Senin, 10 Juni 2019

SEPENGGAL CERITA TENTANG SRPB JATIM


Cerita ini diawali dengan keterlibatan penulis dalam kegiatan forum pengurangan risiko bencana jawa timur (F-RPB JATIM).  Untuk itu, disini penulis merasa wajib mengucapkan terimakasih kepada Pak Misdarno, staf BPBD Provinsi Jawa Timur, dan Mas Didik, ‘direktur’ AIFDR Jawa Timur, yang berkenan melibatkan penulis belajar menjadi bagian dari F-PRB JATIM. dimana saat itu yang menjadi sekjen adalah Syaiful (almarhum).

Dari pergaulan  dengan aktivis F-PRB JATIM , diantaranya mbah Dharmo, Cak Rurid, dan mBak Arna, penulis menjadi tahu bahwa sebagai organisasi, F-PRB JATIM belum mempunyai kantor sekretariat untuk berkumpul, bersemuka antar anggota dalam rangka menyusun agenda organisasi.

Betapa memprihatinkannya, organisasi yang menyuarakan konsep PRBBK (pengurangan risiko bencana berbasis komunitas) belum memilki kantor. Sejak itulah setiap berkesempatan mengikuti rapat yang melibatkan BPBD JATIM, selalu saja penulis angkat bicara “memohon” agar diberi salah satu ruang di kantor BPBD JATIM untuk dijadikan Sekretariat F-PRB JATIM.

Ruang tersebut, disamping untuk keperluan rapat dan urusan administrasi forum, juga menjadi tempat berkumpulnya relawan penanggulangan bencana sebagai salah satu elemen yang memperkuat keberadaan F-PRB JATIM, disamping Akademisi, Birokrat, Praktisi, tokoh masyarakat, Organisasi Masyarakat, dan Media. Jauh sebelum istilah pentahelix dipopulerkan.

Singkat cerita, Pak wawan, Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur, mengundang beberapa organisasi relawan untuk berdiskusi tentang rencana pembentukan sekretariat bersama (sekber) relawan. Saat itu sempat pula penulis tanyakan, mengapa membentuk sekber relawan ?. kenapa tidak Sekber F-PRB JATIM yang didalamnya juga melibatkan relawan ?.

Beliau bilang, F-PRB JATIM beda dengan Sekber Relawan. Forum anggotanya terdiri dari berbagai elemen masyarakat. Sedangkan Sekber Relawan khusus mewadahi organissi relawan sejawa timur untuk memudahkan berkoordinasi, berkomunikasi serta memudahkan pembinaan terkait meningkatkan kapasitas dalam hal penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana.

Begitulah, rapat pembentukan Sekretariat bersama terus bergulir, bertempat di Gedung Siaga, BPBD Provinsi Jawa Timur. Rapat itu didampingi Sugeng Yanu, sebagai Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, dan didukung sepenuhnya oleh Mercycorp (Lukman, Nandar, dan Afkar).

Secara aklamasi, peserta rapat menunjuk Dian Harmuningsih sebagai Ketua. Priyo Sancoyo, Sekretaris yang gak pernah aktif, dan Edi Basuki, sebagai bendahara yang tidak pernah membawa uang babar blas (karena memang tidak ada uang sama sekali). Ya, adanya hanya menyusun konsep kemudian rapat, konsultasi dan revisi, agar keberadaannya nanti tidak ‘layu sebelum berkembang’.

Rapat demi rapat terus berlangsung untuk mematangkan rencana kongres dengan segala kemampuan yang ada. Beberapa personil pun secara sukarela membantu bersibuk ria menyiapkan rapat relawan. Muncullah Hamid, Rizal, Wawan, Sri, Digdo, dan lainnya. mereka saling bahu membahu menyusun acara tanpa kenal lelah. ’Sing Penting Kongres Sukses’. Begitulah semboyan pasukan berani capek ini.

Sekitar 90 organisasi relawan yang hadir dari 110 undangan yang disebar. Dengan penuh semangat dan biaya mandiri, mereka berdatangan ke Hotel Regent Park, Kota Malang untuk berkongres. Ya, kongres pembentukan Sekber relawan itu berlangsung beberapa hari setelah F-PRB JATIM mengadakan Musyawarah Besar dalam rangka pergantian pengurus, di Hotel Pelangi, Kota Malang (24 – 25 April 2017).

Selama dua hari (28 - 29 April 2017) mereka rapat merumuskan ‘jabang bayi’ Sekber yang kemudian diberi nama sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana jawa timur (SRPB JATIM). Pengurusnya pun diambil dari wakil-wakil organisasi relawan berbasis keterwakilan daerah di Jawa Timur. Dian Harmuningsih dipilih secara aklamasi sebagai koordinator. Disepakati pula SRPB JATIM hanya memiliki statuta sebagai AD/ART yang menjadi payung hukum dari segala penyusunan program dan keputusan yang akan diambil pengurus.

Seminggu pasca kongres, pengurus SRPB JATIM mulai sibuk menyusun laporan pelaksanaan kongres dan merencanakan kegiatan rutin sebagai upaya membangun persepsi dan chemistry diantara relawan dari berbagai organisasi, yang tentunya sudah memiliki visi misi sendiri. Semuanya coba disatukan untuk bersama-sama bekerja menggerakkan roda organisasi SRPB JATIM  dengan berbagai kegiatan penanggulangan bencana. baik itu saat pra bencana, tanggap darurat bencana, maupun pra bencana, dalam rangka peningkatan kapasitas relawan.

Dulu, rencana pertama yang diharapkan adalah melakukan pendataan seluruh organisasi relawan di Jawa Timur untuk dibukukan (sebagai bank data), Istilahnya Direktori Relawan. Harapannya, dengan adanya data ini akan  memudahkan koordinasi dan komunikasi jika sewaktu -  waktu di perlukan dalam kegiatan penanggulangan bencana maupun pengurangan risiko bencana.

Pertemuan-pertemuan pengurus pun secara berkala diadakan. Dari situ tercetuslah gagasan untuk membuat kegiatan rutin sebagai media saling belajar. Disepakatilah nama, Arisan Ilmu Nol Rupiah. Tujuan gelaran itu adalah sebagai media berkumpul untuk saling berbagi dan bersilaturahmi.

Itu penting, karena jika tidak ada media berkumpul, maka pasca kongres, semua peserta balik kanan ngurusi kesibukan hariannya masing-masing. Lupa menghidupi semangat kongres dengan segala keputusan yang disepakati. Inilah penyakit organisasi yang baru berdiri, jika tidak diantisipasi.

Begitulah, acara Arisan Ilmu yang digelar secara berkala menjadi media interaksi untuk membangun sinergi dan menambah wawasan dengan berbagai topik bahasan. Sebagai upaya menterjemahkan pesan UU nomor 24 tahun 2007, khususnya pasal 26, ayat 1, poin b, Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan ketrampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.  

Walaupun masih dalam proses mencari bentuk, kegiatan ini telah mencuri perhatian dan menginspirasi berbagai pihak untuk menduplikasi ke dalam programnya dengan beragam versi sesuai selera masing-masing. Sekecil apapun, itulah prestasi yang membanggakan dari aktivis SRPB JATIM.

Setahun menjelang kongres yang ke dua, SRPB JATIM telah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan kebencanaan. baik yang diselenggarakan BPBD, maupun BNPB dan instansi lain. Bahkan mendapat apresiasi positif dari Pak Suban, Kepala BPBD Provinsi Jawa Timur dan jajarannya, dengan diberi ijin menempati salah satu ruangan di kantor BPBD sebagai sekretariat, lengkap dengan pemasangan ‘name board’ yang sangat  ‘Eye Catching’ sebagai tempat berkumpulnya relawan dalam merencanakan aksi yang terkoordinasi.

Di samping ‘keberhasilan’ yang dicapai, ada saja oknum yang tega menghambat laju perkembangan SRPB JATIM. Ya, itu memang wajar terjadi, sesuai hukum alam. Rasa suka dan tidak suka, yang datang dan yang pergi adalah sebuah sunatullah yang tidak bisa dihindari. Mereka yang tidak suka adanya SRPB JATIM itu pasti punya argumentasi sendiri yang seolah-olah bener dari nalar oknum yang keblinger.

Untuk itulah semua harus dihadapi dengan karya nyata. Bukan dijawab dengan sekedar saling berbantah. Ya, karya nyata yang berdampak pada meluasnya jaring kemitraan, meningkatkan kapasitas relawan serta terjadinya kaderisasi sebagai bentuk munculnya rasa “melu handarbeni” SRPB JATIM dengan segala suka dukanya dalam berproses sebagaimana organisasi yang sudah mapan.

Dari situ kemudian, diharapkan semua dapat berpartisipasi meramaikan kongres ke dua tahun 2020. Termasuk merevisi statuta dan perlu tidaknya SRPB JATIM memiliki akta notaris sebagai syarat legalitas formal sebuah organisasi. Sehingga narasi yang dikembangkan oleh oknum bahwa SRPB JATIM hanya didominasi oleh beberapa orang dan kepentingan tertentu, akan terpatahkan dengan sendirinya.

Di sisi lain, jika SRPB JATIM gagal melakukan kaderisasi, maka disitulah titik klimak kiprahnya untuk kemudian perlahan namun pasti, akan ditinggalkan oleh anggotanya, karena merasa tidak mendapat keuntungan apa-apa selama berkiprah bersama. Untuk itu, teruslah bergerak menunjukkan karya yang bisa ditindak lanjuti pasca kongres nanti. Waspadalah.

Berharap  sepenggal cerita ini dapat menginspirasi untuk mendokumentasikan segala kisah pengalaman dalam bentuk tulisan agar menjadi ‘jejak sejarah’ bahwa kita pernah ada dengan segala suka dukanya. Ingat, pesan Ali bin Abi Thalib, ikatlah ilmu (dan pengalaman,red) dengan menuliskannya. Ya, narasi panjang tentang  cerita hidup para pegiat kemanusiaan (termasuk pelestari lingkungan) akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka yang membaca dengan hati nurani. Wallahu a’lam bishowab. Salam Tangguh, Salam Lestari.[eBas/Jakarta diwaktu pagi usai hujan semalam, minggu-9/6]
      
      

Minggu, 26 Mei 2019

NGABUBURIT MENJADIKAN RELAWAN SEMAKIN SOLID


        Di bulan ramadhan, yang namanya ngabuburit itu telah menjadi sebuah ritual yang menyenangkan bagi mereka yang sempat meramaikan bersama sanak kerabat dan handaitolannya. Apapun bentuknya, yang penting bisa berbuka puasa bersama dengan riang gembira.

Begitu juga dengan SRPB JATIM, tidak mau ketinggalan. Dengan segala keterbatasannya mampu menggelar acara ngabuburit. Malah sampai tiga kali, sungguh luar biasa karena tidak diduga sama sekali, semua terjadi secara spontan atas nama kebersamaan. Ya begitulah, bersama kita bisa.

Pada hari yang disepakati, sejumlah komunitas relawan dan pegiat lingkungan alam, berkumpul di Griya Nirwana, Sumorame, sidoarjo, rumah Dian Harmuningsih, Koordinator sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana jawa timur (SRPB JATIM), kamis (23/5) sore, ngabuburit di rumah depan sawah.

Mereka meluangkan waktu untuk mengadakan acara buka bersama, dalam rangka menjalin tali silaturahmi antar berbagai komunitas yang hadir, sekaligus merencanakan bersama program SRPB JATIM pasca lebaran 2019.

Acara yang dihadiri oleh Sugeng Yanu, mantan kepala seksi PK di BPBD Provinsi Jawa timur, digelar secara nonformal sambil lesehan. Mereka saling ngobrol menunggu saat adzan magrib, memperkenalkan diri dan menceritakan program organisasinya. Siapa tahu mereka bisa saling mereplikasi program sesuai kemampuan dan potensi yang ada.

Sementara Dian, sebagai tuan rumah tampak sibuk ngurusi konsumsi. Dosen UIN ini dibantu Sri dan Ocha, menyiapkan menu istimewa untuk buka puasa. Ada lodeh manisah, Sambel terong, Sayur Kepiting, Sayur Mujahir dan iwak Pe rasa pedas, Es cao, Es tebu, dan legen segar, siap disantap bersama.

Sambil menikmati aneka gorengan dan buah semangka, Basuki, salah seorang pengurus, mengawali diskusi dengan menyampaikan usulan rencana kegiatan bulan Juni 2019. Diantaranya, mengadakan Halal bi Halal Lintas Komunitas yang mengambil tempat di Joka, Sedati, Sidoarjo, Program TOT untuk Relawan, dan Arisan ilmu dengan materi Seputar Masalah Hipotermia.

“Kegiatan pasca lebaran merupakan upaya peningkatan kapasitas relawan sebagai fasilitator pelatihan, dan penyuluhan maupun sebagai pembicara dalam sebuah sarasehan,” Ujarnya,

Sementara, Sugeng Yanu, salah seorang inisiator terbentuknya SRPB JATIM mengatakan, acara semacam ini perlu diadakan sebagai upaya menyamakan pemahaman tentang gerak langkah SRPB JATIM dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan dibidang penanggulangan bencana maupun sosialisasi pengurangan risiko bencana.

Sugeng, yang juga sebagai asesor dibawah LSP-PB, berharap agar SRPB JATIM berperan sebagai relawan yang memiliki kegiatan sendiri yang tidak mengganggu programnya BPBD, sehingga tidak dianggap merebut kaplingnya orang lain (seperti anggapan oknum yang tidak suka dengan kehadiran SRPB JATIM)

Dia juga berharap pengurus bisa melakukan koordinasi antar relawan dengan pemerintah tanpa harus menghilangkan peran masing-masing organisasi, serta relawan yang berperan sebagai masyarakat yang memiliki hak untuk berkegiatan di dalam penanggulangan bencana, seperti yang diamanatkan dalam UU 24 tahun 2007.

Dengan demikian acara kumpul-kumpul seperti ini akan menambah wawasan relawan untuk melaksanakan perannya sebagai anggota SRPB JATIM dengan segala aturan yang ada di dalam statuta hasil kongres I di kota Malang.

“Kumpul-kumpul kayak gini ini, selain sebagai media silaturahim dan berbagi informasi.juga diharapkan bisa memunculkan gagasan inovatif terkait upaya peningkatan kapasitas relawan serta menampakkan keberadaan SRPB JATIM agar semakin dikenal oleh khalayak ramai,” Katanya.

Apa yang dikatakan Sugeng, diamini oleh Andreas, wakil dari Organisasi Relawan Surabaya. Bahwa pertemuan semacam ini memang diperlukan untuk memperkuat soliditas dan kebersamaan relawan dalam melakukan kegiatan.

Disamping itu pertemuan secara berkala ini juga bisa dijadikan untuk melakukan evaluasi program yang sudah berjalan maupun membahas issue-issue terkini untuk dijadikan bahasan dalam kegiatan Arisan Ilmu, sehingga tema yang diangkat selalu aktual.

“Semoga acara buka bersama yang digelar secara spontanitas bisa menjadi media tumbuhnya kesadaran ikut memiliki SRPB JATIM beserta program-programnya yang selama ini, kata Pak Sugeng masih dalam jalur yang sesuai dengan semangat kongres dulu,” Tambahnya. [eBas].

Sabtu, 18 Mei 2019

NGABURESIK DI PANTAI KENJERAN


Konon, istilah ngabuburit itu adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang  dalam rangka menunggu saat berbuka puasa dibulan romadhon. Bentuknya bisa bermacam-macam sesuai selera. Ada yang sekedar jalan-jalan keliling kota, ada yang cangkruk’an di cafĂ© atau warkop, ada pula yang ngobrol di taman kota dan kegiatan lain yang menyenangkan.

Begitu juga dengan kawan-kawan komunitas pecinta alam, mereka dengan kreativitasnya membuat acara NGABURESIK, plesetan cerdas dari ngabuburit sambil resik-resik. Konon, kesepakatan ngaburesik itu dibuat di emperan toko, saat kumpul-kumpul sambil ngopi mempererat tali silaturahim.

Ya, mereka sepakat berkegiatan menunggu saatnya berbuka sambil melakukan hal-hal yang positif menjaga kebersihan pantai dari sampah plastik. Lokasinya di pantai kenjeran. Tepatnya, disekitar “Taman Suroboyo” yang belum diresmikan, masih tahab finishing, namun sudah diramaikan oleh pengunjung dan pedagang.

Kegiatan ini diikuti oleh beberapa komunitas, mereka secara spontan bersinergi membangun aksi bersih-bersih. Pinjam istilahnya Cak nDaru, sinergitas tak pandang golongan atau komunitas. Semua lebur oleh keragaman, namun satu tujuan yang sama. Surabaya harus bebas dari sampah plastik.

“Pantai Kenjeran ini kita jadikan titik awal kegiatan bersih-bersih sampah plastik sampai terlihat hasilnya, baru bergeser ke tempat lain,”Kata Ki Rebo, saat melakukan evaluasi kegiatan ngaburesik sambil menikmati hidangan buka puasa, hasil sumbangan dari donatur.

Masih kata Ki Rebo, jika memungkinkan kegiatan ini ditindak lanjuti dengan melakukan edukasi kepada masyarakat agar tumbuh kepedulian terhadap sampah, dan kebersihan lingkungan. Termasuk mengupayakan penambahan tempat sampah di beberapa sudut taman sekitar pantai. Pemasangan rambu-rambu larangan buang sampah sembarangan. Pemasangan poster ajakan peduli sampah. Seperti, “Kebersihan Sebagian dari Iman”, “Arek Suroboyo Peduli Sampah, “Warga Surabaya Cinta Lingkungan Bersih, Nyaman dan Asri”, dan lainnya sesuai kreativitas kawan-kawan.

Kegiatan yang digelar hari sabtu pon (18/5) itu sedikit banyak telah memunculkan semangat bersama untuk menindak lanjuti. Dan kawan-kawan Sahabat pena ditunjuk sebagai ‘Leading sector’ (starter) program ini, sesuai konsep yang digaungkan oleh BNPB, “Kita Jaga Alam-Alam Jaga Kita”.

Untuk merealisasikannya, tentu diperlukan komunikasi yang harmonis dan setara antar komunitas. Mengingat upaya edukasi masalah lingkungan dan kebersihan untuk mewujudkan Surabaya bersih dari sampah (plastik), itu bukan hal yang gampang. Perlu proses panjang dan berkesinambungan.

Tidak ada salahnya jika dokumentasi kegiatan ngaburesik itu di share kemana-mana sebagai upaya menebar virus peduli sampah plastik. Dimana, konon Indonesia adalah penghasil sampah (plastik) terbesar ke dua di dunia. Untuk itulah upaya penyadaran akan dampak sampah plastik perlu segera dilakukan. Sukur-sukur jika Sahabat Pena berkenan melaporkan kegiatan ini kepada penguasa Surabaya, agar mereka tahu dengan harapan kedepan mereka mau membantu.

Terkait dengan ngaburesik ini, Ki Rebo, mengatakan bahwa ini kegiatan yang sangat positif, mengajarkan kepada diri sendiri dan masyarakat akan pentingnya lingkungan yang nyaman dan aman. Nyaman dari polusi sampah, da n aman dari akibat yang ditimbulkan oleh polusi sampah.

Beliau juga mengatakan, salut kepada rekan-rekan Sahabat Pena yang memulai mengajak kepada kita arti pentingnya Kota Surabaya Bebas dari Sampah. Artinya, aksi ngaburesik yang tercetus di bulan yang penuh mahfiroh dan barokah ini hendaknya benar-benar bisa menjadi titik awal gerakan bersih sampah.

Di sisi lain, menurut Cahyo dari grup Federal, mengingatkan bahwa sampah plastik yang banyak menyangkut di pangkal pohon bakau di kawasan wisata konservasi mangrove wonorejo, sangat membahayakan kesuburan pohon bakau dan menghambat pertumbuhan tunasnya. Hal ini mengingat, keberadaan mangrove itu konon berfungsi sebagai penghambat terjadinya abrasi, banjir rob dan pemecah gelombang tsunami hingga 80%.

“Hal ini kiranya juga perlu menjadi perhatian dan peran serta komunitas pecinta alam yang selalu peduli terhadap kerusakan lingkungan,” Ujarnya.

       Rembang petang pun beranjak malam. Keramaian taman di malam minggu mulai terasa, ditingkah suara asongan menawarkan dagangannya untuk mengais rejeki malam minggu. Lamat terdengar adzan isya’ memanggil umat-NYA untuk ke masjid. Beribadah malam, mengharap ridho, ampunan dan pahala NYA.

Satu-satu peserta ngaburesik balik kanan, kembali pulang membawa selaksa kenang, sambil berharap pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk merancang aksi yang semakin berisi, bisa segera datang. Semoga langkah kecil ini merupakan awal dari langkah besar yang bermakna bagi upaya pelestarian lingkungan alam. Wallahu a’lam bishowab. Salam Lestari. [eBas]  




Selasa, 14 Mei 2019

SRPB JATIM TIDAK PUNYA DUIT, TAPI BISA DO IT


       “Cak, sampiyan tahu gak, kemarin pas terjadi bencana banjir di beberapa kota di jawa timur, banyak organisasi relawan yang turun membantu dengan membawa logistik cukup  dan perlalatan rescue yang memadai, termasuk ada yang membawa mobil dapur umum, “ Kata mas Dalbo mengawali obrolan malam di warung kopi langganan.

“Iya, kata teman-teman yang sudah di lokasi sejak awal juga bilang bahwa mereka datang lebih dulu sebagai bentuk emergency respon dari pada yang lain,” Kata Cak Mukidi menjawab sambil membaca Koran Memo, Koran kesayangannya. Korang yang selalu memuat peristiwa perkosaan dan kriminalitas.

“Lha kapan lho SRPB bisa membeli mobil dapur umum dan perahu karet?. Masak SRPB kalah dengan yang lain.” Ujar mas Dalbo penuh selidik.
lha dalah, sebuah pertanyaan lugu dari mereka yang belum tahu, termasuk mas Dalbo ini. Ya wajarlah, sebagai orang yang baru bergabung menyangka jika SRPB JATIM itu terdiri dari kaum beruang yang punya duit banyak.

Mas Dalbo juga menganggap bahwa SRPB JATIM itu sama dengan organisasi relawan lain yang donaturnya banyak berlimpah duit lebih, sehingga bisa bergerak kemana-mana, kapan saja dengan dukungan logistik dan peralatan yang lebih dari cukup. Oalah mas Dalbo sampiyan kok ya ada-ada saja.

Kantor Sekretariat saja belum punya, masih tergantung kepada kebaikan pihak lain yang berkenan meminjamkan tempat untuk beraktivitas dan bersilaturahmi, dalam rangka membangun sinergitas antar organisasi relawan, berbagi informasi dan saling tukar pengalaman sebagai upaya meningkatkan kapasitas relawan penanggulangan bencana. Peralatan pun juga masih milik masing-masing individu.
        
        Ya, sesungghnyalah SRPB JATIM itu memang tidak punya duit, yang dimiliki adalah semangat untuk berbagi dan berekspresi, serta ber ‘ do it ‘ secara bersama-sama untuk kemaslahatan bersama, dan ternyata, ketika semuanya dilakukan bersama-sama dengan penuh komitmen, maka semuanya bisa terlaksana.

Contoh kongkritnya adalah kegiatan Arisan ilmu Nol Rupiah yang sudah digelar berkali-kali sebagai media menambah wawasan dan pengetahuan. Tanpa mengandalkan dana besar, ternyata kegiatan itu tetap bisa berjalan tanpa mengurangi makna untuk belajar.

Begitu juga saat berkeinginan mengadakan baju dan kaos seragam. Semua dibicarakan bersama untuk mufakat, baru kemudian dengan modal semangat rencana itu di eksekusi untuk urunan bagi mereka yang berkenan untuk memiliki baju dan kaos seragam. Tidak ada paksaan untuk memiliki. Sehingga issue diluar sana yang mengatakan bahwa SRPB JATIM itu dananya di support oleh BPBD adalah salah besar dan ngawur pol.

Cak Dalbo hanya mecucu saat dijelaskan apa itu SRPB JATIM dengan segala suka dukanya, karena belum semua elemen mau mengakui dan menerima kehadiran SRPB JATIM. Semuanya terjadi dikarenakan sentimen pribadi, mungkin juga sakit hati karena kalah pinter, takut tersaingi, dan takut kalah popularitas. Sungguh, SRPB JATIM lahir bukan untuk itu. Semua terjadi karena salah persepsi semata karena jarang duduk bareng, ngopi bersama.

Sekali lagi, SRPB JATIM lahir untuk mempererat tali silaturahmi serta memperluas jejaring kemitraan antar relawan, pegiat alam, pekerja kemanusiaan, dan pemerintah yang membidanginya. keberadaannya merupakan wadah untuk saling belajar dan tukar pengalaman dibidang kebencanaan. Tidak menutup kemungkinan sebagi tempat terjadinya transaksi ekonomi dan siapa tahu juga sebagai ajang pertemuan jodoh, utamanya bagi yang masih jomblo.

Bisa keberadaannya berperan sebagai katalisator yang menjembatani antara keinginan dan kebutuhan relawan dengan pihak-pihak terkait dalam rangka peningkatan kapasitas, sehingga memudahkan pendataan, pembinaan dan mobilisasi organisasi relawan jika tugas-tugas kemanusiaan memanggilmya untuk turun membantu sesamanya yang sedang dilanda bencana.

“Nah, agar sampiyan memahami dan tidak salah paham dengan apa itu SRPB JATIM, monggo sampiyan sering mengikuti dan terlibat dalam kegiatannya. Ini penting agar sampiyan juga bisa turut menjelaskaan kepada mereka yang tidak tahu dan sok tahu, apa itu SRPB JATIM dengan segala keterbatasannya. Karena sesungguhnyalah di SRPB JATIM itu selalu diupayakan agar tidak ada dusta diantara kita,” Kata Cak Mukidi menyudahi obrolan hangat malam itu karena harus segera pulang untuk menunaikan solat tahajud dan persiapan makan sahur bersama keluarga kecilnya. [eBas/selasa-14/5, malem ke sepuluh bulan romadhon 1440]  




………………………………………………
   

Minggu, 12 Mei 2019

DESK RELAWAN, SEBUAH KONSEP YANG MASIH PREMATUR UNTUK DILAKSANAKAN


           “Lha kayak beginilah seharusnya desk relawan itu. Berperan dalam membantu pendataan, khususnya data tentang keberadaan relawaan yang ikut turun dalam operasi penanggulangan bencana,”  Kata Mukidi, ketika meninjau lokasi bencana  sekaligusmemberikan bantuan sembako. Mas Muk, begitu panggilannya, juga menyempatkan mampir di tenda  desk relawan, yang didirikan atas inisiatif relawan mitra SRPB JATIM.


Berawal dari cuplikan cerita pengalaman Mukidi melihat proses kegiatan desk relawan di lapangan yang mendapat sambutan menyenangkan dari berbagai pihak, termasuk BPBD. Semua itu karena relawannya bisa ‘berdiplomasi” dengan meyakinkan tentang konsep desk relawan hasil bahasan di acara Dharma Relawan Adhirajasa, di Buleleng, Provinsi Bali.

 Obrolan malam pasca acara Arisan Ilmu tentang Memanen Air Hujan bersama Komunitas Banyu Bening, dari Jokja, mengalir begitu saja tanpa topik, yang penting ngobrol sambil nikmati gorengan sisa acara. obrolan terus mengalir tanpa moderator, juga tanpa menunggu pengampu dari pihak tertentu.

Di dalam konsep desk relawan, keberadaannya itu diantaranya adalah mendata relawan yang datang untuk membantu menangani bencana. Yang perlu didata itu diantaranyan, nama relawan, nama organisasi relawan, jumlah personil, kemampuan yang dimiliki, logistik dan peralatan yang dibawa, berapa hari mereka akan beroperasi di lokasi, dan lainnya.

Kemudian, data tersebut diserahkan ke posko induk untuk dijadikan bahan laporan maupun untuk menyusun kebijakan rencana operasi selanjutnya, terkait dengan pemberian tugas relawan. Misalnya menugaskan relawan untuk melakukan evakuasi, melibatkan relawan membantu di dapur umum, membantu pendistribusian logistik, pencatatan keluar masuknya bantuan dari masyarakat dan lainnya. Harapannya, operasi penanggulangan bencana dapat berjalan tertib , efektif, efisien, dan terukur. Sehinga tidak ada dusta diantara mereka.

Sesungguhnyalah konsep desk relawan itu perlu dikaji kembali kesangkilan dan kemangkusannya setelah dilakukan ujicoba operasional dalam penanganan bencana. Harus ada acara duduk bersama antar berbagai elemen untuk melakukan evaluasi pasca ujicoba desk relawan di atas, sebagai upaya menggugah kesadaran tentang upaya membumikan konsep desk relawan.

Seperti diketahui, keberadaan desk relawan baru bisa berjalan sesuai gagasan awal, jika di masing-masing Kabupaten/Kota sudah terbentuk Sekber Relawan yang akan bertanggungjawab terhadap aktivitas desk relawan (yang jika memungkinkan bisa didampingi oleh sekber provinsi). Untuk itulah perlunya ada kegiatan sosialisasi. Baik tentang konsep desk relawan, maupun perlunya pembentukan sekber di masing-masing kabupaten/kota (sukur-sukur bisa difasilitasi oleh pemda setempat). sebuah harapan yang "masih jauh panggang dari api"

Dalam obrolan tanpa konsep itu, Sebagai orang yang paham tentang manajemen bencana, Mukidi juga bilang, bahwa relawan yang berinisiatif mendirian desk relawan haruslah berkoordinasi dengan BPBD setempat. Perlu atau tidaknya tenda desk relawan didirikan itu harus berdasar pada hasil kaji cepat dan disetujui oleh BPBD setempat. 

Jika disetujui, maka desk relawan bisa melakukan tugas-tugasnya di tenda tersendiri yang difasilitasi oleh BPBD, dimana, tendanya dekat dengan tenda posko induk untuk memudahkan koordinasi, terkait dengan perkembangan situasi, kondisi dan data terbaru yang didapat oleh relawan di lapangan.

Setelah pasca bencana, dimana seluruh operasi penanggulangan bencana ditutup, maka harus ada evaluasi bersama tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, untuk kemudian dijadikan bahan penyusunan laporan. Baik itu laporan tentang efektitas pelaksanaan desk relawan, maupun laporan yang berkaitan dengan administrasi secara keseluruhan.

Pertanyaannya kemudian, maukah organisasi relawan yang ada di daaerah itu dikoordinir dalam satu sekretariat bersama tanpa menghilangkan ‘keunikan’ masing-masing organisasi ?. Pertanyaan ikutan lainnya adalah, Apakah konsep desk relawan ini akan disambut gembira oleh relawan dan BPBD ?. atau sedekar indah di wacana dan baru dicobalaksanakan setelah ada pihak yang mengampu. 

disinilah perlunya ada dialog yang hangat dan berkesinambungan diantara berbagai elemen yang akan menjalankan sekber dan desk relawan. Semua itu perlu untuk membangun kesepahaman dan membuang sikap “like and dislike” antar personil yang dianggap berbeda. tanpa itu, sangat rawan konflik karena beda pemahaman Wallahu a’lam bishowab [eBas/simpulan obrolan semalam pasca Arisan Ilmu tentang dongeng memanen air hujan dari komunitas banyu bening Jokja yang punya motto, ngombe banyu udan ben ora edan-13/5]








  


  

Minggu, 28 April 2019

TAMAN HARMONI SEBAGAI PUBLIC SPHERE UNTUK BERBAGI INFORMASI


Taman Kota adalah taman yang berada di lingkungan perkotaan yang dapat dinikmati oleh seluruh warga kota untuk saling bertegur sapa sambil olah raga, atau bersantai bersama keluarga maupun komunitasnya. Bisa dikatakan, Taman Kota, selain berfungsi untuk menjaga kualitas lingkungan, keberadaannya juga dapat menumbuhkan rasa sosial dan menumbuhkan toleransi dan rasa peduli, terhadap sesama manusia maupun mahkluk hidup lainnya, dalam rangka mendukung upaya pelestarian alam (termasuk flora dan fauna).

Begitu pula keberadaan Taman Harmoni yang terletak di kawasan Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Setiap hari minggu selalu diramaikan oleh warga dari berbagai daerah untuk berbagai kegiatan. Keasrian dan keindahannya menjadi jujugan penggemar fotografi untuk mengabadikan berbagai gaya dan peristiwa.

Tidak jarang berbagai komunitas pun menjadikan arena Taman Harmoni menjadi tempat berkumpul, berinteraksi antar anggotanya. Misalnya, Ibu-ibu PKK menggadakan arisan atau makan bersama dalam rangka syukuran, Komunitas Penggemar Satwa, juga memanfaatkan Taman untuk bertukar informasi tentang cara merawat satwa dan bahkan bisa menjadi ajang jual beli jika ada kesepakatan harga. Tidak jarang Pramuka dan PMI juga memanfaatkan keberadaan taman untuk latihan atau sekedar berkoordinasi.

Ya, Taman Harmoni dan taman kota lainnya itu sejatinya adalah ruang terbuka untuk masyarakat (public sphere). Alan McKee (2005) yang disitir di lamannya aryakusuma17.blogspot.com, menyatakan beberapa pengertian tentang public sphere sebagai berikut, Ruang publik adalah suatu wilayah hidup sosial di mana suatu pendapat umum dapat dibentuk diantara warga negara, berhadapan dengan berbagai hal mengenai kepentingan umum tanpa tunduk kepada paksaan dalam menyatakan dan mempublikasikan pandangan mereka.

Dinyatakan pula bahwa Ruang publik adalah ruang dimana percakapan, gagasan, dan pikiran masyarakat bertemu. Atau, tempat di mana informasi, gagasan dan perberdebatan dapat berlangsung dalam masyarakat dan pendapat politis dapat dibentuk.

Sebagai ruang terbuka, maka keberadaan Taman juga bisa digunakan untuk mengedukasi pengunjung taman tentang informasi yang perlu diketahui oleh khalayak ramai. Seperti yang dilakukan oleh Komunitas MTI yang mengadakan sosialisasi Kesiapsiagaan Keluarga (menghadapi bencana, red), dalam rangka meramaikan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh pada tanggal 26 April 2019.

Kegiatan yang dilakukan pada hari minggu (28/4) itu, MTI menampilkan Pojok Pengetahuan, yang berbicara tentang pengetahuan kebencanaan yang kita perlukan.  Pojok Keluarga Siaga, membahas tentang pentingnya setiap keluarga dan masyarakat sadar budaya tangguh bencana. Pojok Tas Siaga, yaitu pengetahuan akan barang apa saja yang harus dimasukkan ke dalam tas siaga agar mudah menyelamatkan disaat terjadi bencana. Ada pula Pojok Skill Building, yaitu informasi tentang bagaimana supaya bangunan aman ketika ada gempa. Tidak lupa aktivis MTI juga mendemonstrasikan media permainan edukatif dan menyediakan souvenir cantik.

Tentu upaya berbagi informasi ini tidak sekali jadi. Namun terus berproses dan dilakukan secara berkala. Disinilah, diperlukan ketangguhan dari aktivis MTI untuk mengedukasi masyarakat yang pada kenyataannya belum peduli terhadap masalah bencana. Surabaya yang jelas-jelas dilewati sesar Surabaya yang berpotensi menimbulkan gempa besar (berdasar hasil penelitian), masyarakat masih banyak yang belum percaya.

Ini terjadi karena Surabaya tidak memiliki pengalaman sejarah tentang gempa yang hebat. Inilah tantangan aktivis MTI untuk meyakinkan masyarakat Surabaya dengan memanfaatkan keberadaan Taman Kota sebagai public sphere. Wallahu a’lam bishowab. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/minggu pon-28/4] 






Kamis, 25 April 2019

SAMPAH PLASTIK DAN KONDOM JUGA ADA DI GUNUNG


          Ternyata, masalah sampah sudah merambah ke wilayah gunung dan hutan. Sampah yang banyak berserak itu adalah bawaan wisatawan. Hal ini tidak lepas dari kesadaran wisatawan yang masih membuang sampah sembarangan. Padahal sudah disediakan tempat sampah, serta tulisan-tulisan peringatan, tapi pengunjung tidak disiplin. Perlu waktu untuk mengedukasi masyarakat pecinta outdoor activity.
          
          Umumnya, sampah itu berupa tas kresek, plastik bungkus roti, bungkus mie instan, tisu, botol minuman, bungkus dan puntung rokok. Tidak jarang ponco, sepatu, sandal dan pakaian yang rusak juga dibuang, daripada ‘ngabot-ngaboti bawaan’, begitu pikirnya.

Bahkan yang memprihatinkan, dalam postingannya Ochars Journey, yang mengikuti kegiatan  Srikandi Bijak Sampah 2019 oleh Trashbag Community DPD Jawa Timur, tanggal 21 Aprl 2019, menemukan kondom bekas di daerah Putuk Lesung, Gunung Arjuno.

Ya, fenomena penemuan kondom bekas pakai di lokasi wisata hutan dan gunung tampaknya semakin banyak (dan mungkin dianggap wajar). Sementara kondom yang di Putuk itu kebetulan ditemukan yang kemudian diposting di media sosial. Ya, kondom identik dengan persetubuhan. Walau pun mungkin kondom digunakan untuk membungkus HP, dompet dan lainnya, namun ‘pikiran ngeres’  pasti tetap muncul, karena kondom itu dicipta untuk ‘bermain cinta’, tidak untuk yang lain.

Sungguh keterlaluan. Apakah ini salah satu bentuk kerusakan moral ?. memanfaatkan aktivitas wisata ke gunung dan hutan (mungkin juga di pantai) untuk berbuat tidak senonoh. Dengan meninggalkan kondom bekas pakai yang dibuang begitu saja, seolah-olah pelakunya ingin meninggalkan pesan bahwa dia adalah pemberani.

mungkin si oknum ingin menunjukkan bahwa dia berani melanggar mitos bahwa gunung (dan hutan) itu angker. Anggapan bahwa berbuat yang tidak santun di gunung akan mendapat celaka, oleh si oknum dipatahkan dengan melakukan persetubuhan. Tentunya si oknum melakukannya dengan suka sama suka, atas nama cinta. Atau si pelakunya itu benar-benar goblok dan teledor membuka aibnya sendiri dengan membuang kondom sembarangan. Duh, sungguh memprihatinkan.

Kelakuan oknum yang tidak patut ditiru ini sedikit banyak akan menyebabkan munculnya anggapan dari khalayak ramai bahwa aktivitas alam bebas identik dengan kebebasan yang melintasi batas moralitas. Pepatah mengatakan, akibat nila setitik, rusak susu sebelanga.

Padahal, sesungguhnyalah para aktivis pecinta alam, pemerhati lingkungan, komunitas peduli sampah dan relawan itu jasanya tidak ternilai. Mereka, atas nama kemanusiaan, menolong sesamanya dengan suka rela. Tanpa dibayar, mereka menginfaqkan tenaganya, waktunya, bahkan hartanya melakukan gerakan penghijauan, mangrovisasi, membersihkan sampah di sungai, di pantai, di hutan dan di gunung. Ya, merekalah pahlawan lingkungan, pahlawan kemanusiaan, yang seringkali karyanya dilupakan.

Tidak henti-hentinya mereka mengedukasi masyarakat dengan melakukan aksi bersih-bersih (di kawasan wisata) sebagai upaya menumbuhkan rasa memiliki sekaligus mencintai lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Seperti postingannya Ochars Journey yang mengatakan, “Jangan hanya menikmati keindahan alam saja, tapi juga cintai alam dengan tidak buang sampah sembarangan. Ingat, Gunung Bukan Tempat Sampah”. [eBas/kamis legi-26/4]