Sabtu, 03 Agustus 2019

EDT 2019 DALAM CATATAN SEORANG PENULIS

      Pemandangan gemunung Ijen, Pulau Madura, juga Bali menjadi penanda jumpa kali pertama Tim Ekspedisi Destana Tsunami (EDT) 2019 besutan BNPB di ujung timur Jawa, Pantai Boom Banyuwangi. Syukur tentu terucap, kegamangan juga tidak lekas pudar. Sementara Pantai Pulau Merah tetap tegar sebagai destinasi wisata.

Ratusan simpul komunitas relawan kebencanaan dalam jejaring SRPB (Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana) Jawa Timur, beberapa BPBD kabupaten/ kota, juga para personil BNPB bersapa sua di sana. selfi sana selfi sini, tentu dilakukan untuk membangun pertemanan, dan menguntai kenangan.

Waktu itu yang saya ingat, ada kecamuk rasa ragu, khawatir, juga penuh harap, seperti berdiri di tengah pasukan yang siap bertempur dengan berbagai baju kebesaran organisasi yang dibungkus rompi EDT 2019 yang mbois, siap menapaktilasi jejak Tsunami agar masyarakat siap menghadapi secara mandiri.

Dalam gelap (maksudnya temaram cahaya karena minimnya pasokan listrik di tenda), angin laut yang dingin, sekaligus kehangatan kopi dan guyon Jawa Timur-an, para relawan EDT 2019 menyiapkan segalanya demi langkah pertama ini.

Langkah yang ternyata terjal, penuh kerikil, debu, duri, yang seringkali menjadi sebab kaki yang limbung dan tubuh yang terluka, lecet-lecet. Namun semua terlewati atas nama kebersamaan, rasa senasib sepenanggungan yang menguatkan kita disela perasaan ‘jaim’ karena belum saling kenal.

Dari satu pantai ke pantai lain, dari satu tutur tersisa tentang tsunami ke berbagai harapan ketangguhan masyarakat. Bersama-sama melahap jarak menembus Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagunng, Trenggalek, sampai dengan Pacitan, tak terasa luka itu sudah mengering, berganti tawa ria yang nyaring. Rebutan nasi kotak dan tidak kebagian jajanan adalah romantika yang kelak akan indah untuk dikenang.

Masing-masing daerah berbeda cara menyambut Pataka EDT 2019, sesuai kearifan lokal yang ada disana. Namun semua tidak mengurangi makna yang diharapkan dalam program yang baru tahun ini diadakan. Tentu, disela gelaran hiburan malam yang disuguhkan, terbersit harap semoga tahun depan lebih tertata lagi.

Herannya, bukannya lelah dan menyerah, para pejuang kemanusiaan ini malah makin heroik melakukan sosialisasi dan edukasi tentang adanya potensi bencana Tsunami kepada masyarakat pesisir selatan Jawa. Dengan gayanya sendiri mereka melakukan interaksi dengan masyarakat sambil ngopi (ngobrol pintar), bicara tentang kebiasaan setempat jika ada bencana seperti banjir rob atau longsor.

Rasanya jadi sulit membedakan mana dia masyarakat, pemerintah, media, akademisi, dan dunia usaha, yang seringkali berdiri di 5 sudut berbeda dalam aktor pentahelix kebencanaan. Warga Pacitan yang menyediakan kulineran ala pasar rakyat yang dilanjut dengan cerita-cerita di lingkaran api unggun, merekatkan jiwa persaudaraan para relawan.

Rabu, 24 Juli 2019. Hari ke-12, kilometer ke sekian ratus, Pataka EDT 2019 telah berpindah kesembilan kalinya. Pasukan yang siap bertempur waktu itu, merayakan satu kemenangan kecilnya. Lelah menguap, luka-luka memudar, gelak tawa mengembang di lapangan Desa Cemeng, Donorejo, kabupaten Pacitan.

Jalan terjal yang dulu agak membuat gentar itu, mampu dibakar oleh ketangguhan arek-arek SRPB JATIM yang berapi-api itu. Hanya ada satu kata, EDT 2019 segmen Jatim harus sukses. Semoga kemenangan kemarin, menjadi lecutan karya dalam memberi makna pertempuran-pertempuran selanjutnya.

Sudah waktunya aktor-aktor Pentahelix bersatu padu melanjutkan jejak langkah yang ditinggalkan peserta EDT 2019 dalam sebentuk aksi mengedukasi masyarakat secara berkala agar terbangun budaya tangguh menghadapi bencana. edukasi dan simulasi menghadapi bencana harus diadakan secara berkala, bukan sekali saja terus dianggap sudah bisa.

Salam hormat dan salut untukmu para relawan, juga warga Jawa Timur. Langkah awal di ujung timur pesisir selatan Jawa ini, semoga bisa menginspirasi daerah lain sekaligus memantapkan langkah ekspedisi selanjutnya.

Pataka EDT 2019 telah berpindah. Kini waktunya relawan Jawa timur melepas lelah. Sementara relawan Jogja, Jawa tengah, Jawa Barat dan Banten telah siap meneruskan langkah. Tapi ingat, perjuangan jangan pernah punah. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan *[Rts]

Jumat, 02 Agustus 2019

Gempa dan Tsunami Terdahsyat di Indonesia Selama Dua Dekade


Indonesia sebagai negara kepulauan perlu untuk beradaptasi dan mewaspadai gempa yang bahkan bisa diikuti tsunami. Widjo Kongko, pakar tsunami sekaligus pejabat Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan adanya potensi gempa megathrust di pesisir Jawa. Pernyataannya menjadi perbincangan masyarakat dan banyak pihak.

“Ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Akibatnya, ada potensi gempa megathrust dengan magnitude 8,5 hingga 8,8,” ujarnya di Yogyakarta pada Kamis (19/7).

Indonesia memang rentan mengalami gempa bumi. Apalagi letak negara ini yang berada di lingkaran cincin api (ring of fire). Dalam satu bulan, terjadi sekitar 400 kali gempa bumi di Indonesia. Sebab secara geologis, wilayah Indonesia terletak pada pertemuan lempeng Benua Eurasia, lempeng Samudra Indo-Australia, dan lempeng Samudra Pasifik.

Jika dirunut ke belakang, sebenarnya sejak tahun 1700an, BMKG mencatat telah terjadi gempa bumi di Indonesia, sehingga ritme ini akan berulang. Indonesia sebagai negara kepulauan perlu untuk beradaptasi dan mewaspadai gempa yang bahkan bisa diikuti tsunami kapan pun. Sebab dalam 20 tahun terakhir, Indonesia telah kehilangan ratusan ribu nyawa akibat bencana ini.

Penulis: Yosepha Pusparisa  Editor: Aria W. Yudhistira




Manajemen Risiko Bencana Berbasis Masyarakat

Salah satu penyebab semakin parahnya dampak bencana adalah lemahnya strategi penanggulangan bencana, terutama karena prosesnya yang berjalan dari atas ke bawah (top-down) dan mengabaikan potensi sumberdaya masyarakat setempat. Pengabaian terhadap kapasitas masyarakat itu kadang juga meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap risiko bencana.

Karena hal tersebut di atas muncul manajemen risiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management) yang pada dasarnya menegaskan bahwa program manajemen risiko bencana perlu menggunakan pendekatan berbasis komunitas.

Dalam hal ini masyarakat diberi kesempatan kesempatan lebih luas dan peran lebih aktif dalam manajemen risiko bencana. Ini berarti masyarakat dengan tingkat kerentanan yang tinggi akan dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan manajemen resiko bencana.

Pelibatan masyarakat dilaksanakan dari tindakan pencegahan, langkah-langkah kesiap-siagaan, tindakan tanggap bencana, serta tindakan pemulihan setelah terjadi bencana. Pendekatan ini percaya bahwa bahwa masyarakat yang selalu waspada dan siap menghadapi resiko bahaya yang mungkin terjadi di lingkungan mereka, cenderung lebih tahan banting, serta mampu meningkatkan ketahanan diri mereka sendiri.

Setiap individu, masyarakat akan terlibat aktif dalam mengenali berbagai ancaman yang ada di wilayahnya, bagaimana mengurangi ancaman atau bahaya dan kerentanan yang dimilki, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman.

Bahwa, masyarakat adalah elemen terpenting dalam pelibatan kewaspadaan akan resiko bencana. Bahwa masyarakat harus di EDUKASI dengan memperhatikan kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat.

Kondisi yang terjadi di lapangan, tidak semua masyarakat paham dan mengerti apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana datang. Upaya2 dari stakeholder kebencanaan menjadi hal yang amat vital untuk duduk bersama memikirkan dan melakukan aksi nyata dalam pengurangan resiko bencana.

Kamis, 01 Agustus 2019

BNPB MENAWARKAN PENTAHELIX UNTUK SOLUSI PRB


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, menjelaskan penerapan konsep Pentahelex itu harus melibatkan lima pihak yakni akademisi (academician), pelaku bisnis (business), komunitas (community), pemerintah (government), dan media. Jika kelima unsur tersebut dapat bersinergi maka mitigasi risiko di Indonesia akan berjalan dengan baik.

"Kata kuncinya tetap sama: gotong royong yang merupakan implementasi dari sila Pancasila," katanya di puncak peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2019 yang di gelar di Sesko AU, Lembang, Jawa Barat, Jumat (26/4/201).

Letjen Doni Monardo seusai penanaman mangrove di Pantai Laguna Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah dalam rangkaian Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019 pada Selasa (30/7/2019) mengungkapkan masyarakat pesisir agar segera mencari tempat yang aman apabila terjadi gempa skala besar.

Terlebih jika gempa terjadi dalam jangka waktu lama dan berpotensi menyebabkan tsunami. Ia juga mengungkapkan semua daerah tak punya alat deteksi dini tsunami.
"Ketika ada gempa tidak semua daerah mempunyai sistem peringatan dini, tidak semua masyarakat pakai Hp. (Maka) masyarakat diajari kalau ada gempa besar dengan waktu relatif lama tidak usah menunggu peringatan dini," kata Doni.

Doni menambahkan jika gempa dalam durasi lama maka secepatnya masyarakat di pesisir meninggalkan lokasi dan pergi menyelamatkan diri sejauh mungkin. Sebab masyarakat hanya diberi tenggat waktu tiga menit saja untuk menyelamatkan diri.

"Karena tidak semua daerah punya peringatan dini, kalau yang punya (sistem) peringatan dini alhamdulillah. Kalau yang tidak punya, otomatis kesadaran segera tinggalkan kurang dari tiga menit," ujar Doni.

Saat gempa dan tsunami di Palu, peringatan dini baru keluar pada menit kelima usai terjadinya gempa.

Dalam kesempatan itu Doni juga meminta para pemilik resort maupun hotel di kawasan pesisir agar membangun sistem keamanan demi keselamatan bersama saat gempa dan tsunami terjadi.

Doni lantas menuturkan agar tiap-tiap insan menyadari jika Indonesia rentan terjadi gempa dan tsunami. "Presiden dua minggu yang lalu mengatakan, sampaikan apa adanya," kata Doni seusai penanaman mangrove di Pantai Laguna Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, dalam rangkaian Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019, Selasa (40/7/2019).

Doni menyebutkan rentetan bencana gempa dan tsunami yang terjadi di masa lalu. Antara lain tsunami yang terjadi 19 Agustus 1977 di Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali dan Jawa Timur.

"1992 tsunami di Flores, korbannya sangat banyak. Kemudian 1994 kejadian di Banyuwangi. Kalau dilihat lagi, mendekati kemarin di Aceh tahun 2004, kemudian Nias, Mentawai, Enggano, Selat Sunda dan terakhir Pelabuhan Ratu," kata Doni.
Ribuan tahun yang lalu, lanjut Doni, juga pernah terjadi tsunami besar seperti di Aceh. Bahkan bencana tersebut tidak hanya terjadi sekali saja.

"Suatu saat akan terulang, karena alam mencari keseimbangan. Terjadilah gesekan, pergerakan lempeng, maka timbul pelepasan energi gempa lebih dari 8 skala richter," jelas Doni.(*sumber; Kompas)

Selasa, 23 Juli 2019

CATATAN DARI EDT 2019 SEGMEN JAWA TIMUR


Pada acara evaluasi kegiatan ekspedisi destana tsunami (EDT) 2019, hari pertama, Lilik Kurniawan, Direktur Pemberdayaan Masyarakat sekaligus komandan Pengendali kegiatan, wajahnya agak ditekuk karena suntuk. Percampuran capek dan penat seharian mengawal kegiatan yang ternyata di luar ekspektasinya.

Evaluasi diadakan di tenda yang ditempati kawan-kawan dari sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana (SRPB) Jatim, dengan dukungan pencahayaan yang minimalis, alias remang-remang namun berjalan khitmad sambil duduk merapat, saling bersentuhan syahdu tanpa nafsu.

Disana, diwajahnya, terbersit rasa kecewa. Bahkan saat membuka evaluasi, beliau sempat bilang “Kegiatan hari ini gagal” Ucapnya tanpa ekspresi, menatap satu satu wajah yang hadir. Untung cahayanya minim sehingga tidak terlihat perubahan warna wajah beliau. Termasuk wajah Ning Chica dan mbak Sri, yang mengurusi logistik relawan.

Waduh, kaget juga mendengar vonnis pria yang saat ini sedang menyelesaikan program doktor di Universitas Brawijaya, Malang.  Mengapa Pak Lilik sampai bilang gagal ya?. Apakah karena target dari 48 Desa di Kabupaten Banyuwangi, hanya 19 Desa yang mengisi PKD (penilaian ketangguhan desa). jelas kurang dari 50%. Atau kecewa karena beberapa komunitas yang menyatakan bersedia hadir pada pembukaan EDT 2019, ternyata ‘Jauh Panggang dari Api’. langsung muntaber (mundur tanpa berita).

Jika hal tersebut di atas benar adanya, maka itu jelas bukan ranahnya relawan yang tergabung dalam SRPB JATIM. karena, jauh hari sebelum berangkat, relawan yang terdaftar sudah berniat ikut mensukseskan acara dengan menampakkan kinerja ‘ala relawan’. Ya, para relawan peserta EDT 2019 sudah melaksanakan agenda sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya bencana tsunami.

Walau tanpa ‘buku panduan turun ke lapangan’, relawan yang dibagi dalam beberapa kelompok kecil bisa menyelesaikan tugas, dan hasilnya di share di grup whatsApp. Semua dilakukan dengan kreativitas dan pengalaman masing-masing personil, dalam membangun komunikasi dengan warga setempat.

Ternyata, banyak warga (bahkan perangkat desa) yang tidak tahu jika daerahnya akan ‘dikunjungi’ relawan. sehingga mereka kurang siap menerima kedatangannya. Nah, kalau sudah begini, siapa yang gagal berkomunikasi ?. termasuk berkomunikasi untuk memobilisasi relawan lokal berpartisipasi memeriahkan acara yang baru digelar tahun bershio babi tanah ini.

Sambil menikmati kopi Banyuwangi dan jajanan yang dibagikan, kegiatan evaluasi berjalan gayeng. Sambil guyon tipis-tipis, walau lelah telah menggelayut di mata semua peserta, mereka tetap merencanakan kegiatan esok hari agar dapat berjalan lebih baik.

Seperti munculnya harapan agar BPBD daerah berikutnya melibatkan komunitas relawan lokal. Khususnya organisasi relawan yang memiliki banyak anggota. Seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Termasuk mengajak organisasi perangkat daerah untuk mendukung acara agar EDT 2019 di daerahnya semarak dan berkesan.

Kemudian, yang tidak kalah penting adalah BPBD menghubungi (mengkondisikan) daerah yang akan dijadikan sasaran sosialisasi dan edukasi bencana tsunami. Sungguh, jika harapan yang muncul dalam kegiatan evaluasi berteman kopi itu bisa direalisasi, tentu kegalauan Pak Lilik akan terpatahkan. Berganti senyum bahagia melihat dedikasi dan loyalitas seluruh elemen yang terlibat.

Alhamdulillah, di hari selanjutnya ada perubahan yang membahagiakan. Hal ini terlihat dari informasi relawan yang melakukan “Sambang Desa”. Dimana, masyarakat sangat antusias menyambut kedatangan ‘Pasukannya Pak Papang’ dengan konsep gupuh, lungguh, lan suguh.

Pasti Pak Lilik juga akan tersenyum (tidak kecut) melihat tingkah lucu Cak Amir dengan lagu andalannya, Sahara. Juga goyang RX King Kang Ardhi Obis serta Songkok super tinggi milik uztad Yoyok mBangilan, khas kultur Nahdiyin. Merekalah yang menghibur sekaligus menyemangati relawan lain agar tetap bahagia saat istirahan di tenda.

Tidak lupa, masing-masing kelompok mencatat hasil kegiatannya, pun ada yang memvidiokan untuk kemudian di upload lewat media sosial (WA, FB, dan IG). Termasuk Pak Lilik yang melakukan siaran langsung di Radio Bintang Tenggara Banyuwangi.

Semua ini dilakukan dalam rangka membantu BNPB/BPBD mengabarkan kegiatan eDT 2019 kepada khalayak ramai, akan pentingnya menumbuhkan kesadaran mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Khususnya kepada warga yang berdomisili di kawasan rawan bencana. Sekaligus bisa menjadi bahan pembelajaran bagi para pejuang kemanusiaan (pinjam istilahnya Pak Lilik), di berbagai daerah.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala BNPB di Pantai Boom, Banyuwangi ini semakin istimewa dengan kehadiran Pak Prof, begitu sebutan akrab Syamsul maarif, dosen Universitas Pertahanan. Beliau sempat merapat di sektor Jember, Lumajang, dan Malang. Bahkan melakukan wawancara langsung dengan warga terkait dengan potensi bencana yang ada serta kebiasaan mereka menghadapi bencana, sambil melihat rambu-rambu evakuasi di beberapa titik strategis.

“Secara umum, kegiatan ini cukup berhasil dan perlu ada tindak lanjutnya. Namun perlu juga melakukan evaluasi agar semuanya tetap dalam kendali, sehingga dapat membuahkan hasil yang lebih baik lagi,” Ujarnya sambil melihat foto-foto kegiatan EDT 2019 yang bersemangat penuh canda tawa.

Sementara Papang Pangarso, yang dijuluki Panglima Relawan, mengatakan agar semua catatan hasil kegiatan sosialisasi dan edukasi diserahkan ke Ning Titis, salah seorang tim penulis BNPB. Termasuk foto-foto kegiatan dari berbagai sudut pengambilan. Harapannya tentu aneka tulisan dan foto dari peserta EDT 2019 itu bisa didokumentasikan dalam sebentuk buku yang bisa menjadi kenangan terindah untuk diwariskan ke generasi selanjutnya. Bukan sekedar untuk melengkapi laporan kegiatan sebagai pertanggungjawaban anggaran program semata.

Semuanya tergantung pada kebijakan Pak Lilik Kurniawan yang saat ini sedang ‘Naik Daun’. Jika sebagai komandan masih menganggap kegiatan ini gagal, ya gagal pula harapan mendokumentasi ‘jerih payah’ relawan yang berpartisipasi dalam EDT 2019.

Untuk itu, tidak ada salahnya jika abah Santo dari LMI dan kawan-kawan meluangkan waktunya barang semenit dua menit untuk berdoa agar Pak Lilik tidak suntuk lagi. Agar tidak ada lagi guratan lelah diwajahnya.

Kini, Pataka EDT 2019 telah bergeser dari jawa timur menuju jawa tengah dan akan berakhir di jawa barat nantinya. Harapannya, tidak akan ada lagi kata gagal terucap dari siapapun. Jika disana sini masih dijumpai kekurangan tipis-tipis, itu wajar terjadi di setiap kegiatan. Namanya juga kerja ‘keroyokan’ yang memerlukan koordinasi antar elemen, pasti ada kendala dikarenakan masing-masing elemen memiliki protap dan juklak sendiri yang berbeda dan memerlukan kepedulian dan saling pengertian.

Artinya, Pak Lilik, Pak Papang dan Pak Wartono bisa merangkul dan mengajak semua elemen. Baik itu unsur masyarakat, akademisi, praktisi, dunia usaha, media dan satuan kerja perangkat daerah terkait agar berkenan untuk berpartisipasi aktif memeriahkan gelaran EDT 2019.

Dengan bergesernya Pataka EDT 2019 keluar Jawa timur, maka Relawan pun sudah beranjak pulang, kembali ke rutinitas masing-masing yang memiliki tanggung jawab sosial di lingkungannya. Semoga pengalaman yang mengharu biru ini bisa menjadi cerita panjang yang menginspirasi program SRPB JATIM ke depan penuh makna dengan membangun sinergi dengan berbagai komunitas dan tentu saja dengan BPBD serta BNPB.  Wallahu a’lam bishowab. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/Rabu Kliwon-24/7]

Senin, 15 Juli 2019

TIM PENULIS BNPB MENDOKUMENTASIKAN DATA


Mbah Gugel, lewat jobsinfopedia.blogspot.com (2016), bilang, Penulis adalah sebutan bagi orang yang melakukan pekerjaan menulis, atau menciptakan suatu karya tulis. Menulis merupakan jenis pekerjaan sekaligus hobi, penulis profesional menuangkan karyanya dalam bentuk tulisan yang bisa menghasilkan uang, namun ada juga yang menulis untuk keperluan hobi atau menyalurkan hobi untuk menuangkan ide pikiran kedalam tulisan. 

Ada juga yang mengatakan penulis adalah orang yang suka mengabadikan peristiwa yang menarik dalam sebuah tulisan, sebagai upaya mendokumentasikan untuk kemudian mengkomunikasikan pesan (gagasan) agar bisa menjadi bahan inspirasi bagi mereka yang suka berbagi informasi dan perubahan.

Pramudya Ananta Tour, seorang budayawan yang di cap ‘kiri’ , mengatakan bahwa, menulis itu adalah sebuah keberanian. Artinya, menulis itu memerlukan modal keberanian, termasuk berani dikritik, disalahkan dan ‘di- kiri -kan karena dianggap nakal, keluar dari keseragaman.

Begitu pentingnya arti dokumentasi sebuah peristiwa, BNPB un merasa perlu membentuk sebuah Tim Penulis, yang harus selalu mengikuti pelaksanaan program BNPB agar diketahui masyarakat luas. Termasuk dalam kegiatan Ekspedisi Destana Tsunami 2019 (EDT 2019) yang berlangsung dari tanggal 12 Juli sampai 14 Agustus 2019.

Lilik Kurniawan, Direktur Pemberdayaan Masyarakat, BNPB, mengatakan bahwa kekuatan media dengan karya tulisnya sangat signifikan terhadap sukses tidaknya sebuah program pembangunan. Penulis dengan gaya dan kreativitasnya bisa menyampaikan pesan dari hasil liputan EDT 2019 kepada khalayak ramai.

Media massa disini, bukan saja berupa Koran, majalah, radio, dan televisi saja. namun, media online, termasuk aneka foto dan komentar instagram maupun facebook yang sering diviralkan oleh relawan peserta EDT 2019, juga tidak kecil perannya dalam menggaungkan gebyar kegiatan yang baru pertama diadakan BNPB. Sejak dari wilayah pesisir Banyuwangi sampai nanti berakhir di wilayah Pandeglang, di ujung barat Pulau Jawa,

Tinggal bagaimana mengajak para ‘kuli tinta’ mau menyampaikan pesan-pesan kebencanaan, dalam rangka membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Dengan kemampuan mengolah data dan fakta yang dilihat, mereka bisa menyajikan karya tulis yang enak dibaca dan mudah dipahami pesannya.

Pinjam istilahya Pakar Komunikasi, Dr Aqua Dwipayana, bahwa kunci sukses EDT 2019 yang dilaksanakan BNPB tergantung pada penguasaan komunikasi dan data yang dimiliki seluruh anggota Tim. Semakin bagus komunikasinya dan makin lengkap data yang dipunyai maka tingkat keberhasilan kegiatan ini tambah besar.

Artinya, BPBD harus mampu berkomunikasi untuk memobilisasi berbagai komunitas relawan yang ada di daerahnya agar berpartisipasi aktif mensukseskan agenda yang disusun. Termasuk menuliskan hasil kegiatan sosialisasi kebencanaan di desa-desa yang telah ditentukan. Ya, kemampuan inilah yang perlu ditingkatkan dengan menggunakan metode dialogis partisipatoris

Dimana, hasil tulisan (berupa laporan kegiatan) itu nantinya diserahkan kepada Tim Penulis untuk ‘dirapikan’ dengan kekayaan perbendaharaan kosa kata yang dimiliki menjadi sebuah tulisan yang bermakna (sukur-sukur dijadikan buku) yang bisa dinikmati untuk menambah wawasan yang menginspirasi.

Akan menjadi kenangan terindah, apabila Tim Penulis yang ditunjuk BNPB bisa mendokumentasikan gelaran EDT 2019 dalam sebuah buku yang dibagikan kepada para pegiat kemanusiaan. Sungguh, buku ini akan sangat berharga untuk pembelajaran serta pedoman penyelenggaraan kegiatan selanjutnya. Salam Tangguh.[eBas/Selasa pahing-16/7]  
 

     


Selasa, 09 Juli 2019

HIMBAUAN BIJAK DARI EXPEDISI DESTANA TSUNAMI


“Rehatlah sejenak dari bangku diskusimu !!!. Turun dan lihat kesiapan desamu, ada 584 desa di wilayah selatan Jawa yang rawan tsunami. Lakukan yang engkau bisa. Mari bergabung bersama, bekerja bersama, melidungi masyarakat dari bencana”. Sebuah ajakan bijak yang menyertai pelaksanaan kegiatan Expedisi Destana Tsunami 2019.

Sebuah kegiatan untuk “menapak tilasi” daerah selatan pulau Jawa yang berpotensi terkena bencana tsunami (ada pula yang pernah kena tsunami, seperti di Banyuwangi pada tanggal 3 Juni 1994). Ya, agenda tersebut dimaksudkan untuk menginformasikan potensi ancaman gempa bumi dan tsunami kepada aparat terkait dan masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami, utamanya mereka yang berada di pesisir selatan Jawa.

Dimana tujuan dari kegiatan yang di gelar mulai Banyuwangi sampai Pacitan, tanggal 12 sampai 23 Juli 2019, adalah (1). menginformasikan potensi ancaman gempabumi dan tsunami pada apparat dan masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami selatan Jawa, (2) melakukan Identifikasi awal ketangguhan desa rawan tsunami. (3) melakukan sosialisasi kesiapsiagaan pada masyarakat, termasuk penanaman vegetasi pelindung pantai.

Ya, ajakan bijak ini seharusnya diikuti acara ngobrol bareng dengan berbagai pihak membicarakan “aturan main” tentang ajakan untuk bergabung bersama, dan bekerja bersama untuk melindungi masyarakat dari bencana. Ya, ‘aturan main’ ini bisa berupa bagaimana ijinnya, daerah mana yang akan dituju, materi apa yang akan diberikan kepada masyarakat, dan berapa orang yang harus turun ke lokasi.

Ajakan bijak diatas senafas dengan postingannya Catur Sudiro, salah seorang staf LSP-PB, yang mengajak kita semua untuk bergabung bersama, bekerja bersama meningkatkan kapasitas masyarakat terhadap bencana.

Tentu, sebelum meningkatkan kapasitas masyarakat, sudah selayaknya mereka yang diberi tugas mengedukasi haruslah dibekali  terlebih dulu melalui diklat, pembinan dan pembekalan. Tanpa itu tidak akan ada standarisasi penyampaian materi untuk meningkatkan kapasitas masyarakaat (menghadapi bencana), dan ini akan membingungkan masyarakat.

Sesungguhnyalah, relawan itu siap sedia digerakkan (khususnya di fase tanggap darurat). Sementara untuk kegiatan di fase pra bencana, seperti melakukan penyuluhan pengurangan risiko bencana dan melakukan kajian dampak bencana, kiranya masih perlu pendampingan dan arahan dari instansi terkait agar tidak menimbulkan hal-hal yang bisa melahirkan kesalah pahaman di lapangan.

Karena pada kenyataannya, staf instansi itu belum tentu mengerti, dan menguasai bidang tugasnya. Disitulah sangat berpotensi lahirnya konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi, jika mau duduk bersama, belajar bersama mencari solusi bersama atas perbedaan yang terjadi. Sayangnya, atas nama gengsi dan kuasa, relawan harus kalah (mengalah) agar tidak timbul perilaku “Like and dis-like”. 
  
Himbauan di atas itu haruslah dimaknai sebagai sebuah dorongan agar relawan bisa tampil maksimal di fase pra bencana, sesuai semangat Sendai Frame Work for disaster risk reduction 2015 – 2030, yang mengedepankan peran serta masyarakat dalam pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, itu membutuhkan pemberdayaan dan inklusif, dapat di akses dan partisipasi yang tidak diskriminatif, memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang terdampak oleh bencana secara tidak proporsional, terutama yang paling miskin (BNPB, 2015).

Sekali lagi relawan itu hendaknya dibina agar bisa berbuat untuk membantu kerja-kerja kemanusiaan yang menjadi tugas BNPB/BPBD melalui lokalatih, lokakarya dan diklat, sehingga dalam melakukan edukasi kebencanaan kepada masyarakat tetap dalam ‘kendali’ BNPB/BPBD. Pertanyaannya kemudian, apakah ketika relawan melakukan edukasi secara mandiri, tidak menyalahi aturan, dan tidak berbenturan dengan program yang telah disusun BNPB/BPBD maupun instansi terkait ?

Dengan demikian, jika himbauan bijak yang muncul menyertai pelaksanaan kegiatan ekspedisi destana tsunami itu benar-benar bisa terwujud, ya harusnya mereka yang kaya konsep dan gagasan saat berdiskusi itu diajak serta untuk berkegiatan seperti konsep sapalibatisme. Yaitu menyapa (dan mengajak, red) berbagai pihak untuk melibatkan potensi yang ada, seperti dunia usaha, pemerintah, masyarakat dan lain sebagainya (akademisi dan media massa, red), untuk membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, seperti yang diharapkan oleh kegiatan Expedisi Destana Tsunami ini. Wallahu a’lam bishowab. Salam tangguh, salamkemanusiaan. [eBas/siang selasa kliwon 99/7].

Senin, 24 Juni 2019

DONASI ALAT PEMANEN HUJAN


Selasa (18/6) malam, setelah seharian dihajar oleh kemeriahan Pekan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan, di gedung Ina DRTG, BNPB. Pak Papang melontarkan gagasan tentang perlunya relawan SRPB JATIM bergotong royong mengadakan alat pemanen hujan untuk ditempatkan di Lamongan dan di Ponorogo.

“Masak sih, anggota mitra SRPB yang jumlahnya banyak itu tidak mau menginfaqkan sebagian rejekinya untuk membantu masyarakat lewat pengadaan alat pemanen hujan yang sangat bermanfaat itu,” Katanya memulai obrolan sambil menikmati kopi buatan office boy BNPB.

Masih kata pria asal Jogja ini, relawan SRPB harus mempunyai karya nyata sebagai bentuk sumbangsih yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat. Dalam hal ini berupa alat pemanen air hujan, seperti yang pernah disampaikan oleh Komunitas Banyu Bening dalam acara Arisan Ilmu, beberapa waktu yang lalu.

“Saya yakin, seandainya seluruh relawan mau bersodakoh tiga ribu, atau empat ribu setiap bulannya, pasti dalam waktu empat bulan sudah terwujud, dan pahalanya akan terus mengalir selama alat itu digunakan masyarakat,” Lanjutnya.

Memang, jika dipikir secara matematik, anggota mitra SRPB JATIM yang mencapai 170 an organisasi relawan itu, jika masing-masing organisasi ada 15 orang yang berkenan mendonasikan uangnya sejumlah 5.000 selama lima bulan, maka akan diperoleh dana yang lumayan untuk mempercepat terwujudnya gagasan itu.

Ya, optimisme Pak Papang sangat tampak meyakinkan malam itu. Saya pun setuju dengan gagasan beliau. Walau ada sebersit pesimis gagasan beliau bisa terwujud. Tapi, apa salahnya jika gagasan itu dicoba, entah bagaimana nanti hasilnya. Bismillah, semoga Tuhan merestui gagasan mulia dari staf nya Pak Lilik Kurniawan, Dir PM, BNPB.

Mengapa ada pesimis yang membayangi gagasan pria penyuka kopi ini?. Pertama, istilah donasi kurang familier diantara relawan mitra SRPB JATIM yang sudah terbiasa berkegiatan dengan konsep Nol rupiah berbasis keikhlasan.
Sehingga, ketika diumumkan untuk berdonasi sejumlah uang, bisa-bisa yang muncul kemudian adalah kasak kusuk yang beraroma curiga untuk kemudian rencana itu berhenti ditengah jalan. Gagasan tinggallah gagasan, seperti judul lagu “Layu Sebelum Berkembang”, entah siapa yang mempopulerkan, yang jelas bukan Rhoma Irama, siraja dangdut itu.

Ke dua, garakan donasi juga bisa dijadikan senjata oleh mereka yang sejak awal tidak suka dengan keberadaan SRPB JATIM. mereka pasti akan bilang, “Lha tenan to, akhirnya ada tarikan, ada urunan yang dibungkus dengan istilah donasilah, sodakohlah. Padahal untuk mendukung kegiatan SRPB,”. Atau dengan bahasa lain yang provokatif dan menyakitkan.

Inilah yang membuat saya galau ketika akan berbicara kepada teman-teman agar bisa segera mewujudkan gagasannya Pak Papang, dengan mengumumkan lewat grup WhatsApp, untuk melihat respon relawan yang menjadi anggotanya. Ya, galau karena kiprah SRPB JATIM masih belum banyak diketahui oleh khalayak ramai, juga dikalangan relawan sendiri (karena enggan mencari tahu dan masih enggan mendekat).

Alhamdulillah, saat acara halal bi halal lintas komunitas di ruang siaga, BPBD Provinsi Jawa Timur, Kotak Infaq 50 ribu Coin Pengadaan Alat Pemanen Air Hujan, telah berhasil mengumpulkan dana yang lumayan. Semoga, gerakan infaq ini terus bergulir, sehingga harapan Pak Papang bahwa, relawan mampu dan mau mendonasikan sebagian rejekinya untuk membantu sesama, benar-benar bisa terwujud. Hal ini sejalan dengan adab dalam islam yang mengatakan bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada di bawah.

Sekali lagi, jika gagasan ini benar-benar berjalan tanpa suara sumbang dari oknum yang tidak suka. Maka, secara tidak langsung membuktikan bahwa rasa gotong royong saling peduli dan berbagi yang sering didengungkan itu benar-benar nyata adanya dan masih dimiliki relawan.

Disini yang diperlukan adalah adanya rasa saling percaya, komitmen yang kuat, serta adanya transparansi dan tanggungjawab moral diantara relawan yang mendukung gagasannya Pak Papang. Tanpa itu pasti semuanya akan terasa ampang. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/senin kliwon-24/6].