Minggu, 17 November 2019

MIMPI TAMAN BACA UNTUK ANAK PINGGIRAN


Berawal dari niat untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan sesama, Cak Yo mencoba bermimpi tentang indahnya membuat taman bacaan masyarakat (TBM). Upaya mencerdaskan anak bangsa melalui gerakan calistung (membaca menulis dan berhitung). Dalam mimpinya  Cak Yo tersenyum sendiri melihat anak-anak di desanya berkumpul di salah satu ruangan PKBM menikmati aneka buku bacaan dengan penuh antusias.

Semuanya itu diniatkan untuk meningkatkan sumber daya manusia di desanya. Cak Yo mempunyai keyakinan dengan banyak membaca, anak-anak akan  bertambah wawasannya. Mereka secara tidak langsung juga belajar bermasyarakat, belajar menikmati perbedaan dalam kebersamaan. Ya, mereka bisa belajar apa saja yang akan turut mewarnai jalan hidupnya, menjadi bekal berharga untuk mengarungi samudera kehidupan yang ganas dan berliku.

Koleksi pustaka yang memenuhi ruang taman baca cukup memadai. Ada buku fiksi, novel, ilmu pengetahuan, cerita pendek, komik, buku keagamaan, buku keterampilan dan lainnya. Kebanyakan didapat dari donatur yang mensedekahkan bukunya, menginfaqkan rejekinya untuk pengadaan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan ‘konsumennya’, anak-anak pinggiran yang haus pengetahuan, karena keadaan dan keterbatasan. Pinggiran yang dimaksud itu bisa pinggiran pantai, pinggiran hutan, juga masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi sosial.

Taman baca yang diimpikan Cak Yo itu bukan hanya tempat membaca, tapi juga bisa digunakan untuk bermain, berkesenian, belajar ngaji, juga klekaran, lesehan untuk jagongan dan diskusi sambil ngopi, menggagas rencana-rencana indah tentang pemberdayaan masyarakat, mensejahterakan ummat agar roda ekonomi desa meningkat.

Tidak ada salahnya jika taman baca itu juga digunakan untuk kegiatan olah raga, juga belajar tentang pendidikan mitigasi bencana, dan belajar pramuka saka widya bakti budaya. Semua itu dalam rangka membentuk karakter pemuda yang cerdas berwawasan luas, tangguh lahir batin dan berkontribusi aktif terhadap pembangunan masyarakat sebagai ‘agent of change’ dimana mereka tinggal.

Sungguh, jika semua impian Cak Yo bisa teraktualisasikan, maka PKBM At-Taubah akan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang programnya bisa menjawab kebutuhan masyarakat secara mandiri, kreatif dan inovatif tanpa menunggu bantuan dari pemerintah yang sering kali sangat birokratis. Hal ini sangat memungkinkan karena Cak Yo memiliki banyak relasi yang terdiri dari berbagai profesi yang mumpuni. Tinggal bagaimana Cak Yo mengkomunikasikan mimpinya agar dimengerti dan diminati.

Sementara Cak Yo masih terlena dengan mimpi indahnya, komponen lain dari PKBM At-Taubah yang berkedudukan di Dusun Susukan Kidul, Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, tetap istiqomah menjalankan perannya mengawal program yang sudah bergulir, agar semakin berkembang menebar kebermanfaatan bagi masyarakat. Seperti batik susukan yang sudah mulai menemukan pasarnya.

Berharap Cak Yo tidak lupa mengajak para pengelola PKBM AT-Taubah untuk bermimpi indah dalam tidurnya dan diikuti doa yang tulus penuh kepasrahan. Selanjutnya serahkan semua kepada Tuhan agar mimpi indah itu dieksekusi sesuai takdir kehidupan. Hal ini sesuai dengan sabda-NYA, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11).

Untuk itu mari dukung Cak Yo yang sedang membangun mimpi indah tentang program literasi untuk anak pinggiran. Semoga Allah memberikan petunjuk, bimbingan dan kemudahan untuk mewujudkan mimpi Cak Yo. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/Senin pahing-18/11]

.

Kamis, 14 November 2019

SRPB JATIM MENYIAPKAN SUKSESI LEWAT KONGRES 2020


Sungguh tidak terasa, kiprah pengurus sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana Jawa timur (SRPB JATIM) telah dipenghujung pengabdiannya, tinggal lima bulan kabinet Dian Harmuningsih akan mengakhiri masa tugasnya. Kabinet pertama hasil kongres di Regent Park Hotel, Kota Malang, tahun 2017.

Cerita suka duka mengawali perjalanan SRPB JATIM menjadi bumbu penyedap dalam mengelola wadah berbagai organisasi relawan untuk berkoordinasi, berkomunikasi tukar informasi dan bersama membangun sinergi untuk meningkatkan kompetensi.

Kala itu, masing-masing personil mengawali interaksinya dengan sedikit rasa rikuh. Seiring berjalannya waktu, semua semakin bersatu menyamakan chemistry menjalankan programnya. Salah satunya adalah agenda Rutinan Arisan Ilmu Nol Rupiah. Semula Arisan ilmu itu dirancang sebagai media perekat untuk mempererat tali silaturahmi agar keberadaan SRPB JATIM tidak hanya menjadi organisasi papan nama yang hidupnya harus diampu.

Namun ternyata agenda rutinan itu menjadi media memperluas wawasan, pengetahuan dan informasi berbagai elemen. Termasuk meningkatkan jejaring kemitraan, yang tidak menutup kemungkinan terjadi relasi bisnis tipis-tipis. Dan itulah yang terjadi.

Berbagai capaian dan keguyuban ini kiranya wajib ditingkatkan kualitasnya dan terus dikembangkan oleh kabinet berikutnya yang akan dipilih secara demokratis lewat kongres. Harapannya akan terjadi suksesi yang sehat dan tetap mempertahankan marwah SRPB JATIM sebagai mitra kritis BPBD yang amanah dalam membantu upaya sosialisasi pengurangan risiko bencana dan penanggulangan bencana (jika memungkinkan), serta kerja-kerja bareng lainnya untuk menjalankan program rutin.

Kini, menjelang akhir tahun ke dua pengabdiannya, SRPB JATIM telah menorehkan berbagai kiprah yang bermanfaat bagi mereka yang terlibat. Begitu juga keberadaannya mampu mengantarkaan personilnya meraih pengalaman baru yang membawa berkah dalam rangka peningkatan kapasitas relawan.

Tentu ini akan menjadi bekal bagi relawan milenial untuk mengikuti suksesi yang indah, jauh dari fitnah. Untuk itu, tidak ada salahnya jika kebiasaan ngobrol sambil ngopi tipis-tipis itu mulai diarahkan ke pertukaran konsep dan ide-ide inovatif yang kreatif untuk mengelola SRPB JATIM pasca kongres ke dua nanti (menurut jadwal, april 2020).

Agar pertukaran konsep dan ide itu bisa berjalan, hendaknya pengurus mulai aktif mendorong munculnya relawan milenial yang potensial ikut mengisi kabinet hasil kongres 2020. Bisa saat klesetan di sekretariat nunggu kiriman kopi dari mBak Pinky, bisa juga jagongan ning sor wit pelem omah ngarep sawah, atau, menggunakan grup WhatsApp untuk saling lempar kementar, mengerucutkan gagasan segar yang mampu menyemangati roh SRPB JATIM agar tetap sangar, dan tidak semakin hambar untuk kemudian ambyar karena terlambat menebar kader anyar.

 Ya, susksesi itu memang harus terjadi sebagai tanda organisasi yang dinamis dan tidak tabu terhadap reformasi. Semoga, semua relawan mitra SRPB JATIM diam-diam sudah menyiapkan kongres ke dua yang tempatnya belum ditentukan karena pengurusnya belum mengagendakan rapat evaluasi akhir program. Salam Kemanusiaan. Salam Literasi terus menginspirasi. [eBas/Jum’atWage-15/11]           
      
   



Selasa, 12 November 2019

PKBM AT-TAUBAH MENCOBA TAMPIL BEDA


“Kurikulum jangan kaku, harus fleksibel sejalan dengan perubahan dunia yang kita alami,” Kata  Joko Widodo, saat rapat di istana Presiden. Masih kata presiden yang dimuat harian Kompas, jum’at (1/11), bahwa kurikulum hendaknya bisa memperkuat pendidikan etika, budi pekerti, kebencanaan dan ideologi Pancasila, serta mampu menyiapkan manusia Indonesia yang siap kerja, siap berwirausaha dan berkarya.

Apa yang disampaikan presiden di atas tampaknya sudah banyak dilakukan oleh pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang mengusung jargon, “Melayani yang tidak terlayani, menjangkau yang tidak terjangkau” dengan menggelar menu keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Seperti keterampilan menjahit, sulam, sablon, komputer, dan keterampilan membuat jajanan serta kerajinan tangan memanfaatkan barang bekas, adalah program keterampilan yang biasa digelar untuk membekali peserta didiknya pasca menuntut ilmu di PKBM. Biasanya keterampilan ini melekat pada program keaksaraan dan program kewirausahaan.

Namun sayang, seringkali program keterampilan ini dibiarkan layu sebelum berkembang karena tidak dikoordinir pasca program menjadi sebuah usaha ekonomi produktif. Sehingga yang terjadi, peserta didik kembali tidak berdaya untuk keluar dari lingkaran kebodohan untuk kemudian menunggu program yang sama di tahun depan. Sebuah lingkaran setan yang dekat dengan eksploitasi peserta didik oleh pengelola.

Ke depan praktek semacam ini hendaknya segera dibongkar karena tidak sesuai dengan semangat pak mentri mantan Bos ojol ini. PKBM harus benar-benar bisa menyiapkan peserta didiknya untuk siap berkarya dan bekerja. Baik bekerja sebagai karyawan maupun berwirausaha membuka lapangan kerja untuk orang lain. Tentunya, memanfaatkan keterampilan yang telah dipelajari di PKBM.

PKBM At-Taubah yang baru seumur jagung, diharapkan bisa memulai harapan presiden dengan program yang inovatif dan kreatif. PKBM yang berdomisili di pinggiran kota kecamatan sangat potensial mengembangkan kelompok belajar usaha produk kerajinan tradisional Batik Susukan yang dikemas beraneka corak warna menggoda. Konon usaha ini sudah banyak peminatnya sehingga bisa menginspirasi lahirnya KBU selanjutnya. Alangkah eloknya jika KBU ini dikerjasamakan dengan Dinas Koperasi dan UMKM dalam hal pembinaan dan memperluas jejaring kemitraan.

Apalagi, sebagian besar pengurus PKBM At-Taubah adalah pegiat aksi kemanusiaan di bidang penanggulangan bencana, pastilah mereka paham dengan pemberdayaan masyarakat sekaligus pelestarian lingkungan. Artinya, tidak ada salahnya jika PKBM At-Taubah juga peduli terhadap upaya pengurangan risiko bencana untuk menciptakan budaya sadar bencana.

Sriharini (2010) mengatakan, yang dimaksud dengan masyarakat sadar bencana adalah kondisi masyarakat yang memiliki pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan kepedulian dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebencanaan, sehingga memiliki kesadaran untuk bersikap dan melakukan adaptasi di wilayah yang rawan bencana dengan sebaik baiknya, dan dapat berpartisipasi secara  aktif dalam meminimalisir terjadinya bencana atau mengatasi dampak apabila terjadi bencana. 

Apalagi sekarang sudah lahir Permendikbud nomor 33 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Dimana, dalam pasal 3 dikatakan bahwa sasaran penyelenggara SPAB meliputi satuan pendidikan jalur formal maupun nonformal disemua jenjang dan jenis pendidikan. Itu artinya, PKBM sebagai salah satu satuan pendidikan nonformal wajib menyelenggarakan pendidikan mitigasi bencana. 

Seperti diketahui, jika terjadi bencana, maka yang menjadi korban pertama adalah masyarakat itu sendiri, sekaligus menjadi penolong pertama sebelum bantuan dari luar datang. Untuk itulah personil At-Taubah yang punya pengalaman dibidang kebencanaan, tidak ada salahnya jika menginisiasi terbentuknya desa tangguh bencana secara mandiri dan benar-benar tangguh (bukan tangguh sulapan). Sehingga masyarakat bisa mengenali potensi bencana yang ada di daerahnya dan melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana secara swadaya, tanpa menunggu bantuan yang tidak seberapa.

Sungguh, jika PKBM At-Taubah berani menjaga marwah untuk tampil beda. Baik dalam pelaksanaan program pembelajaran maupun program usaha ekonomi produktif, maka masyarakat akan semakin percaya dan termotivasi untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan hidup dalam arti luas. Dampaknya tentu, keberadaan lembaga yang dikelola secara islami ini akan menjadi tolehan berbagai pihak, karena telah mengamalkan amanat presiden, yaitu membekali peserta didik siap terjun ke dunia kerja dengan mewadahinya dalam kelompok belajar usaha. Salam Tangguh, Salam Literasi, tetap menginspirasi. [eBas/selasa legi-12/11].   
  
  


  




   

Minggu, 03 November 2019

PKBM AT-TAUBAH BANYUWANGI MENGGELAR SEMINAR DAN UNJUK KARYA MANDIRI.


Pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) At-Taubah Kabupaten Banyuwangi mengadakan acara seminar tentang “Entrepreunership Dalam Kontek Sadar Bencana”. Kegiatan ini mengundang berbagai kalangan, khususnya para pegiat satuan pendidikan nonformal,  bertempat di Bumi Perkemahan Wisata Edukasi Batik PKBM ‘At – Taubah’, Susukan kidul, Gladag, Rogojampi Banyuwangi, selama dua hari, 2 – 3 November 2019.

Kegiatan ini sangat menarik. Pengunjungnya banyak dan antusias menikmati segala sajian dari panitia. Beberapa spot dibuka dengan berbagai informasi yang bernilai edukasi. Ada unjuk karya alat yang dinamakan ATM Beras untuk menyantuni kaum dhuafa (inovasi dari semangat jempitan beras yang diperbarui dengan pendekatan komputerisasi), Ada pula pameran jajanan olahan yang memanfaatkan buah naga. Seperti rengginang buah naga dan Keripik buah Pare.  

Tidak lupa produk unggulan karya kerajinan tangan berupa Batik Susukan hasil kelompok belajar usaha (KBU) PKBM ‘At – Taubah’ yang baru seumur jagung namun sudah berprestasi setinggi gunung, ikut ditampilkan dan menarik perhatian. Bahkan sudah melayani pesanan sampai ke luar jawa.

Ya, dengan produk batik yang khas dan di tawarkan lewat media on line, pesanan demi pesanan mengalir dan tentunya menyenangkan. Dampaknya, keberadaan PKBM At-Taubah semakin dikenal. Hal ini menjadi penyemangat tersendiri bagi mereka yang terlibat dalam proses pembuatan Batik Susukan dengan corak khas mBanyuwangen.

Tentu saja pengurusnya harus terus meningkatkan ‘tampilan’ lembaga dengan program-program yang menarik sekaligus dirasakan oleh masyarakat sekitar. Ini tidak mudah, perlu komitmen kuat dari mereka yang terlibat. Tanpa itu, At-Taubah akan menjadi PKBM jenis On – Off, yang hidupnya tergantung pada bantuan. tanpa itu dia akan mati suri, seperti yang disinyalir oleh Kabid Dikmas, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

Hal ini sejalan dengan pemateri seminar, Dian Harmuningsih, Koordinator sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana (SRPB) Jawa Timur, yang membahas tentang pentingnya generasi muda memahami entrepreunership agar bisa membuka peluang usaha sendiri tanpa tergantung kepada pihak lain. Sehingga akan menjadi lembaga yang benar-benar mandiri dan membawa kebaikan bagi sesama.

Ke depan, keberadaan KBU Batik diharapkan bisa mendorong tumbuhnya KBU lain sesuai pangsa pasar yang masih terbuka lebar. Sehingga bisa mensejahterakan anggotanya dalam arti luas, secara mandiri, dan kreatif sesuai konsep pemberdayaan yang menurut Suharto, adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan.

Pemberdayaan masyarakat juga diartikan sebagai kemampuan individu yang bersenyawa dengan masyarakat dalam membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan sehingga bertujuan untuk menemukan alternatif-alternatif baru dalam pembangunan masyarakat (Mardikanto dalam Muchlisin, 2017).

“Seminar enterpreuneurship ini hendaknya menjadi pimicu warga belajar dalam membangun kesadaran budaya kerja mandiri di era milenial seperti yang pernah disinggung oleh Mendikbud yang baru, pengganti Muhajir effendi. Semuanya ini kembali kepada pengelolanya.” Kata Basuki memberi masukan kepada peserta seminar yang diinisiasi PKBM At-Taubah.

Diakhir seminar, Pangarso Suryotomo, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat, BNPB, mengatakaan bahwa upaya memampukan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana (PRB) itu hendaknya berpedoman pada Empat Prioritas Aksi SFDRR 2015 – 2030. Yaitu, memahami risiko bencana, memperkuat tata kelola risiko bencana, investasi dalam PRB untuk ketangguhan, dan memperkuat kesiapsiagaan untuk respon yang efektif dan Bild Back Better dalam pemulihan dan rehabilitasi rekonstruksi.

Panglima Relawan, begitu gelar pria asli Jokja ini, juga mengingatkan bahwa ada beberapa Target Penangulangan Bencana yang harus diupayakan tercapai. Yaitu, mengurangi kerusakan infrastruktur, mengurangi jumlah kerugian akibat bencana, mengurangi penduduk terdampak bencana, mengurangi kematian akibat bencana.

“Disamping itu juga ada upaya meningkatkan ketersediaan informasi dan peringatan dini (EWS), meningkatkan kerjasama internasional, dan meningkatkan strategi pengurangan risiko bencana nasional dan lokal,” Kata pria yang akrab juga dipanggil Pak Papang, yang tidak pernah lepas dari rokoknya dan tentu saja kopi.

Dari obrolan gayeng malam-malam pasca seminar, sambil nimati sruputan kopi dan hawa hujan yang tampaknya segera turun, muncul setangguk harap, semoga PKBM AT-Taubah bisa menggelar program-program pendidikan masyarakat yang kental akan nilai pemberdayaan masyarakat sekaligus membangun budaya sadar bencana sehingga masyarakat memiliki kemampuan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana secara mandiri sesuai potensi bencana yang ada di daerahnya.

Alangkah eloknya jika PKBM At-Taubah menjadi pelopor literasi kebencanaan dengan melibatkan pramuka sebagai "agent of change" bagi masyarakat dengan membawa pesan-pesan pelestarian lingkungan, cinta flora dan fauna serta upaya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Salam Kemanusiaan, Salam Literasi, tetap menginspirasi. [eBas/Senin pon-4/11]  
  
  





    




Senin, 28 Oktober 2019

SUDAH WAKTUNYA SPAB MASUK PENDIDIKAN NON FORMAL


Di era milenial ini, bencana alam semakin sering melanda berbagai daerah dengan dampak yang merugikan kehidupan masyarakat yang terdampak. Sehingga diperlukan upaya bersama untuk menangani bencana. Paling tidak bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan. Dengan kata lain, diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat untuk mendorong gerakan sadar bencana, hal ini mengingat bahwa bencana itu bukanlah urusan pemerintah semata. Tapi menjadi urusan bersama seluruh masyarakat untuk menanggulangi bencana.

Salah satu upaya yang coba diperkenalkan adalah konsep satuan pendidikan aman bencana (SPAB). Sekolah aman bencana adalah sekolah yang menerapkan standar sarana dan prasarana serta budaya yang mampu melindungi warga sekolah dan lingkungan di sekitarnya dari bahaya bencana. Sementara fasilitas sekolah aman itu merupakan fasilitas gedung sekolah dan halaman sekitar memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, dan kemudahan. Termasuk kelayakan bagi anak berkebutuhan khusus, kenyamanan dan keamanan.

Sekolah aman ini merupakan bagian dari materi satuan pendidikan sekolah aman (SPAB), sebagai upaya pengurangaan risiko bencana secara mandiri oleh komunitas sekolah. Mereka itu terdiri dari unsur  kepala sekolah, staf tata usaha, pendidik, wakil peserta didik (anggota OSIS) dan anggota komite sekolah. Sehingga mereka dapat melakukan upaya penyelamatan sendiri sebelum bantuan datang.

Kegiatan ini juga sebagai upaya menemukenali potensi bencana yang ada di daerahnya. Hal ini penting, karena ada banyak ancaman bencana yang tersebar di seluruh wilayah jawa timur. Diantaranya seperti bencana banjir, tanah longsor, gempa, erupsi gunung berapi, kekeringan, kebakaran, angin puting beliung. Tentu penanganannya berbeda antara bencana satu dengan lainnya.

Bagaimana dengan satuan pendidikan nonformal (PAUD, PKBM, LKP) ?. Dengan banyaknya ancaman bencana, kiranya perlu membekali para pengelola dan pendidik satuan pendidikan nonformal dengan materi pengurangan risiko bencana sebagai upaya membangun ketangguhan dalam menghadapi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Apalagi kebanyakan lembaga nonformal melayani perseta didik yang berdomisili di daerah rawan bencana. Sehingga punya kewajiban untuk mengingatkan adanya potensi bencana dan cana menanggulanginya.  
         
        “Paling tidak, dengan materi ini, peserta bisa mengimbaskan kepada sasaran didiknya agar mereka mengerti akan pentingnya sadar bencana,” Kata Mochamad Rosi, nara sumber dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Untuk itulah BP-PAUD dan DIKMAS Jawa Timur, dalam kegiatan peningkatan kompetensi PTK PAUD DIKMAS melalui bimbingan teknis/orientasi bagi pengelola PAUD, memasukkan materi satuan pendidikan aman bencana yang dikaitkan dengan upaya mitigasi untuk mengurangi dampak bencana. Ini merupakan sebuah terobosan baru yang belum pernah dilakukan oleh BP-PAUD dan DIKMAS lainnya. Mungkin saja Balai lain juga melakukan tapi dalam bentuk lain. Harapannya semoga semua Balai juga melakukan sosialisasi pengurangan risiko bencana sebagai bentuk sumbangsihnya kepada upaya penanggulangan bencana.

Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta pengelola PAUD di seluruh Jawa timur, untuk menambah wawasan tentang upaya membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Harapannya, sepulang dari kegiatan bimbingan teknis ini, peserta bisa mensosialisasikan satuan pendidikan aman bencana yang membahas tentang konsep sekolah aman bencana, manajemen bencana di sekolah, dan pendidikan pencegahan bencana.

Penyampaian materi SPAB ini disambut antusias oleh peserta. Apalagi saat nara sumber mengajak praktek membuat matrik jenis dan ragam ancaman di daerah, menentukan karakter ancaman dan penilaian risiko bencana, membuat rencana aksi untuk kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana serta membuat peta sekolah yang dilengkapi jalur evakuasi dan titik kumpul.

“Saya baru kali ini menerima materi kebencanaan. secara pribadi, saya  senang menerima materi satuan pendidikan aman bencana, karena ternyata penting mengenali potensi bencana yang ada di daerah saya, sehingga saya bisa mengurangi risiko bencana seminim mungkin,” Kata Ajeng Puspita, peserta dari Mojokerto.

Masih kata ibu berputera tiga ini, dirinya akan memberikan usulan kepada pengurus himpaudi kabupaten mojokerto agar melakukan sosialisasi tentang satuan pendidikan aman bencana kepada lembaga PAUD yang kebetulan di daerahnya ada potensi bencana yang bisa merusak bangunan PAUD beserta sara prasarana pendukungnya.

“Semuanya bisa dikurangi risikonya jika kita telah siap. Agar kita siap, maka upaya pengurangan risiko bencana harus menjadi gerakan massif agar masyarakat tumbuh kesadarannya akan pentingnya mengenali potensi bencana yang ada di daerahnya sekaligus bisa bergotong royong melakukan mitigasi secara mandiri. Ingat pesan nara sumber, kenali bahayanya, dan kurangi risikonya,” Katanya sambil membenahi tugas kelompoknya untuk dipresentasikan. [edibasuki/08123161763]
 







Sabtu, 26 Oktober 2019

NGOBROL TENTANG HUTAN DI KANTOR DINAS KEHUTANAN JATIM

Sabtu wage (26/10), di salah satu ruang rapat Dinas Kehutanan Jawa Timur, berbagai komunitas peduli lingkungan alam, bertemu dalam rangka Ngobrol Tentang Hutan. Kegiatan ini menghadirkan nara sumber dari pejabat di Dinas Kehutanan, Komunitas Nol Sampah  dan Komunitas Hutan itu Indonesia.

Namanya saja ngobrol tentang hutan, maka dalam salah satu slide, nara sumber menampilkan pengertian hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

Sedangkan hutan lindung diartikan sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Kegiatan ini berupaya mengajak pesertanya untuk mencintai hutan dan mengerti permasalahan yang membelit. Seperti masalah tutupan lahan dan hutan yang selalu berubah karena kebijakan tata guna lahan dan hutan yang berubah sesuai ‘kepentingan’ tertentu. Ya, alih fungsi lahan/hutan saat ini menjadi ancaman dalam upaya mempertahankan luasannya.

Disisi lain, perlunya memberi edukasi kepada masyarakat sekitar hutan agar bisa melakukan diversifikasi usaha tanaman yang menguntungkannya, sementara lingkungan hutan tetap terjaga ekosistemnya.

“Pendampingan kepada masyarakat sekitar hutan perlu dilakukan secara terus menerus sesuai dengan kondisi sosial budaya yang melatari. Sehingga mereka yang berkesempatan mendapat akses mengelola hutan, tidak hanya menanam tanaman semusim saja, tapi juga mau menanam tanaman pokok untuk mempertahankan fungsi hutan,” Kata Mudji, dari Relawan Sidoarjo saat rehat kopi.

Disamping Kopi dan teh panas, kegiatan yang berlangsung interaktif ini diramaikan dengan nasi bakar dan kudapan enak sekaligus mengenyangkan. Tersedia juga air galonan yang bisa diisikan ke dalam tumbler masing-masing peserta sebagai upaya mengurangi penggunaan gelas plastik.

Dalam slide yang lain, menggambarkan data dari dinas kehutanan jawa timur yang mengatakan bahwa upaya penanaman pohon di hutan belum optimal. Hal ini diantaranya disebabkan oleh tingkat keberhasilan tanam yang rendah, kesejahteraan masyarakat sekitar hutan banyak yang masih rendah, penanaman komoditas tanaman semusim menyalahi aturan, bencana banjir dan longsor selalu mengancam saat musim hujan. Sementara kekeringan dan kebakaran menjadi masalah tersendiri dimusim kemarau.

Kegiatan ini juga bicara tentang Ekosistem Esensial (EE), yaitu Ekosistem di luar kawasan konservasi yang secara ekologis penting bagi konservasi keanekaragaman hayati yang mencakup ekosistem alami dan buatan yang berada di dalam dan di luar kawasan hutan. Tentu semua ini dalam rangka upaya pelestarian lingkungan sekitar beserta flora faunanya.

Sementara, hutan mangrove dimaknai sebagai ekosistem yang tumbuh dan berkembang di daerah pasang surut, terutama dipantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut, yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap kadar garam yang tinggi.

Tidak nyangka, ternyata mangrove itu paling tidak ada 19 jenis mangrove sejati dan 14 mangrove ikutan. Fungsi dari hutan mangrove itu jelas untuk mencegah intrusi air laut, melindungi garis pantai dari abrasi dan tsunami, tempat berpijah aneka biota laut, tempat berlindung dan berkembang biak berbagai jenis burung, mamalia, reptil dan serangga, menyediakan hasil hutan berupa kayu dan non kayu, pengembangan wisata, penyerap polutan, dan arena penelitian dan pendidikan.

Sungguh, informasi yang didapat peserta dalam ngobrol tentang hutan sangat banyak dan baru. Alangkah eloknya jika acara ngobrol bareng ini ada kelanjutannya. Ya, paling tidak komunitas pemerhati lingkungan (seperti Pramuka saka Wana Bhakti) bisa bekerja sama dengan dinas kehutanan untuk mengagendakannya tanpa harus mengganggu anggaran program dinas kehutanan.  Seperti mengadakan persami yang di dalamnya diisi dengan sarasehan tentang upaya pelestarian hutan dan sebagainya. Sungguh pasti akan menarik. Semoga. [eBas] 

Senin, 21 Oktober 2019

SAPALIBATISME DALAM PENANGGULANGAN BENCANA


          Dalam UU 24 tahun 2007, mengatakan bahwa masyarakat diharapkan terlibat dalam penanggulangan bencana. Ya, semua pihak dapat berkontribusi  dalam kegiatan penanggulangan bencana. Termasuk juga dalam upaya pengurangan risiko bencana. Untuk itulah pemerintah yang membidangi kebencanaan hendaknya ‘berkenan’ menerapkan konsep sapalibatisme. Yaitu menyapa dan melibatkan mereka yang memiliki kepedulian dalam kegiatan kebencanaan dan bahkan sering kali tampil lebih dulu di lokasi sebelum lainnya ‘move on’.

Begitulah adanya. Setiap kali terjadi tanggap darurat, banyak relawan ‘yang berdaya’ selalu berlomba tampil pertama membantu mengevakuasi warga, membuka dapur umum, membersihkan jalan untuk memudahkan mobilisasi kendaraan bantuan, menyiapkan tempat pengungsian, bahkan mengumpulkan donasi/bantuan dari masyarakat. Ya, mereka mengambil peran sendiri, sementara yang lain juga berperan di sisi lainnya sesuai kemampuan.

Hal ini terjadi karena, sesungguhnyalah dibanyak kasus,  masih sering dijumpai belum memadainya kinerja penanggulangan bencana, hal tersebut terkait dengan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam pelaksanaan tanggap darurat. Belum lagi akibat kepanikan yang berlebih menyebabkan kelambatan penanganan korban bencana.  

Disisi lain, sampai saat ini nyatanya kesadaran masyarakat terhadap pengurangan risiko bencana masih rendah. Termasuk masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, meliputi rendahnya kesadaran terhadap upaya pengurangan risiko bencana serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Hal ini mungkin karena kurang gencarnya upaya sosialisasi pengurangan risiko bencana (PRB) seperti yang dituangkan dalam konsep PRBBK/PRBBM.

Pertanyaannya kemudian, dalam konsep sapalibatisme itu siapa yang menyapa dan melibatkan mereka?. Termasuk dalam bentuk apa sapaan dan pelibatannya. Tampaknya, untuk menjawabnya tidaklah semudah membalikkan tangan. Diperlukan dialog panjang untuk membangun kesepahaman. Harus ada acara duduk bareng antara birokrat, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media massa untuk memahami dan melaksanakan konsep sapalibatisme, sekaligus membongkar ego sektoral dari masing-masing unsur pentahelix.

Harapannya, jika dalam acara duduk bersama itu bisa mengambil kesepahaman, pastilah hasilnya akan semakin tampak dan terkoordinasi. Misalnya perlu dirancang kegiatan sosialisasi PRB yang terjadwal dengan melibatkan berbagai unsur. Sehingga, dari situ bisaa mendorong pelaksanaan perencanaan pembangunan yang memasukkan upaya PRB dalam proses manajemen pembanganan daerah.

Gelaran diskusi yang melibatkan beragam komponen ini juga termasuk upaya menjalankan konsep sapalibatisme dalam upaya pengurangan risiko bencana  dan percepatan  penanggulangan bencana. melalui KKN tematik, pihak kampus yang dimotori akademisi mencoba memotivasi kaum emak-emak untuk berdaya dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui program Dhasa Wisma Tangguh Bencana.

Tidak ada salahnya jika relawan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki jiwa sosial berlebih dan terlatih dalam tugas-tugas kemanusiaan, juga memulai untuk menggelar diskusi-diskusi agar bisa terlibat dalam kegiatan pra bencana maupun pasca bencana. ya, jalan panjang yang berliku tampaknya masih menghadang untuk mengembangkan konsep sabalibatisme. [eBas/Selasa Kliwon-22/10]