Selasa, 04 Mei 2021

SALING BELAJAR SALING KOMENTAR SECARA VIRTUAL

“Pakdhe kok gak pernah kelihatan ya saat forum berkegiatan di lapangan ?. padahal partisipasi aktif Pakdhe sangat diharapkan oleh anggota lainnya.” Kata Denmas lewat komentarnya di grup WhatsApp, saat si Pakdhe memberi apresiasi terhadap anggota forum yang memiliki kelonggaran waktu (dan sangu) membersamai pelaksanaan program yang telah disepakati oleh pengurus forum.

Seperti program spektakuler yang saat ini sedang berjalan, yaitu Safari Ngabuburit bersama mosipena ke 10 Kabupaten/Kota. Sebuah program yang digagas oleh Gus Yoyok dalam rangka ‘nganyari’, sekaligus mengenalkan kepada khalayak ramai tentang keberadaan mosipena yang baru dimiliki oleh BPBD Provinsi Jawa Timur. Bahkan mungkin, mosipena adalah satu-satunya mobil edukasi yang ada di Indonesia.

Mosipena sebagai barang baru, tentu tidak boleh dipegang oleh sembarang orang. Harus dipegang oleh orang yang punya rasa tanggung jawab, jujur, teliti, kreatif, dan paham tentang apa saja yang ada di dalam mobil, serta bisa menjalankannya sesuai prosedur. Ini penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maklum ini barang pengadaan baru yang harus dijaga agar awet dan bermanfaat.

Tugas forum adalah memilah dan memilih personil dari berbagai unsur pentahelix yang akan diberi amanah mengawal mosipena menjalankan program edukasi kebencanaan yang diembannya ke berbagai tempat. Untungnya, mbah Dharmo, sebagai Sekjen forum mampu mengarahkan, memengaruhi, dan mengawasi anggotanya untuk melaksanakan program yang telah disepakati bersama, dalam hal ini safari mosipena.

Alhamdulillah forum memiliki orang-orang hebat. Orang-orang pilihan yang mau dan mampu diberi amanah mengawal perjalanan mosipena ke 10 Kabupaten/Kota, menyebar virus pengurangan risiko bencana kepada masyarakat. Harapannya, akan tumbuh budaya sadar bencana. Dimana jika sewaktu-waktu terjadi bencana masyarakat bisa berbuat sesuatu sebelum pihak luar datang membantu.

Sungguh, dari dalam lubuk hati yang dalam, pastilah semua anggota dan pengurus forum yang terdiri dari berbagai elemen pentahelix, punya keinginan sama untuk selalu bisa tampil prima dalam segala kegiatan forum yang telah disepakati bersama.  Namun nyatanya ‘jauh panggang dari api’. Belum semua mampu menjalankan harapan forum. 

Apalagi Safari Ngabuburit ini semua dilakukan secara mandiri, mulai dari pengadaan konsumsi, dana operasional mosipena, termasuk honorarium serta pengadaan takjil, masker dan doorprize yang dibagi ke masyarakat.

Tentu dana yang diperlukan di setiap Kabupaten/Kota tidak sama dan tidak sedikit. Konon, semua itu karena belum ada anggarannya. Tinggal pandai-pandainya mereka mencari sumber dana mandiri untuk mendukung program yang baru pertama ini.

Sayangnya, kemampuan mencari sendiri dana pendukung kegiatan itu tidak dimiliki oleh semua anggota forum. Sementara, kendala lain yang mengganggu adalah banyak anggota dan pengurus yang masih kerepotan membagi waktu dan sangu. Hanya orang hebatlah yang bisa berbuat seperti itu.

Kehebatan tim relawan mosipena inilah yang oleh Pakdhe diacungi jempol dan dikomentari, untuk memotivasi mereka. Sementara, Denmas pun nyeletuk karena merasa heran tiba-tiba Pakdhe berkomentar, padahal biasanya hanya ngintip grup dalam diam. Bahkan kirim jempol tanda setuju pun tidak. Inilah barangkali yang menggelitik Dhenmas berkomentar saat Pakdhe muncul dengan komentarnya.

Permintaan Dhenmas agar seluruh anggota, khususnya pengurus, untuk selalu membersamai jalannya program, sangatlah wajar dan manusiawi sekali. Hal ini sesuai dengan aturan main organisasi. Diantaranya, anggota wajib mentaati keputusan rapat, melaksanakan dan mengembangkan program organisasi yang telah disepakati oleh seluruh pengurus, dan memperluas jejaring kemitraan melalui kegiatan promotif.

Sekali lagi, harapan Dhenmas itu perlu didukung agar keberadaan forum bisa berjalan sesuai khittohnya. Yaitu, sebagai tempat pertemuan ide/gagasan dari berbagai komunitas (pentahelix) yang memiliki kesamaan minat dan tujuan (dibidang kebencanaan).

Sementara (masih katanya entah siapa), fungsi forum PRB Sebagai sarana berdiskusi, tanya jawab, tukar menukar informasi, berbagi pengetahuan/pengalaman, untuk memecahkan masalah tentang bagaimana mengarusutamakan PRB dalam kebijakan pembangunan.

Melalui fungsinya itulah diharapkan forum bisa memberi masukan kepada BPBD tentang bagaimana mengarusutamakan PRB ke dalam kebijakan pembangunan yang menjadi wewenangnya, termasuk (mungkin) menganggarkan kegiatan forum sebagai pemegang mandat dari UU nomor 24 tahun 2007.

“Pakdhe kok gak pernah kelihatan ya saat forum berkegiatan di lapangan ?. padahal partisipasi aktif Pakdhe sangat diharapkan oleh anggota lainnya.”. Terngiang komentar Dhenmas yang penuh makna. Mungkin juga ditujukan kepada semua anggota forum (jumlahnya ada sekitar dua ratusan), yang selama ini belum bisa seaktif Dhenmas dan dalam membersamai pelaksanaan program forum dengan berbagai alasan.

Alasan klasih adalah ketidak berdayaan mensiasati waktu dan sangu karena kesibukan hidup keseharian yang menjadi tanggungjawabnya. Apalagi saat ini pandemi covid-19 masih menjadi ancaman bagi mereka yang teledor. Hanya mereka yang sehatlah yang berani beraktivitas dengan penuh semangat secara offline.

Sementara, yang lain, apalagi yang memiliki komorbit, hanya bisa membantu doa, gagasan dan saran secara online memanfaatkan grup WhatsApp. Itupun kalau berani dan tidak ‘dipaido’.  karena berkomunikasi secara tidak langsung itu sering menimbulkan kesalahpahaman dalam memaknai pesan.

Sesungguhnyalah, pesan yang disampaikan oleh Pakdhe lewat komentarnya, maupun Dhenmas yang merespon itu merupakan bagian dari gerakan literasi relawan terkait masalah kebencanaan, yang memanfaatkan grup WhatsApp.

Jika kebiasaan dialog virtual ini semakin sering dilakukan, maka akan menambah wawasan sekaligus menumbuhkan rasa kesepahaman diantara anggota grup WhatsApp, sehingga tidak ada dusta diantara anggota. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/RabuLegi-05052021]

 

 

 

  

 

 

 

Sabtu, 01 Mei 2021

RATNA, SANG REMBULAN DARI PASURUAN.

“Di awal tahun 2020, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang Hebat di tingkat Jawa timur untuk urusan Kemanusiaan. Mereka meminta saya bergabung mewakili perempuan, sekaligus dari unsur dunia Usaha. Awalnya sempat Ragu karna merasa itu bukan dunia saya, sekalipun masa sekolah dulu saya aktif di berbagai organisasi sekolah hingga di Senat ketika kuliah,”

Itulah sebagian postingan panjang dari Ratna Ningsih, tentang awal keterlibatannya dalam forum pengurangan risiko bencana (FPRB) Jawa Timur, memperkuat kepengurusannya mBah Dharmo, yang diamanati menjadi Sekjen Forum menggantikan mas Rurid.

“Tapi entah seperti ada dorongan di hati saya untuk menerima pinangan ini,  karna ini urusan kemanusiaan non politik dan non kepentingan golongan, justru disanalah Bersatu semua Golongan untuk urusan Kemanusiaan,” Lanjut alumni STIE Jakarta, yang kini diamanahi menjadi salah seorang Pengurus Harian di FPRB Jatim masa bakti 2020 – 2023.

Itulah cerita singkat bagaimana perempuan berkaca mata ini bergabung di kepengurusan Forum, dari unsur dunia usaha. Dengan pengalaman yang dimiliki, tentulah akan membantu mBah Dharmo menggerakkaan roda organisasi sesuai khittohnya, sebagai mitra BPBD dalam pelaksanaan program kebencanaan untuk menciptakan masyarakat tangguh bencana.

Diantaranya, bersama-sama unsur pentahelix lainnya, terlibat dalam penyusunan rencana aksi daerah pengurangan risiko becana dibawah koordinasi BPBD. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Lilik Kurniawan, yang kala itu menjabat sebagai Direktur Pemberdayaan Masyarakat, BNPB, saat mengukuhkan pengurus FPRB Provinsi Riau.

“Tugas FPRB Riau untuk memastikan pembangunan di Riau berbasis pengurangan resiko bencana. FPRB harus bisa memberikan masukan ke DPRD dan Pemprov Riau terkait masalah kebijakan, termasuk soal tata ruang," Katanya di Hotel Grand Zuri, Rabu, (14/11/2018).

Apa yang dikatakan Lilik Kurniawan itu mengandung arti bahwa Forum harus bisa ‘memengaruhi, memberi saran, dan mambantu’ Pemda dan DPRD untuk pembuatan kebijakan yang konkret, misalnya: rencana tata ruang, rencana penanggulangan bencana berbasis komunitas, Kampanye pencegahan pandemi covid-19 di tingkat Desa/Kampung, Penegakan protokol kesehatan, Membuat kanal informasi Pemerintah Daerah yang dipercaya, dan mudah dimengerti oleh masyarakat.

Tentu harapan di atas, oleh mbah Dharmo sudah ada dalam perencanaannya. Diantaranya dengan terus bergerak menebar virus tangguh bencana yang bermanfaat bagi masyarakat. Semua kegiatan melibatkan pengurus yang mempunyai kelonggaran waktu. Termasuk mengajak Ratna, yang saat ini menjabat sebagai bendahara Forum.

Wanita karir yang bersahaja ini juga bersemangat saat berkesempatan membersamai agenda Safari Ngabuburit 10 Kota/Kabupaten di Jawa timur, dengan memanfaatkan kendaraan mosipena milik BPBD Provinsi Jawa Timur. Ini merupakan satu-satunya mobil edukasi bencana di Indonesia.

Tentu, kehadiran Ratna membawa Susana lain yang meriah dan menyejukkan. seluruh prosesi berjalan sesuai rencana. Mulai membagikan masker kepada masyarakat umum, berbagi takjil, sosialisasi dan edukasi bencana. Hal ini akan semakin memperkuat pergerakan forum yang bermanfaat dan bermartabat.

Bahkan, saking bersemangatnya, pengurus Kadin Kabupaten Pasuruan ini bersedia rumahnya ditempati untuk rapat pengurus membahas pembentukan panitia Jambore Relawan Jawa Timur tahun 2021, sambil berbuka puasa. Walaupun pengurusnya belum bisa hadir semua, tapi hasilnya nyata.

Seperti diketahui, Safari Ngabuburit yang digagas oleh LPBI NU, FPRB dan BPBD Provinsi Jawa Timur ini merupakan Gerakan Literasi Pengurangan Risiko Bencana melalui Sosialisasi dan Edukasi, dengan Tema “Bersama Mosipena menuju Masyarakat Tangguh dan Sadar Bencana”.

Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh relawan forum saja, tapi juga melibatkan berbagai komunitas relawan setempat, sehingga tampak keguyubannya, mencerminkan kebersamaan dalam keragaman. Saling merangkul bukan memukul, saling mengajak bukan menginjak, dan saling menguatkan bukan melemahkan.

“Alhamdulillah, kini, tinggal pengurus forum yang harus rajin berkegiatan, supaya forum dirasakan kehadiran dan perannya bagi anggota forum dan masyarakat, pada semua fase bencana,” Begitu ajakan Khusairi, sesepuh forum yang juga dosen Unair Surabaya.

Sungguh, kehadiran Ratna dan emak-emak dalam kepengurusan kali ini, akan mampu menjawab ajakan Khusairi dengan karya nyata. Kehadiran wanita penyuka travelling ini benar-benar bagai bulan menyinari relawan forum yang sangat luar biasa menjalankan misi kemanusiaan membangun budaya sadar bencana. sehingga tidak disalah pahami oleh mereka yang tidak paham.

Selain Ratna, ada Anin, ada Retno, ada sumi dan lainya. Merekalah (disamping Gus Yoyok), bagai suluh yang menerangi relawan FPRB dalam menjalankan misi mosipena di bulan ramadhan, melakukan edukasi bencana ke 10 Kota/Kabupaten terpilih.

Tidak ketinggalan, beberapa unsur pimpinan BPBD Provinsi Jawa Timur juga turut mendorong dan mendukung tim mosipena untuk selalu tampil kreatif, atraktif dan menarik dalam menggelar kegiatan yang diliput berbagai media online, dengan tetap mentaati protokol Kesehatan, agar tidak muncul klater ngabuburit.

Sementara itu, Gus Yoyok, berpantun jenaka. “Burung elang berkelana, jauh keliling dunia. Makan sahur sangat sederhana, makan sahur seadanya.”. Itulah cara relawan LPBI NU Kota Bangil, sekaligus inspirator forum, dalam menjaga loyalitas dan dedikasi tim mosipena, yang dijuluki paloma (pasukan lali omah), agar tidak jenuh dan lelah menjalankan amanah di bulan penuh berkah.

Dengan demikian, tidak salah jika ucapan terimakasih disampaikan kepada Ratna, bersama emak-emak lainnya, yang telah memberi warna tersendiri dalam kepengurusan FPRB Jawa Timur besutan mbah Dharmo. Sedangkan kehadiran Gus Yoyok beserta ‘pasukannya’ menjadi garda terdepan forum dalam menjalankan semua misinya.  

Pelan tapi pasti, forum telah menemukan gayanya sesuai mandat UU nomor 20 tahun 2007, dan misi yang dimiliki. Diantaranya, memastikan kelembagaan penanggulangan bencana dapat bersinergi dengan baik, antara BPBD dengan OPD, antara pemerintah daerah dengan masyarakat dan lembaga usaha. Serta memastikan pemberdayaan masyarakat dilakukan di daerah dalam membangun ketangguhan terhadap bencana. Untuk membumikan misi di atas, forum memanfaatkan keberadaan mosipena sebagai medianya. Wallahu a’lam bishowab. Salam Tangguh, Salam Literasi. Tetap menginspirasi. [eBas/MingguPon-02052021].Bertepatan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang mengambil tema  “Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar”

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 27 April 2021

RELAWAN ITU BERNAMA ALFIN SANG PETUALANG

Salah satu program forum pengurangan risiko bencana (FPRB) Jawa Timur yang disepakati dalam rapat pengurus, adalah mengadakan kegiatan Safari Ngabuburit 10 Kota di Jawa Timur. Personil yang terlibat diantaranya, Alfin. Pria kelahiran Sampang ini sangat aktif membersamai pelaksanaan program Forum, dan selalu berusaha mengajak relawan dari organisasi lain untuk bergabung, dalam rangka memperluas jejaring.

“Monggo bagi rekan-rekan yang mau bergabung dalam kegiatan tersebut, baik individu maupun lumbaga/organisasi/komunitas apa saja dan siapa saja.  Bagi rekan-rekan Relawan yang mau belajar tentang mosipena,  Insyaallah kami siap memfasilitasi sebisa kami. Kebetulan di sini ada Tim mosipena dari SRPB, mas Leo dan mas Erik.  Mereka siap membantu.” Kata Alfin, yang juga aktif sebagai ketua di komunitas tanggap gawat darurat dan Jamaah LC.

Safari Ngabuburit ini merupakan program baru dengan memanfaatkan keberadaan mobil edukasi yang mungkin hanya dimiliki oleh BPBD Provinsi  Jawa Timur. Ya, mosipena adalah satu-satunya media edukasi kebencanaan di Indonesia, yang operasionalisasinya melibatkan relawan.

Apa yang dikatakan Alfin, merupakan ajakan kepada semua pengurus untuk berperan serta dalam setiap kegiatan forum, dimanapun berada. Termasuk membersamai Safari Ngabuburit. Hal ini sejalan dengan harapan waktu Rakor dengan BNPB Tahun lalu di Hotel Mercure, yang juga diikuti oleh staf BPBD Kabupaten/Kota.

Dimana waktu itu Pak Lilik, dari BNPB, dengan jelas menyampaikan tentang pentingnya kekompakan dan pelibatan berbagai pihak dalam menjalankan programnya. diantaranya percepatan pembentukan forum di setiap Kabupaten/Kota, guna mewujudkan sinergi pentahelix untuk pengurangan risiko bencana, menuju Masyarakat Tangguh dan Sadar Bencana.

“Kami persilahkan rekan-rekan relawan yang mau ikut Ngabuburit bersama mosipena, bergerak bersama membangun Ketangguhan Masyarakat. Insyaallah FPRB Jatim siap Bekerjasama dan membersamai dalam kegiatan Gerakan PRB, membangun ketangguhan masyarakat,” Kata teman baiknya Ning Anin Faros, seorang fasilitator DESTANA Kabupaten Lumajang.

mBah Dharmo, sebagai sekjen forum, dalam postingannya mengatakan terimakasih kepada pengurus dan anggota forum yang aktif mengenalkan eksistensi forum kepada khalayak ramai, melalui berbagai kegiatan forum yang selama ini digelar diberbagai daerah. Seperti program SDSB, Edukasi Konservasi, Penghijauan, Diklat Kebencanaan bagi santri Pondok Pesantren, dan sejenisnya.

Harapannya, dengan melakukan  kegiatan sosialisasi, edukasi, serta pendidikan dan pelatihan penanggulangan bencana, bisa meningkatkan wawasan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Saudaraku semua, saya hanya Tut Wuri Handayani, atas niat baik semuanya. Lanjutkan dan tetap semangat,” Pesan penyandang gelar master manajemen bencana dari UPN, Jokja. Sebuah ajakan motivatif yang dalam maknanya. Sayangnya, kendala waktu dan sangu, menjadi masalah tersendiri bagi sebagian pengurus untuk berpartisipasi.

Namun, masalah waktu dan sangu bagi Alfin yang masih senang menjomblo ini, bukan halangan, karena belum punya tanggungan. Dia siap membersamai perjalanan mosipena dalam menjalankan misinya Safari Ngabuburit 10 Kota di Jawa timur.

Semoga Alfin dan kawan-kawan sukses menjalankan misi, mengenalkan eksistensi dan peran Forum PRB Jawa Timur sebagai mitra BPBD. Tetap semangat Cak Alfin, jaga kesehatan dengan tetap mentaati protokol kesehatan. Jangan lupa pula nyruput kopi tipis-tipis bersama relawan setempat. Siapa tahu dari situ ada inspirasi untuk merancang aksi kemanusiaan dikemudian hari. Salam tangguh. [eBas/RabuWage-28042021]  

 

 

 

 

 

Rabu, 21 April 2021

GERAKAN LITERASI WADAH BELAJAR BEREKSPRESI

Akhir-akhir ini gaung gerakan literasi kebencanan semakin terdengar dimana-mana. banyak pihak yang  mulai berpaling untuk membantu menggaungkan gerakan literasi kebencanaan dengan segala kemampuan dan keunikannya, guna membangun budaya sadar bencana.

Tujuannya, diantaranya memberi kesadaran masyarakat akan pentingnya mengenal potensi bencana yang ada di derahnya. Literasi bencana adalah bagian dari mitigasi nonstruktural yang fokus pada pemahaman terhadap bencana melalui edukasi dengan berbagai bentuknya, sesuai kebutuhan dan kearifan lokal setempat.

Salah satu pengertian Literasi kebencanaan menurut Brown et.al (2014:267) adalah kapasitas individu dalam membaca, memahami dan menggunakan informasi tersebut untuk kemudian dibuatkan sebuah kebijakan informasi dengan mengikuti instruksi-instruksi dalam konteks mitigasi, kesiapsiagaan, respon, dan pemulihan dari bencana

Jamaah LC yang digagas Cak Alfin pun secara tidak langsung juga mengarah kepada upaya meningkatkan wawasan anggotanya melalui aktivitas ngopi bareng. Walaupun tidak ada agenda tertentu dalam berliterasi, namun proses pertukaran wawasan dan informasi terus mengalir disela pertemuan mempererat pertemanan, sambil wedangan.

Harapannya, dari pertemuan itu dapat membangun pemahaman dan kecakapan dalam pengetahuan bencana, yang pada akhirnya mampu menjadi alat melakukan edukasi/sosialisasi pengurangan resiko bencana untuk peningkatan kapasitas masyarakat.

Ya, senyatanyalah salah satu peran relawan penanggulangan bencana adalah melakukan edukasi pengurangan risiko bencana dan pelatihan penanggulangan bencana. Jika memungkinkan, juga melakukan pendampingan pasca pelatihan, untuk menumbuhkan budaya sadar bencana bagi masyarakat penerima manfaat.

Artinya, masyarakat yang di daerahnya memiliki potensi bencana, perlu kiranya ‘disentuh’ dengan literasi kebencanaan agar mereka memiliki ketangguhan menghadapi bencana. Hal ini wajar, mengingat sebagai wilayah cincin api, Indonesia menjadi salah satu negara yang rawan bencana. Sudahkah relawan melakukannya ?, dan apakah sudah berdampak pada ketangguhan masyarakat menghadapi bencana ?.

Jagongan Jamaah LC memang belum teragendakan secara rutin. Masih kondisional. Artinya, jika mayoritas sepakat jagongan, ya langsung jalan. Entah apa yang akan dibicarakan, yang penting bisa ngobrol bareng sambil nyruput wedang kesukaannya, dalam suasana riang gembira.

Begitu juga dengan komunitas lain pasti punya agenda jagongan dengan segala gaya tertentu sebagai ciri khas sebuah komunitas. Apayang dilakukan itu sejalan dengan upaya gerakan literasi yang dapat meningkatkan kapasitas peserta jagongan.

Misalnya, F-PRB Jatim punya SDSB (sambang dulur sinau bareng), SRPB Jatim punya Arisan Ilmu, PUSPPITA punya Shodakoh Ilmu, dan masih banyak lagi versi jagongan komunitas relawan. Sungguh dengan model jagongan itu pasti banyak informasi yang bermanfaat dalam rangka transfer pengetahuan dan pengimbasan pengalaman. Tinggal mampu tidak mereka menangkapnya.

Guna mendukung gerakan literasi, tentunya jagongan yang rutin digelar itu hendaknya dibuat semakin sarat dengan informasi serta media untuk belajar berekspresi bagi seluruh peserta jagongan. Hal ini dimaknai bahwa literasi bukan sekedar kemampuan baca tulis semata, tapi lebih dari itu dalam rangka mengembangkan potensi untuk berpartisipasi dalam lingkungan masyarakatnya. Sungguh relawan pun perlu berekspresi dengan literasi untuk membekali diri sebelum turun ke lokasi. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/RabuPaing-21042021]

 

 

 

 

 

 

Minggu, 18 April 2021

JAMAAH LC BUKAN JAMAAH BIASA

Konon katanya, Jamaah LC terbentuk begitu saja tanpa seremonial yang ribet, dengan memakan banyak biaya, dan didatangi ratusan undangan.  Sungguh tidak demikian. Bahkan boleh dibilang lahirnya Jamaah LC itu tanpa direncanakan sama sekali. Ya, mak bedunduk saja, semua sepakat sambil tertawa tanpa protes dan bertanya.

Jika tidak salah, semua bermula dari warkopnya cak Alfin yang berpusat di daerah Dukuh Kupang. Disana berkumpul beberapa orang yang bukan saja sekedar ngopi, tapi juga berdiskusi. Kala itu dihadiri oleh mantan peserta pelatihan yang berhubungan dengan penyelamatan kecelakaan lalu lintas yang diadakan oleh Dokter Airi dan kawan-kawan. Beliau adalah dokter anestesi di Rumah Sakit. Karang Menjangan, Surabaya.

Konon, pertemuan itu sebagai upaya mewadahi mantan peserta pelatihan dengan nama KTGD (Komunitas Tanggap Gawat Darurat). Bahkan sudah disiapkan draft struktur kepengurusan serta anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, sebagai aturan main yang harus diketahui oleh anggota KTGD. Sayang, dalam perjalanannya banyak hambatan yang ditemui. Sehingga soliditas itu semakin sulit tercipta.

Kemudian, di paruh awal tahun 2020, covid-19 dari Kota Wuhan tetiba datang menebar kematian. Memaksa semuanya menerapkan social distancing, menjaga jarak, sering cuci tangan dan memakai masker. Hal ini menyebabkan interaksi sosial diantara relawan yang suka ngopi bareng, serba terbatas karena semua menjaga diri agar tidak terpapar covid-19.

Dampak ikutan dari pandemi adalah semakin jarangnya para relawan beraktivitas tatap muka langsung. Termasuk jagongan. Berbagai aturan dibuat untuk membatasi interaksi langsung sebagai upaya memutus rantai sebaran covid-19 yang belum ada obatnya dan menguras keuangan negara.

Walau dibatasi oleh keadaan, namun beberapa relawan tetap sepakat menjadikan warkopnya Cak Alfin, yang bernama Lorong Cafe (LC), sebagai base camp relawan yang memiliki kesamaan dalam segala hal. Khususnya ngopi sambil berbagi cerita apa saja, seputar kebencanaan dan kerelawanan, yang penting bisa bertutur sapa sambil nyruput kopi tipis-tipis. Sementara, Cak Alfin dengan senang hati menerima kehadiran relawan. Tentunya dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Ya, di warkop LC lah, relawan yang ‘bernasib’ sama, bisa berekspresi, ngerumpi apa saja dalam rangka belajar berliterasi secara informal untuk meningkatkan kapasitas. Karena berlangsung secara informal, maka perlu proses panjang untuk saling belajar. Belajar berpendapat, belajar mendengarkan, dan bahkan belajar engkel-engkelan itu juga termasuk bagian dari literasi yang menyenangkan.

Singkat cerita, bak oase di tengah gurun sahara, aktivitas jagongan di warkop LC semakin diminati oleh banyak relawan untuk bertukar pengalaman, berbagi informasi, dan tanpa disadari menjadi ajang adu gagasan, yang kemudian dimatangkan menjadi rencana aksi nyata untuk kebermanfaatan bersama.

Bahkan, Pak Papang yang dijuluki ‘panglima relawan’ pun menyempatkan mampir ngopi di tempat yang sederhana ini. Kemudian para aktivis Forum PRB Jawa Timur juga berkenan untuk jagongan memberi tausyiah dan pencerahan tentang pengurangan risiko bencana kepada relawan biasa tanpa memandang status sosial. Semua berbaur tanpa sekat. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dengan tetap beretika. Sehingga tidak ada yang tersakiti.

Lucunya, kegiatan yang tidak ada agenda tertentu selain ngobrol sambil wedangan itu, ada yang mencurigai. Padahal sesungguhnyalah tidak ada yang layak untuk dicurigai. Sehingga dapat dipastikan bahwa yang curiga akan menderita sendiri karena tidak menemukan apa-apa yang disangkanya. Sungguh !. Kalau tidak percaya, silahkan datang, rasakan sensasinya.

Tanpa disangka, dari proses literasi dalam bentuk jagongan santai itu, telah melahirkan beberapa aksi nyata yang melibatkan banyak komunitas. Upaya menebar manfaat pun akhirnya menjadi nyata adanya. Semoga kiprah yang telah tertoreh ini bisa berkesinambungan dengan kiprah-kiprah selanjutnya, sesuai komitmen bersama.

Seiring berjalannya waktu, kontrakan warkopnya Cak Alfin habis dan tidak diperpanjang lagi. Sehingga tamatlah kiprah warkop LC sebagai tempat jagongan relawan yang berasal dari berbagai komunitas. Cak Alfin kembali pulang ke rumah keluarganya di daerah Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya.

Pria yang masih menjomblo ini, kini sibuk di Forum PRB Jawa Timur, membantu menyelesaikan program Forum. Salah satu diantaranya, adalah tugas menginisiasi terbentuknya F-PRB di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur, sesuai mandate yang ada. Konon program ini hasil kerja bareng antara F-PRB Jatim, BPBD Jatim, LPBI NU Bangil dan Paladium. Sehingga rencana meneruskan buka warkop ditangguhkan sementara, entah sampai kapan, tidak ada yang tahu.

Walaupun begitu, relawan penggemar jagongan di warkop LC, sepakat agar rutinitas jagongan itu harus tetap berjalan. Mereka sepakat memberi nama Jamaah LC, sebagai upaya mengabadikan nama warkopnya Cak Alfin yang sudah habis masa edarnya.

Alhamdulillah, atas berkat rahmad Tuhan yang Maha Penyayang, jagongan rutin Jamaah LC tetap berjalan dengan segala apa adanya. Tempatnya bisa di warkopnya Cak Kin, atau menempati rumah kosong yang oleh pemiliknya diijinkan untuk di jadikan Base Camp Jamaah LC.

Bahkan, pasca penyelenggaraan Diskusi Konservasi dan Penanaman Mangrove di Hutan Mangrove Gunung Anyar Surabaya, minggu (11/4/2021), ada info yang mengatakan bahwa banyak pihak yang berkeinginan ikut jagongan sambil ngopi di acara rutinan Jamaah LC, ngolah pikir sekaligus menambah paseduluran.

Ya, monggo mawon, Jamaah LC terbuka untuk siapa saja. Tidak memandang baju dan bendera, yang penting hati bahagia dan bergembira, tanpa paksaan orang ke tiga.

Sungguh, semua sepakat komunitas jagongan ini tetap berwarna, dan menghargai keunikan masing-masing tanpa upaya penyeragaman sebagai komunitas formal lazimnya. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain untuk saling berinteraksi dengan mengedepankan saling menghormati dan menghargai agar semua mengerti arti keberagaman. Ini penting untuk meminimalisir perbedaan yang mengarah perpecahan.

Kebersamaanlah yang diutamakan di komunitas Jamaah LC yang tidak menganut mazhab Hambali, Hanafi, Maliki, dan Syafii. Karena, sesungguhnyalah Komunitas Jamaah LC bukan aliran keagamaan. Hanya sekedar nama yang dipilih para relawan yang memiliki kesenangan ngopi bareng,  dengan mengedepankan rasa saling menghargai, menghormati, mendukung dan membersamai, bukan saling menjatuhkan.

Mari angkat cangkir kopinya dan sruput tipis-tipis sepenuh hati, agar bisa menginspirasi sesama untuk mendukung gerakan literasi kebencanaan. Wallahu a’lam bishowab.[eBas/SeninKliwon-19042021]

 

 

 

  

 

 

 

Kamis, 15 April 2021

FORUM PRB KEMBALI KE KHITAH

"BNPB sudah tidak memperdebatkan lagi terkait keberadaan forum. Semua pegiat kebencanaan  terwadahi dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana, dan ini jelas sesuai dengan mandat Undang Undang Nomor  24 tahun  2007  tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor  21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan bencana, Kata Lilik Kurniawan, Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Forum PRB merupakan wadah dari pegiat kebencanaan yang merupakan perwakilan dari lima unsur penthahelix antra lain perwakilan pemerintah yaitu BPBD, dunia usaha, perguruan tinggi, media massa dan masyarakat. Dari unsur masyarakat termasuk Ormas, LSM, dan Relawan Penanggulangan Bencana.” Katanya lagi, dalam acara “nJagong Maton” di rumah Dinas Kepala Staf Korem Jl. Kahuripan No. E 31 Klojen Kota Malang Jawa Timur, rabu (14/4/2021) malam.

Apa yang dilontarkan oleh Pak Deputi yang murah senyum itu, merupakan upaya meneguhkan keberadaan forum dengan segala kiprahnya sesuai mandat yang ada. Sehingga segala urusan kebencanaan yang menjadi programnya BPBD, sudah seharusnya melibatkan forum.

Bahkan, boleh dikata bahwa semua elemen pentahelix yang ingin berkiprah dalam penanggulangan bencana harus melalui forum sebagai pintu utama. Bukan yang lain. Karna mandatnya memang begitu.  Termasuk kewenangan mengkoordinir Desk Relawan itu ada pada Forum PRB, dalam rangka membantu BPBD. Sedangkan yang menggerakkan  relawan ke lapangan itu masing-masing organisasi/komunitas sesuai dengan kemampuannya (khususnya kemampuan financial dan personal).

Dengan “kewenangannya” yang luar biasa itu, tentulah semua pengurus forum dituntut mumpuni dalam segala hal yang berhubungan dengan kebencanaan. Termasuk mampu “memelihara” soliditas antar elemen pentahelix dengan jargon yang humanis, ‘Saling Menguatkan Bukan Melemahkan’. Itulah khittah Forum yang sesungguhnya. 

Hal ini seperti yang sering dikatakan oleh Sekjen FPRB Jawa Timur, bahwa Forum PRB itu bergerak disemua fase kebencanaan. Di dalam Pra Bencana Forum PRB mampu memastikan bahwa semua perencanaan pembangunan disemua level harus berbasis Pengurangan Risiko Bencana artinya mulai seperti  Desa Tangguh Bencana, dan Keluarga tangguh bencana merupakan bagian dari risiko bencana.

Ketika dalam fase tanggap darurat, Forum PRB mampu mengkoordinir relawan dalam desk relawan. Artinya,  forum mengendalikan data dan memetakan relawan yang ada dilapangan, untuk memudahkan koordinasi dan mobilisasi relawan. Apabila di satu lokasi kekurangan relawan, bisa segera menggeser relawan dari lokasi lain. Hal ini untuk menghindari penumpukan relawan pada satu lokasi tertentu saja.

Masalahnya, maukah relawan relawan digeser ?. karena, selama ini relawan datang ke lokasi bencana itu sesuai panggilan nurani dan seringkali bertindak berlebihan karena konsep SKPDB kurang berjalan, karena terkungkung pada aturan dan masih adanya ego sektoral yang saling menelikung. Mungkin, inilah pekerjaan rumah yang harus dimainkan oleh forum sebagai katalisator.

Ketika memasuki fase pasca bencana, Forum PRB mampu membantu mengkoordinir pemulihan secara cepat dengan membangun lebih baik secara aman, sesuai pendekatan ‘buid back better’, yaitu disamping membangun kembali bangunan yang hancur akibat bencana, sekaligus membangun masyarakat yang tangguh agar risiko bencana berkurang secara signifikan.

Acara yang dihadiri oleh berbagai komunitas relawan itu seakan menjadi penanda kembalinya Forum PRB kepada khittahnya yang akhir-akhir ini menjadi ‘perbincangan’ liar tanpa dasar, diantara komunitas relawan.   

Harapannya, dengan acara “nJagong Maton”  ini, semua relawan menjadi paham akan peran dan fungsi forum, untuk kemudian bersama membantu menjalankan misi forum dengan segala programnya. Dengan demikian, kedepan tidak akan muncul lagi istilah Matahari Kembar dalam penanggulangan bencana. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/sumber:mediadestara/16042021]