordinir.

Maklum masih hari pertama, kemungkinan semuanya (termasuk personil BPBD) masih menunggu perkembangan. Sehingga yang terlihat kawan-kawan saat itu hanyalah aparat POLRES, KODIM, BRIMOB, dan BASARNAS. Sementara lainnya belum datang, atau sibuk di lokasi lain. Ya, karena masih ada kekurangtanggapan dan lemahnya political will dari pemerintah itulah yang membuat relawan “bergerak sendiri”, secara kreatif untuk menolong sesamanya sebisa mungkin atas nama kemanusiaan

Sambil nyruput kopi, mereka gantian bercerita tentang susahnya menghubungi staf BPBD yang sulit ditemui untuk meminta peta daerah terdampak dan data penduduk yang seharusnya terpasang di posko untuk memudahkan relawan dalam melakukan aksinya.

Beberapa catatan hasil evaluasi akan dijadikan bahan menginisiasi BPBD dan relawan lokal Kabupaten Sampang untuk menggelar pelatihan bersama dengan konsep ‘saling sinau’ dalam rangka meningkatkan kapasitas relawan dalam upaya penanggulangan bencana banjir rutin secara mandiri.

Karena senyatanyalah, jika berkaca pada banjir Sampang kemarin, masih terjadi kepanikan dimasing-masing SKPD terkait pada hari pertama dan kedua, manakala BPBD lamban mengantisipasi sehingga tampak kedodoran mengelola personil, dan sarana prasarana pendukung operasi.

“Kayaknya pengelolaan posko pun belum tertata sehingga arus sirkulasi logistik dan bantuan lainnya sulit dideteksi keluar masuknya,” Kata Romi Iskandar, alumni Universitas Muhammadiyah Surabaya yang kehilangan kaca mata dan topi kebanggaan saat mengendalikan perahu karet untuk droping logistik ke pengungsi.

Baru pada hari ke tiga, setelah banjir mulai berlalu dan genangan berangsur surut, silih berganti pejabat dari berbagai instansi/kementerian berdatangan (tebar pesona?) membagi bantuan yang disorot media berlatar belakang relawan dengan aneka seragam dan gaya seolah-olah sudah lama bercumbu dengan banjir.

Setidaknya itulah sepenggal catatan kawan-kawan K.R.I yang ngepos di dekat pendopo Kabupaten Sampang, sehingga bisa ngobrol santai dengan aparat sambil ngopi, sementara BPBD tidak ngepos disitu, sehingga tidak bisa ngobrol bareng tentang manajemen penangulangan bencana. [eBas]
  

Jumat, 04 Maret 2016

GAYA KOMUNITAS RELAWAN

Setelah berinteraksi dengan berbagai sahabat relawan, ternyata, tidak semua komunitas memiliki aturan yang jelas dan tegas (termasuk program) yang harus diketahui, ditaati, dan dilaksanakan oleh anggotanya. Roda kegiatan komunitas relawan berjalan sangat luwes, termasuk untuk agenda pertemuan, sesuai dengan kesepakatan dan ketersediaan waktu luang dari anggotanya.

Apalagi, dengan adanya fasilitas whatsapp yang tersedia, semakin memudahkan anggota komunitas untuk berkomunikasi, memperkaya wawasan, memberi info tentang peristiwa bencana di berbagai daerah, dan info lain yang terkait dengan aktivitasnya.

Dengan kemudahan itu menjadikan anggota tidak selalu wajib bersemuka dalam membahas program komunitas. Cukup berkomunikasi dan tukar informasi lewat jejaring media sosial, dimana pun dan kapan pun, semuanya dapat langsung diketahui bersama untuk kemudian dikomentari.

Warung kopi pun menjadi tempat favorit untuk ngobrol cangkruk’an, sambil nyruput minuman yang dipesan, mereka membangun silaturahim, menyatukan visi misi tukar informasi. Tidak menutup kemungkinan juga membangun peluang bisnis ala kadarnya. Semuanya bisa terjadi, semua bergulir tanpa moderator maupun notulen, berjalan alami dan tidak saling membebani.

Sambil nyakot gorengan, obrolan mengalir kemana-mana, topiknya pun bermacam. Pesertanya bebas datang sesuai luangnya waktu tanpa mengganggu aktivitas mencari rejeki untuk anak istri. Karena, relawan itu juga manusia yang punya tanggung jawab kepada keluarga, juga kepada masyarakatnya.

Termasuk saat menggagas latihan bersama dengan ‘model saling sinau’, aksi cinta lingkungan dan peduli kemanusiaan, . Tentu dengan kadar yang berbeda bila dibanding dengan komunitas yang sudah mapan, terstruktur dan besar, baik dari sisi jumlah anggota maupun dananya.

Lama obrolan tidak dibatasi, bisa lama bisa tidak, tergantung situasi, kondisi dan keperluannya. Artinya, ketika obrolan dianggap sudah cukup, maka acara diakhiri dan menyelesaikan pembayaran secara saweran/bantingan atau gantian seikhlasnya. Itulah irama komunitas yang dibangun berdasar hobi dan kesamaan minat serta jauh dari ‘profit oriented’.

Ciri lain dari komunitas yang seperti ini adalah kurang suka mengadakan diskusi yang serius berbasis teori dan mengadu gagasan masukan untuk menjadi program kerja tahunan komunitas maupun rekomendasi untuk pembuat kebijakan. Maunya langsung beraksi, praktek di lapangan meningkatkan kapasitas dan sinergitas anggota agar mampu berkontribusi dalam upaya penanggulangan bencana, baik saat pra bencana, tanggap bencana dan pasca bencana.

Ya, sesungguhnyalah komunitas itu memang mempunyai keunikan masing-masing. Punya gaya punya selera yang berbeda satu sama lain. Namun, dalam kerja-kerja kemanusiaan, apalagi saat ada bencana, semua komunitas akan membaur, bergerak bersama mencoba membantu sesamanya yang tertimpa musibah serta membantu pemerintah mengurangi dampak bencana. [eBas]







Kamis, 03 Maret 2016

SELAMAT DATANG FORUM PRB KABUPATEN/KOTA

Pemerintah daerah dinilai kurang tanggap mencegah timbulnya korban akibat bencana yang seharusnya bisa diantisipasi. Konsep mitigasi bencana terpadu seharusnya siap mengantisipasi bencana dan tidak terjadi lagi bencana dikemudian hari. Untuk itulah pemerintah daerah wajib berperan dan bergotong royong menghadapi bencana sehingga bisa mengantisipasi jauh hari.

Himbauan di atas disampaikan oleh Puan Maharani, menteri koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan,  saat penutupan rakornas penanggulangan bencana yang diselenggarakan oleh BNPB. Sebuah himbauan yang patut menjadi bahan renungan dan evaluasi untuk kemudian menyusun rencana program ke depan yang dapat menjawab himbauan Bu mentri PMK. Hal ini mengingat bahwa Akar penyebab bencana belum menjadi issue yang seksi, sehingga perencanaan pra bencana belum banyak dibicarakan dan diagendakan.

Jelas pemda, dalam hal ini BPBD, tidak mungkin bekerja sendiri jika menginginkan hasil yang optimal. Sehingga, BPBD diharapkan mau merangkul masyarakat terlatih (organisasi relawan) yang tergabung dalam Forum PRB, yang memiliki berbagai potensi, kapasitas dan karakteristik, untuk bersama sama melakukan kegiatan pra bencana, seperti yang tersirat dalam perka BNPB nomor 17.

Hal ini sejalan dengan amanat The Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) 2015 – 2030, yang menargetkan, (1) Pengurangan jumlah masyarakat terdampak, (2) Pengurangan kerugian ekonomi dalam kaitannya dengan GDP dunia, (3) Pengurangan kerusakan terhadap infrastruktur penting/kritis dan gangguan pelayanan dasar, termasuk kesehatan dan fasilitas pendidikan, (4) Penambahan jumlah Negara yg memiliki strategi PRB di tingkat nasional dan tingkat daerah pada tahun 2020, (5) Peningkatan kerjasama Internasional, (6) Bertambahnya akses pada sistem peringatan dini multi bencana dan informasi risiko bencana dan pengkajian, (7) Pengurangan angka kematian akibat bencana di dunia.

Untuk mencapai target di atas, prioritas yang harus segera ditangani adalah, (1) Pemahaman Risiko Bencana, (2) Penguatan pengaturan risiko bencana untuk mengelola risiko bencana, (3) Investasi dalam pengurangan risiko bencana untuk ketangguhan, (4) Peningkatan kesiapsiagaan bencana untuk respons dan untuk ”pembangunan kembali yang lebih baik” dalam pemulihan, rehabilitasi dan rekonsiliasi.

Disinilah pentingnya keberadaan Forum PRB sebagai koordinator dari relawan yang ada untuk dimobilisasi dalam melaksanakan aksi aksi kemanusiaan dibidang penanggulangan bencana sesuai arahan BPBD. Sehingga hal ini akan memudahkan pendataan, pembinaan, penugasan  dan pengawasan berbagai elemen relawan.

Ini mengingat, keberadaan relawan itu beragam sesuai latar belakangnya. Misalnya ada relawan amatiran, ada pula relawan yang bergabung dengan organisasi yang telah mapan berpengalaman dan besar dari segi dana maupun anggota. Jelas kondisi yang demikian memerlukan perlakuan yang bisa memahamkan kebersamaan. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada organisasi relawan yang enggan bergabung dengan Forum karena sudah memiliki agenda sendiri.  

Sayangnya, upaya pembentukan Forum PRB di beberapa kabupaten/kota belum mendapat respon yang menggembirakan oleh pemangku otoda. Satu diantara alasan yang bisa dikemukakan disini adalah masih kuatnya paradigma responsif dalam menghadapi bencana daripada upaya pencegahan melalui sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, simulasi, mitigasi struktural maupun non struktural. Padahal, melalui kegiatan PRB masyarakat di kawasan rawan bencana bisa pro aktif menangani bencana secara mandiri sebelum pihak luar datang.

Ingat, keberadaan Forum PRB bukan sekedar tempat cangkruk’an, namun lebih sebagai tempat berkumpulnya berbagai individu yang mempunyai minat dan peduli pada sesama, dengan berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman ini, diharapkan sering mengadakan diskusi, melakukan kajian dan pengumpulan berbagai informasi penanggulangan bencana dan perubahan iklim, serta mengkritisi kebijakan pemerintah dibidang penanggulangan bencana untuk kemudian dijadikan saran, masukan dan rekomendasi kepada pemilik kuasa otoda, sehingga kebijakan yang akan dibuat berwawasan lingkungan, dan lebih pro pengurangan risiko bencana.

Jika Forum PRB bisa memerankan diri seperti di atas, yang didukung oleh semangat, loyalitas dan dedikasi seluruh anggota dan pengurus (bukan sekedar pengurus papan nama, yang sibuk saat ada rejeki doang), pastilah keberadaannya akan memberi warna bagi pelaksanaan program BPBD, sehingga akan bermanfaat bagi khalayak ramai, khususnya masyarakat yang berdomisili di kawasan rawan bencana. Salam kemanusiaan.*[eBas]




Rabu, 24 Februari 2016

BENCANA BANJIR DAN PENGUNGSI MUSIMAN

Setiap musim hujan turun, dapat dipastikan banjir akan selalu muncul, dengan atau tanpa menimbulkan kerugian yang menimpa masyarakat terdampak. Termasuk daerah yang dulu tidak pernah kebanjiran pun kini juga merasakan susahnya jika rumah tergenang setinggi pinggul orang dewasa.

Namun, tampaknya, dari tahun ke tahun, masyarakat di daerah rawan banjir sudah semakin akrab dengan sapaan banjir yang menggenangi pemukiman mereka untuk beberapa hari. Terbukti, mereka enggan mengungsi saat banjir menyapa. Mereka tetap bertahan dengan segala keterbatasannya. Karena warga yakin, pasti akan ada yang menolong.

Apalagi, kini semakin banyak pihak yang peduli terhadap bencana, termasuk banjir. Mulai dari BPBD, PMI, PRAMUKA, Dinsos dengan TAGANA, dan Relawan lain yang bernaung dibawah yayasan dan organisasi kemanusiaan. Para relawan ini setia berbasah-basah mengirim logistik dan memantau perkembangan situasi dan kondisi serta cekatan memberikan bantuan setiap saat.

Mereka ini selalu tanggap saat banjir menggenangi pemukiman warga langganannya. Mereka cepat datang dengan membawa segala perlengkapan untuk menolong warga terdampak. Nasi bungkus, tenda pengungsi, perahu karet bahkan obat-obatan untuk pertolongan pertama.

Mereka juga melakukan penilaian situasi kondisi secara cepat untuk diambil tindakan darurat dan dilaporkan kepada yang berwenang, dalam hal ini BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, aparat keamanan, dan pihak terkait lainnya. Tak lupa mereka juga memobilisasi bantuan dari masyarakat dan dunia usaha yang masih memiliki rasa peduli kemanusiaan.

Dengan kehadiran mereka, warga terdampak akan merasa tenang karena ada yang memperhatikan, ada yang ngopeni membantu menyediakan kebutuhan konsumsi, membagi selimut, makanan bayi, makanan manula dan ibu hamil serta membantu evakuasi dan menyiapkan tempat pengungsian

Namun kehadiran Relawan itu juga dimanfaatkan oleh mereka yang nakal. Ya, selalu saja muncul oknum warga yang nakal, memanfaatkan kepedulian relawan. Misalnya, sudah mendapat jatah nasi bungkus, tapi ketika ditanya wartawan bilang belum mendapat bagian.

Bahkan ada pengungsi yang pilih-pilih bantuan dan sengaja tidak mau mengungsi agar terlihat menderita sehingga menarik perhatian media massa untuk meliput dan menimbulkan empati dari berbagai pihak, termasuk para politisi, kaum elite dan artis selebritis untuk sekedar menengok deritanya sambil membawa bingkisan ala kadarnya yang menjadi rebutan.

Dalam berbagai diskusi kebencanaan bersama relawan, masalah-masalah yang timbul pada masa tanggap bencana dan pasca bencana dapat digambarkan sebagai berikut ; (1) Pemenuhan kebutuhan fisik yang kurang memadai akibat rusaknya tempat tinggal, lingkungan permukiman dan mata pencaharian, (2) Perasaan khawatir atau trauma yang berkepanjangan karena suatu saat bencana datang lagi, (3) Merasa tidak tahu dan tidak berdaya memulai dari mana untuk membenahi kembali kehidupan mereka, (4) Kecewa kepada Pemerintah yang tidak optimal membantu untuk membangun kembali tempat tinggal dan lingkungan permukiman mereka.

 Inikah yang dinamakan balada siklus banjir dan pengungsi musiman?. Sementara bencananya sendiri (banjir) belum ditangani secara lintas sektoral hingga tuntas. Seperti normalisasi bantaran sungai untuk memperbanyak daerah resapan, pengerukan sedimentasi, relokasi penduduk yang nekat hidup di jalur hijau yang nota bene milik Negara, pembangunan rumah pompa, perbaikan pintu air, gorong-gorong dan lainnya. Padahal konon banyak dana yang disediakan untuk bencana ada diberbagai kementerian terkait.
 
Tentu, masalah ini perlu dirubah dengan mengagendakan program sosialisasi dan mitigasi kepada masyarakat terdampak. Ini penting agar keterlibatan masyarakat untuk aktif mengurangi risiko bencana meningkat kesadarannya, sehingga secara mandiri bisa melakukan antisipasi dan melakukan penanggulangan bencana sendiri sebelum bantuan pihak luar datang.Termasuk pelibatan masyarakat dalam mengelola dan menjaga alat peringatan dini (EWS) juga harus mendapat perhatiaan, sehingga masyarakat setempat meresa melu handarbeni EWS yang harganya cukup mahal.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi selama banjir, antara lain dengan memperbaiki tanggul, pendirian posko bantuan di titik-titik yang terkena banjir, mobilisasi ibu-ibu untuk mengelola dapur umum, relokasi pengungsi ke rumah susun, hingga pengumuman status darurat banjir.

Tidak kalah pentingnya adalah memberikan penyuluhan mengenai bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh bencana serta upaya meminimalisir kerugian yang mungkin timbul, Memberikan latihan dan simulasi bagi masyarakat dalam menghadapi kejadian bencana, Menetapkan lokasi evakuasi.

Begitu juga pelatihan dan diskusi-diskusi rutin untuk membahas kondisi lingkungan harus dilakukan secara berkala dan terus menerus, baik yang dilakukan oleh BPBD maupun oleh organisasi kemanusiaan lainnya, bahkan dilakukan secara keroyokan.  

Dalam sebuah dialog tentang pengurangan risiko bencana, dikatakan bahwa upaya membangun dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir rutin, antara lain : Pendataan Daerah Rawan Bencana, Pendataan masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana.

Data yang di dapat itu akan dijadikan acuan untuk  penyediaan kebutuhan sarana dan prasarana penanggulangan bencana (bahan makanan, bahan sandang, tempat pengungsian, penyediaan dapur umum, sarana pelayanan kesehatan dan sarana penunjang lainnya).

Banjir pun berangsur surut, untuk kemudian berganti dengan kehidupan normal musim kemarau dengan segala dampaknya. Masyarakat di daerah rawan banjir pun memulai kehidupannya dengan melupakan genangan banjir, sibuk berbenah, sibuk merajut kehidupan yang kemarin kebanjiran.

 Sayang mereka kurang mau belajar bagaimana upaya agar nanti bila musim penghujan datang tidak kebanjiran lagi dan tidak menjadi pengungsi musiman. Semua ini terjadi karena keterbatasan yang disandangnya. Pemerintahlah yang harus cakap mengurangi bahaya banjir rutin yang selalu datang di musim penghujan. Salam kemanusiaan. [eBas]

.




Sabtu, 20 Februari 2016

FORUM PENGURANGAN RISIKO BENCANA JAWA TIMUR

Mbah Darmo dari Perkumpulan Jangkar Kelud, bilang bahwa jika di Bojonegoro banyak forum pertemuan yang tersedia, tapi tidak ada topik yang menarik sehingga membosankan. Sementara di kepengurusan Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Timur ( selanjutnya disingkat F-PRB Jatim), banyak topik yang ingin dibahas namun forum pertemuan sangat terbatas, tidak ada wadah untuk membahasnya.

Kemudian, DR. Eko Teguh Paripurno, biasa dipanggil Kang ET, bilang bahwa kita perlu “Wadah Grenengan” sebagai tempat bertemunya semua elemen pegiat kebencanaan, yang digelar secara berkala agar keberadaan forum semakin tampak dan menjadi rujukan berbagai pihak, terkait dengan program penguraangan risiko bencana dan upaya penanggulangan bencana.

Pernyataan dari dua tokoh PRB ini kiranya perlu ditindak lanjuti dalam rangka membangun komunikasi dan koordinasi diantara relawan kebencanaan, sehingga masing-masing elemen bisa berkontribusi sesuai kebisaannya.

Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat ini bertajuk “Roadshow F-PRB Jatim wilayah Surabaya, Sidoarjo, Bojonegoro dan Mojokerto” di Kantor BPBD Jawa timur, sabtu (20/2), dalam rangka mendorong para pegiat kebencanaan untuk membentuk Forum PRB di masing-masing Kabupaten/Kota, baik mandiri maupun berkolaborasi dengan instansi pemerintah dan dunia usaha.

Ya, forum ini bukanlah tandingan, apalagi tunggangan BPBD. Keberadaannya lebih sebagai ‘Think Tank’ yang menyumbangkan pikiran dan gagasan untuk memajukan program penanggulangan bencana yang menjadi tupoksi BPBD. Forum bersinergi dengan BPBD melakukan edukasi dan advokasi kepada masyarakat luas, khususnya yang berdomisili di kawasan rawan bencana, agar paham akan potensi bencana di daerahnya.

Melalui “Wadah Grenengan” gagasan Kang ET, diharapkan muncul gagasan cerdas yang bisa menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana berbasis lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat sesuai potensi bencana yang muncul. Bukan berbasis proyek semata. Termasuk, mendorong lahirnya kebijakan koordinasi antar relawan, Forum PRB dan BPBD, sehingga masalah penanggulangan bencana di daerah bisa segera diatasi bersama tanpa harus saling menunggu. Contoh kasus banjir di Mojokerto beberapa minggu yang lalu, seperti yang dikeluhkan oleh Cak Anam dari LPBI-NU Mojokerto.

Forum pun bisa menjadi katalisator antara relawan dengan BPBD dalam rangka peningkatan kapasitas relawan melalui pelatihan dan pembinaan berkala, terkait dengan manajemen kebencanaan, yang ternyata tidak sesederhana anggapan masyarakat awam. Banyak yang belum tahu, apalagi menguasai, termasuk orang BPBD sendiri, karena berbagai hal.

Dengan terjalinnya komunikasi yang baik, tentulah akan memudahkan mobilisasi potensi masyarakat terlatih untuk melakukan operasi kemanusiaan manakala bencana menebar petaka.

Dialog yang dipimpin langsung oleh sekjen Forum PRB, berlangsung gayeng, masing-masing peserta menceritakan pengalamannya sekaligus memberikan saran dan harapan agar keberadaan Forum PRB terasakan hadirnya, seperti jargon yang diusung BNPB dalam peringatan bulan PRB tahun 2015, “SELALU HADIR DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT”.

Eko, dari dinas kominfo berharap, forum bisa membuat wabblog sebagai media komunikasi tebar informasi melalui ‘dunia maya’ kepada khalayak ramai, terkait dengan masalah kebencanaan dan adaptasi perubahan iklim, serta mencoba menterjemahkan amanat Sendai Framework For Disaster Risk Reduction 2015-2030 ke dalam bahasa masyarakat untuk membangun kebersamaan dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana secara mandiri sehingga jumlah korban bencana bisa dikurangi.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar relawan, akademisi, praktisi, dunia usaha dan para pegiat kemanusiaan itu bisa bersinergi dalam sebuah Forum PRB, baik di tingkat Kabupaten/kota maupun Provinsi untuk menumbuhkan kemandirian dalam hal pengurangan risiko bencana, penanggulangan bencana dan adaptasi perubahan iklim.

Selanjutnya, peran apa yang sudah dan akan dimainkan oleh BPBD dalam rangka ‘membesarkan’ Forum PRB yang katanya sampai sekarang masih kesulitan mengumpulkan pengurusnya untuk tampil ‘full team’ dalam sebuah pertemuan seperti ini, dikarenakan kesibukan masing-masing yang menumpuk. Moderator tidak menyimpulkan, semua diserahkan kepada peserta untuk menindak lanjutinya. Yang jelas, untuk membentuk Forum, perlu ada yang memfasilitasinya. Siapa?. [eBas]



Selasa, 02 Februari 2016

PROGRAM IABI DI DAERAH


Konon, kepengurusan ikatan ahli kebencanaan Indonesia (IABI) wilayah jawa timur telah dibentuk beberapa bulan yang lalu. Bahkan sudah dikukuhkan langsung oleh ketua umumnya, Profesor Sudibyakto, dosen senior dari Universitas Gajah Mada (UGM). Waktu itu, pengukuhannya dibarengkan dengan peresmian berdirinya relawan kampus di Halaman Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya.

Lahirnya IABI sebagai wujud untuk mendukung konsep Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Indonesia, hal ini tidak terlepas karena Indonesia yang merupakan negara kepulauan mempunyai keunikan tersendiri. Salah satu Keunikannya antara lain sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap berbagai ancaman (hazards) baik bahaya alami (natural hazard) maupun buatan (man-made/ anthropogenic hazard)

Syamsul Maarif, salah seorang penggagas IABI, mengatakan bahwa “working group yang terbentuk melalui IABI ini telah mencerminkan keinginan bersama bahwa persoalan kebencanaan adalah urusan bersama, termasuk didalamnya adalah para ahli bencana yang dituntut untuk mempunyai cara pandang dan berfikir secara holistik dan seistemik. Visi IABI juga harus dapat membangun dan mengembangkan sebuah budaya keselamatan dan ketangguhan menghadapi bencana”. (BNPB, 2014)

Dengan kata lain, IABI merupakan wadah koordinasi dan berbagi antar ilmuwan dalam upaya membantu pemerintah (BNPB)  mengurangi risiko bencana, sekaligus membangun kesadaran bersama untuk berdialog antar pihak terkait. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menyinergikan kegiatan sektoral sehingga dapat dijadikan ajang pembelajaran bersama bagi IABI seluruh Indonesia. Seperti diketahui dalam penangganan bencana, diperlukan pemikiran dan teknologi yang tepat, sehingga penangganan dan mencegah bencana tersebut dapat  dilakukan dengan tepat dan cepat serta kerugian dapat ditekan seminal mungkin.

Dosen yang berminat menjadi anggota IABI cukup banyak, tentu dengan motivasi yang beragam dan mempribadi sifatnya. Misalnya, memperluas jejaring kemitraan diantara sesama dosen dari berbagai perguruan tinggi, mencari akses agar mudah mendapatkan dana hibah penelitian, dan semacamnya.

Dosen dengan berbagai disiplin ilmu, tidak diharamkan untuk bergabung. Yang penting mau dan mampu. Mengingat, dalam upaya penanggulangan bencana sangat diperlukan pendekatan keilmuan yang beragam, sehingga bisa saling mendukung dan memperkuat. Yang penting ada keterpanggilan jiwa yang kuat terhadap kerja kerja kemanusiaan yang jauh dari profit, mengedepankan kebersamaan dan gotong royong dalam upaya penyelamatan korban dan pengurangan risiko bencana. 

Sesuai karakteristik anggota IABI, maka kegiatan yang dilakukan lebih banyak dalam ranah keilmuan (meningkatlan intelektualitas civitas akademika), seperti penelitian, pengkajian, pengembangan, diskusi, seminar, dan workshop yang berhubungan masalah kebencanaan.

Memanfaatkan ilmunya untuk merancang teknologi tepat guna untuk penyelamatan korban, pembuatan peringatan dini (early warning system) untuk bencana banjir, longsor, bahkan tsunami. Mengembangkan manajemen kebencanaan yang semakin efektif dan efisien, dan lainnya. Sekali lagi, semuanya ini dalam rangka membantu BNPB dalam mengurangi dampak bencana.

BNPB pun konon, telah mengalokasikan dana penelitian miliaran rupiah untuk para dosen sebagai upaya menemu kenali permasalahan yang terkait dengan pra bencana, tanggap bencana, pasca bencana dan rehab rekon.

Namun, konon hasil penelitian yang dilakukan dosen, baik yang tergabung dalam IABI maupun yang belum mau bergabung. Namun sesungguhnyalah hasil karya para dosen itu masih belum banyak yang layak terap, masih perlu ‘dipertajam’ lagi sehingga bisa di duplikasikan di berbagai daerah. Masih sebatas kajian ilmiah yang sangat seksi dengan berbagai teori untuk diperdebatkan dalam seminar ilmiah di Kampus atau diselenggarakan di Hotel berbintang, yang diikuti oleh orang-orang yang tidak sembarangan.

Konon, hasil kajian dan penelitian yang dilakukan oleh dosen-dosen penerima dana hibah itu  diharapkan bisa menjadi bahan penyusunan kebijakan  maupun untuk melakukan mitigasi serta pembinaan kepada relawan dan masyarakat terdampak sebagai upaya pengurangan risiko bencana.

Disamping itu, menurut informasi, secara berkelompok membuat kegiatan nyata yang bersentuhan dengan masalah tupoksi BNPB maupun BPBD, semisal terlibat dalam pelatihan penanggulangan bencana, sebagai fasilitator maupun nara sumber teknis. Termasuk secara berkelompok membuat yayasan yang bergerak dibidang kebencanaan.


Sungguh, karya dari IABI sangat ditunggu oleh para relawan penanggulangan bencana, dalam rangka menambah wawasan, info baru, meningkatkan kompetensi dan keterampilan relawan, seperti rencana pengklasteran relawan, yaitu klaster kesehatan, pencarian dan penyelamatan, logistic, pengungsian dan perlindungan, pendidikan, ekonomi, sarpras, dan pemulihan dini (rehab rekon). Ini penting karena, konon, relawan harus disertifikasi oleh lembaga sertifikasi profesi penanggulangan bencana untuk bekal menghadapi MEA. [eBas]