Sabtu, 04 Januari 2020

TULISAN FAUZAN MUKRIM PERLU DIVIRALKAN UNTUK PEMBELAJARAN


Disclaimer.
Ini cerita subjektif saya saja, dan semoga tidak dijadikan bahan untuk mendiskreditkan siapa pun. (mungkin tulisan ini cocok di beri judul “Bapak Berbaju Biru Belagu”, red)

Mari bersama kita simak cerita Fauzan mukrim untuk pembelajaran bagi kita para pegiat kemanusiaan (ya relawannya, ya pejabatnya), agar bisa saling memahami, bahwa kerja-kerja kemanusiaan itu tujuannya satu, menyelamatkan sesamanya.

Sesungguhnyalah, pejabat itu harus ngerti bahwa tanpa bantuan seseorang (relawan) dalam menangani bencana, pastilah akan keteteran dan korban akan semakin banyak. Karena dibeberapa kasus, pejabat itu kalau ada bencana akan disibukkan dengan urusan administrasi sehingga tidak bisa fokus pada upaya penyelamatan korban. Makanya perlu kehadiran seseorang untuk membantu dengan ikhlas dan sukarela. Untuk itu hargailah jerih payahnya. Jangan dibentak-bentak, jangan disuruh-suruh karena dia bukan bawahanmu ……

Ayo kita mulai membaca dengan hati, jangan lupa siapkan secangkir kopi ……
………

Ketika saya sampai di Perumahan Wisma Tajur, saya melihat anak muda berbaju merah pudar itu sudah sibuk di dekat gapura kompleks. Ia bersama seorang warga bernama Pak Hendri dan seorang ketua RT, mengatur evakuasi dan distribusi logistik. Di tangannya ada sebuah buku yang berisi catatan warga di mana saja yang belum dievakuasi. Hanya ada satu perahu karet milik BNPB. Satu perahu karet lagi barusan ditarik untuk dipindahkan ke Pondok Bahar.

Perumahan Wisma Tajur ini salah satu wilayah banjir terparah di Tangerang. RW 07 yang terdiri dari sekitar 600 rumah, semua terendam. Tadi malam air mencapai atap, tapi Kamis siang sudah surut sampai sedada. Lokasinya hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari kompleksku. Saya melipir ke situ karena permintaan kantor untuk live report, setelah mengungsikan keluargaku ke tempat yang aman. Kompleksku juga kebanjiran, tapi tidak separah Wisma Tajur. Di tempatku "cuma" sepinggang.

Dari obrolan sekilas dengan anak muda itu, saya tahu kalau dia bukan warga setempat. Ia pekerja NGO dan kebetulan ibu mertuanya juga terjebak di dalam kompleks. Dia mengaku pengantin baru. Sudah dari semalam di situ. Entah perintah kantor atau karena inisiatifnya sendiri, dia mengambil peran sebagai "kordinator". Saya mengenal beberapa anak muda seperti ini. Mereka yang gampang tergerak tanpa harus menunggu birokrasi. Bleeding heart, sebutannya.

Saya perhatikan dia memang cukup berperan. Dia mengkordinir pemasangan jalur tambang supaya warga bisa masuk sendiri membawa logistik atau mengevakuasi keluarga tanpa perlu menunggu perahu.

Saya lihat dia agak keteteran, jadi saya putuskan untuk membantunya, sambil saya mengumpulkan bahan liputan untuk kantor. Saya bantu mengumpulkan logistik yang mau diantar per blok. Untungnya, tak lama kemudian, 5 orang tentara datang. Saya jelaskan kondisinya dan mereka bersedia membantu mengantar logistik untuk warga yang masih bertahan di dalam. Tapi data siapa yang harus dievakuasi dan diantarkan logistik, tetap dipegang oleh anak muda itu. Kita sebut saja namanya R.

"Baru gue lihat ada wartawan abis kerja turun ngebantu, Bang," katanya.
Saya bilang rumah saya juga kebanjiran, dan secara geografis ini masih wilayah tetangga saya juga.
"Biasanya langsung ngopi," katanya lagi. Saya tertawa.

Semua lancar dan baik saja, sampai kemudian datang seorang bapak berbaju biru itu.
"Siapa kamu? Datang malah ngatur-ngatur!" teriaknya. Dia marah dan kelihatannya merasa dilangkahi wewenangnya oleh R.

Ia memarahi R dengan kata-kata keras dan menyebut dirinya sebagai pejabat kecamatan yang lebih bertanggungjawab.

Saya menarik R mundur dan menenangkannya. Istri R yang juga ada di situ menunggu ibunya dievakuasi, memeluk R. "Tenangin suamimu, Mbak." Saya bilang begitu.
Beberapa orang, termasuk petugas Babinsa, menarik si bapak pejabat.

R mengangkat tangannya yang menggenggam buku itu ke atas.
"Saya buang ini sekarang!" katanya menahan marah.
Dan memang, catatan siapa yang sudah dan masih harus dievakuasi itu, cuma R yang pegang. Perangkat RW mempercayakan padanya.

Ketika kemudian petugas Tagana Baznas datang, R menyerahkan catatannya itu kepada rescuer dan dia sendiri menepi entah ke mana. Mungkin menenangkan diri.
Saya berusaha memahami situasinya. Beberapa warga yang saya tanya, jelas membela R.

"Dia sudah dari semalam bantu kita," kata seorang ibu.
"Tak apa, Mas, warga juga tau kok siapa yang kerja," kata seorang remaja yang sedari tadi saya lihat memandu perahu karet. Badannya basah kuyup.

Saya sempat merekam ketika pejabat itu memarahi R dengan kata-kata keras sambil menyebut siapa dirinya. Tapi saya simpan untuk diri sendiri saja.

Saya juga tak tahu lagi ke mana sang pejabat pergi setelah itu. Saya baru bertemu dia lagi di posko ketika Wakil Walikota datang meninjau.

Saya beli sebotol teh Pucuk Harum. Meminum tegukan pertama.
Pak Wawali disambut para perangkat, yaitu ketua RW, Lurah, dan oh juga bapak yang marah-marah tadi. Setelah itu mereka berfoto dengan mandatory style: memberi jempol atau mengepalkan tangan.

Barangkali di tegukan keempat atau kelima teh pucukku, rombongan itu sudah pamit pergi lagi.

Saya dengar seseorang berteriak. Hidup, Pak Wakil! Tahun depan Wali Kota!"
Saya mengerjakan tugasku live by phone ke kantor, dan setelah itu pergi mencari R. Saya melihat ia menggendong bayi yang tampak lemah. Ibu si bayi mengikut di belakangnya. Bayi itu demam dan butuh bantuan medis.

Saya arahkan ke posko tempat tadi para bapak pejabat itu berfoto.
"Lo naik apa, Bang?" tanyanya. Bayi yang dia gendong itu tersingkap sarungnya. Mungil sekali. Saya jadi ingat Rain, dan hampir menangis lagi setelah tadi melihat anak kecil yang popoknya penuh itu.
"Motor," kataku.
"Ntar gue nebeng lo pulang ya."

Saya iyakan. Saya menunggunya di dekat motorku terparkir, tapi dia tak juga muncul. Kepalaku agak pening dan pertigaanku mulai terasa lembab setelah terendam sepaha tadi.
Saya memutuskan pulang duluan. Saya berharap, mudah-mudahan nanti kami bisa berjumpa lagi di tempat yang lebih kering dan tak ada orang teriak-teriak. [fm]

Senin, 23 Desember 2019

UJI KOMPETENSI RELAWAN PENANGGULANGAN BENCANA


     Sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana (SRPB) Jawa Timur, sebagai mitra kritis dari BPBD Provinsi Jawa Timur, telah beberapa kali dipercaya menyiapkan relawan untuk mengikuti uji kompetensi (sertifikasi) relawan sesuai kuota yang disediakan oleh BPBD atas petunjuk LSP-PB. Uji kompetensi ini penting agar relawan memiliki keahlian sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Penanggulangan Bencana (SKKNI PB). Sebagai barang baru, tentu program uji kompetensi ini perlu terus menerus di viralkan agar relawan semakin paham dan tidak alergi mendengar kata uji kompetensi relawan.

Alhamdulillah, berkat ketegasan dan kejudesan seorang Dian Harmuningsih,  Koordinator SRPB JATIM, kesempatan yang diberikan selalu berakhir dengan baik. Kuota terpenuhi (bahkan kuotanya bisa ditambah secara mendadak, ketika ada peserta yang tiba-tiba muntaber, mundur tanpa berita), dan relawan yang mengikuti ujikom juga mumpuni dibidangnya. Semua ini karena ‘didikan keras’ dari emaknya Falain, yang juga aktif sebagai komandan pramuka brigade penolong Jawa Timur. Sehingga relawan bertambah wawasan, pengetahuan, keterampilan dan sikapnya.  

Semua ini karena relawan yang aktif di SRPB, disamping lebih siap, juga benar-benar memiliki pengalaman. Baik pengalaman organisasi, mapun pengalaman lapangan. Termasuk pengalaman mengikuti berbagai pelatihan.

Di dalam acara Arisan Ilmu Nol Rupiah, khas SRPB JATIM, dikatakan bahwa tujuan dilaksanakan uji kompetensi adalah melihat indikator ketercapaian standar kompetensi relawan yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan martabat dan profesionalitas relawan dalam rangka ikut melakukan operasi penanggulangan bencana. Karena, sesungguhnyalah kerja-kerja kemanusiaan itu memerlukan sumberdaya manusia yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan kompetensi sesuai bidang profesinya masing-masing, sehingga kerjanya cepat, tepat, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk itulah, saat uji kompetensi berlangsung, relawan tidak hanya mampu bercerita tentang pengalaman dibidang kebencanaan, serta mampu menjawab pertanyaan yang disodorkan oleh asesor saja. Namun, yang lebih penting  relawan harus memiliki bukti fisik sesuai okupasi yang dipilih, berupa dokumen asli. Bisa berupa piagam, sertifikat atau ijasah, dan foto-foto dokumentasi saat mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya penanggulangan bencana

Seperti diketahui, setiap gelaran Arisan Ilmu, tidak henti-hentinya Koordinator SRPB JATIM mengingatkan agar peserta memiliki sertifikat Arisan yang materinya selalu berbeda dan bermanfaat untuk menambah wawasan, karena disampaikan oleh nara sumber yang kompeten di bidangnya. Sekaligus memperbanyak portofolio yang akan digunakan untuk bekal mengikuti uji kompetensi. Karena, sesungguhnyalah kegiatan rutinan Arisan Ilmu itu bisa dimaknai sebagai media edukasi bagi relawan penanggulangan bencana.

Apalagi, SRPB JATIM sampai saat ini masih sering mendapat kuota gratisan untuk mengikuti uji kompetensi. Untuk itulah diharapkan organisasi relawan yang sudah bermitra dengan SRPB JATIM diharapkan lebih siap menyambut uji kompetensi tanpa harus muntaber. Karena jika tidak siap, maka akan diberikan kepada relawan yang lebih siap, walau mereka bukan mitra SRPB JATIM. ya, kuota gratisan itu memang wajib dipenuhi karena menyangkut kredibilitas SRPB terhadap LSP-PB. Mari bersama menjaga kepercayaan yang diberikan oleh BPBD JATIM. [eBas/Selasa pon malam natal-241219]










Sabtu, 14 Desember 2019

SRPB JATIM DAN GERAKAN LITERASI KEBENCANAAN


Konon, bangsa yang berperadaban maju itu dapat dipastikan memiliki budaya baca tulis yang tinggi. Dengan kata lain, jika ingin maju, maka mau tidak mau harus menggerakkan literasi, yaitu membiasakan diri akrab dengan bacaan untuk kemudian diikuti dengan kebiasaan menulis. Begitu juga dengan relawan penanggulangan bencana, harus mau mengembangkan budaya baca dan mengasah gagasan dan idenya melalui kegiatan diskusi dan ngopi (ngabrol pintar) .

Dalam Wikipedia, pengertian literasi itu istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Relawan pun tampaknya juga harus mumpuni dalam hal membaca, menulis dan berbicara sehingga bisa turut berperan serta dalam fase pra bencana, diantaranya melakukan penyuluhan dan sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat, khususnya mereka yang berdomisili di daerah rawan bencana.

Hal ini mengingat Indonesia memiliki potensi bencana dan selalu memunculkan risiko korban harta benda, bahkan jiwa. Ingat, bencana alam tidak bisa dihindari, tetapi jumlah korban jiwa bisa dikurangi. Maka dari itu, diperlukan gerakan literasi kebencanaan oleh komunitas (sukur-sukur bisa berkolaborasi dengan BPBD setempat).

SRPB Jatim, yang memiliki kegiatan rutin Arisan Ilmu, merupakan upaya meningkatkan kapasitas relawan. Baik melalui materi yang disajikan maupun saat ngobrol antar relawan sambil ngopi berbagi pengalaman dan tukar informasi, sekaligus membangun jejaring kemitraan yang berbasis simbiosa mutualisma. Tinggal bagaimana mendokumentasikan aneka pembicaraan (termasuk postingan dan komentar di grup whatsapp), dalam bentuk tulisan, tanpa takut salah. Yang penting nulis dan belajar menulis aneka pengalaman yang tentunya mengesankan (paling tidak untuk diri sendiri).

Tanpa disadari, apa yang dilakukan dalam Arisan Ilmu itu merupakan sebuah gerakan literasi, khususnya literasi kebencanaan. Melalui gerakan ini relawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli lingkungannya, mengenali potensi bencana yang ada di daerahnya.

Harapannya, setelah masyarakat paham akan adanya potensi bencana, dan paham bagaimana mengantisipasinya sesuai konsep kesiapasiagaan menghaadaapi bencana, mereka juga mau dan mampu merawat pengetahuan tersebut yang diwariskan kepada generasi penerusnya.

Contohnya adalah masyarakat Kepulauan Simeulu, Aceh. Mereka di sana masih menjaga erat kearifan lokal literasi kebencanaan secara turun-temurun. Seperti istilah smong yang diteriakkan masyarakat ketika tahu ada tanda-tanda bahaya tsunami.

Gerakan literasi kebencanaan itu juga perlu didukung oleh peran media massa menyampaikan pengetahuan tentang kebencanaan. baik berupa iklan sadar bencana, maupun berita-berita terjadinya bencana beserta upaya penanggulangannya di berbagai daerah, juga acara berbagi informasi tentang pengurangan risiko bencana.

Salah satu akibat dari belum tumbuhnya budaya sadar bencana diantaranya banyak sarana prasarana sistem peringatan dini (EWS) yang dibiarkan rusak oleh masyarakat setempat, bahkan mereka juga tidak peduli ketika alat peringatan dini itu dicuri. sehingga tidak berfungsi ketika ada potensi datangnya bencana.

Untuk itulah, sudah waktunya BPBD menggandeng relawan melakukan gerakan literasi kebencanaan melalui penyuluhan pengurangan risiko bencana, pendampingan desa tangguh bencana dan keluarga tangguh bencana, serta program sejenis yang bertujuan menumbuhkan budaya sadar becana, membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Paling tidak, SRPB bisa mengajaka organisasi mitranya untuk mewujudkan gerakan literasi kebencanaan dalam berbagai bentuknya.

Ingat, musim hujan sebentar lagi datang. Bencana banjir dan longsor pun pasti akan meminta korban. Belum lagi bencana angin puting beliung yang semakin sering menimbulkan kerusakan. Waspadalah. [eBas/SabtuPon-141219]  





Selasa, 10 Desember 2019

SRPB JATIM DI ERA MILENIAL 4.0


Konon, di era revolusi industri 4.0 ini, semua masyarakat (termasuk relawan) diharapkan semakin melek internet dan cerdas menggunakan androidnya untuk menunjang mobilitas hidup ditengah-tengah masyarakatnya yang mulai mengalami pergeseran di segala bidang kehidupan. Konon semua aktivitas sosial ekonomi semakin dipermudah oleh digitalisasi yang serba berbayar secara online dan saling menguntungkan tanpa mengedepankan perasaan, mengutamakan terjadinya kesepakatan.

Di era ini, mobilitas hidup bergerak begitu cepat seiring perubahan teknologi informasi. Semua ini berdampak pada sikap hidup yang serba cepat dan cenderung asik dengan dirinya sendiri, untuk kemudian enggan berinteraksi dengan lingkungannya. Ya, dengan gadget ditangan, menjadikan yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa semakin jauh. Makanya sekarang ini orang semakin pendiam saat berkumpul di suatu tempat, bahkan ketika rapat. Karena semua asik memainkan gadgetnya sambil manggut-manggut untuk menimbulkan kesan memperhatikan dan mendengarkan.

Sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana jawa timur (SRPB JATIM) sebagai wadah berkumpulnya organisasi relawan haruslah berperan serta dalam mensosialisasikan literasi digital. Yaitu, bisa memanfaatkan gadget untuk mencari informasi tentang kebencaanaan, sebagai upaya mengantisipasi potensi bencana yang sewaktu-waktu terjadi di daerahnya dalam rangka mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana.

Kegiatan rutinan Arisan Ilmu Nol Rupiah adalah program kerja nyata  menstransfer informasi dan pengalaman untuk memperluas wawasan relawan yang tergabung dalam wadah bentukan BPBD Provinsi Jawatimur. Sehingga mumpuni dalam melaksanakan tugas kemanusiaan dibidang kebencanaan. sekaligus bisa menjadi bekal manakala mendapat kesempatan mengikuti sertifikasi relawan yang diselengarakan oleh LSP-PB secara gratisan. Diluar itu semua kegiatan Arisan Ilmu Nol Rupiah merupakan media penguat sekaligus perekat silaturahmi antar relawan milenial.

Ya, di era revolusi industri 4.0 relawan harus meningkatkan kapasitasnya yang bersinggungan dengan teknologi informasi berbasis internet. Semua itu agar tidak tertinggal oleh jaman, ditinggal kesempatan yang semakin diperebutkan secara ketat. Apalagi kedepan, upaya penanggulangan bencana semakin komplek permasalahannya. Sudah selayaknyalah jika SRPB JATIM lebih sering menggelar diskusi mencermati kebijakan dan kejadian bencana serta penanganannya.

Termasuk mencoba membahas pesan-pesan yang ada di Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015 – 2030, yang terkait dengan upaya mempromosikan kesiapsiagaan untuk bencana sehari-hari, latihan respon dan pemulihan, termasuk latihan evakuasi, pelatihan dan pembentukan sistem pendukung berbasis daerah, untuk memastikan respon yang cepat dan efektif terhadap bencana dan terkait pengungsian, termasuk akses ke tempat penampungan yang aman, makanan pokok dan pasokan bantuan yang bukan makanan, yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Berkait dengan pesan Sendai di atas, alangkah eloknya jika SRPB bisa mendorong organisasi mitra untuk menggelar pelatihan yang melibatkan relawan lintas organisasi, sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan mempererat tali silaturahmi. Kemudian kasilnya bisa dipublikasikan melalui media massa, atau pun sebagai bahan masukan untuk penyusunan kebijakan.

Ya, di dalam beberapa literature dikatakan saat ini kita sedang dalam masa bersejarah, masa saat revolusi industri keempat sedang dibicarakan, dipersiapkan, diperdebatkan, dan dimulai. Konon, jutaan pekerjaan lama yang semula mapan, akan menghilang, dan jutaan pekerjaan baru yang tak terpikirkan sebelumnya akan muncul.  Era ini pun mengguncang tatanan Ekonomi, Politik, bahkan budaya. Revolusi industri keempat akan menggilas banyak orang, Apakah relawan juga akan ikut digilas revolusi?. Mari bersiap diri agar tidak tergilas. Salam Tangguh, Salam kemanusiaan. [eBas/RabuKliwon-111219]
 


 

Jumat, 29 November 2019

RAPAT KOORDINASI RELAWAN DI HOTEL ARCA TRAWAS


Seorang peserta dari Kota Blitar bilang bahwa, rapat koordinasi (rakor) yang digelar sekretariat bersama relawan penanggulangan bencana jawa timur (SRPB JATIM) kali ini adalah yang paling mewah untuk ukuran relawan. Salah satu indikatornya adalah menu makanan yang memenuhi  standar gizi dan snack yang disediakan oleh panitia sangat berlimpah dan mengenyangkan, sekaligus menyehatkan.

Pesertanya pun melebihi target yang ditetapkan. Datang dari berbagai penjuru jawa timur dengan satu tekat, mensukseskan gelaran rakor dengan penuh kekeluargaan. Kegiatan ini sebagai upaya melaporkan kiprah yang telah dilakukan oleh pengurus sekaligus memberi kesempatan kepada peserta rakor menyampaikan saran sekaligus solusi untuk meningkatkan mutu program di tahun depan pasca kongres 2020.

Sejatinyalah banyak program hasil kongres dan raker beberapa waktu yang lalu itu belum berjalan. Seperti tentang anggaran, dan pendataan organisasi relawan. Sementara kiprah nyata yang telah ditorehkan pengurus adalah menyelenggarakan kegiatan rutinan Arisan Ilmu Nol Rupiah.

Banyak sudah relawan yang merasakan manfaat dari kegiatan rutinan ini, khususnya sukses mengembangkan diri memperluas jejaring kemitraan. Hal ini sejalan dengan yel-yel SRPB JATIM, bersatu, bersinergi untuk peduli. (namun sayang, biasanya kalau sudah sukses, tiba-tiba dihinggapi penyakit mendadak lupa kepada  mitranya).

Ning Puspita, yang diserahi sebagai pengarah acara, selalu menghimbau agar masing-masing peserta menuliskan saran, masukan, dan gagasan kreatif untuk dijadikan bahan yang akan dibahas saat kongres nanti, dalam rangka penyusunan program. Sehingga kongres nanti tidak bertele-tele dan tidak engkel-engkelan. Cukup mendengarkan pertanggungjawaban pengurus, kemudian dilanjutkan pemilihan pengurus baru, dan membahas agenda kerja pasca terpilihnya pengurus baru.

Beberapa masukan yang berhasil dikumpulkan oleh Ning Puspita, diantaranya adalah perlunya peningkatan kompetensi relawan melalui berbagai pelatihan, masalah sertifikasi relawan, klaterisasi relawan agar tidak tumpang tindih saat di lapangan, ada wakil relawan yang dilibatkan dalam kegiatan BPBD, diajak melakukan sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat, khususnya mereka yang berdomisili di daerah rawan bencana, serta membangun selalu aktif kemitraan.

Begitulah sebagian kemeriahan rakor bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Bencana bersama SRPB JATIM tahun 2019, tanggal 28 – 29 November 2019, di Hotel Arca, Trawas, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan berjalan lancar dan menyenangkan peserta ini berkat dukungan penuh dari BPBD Provinsi Jawa Timur. tentunya hal ini tidak terlepas dari tumbuhnya rasa percaya BPBD kepada kinerja SRPB.

Untuk itulah, alangkah eloknya jika semua yang terlibat menjaga kepercayaan itu. Hal ini sejalan dengan penjelasan Sugeng Yanu saat memberi tausyiah, bahwa relawan itu harus mandiri, professional, soliditas/jiwa korsa yang tinggi, sinergi kemitraan, dan akuntabel.

“Relawan bisa membantu upaya pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas sesuai kapasitasnya dan kebijakan posko induk,” Ujarnya meyakinkan sehingga peserta rakor terkesima mendengarkan sambil manggut-manggut.

Sugeng pun mengatakan bahwa teorinya, upaya penanggulangan bencana itu tidak boleh dicampuradukkan dengan masalah politik. Namun nyatanya, masih sering terjadi dengan berbagai gaya dan alasan sesuai dengan kepentingannya.

Sementara, angin segar pun dihembuskan oleh kepala pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, bahwa suatu saat nanti SRPB akan diperkenalkan dengan gubernur jawa timur. peserta pun gemuruh bertepuk tangan penuh harap. Semoga informasi itu benar-benar bisa menjadi nyata. Untuk itulah mari berdoa bersama. Salam Tangguh. [eBas/catatan yg sempat tercatat/jum’at pon-29nov2019]  



    
 

Rabu, 27 November 2019

RELAWAN MILENIAL SRPB MENUJU KONGRES 2020


Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2020. Dimana menurut penanggalan Cina, tahun 2020 itu adalah tahun yang bershio tikus. Konon shio tikus menandakan sebuah kehidupan yang dinamis penuh tantangan.

Ada juga yang bilang, kini saatnya generasi milenial yang tampil di depan dengan segala konsep dan gayanya. Dalam jurnalcowok.com (2014), Generasi Millenial memiliki karakteristik yang khas, kita lahir di zaman TV sudah berwarna dan memakai remote, sejak masa sekolah sudah menggunakan handphone, sekarang tiap tahun ganti smartphone dan internet menjadi kebutuhan pokok, berusaha untuk selalu terkoneksi di manapun, eksistensi sosial ditentukan dari jumlah follower dan like, punya tokoh idola, afeksi pada genre musik dan budaya pop yang sedang hype, ikut latah #hashstag ini #hashtag anu, pray for ini itu dan semua gejala/istilah kekunian yang tidak ada habis-habisnya muncul, membuat generasi orangtua kebingungan mengikutinya.

Begitu juga dengan dunia kerelawanan. Sudah waktunya relawan milenial tampil (ditampilkan/menampilkan/dipaksa tampil) memegang kendali organisasi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi (konon sekarang ini jamannya aplikasi berbasis komputerisasi). Sehingga dimungkinkan, kerja-kerja kemanusiaan nanti berbasis android. Tidak perlu bertemu untuk sekedar rapat anggota, pun rapat pengurus, termasuk koordinasi dan mobilisasi, karena semuanya bisa dilakukan secara online. Seperti pelatihan navigasi ala Cak Dares yang memanfaatkan kecanggihan android. Ke depan, mungkin bisa dikembangkan untuk materi-materi kebencanaan yang lain. Misalnya diklat dapur umum online, pelatihan evakuasi berbasis aplikasi, dan lainnya. begitu juga dengan InaRisk yang dikembangkan Ridwan dan BNPB, merupakan media informasi bencana berbasis internet.   

Paling tidak, ke depan relawan harus melek teknologi informasi, dan semakin peka terhadap permasalahaan kemanusiaan, lingkungan hidup dan melek kebijakan publik. Untuk itulah ada baiknya jika mulai sekarang harus diwacanakan tentang hal-hal yang berbau milenial (yang bagaimana ya?. Mari belajar bersama ). paling tidak, keberadaan grup WhatsApp lebih diarahkan untuk pertukaran informasi dan gagasan, mendiskusikan permasalahan aktual terkait dengan kebencanaan, kerusakan alam dan kemanusiaan.  

Saking pentingnya milenial ini, presiden kita telah berani memulai mengangkat generasi milenial (yang memiliki prestasi tentunya) untuk menjadi staf khususnya dengan gaji khusus pula. Pastilah tahun 2020 akan muncul gaya kerja milenial yang efisien dan efektif, mengedepankan kreativitas dan inovasi yang berbasis internet.

Nah, jika presiden saja sudah berani memulai menghadirkan generasi milenial di tahun ke dua masa pemerintahannya, tidak ada salahnya jika SRPB JATIM pun mulai mendorong dan memberi panggung para milenial untuk tampil ikut dalam kepengurusan yang akan disusun pada kongres ke dua tahun 2020, sebagai upaya peningkatan mutu program SRPB JATIM di era 4.0.

Harapannya, didalam penanggulangan bencana, relawan milenial tidak hanya peduli dan ngurusi pada fase tanggap darurat bencana. Tapi harus paham dan ikut berperan pada penanganan masalah pra bencana dan pasca bencana, seperti yang tersurat dalam perka nomor 17 tahun 2011.

Itu artinya, relawan milenial tidak hanya mengandalkan okol saja dalam berkegiatan. Namun juga memiliki akal yang cerdas berawasan luas. Ya, idealnya relawan itu harus bisa diajak diskusi yang menawarkan idea tau konsep yang argumentative, rajin mengikuti gelaran diskusi untuk memberikan usulan kebijakan. Mampu menjadi fasilitator pelatihan, bisa melakukan edukasi tentang pengurangan risiko bencana. Tentu saja mumpuni ketika harus turun ke lokasi bencana sesuai denga klaster dan kesempatan.

Untuk itulah SRPB JATIM melalui kegiatanya yang dikemas dengan konsep sersansan (serius tapi santai dan santun) itu diharapkan bisa menginspirasi relawan milenial belajar menduplikasi untuk kemudian berani menggantikan peran “saudara tuanya” untuk menggerakkan roda SRPB JATIM yang semakin kreatif, inovatif dan kekinian agar tidak tertinggal/ditinggalkan. Ya, masalah manajemen organisasi dan manajemen kebencanaan hendaknya semakin menjadi bahan obrolan disaat jagongan sambil nyruput kopi.

Semoga rapat koordinasi yang digelar di Hotel Arca, Trawas, Mojokerto, tanggal 28 -29 November 2019, bisa menelorkan gagasan menarik tentang program SRPB JATIM dalam upaya meningkatkan kapasitas relawan penanggulangan bencana.Tentu peran peserta rakor akan sangat menentukan lahirnya usulan kebijakan yang akan dijadikan agenda dalam kongres tahun depan. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/Rabu Legi-27Nov2019]    





  



Rabu, 20 November 2019

SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA BELUM BANYAK DILAKUKAN DI SEKOLAH


“Sekolah Dasar tempat anak saya menimba ilmu kondisinya sangat parah. Dinding nya retak bahkan ada yang terbelah. Pengurus komite sekolah beserta kepala sekolah sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan setempat tetapi belum ada respon. Adakah solusi agar sekolah yang rusak itu bisa segera diperbaiki. Apa harus menunggu siswa meninggal seperti di sekolah dasar Gentong Pasuruan yang ambruk itu?,” Kata seorang guru setelah mengikuti pemaparan materi tentang peran masyarakat dalam penanggulangan bencana, yang didalamnya juga menyinggung tentang modul satu, “Fasilitas Sekolah Aman” dalam satuan pendidikan aman bencana (SPAB). Sungguh, pertanyaan itu sulit dijawab karena menyangkut banyak hal. Diantaranya masalah kebijakan pemerintah daerah setempat.

Paparan materi itu disampaikan oleh nara sumber dari pusat penelitian dan pelatihan untuk Indonesia tangguh (PUSPPITA), dalam acara “Bimbingan Teknis Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana bagi Pelajar dan Guru SMA/MA/SMK se Kabupaten Nganjuk Tahun 2019”. Kegiatan ini juga dihadiri Danrem 081 Madiun, Dandim 0810 Nganjuk, Kepala Dinas Sosial.

Dalam sambutannya, Pak Danrem mengharapkan kepada pelajar peserta bimtek agar bersiap melakukan penghijauan saat musim hujan tiba dengan menanam jenis tanaman keras, seperti pohon trembesi, untuk mengurangi risiko bencana longsor, karena akarnya mampu menahan dan menyimpan air tanah.

“Ingat jargon yang dikatakan kepala BNPB, Kita jaga alam, Alam jaga kita. Untuk itulah mari kita bersama-sama melakukan reboisasi untuk merawat mata air, agar tidak terjadi banjir air mata di kemudian hari karena kelangkaan sumber air,” Himbaunya.

Selanjutnya, Kalaksa BPBD Kabupaten Nganjuk mengatakan bahwa upaya penanggulangan bencana itu merupakan tanggung jawab bersama. Untuk itulah pelajar dan guru sebagai salah satu elemen masyarakat yang ada di dalam konsep pentahelix (pemerintah, akademisi, dunia usaha, media massa dan masyarakat), kiranya perlu mendapat informasi tentang penanggulangan bencana dan program pengurangan risiko bencana. Harapannya, guru dan pelajar yang telah mengikuti bimtek dengan bonus kaos dan topi cantik, bisa mengimbaskan di sekolahnya melaalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Bencana itu harus dihadapi karena tidak bisa dihindari, hanya bisa dikurangi. Untuk itu bimtek ini sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana yang rutin terjadi di wilayah Kabupaten Nganjuk,” Katanya saat memberi sambutan pembukaan kegiatan di Gedung Olah Raga Soekarno, Kota Nganjuk. Rabu (20/11).

Namun ternyata, di Kabupaten Nganjuk, kebanyakan sekolah belum tahu tentang SPAB. Sementara, pihak Dinas Pendidikan juga belum mengeluarkan perintah memasukkan pendidikan mitigasi bencana ke dalam kegiatan kesiswaan seperti pramuka, PMR, kesenian dan olahraga. Untuk itulah BPBD setempat diharapkan bisa menggandeng komunitas relawan melakukan sosialisasi pengurangan risiko bencana, mempraktekkan modul SMAB dan menggelar simulasi penanggulangan bencana.

Dalam konsep SPAB, Sekolah aman adalah komunitas pembelajar yang berkomitmen akan budaya aman dan sehat, sadar akan risiko, memiliki rencana yang matang dan mapan sebelum, saat, dan sesudah bencana, dan selalu siap untuk merespons pada saat darurat dan bencana. Tujuannya, antara lain melindungi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan dari kematian dan cidera di sekolah akibat gedung sekolah yang rusak dan melindungi investasi di sektor pendidikan.

Masih dalam konsep SPAB, dikatakan bahwa agar tidak terjadi kecelakaan seperti di SDN Gentong Pasuruan dan SMKN Miri, Sragen. Maka, gedung sekolah harus dibangun di lokasi yang aman, struktur bangunan, desain dan penataan kelas yang aman, dan dukungan sarana prasarana yang aman pula.

Masalahnya kemudian, sampai saat ini masih banyak gedung sekolah yang rusak, bahkan membahayakan penghuninya, seperti yang dikatakan oleh peserta di awal tulisan ini. Dengan demikian, jika SPAB benar-benar dijalankan, maka seluruh gedung sekolah yang ada harus diperiksa ulang dan segera di rehab sesuai ketentuan.

Sebenarnya petunjuk membangun/mendirikan gedung itu sudah aturannya yang tertuang di dalam juklak dan juknisnya. Namun, karena masih adanya kebiasaan menyalahgunakan kebijakan yang disepakati secara berjamaah, maka semua aturan yang ada dikalahkan oleh kebijakan itu sendiri tanpa peduli risiko yang mungkin akan terjadi. Yang penting semua yang ikut berjamaah mendapat jatah.

Semoga saja dengan tersosialisasikannya program satuan pendidikan aman bencana, semua pihak akan semakin sadar bencana, untuk kemudian secara mandiri bisa melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang ada di daerahnya. Tentu, semuanya  tetap dibawah koordinasi BPBD setempat sesuai amanat UU nomor 24 tahun 2007. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan. [eBas/Kamis pon-14/11].